Articles
132 Documents
REINTERPRETASI HADIST NABI TENTANG WANITA SEBAGAISUMBER FITNAH PERSPEKTIF TEORI GENERATIF TRANSFORMATIFNOAM CHOMSKY
Mushab Wafi Adalah, Muhammad Khoirul Anwar
Al-Dhikra Vol. 5 No. 1 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pentingnya memahami hadis secara kompleks menunjukkan dinamisasi teks yang memiliki spirit pada kemaslahatan. Artikel ini bertujuan melakukan reinterpretasi terhadap salah satu hadis yang secara tekstual seringkali melegalisasi eksistensi perempuan sebagai sumber fitnah.Upaya ini penting dilakukan mengingat posisi hadist sebagai sumber kedua (the second resource) dalam pondasi hukum Islam. Keotentikan serta kevalidan suatu hadist sangat penting untuk diteliti namun memahaminya dengan pemahaman yang benar adalah suatu yangsangat penting untuk mengetahui maksud dari suatu redaksi hadist. Kajian ini menggunakan teori generatif-transformatif yang dipelopori oleh Noam Chomsky yang menekankan untuk melihat pada susunan bahasa yang dibagi menjadi dua: pertama, deep structure atau struktur dalam dan kedua surface structure atau struktur luar. Artikel ini berkesimpulan bahwa kedua hadis ini memiliki kesamaan dan kemiripan akan tetapi memilki redaksi yang berbeda, baik berupa Expansion maupun Permutation. Kemudian As-Subki dalam memaknai hadis wanita adalah fitnah lebih menggunakan pendekatan deep structure. Sedangkan Ibnu Hajar dan Al-Qosthollani lebih menggunakan pendekatan surface structure, dan Al-Qordhowi lebih menggunakan deep structure dan surface structure.
TRADISI LECCE’ BOLA BARU PADA MASYARAKAT BUGIS, BOEPINANG(STUDI LIVING QUR’AN)
Nur Azzira Alya Rasifah.I, Annisa Rahayu
Al-Dhikra Vol. 5 No. 1 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk melihat studi living Qur’an dalam hal resepsi terhadap ayat-ayat Al-Qur’an pada tradisi Lecce’ Bola Baru di masyarakat Bugis daerah Boepinang. Tradisi Lecce’ Bola Baru awalnya sudah diperkenalkan dari tradisi nenek moyang masyarakat Bugis, kemudian Islam datang menghapuskan kegiatan-kegiatan yang bertentangan dengan ajaran Islam dalam tradisi tersebut tanpa menghapuskan tradisinya tetapi meluruskan ritualnya sesuai ajaran Islam. Metodologi penelitian yang dipakai dalam kajian ini adalah metode kualitatif dengan melakukan wawancara, observasi dan penelitian terhadap data-data primer serta sekunder mengenai pelaksanaan pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an dalam tradisi Lecce’ Bola Baru di masyarakat Bugis daerah Boepinang. Setelah itu data ini disajikan dalam bentuk deskriptif analitis. Sedangkan sebagai pisau analisis penulis menggunakan metode pendekatan sosiologi Karl Mannheim yang membagi menjadi tiga macam makna pada suatu kasus yakni makna objektif, makna ekpresif dan makna dokumenter. Penelitian ini menemukan bahwa 1) Makna objektif yakni Tradisi Lecce’ Bola Baru di masyarakat Bugis merupakan ritual agama. 2) Makna ekspresif, yaitu tradisi Lecce’ Bola Baru sebagai bentuk kesyukuran dan pengharapan keberkahan serta balasan kebaikan yang dimana makna dari ritual-ritualnya merupakan praktik resepsi dari ayat Al-Qur’an 3) Makna dokumenter adalah tradisi Lecce’ Bola Baru sebagai tradisi turun temurun yang harus dilakukan oleh seluruh masyarakat Bugis di daerah Boepinang.
