cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
DEVELOPING A MODEL OF COGNITIVE PSYCHOTHERAPY BASED ON INDONESIA ISLAMIC’ VALUES ON TERRORIST Arman Marwing
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.544 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i1.739

Abstract

High rate of recidivism on terrorists  indicates  the weakness of deradicalization programs. This study aims to offer  a solution through development of a cognitive psychotherapy  which based on  Indonesia Islam values. The integration among Islam, culture and psychotherapy is able to help the terrorists to identify and restructure their cognitive that causes their emotion and destructive  behaviors. This qualitivative study mixes between literature and phenomenology approaches. This study found that there are conflicting differences between the views of the terrorists and ijtihad of Indonesia Ulama regarding  khilafah, jihad and takfiri concepts. In Addition, the model of cognitive psychotherapy based on Indonesian Islamic values was developed by content analysis and its implementation followed several systematic procedures such as anamnesis, assessment, diagnosis, intervention, result of intervention,  follow up. Embracing humantic approach and collaborative Empiricism procesures enable the therapy effectively internalize Indonesia Islamic values such as Tasamuh (tolerance), Tawasuth (moderate), Tawazun (balanced), 'Adalah (Justice) and Ukhuwah (Brotherhood), which includes ukhuwah Islamiyah (other Muslims), Ukhuwah Wathoniyah (fellow citizens), Ukhuwah basyariah (fellow citizens) for the terrorists. These values could be intentionally internalized by terrorist itself and threfore it would be effective model  to modify terrorists’ destructive thought schemas (cognitive), emotion and behavior to be adaptive.      Abstrak Residivisme pelaku terorisme yang tinggi menunjukkan kelemahan program deradikalisasi. Penelitian ini  bertujuan untuk menawarkan konstruksi model psikoterapi kognitif berbasis nilai Islam Indonesia sebagai salah satu solusi. Sebuah integrasi antara Islam, budaya dan psikoterapi dalam membantu pelaku terorisme mengidentifikasi dan merestrukturisasi kognitif yang menjadi penyebab emosi dan perilaku destruktif. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan perpaduan studi literatur dan fenomenologi. Hasil penelitian menemukan adanya perbedaan pandangan  yang kontradiktif antara pelaku terorisme dan ijtihad Ulama Nusantara mengenai konsep khilafah, Jihad dan Takfiri.  Selain itu model psikoterapi kognitif berbasis nilai Islam Indonesia dihasilkan melalui pengujian  isi serta menerapkan beberapa prosedur atau tahapan yang sistematis yaitu anamnesis, pemeriksaan, diagnosis, kontruksi model terapi, hasil intervensi dan tindak lanjut. Melalui pendekatan humanis dan prosedur collaborative Empiricism terapi ini memungkinkan nilai-nilai Islam Indonesia yang mengedepankan Tasamuh (toleransi), Tawasuth (moderat), Tawazun (berimbang),‘ Adalah  (Keadilan), dan Ukhuwah (Persaudaraan) yang meliputi ukhuwah Islamiyah (sesama Islam), Ukhuwah Wathoniyah (Sesama warga negara), Ukhuwah basyariah (sesama umat manusia) dapat terinternalisasi dengan kesadaran dan tanggung jawab dari pelaku teroris itu sendiri, serta dapat efektif mengubah skema berpikir,emosi dan perilaku teroris menjadi adaptif. 
The Mitoni Tradition as Social, Cultural, and Spiritual Reinforcement of Javanese Society Nana Najmina; Eny Kurdarini
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.147 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3296

