cover
Contact Name
Parwadi Moengin
Contact Email
parwadi@trisakti.ac.id
Phone
+628128210951
Journal Mail Official
jurnalti@trisakti.ac.id
Editorial Address
Jurusan Teknik Industri FTI Universitas Trisakti Gedung Heri Hartanto Lantai 5 JL. Kyai Tapa no 1, Grogol, Jakarta Barat-11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
JURNAL TEKNIK INDUSTRI
Published by Universitas Trisakti
ISSN : 14116340     EISSN : 26225131     DOI : https://doi.org/10.25105/jti
Jurnal Teknik Industri (JTI) mainly focuses on industrial engineering scientific essays in the form of research results, surveys and literature review that are closely related to the Field of Industrial Engineering
Articles 385 Documents
Optimasi Persediaan Bahan Baku Berdasarkan Pengali Lagrange serta Rancangan Tata Letak Gudang Menggunakan Metode Shared Storage Iveline Anne Marie; Cindy Claudia; Adianto Adianto
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.184 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8394

Abstract

Intisari— CV ABC merupakan perusahaan yang memproduksi lapisan dalam sepatu. Bahan baku utamanya adalah kain polyester dengan ketebalan beragam (0,5; 0,6; 0,7; 0,8; 1,2; 1,3; 1,5) mm. CV ABC tidak menggunakan metode tertentu dalam pemesanan bahan baku, sehingga mengakibatkan kadang kelebihan serta kadang kekurangan persediaan bahan baku. Pemesanan bahan baku yang dilakukan oleh perusahaan juga tidak teratur sehingga menyebabkan terjadinya penumpukan bahan baku di gudang. Penumpukan di gudang mengakibatkan penempatan bahan baku menjadi tidak teratur dan jumlah stok sulit dihitung. Tujuan penelitian ini untuk menentukan jumlah persediaan yang sesuai dengan kapasitas gudang bahan baku berdasarkan Pengali Langrange serta memperbaiki rancangan tata letak gudang menggunakan metode Shared Storage. Mula-mula dilakukan perkiraan permintaan dengan pendekatan simulasi Monte Carlo. Tahap berikutnya adalah perhitungan lot pemesanan yang ekonomis dengan EOQ, optimasi kuantitas pemesanan dengan model persediaan pengali Lagrange. Hasil perhitungan akan menjadi dasar dalam pengaturan tata letak dengan menggunakan metode shared storage. Berdasarkan hasil optimasi dengan Pengali Lagrange, biaya persediaan dapat diturunkan hingga 34,13%. Selain itu, berdasarkan pengaturan ulang tata letak gudang, kapasitas gudang meningkat hingga 19,4%.Abstract— CV ABC is a company that manufactures layers in shoes. The main raw material is polyester fabric with varying thicknesses (0.5; 0.6; 0.7; 0.8; 1.2; 1.3; 1.5) mm. CV ABC does not use certain methods in ordering raw materials, resulting in sometimes excess and sometimes lack of raw material inventory. The ordering of raw materials made by the company is also irregular, causing a buildup of raw materials in the warehouse. Stacking in warehouses results in irregular placement of raw materials and difficult to calculate the amount of stock. The purpose of this study was to determine the amount of inventory in accordance with the capacity of the warehouse of raw materials based on the Langrange Multiplier and improve the layout design of the warehouse using the Shared Storage method. First the demand estimation is carried out using a Monte Carlo simulation approach. The next step is the calculation of economical order lots with EOQ, optimization of order quantities with the Lagrange multiplier inventory model. The calculation results will be the basis in setting the layout using the shared storage method. Based on the results of optimization with the Lagrange Multiplier, inventory costs can be reduced by 34.13%. In addition, based on the rearrangement of the warehouse layout, warehouse capacity has increased to 19.4%.
Rail Transport Service Performance through Analytical Hierarchy Approach and Data Envelopment Analysis for PT. Kereta Api Indonesia (KAI) Parwadi Moengin; Fani Puspitasari; Nilla Nilla
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.367 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8395

