cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Analisis Keterikatan Emosi dan Hubungan Liniasi para Pemangku Kepentingan dalam Pelestarian Cagar Budaya Keraton di Kota Cirebon Aziz Ramdani; Muhammad Aziz Ramdani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6261

Abstract

Abstract. Social cohesion is the ability of groups to unite which is formed by cohesiveness through emotional attachment and linear relationships. The current phenomenon of globalization creates a lack of close social relations that can shape individualism which results in accelerating the process of socio-cultural change, especially in cultural acculturation. This concept of social cohesion should be utilized in the continuation of cultural preservation because it sees the importance of preserving culture as an asset and the uniqueness of a region. One of them is the city of Cirebon which still carries out its ancestral culture such as the traditional ceremonies of the Prophet's Birthday and Panjang Jimat and the art of mask dance and has a cultural heritage in the form of the three palace areas. Based on this phenomenon, the purpose of this study is to identify emotional attachments and linear relationships among stakeholders in the preservation of the Cirebon palace's cultural heritage. Researchers used content analysis techniques using a qualitative approach. The results of this study are that there are forms of participation and concern for the regional government and the community for the palace's cultural heritage; The local government cooperates with the palace, namely mask dance training and coaching in the form of educational counseling about the palace; The local government provides APBD funds to the palace every year. It can be concluded that emotional attachment and linear relationships play a role in the preservation of the palace's cultural heritage in the city of Cirebon, both of which can be enhanced by forming a discussion space between actors discussing the direction and plans for preservation as well as providing incentives from the regional service to actors who play an active role in the preservation of the palace's cultural heritage. Abstrak. Kohesi sosial adalah kemampuan kelompok untuk bersatu yang dibentuk oleh kekompakan melalui keterikatan emosi dan hubungan liniasi. Fenomena globalisasi saat ini menimbulkan kurangnya keeratan hubungan sosial yang membentuk sifat individualisme yang mengakibatkan perubahan sosial budaya khususnya dalam akulturasi budaya. Konsep kohesi sosial ini seharusnya dapat dimanfaatkan dalam keberlangsungan pelestarian budaya karena melihat pentingnya melestarikan budaya sebagai asset dan keunikan suatu daerah. Kota cirebon yang masih menjalankan budaya leluhur seperti upacara adat Maulid Nabi dan Panjang Jimat serta kesenian Tari topeng serta memiliki cagar budaya berupa kawasan ketiga keraton. Berdasarkan fenomena tersebut, maka tujuan dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi keterikatan emosi dan hubungan liniasi para pemangku kepentingan pelestarian cagar budaya keraton Cirebon. Peneliti menggunakan metode teknik analisis isi dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini adalah ada bentuk partisipasi dan kepedulian Pemda serta masyarakat terhadap cagar budaya keraton; Pemda melakukan Kerjasama dengan keraton yaitu pelatihan tari topeng serta pembinaan berupa penyuluhan pelajaran mengenai keraton;Pemda memberikan dana APBD kepada keraton tiap tahunnya. Dapat disimpulkan bahwa keterikatan emosi dan hubungan liniasi berperan terhadap pelestarian cagar budaya keraton di Kota Cirebon, keduanya dapat ditingkatkan dengan membentuk ruang diskusi antar para aktor membahas mengenai arah dan rencana pelestarian serta pemberian insentif dari dinas daerah kepada aktor yang berperan aktif dalam pelestarian cagar budaya keraton.
Hubungan Timbal Balik Antar Aktor Dalam Pengembangan Wisata Budaya Keraton di Kota Cirebon Wiwin Yuli Astari; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6275

