cover
Contact Name
Yuli Andriansyah
Contact Email
yuliandriansyah@uii.ac.id
Phone
+6285369607374
Journal Mail Official
millah@uii.ac.id
Editorial Address
Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang KM 14,5, Besi, Sleman, DI Yogyakarta, Kode Pos 55584
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Millah: Journal of Religious Studies
ISSN : 14120992     EISSN : 2527922X     DOI : 10.20885/millah
Core Subject : Religion,
Millah: Journal of Religious Studies (E-ISSN: 2527-922X) is an international double-blind peer-review journal focusing on original research articles related to religious studies. The journal welcomes contributions on the following topics: Religious studies Islamic studies Christian studies Hindu studies Buddhist studies other relevant religious studies.
Articles 628 Documents
Identifikasi dan Psikoterapi terhadap ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) Perspektif Psikologi Pendidikan Islam Kontemporer Evita Yuliatul Wahidah
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 17, No. 2, Februari 2018 Pendidikan Karakter untuk Pengembangan Kurikulum dan Pembangunan Berke
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol17.iss2.art6

Abstract

Artikel ini dimaksudkan untuk membedah secara lebih mendalam bagaimana proses identifikasi dan psikoterapi pada penderita gangguan pemusatan perhatian disertai kondisi hiperaktif, khususnya pada anak-anak atau ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Lebih lanjut, identifikasi serta psikoterapi terhadap ADHD ini mengambil fokus pada perspektif psikologi pendidikan islam kontemporer. ADHD merupakan gangguan atau kelainan pada aspek koginitif, psikomotorik, maupun afektif yang bersifat kompleks. Kemunculan gejala ADHD dimulai pada usia anak-anak dan bersifat menahun. Gejala utamanya berupa hambatan konsentrasi (inatensi), pengendalian diri (impulsifitas), dan hiperaktifitas. Efektifitas prosedur psikoterapi secara umum dapat dilakukan melalui pendekatan perilaku, pendekatan farmakologi, dan pendekatan multimodal atau gabungan. Dalam pembahasan artikel ini menghasilkan beberapa solusi pada penderita ADHD menurut pandangan psikologi pendidikan islam kontemporer, yaitu: 1) terapi desensititasi melalui proses membayangkan atau relaksasi; 2) terapi sholat secara khusu’ (meditasi); 3) terapi auto-sugesti melaui do’a dalam sholat dengan memberikan sugesti terhadap diri untuk berbuat baik (hypnosis theory); 4) terapi aspek kebersamaan melalui sholat berjamaah; 5) terapi murottal yang bersifat menenangkan penderita ADHD.
Praktek Kekerasan Simbolik (Relasi Guru dan Peserta Didik dalam Pendidikan Islam) Rina Oktafia Putri
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 17, No. 2, Februari 2018 Pendidikan Karakter untuk Pengembangan Kurikulum dan Pembangunan Berke
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol17.iss2.art7

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan tentang terjadinya praktek kekerasan simbolik dalam relasi guru dan peserta didik khususnya di dunia pendidikan Islam. Praktek kekerasan simbolik tidak terlepas dari dinamika pendidikan di Indonesia, karena tidak ada  dalam  proses pembelajaran yang berlangsung dengan baik tanpa adanya upaya pendisplinan. Selanjutnya kekerasan simbolik sama halnya dengan dominasi simbolik di mana penindasan dengan menggunakan simbol-simbol (sloganistik, sederhana, populer,). Penindasan ini tidak dirasakan sebagai penindasan antara guru dan peserta didik, tetapi sebagai sesuatu yang secara normal perlu dilakukan. Artinya, penindasan tersebut telah mendapatkan persetujuan dari pihak yang ditindas itu sendiri. Adapun bentuk relasi ini dipandang wajar sebagai hal yang seharusnya terjadi antara guru dan peserta didik dan  hal  ini  sangat  perlu diwaspadai karena kekerasan simbolik melekat di ranah pendidikan dan hal tersebut berlangsung di lingkungan sekolah.
Konsep Pendidikan Islam Berwawasan Kerukunan pada Masyarakat Multikultural Muhammad Aji Nugroho; Khoiriyatun Ni’mah
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 17, No. 2, Februari 2018 Pendidikan Karakter untuk Pengembangan Kurikulum dan Pembangunan Berke
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol17.iss2.art8

