cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 216 Documents
ISLAM DAN PEMBAURAN SOSIAL: REKONSTRUKSI FENOMENA MULTIKULTURALISME Aqil Irham
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 2 (2015): December 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1146.703 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i2.45

Abstract

Islam, as religion which has a universal concept, views that assimilation is inhern (traits) which stands in every individu, thus, in the next stage also dwells in every human group as the group of individuals themselves. The relationship between Islam and assimilation is absolute; it can be seen in al Hujurat: 13 which mean that the necessity for human to socialize or assimilate. In addition, the meaning of the verse is the design of God about pluralism in the present context and review by using the term of multiculturalism. Assimilation requires the interrelatedness of understanding and mutual respect of differences as a thing that must be upheld, because only with mutual respect the assimilation will be carried out responsibly and dignityly. In contrary, without promoting respect for differences in attitude, the assimilation could certainly have a lot of problems; even tends to face competition wrapped by hyphocretism. ebagai agama yang memiliki konsep universal, Islam berpandangan bahwa pembauran merupakan sesuatu yang inhern (sifat bawaan) yang ada pada setiap individu manusia, sehingga pada tahapan selanjutnya juga bersemayan pada setiap kelompok manusia yang merupakan kumpulan dari individu-individu itu sendiri.  Hubungan antara Islam dan pembauran merupakan sesuatu yang mutlak, hal ini bisa dilihat dalam surat al Hujurat :13 yang bermakna keharusan bagi manusia untuk bersosialisasi atau melakukan pembauran. Selain itu, makna dari ayat tersebut adalah adanya design Allah tenang pluralisme yang dalam konteks kekinian di kaji dengan menggunakan term multikulturalisme. Pembauran menuntut adanya kesaling pemahaman dan saling menghargai adanya perbedaan sebagai suatu yang harus dijunjung tinggi, sebab hanya dengan adanya sikap saling menghargai tersebut, pembauran akan dapat dilaksanakan secara  bertanggung jawab  dan bermartabat.  Sebaliknya, tanpa mengedepankan sikap penghargaan terhadap perbedaan, maka pembauran bisa dipastikan akan banyak mengalami kendala bahkan cenderung terjadi kompetisi yang dibaluti hipokretisme. 
REVITALISASI NILAI-NILAI AGAMA DAN KEARIFAN LOKAL DALAM GERAKAN PENYELAMATAN DAN KELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM SALINGKA DANAU MANINJAU SUMATERA BARAT Jamaldi Jamaldi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.396 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.400

Abstract

Maninjau Lake which is one of the attractions in Agam Regency has been known in the world of tourism to the international level. The beauty of the lake along with twist 44 and guarded row of rows of rows, adding charm to the beauty of the lake. But lately various problems that occur related to the real condition or the beauty of the lake began to be neglected. Currently the condition of the lake is polluted in very poor condition. Various efforts have been made from the issuance of regulations, reduction efforts and community involvement in the saving of the lake. One important element is the value of religious beliefs as well as the local wisdom of the community such as the religious principles adopted, cultural values, tambos, history and traditions of the hereditary is the social capital and potential of hidden communities that need to be considered in development programs including the lake lake environmental pollution rescue movement. This effort can be done through implementing, actualizing, and revitalizing religious and cultural values which are summarized in the local wisdom of Maninjau Lake communities in solving environmental pollution problems of the lake in particular and environmental issues in general Danau Maninjau yang merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Agam sudah dikenal dalam dunia pariwisata sampai ke tingkat internasional. Keindahan danau diserta kelok 44 dan dijaga deretan bukit barisan, menambah pesona keelokan danau. Namun belakangan ini berbagai permasalahan terjadi terkait kondisi nyata atau keasrian danau yang mulai terabaikan. Saat ini kondisi danau tercemar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari penerbitan peraturan, upaya pengurangan, dan pelibatan masyarakat dalam penyelematan danau. Salah satu unsur penting adalah nilai keyakinan agama serta kearifan lokal masyarakat seperti prinsip agama yang dianut, nilai budaya, tambo, sejarah dan tradisi turun temurun merupakan modal sosial dan potensi masyarakat terpendam yang perlu dipertimbangkan dalam program pembangunan termasuk gerakan penyelamatan pencemaran lingkungan danau. Upaya ini dapat dilakukan melalui penerapan, aktualisasi, dan perevitalisasian nilai agama dan budaya yang terangkum dalam kearifan lokal masyarakat salingka Danau Maninjau dalam memecahkan persoalan pencemaran lingkungan danau khususnya dan persoalan lingkungan pada umumnya
The Practice of Multicultural Education at Majelis Taklim in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra Darul Ilmi; Melia Afdayeni; Kori Lilie Muslim
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 7, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.533 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v7i1.4308

