cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Strategi Pengembangan Komoditas Unggulan Perikanan Tangkap di Kabupaten Teluk Bintuni dalam Mendukung Perekonomian Daerah Siti Nur Azisyah; Asep Hariyanto
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8698

Abstract

Abstract. Fisheries production in Teluk Bintuni Regency is still far from the existing production potential, where in 2020 it was only 893.41 tons. This analysis uses mixed methods with the aim of knowing the leading commodities, the role of leading commodities and the right strategy in Teluk Bintuni Regency in the capture fisheries sector. The method used is secondary data collection through institutions and primary data through interviews and observations. To analyze the data, Location Quantient, Shift Share, Porter's Diamond Theory and SWOT analysis techniques were used. Based on the results of the analysis, it is known that the leading commodities in Teluk Bintuni Regency are crab, manyung, sembilang and shrimp which can be the main driving commodity in the capture fisheries sector. Based on the results of the LQ<1 and Shift Share<0 analysis and the comparison score of porter's diamond theory, it is concluded that the contribution of capture fisheries to the economy does not have a special role. SWOT analysis obtained diagram results are in quadrant 1. The strategy used has strengths and opportunities. For this reason, the strategy on S-O is (1) Preparation of regulations / policies in supporting integrated and sustainable resource management and utilization (2) Making innovations in producing other products from superior commodity catches, namely, crabs, Manyung, sembilang and shrimp. (3)Increase the production of commodity catches of Black Bawal, White Bawal, Gulamah, Black Snapper, White Snapper, Grouper, Kuwe, Layur, Manyung, Pari and Sembilang which are included in reef and demersal fish species. (4) Improvement of adequate facilities and infrastructure such as the average type of boat used by fishermen >10GT, using technology such as GPS and Image. The existing TPI is utilized according to its function, improving the infrastructure of the Bintuni-Sorong and Bintuni-Manokwari trans roads and (5)Improving the function of cooperatives for fishermen. Abstrak. Produksi perikanan di Kabupaten Teluk Bintuni masih jauh dari potensi produksi yang ada, dimana pada tahun 2020 hanya sebesar 893,41 ton. Analisis ini menggunakan mixed method dengan tujuan yaitu mengetahui komoditas unggulan, peranan komoditas unggulan serta strategi yang tepat di Kabupaten Teluk Bintuni pada sektor perikanan tangkap. Metode yang digunakan yaitu pengumpulan data sekunder melalui instansional dan data primer melalui wawancara dan observasi. Untuk menganalisis data digunakan teknik analisis Location Quantient, Shift Share, Teori Berlian Porter dan SWOT. Berdasarkan hasil analisis diketahui komoditas unggulan di Kabupaten Teluk Bintuni yaitu kepiting, manyung, sembilang dan udang yang dapat menjadi komoditas penggerak utama pada sektor perikanan tangkap. Berdasarkan hasil analisis LQ<1 dan Shift Share<0 dan skor perbandingan teori berlian porter disimpulkan kontribusi perikanan tangkap untuk perekonomian belum memiliki peran khusus. Analisis SWOT didapatkan hasil diagram berada pada kuadran 1. Strategi yang digunakan memiliki kekuatan dan peluang. Untuk itu strategi pada S-O yaitu (1)Penyusunan regulasi/kebijakan dalam mendukung pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya secara terpadu serta berkelanjutan (2)Membuat inovasi dalam memproduksi produk lain dari hasil tangkapan komoditas unggulan yaitu, Kepiting, Manyung, sembilang dan udang. (3)Meningkatkan produksi hasil tangkap komoditas Bawal Hitam, Bawal Putih, Gulamah, Kakap Hitam, Kakap Putih, Kerapu, Kuwe, Layur, Manyung, Pari dan Sembilang yang termasuk pada jenis ikan karang dan demersal. (4)Peningkatan sarana dan prasarana yang memadai seperti rata-rata jenis kapal yang digunakan nelayan >10GT, menggunakan teknologi seperti GPS dan Citra. TPI yang ada dimanfaatkan sesuai fungsinya, melakukan perbaikan infrastruktur jalan trans Bintuni-Sorong dan Bintuni-Manokwari dan (5)Meningkatkan fungsi koperasi untuk nelayan.
Pembangunan Pariwisata di Kecamatan Ternate Barat Berdasarkan Komponen Pariwisata 4A (Attraction, Amenities, Ancillary, Accsesibility) Chantika Mauliddina Fabanyo; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8701