Abstract

This study examines how the social, cultural and spiritual values of the Mitoni tradition has “strengthened” the social and spiritual culture of the Javanese Muslim community. The Mitoni tradition is one of the best preserved tradition of the Javanese people from generation to generation, especially in Central Java. However, this tradition has received a lot of criticism from conservative religious adherents who accuse it of being a deviant practice. Yet this tradition embodies social, cultural and spiritual values that teach people to live together to create social harmony. This research uses a qualitative descriptive approach. It argues that Mitoni tradition contains irreplaceable cultural-historical values. By carrying out the tradition, the community hopes that someday the young generation can live in security and can embody good moral and personal traits that can then strengthen their social and spiritual bonds with fellow human beings. Kajian ini bertujuan untuk mengkaji nilai sosial, kultural dan spiritual tradisi Mitoni sebagai “penguatan” sosial kebudayaan spiritual masyarakat Muslim Jawa. Tradisi  Mitoni ini merupakan salah satu adat yang sangat dilestarikan oleh masyarakat Jawa khususnya di Jawa Tengah yang dilakukan secara turun-temurun.  Hanya saja, tradisi  ini banyak mendapatkan kritikan dari aliran keagamaan konservatif yang menuduh sebagai tradisi menyimpang dari ajaran Islam. Padahal semestinya, tradisi mengandung nilai sosial, kultur dan spiritual dalam tradisi ini yang mengajarkan masyarakat untuk hidup bersama untuk menciptakan harmoni sosial.  Penelitiaan ini menggunakan kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Maka hasil kajian ini bahwa tradisi Mitoni mengandung banyak nilai-nilai historis dan kultural. Dengan melaksanakan tradisi mitoni masyarakat berharap kelak anak yang akan lahir diberi keselamatan dan dapat menjadi anak yang memiliki kepribadian yang baik serta dapat menjadi suri tauladan, selain itu dengan mengadakan tradisi tersebut secara tidak langsung mereka sudah mempererat tali silaturrahmi antar sesama. 
ASPEK ASPEK KEMANUSIAAN DALAM TERORISME BERDASARKAN KAJIAN FIKIH Afifi Fauzi Abbas
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (574.137 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i1.106

Abstract

Human right is the basic right possesed by all human beings. This right does not need to be given, purchased or inherited. Human right is automatically part of human, and human right is also applied to all mankind whoever the person, and does not rely on race, ethnicity or religion and age considerations. Humanitarian issues faced by Muslims in Indonesia today is the treatment of the country against terrorism suspects in raids in several cases considered terrorism cases in Indonesia starting from the Bali bombings, Bom Sarinah and several other terrorism cases. Discuss aspects of the humanitarian aspect of terrorism is becoming a necessity, especially when viewed from the perspective of jurisprudence. In Islamic Fiqh, autopsy (forensic) can be done, and the results serve as evidence that the rules of evidence in Islam to be entered into evidence "witness", that is, those who heard his testimony, including expert testimony. In this case many verses of the Qur’an are ordered to give this testimony, especially for those who can provide it. HAM adalah hak dasar atau hak asasi yang dimiliki semua manusia. Hak ini tidak perlu diberikan, dibeli ataupun diwarisi. HAM adalah bagian dari manusia secara otomatis, dan HAM juga berlaku untuk seluruh umat manusia siapapun orangnya, dan tidak bergantung pada pertimbangan RAS, etnis maupun agama dan usia. Persoalan kemanusian yang dihadapi umat muslim di Indonesia saat ini adalah perlakuan negara terhadap tersangka terorisme dalam beberapa kasus penggerebekan dalam kasus yang dianggap terorisme di Indoensia mulai dari kasus Bom Bali, Bom Sarinah dan beberapa kasus terorisme lainnya. Membicarakan aspek aspek kemanusiaan dalam terorisme adalah menjadi sebuah keniscayaan, apalagi kalau dilihat dari perspektif fikih. Dalam pandangan Fikih Islam autopsi (forensik) dapat dilakukan, dan hasilnya berfungsi sebagai alat bukti, yang dalam hukum pembuktian dalam Islam bisa dimasukan ke dalam bukti “saksi”, yaitu orang yang didengar keterangannya, termasuk di dalamnya keterangan ahli. Dalam hal ini banyak ayat al-Quran yang memerintahkan untuk memberikan kesaksian ini terutama bagi mereka yang sanggup memberikannya.
Contesting Religious Family Rights: Muslim and Hindu Women’s Land Ownership in Java and Bali Achmad Fawaid; Busro Busro
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 2 (2019): December 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.02 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i2.3059

