Bandung Conference Series: Economics Studies
Bandung Conference Series Economic Studies (BCSES) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Ilmu Ekonomi dan Bisnis dengan ruang lingkup Amanah, Antisipasi Bencana, Bank Umum Syariah, Belanja Daerah, Pengangguran, BMT, BOPO, BPRS, CAR, Data Envelopment Analysis. Demand, Efisiensi, Ekspektasi Inflasi, Era Digital UMKM, Etika bisnis islam, Faktor Penarik dan Migrasi Internasional, Faktor Pendorong, fathanah, FDR, Frontier Stokastik, Fungsi Produksi, Good Coorporate Governance (GCG), Hearing, Inflasi, IPM Maqashid syariah, istiqamah, Jumlah Uang Beredar, Kecukupan Modal, Konfeksi, Kualitas Aset, Lembaga Pengelola Zakat, Likuiditas. Mudharabah, NOM, NPF, Output Nasional, Nilai Tukar Jumlah, Penduduk Miskin, PAD, PDRB, Pegawai, Mudharabah, Pendayagunaan Zakat, Pengelola, Perspektif Masyarakat Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi, Profitabilitas, Program Edukasi, Rentabilitas, RGEC, ROA, shiddiq, tabligh, Upah Minimum, Upah Strategi Pengembangan Usaha, Usaha Mikro, Zakat. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles
267 Documents
Faktor–Faktor Penentu Produktivitas Tenaga Kerja Pelaku UMKM Kuliner di Kabupaten Garut
Dinda Revtiani;
Ade Yunita Mafruhat
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14009
Abstract. MSMEs in Indonesia have an important role in economic growth, employment absorption, and the distribution of development. The success of MSMEs is determined by the productivity of the workforce within them. One of the districts in West Java Province that has the most MSMEs is Garut Regency, especially in the culinary sector. However, in its implementation, culinary MSMEs in Garut Regency experienced obstacles, namely regarding the existing workforce. This research aims to identify and analyze the determining and dominant factors that can influence the labor productivity of culinary MSMEs in Garut Regency. This research uses quantitative descriptive analysis methods with factor analysis techniques, processed using SPSS version 22. The results of this research show factors that determine the productivity of culinary MSME workers in Garut Regency, namely knowledge and skills factors, wages, education, compensation, bonuses, guarantees, benefits, and length of time. Overall, the most dominant factor in determining the productivity of culinary MSME workers in Garut Regency is the Knowledge and Skills Factor because it has an eigenvalue of 12.546, which is the factor with the greatest value when compared with the eigenvalues of other factors and consists of indicators. Knowledge and Skills, Job Mastery, and Rewards. Abstrak. UMKM di Indonesia memiliki peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja serta distribusi pembangunan. Keberhasilan UMKM ditentukan dari produktivitas tenaga kerja yang ada didalamnya, Salah satu kabupaten di Provinsi Jawa Barat yang memiliki UMKM terbanyak yaitu Kabupaten Garut, khususnya di bidang Kuliner. Namun pada pelaksanaannya, pelaku UMKM Kuliner di Kabupaten Garut mengalami hambatan yakni mengenai tenaga kerja yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi serta menganalisis faktor-faktor penentu dan faktor dominan yang dapat mempengaruhi produktivitas tenaga kerja pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Garut. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif dengan teknik analisis faktor, diolah menggunakan SPSS versi 22. Hasil penelitian ini terdapat faktor yang menentukan produktivitas tenaga kerja pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Garut, yaitu terdiri dari Faktor Pengetahuan dan Keterampilan, Upah, Pendidikan, Kompensasi, Bonus, Jaminan, Tunjangan dan Lama Waktu. Secara keseluruhan faktor yang paling dominan dalam menentukan produktivitas tenaga kerja pelaku UMKM kuliner di Kabupaten Garut, yaitu Faktor Pengetahuan dan Keterampilan karena mempunyai nilai eigenvalues sebesar 12,546, faktor ini merupakan faktor yang paling besar nilainya jika dibandingkan dengan nilai eigenvalues faktor yang lainnya dan terdiri dari indikator Pengetahuan dan Keterampilan, Penguasaan Pekerjaan dan Penghargaan.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penanaman Modal Asing di Indonesia Periode 1997-2023
Shella Mutia Putri
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14017