Abstract

This article aims to describe the existence of the majelis taklim (Islamic forum) and how this majelis taklim strengthen its role in providing multicultural education for multicultural communities in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra. In contrast to several studies which show that the majelis taklim is an agent of spreading intolerant narratives in society, this article tries to present the face of the majelis taklim that is friendly to diversity by strengthening multicultural education. This study uses a participatory action research method. Data were obtained through interviews, focus group discussion, observations, documentation, and actions or improvements through workshops in the July-November 2018 period at majelis taklim in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra. The findings of this study indicate that the majelis taklim in Sitiung are attended by people who come from various elements and backgrounds and different mindsets, but the attitude of togetherness is maintained and synergized. In addition, the existing majelis taklim are used as a forum for increasing awareness of community members who are starting to feel the impact of modernization and globalization, and are starting to plunder solidarity and tolerance. The strengthening of multicultural education carried out through participatory action research in this study shows that the taklim assembly can function as a center for peace values, a center for change agents to become better Muslims, a community development center, communication and information center, a cadre center and a social control agent. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi majelis taklim dan memperkuat perannya dalam menghadirkan pendidikan multikultural bagi masyarakat multikultural di Sitiung Dharmasraya, Sumatera Barat. Berbeda dengan beberapa studi yang menunjukkan bahwa majelis taklim menjadi agen penyebar narasi intoleran di masyarakat, artikel ini berusaha menghadirkan wajah majelis taklim yang ramah keragaman dengan usaha memperkuat pendidikan multikultural. Studi ini menggunakan metode participatory action research. Data diperoleh melalui wawancara, focus group discussion, observasi, dokumentasi, serta aksi atau penguatan melalui workshop pada periode Juli-November tahun 2018 di majelis taklim yang ada di Sitiung Dharmasraya, Sumatera Barat. Temuan studi ini menunjukkan bahwa majelis taklim-majelis taklim yang ada di Kecamatan Sitiung diikuti oleh masyarakat yang datang dari berbagai unsur dan latar belakang serta pola pikir yang berbeda, namun sikap kebersamaan tetap terjaga dan bersinergi. Selain itu, kelompok majelis taklim yang ada dijadikan sebagai wadah untuk peningkatan kesadaran anggota masyarakat yang mulai merasakan dampak modernisasi dan globalisasi, serta mulai menjarah solidaritas dan toleransi. Penguatan pendidikan multikultural yang yang dilakukan melalui participatory action research dalam studi ini, menunjukkan bahwa majelis taklim dapat berfungsi sebagai pusat nilai perdamaian, pusat agen perubahan untuk menjadi umat Islam yang lebih baik, pusat pengembangan masyarakat, pusat komunikasi dan informasi, pusat kader dan agen kontrol sosial.
“MALIEK BULAN” SEBUAH TRADISI LOKAL PENGIKUT TAREKAT SYATTHARIYYAH DI KOTO TUO AGAM Adlan Sanur Tarihoran
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 1, No 1 (2015): June 2015
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1754.448 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v1i1.10

