cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Pengaruh Land Value Capture terhadap Pembiayaan Kawasan Heritage Kota Lama Tangerang Mochamad Rifky Ferbiyandani; Imam Indratno; Tarlani Ernawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7440

Abstract

Abstract. Heritage area located in the City of Tangerang. This area has a lot of history, such as the history of the Chinese nation and the Islamic community that developed since the 80th century. Complex conservation efforts do not accompany this historical character, so gradually the Old City of Tangerang experiences a degradation of historical values; the influencing factor is budget constraints. One way to be observed is by applying land value capture as a measurement instrument in heritage areas through structural equation modeling. This measurement can identify causal relationships obtained from the results of land value capture hypotheses and heritage ecosystems that influence the development of the old Tangerang City area. The final results show a relationship between land value and heritage ecosystem in developing the Kota Lama Tangerang heritage area. The existence of 9 accepted hypotheses indicates this. This research has a novelty in its implementation because the application of land value capture to heritage areas with cases in Indonesia has yet to be carried out by anyone, so this research can contribute to increasing insight into land value capture in a broader scope. Abstrak. Kawasan heritage yang berada di Kota Tangerang. Kawasan ini menyimpan banyak sejarah didalamnya, seperti sejarah bangsa cina dan masyarakat islam yang berkembang sejak abad-80. Karakter sejarah tersebut tidak diiringi dengan upaya pelestarian yang kompleks sehingga lambat laun Kota Lama Tangerang mengalami degradasi value sejarah, faktor yang mempengaruhinya yaitu keterbatasan anggaran. Salah satu cara yang dapat diamati yaitu dengan menerapkan land value capture sebagai instrument pengukuran pada Kawasan heritage melalui pemodelan structural equational modelling. pengukuran ini mampu mengidentifikasi hubungan sebab akibat yang diperoleh dari hasil hipotesis land value capture dan ekosistem heritage yang berpengaruh terhadap pengembangan Kawasan kota lama Tangerang. Hasil akhir menunjukan bahwa adanya hubungan antara land value dan ekosistem heritage terhadap pengembangan Kawasan heritage Kota Lama Tangerang. Hal ini ditunjukan dengan adanya 9 hipotesis yang diterima. Penelitian ini memiliki kebaharuan dalam pelaksanaannya, karena penerapan land value capture terhadap Kawasan heritage dengan kasus di Indonesia belum dilakukan oleh siapapun, sehingga penelitian ini mampu berkontribusi terhadap peningkatan wawasan land value capture dalam lingkup yang lebih luas.
Kepuasan Wisatawan terhadap Kawasan Hutan Mangrove Sebagai Destinasi Wisata Baru Akhmad Ichsan Bahri; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7568