TRADISI MEMBAWA MUSHAF SAAT SHALAT TAHAJUD DAN DHUHABERJAMAAH: STUDI LIVING HADIS DI PPTQ DARUSSALAM JOMBANG
Madinatul Munawwaroh, Raudhatul Jannah, Rina Putriana
Al-Dhikra Vol. 5 No. 1 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini menganalisis fenomena tradisi membawa mushaf saat shalat sunnah tahajud dan dhuha secara berjamaah di pondok pesantren Tahfidzul Qur’an Darussalam Jombang. Praktik demikian memiliki keunikan yang barangkali tidak terjadi di pesantren-pesantren lain. Sebab tradisi demikian memiliki tujuan tertentu yaitu para santri yang menjadi makmum diwajibkan membawa mushaf Al-Qur’an untuk menyimak hafalan Al-Qur’an yang dibaca imam dengan menggunakan maqra’ setengah juz. Menyimak hafalan imam dengan menggunakan mushaf bisa membantu meningkatkan kekhusyu’an dalam beribadah. Adapun bagi santri yang belum menghafalkan maupun yang belum mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an, hal ini dapat membantu memudahkan proses yang sedang dijalani. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Adapun pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode deskripsi, observasi, dan wawancara. Sedangkan untuk analisis data menggunakan teori fenomenologi Alfred Schutz yang memahami sebuah fenomena memiliki dua motiv, yakni because motive dan in order to motive (tujuan). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tradisi membawa mushaf saat shalat berjamaah di PPTQ Darussalam adalah sebagai bentuk upaya kiai mendawamkan tradisi yang pernah diajarkan di pondoknya. Sedangkan tujuannya agar mentradisikan murajaah melalui shalat berjamaah.
Pemikiran Hadits KH Hasyim Asy'ari Terhadap Penyimpangan Akidah diTanah Jawa (Tela'ah Atas Kitab Risa>lah Ahlusunnah wal Jama>'ah)
Sukma Maulana
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Islam adalah agama yang lurus, karena dia berlandaskan wahyu baik wahyu dari Allah, maupun wahyu yang disebut sebagai hadits nabi. Namun tidak sedikit orang yang salah dalam memahami makna ajaran Islam, karena berangkat dari ketidaktahuan dan taqlid buta. Di Indonesia sendiri sejak zaman kolonial Belanda sudah banyak aliran-aliran Islam yang di anggap sesat menyesatkan. Penelitian ini dilatabelakangi oleh maraknya aliran-aliran menyimpang di Indonesia, khususnya di zaman pra kemerdekaan. Selain itu, isu tentang aliran di Indonesia akan selalu meanarik perhatian untuk diteliti. Oleh karenanya peneliti tertarik mengkaji tema ini lebih dalam lagi. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan berupa model kajian tematik yang berfokus pada hadits dalam kitab Risa>lah Ahlusunnah wal Jama>’ah karya KH. Hasyim Asy’ari dengan pembahasan khusus penyimpangan akidah di tanah Jawa. Kesimpulan artikel menunjukan bahwa akidah-akidah menyimpang di masa kolonial sangat marak sekali. Adapun beberapa penyimpangan-penyimpangan aliran di tanah Jawa pada saat itu adalah munculnya sekte Wahabi, Syi’ah, Ibahiyun, Reinkarnasi dan paham H{ulu>l/Ittih}a>d. Kemudian dalam tinjauan maqa>s}i>d al-syari>’ah bahwa akidah Ahlussunnah wal Jama’ah adalah akidah yang lurus dan telah diletakan beberapa kaidah yang baik dan benar dalam beragama. Oleh karena itu aliran-aliran menyimpang tersebut bukanlah ajaran Islam yang lurus, akan tetapi hanya membuat nilai Islam kotor.
Manusia dan Isu Ekologi: Tinjauan Tafsir Al-Ibriz
Abdul Ghofur
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Isu ekologi menjadi penting untuk dibahas, melihat kondisi saat ini yang sangat memprihatinkan. Penelitian ini bertujuan untuk membahas bagaimana relasi antara manusia dengan lingkungannya, polusi udara dan suhu udara ekstrim sebagai sebuah isu ekologi dilihat dari sudut pandang tafsir. Untuk menjawab hal tersebut, penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research). Data-data diambil dari berbagai sumber teks kemudian dianalisis dengan teknik analisis isi. Adapun hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat relasi antara manusia dengan ekologi dalam beberapa hal yakni pertama, manusia sebagai pengelola lingkungan dan sumber daya alam. Kedua, manusia sebagai subjek yang diberi amanah untuk merawat dan menjaga kelestarian lingkungan. Ketiga, Bumi merupakan tempat tinggal dan tempat untuk beribadah bagi manusia kepada Tuhannya. Keempat, Bumi dan seisinya merupakan objek agar manusia mau berpikir tentang tanda-tanda kebesaran-Nya. Kemudian, polusi udara dan suhu udara ekstrim merupakan salah satu bentuk lingkungan yang tidak sehat bagi manusia. Beberapa ayat Al-Qur’an menyindir manusia terkait ketidakmauannya untuk berpikir dan merenungkan terkait ciptaan-ciptaan-Nya sehingga mereka tidak mau memperhatikan kondisi ekologi, menjaga, dan merawatnya. Padahal, alam raya diciptakan sebagai lingkungan yang nyaman bagi manusia.