Abstract

”Maliek Bulan” is the annual tradition which is held by the Tareqat Syattariyah people in West Sumatera. Ulakan Padang Pariaman and also Koto Tuo Agam are the locations that usually become places in order to held “Maliek Bulan”. This study was going to observe in depth about the process of “Maliek Bulan” that was held by Syattariyah people in Koto Tuo Agam. This study was explorative research which is focused on finding the phenomenon with the qualitative approach. In studying the social phenomenon is to explain and analyze human’s and group’s behavior. “Maliek Bulan” for Syatthariah people in West Sumatera generally and especially for the group of Syattariyah people who come to Koto Tuo is becoming a routine ocassion in every beginning of Ramadhan or the moment in deciding when to begin fasting in Ramadhan. Morover, it is become a tradition which is held by the most people in Ulakan Padang Parriaman and Koto Tuo Agam. “Maliek Bulan” merupakan tradisi tahunan yang dilaksanakan oleh pengikut tareqat Syattariyah di Sumatera Barat. Lokasi yang biasanya menjadi tempat “maliek bulan” selain di Ulakan Padang Pariaman juga di Koto Tuo Agam. Penelitian ini ingin melihat lebih jauh tentang prosesi melihat bulan yang dilaksanakan oleh pengikut Syattariyah di Koto Tuo Agam tersebut. Penelitian ini merupakan suatu penelitian penjajagan (eksplorative research) yang memfokuskan studinya pada berupaya menemukan dengan pendekatan kualitatif. Dimana untuk mempelajari fenomena sosial dengan tujuan menjelaskan dan menganalisa perilaku manusia dan kelompok. Melihat Bulan bagi jam’ah Syattariyah umumnya di Sumatera Barat dan lebih khususnya bagi kalangan jama’ah Syattariyah yang datang ke Koto Tuo sudah menjadi agenda rutin setiap awal bulan ramadhan atau penentuan kapan dimulainya berpuasa. Bahkan lebih jauh dari itu sudah menjadi tradisi dilakukan dengan porsi jam’ah yang banyak di Ulakan Padang Pariaman dan Koto Tuo Agam.
EPISTEMOLOGI PEMIKIRAN ISLAM ‘ABED AL-JABIRI DAN IMPLIKASINYA BAGI PEMIKIRAN KEISLAMAN Nurfitriani Hayati
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.067 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i1.211

Abstract

Religious issue that appearing in Arab society and how they give attention to their tradition or Turâts has made them overly glorifies the glories of the part and become retarded in the face of modernity. So the Issue has motivated Al-Jabiri to offer his idea. He pins down critically from what we call or reputed by “reference” and “how to refer to”. Abed al-Jabiri is one of Muslim philosopher and becomes one of the leading Islamic Arab thinker about tradition relevance in the modern era. He describes that today what we need is combination between “critical of the past era” in order to avoid from history manipulation and “critical today” in order to disappear the identity confirmation and the apology within confront every west concept or idea. Therefore, to find out more his epistemology concept about Islam thought also his thought implication for Islam, this paper examines al-Jabiri’s thought by critical analysis with library research method. The result of this paper makes the point that in reviewing and critiquing a tradition, Al-Jabiri uses of "historicity" (tarikhiyyah), "objectivity" (madlu'iyyah), and "continuity" (istimrariyah) to approach the tradition or Turâts. The approach of "Historicity" and "objectivity" itself are both in the sense of separation between the reader and the reading object (fasl al-qari’ ‘an al-maqru), while the "continuity" means connecting the reader to the reading object (washl al-qari ‘an al-maqru). Persoalan keagamaan yang muncul di tengah masyarakat Arab dan bagaimana mereka menyikapi tradisi atau yang disebut sebagai Turâts menunjukkan sikap yang terlalu mengagungkan kejayaan masa lalu dalam menghadapi modernitas. Hal tersebut yang kemudian mendorong al-Jabiri untuk memasarkan gagasan-gagasan yang dimilikinya. Ia menawarkan suatu ajakan untuk dapat memikirkan secara kritis apa yang dianggap sebagai “rujukan” dan “cara merujuk”-nya. ‘Abed al-Jabiri adalah seorang filsuf Muslim dan menjadi salah satu pemikir Arab Islam yang terkemuka terkait dengan pemikirannya akan sebuah relevansi tradisi di zaman yang penuh dengan kemajuan (modernitas). Ia menjelaskan bahwa apa yang dibutuhkan saat ini adalah suatu kombinasi antara “kritik atas masa lalu” agar terhindar dari manipulasi sejarah untuk kepentingan sekarang, dan adanya “kritik masa kini” agar tidak muncul upaya penegasan identitas dan apologi dalam berhadapan dengan konsep-konsep Barat yang dianggap asing. Tulisan ini mengkaji pemikiran al-Jabiri dengan analisis kritis dan menggunakan metode kajian pustaka dalam membahas perjalanan intelektual ‘Abed al-Jabiri, serta konsep epistemologi pemikiran dan implikasinya bagi pemikiran keislaman. Adapun hasil dari analisa tulisan ini menunjukkan bahwa untuk meninjau ulang dan mengkritisi sebuah tradisi, Al-Jabiri menggunakan pendekatan “historisitas” (tarikhiyyah), “objektivitas” (madlu’iyyah), dan “kontinuitas” (istimrariyah) dalam menyikapi tradisi atau Turâts. Pendekatan “historisitas” dan “objektivitas” itu sendiri sama-sama dalam arti pemisahan antara sang pembaca dan objek bacaanya (fasl al-qari’ ‘an al-maqru), sedangkan “kontinuitas” berarti menghubungkan sang pembaca dengan objek bacaannya (washl al-qari ‘an al-maqru)
ACHIEVING HARMONY THROUGH PROGRESSIVE ISLAMIC DIMENSIONS IN THE THINKING OF ABDULLAH SAEED Rusdiana Navlia Khulaisie; Azhar A. Hafizh; Abdul Wafi; Sofia Sofia
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 5, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.685 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v5i1.902

