cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Identifikasi Potensi Perekonomian Wilayah Sekitar Waduk Jatigede Hazkilla Kanza Pratami; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.154 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4121

Abstract

Abstract. The concept of regional development grows due to the need for the region to develop, especially in the availability of natural resources and the increasing needs of the community in line with the increase in population. Jatigede Reservoir is the second largest reservoir in Indonesia, built by damming the Cimanuk River which is found in Sumedang Regency. Jatigede Reservoir has an area of ​​3,053.34 ha which includes 4 sub-districts and 40 villages consisting of Darmaraja District, Wado District, Jatigede District, and Jatigede District. It is stated in Regional Regulation No. 4 of 2018 concerning the RTRW of Sumedang Regency article 42 paragraph 2 letter b as referred to which states that the Jatigede Reservoir is included in the KSK from the point of view of economic growth. The purpose of this study is to determine the potential that can be developed in the area around the Jatigede Reservoir. This study uses a quantitative approach, using regional economic analysis methods, namely, basic economic analysis (LQ), shift share analysis, and Klassen typology analysis. The economy of the area around the Jatigede Reservoir is still quite low. Then the results of the regional economic analysis are obtained, which are obtained from the Klassen typology analysis which produces coffee plantation commodities that can be developed in the area around the Jatigede Reservoir. Abstrak. Konsep pengembangan wilayah tumbuh dikarenakan adanya kebutuhan wilayah untuk berkembang terutama pada ketersediaan sumber daya alam dan adanya kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat sejalan dengan adanya pertambahan jumlah penduduk. Waduk Jatigede merupakan waduk terbesar kedua di Indonesia, dibangun dengan membendung aliran sungai cimanuk yang terdapai di Kabupaten Sumedang. Waduk Jatigede memiliki luas sebesar 3.053,34 ha yang mencakup 4 kecamatan dan 40 desa terdiri dari Kecamatan Darmaraja, Kecamatan Wado, Kecamatan Jatinunggal, dan Kecamatan Jatigede. Tercantum dalam Peraturan Daerah No 4 tahun 2018 tentang RTRW Kabupaten Sumedang pasal 42 ayat 2 huruf b sebagaimana dimaksud menyebutkan bahwa Waduk Jatigede termasuk kedalam KSK sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi. Tujuan dalam penelitian ini yaitu, untuk mengetahui potensi yang dapat dikembangkan di wilayah sekitar Waduk Jatigede. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan menggunakan metode analisis ekonomi wilayah yaitu, analisis ekonomi basis (LQ), analisis shift share, dan analisis tipologi klassen. Ekonomi wilayah sekitar Waduk Jatigede masih terbilang cukup rendah. Maka didapatkan hasil analisis ekonomi wilayah, yang didapat dari analisis tipologi klassen yang menghasilkan komoditi perkebunan kopi dapat dikembangkan di wilayah sekitar Waduk Jatigede.
Analisis Willingness to Pay Dan Ability to Pay dalam Berlangganan Air Bersih di Desa Cikeruh Aghnia Thoyibah; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.537 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4132

Abstract

Abstract. Getting optimal clean water is cultivated from good management sources, this is of course the community must be willing to pay household expenses to get good clean water. Many people in Cikeruh Village still use groundwater or wells that are not good if used continuously. The purpose of this study was to determine how much willingness (WTP) and ability (ATP) of the people who have not subscribed to piped clean water connections to pay the tariff determined by PDAM Tirta Medal. The analytical method used is quantitative method with Willingness to Pay (WTP) and Ability to Pay (ATP) analysis. In conclusion, 26% of respondents want to subscribe to PDAM with a willingness to pay the tariff for clean water per m3 at most willing to pay Rp. 2,750/m3 of the tariff price issued by PDAM of Rp. 2.750/m3 for the minimum tariff and Rp. 4.800/m3. m3 for the maximum rate. Meanwhile, from ATP calculations, the value of the community's ability to pay for a PDAM subscription is Rp. 4.277/m3 is close to the maximum tariff issued by PDAM. Abstrak. Mendapatkan air bersih yang optimal diusahakan dari sumber pengelolaan yang baik, hal ini tentu masyarakat harus rela untuk membayar pengeluaran rumah tangga untuk mendapatkan air bersih yang baik. Masyarakat Desa Cikeruh masih banyak yang mengguna air tanah atau sumur yang tidak baik jika dipergunakan secara terus menerus. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui seberapa besar kemauan (WTP) dan kemampuan (ATP) masyarakat yang belum berlanggananan sambungan air bersih perpipan dalam membayar tarif yang telah ditentukan oleh PDAM Tirta Medal. Metode analisis yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan analisis Willingness to Pay (WTP) dan Ability to Pay (ATP). Hasil kesimpulan didapatkan 26% responden mau berlangganan PDAM dengan kemauan membayar tarif air bersih per m3 paling banyak bersedia membayar sebesar ≤Rp2.750/m3 dari harga tarif yang dikeluarkan pihak PDAM sebesar Rp2.750/m3 untuk tarif paling minimum dan Rp.4.800/m3 untuk tarif paling maksimum. Sementara dari hasil perhitungan ATP didapat nilai kemampuan membayar masyarakat dalam berlangganan PDAM sebesar Rp.4.277/m3 mendekati harga tarif maksimum yang di keluarkan oleh pihak PDAM.
Kajian Efektivitas Penataan Pedagang Kaki Lima pada Jalur Pedestrian Cicadas, Kota Bandung Muhamad Rizal; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.236 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4143