Abstract

Islam menganjurkan manusia untuk bekerja sama dan tolong menolong (ta’awun) dengan sesama manusia dalam hal kebaikan. Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan umat Islam dapat berhubungan dengan siapa saja tanpa batasan ras, bangsa, dan agama. Namun proses tersebut dalam realisasinya mengalami banyak kendala, seperti Fundalisme, Radikalisme, Terorisme. Sikap Islam sebagai agama rahmatan lil alamin sangatlah humanis dan relevan, tidak menggadaikan hal yang profan sebagai keyakinan yang dimiliki penganutnya, akan tetapi juga tidak meninggalkan nilai nilai universal sebagai pesan agama untuk senantiasa menjaga kedamaian antar sesama umat manusia, dengan menumbuhkan Toleransi, Membangun Solidaritas, Menegakkan Demokrasi, Menghindari Fanatisme dalam Beragama. Maka pendidikan Islam berwawasan kerukunan adalah pendidikan yang mampu menjadikan perbedaannya sebagai alat untuk semakin menjadi pribadi yang taat dan tidak keluar dari fitrahnya, yaitu dengan mengajarkan bagaimana cara hidup ditengah pluralitas bangsanya, agar mereka mampu hidup, baik dalam internal kelompoknya maupun eksternal kelompok lain, dapat hidup damai dengan lingkungannya, memaknai perbedaan yang secara bijaksana dan tepat. Hal ini terlihat dalam konsepnya yang: 1) berpijak pada konsep fitrah; 2) bersifat moderat; 3) mengusung misi kemanusiaan (humanisme); 4) Inklusif dalam beragama; 5) meyakini kemajemukan adalah sunnatullah & kebenaran bersifat privat dan universal; 6) mampu hidup berdampingan secara damai dan bekerjasama dengan pemeluk agama lain; 7) tumbuh sikap sportif dalam bersosialisasi dan hidup bersama kelompok lain; 8) mengelola perbedaan secara etis dan berkompetisi secara sehat; 9) jauh dari persepsi yang sempit yang diwujudkan dengan komunikasi yang sehat berdasarkan pengamatan dan pengertian terhadap perbedaan yang ada.
Nilai Pendidikan Islam dalam Kesenian Tembang Macapat Nisa Rafiatun
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 17, No. 2, Februari 2018 Pendidikan Karakter untuk Pengembangan Kurikulum dan Pembangunan Berke
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol17.iss2.art9

Abstract

Artikel ini menguraikan nilai pendidikan Islam dalam kesenian tembang Macapat yang diketahui merupakan media dakwah Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia khususnya di Pulau Jawa, sehingga dapat meningkatkan pengetahuan mengenai seni bahwa tidak hanya sebagai hiburan semata, namun juga memiliki pesan – pesan dan nilai – nilai keislaman di dalamnya yang jarang masyarakat ketahui. Tembang Macapat menggambarkan perjalanan kehidupan manusia dari lahir hingga meninggal dunia. Dengan demikian, artikel ini mencoba untuk menjawab pertanyaan apa sesungguhnya nilai filosofis dan nilai – nilai keislaman yang terkandung di dalam kesenian tembang macapat tersebut. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk memberikan wawasan dan pengetahuan bagi masyarakat mengenai nilai keislaman dalam tembang Macapat. Adapun temuan nilai pendidikan Islam dalam kesenian tembang Macapat adalah : Pertama, pesan akhlak yang meliputi pesan untuk meninggalkan hal – hal yang bersifat duniawi, istiqomah ketika sudah diberikan hidayah oleh Allah, memelihara kehidupan di bumi dengan baik, memilih pasangan hidup dengan mengutamakan akhlak, membawa kehidupan rumah tangga pada sakinah, mawadah, wa rahmah, mendengarkan nasihat baik dari orang tua maupun dari orang lain, memperbanyak do’a dan ikhtiar dalam menggapai cita – cita, mendidik anak dengan cara yang baik, serta mempunyai niat yang baik dan kuat dalam mencari ilmu. Kedua, pesan syari’ah yaitu istiqomah menjalankan perintah Allah, tidak durhaka kepada orang tua, dan merawat jenazah yang sudah menjadi kewajiban sebagai umat Muslim.
Hibah Harta pada Anak Angkat: Telaah Filosofis terhadap Bagian Maksimal Sepertiga Nor Mohammad Abdoeh
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 2, Februari 2019 Aktualisasi Mashlahah pada Ranah Domestik, Muamalah, Budaya, dan Dasar
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss2.art2