Abstract. This study aims to examine the impact of corruption control, market openness, labor productivity, regulatory quality, and minimum wage on foreign direct investment (FDI) in Indonesia. Foreign direct investment (FDI) exerts a profound impact on the macroeconomic and microeconomic landscape of a nation. Corruption control, market openness, labor productivity, regulatory quality, and minimum wage are factors that investors take into account when determining whether to invest funds in a particular country. This research employs quantitative methods with secondary data. The study observed related variables from 1997 to 2023, which were then processed using the least squares method. The results demonstrated that corruption control and minimum wage at the 5% significance level had no effect on FDI, whereas market openness, labor productivity, and regulatory quality at the 5% significance level had an effect on FDI. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh kontrol korupsi, keterbukaan pasar, produktivitas pekerja, kualitas regulasi dan upah minimum terhadap PMA di Indonesia. PMA memiliki pengaruh yang besar baik secara makro maupun mikro ekonomi suatu negara. Kontrol korupsi, keterbukaan pasar, produktivitas pekerja, kualitas regulasi dan upah minimum menjadi pertimbangan investor untuk mengalirkan dana ke suatu negara. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan data sekunder. Penelitian mengamati variabel terkait pada periode 1997 hingga 2023 yang kemudian di olah menggunakan metode least square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kontrol korupsi dan upah minimum pada tingkat signifikansi 5% tidak berpengaruh terhadap PMA sedangkan keterbukaan pasar, produktivitas pekerja dan kualitas regulasi pada tingkat signifikansi 5% berpengaruh terhadap PMA.
Korelasi antara Kualitas Sumber Daya Manusia dan Teknologi dengan Kinerja UMKM di Valkenet Malabar Kota Bandung
Farah Choirunnisa;
Dewi Rahmi
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14172
Abstract. The performance of MSMEs is a reflection of the success of MSMEs. Along with the ever-increasing number of MSMEs, there are also problems that are often faced by business actors, such as the low quality of human resource performance, and lack of mastery of technology. The results of the study show that the performance of MSMEs in Indonesia is still relatively poor, this problem can be solved if MSMEs can develop to improve the quality of human resources and good technology. This study uses quantitative descriptive using descriptive statistical analysis methods and correlation tests, where data measurement uses a Likert scale and uses a saturated sampling technique. The purpose of this study is to determine the correlation between human resource quality factors and MSME performance indicators in Valkenet Malabar, Bandung City. Based on the results of the research, in general, there is a correlation between the quality of human resources and the performance of MSMEs in Valkenet Malabar, Bandung City. When viewed from the performance indicators of MSMEs, the quality of human resources has a very strong correlation with relationships and has a sufficient correlation with motivation. The quality factor of human resources has a correlation with each MSME performance indicator. Knowledge indicators have a strong correlation with the number of customers, market area and sales turnover and a sufficient correlation with the amount of production. Motivational indicators have a very weak correlation with the market breadth. The relationship indicator has a very strong correlation with sales turnover. Strong correlation with market area. Technology indicators have a strong correlation with the number of customers, sales turnover, production volume and sufficient correlation with the market area. Abstrak. Kinerja UMKM merupakan cerminan dari keberhasilan UMKM. Seiring selalu bertambahnya jumlah UMKM terdapat juga permasalahan yang sering kali dihadapi oleh pelaku usaha, seperti rendahnya kualitas kinerja sumber daya manusia, dan penguasaan teknologi yang masih kurang. Hasil penelitian menunjukan bahwa kinerja UMKM di Indonesia masih relatif kurang baik, permasalahan ini dapat terselesaikan jika UMKM dapat berkembang meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan teknologi yang baik. Penelitian ini menggunakan deskriptif kuantitatif dengan menggunakan metode analisis statistik deskriptif dan uji korelasi, dimana pengukuran data menggunakan skala likert dan meggunakan teknik sampling jenuh. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui korelasi antara faktor kualitas sumber daya manusia dengan indikator kinerja UMKM di Valkenet Malabar Kota Bandung. Berdasarkan hasil penelitian, secara umum terdapat korelasi antara kualitas SDM dengan kinerja UMKM di Valkenet Malabar Kota Bandung. Jika dilihat dari indikator kinerja UMKM maka kualitas SDM memiliki korelasi yang sangat kuat dengan relasi dan memiliki korelasi yang cukup dengan motivasi. Faktor kualitas sumber daya manusia memiliki korelasi dengan masing-masing indikator kinerja UMKM. Indikator pengetahuan memiliki korelasi yang kuat dengan jumlah pelanggan, luas pasar dan omzet penjualan dan korelasi yang cukup dengan jumlah produksi. Indikator motivasi memiliki korelasi yang sangat lemah dengan luas pasar. Indikator relasi memiliki korelasi yang sangat kuat dengan omzet penjualan. Korelasi yang kuat dengan luas pasar. Indikator teknologi memiliki korelasi yang kuat dengan jumlah pelanggan, omzet penjualan, jumlah produksi dan korelasi yang cukup dengan luas pasar.