Abstract

This article aims at describing the Progressive Islam; an Islam that offers a contextualization of the interpretation of Islam that is open, friendly, fresh, and responsive to every humanitarian issue according to Abdullah Saeed's thinking. Progressive Islam is a trend as a continuation of the Liberal Islamic Movement which emerged since approximately one hundred and fifty years ago. This trend emerged as a form of the expression of their dissatisfaction towards the Liberal Islamic Movement which emphasises more on internal criticism of the views and behaviours of Muslims that are deemed not or less in accordance with humanist values. This research was included in the literature research (library research method) which examines the researches and concepts of Progressive Islam in the perspective of Abdullah Saeed's thinking. Therefore, the final results of this study present that Abdullah Saeed offers a concept of understanding Islam that can answer the needs of the Contemporary Muslim communities so that it can be applied as lasting doctrine throughout the space of time and placeArtikel ini mendeskripsikan tentang Islam Progresif, bahwa Islam Progresif adalah Islam yang menawarkan sebuah kontekstualisasi penafsiran Islam yang terbuka, ramah, segar, dan responsif terhadap setiap  persoalan kemanusian menurut pemikiran Abdullah Saeed. Islam Progresif merupakan sebuah tren sebagai kelanjutan dari gerakan Islam liberal yang muncul sejak kurang lebih seratus lima puluh tahun yang lalu. Tren ini muncul sebagai bentuk ungkapan ketidakpuasan mereka terhadap gerakan Islam liberal yang lebih menekankan pada kritik internal terhadap pandangan dan perilaku umat Islam yang dianggap tidak atau kurang sesuai dengan nilai humanis. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kepustakaan (library research) yaitu menelaah penelitian dan konsep Islam Progresif dalam perspektif pemikiran Abdullah Saeed. Hasil Akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa Abdullah Saeed menawarkan sebuah konsep pemahaman Islam yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat muslim kontemporer sehingga dapat diaplikasikan sebagai ajaran yang abadi di sepanjang kurun waktu dan tempat
The Young Kyai (Lora) and Transformation of the Pesantren in Madura Umiarso El-Rumi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 2 (2020): December 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.595 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i2.3484