TINJAUAN KETIDAKSETIAAN Al-QURANUL KARIMTARJAMAHAN TAFSIRIYAH MMI TERHADAP TAFSIR AL-QURAN AL-ADIM KARYA IBNU KATSIR DAN IMPLIKASINYA DALAM MEMAKNAI AYAT QITAL
Siti Azizatul Ulya, Firdausi Maulidiyah, Rifa Damayyanti Ningsih
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Terjemahan Al-Quran adalah bagian integral dalam menyebarkan ajaran agama Islam. Salah satu terjemahan yang signifikan melakukan proyek ini adalah hasil karya Muhammad Thalib yang diterbitkan oleh Majelis Mujahidin Indonesia. Studi ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketidaksetiaan terjemahan Al-Quran dalam Tarjamah Tafsiriyah oleh Majelis Mujahidin Indonesia terhadap penafsiran Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anal-Adhim. Artikel ini menggunakan metode analisis teks untuk mengevaluasi ketidaksetiaan Tarjamah Tafsiriyah terhadap Tafsir Al-Qur’anal-Adhim karya Ibnu Katsir dengan mengambil studi kasus pada ayat qitâl. Adapun relasi antara keduanya itu karena eksistensi tafsir Ibnu Katsir populer dikalangan Islamis Indonesia. Hasil riset ini berkesimpulan bahwa Muhammad Thalib pada ayat-ayat qita>l ini tidak sepenuhnya setia dengan penafsiran Ibnu Katsir. Pada kasus Q.S. Al-Baqarah: 216, Muhammad Thalib menerjemahkannya sebagai “perintah agama”, sedangkan Ibnu Katsir menafsirkannya sebagai perang. Selain itu, dalam Q.S. Al-Baqarah: 217, terdapat kalimat seruan, Muhammad Thalib menerjemahkan dengan menyebut langsung Muhammad sebagai yang diseru, sedangkan Ibnu Katsir tidak menafsirkan seruan itu. Adapun dalam Q.S. Ali Imran: 167, Muhammad Thalib menerjemahkan perkataan orang-orang munafik sebagai ungkapan tidak ingin mengikuti perang, sedangkan Ibnu Katsir menafsirkan bahwasanya orang-orang munafik itu tidak mengikuti perang sebab tidak mengetahui adanya perang, padahal mereka mengetahui. Adapun relasi keilmuan yang terjalin antara keduanya, karena MMI merupakan kelompok islamis yang mengidolakan tafsir karya Ibnu Katsir.
INTERTEKSTUALITAS SYAHRUR:STUDI KASUS PADA KONSEP AURAT
Mia Fitriah El karimah
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Selain pendekatan Bahasa, Syahrur melakukan teknik yang berbeda ketika menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang ia sebut dengan teknik tartil, yang dapat diidentikkan dengan intertekstualitas. Intertekstualitas diadobsi dari istilah intertekstualitas yang berarti hubungan antara sebuah teks tertentu dengan teks yang lain. Intertekstualitas adalah mengumpulkan dan mengurutkan ayat-ayat yang setema kemudian merunutkan beberapa ayat di belakang ayat yang lain untuk menemukan sebuah konsep pemahaman komprehensif. Sekilas, metode ini mirip dengan metode tematik (maud}u>’i). Melalui pendekatan analisis ini, terlihat bahwa ada dua ayat dalam Al-Qur’an yang oleh Syahrur diotak-atik yaitu QS an-Nuur: 31 dan QS al-Ahzab: 59., bagaimana model pengaplikasian intertekstualitas -nya terhadap Q.S. an-Nur ayat 31, Syahrur menyimpulkan bahwa aurat tidak ada hubungannya dengan halal dan haram dan aurat dapat berubah sesuai dengan kondisi lingkungan masyarakat tersebut. Menurut Shahrur, aurat berasal dari konsep malu (alh}aya’). Rasa malu ini relatif, dinamis (flexible) dan bersifat adaptif. Sedangkan Q.S. al-Ahzab: 59 Syahrur memandang ayat ini bukan ayat yang mengandung hudūd; melainkan ayat yang mengandung ajaran yang bersifat informatif. Artinya karena terkait dengan tujuan keamanan, Oleh karena itu seorang perempuan hendaknya mengenakan pakaian sesuai dengan kebiasaan yang berlaku di masyarakatnya. Sehingga ia tidak menjadi sasaran celaan dan gangguan dari orang-orang. Jika ia tidak melakukan hal itu, maka ia akan mendapatkan gangguan social.