Abstract

Abstract. The problem of pedestrian facilities in urban areas in Indonesia is a pedestrian need that has not been met, both qualitatively and quantitatively. Pedestrian paths are built to limit human movement and avoid using lanes as a means of transportation. The informal sector activities that we often encounter in urban areas are street vendors, namely small-scale economic activities. To manage and develop the growing number of street vendors, the government issued Bandung City Regulation no. 04 of 2011 concerning the Composition and Guidelines of street vendors. The Bandung City Government revived 602 street vendors stalls on the Cicadas pedestrian area without any eviction efforts. Based on the description above, the authors are interested in raising the title, namely: "Study on the Effectiveness of Structuring Street Vendors on Pedestrian Paths, Jalan Cicadas, Bandung City". So the research question in this study is: "How is the effectiveness of structuring street vendors on the Cicadas pedestrian path based on pedestrian perceptions?". This research was conducted using a combined method of quantitative and qualitative methods (Mix Method Research). With the sampling technique, namely Probality Sampling using Simple Random Sampling, the number of research samples obtained was 100 respondents. Data collection techniques used in this study were questionnaires, interviews, and observations. The data analysis technique used in this research is descriptive analysis technique and validity test analysis technique and reliability test with Likert scale measurement. The results of this study on average indicate that respondents' opinions on the object of research generally state "Not Effective" on the condition of an existing field (Pedestrian Line) in the corridor of Jalan Jenderal Ahmad Yani (Cicadas). Abstrak. Permasalahan fasilitas pejalan kaki di kawasan perkotaan di Indonesia merupakan kebutuhan pejalan kaki yang belum terpenuhi, baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Jalur pejalan kaki dibangun untuk membatasi pergerakan manusia dan menghindari penggunaan jalur sebagai sarana transportasi. Kegiatan sektor informal yang paling sering kita jumpai di perkotaan adalah PKL, yaitu kegiatan ekonomi skala kecil. Untuk mengelola dan mengembangkan jumlah PKL yang terus bertambah, pemerintah mengeluarkan Peraturan Kota Bandung No. 04 Tahun 2011 tentang Susunan dan Pedoman PKL. Pemerintah Kota Bandung menghidupkan kembali 602 kios PKL di pedestrian Cicadas tanpa ada upaya penggusuran. berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengangkat judul, yaitu: “Kajian Efektivitas Penataan Pedagang Kaki Lima Pada Jalur Pedestrian Cicadas, Kota Bandung”. Maka pertanyaan penelitian dalam kajian ini adalah: “Bagaimana efektivitas penataan Pedagang Kaki Lima pada jalur pedestrian Cicadas didasarkan pada persepsi pejalan kaki?“. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan suatu metode gabungan metode kuantitatif dan metode kualitatif (Mix Method Research). Dengan teknik pengambilan sampel yaitu Probalitiy Sampling dengan menggunakan Simple Random Sampling diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 100 responden. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis deskriptif dan teknik analisis uji validitas dan uji reabilitas dengan pengukuran skala likert. Hasil dari penelitian ini rata-rata menunjukkan bahwa, pendapat responden terhadap objek penelitian pada umumya menyatakan “Tidak Efektif” terhadap kondisi suatu eksisting dilapangan (Jalur Pedestrian) dikoridor jalan Jenderal Ahmad Yani (Cicadas).
Strategi Ketercapaian Smart Environment di SWK Gedebage Rajwa Komalaningtyas; Tarlani Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (502.676 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4145