Abstract

Abstract. Social capital among stakeholders is very important in tourism development. Social capital is closely related to collectivity values that grow and develop in networks to create reciprocity. Cirebon City, which is known as the City of Culture, is the only city in West Java that has three palaces. Of the three palaces, the Kasepuhan Palace is visited more often by tourists because the facilities owned by the Kasepuhan Palace are quite adequate and have many attractions in it, while the Kanoman and Kacirebonan Palaces are less attractive to tourists because their condition looks unkempt. The level of tourist visits to the Cirebon Palace is classified as fluctuating, but efforts to revitalize the Palace are still being carried out, this is due to cooperation and collaboration between stakeholders. Seeing the components of social capital that can be a positive factor for tourism development, it means that the development of tourism in Cirebon City is due to good social capital. The purpose of this study was to identify social capital, namely the reciprocal relationship between stakeholders in the development of the Keraton cultural tourism in Cirebon City. The approach method used is a qualitative approach while the analytical method used is content analysis. The conclusions obtained include the absence of mutual promotion between palaces, but promotion is carried out in collaboration with the government by making tour packages, besides that there is a relationship of mutual help between palaces in terms of borrowing goods when there are events, with the government, namely there are funds given to the palace for making events and maintaining the palace, while the palace allows the public to rent a palace when holding event. Abstrak. Modal sosial diantara pemangku kepentingan sangat penting dalam pengembangan pariwisata. Modal sosial erat kaitanya dengan nilai kolektivitas yang tumbuh kembang dalam jaringan hingga menciptakan sebuah resiprositas (hubungan timbal balik). Kota Cirebon yang dijuluki sebagai Kota budaya merupakan satu-satunya Kota di Jawa Barat yang memiliki tiga Keraton. Dari ketiga Keraton tersebut Keraton Kasepuhan lebih sering dikunjungi wisatawan karena fasilitas yang dimiliki Keraton Kasepuhan cukup memadai serta memiliki banyak daya tarik didalamnya, sedangkan keberadaan Keraton Kanoman dan Kacirebonan kurang diminati wisatawan karena kondisinya yang terlihat tidak terawat. Tingkat kunjungan wisata di Keraton Cirebon tergolong fluktuatif namun upaya revitalisasi Keraton masih terus dilakukan, hal ini karena adanya koordinasi dan kerjasama antar stakeholders. Melihat komponen modal sosial yang dapat menjadi faktor positif bagi pengembangan pariwisata artinya perkembangan wisata di Kota Cirebon karena adanya modal sosial yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi modal sosial yaitu hubungan timbal balik antara pemangku kepentingan dalam pengembangan wisata budaya Keraton di Kota Cirebon. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode pendekatan kualitatif sedangkan metode analisis yang digunakan adalah analisis isi. Kesimpulan yang didapatkan diantaranya tidak adanya saling promosi antar Keraton namun promosi dilakukan dengan kerjasama bersama pemerintah dengan membuat paket wisata, selain itu adanya hubungan timbal balik saling membantu antara Keraton dalam hal meminjamkan barang ketika adanya event, dengan pemerintah yaitu adanya dana bantuan yang diberikan kepada Keraton untuk pembuatan event dan perawatan Keraton, sedangkan dengan masyarakat, Keraton memperbolehkan menyewa ruangan di Keraton ketika akan membuat acara.
Analisis Hubungan Variabel Pemilihan Moda Transportasi dengan Pilihan Moda Transportasi Pelajar SMAN 7 Bandung Tahun Ajaran 2022/2023 Fauzan Mochammad Fidhiaz; Dadan Mukhsin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6601