INTERNALISASI NILAI-NILAI AL-QUR’AN DALAM TRADISI BARZANJI AKBAR DI MAS AL-ADABY KOTA PONTIANAK, KALIMANTAN BARAT
Alief Fadhlurrahman, Alfino Elsan, Ahmad Zaini, Khusna A. Tohiroh, Tasya S. Kamila, Radilah Maulani,
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Tradisi Barzaji telah umum dilakukan di Indonesia, demikian juga di Kota Pontianak Kalimantan Barat, khsusnya di MAS Al-Adabiy pembacaan Barzanji dilakukan pada setiap malam jumat. Dalam pelaksanaannya terdapat nilai-nilai Al-Qur’an yang diinternalisasikan. Jenis kajian ini adalah studi lapangan, dengan metode deskriptif-analisis. Lokus penelitian adalah MAS Al-Adabiy Kota Pontianak. Kesimpulan dari artikel ini adalah: Pertama, pembacaan Barzanji Akbar di MAS Al-Adabiy Kota Pontianak rutin dilakukan pada malam Jumat dengan prosesi pelaksanaan: 1) Narasi Pembuka, 2) pembacaan isi Barzanji; dan 3) Penutup. Kedua, nilai-nilai Al-Qur’an yang terakomodur dalam tradisi Barzanji Akbar di MAS Al-Adabiy Kota Pontianak meliputi: 1) Mengajarkan Ketaatan kepada Allah; 2) Mengajarkan Saling Menyayangi; 3) Mengajarkan Pentingnya Pengetahuan dan Pendidikan; 4) Mengajarkan Arti Persatuan dan Persaudaraan; dan 5) Mengajarkan Pentingnya Berbagi dan Berbuat Kebaikan.
PENGARUH TAFSIR AL MANNAR DALAM TAFSIR NURUL BAJANKARYA KH. ROMLI: ANALISIS SURAH AL-BAQARAH 261-262
RM. Daffa Fadhila Ihsany, Hadi Adriansyah, Rifqi Waisul Qorni
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Nurul Bajan merupakan salah satu kitab tafsir yang lahir dari tanah Sunda karya KH, Muhammad Romli. Dalam penulisan tafsirnya masih menggunakan ejaan lama, sehingga memerlukan penyesuaian dalam membaca tafsirmya. Sudah banyak penelitian yang menganalisis isi dari penafsiran KH. Muhammad Romli dengan berbagai tema yang dikaji. Jurnal ini bertunjuan untuk meneliti keterpengaruhan Tafsi>r Al-Manna>r dalam Tafsir Nurul Bajan. Adapun langkah penilitian ialah dengan melacak teks Tafsir Nurul Bajan, kemudian melakukan studi komperatif dengan Tafsir Al-Manna>r yang diduga menjadi rujukan dalam penulisan Tafsir Nurul Bajan. Artikel ini berkesimpulan bahwa Tafsir Nurul Bajan memiliki persamaan penafsiran dengan Tafsi>r Al Manna>r. Dalam kasus surat Al-Baqaroh ayat 261-262, KH. Romli memaknai kata fi> sabi>lilla>h sebagai kemaslahatan umat. Pernyataan yang sama juga disampaikan Al-Manna>r. Adapun relasi keilmuan antara keduanya karena popolaritas Al-Manna>r di tubuh ormas Persis, dan KH. Romlik merupakan Pengurus Persis.
EPISTEMOLOGI METODE PENAFSIRAN AL-QUR’AN: DARI ERA NABI HINGGA ERA MAQA
M. Nurul Huda, Andi Rahman
Al-Dhikra Vol. 5 No. 2 (2023): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Perkembangan metode penafsiran Al-Qur’an sangat penting dilihat sebagai khazanah yang menempatkan Al-Qur’an sesuai pada konteks zamannya. Sebab metode terus dinamis semenjak Nabi Muhammad wafat pada abad ke 7 M, dan terus terjadi sampai sekarang. Pada era Nabi, ia menjadi sumber tafsir Al-Qur’an tunggal, kemudian di era sahabat, baru terjadi perbedaan penafsiran akibat perbedaan metode yang digunakan untuk memahami suatu ayat yang sama. Peristiwa seperti ini masih terus terjadi sampai saat ini, dengan demikian menarik untuk dijadikan sebagai kajian akademik dengan mempertanyakan bagaimana metode penafsiran tersebut mengalami dinamisasi sesuai pada konteksnya? Riset ini hendak menganalisis dinamisasi tersebut dengan melibat perspektif kajian epistemologi. Melalui kajian kepustakaan (library research), riset ini berkesimpulan bahwa terdapat pergeseran secara mendasar dalam perkembangan metode penafsiran tersebut. Pertama, pergeseran dalam menggunakan sumber. Kedua, pergeseran juga terjadi terhadap penggunaan sumber metode itu sendiri. Ketiga, pergesertan pada keabsahan metode tersebut yang masing-masing hakikatnya lahir untuk keperluan temporal.