Abstract

Abstract--Railway transport being a service is provided in a space and time dimension. Providing a better quality of service requires higher inputs, so evaluating the performance without these considerations would give a biased result. The purpose of this paper is to assess the performance of the rail transport service by including the service delivery perspective of railways and look at the holistic concept of service delivery. The quality of service parameters have been chosen within the constraints imposed by availability of data and the formulated data envelopment analysis (DEA). The quality of service parameters include: punctuality; the level of consequential train accidents (safety); and the level of public complaints (customer satisfaction). It evaluates the performance of 9 zones of KAI on the basis of their efficiencies and identifies the exemplar zones. The results deduced from these studies can serve as performance targets in reward systems, performance scorecards, and control systems.DEA has been used as a benchmarking tool to evaluate the relative efficiency of the 9 zones. The input parameters are working expenses, number of employees, and equated track kilometers and the output parameters are loading of revenue, punctuality, passenger traffic kilometers, consequential train accidents, and public complaints. Malmquist index has been used to determine the temporal performance of each zone. KAI can use DEA to assess the performance of various zones and for improvement monitoring in the context of being a transport service provider. Inefficient zones can identify the parameters for improvement across the zones and along the time dimension. A huge working force for all the inefficient zones indicate over deployment of resources, which can be seen at the policy level. A redundancy for equated track kilometers indicates a non-optimum use of resources. Not giving enough importance to service quality could be one of the major findings of the inefficient zones.Intisari--Transportasi kereta api sebagai layanan disediakan dalam dimensi ruang dan waktu. Memberikan kualitas layanan yang lebih baik membutuhkan input yang lebih tinggi, sehingga mengevaluasi kinerja tanpa pertimbangan ini akan memberikan hasil yang bias. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menilai kinerja layanan transportasi kereta api dengan memasukkan perspektif pemberian layanan kereta api dan melihat konsep holistik pemberian layanan. Parameter kualitas layanan telah dipilih dalam batasan yang diberlakukan dengan mempertimbangkan ketersediaan data dan analisis amplop data yang dirumuskan (DEA). Parameter kualitas layanan meliputi: ketepatan waktu; tingkat konsekuensi kecelakaan kereta api (keselamatan); dan tingkat keluhan publik (kepuasan pelanggan). Makalah ini mengevaluasi kinerja 9 zona (Daerah Operasi) KAI berdasarkan efisiensi mereka dan mengidentifikasi zona contoh. Hasil yang disimpulkan dari penelitian ini dapat berfungsi sebagai target kinerja dalam sistem penghargaan, penilaian kinerja, dan sistem kontrol.DEA digunakan sebagai alat benchmarking untuk mengevaluasi efisiensi relatif dari 9 zona. Parameter input adalah biaya kerja, jumlah karyawan, dan kilometer track yang disamakan dan parameter outputnya adalah pendapatan, ketepatan waktu, kilometer lalu lintas, jumlah penumpang, konsekuensi kecelakaan kereta api, dan keluhan publik. Indeks Malmquist digunakan untuk menentukan kinerja dari masing-masing zona. KAI dapat menggunakan DEA untuk menilai kinerja berbagai zona dan untuk perbaikan pemantauan dalam konteks menjadi penyedia layanan transportasi. Zona yang tidak efisien dapat mengidentifikasi parameter untuk peningkatan antar lintas zona dan dimensi waktu. Tenaga kerja yang sangat besar untuk semua zona yang tidak efisien mengindikasikan penyebaran sumber daya, yang dapat dilihat pada tingkat kebijakan.
Improving Productivity at Standard Area of Airline Catering Company by Using Systematic Layout Planning Dany Soegianto; Aditya Tirta Pratama; Setijo Awibowo; Steven Liang
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (786.828 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8396

Abstract

Intisari—Penelitian ini dilakukan di sebuah perusahaan katering maskapai yang berlokasi di Jakarta, Indonesia. Perusahaan menjual makanan dalam penerbangan dan produk komisaris seperti: makanan ringan, air, dan makanan kering lainnya untuk perusahaan penerbangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di perusahaan, terutama di daerah yang disebut "area standar", yang menangani produk komisaris. Berdasarkan data dari perusahaan, area standar sering tidak dapat memenuhi permintaan yang diperlukan di musim puncak, meskipun berdasarkan jumlah pekerja seharusnya dapat mencapai permintaan. Berdasarkan proses bisnis, logistik memainkan peran besar dalam bisnis, di mana sekitar 70% darinya adalah logistik, dan 30% adalah produksi. Oleh karena itu, tata letak fasilitas dirancang agar efisien. Tiga langkah diterapkan untuk menyelesaikan masalah di area standar. Langkah pertama adalah perencanaan tata letak sistematis, yang diharapkan dapat merancang tata letak baru dengan alokasi ruang yang optimal. Langkah kedua adalah Simulasi Kejadian Diskrit, yang diharapkan dapat menunjukkan total output yang dihasilkan di area tersebut. Langkah ketiga adalah menghitung produktivitas pekerja. Akibatnya, tata letak baru untuk meningkatkan total output dan tingkat produktivitas akan diusulkan ke perusahaan dengan alokasi ruang yang optimal.Abstract— This research is conducted in an airline catering company located in Jakarta, Indonesia. The company sells in-flight meals and commissary products such as: snacks, water, and other dry products for an airline company. The purpose of this research is to solve the problem that occurred at the company, especially in the area called “standard area”, which handles the commissary products. Based on the data from the company, the standard area often cannot satisfy the required demand in peak season, although the number of workers should be able to reach the demand. Based on the business process, logistics plays a big role in the business, in which around 70% of it is logistics, and 30% is production. Therefore, the facility layout is designed to be efficient. Three steps are applied to solve the problem in the standard area. The first step is systematic layout planning, which is expected to design a new layout with optimum space allocation. The second step is Discrete Event Simulation, which is expected to show the total output produced in the area. The third step is to calculate the productivity of the worker. As a result, a new layout to increase total output and productivity rate will be proposed to the company with optimum space allocation.
Integrasi Metode IPMS dan ANP dalam Pengukuran Kinerja Perusahaan (Studi Kasus : CV Ekasari) Irfan Nurdiansah; Sayyidah Maulidatul Afraah; Yuniaristanto Yuniaristanto
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (708.48 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8397