Abstract

Abstract. Ternate city is an archipelago-based area with very diverse natural resources, one of which is in the natural tourism sector which has the potential to be developed. The superior natural sector in Ternate city is located in West Ternate district. West Ternate district itself has five natural attractions that have been stipulated in the RIPPDA. However, from the five attractions there are gaps related to tourism components 4A (Attraction, Amenities, Ancilliary and Accessibility). Therefore, the author conducted this research with the aim of reviewing the results of tourism development in West Ternate District based on component 4A and identifying the obstacles encountered in its development. The methodology used in this study is a qualitative method with primary and secondary data collection and were analyzed using descriptive analysis based on interview results. It was found that West Ternate District is included in the tourism development area with the theme of natural tourism that has the potential and has a considerable attraction for tourists in Ternate City, but is not optimal enough in tourism development, this can be seen from the 4A tourism component in each tourist attraction that is not available or abandoned. As well as there are obstacles in tourism development in West Ternate District, namely the weak synergy between planning documents, and the low capacity and competence of planning apparatus resources, where the RIPPOW Document only exists for one tourist object, namely RIPPOW batu angus, for other Tourism Objects it is not available or missing as well as a tourism master plan that is not yet available. Abstrak. Kota Ternate merupakan daerah yang berbasis kepulauan dengan memiliki kekayaan alam yang sangat beragam, salah satunya pada sektor wisata alam yang berpeluang untuk dikembangkan. Sektor wisata alam yang unggul di Kota Ternate berlokasi di kecamatan Ternate Barat. Kecamatan Ternate Barat sendiri terdapat lima Objek Wisata Alam yang telah di tetapkan dalam RIPPDA. Namun dari ke lima objek wisata tersebut terdapat kesenjangan terkait komponen Pariwisata 4A Attraction (atraksi wisata), Amenities (ameitas), Ancilliary (tambahan pelayanan) dan Accesibility (aksesibilitas). Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian ini dengan tujuan untuk mengkaji hasil pembangunan pariwisata di Kecamatan Ternate Barat berdasarkan komponen 4A serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi dalam pembangunannya. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitiatif dengan pengumpulan data secara primer dan sekunder serta di analisis dengan menggunakan analisis deskriptif berdasarkan hasil wawancara. Didapatkan hasil bahwa Kecamatan Ternate Barat termasuk dalam kawasan pengembangan pariwisata dengan tema wisata alam yang berpotensi serta mempunyai daya tarik cukup besar bagi wisatawan di Kota Ternate, tetapi belum cukup optimal dalam pembangunan pariwisatanya hal ini dapat dilihat dari komponen pariwisata 4A di setiap objek wisata yang tidak tersedia maupun terbengkalai. Serta terdapat kendala dalam pembangunan pariwisata di Kecamatan Ternate Barat, yaitu lemahnya sinergitas antar dokumen perencanaan, serta rendahnya kapasitas dan kompetensi sumber daya aparatur perencana, dimana Dokumen RIPPOW hanya ada untuk satu objek wisata yaitu RIPPOW batu angus, untuk Objek Wisata lainnya tidak tersedia atau hilang serta masterplan pariwisata yang belum tersedia.
Kajian Dampak Alih Fungsi Lahan Sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur Kabupaten Cianjur Muhamad Arpi Darajat; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8706

Abstract

Abstract. Land conversion is a change in land use from an agricultural land to a built-up area, such as a settlement or other physical building. Land conversion is considered to be a big problem when it results in environmental damage and affects the community's economic structure. Then, with adequate road infrastructure, and declining agricultural output, it is used as an indication of one of the factors causing changes in the economic livelihoods of the people in Cianjur District. In this study the aim was to identify the impact of conversion of paddy fields to the structure of community livelihoods in Cianjur District, while the method used in this research was a quantitative method. The conclusion of this study is that the impact of the conversion of paddy fields in Cianjur District greatly influences people's livelihoods and income. it is considered that the income of being a farmer is smaller than the value of working in the trade and services sector, then the widespread conversion of land functions is caused by them preferring their land to be used as a built-up area because it has a very high selling value. Abstrak. Alih fungsi lahan merupakan perubahan fungsi lahan yang awalnya suatu lahan pertanian berubah menjadi wilayah terbangun, seperti dijadikan permukiman ataupun bangunan fisik lainnya. Alih fungsi lahan dianggap menjadi persoalan besar ketika berakibat pada kerusakan lingkungan dan menyentuh terhadap struktur perekonomian masyarakat Kemudian dengan prasarana jalan yang memadai, serta hasil pertanian yang menurun dijadikan indikasi salah satu faktor penyebab perubahan mata pencaharian ekonomi masyarakat di Kecamatan Cianjur. Dalam penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dampak alih fungsi lahan sawah terhadap Struktur Mata Pencaharian Masyarakat di Kecamatan Cianjur, adapun metode yang digunakan dalam peneliltian ini adalah metode kuantitatif. kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dampak alih fungsi lahan sawah di Kecamatan Cianjur sangat berpengaruh terhadap mata pencaharian dan pendapatan masyarakat. hal ini dinilai bahwa penghasilan menjadi petani lebih kecil dibandingkan dengan nilai bekerja di bidang perdagangan dan jasa, kemudian maraknya alih fungsi lahan diakibatkan mereka lebih memilih lahannya dijadikan sebagai kawasan terbangun karena mempunyai nilai jual yang sangat tinggi.
Model Kelembagaan dalam Pengelolaan Desa Wisata Berbasis Agro-ekowisata dan Budaya di Indonesia Lulik Lulik Fullela Rakhman; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8724

