Articles
132 Documents
DILEMA HUKUM DALAM KISAH PEMBUNUHAN GULĀM OLEH KHIDIRDALAM SURAH AL-KAHFI
Kairul Anam
Al-Dhikra Vol. 3 No. 2 (2021): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bahwa kisah Khidir dan Musa dalam Al-Qur’an memiliki substansi sebagai pedoman agama. Pembunuhan gulām oleh Khidir tidak digunakan oleh para mufasir ayat-ayat ah}ka>m sebagai dasar penerapan qis}a>s}. Kisah tersebut dimaknai sebagai gambaran Khidir sebagai subjek yang tidak melakukan kesalahan, sehingga ia disebut ma’ṣūm. Lalu bagaimana para komentator memaknai kisah pembunuhan gulām? Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan komparatif untuk membandingkan tafsir antara tafsir aḥkām dan tafsir adāb al-ijtimā’ī. Isi interpretasi akan dianalisis menggunakan pendekatan analisis isi. Kajian ini berkaitan dengan penelitian Khalafullah bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an pada hakikatnya disusun dan diceritakan berdasarkan substansinya untuk memberikan pedoman norma-norma agama, moral, dan sosial. Di sisi lain, penelitian ini juga memiliki perbedaan dengan Sri Haryanto yangmenganggap bahwa Khidir memiliki ilmu laduni, sehingga segala perbuatannya dibenarkan oleh Musa. Sementara Fauziah dan Rizal hanya melihat kisah Khidir dan Musa sebagai kisah yang membawa nilai. pendidikan. Artikel ini berkesimpulan bahwa ayat-ayat Al-Qur’an yangmengandung unsur kejahatan pembunuhan serta kisah Khidir dan Musa tidak dilihat sebagai dalil pembunuhan yang berimplikasi pada qis}a>s} oleh mufasir ayat-ayat ah}ka>m.
WAWASAN AL-QUR’AN TENTANG UKHUWWAHDALAM PANDANGAN TAFSIR AL-MISHBAH(SOLUSI ATAS KONFLIK INTERNAL AGAMA)
Mutawakkil Alallah
Al-Dhikra Vol. 3 No. 2 (2021): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini meneliti makna ukhuwwah dalam Al-Qur’an yang terdapat banyak sekali macam-macamnya. Riset ini berangkat dari pemaknaan kata ukhuwwah menjadi sangat penting untuk menjaga terjalinnya hubungan baik antara sesama manusia, sekalipun berbeda agama. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penafsiran dan term-term Ukhuwwah menurut M. Quraish Shihab. Sebab, Ukhuwwah merupakan pemersatu bangsa dalam menghadapi permasalahan yang sedang menimpa manusia dewasa ini yang sangat rawan saling mengkafirkan dan saling menyesatkan. Bahkan tidak jarang pula rumah ibadah yang menjadi sasarannya. Riset ini mendukung temuan Mustofa terkait pentingnya pemaknaan kembali kata ukhuwwah di tengah masyarakat majemuk Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis kebahasaan yang dikembangkan oleh Syahrur dengan teknik sinkronik dan diakronik yang muaranya pada penolakan sinomitas dalam Al-Qur’an. Artikel ini berkesimpulan bahwa M. Quraish Shihab menggunakan term-term yang berhubungan dengan Ukhuwwah sebagai berikut, diantaranya: Ukhuwwah ‘ubudiyyah, yaitu saudara kesemakhlukan dan kesetundukan kepada Allah (Q.S. Al-An’am/ 6: 38) Ukhuwwah insaniyyah, dalam arti seluruh umat manusia bersaudara (Q.S. Al-Hujurat/ 49: 13), Ukhuwwah wat}aniyyah, yaitu persaudaraan dalam keturunan dan kebangsaan (Q.S. Al-A’raf/ 7: 65, Ukhuwwah fi> al-din al-Isla>m, persaudaraan sesama muslim (Q.S. Al-Hujurat/ 49: 10).