Abstract

Abstract.Transportation is a necessity for many elements of society, including students. In reaching school, students can use various types of transportation modes such as private, public, and online transportation. Having previously been disrupted by the COVID-19 pandemic, the 2022/2023 academic year will be the year when teaching and learning activities begin to be carried out normally. Although things are slowly returning to normal, COVID-19 has affected many things, including choosing a mode of transportation. The return to normal educational activities created the need for transportation to school to re-emerge. Therefore, the authors are interested in conducting research that aims to identify preferences for mode selection between private, online, and public transportation among students in the 2022/2023 school year. SMAN 7 Bandung was chosen as a case study in this research. The methodology used in this research is revealed preference approach with cross tab analysis method. Based on data collection, it was found that private transportation was the mode of transportation most used by SMAN 7 Bandung students to go to school after the COVID-19 pandemic. Based on the variables observed, there are several variables that have a significant relationship with the type of transportation mode chosen. Overall, the variables that have a significant relationship with the choice of transportation mode for students at SMAN 7 Bandung are Pocket Money (X4), Method of Departure (X6), and Cost (X9). Abstrak.Transportasi merupakan kebutuhan untuk banyak elemen masyarakat, termasuk pada pelajar. Dalam mencapai sekolah, para pelajar dapat menggunakan berbagai jenis moda transportasi seperti transportasi pribadi, umum, maupun online. Setelah sebelumnya sempat terganggu oleh pandemi COVID-19, tahun ajaran 2022/2023 menjadi tahun dimana kegiatan belajar mengajar mulai dilakukan secara normal. Walau perlahan kembali berjalan normal, COVID-19 sudah mempengaruhi banyak hal, termasuk dalam memilih moda transportasi. Kembali berjalan normal kegiatan pendidikan menciptakan kebutuhan akan transportasi menuju sekolah kembali muncul. Maka dari itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi preferensi pemilihan moda antara transportasi pribadi, online, dan umum pada pelajar tahun ajaran 2022/2023. SMAN 7 Bandung dipilih sebagai studi kasus dalam penelitian. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan revealed preference dengan metode analisis tabulasi silang (cross tab). Berdasarkan pengumpulan data, didapat bahwa transportasi pribadi menjadi moda transportasi yang paling banyak digunakan oleh pelajar SMAN 7 Bandung untuk berangkat ke sekolah pasca pandemi COVID-19. Berdasarkan variabel yang diamati, terdapat beberapa variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan jenis moda transportasi yang dipilih. Secara keseluruhan, variabel yang memiliki hubungan signifikan dengan pemilihan moda transportasi pelajar SMAN 7 Bandung adalah Uang Saku (X4), Cara Berangkat (X6), dan Biaya (X9).
Faktor yang Mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Daerah Resapan Air Kecamatan Cimenyan sebagai Bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU) Bagas Wijayakusuma; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6723

Abstract

Abstract. Water catchment areas are important areas to control to maintain the balance of the hydrological cycle and prevent natural disasters. Many water catchment areas (DRA) have changed their function into built-up land which has resulted in a reduction in the area of the water catchment area itself as is the case in Cimenyan District which is a water catchment area. North Bandung (KBU). The North Bandung area (KBU) itself should act as a counterweight to the special environment in the Greater Bandung area. Looking at the problems related to the conversion of water catchment areas in the North Bandung area (KBU), the authors argue that "Factors influencing the transfer The function of the Cimenyan District Water Catchment Area as Part of the North Bandung Area (KBU)” needs to be done.The purpose of the research was to find out the area of the water catchment area and how much land has been converted to other uses and how to solve this problem because if the area and identify what factors make water catchment land in Cimenyan sub-district change its function from its designation. The method used is the mixed method using methods including literature studies, scientific journal interviews, observation, and also documentation which will later be analyzed using spatial methods and multiple linear regression analysis.From the research that has been done, the authors conclude that there has been a change in land use in the Cimenyan District water catchment area of 31.9 Ha which has changed its designation to built-up land. The change in the function of the water catchment area in Cimenyan District is also caused by 4 influencing factors, namely economic growth, population growth, population migration, and facilities and infrastructure. Abstrak. . Kawasan Resapan Air merupakan kawasan penting untuk dikendalikan untuk menjaga keseimbangan siklus hidrologi dan pencegahan bencana alam.Banyak Daerah Resapan Air (DRA) yang mengalami alih fungsi menjadi lahan terbangun yang mengakibatkan berkurangnya luas pada kawasan resapan air itu sendiri seperti halnya pada Kecamatan Cimenyan yang merupakan Kawasan Bandung Utara (KBU).Seharusnya Kawasan Bandung Utara (KBU) ini sendiri bersifat sebagai penyeimbang lingkungan khusus nya pada daerah Bandung Raya.Melihat permasalahan terkait alih fungsi lahan resapan air di Kawasan Bandung Utara ( KBU ) maka penulis berpendapat bahwa “ Faktor yang mempengaruhi Alih Fungsi Lahan Daerah Resapan Air Kecamatan Cimenyan Sebagai Bagian Dari Kawasan Bandung Utara (KBU)” perlu dilakukan. Tujuan penelitian yang diambil yaitu ingin mengetahui luasan kawasan resapan air dan berapa banyak lahan yang dialih fungsikan ke peruntukan lain dan bagaimana upaya untuk menyelesaikan permasalahan tersebut karena jika Kawasan dan mengidentifikasikan faktor apa saja yang membuat lahan resapan air di kecamatan cimenyan beralih fungsi dari peruntukan nya . Metode yang dipakai adalah mix method dengan menggunakan metode antara lain studi literatur, jurnal ilmiah wawancara, observasi, dan juga dokumentasi yang nanti nya akan dianalisis menggunakan metode spasial dan analisis regresi liner berganda .Dari penelitian yang telah di lakukan,penulis menyimpulkan adanya alih fungsi lahan pada kawasan resapan air Kecamatan Cimenyan sebesar 31.9 Ha yang berubah peruntukan menjadi lahan terbangun. adanya alih fungsi lahan Kawasan Resapan Air di Kecamatan Cimenyan ini juga disebabkan oleh 4 faktor yang mempengaruhi, yaitu pertumbuhan ekonomi pertumbuhan penduduk, migrasi penduduk dan sarana dan prasarana
Upaya Pengendalian Pemanfaatan Ruang Berbasis Risiko Bencana Banjir di Kecamatan Samarinda Utara Ghendika Rai Ayari; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6745