Abstract

Abstract. The development of tourism villages is an effort to improve the local economy through its contribution to village revenue. In this case, the role and performance of village institutions determine the success of such development. Institutions play a role in managing resources to achieve development goals. This study aims to identify institutional models of agro-ecotourism and culture-based tourism village management in Indonesia. Unlike previous studies, this study uses a systematic literature review (SLC) approach to the results of related research in Indonesia over the past 10 years (2012-2022). This study found that there are 4 (four) institutional models of agro-ecotourism and culture-based tourism village management in Indonesia, namely: 1) centralized; 2) quadrapel helix; 3) pentahelix; and 4) triplehelix. The four models have similarities that are based on collaboration and partnerships between various actors in the management of tourist villages. The difference lies in the driving institution and the relationship between actors in the management of tourist villages. The success of tourist villages in Indonesia is considered quite successful, namely using the penta helix model. Abstrak. Pengembangan desa wisata merupakan upaya untuk meningkatkan perekonomian lokal melalui kontribusinya terhadap pendapatan asli desa. Dalam hal ini, peran dan kinerja kelembagaan desa sangat menentukan keberhasilan pembangunan tersebut. Lembaga berperan mengelola sumber daya untuk mencapai tujuan pembangunan. Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi model kelembagaan pengelolaan desa wisata berbasis agro-ekowisata dan budaya di Indonesia. Berbeda dengan studi sebelumnya, studi ini menggunakan pendekatan systematic literature review (SLC) terhadap hasil – hasil penelitian terkait di Indonesia selama 10 tahun terakhir (2012 – 2022). Studi ini menemukan bahwa terdapat 4 (empat) model kelembagaan pengelolaan desa wisata berbasis agro-ekowisata dan budaya di Indonesia, yaitu: 1) terpusat; 2) quadrapel helix; 3) pentahelix; dan 4) triplehelix. Dari keempat model tersebut, memiliki kesamaan yang berlandaskan pada kolaborasi dan kemitraan antara berbagai aktor dalam pengelolaan desa wisata. Adapun perbedaan terletak pada lembaga penggerak dan hubungan antar aktor dalam pengelolaan desa wisata. Keberhasilan desa wisata di Indonesia yang di anggap cukup berhasil yaitu menggunakan model penta helix.
Kesiapan Masyarakat Kecamatan Langgam terhadap Pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan Azzi Muhammad Arkan; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8734