Abstract

Abstract. Mangrove tourism in Central Bangka Regency is a new tourist attraction in the province of Bangka Belitung. Good tourism is tourism that is able to provide satisfaction, comfort and safety for its users. Even though tourists are actually satisfied, there is hope that tourists want for tourist objects to be better. This is done in order to meet the expectations of visitors to mangrove tourism. This study aims to measure the level of tourist satisfaction with the mangrove forest area in Kurau Village, Koba District, Central Bangka Regency. The analytical method used is Import and Performance Analysis (IPA) and qualitative descriptive analysis. Primary data was obtained through field observations, interviews and questionnaires from 100 respondents. The results of the IPA analysis show that the level of agreement between tourists' expectations and ratings ranges from 77.78% - 83.93%. Tourist perceptions tend to be lower than their expectations. The results of this study emphasize the need for improvements and enhancements to the attributes that are a top priority for tourists. The recommendations put forward include improving the condition of mangrove forests, paying attention to traffic signs, ensuring the accessibility of adequate telecommunications signals, providing bridge facilities, maintaining the cleanliness and quality of toilets, and providing adequate electricity and security posts. The government also needs to maintain and improve performance indicators that are considered good by tourists, as well as encourage visitor participation in maintaining the cleanliness and orderliness of tourist objects. It is hoped that the results of this study can encourage continuous improvement and improvement to increase tourist satisfaction with the mangrove forest area in Kurau Village as an attractive tourist destination. Abstrak. Wisata mangrove di Kabupeten Bangka Tengah merupakan salah satu objek wisata baru di provinsi di Bangka Belitung .Wisata yang baik adalah wisata yang mampu memberikan kepuasan, kenyamanan dan keamanan bagi penggunanya. Walaupun sebenernya wisatawan sudah puas tapi ada harapan yang diinginkan oleh wisatawan terhadap objek wisata untuk menjadi lebih baik. Hal ini dilakukan agar memenuhi harapan pengunjung terhadap wisata mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan wisatawan terhadap kawasan hutan mangrove di Desa Kurau, Kecamatan Koba, Kabupaten Bangka Tengah. Metode analisis yang digunakan adalah Importand Performance Analysis (IPA) dan analisis deskriptif kualitatif. Data primer diperoleh melalui observasi lapangan, wawancara, dan kuisioner dari 100 responden. Hasil analisis IPA menunjukkan bahwa tingkat kesesuaian antara harapan dan penilaian wisatawan berkisar antara 77.78% - 83.93%. Persepsi wisatawan cenderung lebih rendah daripada harapan mereka. Hasil penelitian ini menekankan perlunya perbaikan dan peningkatan pada atribut-atribut yang menjadi prioritas utama bagi wisatawan. Rekomendasi yang diajukan meliputi perbaikan kondisi hutan mangrove, pemerhatian terhadap rambu lalu lintas, memastikan aksesibilitas sinyal telekomunikasi yang memadai, penyediaan fasilitas jembatan, menjaga kebersihan dan kualitas toilet, serta menyediakan fasilitas listrik dan pos keamanan yang memadai. Pemerintah juga perlu mempertahankan dan meningkatkan kinerja indikator-indikator yang dinilai baik oleh wisatawan, serta mendorong partisipasi pengunjung dalam menjaga kebersihan dan ketertiban objek wisata. Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendorong perbaikan dan peningkatan berkelanjutan untuk meningkatkan kepuasan wisatawan terhadap kawasan hutan mangrove di Desa Kurau sebagai destinasi wisata yang menarik.
Kajian Kinerja Smart Mobility pada Mikrotrans di DKI Jakarta Putri Eripta Lestari; ernady syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7755

Abstract

Abstract. DKI Jakarta has limitations in public transportation services .Mikrotrans is one of the feeder transportation which is one of the efforts made by the government to make people switch to public transportation. The application of smart mobility in DKI Jakarta in the form of a transportation mode integration system through microtrans is not optimal and mass bus transportation has not been integrated with microtrans. The purpose of this study is to identify community assessments in the development of smart mobility on microtrans in Cilandak District and identify obstacles and solutions in the development of smart mobility on microtrans in Cilandak District. The approach method in this research is a mix method using the Importance Performance Analysis (IPA) method and descriptive analysis of the planning, implementation, monitoring and evaluation processes. The result of the analysis is that there is a gap between government performance and community expectations with an average gap of -0.93 and a total level of conformity of 77.94%, meaning that people are less satisfied with government performance in implementing smart mobility on microtrans in Cilandak District. 4 indicators that are included in the priority handling are access to information, the existence of public transport route information, the existence of schedules and waiting times for transportation and comfort in transportation. In the planning, implementation, supervision and evaluation process, there are constraints, namely in the process of integrating regular transportation, the microtrans program has not been socialized, and there is still limited supervision. Abstrak. DKI Jakarta memiliki keterbatasan dalam pelayanan angkutan umum.. Mikrotrans merupakan salah satu angkutan pengumpan yang merupakan salah satu upaya yang dilakukan pemerintah untuk menjadikan masyarakat beralih pada angkutan umum penerapan smart mobility di DKI Jakarta berupa sistem integrasi moda transportasi melalui mikrotrans ternyata belum optimal dan angkutan bus massal belum terintegrasi dengan mikrotrans. Tujuan dari penelitian ini adalah teridentifikasinya penilaian masyarakat dalam pembangunan smart mobility pada mikrotrans di Kecamatan Cilandak dan teridentifikasinya kendala dan solusi dalam pembangunan smart mobility pada mikrotrans di Kecamatan Cilandak. Metode pendekatan pada penelitian kali ini adalah mix method dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dan analisis deskriptif terhadap proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi. Hasil analisis adalah terdapat kesenjangan antara kinerja pemerintah dan harapan masyarakat dengan rata-rata kesenjangan adalah -0,93.dan total tingkat kesesuaian adalah 77,94% hal ini menunjukan masyarakat kurang merasa puas dengan kinerja pemerintah dalam pelaksanaan smart mobility pada mikrotrans di Kecamatan Cilandak. Terdapat 4 indikator yang masuk ke dalam prioritas penanganan yaitu akses informasi, keberadaan informasi rute angkutan umum, keberadaan jadwal dan waktu tunggu transportasi dan kenyamanan dalam transportasi Pada proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi terkendala yaitu pada proses pengintegrasi angkutan reguler menjadi mikrotrans, belum tersosialisasikannya secara utuh mengenai program mikrotrans,dan masih terbatasnya pengawasan kinerja operator sesuai kontrak perjanjian.
Pengembangan Tambak dengan Sistem Silvofishery di Kawasan Hutan Mangrove Waledan Indah Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu A. Pratama Ivo GK; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7774