Abstract

Abstract. Samarinda City is included in the area that is prone to floods and is the most frequently hit by floods. North Samarinda District is the worst flood-prone area in Samarinda City. The causes of frequent flooding in North Samarinda District are high rain intensity, land conversion and damage to the Karang Mumus River area. The aim of the research is to formulate flood risk-based space utilization control in North Samarinda District. This research was conducted using a vulnerability approach and a threat approach with quantitative and spatial methods in the form of scoring analysis and map overlay. The results of the analysis found that the biggest deviation in the use of space in North Samarinda District in the flood disaster area was in the form of a spatial plan for the designation of protected areas into settlements covering an area of 90.17 Ha located in East Sempaja Village. The vulnerabilities and threats to floods in North Samarinda District are dominated by high vulnerabilities and threats. High vulnerability and deviations in the use of space that occur affect each other and cause high flood inundation heights. Meanwhile, the high threat of flooding is caused by deviations in the use of space in the upstream area of the Karang Mumus sub-watershed in the form of a plantation cultivation area into a mining area of 78.31 square meters. Ha. The impact of the flood disaster caused by this high vulnerability and threat has disrupted the social and economic activities of the community. Therefore, it is necessary to control spatial use for North Samarinda District in the form of restoring spatial functions based on spatial pattern plans and efforts to control spatial use in the upstream area of the Karang Mumus sub-watershed in the form of controlling legal and illegal mining activities. Abstrak. Kota Samarinda termasuk dalam daerah yang rawan bencana banjir dan yang paling sering dilanda terhadap bencana banjir. Kecamatan Samarinda Utara merupakan kawasan rawan bencana banjir terparah di Kota Samarinda. Penyebab banjir yang sering terjadi di Kecamatan Samarinda Utara adalah intensitas hujan yang tinggi, alih fungsi lahan dan rusaknya ruang Sungai Karang Mumus. Tujuan dari penelitian yaitu merumuskan pengendalian pemanfaatan ruang berbasis risiko bencana banjir di Kecamatan Samarinda Utara. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode pendekatan kerentanan dan pendekatan ancaman dengan metode kuantitatif dan spasial berupa analisis skoring dan overlay peta. Hasil analisis didapatkan bahwa penyimpangan pemanfaatan ruang terbesar di Kecamatan Samarinda Utara pada kawasan bencana banjir yaitu berupa rencana pola ruang peruntukan kawasan lindung menjadi permukiman seluas 90,17 Ha yang terletak di Kelurahan Sempaja Timur. Adapun kerentanan dan ancaman bencana banjir di Kecamatan Samarinda Utara didominasi oleh kerentanan dan ancaman yang tinggi. Kerentanan yang tinggi dan penyimpangan pemanfaatan ruang yang terjadi saling mempengaruhi dan menyebabkan ketinggian genangan banjir yang cukup tinggi. Sedangkan ancaman bencana banjir yang tinggi disebabkan oleh penyimpangan pemanfaatan ruang di kawasan hulu sub DAS Karang Mumus berupa kawasan budidaya perkebunan menjadi pertambangan seluas 78,31. Ha. Dampak dari bencana banjir yang diakibatkan oleh kerentanan dan ancaman yang tinggi ini menyebabkan kegiatan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat terganggu. Maka dari itu perlu adanya upaya pengendalian pemanfaatan ruang untuk Kecamatan Samarinda Utara berupa pemulihan fungsi ruang berdasarkan rencana pola ruang dan upaya pengendalian pemanfaatan ruang di Kawasan hulu sub DAS Karang Mumus berupa penertiban kegiatan pertambangan legal dan illegal.
Kajian Peran Stakeholder dalam Pembangunan Kota Berbasis Smart Living di Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang muchammad faridh ridho; Nia Kurniasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6798