POLEMIK DI KALANGAN ULAMA TERKAIT HADIS MURSAL
Moh. Yusni Amru Ghozali
Al-Dhikra Vol. 3 No. 2 (2021): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini bertujuan untuk memetakan definisi hadis mursal dari pendapat ulama yang lahir di era mutaqaddimi>n hingga era mutaakhkhiri>n yang mengalami diskursus menarik. Riset ini berangkatdari banyaknya bias penggunaan istilah mursal pada hadis. Padahal dalam ilmu hadis, penggunaan istilah secara tepat merupakan syarat yang harus dipenuhi bagi siapapun yang konsen di bidang hadis. Artikel ini mendukung pendapat Ibnu Hajar al-‘Asqalani yang menekankan pentingnya menggunakan definisi yang ja>mi’, ma>ni’ terhadap kata mursal dalam sanad hadis. Jika tidak, maka harus diberikan pengecualian. Riset ini menggunakan metode analisis teks yang ditulis para pakar hadis dari era klasik hingga modern. Artikel ini berkesimpulan bahwa ada beberapa definisi dari mursal dalam hadis. Beberapa ulama memberikan masing-masing kecenderungannya dalam memberikan definisi. Misalnya imam Ahmad menyamakan mursal dengan tadlis. Ada juga yangmenyamakan dengan munqat}i’. Namun oleh ulama modern (mutaakhkhiri>n) deferensiasi tersebut berhasil dipetakan secara baik dan merekalah yang dianggap paling berjasa memetakan istilah-istilah dalam Ilmu Hadis secara mapan.
TRADISI MENJAGA KUBURAN SEORANG YANG BARU MENINGGAL DIMASYARAKAT DESA WRINGIN KECAMATAN WRINGIN KABUPATEN BONDOWOSO(STUDI LIVING HADITS)
Mahfidzatun Nabilah
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini merupakan riset living hadis yang termasuk bidang baru dalam kajian hadis, yaitu membahas fenomena sosial yang diimplementasikan dari pemahaman suatu hadis. Salah satu fenomena living hadis yang dapat ditemukan di daerah Bondowoso adalah tradisi menjaga kuburanbaru. Umumnya tradisi yang disebut ajegeh kobhur dalam Bahasa Madura ini dilakukan oleh masyarakat Desa Wringin di Bondowoso. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Penulis pada penelitian ini menganalisa tradisi dengan teori tindakan sosial Max Weber dengan hasil bahwa tradisi ini tergolong tipe tindakan rasional instrumental dengan beberapa tujuan. Tujuan dilakukannya penjagaan kuburan baru diantaranya adalah sebagai representasi hadis, mengantisipasi adanya pencurian sesuatu dari si mayit, adanya beberapa peristiwa mistis, serta sebagai sarana untuk menambah aliran pahala bagi orang yang meninggal. Adapun kegiatan yang dilakukan saat menjaga kubur cukup beragam mulai dari membaca alquran, sekedar mengobrol santai, hingga bermain kartu.
REINTERPRETASI TERHADAP TAFSIRAN SIKAP KERAS KEPADA ORANG KAFIR(TINJAUAN SEMANTIK DAN HISTORIS TERHADAP SURAH AL-FATH AYAT 29)
Imam Ahmadi dan Masrul Anam
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini bertujuan untuk mengkaji surah Al-Fath ayat 29 dengan menggunakan analisis semantik dan konteks historis pada kata kunci asyidda’ dan kuffar. Riset ini berangkat dari fenomena masifnya bias penafsiran sehingga berikap keras kepada orang yang dinilai kafir merupakan perintah Al-Qur’an. Artikel ini mendukung temuan Nadirsyah Hosen bahwa salah satu sebab adanya perkembangan faham ini dipicu oleh kurangnya pengetahuan dalam memahami beberapa ayat Al-Qur’an yang berpotensi pada penafsiran kategori sulit sehingga memunculkan bias tafsir. Fenomena tersebut dilatarbelakangi oleh generalisasi pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya ayat-ayat yang berhubungan dengan perang dan jihad. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif berbasis data pustaka dengan menjadikan kitab-kitab tafsir klasik sebagai referensi utama. Artikel ini berkesimpulan bahwa dalam surah Al-Fath ayat 29 kata asyidda’ memiliki makna keteguhan untuk melawan musuh yang menebar kezaliman. Makna ini sesuai dengan konteks historis turunnya ayat tersebut pada saat umat Islam mengalami kezaliman, dan disuruh untuk merespon dengan tegas sebagai bentuk perlindungan diri mereka. Sehingga makna kata kuffa>r adalah orang orang kafir saat itu yang memerangi kelompok Islam.