Abstract

Abstract. With the increasing number of urban problems, the government, in this case as a policy maker, can make policy innovations, which one to use technology. Through the Movement Towards 100 Smart City program created by the Ministry of Information and Technology, Bandung has become one of these cities. SWK Gedebage, which is one of eight SWKs in Bandung that will become the City Service Center (PPK) and a technopolis area or area built based on technology, which is stipulated in the Bandung City RDTR 2015-2035. The main problem in Gedebage SWK is flooding, there is garbage piling up in the Gedebage Main Market which causes clogged drainage, causing flooding on roads, to flooding in settlements and housing. Therefore, this study aims to determine the potential and environmental problems in SWK Gedebage and make an achievement strategy based on smart environment criteria in realizing SWK Gedebage as a Technopolis Area and PPK Gedebage. The analysis used using SWOT with secondary data collection of government documents and primary field findings. The strategy is made in accordance with the criteria contained in the smart environment, Environmental Protection Program (Protection), Waste and Waste Management (Waste), and Responsible Energy Management (energy). The results of the SWOT found that the strategic position was made with the problem of flooding and waste, through improving the management of flood management on the Cinambo River border and improving the management of household waste disposal using technology (Incinerator, recycling, and composting). Abstrak. Semakin banyaknya permasalah perkotaan maka pemerintah yang dalam hal ini sebagai pembuat kebijakan dapat melakukan inovasi kebijakan, salah satunya dengan penggunaan teknologi. Melalui program Gerakan Menuju 100 Smart city yang dibuat oleh Kementrian dan Informasi, Kota Bandung menjadi salah satu kota tersebut. SWK Gedebage yang merupakan satu dari delapan SWK di Kota Bandung yang akan menjadi Pusat Pelayanan Kota (PPK) dan merupakan kawasan teknopolis atau kawasan yang dibangun berbasis teknologi, yang ditetapkan pada RDTR Kota Bandung 2015-2035. Permasalahan utama di SWK Gedebage adalah banjir, terdapat sampah menumpuk di Pasar Induk Gedebage yang menyebabkan drainase tersumbat sehingga menimbulkan banjir di ruas jalan, sampai dengan banjir di permukiman dan perumahan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan permasalah lingkungan di SWK Gedebage dan membuat strategi ketercapaian berdasarkan kriteria smart environment dalam mewujudkan SWK Gedebage sebagai Kawasan Teknopolis dan PPK Gedebage. Analisis yang digunakan menggunakan SWOT dengan pengumpulan data sekunder dokumen pemerintah dan primer penemuan lapangan. Strategi yang dibuat sesuai dengan kriteria yang terdapat di smart environment, Program Proteksi Lingkungan (Protection), Tata Kelola Sampah dan Limbah (Waste), dan Tata Kelola Energi yang bertanggung jawab (energy). Hasil dari SWOT ditemukan bahwa posisi strategi dibuat dengan permasalahan banjir dan sampah, melalui peningkatan pengelolaan penanganan banjir di sempadan Sungai Cinambo dan peningkatan pengelolaan pembuangan limbah rumah tangga menggunakan teknologi (Incenerator, recycling, dan composting).
Evaluasi Implementasi Penanganan Dampak Sosial Ekonomi Akibat Pandemi Covid-19 Aldrieva Audria Araminta Enoch; tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.214 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4196