Abstract

This article depicts issues of the connection between women’s status and their roles in landownership in Java and Bali. In Java, for example, despite the fact that they are fortified by family law, just around one-third of land ownership belongs to women. In Bali, the Hindu women need to comply with the standard law in which they deal with a dilemma between their privileges and their reliability towards their families, networks, and culture. The absence of women's land ownership, either by the customary law or by the land enrollment, shows that the agrarian approach of land enlistment consistently gets women into the lower status of their legal ownership. Additionally, it impacts on the manners in which they practice religious convictions as they are situated in troublesome way of any legal issues, including family law (hukum keluarga) and inheritance rights (hak waris). Not with standing the Javanese government's endeavors to teach the general population about land enrollment and a couple of Hindu families to move a component from parent to little girl through a deed of offer before the land deed official, a few women know about the registration phases and the religious instrument of legacy rights. Subsequently, the manners in which Java and Bali women' inclinations are not bargained in political, social, and religious aspects. This article concludes that formal methodology for the exchange of land ownership when land is sold or partitioned in Bali, and also, standard Javanese practices in which insurance to the possibility of marital goods is given.Artikel ini berusaha menjelaskan hubungan antara status wanita dalam konteks agama dan peran mereka dalam kepemilikan tanah di Jawa dan Bali. Di Jawa, misalnya, meskipun kondisi mereka diperkuat oleh hukum keluarga, hanya sepertiga dari sertifikat tanah yang beratasnamakan perempuan. Sebaliknya, perempuan di Bali harus mengikuti hukum adat yang menghadapkan mereka pada dilema antara kebutuhan sehari-harinya di saatu sisi dan kepatuhannya terhadap keluarga, masyarakat, dan kebudayaan lokal di sisi lain. Minimnya kepemilikan tanah oleh perempuan ini, baik yang disebabkan oleh hukum adat maupun oleh hukum formal, memperlihatkan bahwa kebijakan pertanahan seringkali menempatkan mereka dalam status yang inferior. Mereka sama-sama menghadapi kesulitan di hadapan hak waris maupun hukum keluarga. Sekalipun di Jawa sudah ada sosialisasi terkait pendaftaran tanah dan di Bali sedikit dari mereka yang memberikan hak kepemilikannya kepada anak perempuannya, mereka tetap saja masih belum banyak memahami prosedur registrasi tersebut dan semakin marjinal dalam kepemilikan tanah dari hak waris. Kondisi ini memperlihatkan bagaimana perempuan Jawa dan Bali tidak terlalu diperhitungkan dalam ranah kebudayaan, politik, dan agama. Artikel ini akhirnya berkesimpulan bahwa perlu ada prosedur penjaminan tanah ketika tanah itu dibagikan di Bali, dan perlu ada jaminan keamanan terhadap hak-hak waris dalam adat Jawa
Strategy Management In Overcoming Religion Conflicts In Plural Communities In Mopuya Selatan Village, Bolaang Mongondow District Dian Adi Perdana; Budi Nurhamidin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.201 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i2.4828

Abstract

This research aims to discuss the pluralism in heterogeneous region that focuses on three communities of different religions living side by side in harmony and peace. The Plural community develops in South Mopuya Village makes the prevention of conflict needs to be improved.. Researcher discusses how the strategies of religious leaders does and government give understanding to Mopuya’s society to avoid and prevent conflict in plural society. This research is using qualitative method. The data are gained by using some techniques such as observation, interviews, and documentation. Data obtained will be analyzed using qualitative descriptive analysis. Plurality in this study, assimilation of activities, Need each other at work and increasing awareness of the importance of education, tabligh da’wah and worship tolerance are strategies to prevent conflict. Persuasive approach and language equality as unifying solution for a plural society to live in harmony and peace. Masyarakat Plural berkembang di Desa Mopuya Selatan menjadikan pencegahan konflik antar umat beragama perlu ditingkatkan. Peneliti akan mengkaji pluralisme di wilayah heterogen yang terfokus pada keagamaan dengan tiga komunitas penganut agama yang berbeda hidup berdampingan dengan rukun dan damai. Penelitian ini mengkaji bagaimana strategi tokoh agama dan pemerintah dalam memberikan pemahaman kepada umatnya untuk menghindari dan mencegah konflik pada masyarakat plural dan bagaimana tantangan serta solusi tokoh lintas agama dalam mengatasi konflik pada masyarakat plural. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Pluralitas dalam studi ini, asimilasi kegiatan, saling membutuhkan dalam pekerjaan dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, dakwah tabligh dan toleransi ibadah menjadi strategi mencegah konflik. Pendekatan persuasif dan penyetaraan bahasa sebagai solusi pemersatu masyarakat plural untuk hidup rukun dan damai. 
ANALISIS NILAI-NILAI TRADISI TURUN MANDI DALAM MASYARAKAT MINANGKABAU DI KANAGARIAN SELAYO KAB. SOLOK Januar Januar
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1162.035 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.49