CORAK PENAFSIRAN TASAWUF QS. AL-FATIHAH DALAM MANUSKRIP TAFSIRKARYA M. BASUNI IMRAN SAMBAS, KALIMANTAN BARAT
Wendi Parwanto
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
M. Basiuni Imran (Sambas), Kalimantan Barat adalah mufassir yang hidup di abad 20 M, dan dia pernah belajar ilmu keislaman ke Timur Tengah. Secara interes keilmuan, M.Basiuni Imran kurang bertendensi dengan ilmu tasawuf. Tetapi kenyataannya, dalam penafsiran surat al-fatihah, M.Basiuni Imran memvisualisasikan tafsir esoteris. Berdasarkan kontestasi tersebut maka peneliti tertarik mengkaji tema ini lebih jauh. Penelitian ini adalah penelitian kepustakaan dengan menggunakan teori relasi kuasa dan jejaring aktor. Kesimpulan artikel ini adalah : Pertama, Sajian Tafsir Esoteris Qs. Al-Fatihah oleh Basiuni Imran menafsirkan secara literal-tekstualis, lalu kemudian menafsirkan secara esoteris-teosofis. Kedua, Makna Interpretasi Qs. Al-Fatihah ; Basiuni Imran memahami dan manafsirkan bahwa secara general-tekstual Qs. al-Fatihah mengandungmakna esoteris. Ketiga, Faktor Munculnya Visualisasi Tafsir Esoteris dalam Qs. Al-Fatihah : 1) Relasi intelektual antar guru dan murid yang menjadi basis regulasi dan normalisasi pemikiran penafsir ; 2) Historisitas dan antropik-sosial yang berkembang pra dan masa ketika tafsir ditulis ; dan 3) Relasi dan tendensi literatur tasawuf atau tarekat yang berkembang dalam realitas masyarakat, sehingga menghegemoni dan membentuk pemikiran tafsir esoteris.
Penafsiran Ulang QS. An-Nisa [4]: 34 dalam Perspektif Tafsir Maqasid}i
Siti Robikah
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini bertujuan untuk menelaah lebih mendalam pesan yang disampaikan dalam Al-Qur’an surah al-Nisa 34 soal kepemimpinan perempuan. Ayat ini secara tekstual dipahami oleh mayoritas ulama tafsir bahwa laki-laki adalah pemimpin perempuan baik domestik maupun publik. Dengan menggunakan metode pembacaan tafsi>r maqa>s}id}i yang diinisiasi oleh Abdul Mustaqim, penelitian ini akan mencoba menafsirkan ulang QS. An-Nisa ayat 34. Ada tiga analisis yang harus dipahami dalam metode tafsi>r maqa>s}id}i Abdul Mustaqim, yaitu dengan analisis kebahasaan, analisis ‘ulu>m Al-Qura>n atau hermeneutis dan analisis maslahah. Ketiga analisis ini akan memberikan kebaharuandalam penafsiran Al-Qur’an. QS. An-Nisa ayat 34 menggunakan term al-rijāl dan al-nisa>’ yang menunjukkan pemaknaan laki-laki dan perempuan bukan makna jenis kelamin namun makna secara gender. Karena term laki-laki dan perempuan secara jenis kelamin ditunjukkan dengan kata al-ẓakar dan al-uns\a. Maka dari itu, reinterpretasi yang ditawarkan oleh Tafsi>r Maqa>s}id}i QS. An-Nisa ayat 34 yaitu harus ada ketersalingan antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga bukan superioritaslaki-laki atas perempuan. Hal ini dikarenakan kemaslahatan keluarga adalah kunci utama bagi kemaslahatan umat seluruhnya. Ketersalingan adalah jawaban atas ketidakadilan dalam sebuah keluarga. Goals yang ingin dicapai oleh Tafsi>r Maqa>s}id}i Abdul Mustaqim ini mencari jalan tengah atau istilah yang digunakan untuk jalan moderasi antara yang fundamental ekstrimis dan liberal.
KONSEP MURTAD DALAM AL-QUR’AN PERSPEKTIF AL-GHAZALI (PENERAPAN KONSEP AL-ISTIS}LAH} AL-GHAZALI)
Farit Afrizal
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembahasan mengenai isu murtad menjadi perbedabatan panas di kalangan para ahli hukum Islam sejak berabad-abad yang lalu. Perbedaan tersebut muncul dari pendekatan yang mereka gunakan dan juga cara pembacaan mereka terhadap teks. Salah satu tokoh yang ikut memberikan andil besar dalam perdebatan ini adalah al-Ghazali. al-Ghazali merupakan salah satu tokoh yang memperluas cakupan riddah tidak saja kepada orang-orang yang keluar dari Islam namun juga orang-orang yang pemahamannya dianggap menyimpang seperti Filsuf dan penganut Isma’iliah. Pandangan al-Ghazali ini juga tidak bisa dipisahkan dari kondisi sosio-politik saat ia hidup yang diwarnai dengan berbagai konflik khususnya antara Abbasiah dan Syiah Isma’liah. Istis}lah} yang digunakan al-Ghazali sebagai dasar untuk menolak kerusakan yang muncul dari berbagai penyimpangan khusunya pelaku riddah memang terlihat sangat esktrim dan banyak ditentang namun di sisi lain hal itu bertujuan untuk menjaga eksistensi agama Islam itu sendiri.