Abstract

Intisari— Dalam menjalankan katering diperlukan manajemen yang bertugas merencanakan, mengorganisir, dan mengontrol setiap aktivitas katering. CV. Ekasari merupakan perusahaan yang bergerak di bidang katering yang lebih fokus pada penyediaan roti dan kue. Perkembangan bisnis katering memaksa CV. Ekasari untuk selalu meningkatkan keseluruhan aspek kinerja perusahaan. Salah satu cara dalam mempertahankan daya saing dengan perusahaan lain ialah melalui penjagaan kualitas kinerja perusahaan yang dapat diketahui melalui pengukuran kinerja. Pada CV. Ekasari sebelumnya telah dilakukan penelitian pengukuran kinerja melalui integrasi metode Integrated Performance Measurement System (IPMS) dengan Analytical Hierarchy Process (AHP) namun hasil ini belum mempertimbangkan keterkaitan antarkriterianya. Penelitian ini menggabungkan metode IPMS dan Analytical Network Process (ANP) untuk mengetahui keterkaitan antarkriteria dan memberikan pembobotan yang lebih baik. Penelitian ini berhasil merumuskan key performance indicator (KPI) sejumlah 21 KPI tervalidasi dan KPI B31 yaitu current ratio dan KPI B32 yaitu debt of ratio membutuhkan perhatian khusus oleh perusahaan.Abstract— Managing catering means to plan, organize and control every catering activity. CV. Ekasari is a company engaged in catering focused on providing bread and cakes. The development of catering business forcing CV. Ekasari to enhance their performance. A way to maintain company competitiveness is through maintaining the quality of company performance through performance measurement. CV. Ekasari has previously conducted performance measurement research using the Integrated Performance Measurement System (IPMS) method integrated with Analytical Hierarchy Process (AHP) but these results have not taken into consideration the interrelationship between them. This study combines the methods of the IPMS and Analytical Network Process (ANP) to determine the inter-criteria linkages and provide a better weighting. This research succeeded in formulating 21 key performance indicator (KPI) that have been validated and KPI B31 and B32 which are the current ratio and debt of ratio require special attention by the company.
Perbaikan Fasilitas Taman Bermain Outdoor Santri Raudhatul Atfal Dengan Mempertimbangkan Prinsip Pengendalian Perancangan Yang Ergonomis Wahyudin Wahyudin; Kusnadi Kusnadi; Billy Nugraha
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.664 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8398