Penerapan Prinsip-Prinsip Good Corporate Governance dan Implikasinya terhadap Kinerja Karyawan Pusat Gadai Indonesia di Kabupaten Subang
Rio Devlin Pahlevi Carnadinata;
Asnita Frida Sebayang
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14190
Abstrack. Awareness of the importance of Good Corporate Governance increases along with growing discussions among the community, stakeholders, government and company management. They realize the need for an effective system to improve Transparency, Accountability, Responsibility, Independence and Fairness. The principles of Good Corporate Governance are the main focus in creating positive economic conditions for all parties, both in public and private companies. This study aims to examine and determine the Application of Good Corporate Governance Principles to Employee Performance based on the perspective of employees of the Indonesian Pawn Center in Subang Regency. The research method uses Non-Probability Sampling Type with a sample size of 61 respondents who are employees of the company. Data analysis was carried out using Likert scale analysis with the help of SPSS Version 25 software. The results of the validity test and reliability test show valid and reliable results. The results of the analysis show that the Indonesian Pawn Center Company has implemented the principles of Good Corporate Governance very well. Based on the research results obtained, the strongest instruments are the Principles of Independence (X4) with an average score of 102.2, then Transparency (X1) with an average score of 102, Employee Performance (Y) with an average score of 101.9, Principles Fairness (X5) with an average score of 101.2, Principles of Responsibility (X3) with an average score of 101.1 and finally the weakest is Accountability (X2) with an average score of 100. Abstrak. Kesadaran akan pentingnya Good Corporate Governance meningkat seiring dengan diskusi yang berkembang di kalangan masyarakat, stakeholder, pemerintah, dan manajemen perusahaan. Mereka menyadari kebutuhan sistem yang efektif untuk meningkatkan transparansi, akuntabilitas, tanggungjawab, kemandirian, dan kewajaran. Prinsip-prinsip Good Corporate Governance menjadi fokus utama dalam menciptakan kondisi ekonomi yang positif bagi semua pihak, baik di perusahaan publik maupun swasta. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengetahui penerapan prinsip-prinsip Good Corporate Governance terhadap kinerja karyawan berdasarkan perspektif karyawan Pusat Gadai Indonesia di Kabupaten Subang. Metode penelitian menggunakan Jenis Non-Probability Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 61 responden yang merupakan Karyawan Perusahaan tersebut. Analisis data dilakukan menggunakan analisis skala likert dengan bantuan perangkat lunak SPSS Versi 25. Hasil uji validitas dan uji reliabilitas menunjukan hasil yang valid dan reliabel. Hasil analisis menunjukkan bahwa Perusahaan Pusat Gadai Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip Good Corporate Governance dengan sangat baik. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, instrumen terkuat yaitu pada prinsip kemandirian (X4) dengan skor rata-rata 102,2 kemudian transparansi (X1) dengan skor rata-rata 102, kinerja karyawan (Y) dengan skor rata-rata 101,9, prinsip kewajaran (X5) dengan skor rata-rata 101,2, prinsip tanggungjawab (X3) dengan skor rata-rata 101,1 dan terakhir yang paling lemah yaitu akuntabilitas (X2) dengan skor rata-rata 100.