Tafsir Maqasidi Al-Mawardi: Studi Atas Ayat-Ayat Politik Dalam Tafsir Al-Nukat Wa Al-‘Uyu>n
Achmad Zubairin
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini bertujuan melakukan elaborasi terkait munculnya varian tafsir Al-Qur’an berbasis ideologi yang berbicara soal sistem politik negara muncul pasca wafatnya Nabi Muhammad. Hal itu disebabkan sebagian umat Islam berijtihad merumuskan dan memformulasikan fikih siyasah (teori politik islam). Bahkan sudah sampai tahap empirik, sebagaimana yang dilakukan para Khulafa ar- Rasyidun, namun bentuk politik Islam “yang ideal” sampai saat ini masih terus diperdebatkan. Perdebatan yang paling mendasar, sebenarnya seputar penerapan dan formalisasi nilai-nilai syariah Islam dalam lingkup Negara. Untuk menggali lebih dalam lagi seputar hubungan Islam dan Negara, penulis mencoba menganalisa penafsiran maqa>s}id}i-nya al-Mawardi seputar ayat-ayat yang membahas tentang politik. Diskursus Tafsi>r Maqa>s}id}i sebenarnya baru muncul belakangan, namun prinsip-prinsipnya yang mengacu kepada maqa>s}id{ al-syari>’ah, sudah sejak dahulu didiskusikan. Prinsip dasar maqa>s}id{ al-syari>’ah lebih kepada upaya menghumanisasikan hukum Islam yang bersumber dari ayat Al-Qur’an dan Hadis. Dalam rangka upaya menggali makna ayat agar teks Al-Qur’an dipahami tidak secara tekstual akan tetapi mampu menangkap makna ayat yang lebih kontekstual, maka menafsirkan Al-Qur’an dari sisi Maqa>s}id}i-nya, akan mengungkap inti (jawhar) dari Al-Qur’an. Penulis juga mencoba mengungkap sisi subjektifitas seorang al-Mawardi sebagai penafsir dalam Tafsi>r al-Nukat Wa al-‘Uyu>n karangannya, termasuk kondisi sosio-historis dimana al-Mawardi hidup yaitu pada masa dinasti Abbasiyah, walaupun disanyalir sebagian kalangan, dirinya pun dalam menulis karya tafsir-nya dan karya lainnya al-Ah}ka>m al-Sult}a>niyah sebagai “pesanan politik” dari khalifah yang berkuasa saat itu. Artikel ini berkesimpulan bahwa sistem negara yang sesuai dengan teori maqa>s}id}i al-Mawardi ialah yang berasaskan pada nilai-nilai Islam sebagaimana ditegaskan juga oleh tokoh-tokoh lain seperti Abou El Fadl.
DIALEKTIKA PEMAHAMAN HADIS TENTANG ISBAL: DARI KONFIGURASITEKSTUALIS KE TRANSFORMASI KONTEKSTUALIS
Fajar Roni , Udi Yuliarto, Hepni Putra
Al-Dhikra Vol. 4 No. 1 (2022): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Polemik pemahaman hadis tentang isba>l memiliki implikasi langsung dalam pola praktik keseharian umat Islam, sehingga implikasi dari polemik pemahaman tersebut terkadang menyebabkan mereka saling salah-menyalahkan. Tujuan dari penelitian ini adalah menekankan pada beberapa aspek yang terlibat dalam memahami serta menggali makna hadis isba>l, seperti faktor pemahaman tekstual dan kontekstual, asba>b al-wuru>d mikro dan makro, serta aspek extra-relationshif text. Untuk menerapkan metode tersebut dalam artikel ini melakukan studi kolaborasi serta studi analisis terhadap sebuah hadis yang benar-benar melarang isba>l dan hadis yang lain yang mengizinkan isba>l dengan syarat. Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dialektika pemahaman tentang isba>l terletak pada prinsip moral dasar untuk menghindari sifat sombong. Sehingga, apakah melarang atau mengizinkan/mentolerir isba>l, keduanya akan tetap bertentangan dengan tujuan perintah hadis tersebut selama dalam isba>l dimotivasi oleh kesombongan.