Abstract

Salah satu cara yang digunakan dalam hukum Islam untuk memperoleh harta adalah hibah. Proses penghibahan dalam  hukum Islam tidak bisa dilepaskan dari batasan harta yang dihibahkan. Fenomena di masyarakat terkadang terjadi dualisme hukum yang kontradiksi antara hukum dalam teori dan hukum dalam praktek. Fenomena di masyarakat banyak orang yang menghibahkan hartanya kepada anak angkatnya dengan semua harta yang dimilikinya di depan Notaris. Hal ini menjadi sebuah persoalan tentang posisi anak angkat yang diartikan sebagai orang lain dan diartikan bukan sebagai ahli waris dan dapat dianggap sebagai orang asing yang dapat menerima hibah semua harta. Tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui akan hakekat adanya pembatasan sepertiga dalam hibah. Penelitian ini menggunakan pendekatan filosofis yaitu dengan menjelaskan hakekat dan hikmah dari objek formalnya. Kesimpulan dari tulisan ini adalah bahwa adanya batasan tersebut, tidak lain untuk memprioritaskan ahli waris atau keluarga di atas orang lain (anak angkat) dalam penerimaan harta. Karena meninggalkan ahli warisnya dalam keadaan berkecukupan lebih baik daripada meninggalkan ahli warisnya dalam keadaan miskin.
Pemahaman Keagamaan Islam di Asia Tenggara Abad XIII-XX Fabian Fadhly
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss1.art4

Abstract

Melayu sebagai bangsa yang melahirkan peradaban di wilayah Asia Tenggara tidak menjadi satu-satunya bangsa yang memiliki peran berkembang Islam di wilayah ini, etnis lain seperti Creole, Arab, Turki, Persia, Pathan, Mogul Bengalis, dan Indo-Mongoloid memiliki peran tersebut. Akulturasi yang terjadi memunculkan berbagai macam pemahaman keagamaan yang berkembang di wilayah Islam Asia Tenggara, keberkembangan pemahaman agama memunculkan perbedaan dalam bidang teologi, fiqih dan tasawuf. Perbedaan yang muncul tidak lantas mengurangi esensi dari ketiga pemahaman keagamaaan tersebut. Tulisan ini mencoba mengurai perjalanan masuknya Islam sebagai sebuah tataran keagamaan yang mengedepan kesalehan sosial, dengan berlandaskan ajaran ketauhidan yang dicerminkan melalui al-Quran dan al-Hadits melalui rentang waktu yang didasari kepada masuknya mazhab fiqih, mazhab kalam, dan mazhab tasawwuf. Fiqih Syafi’i menjadi dominan dalam ruang lingkup peribadatan bagi sebagian besar populasi muslim di kawasan Asia Tenggara, teologi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah muncul sebagai doktrin yang tidak terpisahkan dengan ritualitas Ke-Tauhid-an bangsa melayu sebagai mayoritas penganut aliran kalam, walaupun tidak menafikan adanya aliran lain. Tarekat sebagai bagian terakhir yang menjadi identitas Islam di Asia Tenggara dalam ruang lingkup tasawuf di warnai oleh berbagai macam aliran. Tarekat yang mempengaruhi Islam Asia Tenggara diwakili oleh sembilan kelompk tarekat yaitu: Qadiriyyah, Naqsyabandiyyah, Rifa’iyyah, Syadzliyyah, Chistiyyah, Syattariyyah, Ahmadiyyah Idrisiyyah, Tijaniyyah dan ‘Alawiyyah.
Indonesia, Islam and Multicultural Citizenship Yusdani Yusdani
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss1.art1

Abstract

The following article discusses that in fact from the beginning Indonesia was designed as a common home for all citizen of the nation. These differences, for instances religions, races, ethnicities, gender, beliefs, social classes, and opinions constitute the realities in society, nation and state of Indonesia. Those are protected by the constitution and Pancasila as a collective consensus. However, to realize the multicultural Indonesia in the reform era faces obstacles and stumbling blocks in three levels, namely  the level of discourse, the level of legislation and the level of application in public life. This is the homework that needs to be completed with the nation’s citizenship. However, Indonesian people remain optimistic about the future because the Indonesian nation is a nation that has a strong social cohesiveness. To reach Indonesia a prosperous and multicultural nation, Indonesian Islamic thought is required to always be critical and innovative and responsive to new developments in the life of nation and state. There are still many stumbling blocks of exams that continue to confront at all times in the long journey towards a more just and prosperous nation and state life. With the concept of accommodative multicultural citizenship, Muslims and other people as civil society are expected to encourage the state to be fair in providing protection, security and public services to all components of the nation.
Etika Politik Ulama Bertolomes Bolong
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss1.art7