Abstract

Abstract. Mangrove forests in Indonesia are scattered in several provinces and various islands. The area of mangrove forests in Indonesia is approximately 3.4 million hectares, which is the largest mangrove forest in Asia. Mangrove forest areas can have economic functions, one of which is the development of ponds with a silvofishery system. In Lamarantarung Village, Cantigi District, Indramayu Regency, most of the people who live there make a living as fish farmers. About 70% of the ponds are owned by residents, namely milkfish ponds and 30% of vannamei shrimp ponds. However, pond farmers in Lamarantarung Village have not implemented a silvofishery system pond, which can increase their pond income. As for the background, the writer is interested in making this thesis based on the importance for us to protect mangrove forests because they can preserve ecosystems, apart from that mangrove forests also have economic functions, one of which is the development of ponds with a silvofishery system. The research method used is a descriptive quantitative research method with data collection techniques through literature studies from various journal sources and field surveys which include observation, interviews, and documentation. As for the final results, the authors use the method of farming analysis, anamina models (silvofishery), and community participation analysis. From the results of the analysis that has been carried out, it is found that farming is feasible, because the pond business in the village of Calontarung has advantages and is feasible to cultivate. In addition, from the results of the field survey, it was found that the total area of the pond area was 3,530.8 Ha where the utilization of the mangrove area that could be used as a silvofishery pond was as much as 20%, where if converted the land had an area of 25 Ha. Abstrak. Hutan mangrove di Indonesia tersebar di beberapa provinsi dan berbagai kepulauan. Luasan hutan mangrove di Indonesia kurang lebih 3,4 juta hektar yang merupakan hutan mangrove terluas yang ada di Asia. Kawasan hutan mangrove dapat mempunyai fungsi ekonomi, salah satunya adalah pengembangan tambak dengan system silvofishery. Di Desa Lamarantarung Kecamatan Cantigi Kabupaten Indramayu sebagian besar masyarakat yang tinggal di sana bermata pencaharian sebagai petambak, sekitar 70% tambak milik warga yaitu tambak ikan bandeng dan 30% tambak udang vaname, akan tetapi petani tambak Di Desa Lamarantarung belum menerapkan tambak sistem silvofishery, yang dimana dapat meningkatkan penghasilan tambak mereka. Adapun yang melatar belakangi penulis tertarik untuk membuat skripsi ini didasari karen pentingnya bagi kita untuk menjaga hutan mangrove karena dapat melestarikan ekosistem, selain itu juga hutan mangrove mempunyai fungsi ekonomi, yang salah satunya adalah pengembangan tambak dengan sistem silvofishery. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif deskriptip dengan teknik pengumpulan data melalui studi literatur dari berbagai sumber jurnal dan survey kelapangan yang meliputi observasi, wawancara, serta dokumentasi. Adapun untuk hasil akhir penulis menggunakan metode analisis usahatani, model wanamina (silvofishery), dan analisis partisipasi masyarakat. Dari hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan bahwa usaha tani layak diusahakan, karena usaha tambak yang ada di desa lamarantarung memiliki keuntungan dan layak diusahakan. Selain itu dari hasil survey ke lapangan di dapatkan jumlah luas lahan tambak seluas 3.530,8 Ha dimana pemanfaatan Kawasan mangrove yang bisa digunakan sebagai tambak silvofishery yaitu sebanyak 20%, dimana jika dikonversikan lahan tersebut memiliki luasan 25 Ha.
Identifikasi Kawasan Resapan Air dan Laju Infiltrasi di Sub DAS Citepus, Kota Bandung Mila Karmelia; Hani Burhanudin; Sri Hidayati Djoeffan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7775