Abstract

Abstract. In general, this study aims to evaluate the effectiveness of the implementation of socio-economic management due to the Covid-19 pandemic that has been carried out by the government. The impact of the Covid-19 pandemic which can simultaneously reduce the economy makes the government have to take the right and fast decisions. Indonesia was able to soften the Covid-19 pandemic through the PEN program which has become the center of attention of several countries, such as America. Bandung is the city with the highest population density on the island of Java and the performance of the Bandung city government is ranked first in accelerating the handling of Covid-19. The research method uses qualitative research methods. The data analysis used by the researcher is Comparative Analysis and LFA (Logical Framework Analysis). Evaluation of the results of the implementation of the handling of social impacts in the City of Bandung shows that the handling carried out by the government has not been optimal in dealing with problems caused by the Covid-19 pandemic. This is due to government decision-making that hampers economic growth, limited use of technology, and limited health services. Abstrak. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana efektivitas pelaksanaan penanganan sosial ekonomi akibat pandemi Covid-19 yang telah dilakukan pemerintah. Dampak pandemi Covid-19 yang mampu menurunkan perekonomian secara serentak membuat pemerintah harus mengambil keputusan yang tepat dan cepat. Indonesia mampu melunakan pandemi Covid-19 melalui program PEN menjadi pusat perhatian beberapa negara, seperti Amerika. Kota bandung merupakan kota dengan kepadatan penduduk tertinggi di pulau jawa dan kinerja pemerintah kota bandung menduduki peringkat pertama dalam percepatan penanganan Covid-19. Metode penelitian menggunakan metode penelitian kualitatif. Analisis data yang digunakan oleh peneliti adalah Analisis Komparatif dan LFA (Logical Framefork Analysis). Evaluasi terhadap hasil capaian dari implementasi penanganan dampak sosial Kota Bandung menunjukkan bahwa penanganan yang dilakukan pemerintah belum optimal dalam menangani permasalahan yang diakibatkan pandemi Covid-19. Hal tersebut dikarenakan pengambilan keputusan pemintah yang menghambat pertumbuhan ekonomi, adanya keterbatasan pemanfaatan teknologi, dan layanan kesehatan yang terbatas.
Kapasitas Adaptif Masyarakat Pesisir terhadap Bencana Abrasi Pantai berdasarkan Sumber Daya Sosial : Studi Kasus : Desa Simpang Ayam, Bengkalis, Riau Annisa Talazur Akyun; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (517.659 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4255

Abstract

Abstract. Global warming is a global issue that is the main cause of climate change. One of the causes of the increasing potential for coastal abrasion in coastal areas is sea level rise due to climate change, tides, waves and exacerbated by human activities in coastal areas. This can pose risks to life in coastal areas such as loss of life, damage to housing and infrastructure and loss of livelihoods. Risk can be reduced if a region has adaptive capacity. Thus, the formulation of the problem in this study is how the adaptive capacity of coastal communities to coastal abrasion disaster in Simpang Ayam Village, Bengkalis, Riau. The approach method used is a quantitative method with scoring analysis techniques. Data was collected by distributing questionnaires, observations, interviews and data from the relevant agencies. In this study, the sample was taken using probability sampling technique by means of simple random sampling so that the sample used was 77 respondents. The results of this study indicate that the adaptive capacity of coastal communities to coastal abrasion disasters in Simpang Ayam Village based on social resources is 3.52 which is included in the high class. This means that the community is able to adapt and reduce the risk of abrasion disasters. Abstrak. Pemanasan global merupakan isu dunia yang menjadi penyebab utama terjadinya perubahan iklim. Meningkatnya potensi abrasi pantai di wilayah pesisir salah satunya disebabkan oleh naiknya muka air laut akibat dari perubahan iklim, pasang surut, gelombang dan diperparah dengan aktivitas-aktivitas manusia di wilayah pesisir. Hal tersebut dapat menimbulkan risiko bagi kehidupan di wilayah pesisir seperti korban jiwa, rusaknya tempat tinggal dan infrastruktur serta hilangnya mata pencaharian. Risiko dapat berkurang jika suatu wilayah memiliki kapasitas adaptif. Sehingga, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kapasitas adaptif masyarakat pesisir terhadap bencana abrasi pantai di Desa Simpang Ayam, Bengkalis, Riau. Metode pendekatan yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan teknik analisis skoring. Pengumpulan data dilakukan dengan cara penyebaran kuesioner, observasi, wawancara serta data dari instansi yang terkait. Pada penelitian ini pengambilan sampel dilakukan dengan teknik probability sampling dengan cara simple random sampling sehingga diperoleh sampel yang digunakan sebanyak 77 responden. Hasil dari penelitian ini menujukkan bahwa kapasitas adaptif masyarakat pesisir terhadap bencana abrasi pantai di Desa Simpang Ayam berdasarkan sumber daya sosial adalah sebesar 3,52 yang termasuk dalam kelas tinggi. Artinya, masyarakat mampu untuk beradaptasi dan melakukan pengurangan risiko bencana abrasi.
Kajian Tingkat Walkabilitas Kawasan Wisata Belanja Kain Cigondewah Kota Bandung Reffani Julianti; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.201 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4300