Abstract

This research focuses on the leadership of the A’wam Council, group of young religious scholars or kyai (Lora) at the Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura Islamic Boarding School, in carrying out institutional transformation of the pesantren (traditional Islamic boarding schools). As the protector of religious-culture, Lora not only preserves the various acpects of religion such as marriage and security (by performing the rituals of tahlil, or yasinan) but also maintains public morality and good social and political relations in the community. Lora functions as the a protector of culture and religion (amanah or public trust) in order to increase the social capital of the pesantren (enriching social networks). Using the collective leadership theory by O’Neill & Berinkerhoff and a qualitative approach through observation, interviews, and documentation, this article finds that Lora leadership made use of Islamic values in transforming this institution from a traditional pesantren (salaf) to modern one (khalaf). This process was coupled with the development of an interconnective-integralist paradigm that led to a new pesantren model that not only preserves the traditional methods but also adopted new developments in contemporary thought, namely combining and integrating religious knowledge with general science Riset ini memfokuskan pada dinamika kepemimpinan Dewan A’wam –yang merupakan kumpulan kyai muda (Lora) di Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata Pamekasan Madura- dalam melakukan transfomasi kelembagaan pesantren. Sebagai pelindung budaya-agama, Lora tidak hanya memposisikan diri untuk menjaga berbagai dimensi agama seperti pernikahan dan keselamatan (tahlil, atau yasinan), namun juga menjaga moralitas budaya masyarakat serta dinamika sosial politik. Konsistensi dalam peran sebagai pelindung budaya-agama difungsikan oleh Lora untuk menumbuhkan modal sosial pesantren (amanah dan jejaring sosial). Dengan menggunakan teori kepemimpinan kolektif oleh O’Neill & Berinkerhoff dan pendekatan kualitatif melalui observasi, wawancara, dan dokumtasi, artikel ini menemukan bahwa kepemimpinan Lora didasarkan pada nilai-nilai religius Islam di dalam melakukan pengelolaan pesantren hingga mampu bertransformasi dari pesantren tradisional (salaf) ke modern (khalaf). Proses tersebut dirangkai dengan perkembangan paradigma interkonektif-integralis yang berimplikasi pada model pesantren yang hanya mengajarkan ilmu agama akan diganti dengan nuansa baru, yaitu memadukan dan mengintegrasikan ilmu agama dengan ilmu umum
TEOLOGI HAKIMIYAH: BENIH RADIKALISME ISLAM Iman Fauzi Ghifarie
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 2, No 1 (2016): June 2016
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (760.727 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v2i1.96

Abstract

This article examines the theological issues called hakimiyah as the seeds of extremism, fundamentalism, radicalism religion (Islam) that manifests itself in the behavior and acts of violence in the name of religion. The rise of radicalism among young people in the form of violence, terrorism, suicide bombing is coming from theology hakimiyah and Istisyhad doctrine (martyrdom) in order to get guarantee into heaven surrounded by 40 angels. It is because, they always spread hatred and hostility and beliefe to takfiri concept (infidelity) to resolve any different opinion,a belief that led to vigilante, even to take the life of another person as the main ticket to heaven. If the actions and behaviors that hurt the conscience and the humanitarian aspect continues to be done systematically, and sustained by the younger generation, then what would the fate of Mother Earth become? Of course, it is possible to give the birth of the Islamic State of Indonesia Malayasia. Meanwhile, Islam forbids any acts that damage, destroy, injure, and kill for no good reason. Even in a war, moral principles, morality, and ethics should be a guide and reference. Radicalism, terrorism, limbs and destruction have no religion nor country. Everyone who embrace the ideology which spread terror to the people who live safely, and bring damage to plants and animals are terrorist. No one can give any sentence of punishment "deviant," "infidel," "kill" to the group which have different understanding, except Allah, the supreme judges. When we do that kind of behavior and actions, then we are more powerful than God. Tulisan ini mengkaji persoalan teologi hakimiyah sebagai benih ekstremisme, fundamentalisme, radikalisme agama (Islam) yang mewujud dalam perilaku, tindakan kekerasan atas nama agama. Maraknya gerakan radikalisme di kalangan anak muda dalam bentuk aksi kekerasan, terorisme, bom bunuh diri ini yang bersumber dari teologi hakimiyah dan doktrin Istisyhad (mati syahid) demi mendapatkan jaminan masuk surga yang dikelilingi 40 bidadari.Pasalnya, mereka selalu menebarkan kebencian, permusuhan dengan memengang teguh pemahaman takfiri (pengkafiran) untuk menyelesaikan setiap perbedaan pendapat, keyakinan yang berujung pada cara main hakim sendiri, hingga menghilangkan nyawa orang lain sebagai tiket utama masuk surga. Jika tindakan dan perilaku yang melukai aspek kemanusiaan dan hati nurani ini terus dilakukan secara sistematis, berkelanjutan oleh generasi muda, maka apa jadinya nasib Bumi Pertiwi. Tentunya, tidak menutup kemungkinan akan lahirnya Negara Islam Indonesia Malayasia.Padahal, ajaran Islam mengharamkan setiap perbuatan yang merusak, membinasakan, melukai, dan membunuh tanpa alasan yang benar. Dalam peperangan sekalipun, prinsip-prinsip moral, akhlaq, dan etika harus dijadikan pedoman dan acuan. Radikalisme, terorisme, ekstremitas dan pengrusakan tidak punya agama dan tidak pula negara. Setiap orang yang menganut ideologi yang menebarkan teror kepada orang-orang yang hidup aman, serta merusak tumbuhan dan hewan adalah teroris.Tiada seseorang yang dapat memberikan penyebutan hukuman “sesat,” “kafir,” “bunuh” terhadap kelompok yang berbeda pemahaman, keyakinan kecuali hakim yang maha tinggi, Allah Swt. Bila perilaku dan tindakan itu kita lakukan, maka kita lebih berkuasa dari Tuhan.
ETIKA PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK : PEMAHAMAN TEMATIS-KORELATIF HADIS-HADIS TENTANG PEREMPUAN Febriyeni Febriyeni
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 4, No 2 (2018): December 2018
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.591 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v4i2.656