Abstract

Abstract. One of the 100 Techno Parks that have been planned by the central government is in Pelalawan Regency in which a palm oil downstream industry will be built and making the Pelalawan Techno Park is largest Techno Park Area in Indonesia today with an area of 4.380 hectares, this is in accordance with the potential owned by Pelalawan Regency, namely oil palm as its mainstay commodity. Development is closely related to the readiness of the community, in this case the readiness of the community in Langgam District in facing the development of the Pelalawan Techno Park Area. If the community is not ready to face the existing development, it will affect the condition of the community itself. This studi used a quantitative approach with analysis of community readiness model (CRM) which was used to identify the level of community readiness in Langgam District through interviews with 11 key respondents. This study uses a quantitative approach with descriptive statistical analysis to identify the impacts arising from the development of the Techno Park Area and analysis of the community readiness model (CRM) which is used to identify the level of community readiness in Langgam District. Based on the results of the analysis that has been carried out, readiness of community in Langgam District for development of Pelalawan Techno Park Area is at level 6 of 9 levels of community readiness, initation. In initation stage marked by existence of sufficient information abaout effort is available at least most of the community has basic knowledge of the effort, the leader plays a key role in planning the effort, the community begins to get involved in handling existing problems because it is their responsibilitu, the resource used to support new efforts obtained, but tis action that have been taken and are ongoing are still seen as new ventures. Abstrak. Salah satu dari 100 Techno Park yang telah direncanakan oleh pemerintah pusat berada di Kabupaten Pelalawan yang didalamnya akan dibangun industri hilirisasi kelapa sawit dan menjadikan Techno Park Pelalawan sebagai Kawasan Techno Park terluas di Indonesia saat ini dengan luas wilayah mencapai 4.380 hektar, hal tersebut sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh Kabupaten Pelalawan yaitu kelapa sawit sebagai komoditi andalannya. Pembangunan erat kaitannya dengan kesiapan masyarakat dalam hal ini kesiapan masyarakat di Kecamatan Langgam dalam menghadapi pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan. Jika masyarakat tidak siap menghadapi pembangunan yang ada, maka akan mempengaruhi kondisi masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kesiapan masyarakat di Kecamatan Langgam terdahap pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dengan analisis community readiness model (CRM) yang digunakan untuk mengidentifikasi tingkat kesiapan masyarakat di Kecamatan Langgam melalui wawancara kepada 11 responden kunci. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, kesiapan masyarakat di Kecamatan terhadap pembangunan Kawasan Techno Park Pelalawan berada pada tingkatan ke 6 dari 9 tingkat kesiapan masyarakat yaitu initiation. Tahap initiation ditandai dengan keberadaan informasi mengenai upaya sudah cukup tersedia setidaknya sebagian besar masyarakat memiliki pengetahuan dasar akan upaya, pemimpin berperan kunci untuk merencanakan upaya, masyarakat mulai terlibat dalam penanganan masalah yang ada karena merupakan tanggung jawab mereka, sumber daya yang digunakan untuk mendukung upaya baru diperoleh, namun tindakan yang telah dilakukan dan sedang berlangsung masih dipandang sebagai usaha yang baru.
Kajian Konservasi Gua Pawon Berdasarkan Kondisi Ekosistem Deden Rizki Oktaviana; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8749

Abstract

Abstract. Pawon Cave is a natural cave located in the Citatah karst formation area, Rajamandala and is included in the list of geological nature reserves protected by the West Java Provincial Government. Pawon Cave is evidence of the existence of the Ancient Lake Bandung. However, at this time the vulnerability of the cave ecosystem and natural beauty began to change. There is quite an alarming phenomenon where the cave area has begun to be destroyed. It can be seen in the current physical form of the cave, where there is vandalism or there are graffiti on the walls of the cave carried out by irresponsible humans, not only that limestone mining which is currently still taking place in the area is also worrying because it can erode the rocks around the area. The existence of limestone processing also increases air pollution which is getting worse because can be seen that thick black smoke continues to float into the air caused by the processing. Therefore, the purpose of this research is "to identify the internal and external condition classes of Pawon Cave, as well as conservation efforts that will be carried out based on the identification of condition classes." This research uses quantitative and qualitative approach methods. With a scoring analysis method based on the results of field observations according to applicable parameters. Therefore, the conclusion of this research is that there are two components, namely the internal condition of the cave and the external condition of the cave. overall, the internal and external conditions of Pawon Cave are included in the moderate category. There are several factors that must be improved, such as the physical aspects of the cave, the type of ornamentation and the utilization of the area which will later be carried out in the direction of conservation in the Pawon Cave area. Abstrak. Gua pawon adalah gua alami yang berada di kawasan formasi karst Citatah, Rajamandala dan termasuk kedalam daftar cagar alam geologi yang dilindungi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gua Pawon menjadi bukti akan keberadaan Danau Purba Bandung. Namun pada saat ini kerentanan ekosistem gua serta keindahan alam mulai mengalami perubahan. Terdapat fenomena cukup mengkhawatirkan dimana Kawasan gua sudah mulai hancur. Terlihat pada bentuk fisik gua saat ini, dimana terdapat vandalisme atau terdapat coretan – coretan pada dinding gua yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab tidak hanya itu penambangan batuan kapur yang saat ini masih terjadi di kawasan tersebut juga mengkhawatirkan karena dapat mengikis batuan di sekitar kawasan tersebut. Adanya pengolahan batuan kapur juga meningkatkan polusi udara yang semakin memburuk karena terlihat asap tebal hitam yang terus menerus mengapung ke udara yang diakibatkan dari pengolahan tersebut. Maka dari itu tujuan dalam penelitian ini yaitu “mengindentifikasi kelas kondisi internal dan eksternal Gua Pawon, serta upaya konservasi yang akan dilakukan berdasarkan identifikasi kelas kondisi.” Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dengan metode analisis skoring berdasarkan hasil dari observasi lapangan sesuai parameter yang berlaku. Maka dari itu kesimpulan dari penelitian ini terdapat dua komponen yaitu kondisi internal gua serta kondisi eksternal gua. secara keseluruhan kondisi internal dan eksternal Gua Pawon termasuk dalam kategori sedang. Dengan demikian terdapat beberapa faktor yang harus ditingkatkan, seperti aspek fisik gua, jenis ornamen dan pemanfaatan kawasan yang nantinya akan dilakukan arahan konservasi di Kawasan Gua Pawon.
Klasifikasi Tutupan Lahan Multitemporal Menggunakan Metode Random Forest di Kota Bekasi Fadhlul Razak; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8776