Abstract

Abstract. Cigondewah tourist area is a textile shopping area and it officially reactivated as a tourist village in Bandung City after the Covid-19 pandemic. Cigondewah tourism village is located along the cigondewah corridor. Cigodewah tourist area has a position as a city strategy area with specifications as textile center in the RTRW of Bandung. Commercial areas such as Cigondewah tourist area have high potential to become the economic driving force for Bandung. It’s necessary to develop the area which can start with the development of pedestrian paths. The pedestrian path is important for this area because tourists in a commercial area like this need to move from one shop to another.The need for a special pedestrian path also arises because of the mixing of transportation modes in one lane with a road width approximately 4-6 meters. So, it’s necessary to hold a pedestrian path in Cigondewah tourist area to solve the problem, however, before carrying out development, a walkability study is needed. So, the level of walkability of Cigondewah tourist area needs to be the main focus as the first step. Walkability is the level of friendliness to walk in an area. To determine the walkability of an area, various methods can be used, including the Global Walkability Index developed by Krambeck, this study of the Global Walkability Index using observations and interviews from the field. After the calculations, the final results of this study showed that Cigondewah tourist area was not walkable with a walkability value less than 24. Abstrak. Kawasan Wisata Kain Cigondewah adalah sebuah area pertokoan kain yang secara resmi baru saja di aktifkan kembali sebagai salah satu kampung wisata di Kota Bandung setelah pandemi Covid-19 menyerang. Kampung Wisata Kain Cigondewah ini berada di sepanjang koridor cigondewah. Kawasan wisata kain cigodewah memiliki posisi sebagai Kawasan strategis kota dengan spesifikasi keunggulan sentra tekstilnya di dalam RTRW Kota Bandung. Kawasan komersil seperti Kawasan Wisata Kain Cigondewah memiliki potensi yang tinggi untuk menjadi roda penggerak ekonomi Kota Bandung. Maka, perlu dilakukannya pengembangan Kawasan yang bisa dimulai dengan pengembangan jalur pejalan kakinya. Jalur pejalan kaki penting bagi Kawasan Wisata Kain Cigondewah karena pengunjung di area komersil seperti ini perlu berpindah dari toko satu ke toko yang lain. Kebutuhan akan jalur khusus pejalan kaki juga timbul karena bercampurnya antara setiap moda transportasi dalam 1 jalur yang lebar jalannya kisaran 4-6 meter ini. Sehingga, untuk menangani masalah tersebut, perlu diadakannya jalur pejalan kaki di Kawasan Wisata Kain Cigondewah, namun, sebelum melakukan pengembangan, diperlukan kajian walkabilitasnya terlebih dahulu sebagai Langkah pertama. Maka, tingkat walkabilitas Kawasan Wisata Kain Cigondewah perlu menjadi focus utama sebagai Langkah pertama. Walkabilitas adalah tingkat keramahan untuk berjalan kaki di suatu area. Untuk mengetahui walkabilitas suatu area bisa menggunakan berbagai cara termasuk Global Walkability Index yang dikembangkan oleh Krambeck, kajian Global Walkability Index ini menggunakan hasil observasi dan wawancara dari lapangan. Setelah peneliti melakukan perhitungan, didapatkan hasil akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa Kawasan Wisata Kain Cigondewah tidak walkable dengan nilai walkabilitas kurang dari 24.
Evaluasi Jalur Pedestrian Koridor Jalan Raya Cilegon - Jalan SA Tirtayasa Kota Cilegon Ifwanda Rizkillah Aqil; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (171.142 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4320