Strategi Bersaing pada Jasa Ekspedisi JNE Cabang Kota Bandung
Virly Tri Nandika Mulyana;
Dewi Rahmi
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14429
Abstract. Competitive strategy is a strategy achieved by using or demonstrating competitive advantage. To find out how competitive strategies in expedition services can be done using the Porter's five force Model approach. Formulated into five determining factors, namely Competition between companies, Threat of new entrants, Threat of substitute products, Bargaining power of buyers, Bargaining power of suppliers. The purpose of this study is to determine what alternative competitive strategies are appropriate for JNE Expedition Services, Bandung City Branch in facing business competition conditions in the existing industry. The research method used in this study is descriptive qualitative. Data analysis is obtained from interviews and documentation and then draws conclusions. The sample used is one person as a party representing JNE. The analysis method used is Porter's five force Model analysis to determine alternative competitive strategies in JNE Expedition Services, Bandung City Branch. The results of the study show that 1. The entry of newcomers in the expedition service industry, especially in Bandung City, is relatively difficult to enter the industry, because some industries have their own brands and customer loyalty, 2. The threat of substitute service products felt by JNE does not have much impact, because according to informants it is explained that the types of services provided by JNE are diverse and varied, followed by prices and types of estimated delivery times, 3. Buyer dominance will also depend on the amount of demand, the more demand the bargaining power will increase, 4. When companies or other competitors buy packaging raw materials (plastic, bubble wrap, etc.) in larger quantities, the price given is cheaper, 5. In facing competition between competitors in similar industries, the strategy used by JNE Bandung City Branch is to expand demand and improve and maintain product quality. Abstrak. Strategi bersaing merupakan strategi yang dicapai dengan menggunakan atau menunjukkan keunggulan kompetitif. Untuk mengetahui bagaimana strategi bersaing dalam jasa ekspedisi dapat dilakukan dengan pendekatan Porter’s five force Model. Dengan dirumuskan kedalam lima faktor penentu yaitu Persaingan antar perusahaan, Ancaman pendatang baru, Ancaman produk pengganti, Kekuatan tawar-menawar pembeli, Kekuatan tawar-menawar pemasok. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui alternatif strategi bersaing apakah yang sesuai dengan Jasa Ekspedisi JNE Cabang Kota Bandung dalam menghadapi kondisi persaingan bisnis di industri yang ada. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Analisis data diperoleh dari hasil wawancara dan dokumentasi kemudian membuat kesimpulan. Sampel yang digunakan satu orang sebagai pihak yang mewakili JNE. Metode analisis yang digunakan adalah analisis Porter’s five force Model untuk menentukan alternatif strategi bersaing pada jasa ekspedisi JNE Cabang Kota Bandung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1. Masuknya pendatang baru di industri jasa ekspedisi khususnya Kota Bandung tergolong sulit untuk memasuki industri, dikarenakan dari beberapa industri ada merek dan kesetiaan pelanggan sendiri, 2. Ancaman produk jasa pengganti yang dirasakan oleh JNE tidak terlalu berdampak, karena menurut informan dijelaskan bahwa jenis layanan yang diberikan oleh JNE beragam dan bervariasi dengan diikuti oleh harga dan jenis estimasi waktu pengiriman, 3.Dominasi pembeli juga akan bergatung pada jumlah permintaan, semakin banyak permintaan maka kekuatan tawar menawar akan semakin meningkat, 4. Ketika perusahaan maupun pesaing lainnya membeli bahan baku pengemasan (plastic, bublewrap, dll) dengan kuantitas yang lebih banyak maka harga yang diberikan lebih murah, 5. Dalam menghadapi persaingan diantara pesaing industri sejenis, strategi yang digunakan oleh JNE Cabang Kota Bandung dengan memperluas permintaan serta meningkatkan dan menjaga kualitas produk.
Pengaruh Bonus Demografi, Indeks Pembangunan Manusia, dan Laju Pertumbuhan Ekonomi terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Jawa Barat Periode Tahun 2010-2022
Elda Nur Fauzi;
Nurfahmiyati
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14469
Abstract. Unemployment is a quite crucial problem in an economy, unemployment occurs due to an imbalance between job growth and productive age population growth. This research was conducted to find out how much influence the demographic bonus, human development index, and economic growth rate have on the open unemployment rate in West Java for the 2010-2022 period. Apart from that, this research will also analyze and identify how these variables influence the open unemployment rate in West Java for the 2010-2022 period. In this research, the method used is multiple linear regression with the Ordinary Least Square (OLS) approach to analyze the influence of the demographic bonus, human development index, and economic growth rate on the open unemployment rate. This analysis uses secondary data sourced from the Central Statistics Agency (BPS) in the 2010-2022 period. This research uses a descriptive and quantitative approach with a focus on time series data. In this research, it was found that the demographic bonus did not have a significant influence on the level of open unemployment in West Java. However, the human development index variable and the rate of economic growth have a significant influence on the unemployment rate. This means that the increase in the human development index and the rate of economic growth tends to be associated with a decrease in the level of open unemployment in West Java. Abstrak. Pengangguran merupakan suatu masalah yang cukup krusial dalam sebuah perekonomian, terjadinya pengangguran akibat terjadinya ketidakseimbangan antara pertumbuhan lapangan pekerjaan dengan pertumbuhan penduduk usia produktif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh bonus demografi, indeks pembangunan manusia, dan laju pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat periode tahun 2010-2022. Selain itu, penelitian ini juga akan menganalisis dan mengidentifikasi bagaimana variabel-variabel tersebut mempengaruhi tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat periode tahun 2010-2022. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah regresi linear berganda dengan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) untuk menganalisis pengaruh bonus demografi, indeks pembangunan manusia, dan laju pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat pengangguran terbuka. Analisis ini menggunakan data sekunder yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam rentang waktu tahun 2010-2022. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dan kuantitatif dengan fokus pada data time series. Pada penelitian ini ditemukan bahwa bonus demografi tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat. Akan tetapi pada variabel indeks pembangunan manusia dan laju pertumbuhan ekonomi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap tingkat pengangguran. Artinya dengan meningkatnya indeks pembangunan manusia dan laju pertumbuhan ekonomi cenderung berhubungan dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat.