Abstract

Abstract. Bekasi City has experienced a very significant increase of built-up land expansion with the significant decrease proportion of the area of vegetation at once. This is due to its strategic location and directly adjacent to the capital, making Bekasi City a center of population settlement in Jabodetabek area. Remote sensing and Google Earth Engine software are used for the approach of this study. The aims of this study are to identify land cover expansion change in Bekasi City on 1988 - 2022. The data that used in this study consist of Landsat 5, Landsat 8, and Landsat 9 imagery. To identifying land cover, the random forest classification method was used, as well as the NDVI and NDBI methods to classify the level of vegetation density and built-up land density so the final result of land cover classification approaches the system of Local Climate Zone (LCZ) classification. The results showed that types of land cover that had a significant increase include high density built up land, medium & low density built up land. Whereas High density vegetation and shrubs had significant decrease in the last 34 years. Abstrak. Kota Bekasi mengalami peningkatan perluasan lahan terbangun yang sangat signifikan yang selaras dengan penurunan proporsi luasan vegetasi yang signifikan. Hal ini disebabkan letaknya yang strategis karena berbatasan langsung dengan ibukota menjadikan Kota Bekasi sebagai pusat pemukiman penduduk pada area Jabodetabek. Penginderaan jauh dan perangkat lunak Google Earth Engine digunakan untuk pendekatan penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan perluasan tutupan lahan di Kota Bekasi tahun 1988 - 2022. Data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari citra Landsat 5, Landsat 8, dan Landsat 9. Untuk mengidentifikasi tutupan lahan digunakan metode klasifikasi hutan secara acak, serta metode NDVI dan NDBI untuk mengklasifikasikan tingkat kerapatan vegetasi dan kerapatan lahan terbangun sehingga hasil akhir klasifikasi tutupan lahan mendekati sistem klasifikasi Local Climate Zone (LCZ). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis tutupan lahan yang mengalami peningkatan signifikan meliputi lahan terbangun dengan kepadatan tinggi, lahan terbangun dengan kepadatan sedang & rendah. Sedangkan vegetasi kerapatan tinggi dan semak belukar mengalami penurunan yang signifikan dalam 34 tahun terakhir.
Analisis Tingkat Risiko Bencana Longsor di Kecamatan Cibalong Kabupaten Tasikmalaya Dwi Rahma Putriana; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8806