Abstract

Abstract. Pedestrian path is a special path for pedestrians that is separated from the vehicle traffic lane, has a higher surface elevation, is located next to and parallel to the vehicle traffic lane. Evaluation of pedestrian paths is certainly important as a consideration for revitalizing pedestrian paths so that they can function properly and provide comfort to pedestrians. Ideally the pedestrian path can provide comfort, enjoyment, security, and safety. The purpose of this study is to evaluate the pedestrian path in the corridor of Jalan Raya Cilegon to Jalan SA Tirtayasa, Cilegon City so that the causes of pedestrian malfunctions are known and become input for the Cilegon City government in revitalizing pedestrian paths. The author uses an empirical, quantitative, qualitative and mix method approach. with primary and secondary data collection using literature studies, interviews, observations, questionnaires, and documentation. The author uses descriptive analysis techniques, descriptive statistics, and multiple linear regression. Based on this analysis, the results of the suitability and completeness of the pedestrian path elements, the causes of the change in the function of the pedestrian path, and the variables that affect pedestrian comfort, are used as inputs in revitalizing the pedestrian path of the Cilegon Highway Corridor to SA Tirtayasa Street, Cilegon City, so that development can be carried out effectively and efficiently, and pedestrian paths can function as they should. Abstrak. Jalur pedestrian merupakan sebuah jalur khusus bagi pejalan kaki yang terpisah dari jalur lalu lintas kendaraan, memiliki elevasi permukaan yang lebih tinggi, terletak bersebelahan dan sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan. Evaluasi jalur pedestrian tentu penting sebagai bahan pertimbangan untuk merevitalisasi jalur pedestrian sehingga dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya dan memberikan kenyamanan kepada pejalan kaki. Idealnya jalur pedestrian dapat memberikan kenyamanan, kenikmatan, keamanan, dan keselamatan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi jalur pedestrian pada koridor jalan Raya Cilegon hingga jalan SA Tirtayasa Kota Cilegon agar diketahui penyebab tidak berfungsinya pedestrian dan menjadi masukan bagi pemerintah Kota Cilegon dalam merevitalisasi jalur pedestrian, penulis menggunakan metode pendekatan memakai empiris, kuantitatif, kualitatif dan mix methods dengan pengumpulan data primer dan sekunder menggunakan studi literatur, wawancara, observasi, kuesioner, dan dokumentasi. Penulis menggunakan teknik analisis deksriptif, statistik deskriptif, serta regresi linier berganda. Berdasarkan analisis tersebut, didapatkan hasil kesesuaian dan kelengkapan elemen jalur pedestrian, penyebab terjadinya alih fungsi jalur pedestrian, dan variabel yang mempengaruhi kenyamanan pejalan kaki, untuk digunakan sebagai bahan masukan dalam merevitalisai jalur pedestrian koridor jalan Raya Cilegon hingga jalan SA Tirtayasa Kota Cilegon, sehingga pembangunan dapat dilakukan secara efektif dan efisien, serta jalur pedestrian dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.
Estimasi Bangkitan Pergerakan Perjalanan Masyarakat dengan Pendekatan Disagregat: Studi Kasus : Desa Cemarajaya, Kecamatan Cibuaya, Kabupaten Karawang Bagaskara Budiprasetya; Dadan Mukhsin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.036 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4487

Abstract

Abstract. Transportation within the macroeconomic framework is the backbone of the economy at the national, regional and local levels, for both urban and rural areas. Movement needs is an activity that usually must be done every day. According to the Social Welfare Integrated Data published in 2021, Cemarajaya Village is the village with the highest number of poor people in Cibuaya District. The problem of poverty and the various needs of the movement of the Village Community have prompted researchers to estimate the generation of movement in Cemarajaya Village hoping that it can be a consideration for the Regional Government of Karawang Regency to provide public transportation in Cemarajaya Village. The approach method used in this research is the disaggregated approach, which is an approach to calculate the number of movement generation based on household attributes, such as vehicle ownership, income level and family size. The sampling technique used is proportional stratified random sampling with the aim of obtaining a representative sample by looking at the population of Cemarajaya Village. The method of analysis used in this research is statistical test and category analysis. The statistical test results show that the three household attribute variables affect the trip generation in Cemarajaya Village. After calculating with Category Analysis, there are 3927 trip movements generated in 1 day. Based on the results of the estimation of trip generation, the researcher suggests that the local government conduct a feasibility study on the provision of public transportation for the people of Cemarajaya Village. Abstrak. Transportasi dalam kerangka makro ekonomi merupakan tulang punggung perekonomian baik di tingkat nasional, regional maupun lokal, untuk wilayah perkotaan maupun pedesaan. Pemenuhan kebutuhan merupakan kegiatan yang biasanya harus di lakukan setiap hari. Menurut Data Terpadu Kesejahteraan Sosial yang diterbitkan pada tahun 2021 Desa Cemarajaya merupakan desa dengan jumlah penduduk miskin terbanyak di Kecamatan Cibuaya. Persoalan kemiskinan serta kebutuhan pergerakan Masyarakat Desa yang bermacam - macam mendorong peneliti untuk melakukan estimasi bangkitan pergerakan di Desa Cemarajaya dengan harapan dapat menjadi pertimbangan bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Karawang untuk melakukan penyediaan angkutan umum di Desa Cemarajaya. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan Disagregat, yaitu pendekatan untuk menghitung jumlah bangkitan pergerakan berdasarkan atribut rumah tangga, seperti kepemilikan kendaraan, tingkat pendapatan dan ukuran keluarga. Teknik sampling yang digunakan yaitu proportional stratified random sampling dengan tujuan untuk meperoleh sampel yang representative dengan melihat populasi Desa Cemarajaya. Adapun Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu uji statistik dan analisis kategori. Hasil uji statistic menunjukan bahwa ketiga variabel atribut rumah tangga mempengaruhi bangkitan pergerakan di Desa Cemarajaya. Setelah dilakukan perhitungan dengan Analisis Kategori terdapat sejumlah 3927 bangkitan pergerakan perjalanan yang dihasilkan dalam 1 hari. Berdasarkan hasil estimasi bangkitan pergerakan peneliti menyarankan agar Pemerintah Daerah melakukan studi kelayakan penyediaan angkutan umum bagi masyarakat Desa Cemarajaya.
Peluang yang dapat Diraih oleh Desa Patimban dari Pembangunan Pelabuhan Patimban Ahmad Gozali; Tarlani Ernawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 1 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i1.5634