Abstract

Setiap kali perhelatan politik digelar para ulama dan tokoh agama ikut sibuk menjadi corong para politisi dan kandidat atau pasangan calon tertentu. Bahkan tidak sedikit para tokoh agama dan ulama ikut terjun langsung menjadi pasangan calon untuk bersaing dengan tokoh-tokoh atau kanddat lain dalam meraih kekuasaan.Fenomena pasangan calon dari kelompok ulama dan tokoh agama sudah menjadi trend dan menggurita pasca rontoknya rezim orde baru yang menandakan bukanya kembali keran demokrasi di Indonesia yang sekian lama mati suri. Sejak itu, lantaran ada peluang dan kesempatan untuk menjadi politisi atau birokrasi banyak tokoh agama dan para ulama yang terlibat dalam politik praktis. Ada tokoh agama dan ulama yang memilih menjaga jarak dengan dunia politik dan kekuasaan. Ulama golongan ini lebih memilih mengurusi umat, pemberdayaan warga dan menjauh dari hingar bingar dunia politik praktis. Namun ulama seperti ini bukan berarti mereka tidak berpolitik. Mereka berpolitik menggunakan mekanisme dan cara, strategi dan taktik dan tujuan yang berbeda dengan “ulama politik” yaitu ulama yang secara terang-terangan terjun dalam dunia politik praktis.
Merajut Ke-Indonesia-an yang Multikultural dalam Pandangan Gereja Fredrik Y. A. Doeka
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss1.art2

Abstract

Ada sejumlah nas Perjanjian Lama (PL) yang mengindikasikan sikap dan relasi terhadap yang lain (the others). Hubungan TUHAN (Yahweh) dengan allah-allah, yang dianut oleh bangsa- bangsa lain, Nabi Musa menyatakan dalam Ulangan 6:4, ‘Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!’ Sikap dan relasi terhadap TUHAN ini terjadi dalam jangka waktu dan proses yang cukup lama. Bahwa Allah Israel adalah Allah bagi bangsa-bangsa, bukan allah suku. Keluaran 20:3, ‘Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.’ Pada awal pengenalan terhadap Allah ini, bangsa Israel cukup sukar untuk mengakui Allah mereka sebagai Allah yang esa. Hal ini karena Israel mensejajarkan posisi TUHAN (Yahweh) dengan ilah-ilah yang disembah oleh bangsa-bangsa lain. Nehemia mencatat pergumulan iman Israel atas Yahweh dalam pasal 9:17-18,
Kekerasan Objektif dalam Narasi Global War on Terror (GWOT) Analisis GWOT dengan Teori Kekerasan Slavoj Zizek Kurniawan Dwi Saputra
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol18.iss1.art5

Abstract

Global War on Terror (GWOT) is a movement to combat terrorism internationally. It involves comprehensive strategy to defeat terrorism in every aspect, from military to economics, from politics to culture. However, the universal imposition of GWOT package includes certain degree of violence. The hidden violences behind GWOT are to be analysed in this research by the light of Slavoj Zizek’s framework regarding types of violence. Zizek classifies violences into two main branchs: subjective and objective. Objective violence consists of two related violences: symbolic, which is a universal imposition of linguistic terms, and systemic, which is smooth functioning of any system.GWOT therefore includes objective violences. First, its universal imposition of binary opposition term in counter-terrorism propaganda, “with us or against us,” represents the very logic of objective violence. Second, GWOT propaganda brings about the production of certain laws that violates the principle of human rights. This systematic abuse is a matter of concern because the factual evidences show us that it does not solve terrorism but rather inspires its reemergence in the future.