Abstract

AbstractTradition of ‘turun mandi’ in Minangkabau, especially in Solok, Kenagarian Selayo is a hereditary tradition, and it is a tradition to be grateful for the blessings given by Allah in the form of a newborn baby. Before the tradition done, there are various preparations prepared by the baby's mother’s family, and also from the ‘bako’. The values contained in the tradition ‘turun mandi’ in kenagarian Selayo is to introduce children to the natural environment, feel the diversity of life and strengthen the relationship between father’s family and mother's family.Keywords: Analysis Values, Traditions of ‘Turun Mandi’, Minangkabau Abstrak Tradisi turun mandi dalam masyarakat Minangkabau di kenagarian Selayo Kabupaten Solok merupakan tradisi yang turun temurun, dan merupakan tradisi untuk mensyukuri atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT berupa bayi yang baru lahir. Sebelum pelaksanaan turun mandi, ada berbagai persiapan yang dipersiapkan oleh keluarga ibu bayi, dan juga dari pihak bako bayi. Nilai-nilai yang terdapat dalam tradisi turun mandi di kenegarian Selayo ini adalah memperkenalkan anak dengan lingkungan alam  skitarnya, merasakan aneka ragam kehidupan dan mempererat hubungan silaturrahmi antara keluarga ayah dan keluarga ibu.Kata Kunci: Analisis Nilai, Tradisi Turun Mandi, Minangkabau
ETOS KERJA WANITA PEKERJA ROTAN DI DESA BARU DUSUN SELATAN KABUPATEN BARITO SELATAN KALIMANTAN TENGAH Rahmaniar Rahmaniar; hamdanah hamdanah; Jirhanuddin Jirhanuddin; Zainal Arifin; Eriko Tedja S. Kusuma
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.006 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.407

Abstract

Some scholars argue that a farmer's mental attitude, including the main worker or laborer, is a subsintence attitude. The above opinion, it seems not entirely acceptable, especially if faced with the reality of the lives of working women or rattan workers in Dusun Baru, South Barito Regency, Central Kalimantan Province. The research of qualitative research with phenomenological study is aimed to find out work ethic of working woman labor in Dusun Baru Central Kalimantan. The result of the research shows that there are two categories of their work ethic level, namely work ethic, first, “Uluwat bawi ji rubber bagawi” (Dayak Bakumpai Language) means woman having high work ethic, with the following characteristics: have high working hours (ranged between 38 to 45 hours per week), clever with respect to time, work quality oriented, able to see and take advantage of existing opportunities, have today's principles must be better than yesterday and tomorrow should be better than today, view that education for children is very important and life must be frugal. Both “Bawi jijida hawas ban bagawi” (Dayak Bakumpai Language), meaning low woman work ethos, with characteristics as follows: The number of working hours is low (ranging between 18 to 28 hours per week), not able to take advantage of time, less creative viewing and taking advantage of opportunities that do not have a better foresight Sebagian ahli berpendapat bahwa sikap mental petani, termasuk pekerja atau buruh yang utama, adalah sikap subsintens. Pendapat di atas, tampaknya tidak seluruhya dapat diterima, terutama jika dihadapkan dengan realitas kehidupan wanita pekerja atau buruh rotan di Desa Baru Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian penelitian kualitatif dengan kajian fenomenologis ini bertujuan untuk mengetahui etos kerja wanita pekerja/buruh rotan di Desa Baru Kalimantan Tengah. Hasil penelitian menunjukkan ada dua kategori tingkatan etos kerja mereka, yakni etos kerja, pertama, uluh bawi ji karetap bagawi (Bahasa Dayak Bakumpai) artinya wanita yang memiliki etos kerja tinggi, dengan ciri-ciri sebagai berikut: memiliki jam kerja yang tinggi ( berkisar antara 38 sampai 45 jam per minggu), pandai menghargai waktu, berorientasi pada kualitas kerja, mampu melihat dan memanfaatkan peluang yang ada, memiliki prinsip hari ini harus lebih baik dari kemaren dan besok harus lebih baik dari hari ini, berpandangan bahwa pendidikan bagi anak sangat penting dan hidup harus hemat. Kedua Bawi jijida hawas cangkal bagawi (Bahasa Dayak Bakumpai), artinya wanita yang rendah etos kerjanya, dengan ciri-ciri sebagai berikut: Jumlah jam kerja rendah (berkisar antara 18 sampai dengan 28 jam perminggu), tidak mampu memanfaatkan waktu, kurang kreatif melihat dan memanfaatkan peluang yang ada tidak memiliki pandangan ke depan yang lebih baik
ACCOMMODATING THE NATIONAL EDUCATION POLICY IN PONDOK PESANTREN DDI MANGKOSO: STUDY PERIOD OF 1989-2018 Muhammad Alqadri Burga; Azhar Arsyad; Muljono Damopolii; A. Marjuni
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.368 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i1.862