Abstract

Abstract. The increasing number of built-up land and the lack of green open space in the Citepus Sub-watershed will result in reduced water catchment areas for the community. The impact can be felt in the form of drought during the dry season and floods during the rainy season. The location of the research study conducted was in the Citepus Sub-watershed which crosses the city of Bandung. The purpose of this study was to identify water catchment areas in the Citepus sub-watershed in Bandung City. The method used in this study is the method of scoring, overlay with geographic information system (GIS) analysis and multiple linear regression. Based on the results of analysis of the water absorption rate in the Citepus Sub-watershed, Bandung City, two absorption levels were produced, namely the low absorption level with an area of ​​〖12.56 km〗^2 and very low with an area of ​​〖8.66 km〗^2. The location that has very good absorption is the sampling location A.2. The resulting time is very fast with an infiltration rate of 0.0010 l/s with good soil conditions. The results of multiple linear regression analysis obtained Accept H1 or Reject Ho, which means that the Independent Variable has an effect on the dependent Variable. The result between the calculated F value and F table obtained the calculated F value of 2.465 > F table 2.31. So based on the F test it can be concluded that the infiltration rate factor simultaneously influences the water catchment area. Efforts to preserve water catchment areas in the Citepus Sub-watershed in Bandung City are physical efforts, namely making infiltration wells, biopores and retention ponds; social, namely by outreach to the community; economy, namely by developing MSME-based entrepreneurship and based on regulations. Abstrak. Semakin banyaknya lahan terbangun dan kurangnya RTH di sub DAS Citepus, maka akan mengakibatkan berkurangnya kawasan resapan air bagi masyarakat. Dampak dari hal ini bisa dirasakan adalah kekeringan pada musim kemarau dan bencana banjir pada musim hujan. Lokasi kajian penelitian yang dilakukan yaitu berada pada sub DAS Citepus yang melintasi Kota Bandung. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi kawasan resapan air di Sub-DAS Citepus Kota Bandung. Metode yang digunakan dilakukan dalam studi ini adalah metode skoring, overlay dengan analisis sistem informasi geografis (GIS) dan regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis tingkat resapan air di sub DAS Citepus Kota Bandung menghasilkan dua tingkat resapan yakni tingkat resapan rendah dengan luas dan sangat rendah dengan luas . Lokasi yang memiliki resapan sangat baik yaitu pada lokasi pengambilan sampel A.2 waktu yang dihasilkan sangat cepat dengan laju infiltrasi 0,0010 l/s dengan kondisi tanah yang cukup baik. Hasil analisis regresi linier berganda didapatkan Terima H1 atau Tolak Ho dimana artinya Variabel Independen mempengaruhi Variabel dependen. Hasil antara nilai F Hitung dengan F Tabel yang diperoleh menunjukan nilai F Hitung sebesar 2, 465 > F Tabel 2, 31. Maka berdasarkan uji F dapat disimpulkan bahwa faktor laju infiltrasi secara simultan berpengaruh terhadap kawasan resapan air. Upaya pelestarian kawasan resapan air di sub DAS Citepus Kota Bandung yaitu dengan upaya secara fisik yaitu pembuatan sumur resapan, biopori dan kolam retensi; sosial yaitu dengan sosialisasi kepada masyarakat; ekonomi yaitu dengan pengembangan kewirausahaan berbasis UMKM dan berdasarkan regulasi.
Kajian Emisi Karbon Dioksida di Kawasan Terminal Cicaheum Kota Bandung Muhammad Reihan Alfaridzi Suharto; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7824