Abstract

Abstract.The Ministry of Communication and Information held the "Movement of 100 Smart Cities in Indonesia" program in 2017. Smart city certainly goes straight with smart living, because one of the indicators of smart city in it is smart living. This concept is a great potential in the progress of a city, especially towards the community and the lifestyle of the community which will be very efficient, easy and safe by relying on the latest technologies. The existence of the Tangerang Regency Regional Regulation which regulates land use patterns in the RTRW which shows that Pagedangan District, Tangerang Regency will be used as a residential and residential area with a high level of density. Therefore, it is necessary to have further research on the development of smart living in Pagedangan District to find out and identify the extent of the role of stakeholders including the government, community and the private sector in the development of smart living-based cities in Pagedangan District, Tangerang Regency. The analysis used in the study was by using qualitative descriptive analysis methods and mactor analysis. The output produced from the analysis is the influence matrix, position matrix, direct and indirect influence, convergence, divergence, and ambivalence between actors and smart living-based city development goals in Pagedangan District. From the results of the MACTOR analysis, it is concluded that there are 3 stakeholders who play the most role in smart living-based city development in Pagedangan District, namely the Tangerang Regency Transportation Office, Sinarmas Land, and the Tangerang Regency Regional Development Planning Agency, judging from the highest mobilisation value in the weighted value position matrix (3MAO) as a result of the mactor analysis. Abstrak.Kementrian Komunikasi Dan Informasi mengadakan program “Gerakan 100 Kota Cerdas di Indonesia” pada tahun 2017 lalu. Smart city tentu berjalan lurus dengan smart living, karena salah satu indikator smart city di dalamnya terdapat smart living. Konsep ini menjadi sebuah potensi yang besar dalam kemajuan sebuah kota terutama terhadap masyarakat dan gaya hidup masyarakat yang akan sangat efisien, mudah dan aman dengan mengandalkan teknologi-teknologi terkini. Dengan adanya Perda Kabupaten Tangerang yang mengatur pola penggunaan lahan pada RTRW yang menunjukkan bahwa Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang akan dijadikan kawasan perumahan dan permukiman dengan tingkat kepadatan tinggi. Oleh karena itu perlu adanya penelitian lebih lanjut mengenai pembangunan smart living di Kecamatan Pagedangan untuk mengetahui dan mengidentifikasi sejauh mana peran stakeholder diantaranya pemerintah, masyarakat dan swasta dalam pembangunan kota berbasis smart living di Kecamatan Pagedangan Kabupaten Tangerang. Adapun analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu dengan menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif dan mactor. Output yang dihasilkan dari analisis tersebut adalah matriks pengaruh, matriks posisi, pengaruh langsung dan tidak langsung, konvergensi, divergensi, dan ambivalensi antar aktor dan tujuan pembangunan kota berbasis smart living di Kecamatan Pagedangan. Dari hasil analisis mactor disimpulkan bahwa terdapat 3 stakeholder yang paling berperan dalam pembangunan kota berbasis smart living di Kecamatan Pagedangan yaitu Dinas Perhubungan Kabupaten Tangerang, Sinarmas Land, dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Tangerang, dilihat dari nilai mobilisation tertinggi pada matriks posisi bernilai tertimbang (3MAO) hasil dari analisis mactor.
Evaluasi Pemanfaatan Ruang Kawasan Permukiman Eksisting Berdasarkan Daya Dukung dan Daya Tampung Lahan di Kecamatan Rancaekek Dzariil Sriwijaya; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6844