Abstract

Intisari— Alat bermain di taman kanak-kanak merupakan salah satu fasilitas dan sarana yang perlu mendapatkan perhatian, mengingat besarnya fungsi dan manfaat alat tersebut dalam aktivitas belajar atau bermain anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk merancang beberapa alat bermain atau belajar, diantaranya; perosotan, panjatan globe, dan jembatan lingkar yang ergonomis menurut data antropometri siswa-siswi Taman Kanak-Kanak R.A Nurul Iman. Data tersebut digunakan sebagai parameter dalam membuat rancangan terbaru yang diusulkan secara ergonomis. Langka-langkah penilitian yang dilakukan dalam merancang alat bermain atau belajar tersebut. Dengan mempertimbangkan prinsip pengendalian perancangan yang ergonomis. Data yang digunakan dalam penelitian terbagi data primer dan data sekunder. Tujuan dan sasaran komponen dalam prinsip pengendalian perancangan yang ergonomis, terdiri dari: lokasi, tata letak, peralatan permainan, kontruksi dan material atau bahan. Selain itu dengan memperhatikan aspek yang dikendalikan (issue of concern), terdiri dari: keselamatan, kesehatan, kenyamanan, kemudahan, keamanan, dan keindahan.Abstract— Play equipment in kindergarten is one of the facilities and facilities that need attention, given the magnitude of the functions and benefits of these tools in learning activities or children's play. This study aims to design several play or learning tools, including; ergonomic slides, globe climbing and ring bridges according to anthropometric data of R.A Nurul Iman Kindergarten students. The data is used as a parameter in making the latest proposed ergonomically proposed. The research steps taken in designing the play or learning tool. By considering the principles of ergonomic design control. The data used in this study are divided into primary data and secondary data. Objectives and component objectives in the principle of ergonomic design control, consisting of: location, layout, game equipment, construction and materials or materials. In addition, taking into account aspects that are controlled (issue of concern), consisting of: safety, health, comfort, convenience, security, and beauty.
Analisis Pemborosan Pada Industri Beton Precast Dengan Pendekatan Lean supply chain Yayang Ade Suprana; Iveline Anne Marie; Nora Azmi
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (927.09 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8400

Abstract

Intisari—Dengan Persaingan yang cukup ketat dalam dunia industri beton pracetak saat ini tentunya membuat PT.ABC sebagai manufaktur beton pracetak dituntut untuk dapat menghasilkan produk yang memenuhi ekspetasi pelanggan baik dari segi waktu dan kualitas. Untuk mencapai hal tersebut perlu dilakukan analisis pemborosan dengan menggunakan pendekatan Lean supply chain sehingga akan meningkatkan efisiensi sistem manufaktur. Pendekatan ini dilakukan dengan menggambarkan aliran informasi perusahaan melalui tools Value Stream Mapping (VSM). Aktivitas Perusahaan akan di kelompokkan dalam value added, non value added, dan necessary non value added. Dari pemetaan VSM terlihat pemborosan banyak terjadi di aliran rantai pasok. Hal ini terlihat dari Terjadinya keterlambatan kedatangan material utama dari supplier mengakibatkan proses terhenti, Perubahan rencana produksi yang mendadak, Terganggunya penjadwalan produksi yang disebabkan oleh lead time yang panjang. Oleh karena itu, perlu dilakukan upaya yang efektif dan efisien untuk meminimasi pemborosan di aliran rantai pasok agar dapat memenuhi ekspetasi pelanggan. Penelitian ini berhasil merinci besar value added time adalah 2.025 menit, total necessary but non value added time adalah 335 menit sehingga total supply chain lead time adalah 2.360 menit.Abstract— With the strict competition in the precast concrete industry at this time, causing PT.ABC as a precast concrete manufacturing is required to be able to produce products that meet customer expectations both of time and quality. To achieve this, a waste analysis needs to be done using the Lean supply chain approach so that it will improve the efficiency of the manufacturing system. This approach is carried out by describing the flow of company information through Value Stream Mapping (VSM) tools. Company activities will be classification in value added, non value added, and necessary non value added. From the VSM mapping it is seen that a lot of waste occurs in the supply chain flow. This can be seen from the delay in the arrival of main material from the supplier resulting in the process stalled, a sudden change in production plans, disruption of production scheduling caused by a long lead time. Therefore, effective and efficient efforts are needed to minimize waste in the supply chain flow in order to meet customer expectations. This research succeeded in detailing the value added time is 2,025 minutes, the total necessary but non value added time is 335 minutes so that the total supply chain lead time is 2,360 minutes.
Analisis Pengaruh Aspek Technology-Organization-Environment dalam Financial Technology terhadap Financial Inclusion UMKM Karawang Aditya Febriantika; Rianita Puspa Sari; Aulia Fashanah Hadining
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.507 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8401