Faktor-Faktor yang Menentukan Preferensi Penggunaan Layanan Paylater dan Dampaknya terhadap Pola Konsumsi Generasi Z Kota Bandung dengan Pendekatan TAM
Lutfiyani Fauziyah;
Dewi Rahmi
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14495
Abstract. PayLater service is also known as “buy now, pay later” or “buy now, pay later”. This is a transaction facility similar to a credit card, with transaction limits and payment deadlines. This PayLater service is preferred by Gen Z compared to credit cards. The introduction of the PayLater service shows that the frequency of use of the PayLater service for online shopping has surpassed credit cards as a payment method. Based on this phenomenon, the formulation of the research problem is as follows. (1) What are the factors that determine the preference for using the PayLater service? (2) How does the use of the PayLater service affect the consumption behavior of Generation Z in Bandung City? In this study, the researcher used a descriptive statistical research method with a quantitative approach and data collection techniques by distributing questionnaires via Google Form specifically to Generation Z in Bandung City. The sampling technique for this study used a purposive sampling technique so that a sample of 100 respondents was obtained. The results of this study are the benefits and convenience felt as determining factors for the preference for using the PayLater service among Generation Z in Bandung City. On the other hand, the use of PayLater services has affected the consumption patterns of Generation Z in Bandung City, such as consumption not going according to plan, shopping more often when using PayLater services, and concentration of consumption on fashion and skincare/makeup. The top three are electronic products. Abstrak. Layanan PayLater dikenal juga dengan istilah “beli sekarang, bayar nanti” atau “beli sekarang, bayar nanti”. Ini adalah fasilitas transaksi yang mirip dengan kartu kredit, dengan batasan transaksi dan batas waktu pembayaran. Layanan PayLater ini lebih disukai oleh Gen Z dibandingkan kartu kredit. Pengenalan layanan PayLater menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan layanan PayLater untuk belanja online telah melampaui kartu kredit sebagai metode pembayaran. Berdasarkan fenomena tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Apa saja faktor yang menentukan preferensi penggunaan layanan PayLater? (2) Bagaimana pengaruh penggunaan layanan PayLater terhadap perilaku konsumsi Generasi Z di Kota Bandung? Dalam penelitian ini peneliti menggunakan metode penelitian statistik deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan teknik pengumpulan data dengan menyebarkan kuesioner melalui Google Form khusus kepada Generasi Z di Kota Bandung. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sehingga diperoleh sampel sebanyak 100 responden. Hasil dari penelitian ini adalah manfaat dan kemudahan yang dirasakan menjadi faktor penentu preferensi penggunaan layanan PayLater di kalangan Generasi Z di Kota Bandung. Di sisi lain, penggunaan layanan PayLater telah mempengaruhi pola konsumsi Generasi Z di Kota Bandung, seperti konsumsi tidak berjalan sesuai rencana, lebih sering berbelanja saat menggunakan layanan PayLater, dan konsentrasi konsumsi pada fashion dan perawatan kulit/ riasan. Tiga teratas adalah produk elektronik.