Abstract

Abstract. Rancaekek District is an area designated for settlements. In the RTRW of Bandung Regency, Rancaekek District is designated for 3 areas, namely residential, industrial and agricultural areas. With the increase in population, it has an influence on the carrying capacity and capacity of settlements in Rancaekek District. The aim of this research is to evaluate the spatial use of existing residential areas based on the carrying capacity and capacity of the land in Rancaekek District. The approach in this study is to use the land capability approach with the map overlay method. This research uses land use deviation analysis, and analysis of carrying capacity and carrying capacity. The results in this study in Rancaekek District have 2 villages that exceed the designation of residential areas, namely Haurpugur Village and Rancaekek Kencana Village. Meanwhile, Rancaekek District has 4 villages whose capacity has exceeded the limit, namely Haurpugur Village, Jelekong Village, Sukamulya Village, and Tegalsumedang Village. The recommendations in this study are that a review is needed in the preparation of the Bandung Regency RTRW in the following year and it is necessary to stop the construction of settlements in the village and equity by distributing residents to villages that can still accommodate the population. Abstrak. Kecamatan Rancaekek merupakan kawasan yang diperuntukan untuk permukiman. Dalam RTRW Kabupaten Bandung Kecamatan Rancaekek diperuntukan untuk 3 kawasan yaitu kawasan permukiman, industri, dan pertanian. Dengan adanya kenaikan jumlah penduduk mengakibatkan pengaruh terhadap daya dukung dan daya tampung permukiman di Kecamatan Rancaekek. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengevaluasi pemanfaatan ruang kawasan permukiman eksisting berdasarkan daya dukung dan daya tampung lahan di Kecamatan Rancaekek. Pendekatan dalam penelitian ini yaitu menggunakan pendekatan kemampuan lahan dengan metode overlay peta. Penelitian ini menggunakan Analsis simpangan penggunaan lahan, dan analisis daya dukung dan daya tampung. Hasil dalam penelitian ini di Kecamatan Rancaekek memiliki 2 desa yang melebihi peruntukan kawasan permukiman yaitu pada desa Haurpugur dan Desa Rancaekek Kencana. Sedangkan Kecamatan Rancaekek memiliki 4 desa yang daya tampungnya sudah melebihi batas yaitu Desa Haurpugur, Desa Jelekong, Desa Sukamulya, dan Desa Tegalsumedang. Rekomendasi dalam penelitian ini yaitu diperlukan tinjauan ulang dalam penusunan RTRW Kabupaten Bandung pada tahun selanjutnya dan diperlukan adanya pemberhentian pembangunan permukiman didesa tersebut.dan pemerataan dengan cara mendistribusikan penduduk kedesa yang masih dapat menampung jumlah penduduk.
Revitalisasi Desa Adat Budaya Hibua Lamo di Desa Kakara Lamo Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara: Revitalisasi Desa Budaya Hibua Lamo Di Desa Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara Muhammad Rizal Syawal; Ernawati Hendrakusumah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.6869