Abstract

Intisari— Permulaan Industri 4.0 ditandai dengan munculnya rekayasa intelegensia dan internet of thing. Industri 4.0 diperkirakan akan mempunyai potensi manfaat yang besar, namun menyimpan berbagai dampak negatif salah satunya adalah disrupsi pada ancaman lapangan pekerjaan yang membuat persaingan semakin ketat. Langkah Pemerintah Indonesia dalam mengatasi hal tersebut dengan membuat roadmap making Indonesia 4.0. Salah satu langkah inisiatif dalam roadmap making Indonesia 4.0 adalah pemberdayaan usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) dan insentif dalam inovasi atau penggunaan teknologi. Namun, UMKM mengalami beberapa hambatan salah satunya adalah kurangnya sumber dana dan penggunaan teknologi. Hal ini membuat pelaku UMKM harus menghasilkan inovasi baru agar bisa memenuhi tuntutan pasar. Inovasi tersebut diwujudkan dengan penggunaan financial technology (fintech). Penggunaan fintech memiliki beberapa aspek yang menjadi pertimbangan bagi UMKM, salah satunya adalah pada aspek technology-organization-environment (TOE). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor yang paling signifikan berdasarkan aspek TOE dalam penggunaan financial technology dan pengaruh financial technology terhadap financial inclusion UMKM Kabupaten Karawang menggunakan metode SEM-PLS dengan 100 responden pelaku UMKM sebagai sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aspek TOE yang dilihat dari perceived direct benefit mempengaruhi financial technology (0.152). Sedangkan perceived indirect benefit, perceived cost, perceived technical competence, perceived industry pressure, dan perceived government pressure tidak memiliki pengaruh dalam financial technology (0.277; 0.174; 0.261; 0.225; 0.035), dan financial technology mempengaruhi financial inclusion (0.727). Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan bahwa faktor yang signifikan dalam aspek TOE yang mempengaruhi penggunaan financial technology adalah perceived direct benefit, dimana menurut responden pada penelitian ini merasakan manfaat langsung dari penggunaan financial technology dan semakin tinggi pengguna financial technology sebanding dengan financial inclusion UMKM.Abstract— The beginning of Industry 4.0 was marked by the transition to intelligence engineering and the internet of things. Industry 4.0 is predicted to have great potential benefits, but it keeps various negative impacts, one of which is disturbed by job challenges that make competition tighter. The steps of the Government of Indonesia in overcoming this matter by making a road map to make Indonesia 4.0. One of the steps in developing a road map for Indonesia 4.0 is the empowerment of small, micro and medium enterprises (MSMEs) and incentives for innovation or technology use. However, MSME uses several solutions, one of which uses funding sources and the use of technology. This makes SMEs must get new innovations in order to get market praise. The innovation is realized by using financial technology (fintech). The use of fintech has several aspects that are considered by MSMEs, one of which is in the aspect of technology-organization-environment (TOE). The purpose of this study is the comparison of the most significant factors based on aspects of TOE in the use of financial technology and financial technology on MSME financial inclusion in Karawang Regency using the SEM-PLS method with 100 respondents using MSME as a sample. The results of this study indicate that the aspect of TOE as seen from the direct benefits felt affects financial technology (0.152). Whereas perceived indirect benefits, perceived costs, perceived technical competence, perceived industry pressure, and perceived government pressure have no influence in financial technology (0.277; 0.174; 0.261; 0.225; 0.035), and financial technology affects financial inclusion (0.727). Based on the results of this study, it was found that a significant factor in the aspect of TOE that influenced the use of financial technology felt direct benefits, where according to respondents in this study the direct benefits of using financial technology and the higher financial technology users were comparable to MSME financial inclusion.
Peningkatan Kualitas Pelayanan Facility Management Menggunakan Metode Servqual dan Gap Analysis Di PT. GMF AeroAsia Juni Purwo Widadi; Dadan Umar Daihani; Dorina Hetharia
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (466.33 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8402

