cover
Contact Name
Muhammad Khoirul Anwar
Contact Email
khoirulanwar@ptiq.ac.id
Phone
+6289637778370
Journal Mail Official
Khoirulanwar@ptiq.ac.id
Editorial Address
Jl. Batan No 5, Lebak Bulus, Cilandak Jakarta Selatan
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Al-Dhikra
Published by Institut PTIQ Jakarta
ISSN : 25032232     EISSN : 2807257X     DOI : https://doi.org/10.57217
Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis was first published by the Faculty of Ushuluddin of Institut PTIQ Jakarta in April 2016 and published twice within one year i.e April and October. So, it accepts submissions of manuscripts from any issues related to quranic and hadith studies. Editors accept articles that have never been published in other media. The paper should be written with 6000-10.000 characters. The editor has the right to appraise the articles appropriateness both in terms of content, information and writing style. For those whose the article is publised will be given a reward in accordance to the working regulations.
Articles 132 Documents
DIALEKTIKA NASAKH-MANSUKH: PERSPEKTIF TRADISIONAL JALALUDDIN AS-SUYUTHI VERSUS HERMENEUTIK-MODERN MUHAMMAD SYAHRUR elkarimah, mia fitriah
Al-Dhikra Vol. 7 No. 1 (2025): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi dialektika konsep nasakh-mansukh melalui analisis komparatif pemikiran Muhammad Syahrur dan Jalaluddin As-Suyuthi, dua tokoh dengan pendekatan hermeneutik berbeda dalam memahami dinamika hukum Islam. Menggunakan metode kualitatif-komparatif dengan pendekatan studi pustaka, penelitian mendalami konstruksi epistemologis kedua pemikir dalam menafsirkan mekanisme nasakh dalam Al-Qur'an. Temuan penelitian mengungkapkan perbedaan fundamental: Syahrur mengajukan pendekatan revolusioner dengan menolak total konsep nasakh internal, menawarkan hermeneutika kontekstual yang memandang setiap ayat memiliki relevansi berkelanjutan sepanjang zaman. Sebaliknya, Suyuthi mempertahankan metodologi klasik dengan menerima nasakh sebagai mekanisme syariat, namun dengan pembatasan ketat, mengklasifikasikan nasakh dalam tiga kategori dan membatasi jumlah ayat mansukh hingga sekitar 20 ayat. Analisis mendalam mengungkap bahwa meskipun metodologi mereka berbeda, keduanya sama-sama bertujuan menjaga koherensi dan relevansi Al-Qur'an, mencerminkan dinamika intelektual yang kompleks dalam tradisi pemikiran Islam. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemahaman teks suci merupakan proses intelektual berkelanjutan yang membutuhkan keseimbangan antara kontekstualitas modern dan preservasi makna original, sekaligus menghadirkan ketegangan produktif antara tradisi dan pembaruan dalam kajian keislaman.   Kata Kunci: Nasakh-Mansukh, Hermeneutika, Imam al-Suyuthi, Syahrur.  
ASPEK ILUMINASI MANUSKRIP AL-QUR’AN PESISIR TIMUR DUNIA MELAYU DALAM DOKUMENTASI MUSHAF TERENGGANU DAN PATANI Hidayatullah
Al-Dhikra Vol. 6 No. 2 (2024): Al-Dhikra: Jurnal Studi Quran dan Hadis
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dokumentasi manuskrip Al-Qur’an yang teriluminasi dengan hiasan yang cukup indah. Setidaknya terdapat enam puluh manuskrip yang telah berhasil teridentifikasi berasal dari Pesisir Timur dunia Melayu, khususnya daerah Terengganu dan Patani. Para peneliti naskah mushaf kuno telah menjadikan dua daerah tersebut sebagai objek penting dalam kajian seni hias mushaf karena memang dikenal dengan warisan manuskrip yang cukup indah dari sisi iluminasi. Pembahasan tulisan ini berfokus pada delapan mushaf yang berasal dari dua daerah tersebut dengan fokus pada aspek kodikologi yang khusus berkenanan dengan iluminasi pada mushaf. Melalui pendekatan filologis dan kodikologis akan diteliti beberapa keunikan dan keistimewaan karakter iluminasi dari dua aliran tersebut. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa aspek iluminasi pada mushaf Terengganu dan Patani memiliki kekhasan yang membedakannya satu sama lain. Mushaf gaya Terengganu dengan komposisi warna taburan emasnya terkesan lebih mewah daripada mushaf Patani dalam aspek iluminasi, walaupun dalam beberapa aspek tertentu dari iluminasi gaya Patani juga lebih naturaslistik. Begitu juga dengan beberapa elemen terkecil yang ada dalam iluminasi antara gaya Terengganu dan Patani ternyata memiliki perbedaan mendasar seperti fitur stalagmit dan stalaktit yang ada pada mushaf Terengganu dan motif cili padi yang ada pada bingkai mushaf Patani dan elemen-elemen lainnya, sehingga dengan demikian diharapkan dapat membantu penelitian-penelitian selanjutnya untuk bisa mengenali karakteristik iluminasi dari kedua aliran tersebut dan pengaruhnya dalam penyebaran mushaf di Nusantara.