Abstract

AbstractThis research was aimed at analyzing the 1) existence of the Pondok Pesantren DDI Mangkoso as a traditional Islamic educational institution; 2) the dynamic policy of national education in the period of 1989-2018; 3) various national education policy accommodating by the Pondok Pesantren DDI Mangkoso; and 4) varied obstacles and experienced by the pesantren in accommodating national education policy and the solutions. The results of this research show that the Pondok Pesantren DDI Mangkoso is still kept existing as a traditional Islamic educational institution by preserving five roles: a place transforming classical Islamic sciences, Da’wah institution, Islamic tradition conservationists, Islamic scholar generating center, and community service and empowerment. The position change of pesantren in the national educational policy during 1989 – 2018 implicates dynamiclally to the Pondok Pesantren DDI Mangkoso. The accommodation forms of national education policy conducting by the Pondok Pesantren DDI Mangkoso are classical system, national education curriculum implementation, and standardizing the learning process and educators. Some obstacles facing in accommodating these forms are like culture and organizational structure wrestling, limited resource, and lack of community participation. This research has implications for the importance of the accumulation of cultural values, religious values, and modern values in pesantren so that it can compete amid the progress of educational institutions in general Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis 1) eksistensi Pondok Pesantren DDI Mangkoso sebagai representasi lembaga pendidikan Islam tradisonal; 2) dinamika kebijakan pendidikan nasional kurun waktu 1989-2018; 3) ragam kebijakan pendidikan nasional yang diakomodasi oleh Pondok Pesantren DDI Mangkoso; dan 4) ragam hambatan Pondok Pesantren DDI Mangkoso dalam mengakomodasi kebijakan pendidikan nasional beserta solusinya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan feno­menologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Pesantren DDI Mangkoso tetap eksis sebagai lembaga pendidikan Islam tradisional meski melakukan pengembangan yang sifatnya modern dengan mempertahankan lima peran, yaitu: Tempat transmisi ilmu-ilmu Islam klasik, lembaga dakwah, peles­tari tradisi Islam, pusat reproduksi ulama, serta tempat pengab­dian dan pengem­bangan masyarakat. Perubahan posisi pesantren dalam kebijakan pendidikan nasional kurun waktu 1989-2018 berimplikasi terhadap kebijakan pendidikan Pondok Pesantren DDI Mangkoso yang dinami­kanya dibagi ke dalam tiga tahap, yaitu: transformasi kelembagaan, pemaduan kurikulum, dan penerapan paradigma inklusif berbasis budaya. Berbagai hambatan dalam akomodasi tersebut adalah pergumulan kultur dan struktur organisasi, keterbatasan sumber daya, dan minimnya partisipasi masyarakat. Penelitian ini berimplikasi pada perlunya akumulasi nilai tradisional, nilai agama, dan nilai modern oleh pesantren agar mampu bersaing bahkan menjadi inspirasi di tengah kemajuan lembaga pendidikan pada umumnya.
Developmental Model of Islamic Microfinance Institution in Minangkabau Muslim Community using Analytical Network Process (ANP) Awaluddin Awaluddin; Asyari Asyari; Amiur Nuruddin; Saparuddin Siregar
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.27 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i1.4306