Pengaruh Transaksi Non Tunai, Pendapatan, dan Suku Bunga terhadap Jumlah Uang Beredar di Indonesia Tahun 2015-2022
Muhammad Naufal Muzhaffar;
Ima Amaliah
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14534
Abstract. This study examines the effect of non-cash transactions, income, and interest rates on the amount of money in circulation in Indonesia in 2015-2022. With the development of technology and the increasing adoption of non-cash payments, especially during the COVID-19 pandemic, there have been significant changes in people's transaction patterns. The World Health Organization (WHO) has recommended implementing a Cashless Society to reduce physical contact and the spread of the virus. This study uses quarterly data to analyze how non-cash payments, people's income, and interest rates affect the amount of money circulation in Indonesia. The results of the study showed that partially, there was no significant effect of non-cash transactions (p = 0.069), income (p = 0.648), and interest rates (p = 0.110) on the amount of money in circulation in Indonesia in 2015-2022, while simultaneously there was a significant effect of non-cash transactions, income, and interest rates on the amount of money in circulation in Indonesia in 2015-2022. The magnitude of the influence of non-cash transactions, income, and interest rates on the amount of money in circulation in 2015-2022 was 88.9%, while the remaining 11.1% was explained by other variables not included in this study. The results of this study are expected to provide a better understanding of monetary dynamics in the digital era and help to formulate more effective economic policies. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh transaksi non tunai, pendapatan, dan suku bunga terhadap jumlah uang beredar di Indonesia dalam periode 2015-2022. Dengan perkembangan teknologi dan meningkatnya adopsi pembayaran non tunai, terutama selama pandemi COVID-19, terjadi perubahan signifikan dalam pola transaksi masyarakat. World Health Organization (WHO) telah menganjurkan penerapan Cashless Society untuk mengurangi kontak fisik dan penyebaran virus. Penelitian ini menggunakan data triwulanan untuk menganalisis bagaimana pembayaran non tunai, pendapatan masyarakat, dan tingkat suku bunga mempengaruhi jumlah uang yang beredar di Indonesia. Hasil penelitian didapatkan bahwa secara parsial, tidak terdapat pengaruh yang signifikan transaksi non tunai (p= 0,069), pendapatan (p=0,648), dan suku bunga (p=0,110), terhadap jumlah uang beredar di Indonesia tahun 2015-2022, sedangkan secara simultan terdapat pengaruh yang signifikan transaksi non tunai, pendapatan, dan suku bunga terhadap jumlah uang beredar di Indonesia tahun 2015-2022. Besarnya pengaruh transaksi non tunai, pendapatan, dan suku bunga terhadap jumlah uang beredar Tahun 2015-2022 sebesar 88,9%, adapun sisanya 11,1% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam penelitian ini.Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika moneter di era digital dan membantu dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang lebih efektif.
Preferensi Penggunaan Qris (Quick Response Code Indonesian Standard) dan Dampaknya terhadap Kinerja UMKM Kuliner di Kota Bandung
Syabilla Ananda Silviawati;
Dewi Rahmi
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14597
Abstract. The pillars of the Indonesian economy are MSMEs, the culinary sector is the subsector that contributes the largest to the gross domestic product (BPD). Bandung is one of the cities famous for its culinary delights. Apart from that, Bandung is quite technology-savvy and tends to have consumerist behavior. The development of non-cash transaction using QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) is a challenge for MSMEs in keeping up with technological developments in payment methods. The aim of this research is to determine preferences for using QRIS and the impact on Culinary MSMEs. The research method used is a quantitative method, the data source collected from 100 Culinary MSMEs that have used QRIS. The data analysis method used is quantitative descriptive analysis. Based on the research results, it is known that consumer preferences in using QRIS there are 2 indicators according Technology Acceptance Model theory, namely perceived convenience and perceived trust, 2 supporting indicators, perceived usefulness and perceived risk. From four indicators, perceived risk has the highest value with a value of 96.1%. MSME performance indicators consist of income growth, capital growth, workforce growth, operating profit growth and growth in the number of customers. Of the five indicators business profit growth has the highest value with a value of 99.2%, sales growth with a value of 96.2% and capital growth with a value of 94.5%, it can be concluded that QRIS has a positive impact on Culinary MSMEs in Bandung City, where this will greatly influence the performance of MSMEs. Abstrak. Pilar perekonomian Indonesia adalah UMKM, sektor kuliner merupakan subsektor penyumbang terbesar dari produk domestik bruto (BPD) ekonomi kreatif dan Kota Bandung merupakan salah satu kota yang terkenal dengan kulinernya. Bandung cukup melek terhadap teknologi dan cenderung memiliki perilaku konsumtif. Berkembangnya metode transaksi non tunai menggunakan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) menjadi tantangan bagi para pelaku UMKM dalam mengimbangi perkembangan teknologi dalam metode pembayaran. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui preferensi penggunaan QRIS dan dampaknya terhadap UMKM Kuliner di Kota Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif, sumber data penelitian ini berasal dari data primer yang berasal dari 100 UMKM Kuliner yang menggunakan QRIS. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa preferensi konsumen dalam menggunakan QRIS terdapat 2 indikator dengan menggunakan teori TAM (Technology Acceptance Model) yaitu persepsi kemudahan dan persepsi kepercayaan, 2 indikator pendukung yaitu persepsi kemanfaatan dan persepsi risiko. Dari keempat indikator tersebut, persepsi risiko memiliki nilai yang paling tinggi dengan nilai 96,1%. Indikator kinerja UMKM terdiri dari pertumbuhan pendapatan, pertumbuhan modal, pertumbuhan tenaga kerja, pertumbuhan laba usaha dan pertumbuhan jumlah pelanggan. Dari kelima indikator tersebut yang memiliki nilai paling tinggi yaitu pertumbuhan laba usaha dengan nilai 99,2%, pertumbuhan penjualan dengan nilai 96,2% dan pertumbuhan modal dengan nilai 94,5%, maka dapat disimpulkan bahwa QRIS memiliki dampak positif bagi UMKM Kuliner di Kota Bandung dimana hal tersebut akan sangat berpengaruh terhadap kinerja UMKM.
Faktor-Faktor yang Menentukan Minat Menggunakan E-wallet sebagai Alat Pembayaran bagi Mahasiswa di Kota Bandung
Muhammad Affan Widyarif;
Ria Haryatiningsing
Bandung Conference Series: Economics Studies Vol. 4 No. 3 (2024): Bandung Conference Series: Economics Studies
Publisher : UNISBA Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.29313/bcses.v4i3.14703
Abstract. In the current era of globalization, technological advancements have impacted people's lives in various aspects, including economy, society, and culture. Over time, technological advancements have made life easier, more comfortable, and more efficient. The development of technology has transformed the economy, especially in terms of using E-wallets for payments. Up to now, the most popular type of FinTech service is digital wallets and E-wallets. This study aims to analyze whether the factors of trust, convenience, security, and risk can determine students' interest in choosing E-wallets as a payment tool. The method used in this research is a descriptive quantitative method. The respondents were determined to be 100 people from 4 top universities with the highest number of students in Bandung City. The data collection technique was carried out by distributing questionnaires in the form of surveys using a Likert scale. Data processing in this study will be conducted using the Statistical Program for Social Science (SPSS) program. This research concluded that trust, convenience, security and risk are the factors that determine interest in using e-wallets as a means of payment for students in the city of Bandung. The most dominant factor in determining interest in using E-wallet as a means of payment for students in Bandung City is the convenience factor. Abstrak. Di era globalisasi saat ini, kemajuan teknologi telah memengaruhi kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, termasuk ekonomi, sosial, dan budaya. Seiring berjalannya waktu, kemajuan teknologi telah membuat hidup menjadi lebih mudah, nyaman, dan efisien. Perkembangan teknologi telah mengubah ekonomi, terutama dalam hal menggunakan E-wallet untuk pembayaran. Hingga saat ini, jenis layanan FinTech yang paling populer adalah dompet digital dan E-wallet. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah faktor kepercayaan, kemudahan, keamanan, dan risiko dapat menentukan minat mahasiswa untuk memilih E-wallet sebagai alat pembayaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kuantitatif. Responden yang ditentukan berjumlah 100 orang dari 4 universitas unggulan dan yang memiliki jumlah mahasiswa terbanyak di Kota Bandung. Teknik pengumpulan data dilakukan peneliti dengan cara penyebaran kuesioner berupa angket dengan skala pengukuran yang dilakukan menggunakan skala likert. Pengolahan data dalam penelitian ini akan dilakukan dengan penggunakan program Statistical Program for Social Science (SPSS). Penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa faktor kepercayaan, kemudahan, keamanan, dan risiko menjadi faktor-faktor yang menentukan minat menggunakan E-wallet sebagai alat pembayaran bagi mahasiswa di Kota Bandung. Faktor yang paling dominan dalam menentukan minat menggunakan E-wallet sebagai alat pembayaran bagi mahasiswa di Kota Bandung adalah faktor kemudahan.