Abstract

Abstract.Kakara Lamo Village is one of the oldest traditional villages in Tobelo District, North Halmahera Regency. The traditional cultural village of Hibua Lamo Kakara Lamo which is still completing the Hibua Lamo culture to this day. In Hibualamo culture includes the system of government, kinship and marriage systems. This system is regulated in the daily life of the community in every hoana (village), especially the village of Kakara Lamo. But in fact the traditional village of Kakara Lamo is currently experiencing degradation or setback in terms of social, political, physical and cultural. The fear that will happen to the traditional village of Kakara Lamo like other villages is the fading of the Hibualamo culture and resulting in the closure of the traditional village to become an ordinary village in order to maintain cultural values and maintain them by revitalizing them. The research method is qualitative research using an explorative approach. To find out the elements of Hibua Lamo culture and the factors that decrease the existence of Hibua Lamo culture in the traditional village of Kakara Lamo. Factors decreasing the existence of the Kakara Lamo traditional village, namely the change of indigenous peoples to a more modern society, mutual cooperation changes in society due to economic factors, traditional ceremonies are less participatory for indigenous peoples, Halu traditional houses are damaged, outside culture causes modern changes in art and culture and marriage system. The revitalization of the Kakara Lamo Traditional Village is to revive the cultural identity of Hibualamo which is experiencing decline. Based on the results of the research above, the elements that need to be revitalized are carrying out adat, halu traditional houses, traditional ceremonies, and cultural arts. These revitalization steps can only take place if they have the support of indigenous peoples, local government and the role of traditional institutions as local institutions that control the lives of indigenous peoples so that they can maintain cultural identity in the traditional village of Kakara Lamo. The support of the Kakara Lamo indigenous people in the revitalization of their traditional villages determines the final outcome. Therefore, the role of indigenous peoples is very important so that the revitalization of the Kakara Lamo traditional village is carried out. Abstrak. Desa Kakara Lamo merupakan salah satu desa adat yang tertua di Kecamatan Tobelo Kabupaten Halmahera Utara. Desa adat budaya Hibua Lamo Kakara Lamo yang masih melestarikan budaya Hibua Lamo hingga saat ini Dalam budaya Hibualamo meliputi sistem pemerintahan, sistem kekerabatan dan perkawinan. Sistem tersebut diatur dalam kehidupan sehari-hari bermasyarakat di setiap hoana (kampong) terutama kampung Kakara Lamo. Tapi kenyataanya desa adat Kakara Lamo saat ini mengalami degradasi atau kemunduran dari segi sosial, politik, fisik, dan budaya. Ketakutan yang akan di alami desa adat Kakara Lamo seperti desa lainnya hilangnya budaya Hibualamo dan mengakibatkan perpindahan desa adat menjadi desa biasa agar dapat mempertahankan nilai budaya dan melestarikannya dengan melakukan revitalisasi. Metode Penelitian yaitu Penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan Eksploratif. Untuk mengentahui elemen-elemen budaya Hibua Lamo dan faktor-faktor penurunan eksistensi budaya Hibua Lamo di desa adat Kakara Lamo. Faktor-faktor penuruanan eksistensi desa adat Kakara Lamo yaitu perubahan masyarakat adat ke masyarkatan yang lebih modern, gotong royong perubahan masyarakat karna faktor ekonomi, upacara adat kurang partisipatif masyarakat adat, rumah adat Halu mengalami kerusakan, Budaya luar yang menyebabkan perubahan modern dalam seni budaya dan sistem perkawinan. Revitalisasi Desa Adat Kakara Lamo adalah menghidupakan kembali identitas budaya Hibualamo yang sedang mengalami kemunduran. Berdasarkan hasil peneleitian di atas maka elemen-elemen yang perlu direvitalisasi yaitu permukiman adat, rumah adat halu, upacara adat, dan seni budaya. Langkah-langkah revitaliasi ini baru bisa terjadi jika mendapat dukungan masyarakat adat, pemerintah daerah dan peran lembaga adat sebagai institusi lokal yang mengotrol kehidupan masyarakt adat agar dapat menjaga identitas budaya di desa adat Kakara Lamo. Dukungan masyarakat adat Kakara Lamo dalam revitalisasi desa adat menjadi penentu hasil akhir. Oleh karna itu peran masyarakat adat sangat penting agar terlaksana revitalisasi desa adat Kakara Lamo.
Pengembangan Geodatabase Status Kepemilikan Lahan Permukiman Magersari Keraton Kanoman Kota Cirebon Fahad Sopian; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.7029