Abstract

Abstract. Carbon dioxide (CO2) is an active substance that causes environmental problems. The Cicaheum terminal area is the main area for people to drive using private transportation or public transportation in their daily activities. Carbon dioxide from the exhaust gases of transportation across the road causes high levels of carbon dioxide, which causes the phenomenon of increasing air temperature. With this problem, this researcher aims to conduct a study of reducing carbon dioxide in the research location. The analytical method used in this study is quantitative using IPCC 2006 calculations. The results of the analysis in this study are that there is a gap between the production of carbon dioxide gas emissions in the transportation sector and the absorption capacity of existing trees of 118,755,231 kg/year, therefore the addition of trees as many as 7,772 tree trunk, including 6,049 species of mahogany trees, 1,699 species of butterfly trees, and 24 species of mango trees. For the addition of green open space area in the Cicaheum Terminal area of 0.61 (ha). Abstrak. Zat karbon dioksida (CO2) merupakan zat aktif yang menimbulkan permasalahan lingkungan. Kawasan terminal Cicaheum merupakan kawasan utama masyarakat berkendara menggunakan transportasi pribadi maupun transportasi umum dalam beraktivitas setiap hari. Zat Karbon dioksida dari gas buang transportasi yang melintasi jalan tersebut mengakibatkan tingkat zat karbon dioksida tinggi, sehingga hal itu menimbulkan fenomena suhu udara meningkat. Permasalahan ini, peneliti ini bertujuan untuk melakukan kajian mereduksi zat karbon dioksida di lokasi penelitian. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan perhitungan IPCC 2006. Hasil analisis dalam penelitian ini ialah terdapat gap antara hasil produksi emisi gas karbon dioksida pada sektor transportasi dengan daya serap pohon eksisting sebesar 118.755.231 kg/tahun maka dari itu penambahan pohon sebanyak 7.772 batang pohon, diantaranya 6.049 jenis pohon mahoni, 1.699 jenis pohon kupu-kupu, dan 24 jenis pohon mangga. Untuk penambahan luas ruang terbuka hijau di kawasan Terminal Cicaheum sebesar 0,61 (ha).
Penilaian Masyarakat terhadap Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan Garut Nurul Jannah; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7882

Abstract

Abstract. Garut Urban Area as an activity center has a population that continuously grows over time and the need for development continues to increase causing areas for green open space to become smaller and its performance get decrease. Therefore, there is a need to pontificate the assessment of the community related to the performance of the green open spaces and also the constraints and solutions regarding green open space development. This research is using mixed methods with importance performance analysis dan descriptive qualitative with constrained development analysis. The results of the analysis showed that the gap between performance and importance is -1,60. the negative number means that society is not satisfied with the performance of the government related to the development of green open space. The development constraints indicate that at this time Garut district has no regulation related to the development of green open space at the regional level, the budget can not be realized for the expansion of the green open space, and the low competence of human resources equipment qualification of the environmental. the existence of difficulties in coordination between the local and provincial parties, and the government is still difficult to give a penalty for communities and enterprises that violate. Abstrak. Kawasan Perkotaan Garut sebagai Pusat Kegiatan Lingkungan (PKL) memiliki populasi terus bertumbuh seiring berjalannya waktu dan kebutuhan pembangunan terus meningkat menyebabkan lahan untuk RTH semakin kecil juga kinerja pembangunan RTH semakin menurun. Sehingga perlu adanya identifikasi mengenai penilaian masyarakat terkait kinerja pembangunan RTH dan kendala serta solusi mengenai pembangunan RTH. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini mix method dengan menggunakan metode analisis importance performance analysis dan deskripstif kualitatif dengan analisis kendala pembangunan. Hasil analisis menunjukkan bahwa GAP antara kinerja dan kepentingan masyarakat yaitu -1,60. Angka negatif berarti masyarakat belum.tidak merasa puas dengan kinerja pemerintah terkait pembangunan RTH. Kendala pembangunan menunjukkan bahwa saat ini Kabupaten Garut belum memiliki regulasi terkait pembangunan RTH di tingkat daerah, anggaran belum dapat direalisasikan untuk perluasan RTH, rendahnya komperetensi SDM aparatur kualifikasi bidang lingkungan hidup, adanya kesulitan koordinasi antara pihak daerah dan provinsi, dan pemerintah masih kesulitan memberikan sanksi pada masyarakat dan badan usaha yang melanggar.
Kajian Biaya Dampak Pembangunan Kawasan Summarecon Kota Bandung Rysha Rahmawati; Tonny Judiantono; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7883

