cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsibc@unisba.ac.id
Phone
+6282118320445
Journal Mail Official
bcsibc@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series : Islamic Broadcast Communication
ISSN : -     EISSN : 28282485     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsibc.v2i2
Core Subject : Religion, Education,
Bandung Conference Series Islamic Broadcast Communication (BCSIBC) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Komunikasi Penyiaran Islam dengan ruang lingkup Akhlak Komunikasi Dakwah, Aqidah Komunikasi Dakwah, Beribadah Dakwah, Bulletin Dakwah, Dakwah Media Sosial, Dasar-dasar Islam, Keagamaan, Nilai Dakwah Islam, Nilai-nilai Tauhid, Pengajian, Perilaku Keagamaan, Pesan Dakwah, Pesantren Mahasiswa, Media dakwah, Program Radio dakwah, Sikap. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 1 Documents
Search results for , issue "181-188" : 1 Documents clear
Komunikasi Interpersonal Kyai dan Santri dalam Meningkatkan Pemahaman Keagamaan di Pondok Pesantren Al Barkah Rancakeyeup Tanggeung Cianjur Muhammad Yasni Ishak Syahid Al Fazri; Irfan Safrudin; Hendi Suhendi
Bandung Conference Series: Islamic Broadcast Communication 181-188
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsibc.v6i2.24585

Abstract

Abstract. This article examines interpersonal communication between the kyai (Islamic teacher) and santri (students) at Pondok Pesantren Al-Barkah, Rancakeuyeup, Tanggeung, Cianjur, prompted by uneven comprehension among students, their reluctance to ask questions, and the hierarchical distance that can limit religious understanding. Using a qualitative descriptive approach, data were gathered through observation, in-depth interviews with the kyai and three santri, and documentation, then analyzed with Joseph A. DeVito's five indicators of interpersonal communication: openness, empathy, supportiveness, positiveness, and equality. The findings show that the kyai consistently applies all five indicators, for instance by removing bureaucratic barriers to dialogue, correcting mistakes gently, giving continuous motivation, and treating every santri equally regardless of socio-economic background, while santri openness still varies due to feelings of reluctance (sungkan) toward senior religious authority. Interpersonal communication is thus shown to play a fairly significant role in improving santri's religious understanding, appreciation, and practice, although obstacles remain in the form of differences in administrative status and limited interaction time. This study suggests that pesantren management strengthen more equitable communication channels between kyai and santri across all levels of seniority. Abstrak. Artikel ini mengkaji komunikasi interpersonal antara kyai dan santri di Pondok Pesantren Al-Barkah, Rancakeuyeup, Tanggeung, Cianjur, yang dilatari oleh perbedaan pemahaman antarsantri, keengganan santri untuk bertanya, serta jarak hierarkis yang berpotensi membatasi pemahaman keagamaan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam dengan kyai dan tiga orang santri, serta dokumentasi kegiatan pesantren, kemudian dianalisis menggunakan lima indikator komunikasi interpersonal Joseph A. DeVito, yaitu keterbukaan, empati, sikap mendukung, sikap positif, dan kesetaraan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kyai menerapkan kelima indikator tersebut secara konsisten, misalnya dengan memangkas birokrasi komunikasi, meluruskan kesalahan santri dengan bahasa yang halus, memberikan motivasi berkelanjutan, serta memperlakukan seluruh santri secara setara tanpa memandang latar belakang sosial-ekonomi, sementara keterbukaan santri masih bervariasi karena rasa sungkan terhadap otoritas keagamaan senior. Dengan demikian, komunikasi interpersonal terbukti berperan cukup berarti dalam meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan penerapan ajaran keagamaan santri, meskipun masih ditemukan hambatan berupa perbedaan status kepengurusan dan keterbatasan waktu interaksi. Penelitian ini menyarankan agar pengelola pesantren memperkuat mekanisme komunikasi yang lebih merata antara kyai dan santri di seluruh tingkatan.

Page 1 of 1 | Total Record : 1