Abstract

In the Islamic point of view, there is no prohibition for women to play a role in the publik scene. Even since the time of Rasulullah SAW, the role of women in the publik scene has occurred. Women at the time of the Prophet were present in the study attended by men, actively participating in spreading the religion of Islam, even women also participated in wars, treated and took care of sick, injured soldiers and provide for their eating and drinking needs. This shows the association of men and women in publik spaces is allowed. However, this does not mean eliminating barriers between men and women, and forgetting the restrictions of sharia prevailing in meetings that men and women participate in. Therefore, it is necessary to know the ethics for women when in the publik scenes, according to the guidance of the Qur'an and Sunnah. This research uses library research method by reviewing the verses and hadis that discuss the issue of women ethics while in publik scenes.
Predicting the Impact of Commercialization Factors on the Social Mission of Islamic Microfinance Institutions for Muslim Communities Hesi Eka Puteri
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 6, No 1 (2020): June 2020
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (462.849 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v6i1.3095

Abstract

This study examines the impact of commercialization factors, covering profitability, regulation, and competition, on the social performance of Islamic rural banks that cater specifically to the Muslim community.  As a community banking institution operating by Islamic principles, Islamic rural banks are faced with two performance targets, namely financial performance and social performance, both of which are interrelated. This study is quantitative research based on a survey on six units of Islamic rural banks in West Sumatra. Data from the financial services authority and other financial documents at Islamic rural banks are analyzed with panel data regression. The findings of this research show that profitability and competition influence social performance. Meanwhile, there is no regulation’s impact on social performance.  Regulatory factors that were initially expected to strengthen the social responsibility mission of Islamic rural banks did not stimulate the increase of social performance. This study reveals the importance of the commercialization factor in improving the social performance of Islamic rural banks which aims at increasing the social benefits for the low-income Muslim community.Penelitian ini bertujuan untuk menguji dampak dari faktor-faktor komersialisasi yang meliputi profitabilitas, regulasi dan kompetisi terhadap kinerja sosial BPR Syariah khususnya kepada penggunanya yaitu masyarakat Muslim. Sebagai sebuah community banking yang beroperasi dalam prinsip-prinsip Islam, BPR Syariah dihadapkan pada dua target kinerja yaitu kinerja keuangan dan kinerja sosial yang keduanya saling terkait. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif berdasarkan survei pada enam unit BPR Syariah di provinsi Sumatera Barat, Data dikumpulkan dari Otoritas Jasa Keuangan dan dokumen di BPR Syariah kemudian dianalisis dengan regresi data panel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa profitabilitas dan persaingan berpengaruh terhadap kinerja sosial, sedangkan regulasi tidak berpengaruh terhadap kinerja sosial. Faktor regulasi yang semula diharapkan memperkuat misi tanggung jawab sosial BPR syariah, ternyata tidak merangsang peningkatan kinerja sosial. Studi ini mengungkap akan pentingnya faktor komersialisasi dalam meningkatkan kinerja sosial BPR syariah dengan meningkatkan manfaat sosial untuk masyarakat Muslim berpenghasilan rendah.

Page 11 of 22 | Total Record : 216