Abstract

Abstract. In 2015, Summarecon Bandung for the first time launched a property product by successfully selling the Btari Cluster residence. The presence of Summarecon Bandung is in line with the concept of "Bandung Teknopolis" which is the vision of the Bandung City Government to realize a modern and integrated city. The development of Summarecon Bandung will certainly result in an increase in the need for public goods and services in the area around Summarecon Bandung, which is the responsibility of the Regional Government. The emergence of these needs can later affect the finances of the Regional Government, especially in the fulfillment of public goods and services. The purpose of this study is to identify the predicted impact of Local Government financing in the construction of the Btari Cluster residence using special procedures and the Service Standard analysis method, which is a calculation based on existing standards. From the results of the study, it was found that the financing incurred by the Local Government amounted to Rp.14.689.576.392 within a period of 20 years, to fulfill the needs of public goods and services. Meanwhile, the revenue that will be received by the Local Government for the construction of the Btari Cluster residence is Rp.526,198,820,000 within a period of 20 years sourced from licensing, taxation, and local retribution. Based on the analysis, it can be concluded that the development of the Btari Cluster does not burden Local Government financing. The Regional Government of the City of Bandung should increase local revenue by establishing rules relating to tax and levy collection as a source of local revenue through intensification. Abstrak. Pada tahun 2015, Summarecon Bandung untuk pertama kalinya meluncurkan produk properti dengan berhasil menjual hunian Klaster Btari. Hadirnya Summarecon Bandung sejalan dengan adanya konsep “Bandung Teknopolis” yang merupakan visi Pemerintah Daerah Kota Bandung untuk mewujudkan kota modern dan terintegrasi. Pembangunan Summarecon Bandung tentunya akan berakibat terhadap peningkatan kebutuhan barang dan jasa umum pada kawasan sekitar Summarecon Bandung tersebut yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Daerah. Timbulnya kebutuhan tersebut nantinya dapat mempengaruhi terhadap keuangan Pemerintah Daerah khususnya pada pemenuhan barang dan jasa umum. Tujuan dari kajian ini adalah mengidentifikasi prediksi dampak pembiayaan Pemerintah Daerah dalam pembangunan hunian Klaster Btari dengan menggunakan prosedur khusus dan metode analisis Service Standard yakni perhitungan berdasarkan standar yang ada. Dari hasil studi diperoleh bahwa pembiayaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp.14.689.576.392 dalam kurun waktu 20 tahun, untuk pemenuhan kebutuhan barang dan jasa umum. Sedangkan pendapatan yang akan diterima Pemerintah Daerah untuk pembangunan hunian Klaster Btari sebesar Rp.526.198.820.000 dalam kurun waktu 20 tahun yang bersumber dari perizinan, perpajakan, dan retribusi daerah. Berdasarkan analisis dapat disimpulkan bahwa pembangunan Klaster Btari tidak membebani pembiayaan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah Kota Bandung baiknya meningkatkan pendapatan daerah dengan cara menetapkan aturan-aturan yang berkaitan dengan pemungutan pajak dan retribusi sebagai salah satu sumber penerimaan daerah melalui intensifikasi.
Identifikasi Hubungan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Pedagang dalam Membuang Sampah di Pasar Induk Gedebage Mirza Ahmad; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7886