Abstract

Abstract. Land is an important thing and a source of human life, because it is on this land that they determine their income or even depend on it. The Magersari settlement which is located in the Kanoman Palace has problems that are still confusing regarding the ownership status of the Magersari land, namely there are differences of opinion between the palace, the community and the palace. From the problems and problems that occur, it is necessary to identify and develop a geodatabase on the status of land ownership in Magersari Keraton Kanoman so that there is clarity on the status of land ownership in Magersari Keraton Kanoman and to minimize or avoid land ownership conflicts and land disputes. The purpose of this research is to identify the land ownership status of the Magersari settlement and create a Geodatabase of land ownership status for the Magersari settlement, Keraton Kanoman Cirebon. The analytical method used in this study is the analysis of geospatial information systems using a mixed methods approach. The result of this research is the development of a geodatabase that contains information regarding the status of land ownership in Magersari Keraton Kanoman, Cirebon City, where the results of the development of this geodatabase are expected to minimize or prevent land dispute conflicts. Abstrak. Tanah merupakan hal yang penting dan merupakan sumber dari kehidupan manusia, karena di atas lahan tanah tersebut mereka menentukan penghasilan atau bahkan menggantungkan hidup mereka. Permukiman Magersari yang berada di Keraton Kanoman memiliki isu-isu yang masih simpang siur akan status kepemilikan lahan Magersari, yang dimana terdapat perbedaan pendapat antara pihak keraton, masyarakat dan pihak keraton. Dari isu-isu serta permasalahan yang terjadi perlu adanya identifikasi serta pengembangan geodatabase terhadap status kepemilikan lahan Magersari yang berada di Keraton Kanoman agar terwujudnya kejelasan dalam status kepemilikan lahan Magersari di Keraton Kanoman serta untuk meminimalisir ataupun menghindari terjadinya Konflik perebutan kepemilikan lahan dan sengketa tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengidentifikasi status kepemilikan lahan permukiman Magersari dan membuat Geodatabase status kepemilikan lahan permukiman Magersari Keraton Kanoman Cirebon. Metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis sistem informasi geospasial dengan menggunakan pendekatan mixed-method. Hasil dari penelitian ini adalah sebuah pengembangan geodatabase yang berisi informasi mengenai status kepemilikan lahan Magersari Keraton Kanoman Kota Cirebon, yang dimana hasil dari pengembangan geodatabase ini diharapkan dapat meminimalisir ataupun mencegah terjadinya konflik sengketa lahan.
Kajian Preferensi Konsumen pada Moda Transportasi Umum Kereta Api Cikuray : (Studi Kasus Trayek Cikuray Garut Kota – Pasarsenen) Rizki Yusuf Erlangga; Lely Syiddatul Akliyah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7360

Abstract

Abstract. Preferences can be defined as a tendency to choose something that is preferred over others, which is part of an individual's decision-making process. These preferences can be influenced by various variables. The background of this research is due to the fact that train Cikuray is one of the new transportation options for the public. Before the public uses the railway as a mode of transportation, they need to use an intermediary mode as the initial mode, and vice versa. This study aims to identify the variables that significantly influence consumer preferences, determine the initial and final modes of transportation chosen by consumers, and provide recommendations for the primary target audience of train. The research methodology employed descriptive statistics with a qualitative approach. Data processing was conducted using scoring analysis. Based on the research findings, the variable of ease of access was found to significantly influence preferences. The initial and final modes of transportation were dominated by private vehicles and online transportation, while the recommended target audience belonged to the consumer group with work and education-related activities. Abstrak. Preferensi dapat diartikan sebuah kecenderungan untuk memilih sesuatu yang lebih disukai dari pada yang lain, yang mana merupakan bagian dari pengambilan keputusan dari seorang individu. Preferensi tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai variabel, Latar belakang dari penelitian ini dikarenakan KA Cikuray merupakan salah satu opsi moda transportasi baru bagi masyarakat. Sebelum masyarakat menggunkan moda kereta api perlu menggunakan moda perantara sebagai moda awal, begitu pun sebaliknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentikasi variabel yang sangat mempengaruhi preferensi konsumen, menentukan moda konsumen awal-akhir dan rekomendasi sasaran utama konsumen kelas KA Cikuray. Metode penelitian yang digunakan deskritif statistik dengan pendeketan kualitatif. Teknik pengolahan data dilakukan dengan menggunakan analisis skoring.