Abstract

Intisari— GMF AeroAsia merupakan Garuda Maintenance Facility Support Center, yang bertugas sebagai pusat maintenance pesawat terbang dengan berbagai tipe dan register pesawat. Saat proses maintenance pesawat tidak ditinggal tanpa pendampingan, namun akan ada personil yang menetap untuk memantau proses maintenance. Untuk mendukung kegiatan operasional maintenance dibutuhkan layanan untuk non-operasional untuk memfasilitasi personil pelanggan yang menetap sementara waktu di PT. GMF AeroAsia selama proses maintenance pesawatnya dilaksanakan. Selama pelayanan, Facility Management belum dapat memenuhi target perusahaan pada pelayanan non-operasional yang ditetapkan pada poin 4.5. Menanggapi hal tersebut, Facility Management mencoba untuk melakukan peningkatan pelayanan dengan melengkapi fasilitas dan pelayanan yang ada. Penambahan fasilitas yang akan diberikan termasuk penambahan karyawan yang bertanggung jawab untuk pelayanan non-operasional. Dilakukan peningkatan dan penambahan karyawan pada divisi sektor pelayanan non-operasional dengan menyerahkannya pada pihak outsourcing. Penambahaan tenaga kerja melalui outsourcing terbukti meningkatkan kinerja dari pelayanan non-operasional PT. GMF AeroAsia. Namun peningkatan tersebut masih belum dapat memenuhi target perusahaan yang menginginkan pelayanan dapat mencapat 4.5. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi saat ini terhadap layanan outsourcing terhadap pelanggan pada saat melakukan maintenance pesawat di PT. GMF Aeroasia menggunakan metode servqual, serta menentukan sistem standar layanan outsourcing berdasarkan skala prioritas melalui metode gap analysis. Berdasarkan hasil dari penelitian, dimensi tangibles memiliki skor yang paling rendah dibandingkan keempat dimensi yang lain. Sehingga diperlukan adanya penambahan dan pemenuhan fasilitas pelayanan yang dibutuhkan oleh pelanggan selama proses mantenance pesawat berlangsung.Abstract— PT. GMF AeroAsia is the Garuda Maintenance Facility Support Center, which serves as an aircraft maintenance center with various types and aircraft registers. When the aircraft maintenance process, it is not left without assistance but there will be personnel who stay to monitor the maintenance process. To support operational maintenance activities, non-operational services are needed to facilitate customer personnel who remain temporarily at PT. GMF AeroAsia during the process of maintaining aircraft carried out. During the service, Facility Management has not been able to meet the company's targets for non-operational services set in point 4.5 and only reach 3.9. In response, Facility Management tries to improve services by complementing existing facilities and services. Additional facilities to be provided include the addition of employees responsible for non-operational services. Increased and added employees in the non-operational service sector division by handing it over to the outsourcing party. The addition of labor through outsourcing has been proven to improve the performance of PT. GMF AeroAsia. But the increase is still not able to meet the target companies who want services can achieve 4.5. This study aims to determine the current condition of outsourcing services to customers when performing aircraft maintenance at PT. GMF Aeroasia uses the servqual method, and determines a standard system for outsourcing services based on a priority scale through the gap analysis method. Based on the results of the study, the dimensions of tangibles have the lowest score compared to the other four dimensions. So it is necessary to add and fulfill the service facilities needed by customers during the aircraft maintenance process.
Analisis Dampak Lingkungan dan Persepsi Masyarakat Terhadap Industri Peternakan Ayam (Studi Kasus pada Peternakan di Jawa Tengah) Fakihuddin Fakihuddin; Tatbita Titin Suhariyanto; Muhammad Faishal
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (592.954 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i2.8403

Abstract

Intisari—Industri peternakan ayam di Indonesia memiliki perkembangan yang cukup pesat, khususnya di Jawa Tengah. Salah satu kabupaten di Jawa Tengah dengan populasi ayam ras petelur yang cukup tinggi adalah Kabupaten Temanggung. Salah satu penyebab peningkatan peternakan ayam ras petelur adalah peningkatan konsumsi telur pada masyarakat. Di sisi lain, peningkatan ini juga menimbulkan dampak bagi lingkungan di sekitar peternakan ayam, antara lain adalah pencemaran terhadap udara, air, dan tanah. Persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan ayam juga beragam. Oleh karena itu, penelitian ini betujuan untuk menganalisis dampak pencemaran lingkungan dan persepsi masyarakat terhadap keberadaan peternakan ayam. Pengambilan data dilakukan di peternakan ayam yang terletak di Desa Nglorog, Jawa Tengah. Data diperoleh melalui survei, wawancara, dan kuesioner. Survei dilakukan untuk mengobservasi dan meneliti peternakan secara langsung. Kemudian, wawancara dilakukan kepada pemilik peternakan dan warga di sekitar peternakan menggunakan kuesioner. Dari hasil pengumpulan dan pengolahan data, didapatkan kesimpulan bahwa prioritas dampak lingkungan yang terjadi adalah tanah yang tidak subur, penumpukan kotoran ayam, dan timbul bau yang tidak sedap. Dampak tersebut mengakibatkan warga tidak dapat menjalankan aktivitas secara optimal dan adanya kerugian ekonomi yang dialami oleh peternak karena produktivitas menurun. Hasil kuesioner menunjukkan bahwa masyarakat terganggu dengan pencemaran udara, yaitu bau yang tidak sedap. Namun, masyarakat tidak terganggu dengan pencemaran air dan tanah di sekitar peternakan. Penelitian ini merekomendasikan beberapa penyelesaian dampak lingkungan dengan mengurangi penumpukan kotoran ayam, kerugian ekonomi bagi peternak, dan bau yang tidak sedap. Strategi untuk mengatasi dampak lingkungan dilakukan dengan penyaringan untuk memisahkan kotoran ayam dan air obat sisa minum, serta pembersihan kandang secara rutin dan sesuai standar. Selain itu, pemilihan pakan ternak juga harus diperhatikan. Pemberian bubuk gamping pada feses ayam juga dapat dilakukan untuk mengurangi bau tidak sedap. Penanganan dampak lingkungan yang sinergis dengan melibatkan pemerintah, peternak, dan masyarakat akan menciptakan industri peternakan yang sehat dan ramah lingkungan.Abstract—The chicken farming industry in Indonesia has developed quite rapidly, especially in Central Java. One of the districts in Central Java with a relatively high number of laying hens is Temanggung Regency. One of the causes of the increase in laying hens is an increase in egg consumption in the community. On the other hand, this increase will also have an impact on the environment around chicken farms, including pollution of the air, water, and soil. Public perceptions of the existence of chicken farms are also diverse. Therefore, this study aims to analyze the impact of environmental pollution and public perception of the existence of chicken farms. Data was collected at a chicken farm located in the village of Nglorog, Central Java. Data obtained through surveys, interviews, and questionnaires. The survey was conducted to directly observe and examine the farm. Then, interviews were conducted with farm owners and residents around the farm using a questionnaire. From the results of data collection and processing, it was concluded that the main environmental impacts that occur are infertile soils, accumulation of chicken manure, and unpleasant odors. The impact results in residents which are not being able to carry out activities optimally and the economic losses experienced by farmers due to decreased productivity. The results of the questionnaire indicate that the public is disturbed by air pollution, which is the odor. However, the community is not disturbed by water and soil pollution around the farm. This study recommends several strategies to overcome the environmental impacts by reducing the buildup of chicken manure, economic losses for farmers, and unpleasant odors. The strategies to minimize the environmental impact are carried out by screening to separate chicken manure and drinking water from residual medicine, as well as cleaning the cage regularly and according to standards. In addition, the selection of animal feed must also be considered. Giving limestone powder to chicken feces can also be done to reduce unpleasant odors. Synergistic environmental management by involving the government, breeders, and the community will create a healthy and environmentally friendly livestock industry.
Perancangan Tata Letak Gudang Barang Jadi Menggunakan Kebijakan Class-Based Storage dan Particle Swarm Optimization Di PT XYZ Yusraini Muharni; Ade Irman S M; Yogi Noviansyah
JURNAL TEKNIK INDUSTRI Vol. 10 No. 3 (2020): Volume 10 No 3 November 2020
Publisher : Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Indusri Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.683 KB) | DOI: 10.25105/jti.v10i3.8405