Filter by Year

2001 2026


Filter By Issues
All Issue Vol. 25, No. 1, February 2026 Vol. 24, No. 2, August 2025 Vol. 24, No. 1, February 2025 Vol. 23, No. 2, August 2024 Vol. 23, No. 1, February 2024 Vol. 22, No. 2, August 2023 Vol. 22, No. 1, February 2023 Vol. 21, No. 3, August 2022 Vol. 21, No. 2, February 2022 Vol. 21, No. 1, August 2021 Vol. 20, No. 2, Februari 2021 Vol. 20, No. 1, Agustus 2020 Pendidikan Islam Berkemajuan di Tengah Entitas Kultural Vol. 19, No. 2, Februari 2020 Dinamika Pemikiran Moderasi Islam Vol. 19, No. 1, Agustus 2019 Penegakan Hukum Ekonomi Syariah dalam Pergeseran Paradigma Akad Perbank Vol. 18, No. 2, Februari 2019 Aktualisasi Mashlahah pada Ranah Domestik, Muamalah, Budaya, dan Dasar Vol. 18, No. 1, Agustus 2018 Paham Keagamaan Multikultural Antara Kekerasan dan Resolusi Vol. 17, No. 2, Februari 2018 Pendidikan Karakter untuk Pengembangan Kurikulum dan Pembangunan Berke Vol. XVI, No. 2, Februari 2017 Mendialogkan Kembali Relasi Gerakan Keagamaan dan Negara Vol. XVII, No. 1, Agustus 2017 Sistem Moral dan Keadilan Ekonomi Islam Untuk Kesejahteraan Vol. XV, No. 2, Februari 2016 Dialektika Agama Dan Realitas Sosial Masyarakat Vol. XVI, No. 1, Agustus 2016 Pembelajaran Partisipatif Vol. XIV, No. 2, Februari 2015 Profesionalisme Guru Agama, Tuntutan Model Dan Media Pembelajaran Vol. XV, No. 1, Agustus 2015 Keuangan Islam dan Peran Kesejahteraan Vol. XIII, No. 2, Februari 2014 Pendidikan Karakter Multikultur Vol. XIV, No. 1, Agustus 2014 Agama, Etos Kerja dan Pemberdayaan Ekonomi Vol. XII, No. 2, Februari 2013 Islam dan Dinamika Politik Kenegaraan Vol. XIII, No. 1, Agustus 2013 Politik dan Agama dalam Bingkai Multikulturalisme Vol. XI, No. 2, Februari 2012 Agama dan Keadaban Publik Vol. XII, No. 1, Agustus 2012 Islam dan Hak Asasi Manusia Vol. X, No. 2, Februari 2011 Reformulasi Relasi Agama-Negara Vol. XI, No. 1, Agustus 2011 Pesantren dalam Dinamika Islam Indonesia Vol. IX, No. 2, Februari 2010 Menggugat Pendidikan Nirketeladanan Vol. X, No. 1, Agustus 2010 Islam dalam Bingkai Sastra Edisi Khusus Desember 2010 Studi Islam dalam Multiperspektif Vol. VIII, No. 2, Februari 2009 Islam dan Lokalitas Keindonesiaan Vol. IX, No. 1, Agustus 2009 Islam Dan New Media Vol. VII, No. 2, Februari 2008 Aliran Sempalan Agama di Indonesia Vol. VII, No. 2, February 2008: English Version Vol. VIII, No. 1, August 2008: English Version Vol. VIII, No. 1, Agustus 2008 Pertumbuhan Ekonomi Islam di Indonesia Vol. VI, No. 2, Februari 2007 Ekologi Perspekstif Agama Vol. VII, No. 1, Agustus 2007 Agama dan Good Corporate Governance Vol. VII, No. 1, August 2007: English Version Vol. V, No. 2, Februari 2006 Pemberantasan Korupsi dan Dekonstruksi Budaya Vol. VI, No. 1, Agustus 2006 Kejahatan Terorisme antara Isu dan Praktik Vol. IV, No.2, Januari 2005 Ekonomi Islam Vol. V, No.1 Agustus 2005 Pendidikan Berwajah Insani dan Menajamkan Nurani Vol. III, No. 2, Januari 2004 Spiritualitas Islam Vol. IV, No.1, Agustus 2004 Pluralisme Agama Vol. II, No. 2, Januari 2003 Agama Sumber Kekerasan? Vol. III, No. 1, Agustus 2003 Islam Lokal Vol. I, No. 2, Januari 2002 Vol. II, No.1, Agustus 2002 Vol. I, No. 1, Agustus 2001 More Issue