Abstract

Abstract. Infrastructure development is one of the pillars of the state capital, one of which is infrastructure development in West Java which continues to be developed through several National Strategic Projects. The efforts made by the government in the National Strategic Project are the development of the Rebana Triangle Area which covers the areas of Subang Regency, Sumedang Regency, Indramayu Regency, Majalengka Regency, Cirebon Regency, Cirebon City and Kuningan Regency. This development is expected to become the center of an industrial area in West Java with an area of ​​54,000 ha. Triangle Rebana which is a new industrial area in West Java. The construction of the Patimban Port project is one of the government's strategies in reducing capacity at the Tanjung Priok Port. Patimban Port is located in Patimban Village, Pusakanagara District, Subang Regency, West Java Province. The development of Patimban Port is planned to use 542 ha of land in Patimban, with details of 300 ha of land and 242 ha of sea reclamation. Seeing the enormous potential and opportunities that exist at the Patimban port, the local government needs special efforts to prepare superior human resources so that they can respond to the opportunities that come from the presence of the Patimban port. to see readiness, this study uses the Community Readiness Model (CRM) method. The CRM model is able to help see moving or advancing a group or institution in change in various ways. From the results of the analysis, it can be seen that the opportunities from the Patimban port can be utilized by the local community and from the perspective of the readiness of the government and the local community. Abstrak. Perkembangan infrastruktur menjadi salah satu sebagai penyangga ibukota negara. salah satunya pengembangan infrastruktur di Jawa Barat yang terus dikembangkan melalui beberapa Proyek Strategis Nasional. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam Proyek Strategis Nasional yaitu pengembangan Kawasan Segitiga Rebana dengan mencakup wilayah Kab Subang, Kab Sumedang, Kab Indramayu, Kab Majalengka, Kab Cirebon, Kota Cirebon, dan Kab Kuningan. Pengembangan ini diharapkan dapat menjadi sentra Kawasan industri di Jawa Barat dengan luas 54,000 ha. Segitiga Rebana yang menjadi Kawasan industri baru di Jawa Barat. Pembangunan proyek Pelabuhan Patimban merupakan salah satu dari strategi pemerintah dalam mengurangi kapasitas di Pelabuhan Tanjung Priuk. Pelabuhan patimban yang berlokasi di Desa Patimban, Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat, Pembangunan pelabuhan patimban direncanakan menggunakan lahan di patimban seluas 542 ha dengan detailnya 300 ha daratan dan 242 ha reklamasi laut. Melihat begitu besarnya potensi dan peluang yang ada di pelabuhan patimban, pemerintah setempat perlu adanya upaya khusus dalam menyiapkan SDM yang unggul agar dapat menjawab peluang dari hadirnya pelabuhan patimban. untuk melihat kesiapan, penelitian ini menggunakan metode Community Readiness Model (CRM). Model CRM mampu membantu melihat melihat bergerak atau maju suatu kelompok atau lembaga dalam perubahan dengan berbagai cara. Dari hasil analisis dapat dilihat peluang dari pelabuhan patimban yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat serta melihat dari sisi kesiapan pemerintah dan masyarakat setempat.

Page 11 of 23 | Total Record : 221