Abstract

Intisari—Dalam proses penyimpanan pada gudang barang jadi PT XYZ menggunakan material handling berupa gantry crane, pada gudang barang jadi tidak adanya sistem baku dalam penyimpanan komponen Truss Bridge 60 (TB-60). Menurut prinsip tata letak gudang, komponen dapat disusun sesuai ukuran yang sama. Peletakkan komponen saat ini hanya berdasarkan slot yang kosong pada gudang. Hal ini menyebabkan jarak tempuh material handling menjadi lebih jauh yang berarti kurang efektif dan efisien. Perancangan tata letak gudang di PT XYZ ini bertujuan untuk mendapatkan ongkos material handling yang optimal dengan cara meminimasi jarak material handling sehingga kegiatan penyimpanan dapat berjalan secara efektif dan efisien. Diperlukan suatu penyelesaian menggunakan metode Class-Based Storage dan Particle Swarm Optimization yang diharapkan mendapatkan hasil tata letak yang optimal dengan memperoleh total ongkos material handling yang paling minimal. Perhitungan jarak material handling menggunakan pengukuran rectilinear. Hasil perhitungan ongkos material handling yang diperoleh pada layout eksisting adalah sebesar Rp 13.102.152,88 dengan ongkos material handling permeternya sebesar Rp 34.093,51/meter, pada layout usulan 1 menggunakan metode Class-Based Storage diperoleh ongkos material handling sebesar Rp 12.893.810,79 dengan ongkos material handling permeternya sebesar Rp 36.962,17/meter dan pada layout usulan 2 menggunakan metode particle swarm optimization diperoleh ongkos material handling sebesar Rp 12.068.528,51 dengan ongkos material handling permeternya sebesar Rp 34.093,51/meter. Maka ongkos material handling yang diperoleh dari layout eksisting dengan layout usulan 1 mengalami penurunan sebesar 1,59% dan pada layout eksisting dengan layout usulan 2 mengalami penurunan sebesar 7,89%. Usulan tata letak gudang barang jadi yang terbaik adalah dengan menggunakan metode Particle Swarm Optimization.Abstract—In the storage process in the finished goods warehouse PT XYZ uses material handling consisting of gantry cranes, in the finished goods warehouse there is no raw material system in the storage of Truss Bridge 60 (TB-60) components. According to the warehouse layout principle, components can be arranged according to the same size. Laying components is currently only available an empty slot in the warehouse. This causes the material handling distance to be further which means it is less effective and efficient. The design of the warehouse layout at PT XYZ aims to obtain optimal material handling costs by minimizing material handling distances, thus making storage locations run effectively and efficiently. A place is needed using the Class-Based Storage method and the herd particle optimization which is expected to get optimal layout results by obtaining the minimum total material handling costs. Calculation of material handling distance using rectilinear measurements. The results of the calculation of material handling costs obtained in the existing layout are Rp. 13,102,152.88 with the material handling fees per Rp. 12,893,810, 79 with the material handling cost per meter of Rp 36,962.17 / meter and in the layout valuing 2 using the particle swarm optimization method to obtain material handling costs of Rp 12,068,528.51 with the material handling cost of Rp 34,093.51 / meter. Then the cost of material handling obtained from the existing layout with the layout received 1 increased by 1.59% and in the existing layout with the layout received 2 an increase of 7.89% decrease. The best layout for finished goods warehouse is to use the Particle Swarm Optimization method.