Abstract

Abstract This research aims to uncover and map the problems faced by Islamic microfinance institutions (BPRS) both in terms of social and management. Afterward itrevealed, the solutions, strategies, and priority rankings of long-term alternative strategies were revealed using the analytic network process (ANP) method. The methodology used in this study is qualitative which aims to capture the views of sharia experts and scholars on the development of sharia microfinance institutions. The research findings related to the development model of Islamic microfinance institutions are (1). Criteria for the development of Islamic microfinance institutions include management issues,competition issues, policy issues and risk issues. Management problems are the dominant problems found in Islamic Microfinance Institutions with a value 0.427.Then followed by regulatory issues and 0.293 risks and finally 0.278 competition issues, the appraiser's agreement was 0.456 or 45.6%. (2).Then the determination of strategic planning with a value of 0.382 and affirmation of the value of the company and local genius 0.230,rater agreement 0.382 or 38.2%. These results show that the direct involvement of the Muslim community in West Sumatra as shareholders, founders and administrators has not been able to improve the quality of human resources in Islamic microfinance institutions.Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan memetakan permasalahan yang dihadapi oleh lembaga keuangan mikro syariah (BPRS) baik dari sisi sosial maupun manajemen. Setelah itu, terungkap solusi, strategi, dan peringkat prioritas strategi alternatif jangka panjang dengan menggunakan metode analytic network process (ANP). Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang bertujuan untuk menjaring pandangan para ahli dan cendekiawan syariah tentang perkembangan lembaga keuangan mikro syariah (BPRS). Instrumen analisis yang digunakan adalah Analytical Network Process (ANP) yang digunakan untuk menemukan permasalahan dan prioritas solusi dalam penelitian ini. Temuan penelitian terkait model pengembangan lembaga keuangan mikro syariah adalah (1). Kriteria isu pengembangan lembaga keuangan mikro syariah meliputi isu manajemen, isu persaingan, isu kebijakan dan isu risiko. Masalah manajemen merupakan masalah yang dominan ditemukan pada Lembaga Keuangan Mikro Syariah dengan nilai 0,427. Kemudian disusul masalah regulasi dan risiko 0,293 dan terakhir masalah persaingan 0,278, kesepakatan penilai 0,456 atau 45,6%. (2). Kemudian penetapan strategic planning dengan nilai 0,382 dan penegasan nilai perusahaan dan local genius 0,230, rater agreement 0,382 atau 38,2%. Hasil ini menunjukkan keterlibatan langsung masyarakat muslim Sumbar sebagai pemegang saham,pendiri dan pengurus masih belum mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lembaga keuangan mikro syariah.
PERANAN LEMBAGA KEAGAMAAN LOKAL DALAM MELAHIRKAN DAN MENGAWAL FATWA KEAGAMAAN (Studi Terhadap Peran Majelis Ulama Nagari Guguak Tabek Sarojo Kecamatan IV Koto Kabupaten Agam) Busyro - Busyro
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1761.042 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i1.9

Abstract

Majelis Ulama Nagari (MUNA) Nagari Guguak Tabek Sarojo as local religious institution which is formed along with the shift from village administration to village government. The main responsibility which is administered by MUNA is to maintain the diversity of Muslim in order not to deviate from the rules of God. As a result, MUNA gives “fatwa” and watches “fatwa” which has been formed by officials religious institutions. From the research, it was found that MUNA Guguak Tabek Sarojo should have power in order to overcome all problems faced by most of religious community that was by doing ‘Mudzakarah” in order to give legal solution (fatwa); generally, MUNA Guguak Tabek Sarojo had followed the procedures in formed of religious rule (fatwa) which was started from question from the society or dorp, then discussed in mudzakarah and involved in discussion with religious leaders who were competence in their fields, and always kept up to the source of Islam, Al Quran, tradition, religious leader’s agreement, and Qiyas. The decision about religion will not be confused with custom and tradition admitted in a dorp. Majelis Ulama Nagari (MUNA) Nagari Guguak Tabek Sarojo sebagai lembaga agama setempat yang dibentuk bersama dengan pergeseran dari pemerintahan desa kepada pemerintah desa. Tanggung jawab utama yang dikelola oleh MUNA adalah untuk mempertahankan keragaman Muslim agar tidak menyimpang dari aturan Allah. Akibatnya, MUNA memberikan "fatwa" dan jam tangan "fatwa" yang telah dibentuk oleh pejabat lembaga-lembaga keagamaan. Dari hasil penelitian, ditemukan bahwa MUNA Guguak Tabek Sarojo harus memiliki kekuatan untuk mengatasi semua masalah yang dihadapi oleh sebagian besar komunitas agama yang dengan melakukan 'Mudzakarah "untuk memberikan solusi hukum (fatwa); umumnya, MUNA Guguak Tabek Sarojo mengikuti prosedur dalam membentuk pemerintahan agama (fatwa) yang dimulai dari pertanyaan dari masyarakat atau dorp, dibahas dalam mudzakarah dan terlibat dalam diskusi dengan para pemimpin agama yang kompetensi di bidangnya, dan selalu terus sampai ke sumber Islam, Al Quran, tradisi, kesepakatan pemimpin agama itu, dan Qiyas. Keputusan tentang agama tidak akan bingung dengan adat dan tradisi mengakui dalam sebuah dorp.

Page 9 of 22 | Total Record : 216