Abstract

Abstract. As one of the largest markets in the city of Bandung, Gedebage Main Market serves many residents/consumers and ideally the market environment is maintained and clean from all kinds of garbage so that consumers feel comfortable. But in fact there are many piles of garbage at several points and become a source of contamination of soil, water and air as well as a place or nest for animal associations. From the formulation of the problem, a research question is needed, namely "Is there a relationship and influence between the behavior of traders on waste accumulation?". The purpose of this study was to identify the relationship and influence between the behavior of traders on the accumulation of waste based on the Predisposing factor and the Enabling factor. The method used in this research is descriptive statistical research method with a deductive approach, while the analytical method used is correlation and regression analysis. From the two analyzes that have been carried out, it is known that there is a relationship and the influence of traders' behavior factors on waste accumulation. In the correlation analysis, the knowledge variable has the greatest relationship value to waste accumulation, whereas in the regression analysis, the availability of facilities variable has the greatest value in influencing waste accumulation. The results of this study are expected to be able to provide recommendations to the Market Party/DLHK regarding the importance of socialization activities regarding the importance of raising awareness of the behavior of traders in handling waste. Abstrak. Sebagai salah satu pasar terbesar di Kota Bandung, Pasar Induk Gedebage melayani banyak penduduk/konsumen dan idealnya lingkungan pasar terjaga serta bersih dari segala macam sampah agar timbul kenyamanan bagi konsumen. Namun nyatanya banyak tumpukan sampah di beberapa titik dan menjadi sumber pengotoran tanah, air maupun udara serta menjadi tempat ataupun sarang perkumpulan binatang. Dari rumusan masalah tersebut maka dibutuhkan pertanyaan penelitian yaitu “Apakah ada hubungan serta pengaruh antara perilaku pedagang dengan masalah penumpukan sampah?”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan serta pengaruh antara perilaku pedagang terhadap masalah penumpukan sampah berdasarkan faktor Predisposisi dan faktor Enabling. Metode yang dilakukan pada penelitian ini yaitu metode penelitian deskriptif statistik dengan pendekatan deduktif, sedangkan metode analisis yang digunakan yaitu analisis korelasi dan regresi. Dari kedua analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwasanya terdapat hubungan serta pengaruh dari faktor perilaku pedagang terhadap penumpukan sampah yang terjadi di Pasar Induk Gedebage. Dalam analisis korelasi, variabel pengetahuan memiliki nilai derajat hubungan terbesar terhadap penumpukan sampah, sedangkan dalam analisis regresi, variabel ketersediaan sarana yang memiliki nilai terbesar dalam mempengaruhi penumpukan sampah yang terjadi. Hasil dari penelitian ini diharapkan mampu memberi rekomendasi kepada Pihak Pasar/DLHK terkait pentingnya kegiatan sosialisasi/penyuluhan mengenai pentingnya menimbulkan kesadaran perilaku pedagang dalam menangani sampah dalam menjaga kualitas lingkungan pasar dari tumpukan sampah.
Pengaruh Penggunaan Lahan terhadap Limpasan Air di Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung Della Sesalia Damayanti; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.7909

Abstract

Abstract. Indonesia is a region that frequently experiences various disasters such as earthquakes, tsunamis, mountain eruptions, and floods. The Boongsoang district is one of the districts in the Bandung district that often suffers from flooding disasters. Flooding in Bojongsoang Prefecture is caused by the transfer of the function of the savage land into a settlement according to Tribunjabar.com about 40% of the Savage land in Bojonshoang prefecture is made up a settlements. There is a conversion of savage land into awakened land that can reduce the function of the soil in absorbing rainwater. The aim of this study is to identify whether land use has an impact on drainage water. In conducting this research, the method of research used is a quantitative approach. Based on the results of the analysis, it shows that in 2012 land use had no impact on drainage, but in 2022 land use has an impact on water drainage. By 2022, some land use impacts include industrial settlements, savages, fields and empty land. Abstrak. Indonesia merupakan wilayah yang sering mengalami berbagai bencana seperti gempa bumi, tsunami, gunung meletus dan banjir. Kecamatan Bojongsoang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Bandung yang cukup sering mengalami bencana banjir. Banjir di Kecamatan Bojongsoang disebabkan oleh maraknya alih fungsi lahan sawah menjadi permukiman, dilansir dari tribunjabar.com sekitar 40% lahan sawah di Kecamatan Bojongsoang dijadikan sebagai permukiman. Adanya konversi lahan sawah menjadi lahan terbangun dapat menurunkan fungsi tanah dalam menyerap air hujan. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mengidentifikasi apakah penggunaan lahan memberikan pengaruh terhadap air limpasan. Dalam melakukan penelitian ini, metode pendekatan penelitian yang digunakan yakni pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis menunjukkan jika pada tahun 2012 penggunaan lahan tidak berpengaruh terhadap limpasan, namun pada tahun 2022 penggunaan lahan berpengaruh terhadap limpasan air. Pada tahun 2022 beberapa penggunaan lahan yang berpengaruh diantaranya permukiman industri, sawah, tegalan/ladang dan lahan kosong.