Filter by Year

2011 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 15 No. 3 (2025): November 2025 Vol. 15 No. 2 (2025): July 2025 Vol. 15 No. 1 (2025): March 2025 Vol. 14 No. 3 (2024): November 2024 Vol. 14 No. 2 (2024): July 2024 Vol. 14 No. 1 (2024): March 2024 Vol. 13 No. 3 (2023): VOLUME 13 NO 3 NOVEMBER 2023 Vol. 13 No. 2 (2023): VOLUME 13 NO 2 JULI 2023 Vol. 13 No. 1 (2023): VOLUME 13 NO 1 MARET 2023 Vol. 12 No. 3 (2022): VOLUME 12 NO 3 NOVEMBER 2022 Vol. 12 No. 2 (2022): VOLUME 12 NO 2 JULI 2022 Vol. 12 No. 1 (2022): VOLUME 12 NO 1 MARET 2022 Vol. 11 No. 3 (2021): VOLUME 11 NO 3 NOVEMBER 2021 Vol. 11 No. 2 (2021): VOLUME 11 NO 2 JULI 2021 Vol. 11 No. 1 (2021): VOLUME 11 NO 1 MARET 2021 Vol. 10 No. 3 (2020): Volume 10 No 3 November 2020 Vol. 10 No. 2 (2020): Volume 10 No 2 Juli 2020 Vol. 10 No. 1 (2020): VOLUME 10 NO 1 MARET 2020 Vol. 9 No. 3 (2019): Volume 9 No 3 November 2019 Vol. 9 No. 2 (2019): VOLUME 9 NO 2 JULI 2019 Vol. 9 No. 1 (2019): Volume 9 No 1 Maret 2019 Vol. 8 No. 2 (2018): Volume 8 N0 2 Juli 2018 Vol. 8 No. 3 (2018): Volume 8 No 3 November 2018 Vol. 8 No. 1 (2018): Volume 8 No 1 Maret 2018 Vol. 7 No. 3 (2017): Volume 7 No 3 November 2017 Vol. 7 No. 2 (2017): Volume 7 Nomor 2 Juli 2017 Vol. 7 No. 1 (2017): Volume 7 Nomor 1 Maret 2017 Vol. 6 No. 3 (2016): Volume 6 No 3 November 2016 Vol. 6 No. 2 (2016): Volume 6 No 2 Juli 2016 Vol. 6 No. 1 (2016): Volume 6 No 1 Maret 2016 Vol. 5 No. 3 (2015): Volume 5 No 3 Novemberi 2015 Vol. 4 No. 3 (2014): Volume 4 No. 3 November 2014 Vol. 4 No. 2 (2014): Volume 4 No 2 Juli 2014 Vol. 4 No. 1 (2014): Volume 4 No 1 Maret 2014 Vol. 3 No. 3 (2013): Volume 3 No 3 November 2013 Vol. 3 No. 2 (2013): Volume 3 No 2 Juli 2013 Vol. 3 No. 1 (2013): Volume 3 No 1 Maret 2013 Vol. 2 No. 3 (2012): Volume 2 No 3 November 2012 Vol. 2 No. 2 (2012): Volume 2 No 2 Juli 2012 Vol. 2 No. 1 (2012): Volume 2 No 1 Maret 2012 Vol. 1 No. 2 (2011): Volume 1 No 2 Juli 2011 Vol. 1 No. 1 (2011): Volume 1 No 1 Maret 2011 More Issue