Abstract

Abstract. Cibalong District is an area that has a high potential for landslides with the highest number of incidents in Tasikmalaya Regency, which resulted in damage to houses and roads, injuries to fatalities. The main cause of the landslide is influenced by the high intensity of rainfall and low community preparedness in dealing with disasters. This study aims to identify the level of risk of landslides and formulate landslide disaster mitigation in Cibalong District. The analytical method used in the hazard analysis refers to the prediction model from Puslittanak, while the vulnerability analysis and capacity analysis refers to PERKA BNPB No. 2 of 2012. Based on the results of the study it was found that the level of risk of landslides in Cibalong District is in the medium class with the largest area being in Setiawaras Village of 2,007.63 Ha or 32.85% of the total risk area. The mitigation that can be done in Cisempur Village and Parung Village are planting trees with deep roots, relocating people who are in landslide-prone areas, building wire gabions, avoiding building settlements on steep slopes. Whereas for Eureunpalay Village, Setiawaras Village, Cibalong Village, and Singajaya Village, namely by providing evacuation routes and places, installing hazard signs, reducing the level of steep slopes by prohibiting building settlements in landslide-prone areas, permanently relocating residents especially in areas that are at a high level of risk, improving the drainage system. In addition, there is a need to increase village community preparedness through outreach and disaster simulation. Abstrak. Kecamatan Cibalong merupakan daerah yang memiliki potensi rawan bencana longsor tinggi dengan jumlah kejadian terbanyak di Kabupaten Tasikmalaya, yang mengakibatkan adanya kerusakan bangunan rumah dan jalan, korban luka hingga korban jiwa. Penyebab utama longsor tersebut dipengaruhi oleh tingginya intensitas curah hujan dan rendahnya kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat risiko bencana longsor dan merumuskan mitigasi bencana longsor di Kecamatan Cibalong. Metode analisis yang digunakan pada analisis bahaya yang mengacu pada model pendugaan dari Puslittanak, sedangkan analisis kerentanan dan analisis kapasitas mengacu pada PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa, tingkat risiko bencana longsor di Kecamatan Cibalong berada pada kelas sedang dengan luasan terbesar terdapat di Desa Setiawaras sebesar 2.007,63 Ha atau 32,85% dari total luas risiko. Adapun mitigasi yang dapat dilakukan pada Desa Cisempur dan Desa Parung yaitu penanaman pohon perakaran dalam, relokasi masyarakat yang berada di daerah rawan longsor, membangun bronjong kawat, menghindari membangun permukiman di daerah berlereng terjal. Sedangkan untuk Desa Eureunpalay, Desa Setiawaras, Desa Cibalong, dan Desa Singajaya yaitu dengan penyediaan jalur dan tempat evakuasi, pemasangan rambu bahaya, mengurangi tingkat keterjalan lereng dengan larangan membangun permukiman didaerah rawan longsor, pemindahan penduduk secara permanen khususnya pada daerah yang berada pada tingkat risiko tinggi, meningkatkan sistem drainase. Selain itu, perlunya peningkatan kesiapsiagaan masyarakat desa melalui sosialisasi dan simulasi bencana.
Profil Desa Wisata Campakamulya Arina Fauzani Effendi; Arina Fauzani Effendi
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8813

Abstract

Abstract. Campakamulya Village is one of the tourist villages in Bandung Regency that has various potentials. These potentials include aspects of the physical environment, built facilities, funding for investment, politics, social, cultural, and human resources aspects. These potentials need to be improved as an effort to preserve social and cultural heritage, environmental conservation, and as an alternative to improving the community's economy. This research aims to identify the potentials it possesses, thus having a high selling point as a tourist village. The research's objective is to identify the profile of Campakamulya Tourist Village, so that its potentials and issues can be identified. The research results identified that Campakamulya Village has natural wealth potentials such as rivers, agriculture, forests, and diverse wildlife that can become tourist attractions. Supported by the availability of infrastructure and tourism facilities such as villas, cafes, healthcare facilities, places of worship, and others. The realization of Campakamulya Tourist Village is supported by cooperation between the government and the local community. Abstrak.Desa Campakamulya merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Bandung yang memiliki beragam potensi. Potensi-potensi tersebut antara lain aspek lingkungan fisik, aspek fasilitas terbangun, pendanaan untuk investasi, politik, sosial, budaya dan sumber daya manusia (SDM). Potensi tersebut perlu ditingkatkan sebagai salah satu upaya menjaga kelestarian sosial budaya, pelestarian lingkungan hidup dan sebagai alternatif meningkatkan ekonomi masyarakat. Penelitian ini sebagai upaya mengidentifikasi Potensi yang di miliki sehingga memiliki daya jual tinggi sebagai desa wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi profil Desa Wisata Campakamulya, sehingga dapat diketahui potensi dan masalah yang dimilikinya. Hasil penelitian teridentifikasi bahwa Desa Campakamulya memiliki potensi kekayaan alam seperti sungai, pertanian, hutan, dan keanekaragaman hewan yang dapat menjadi daya tarik wisata. Didukung ketersediaan infrastruktur dan fasilitas pariwisata berupa villa, kafe, sarana kesehatan, sarana peribadatan, dan lain-lain. Perwujudan Desa Wisata Campakamulya didukung oleh kerjasama antara pemerintah dan masyarakat setempat.
Arahan Perencanaan Tapak pemakaman Srengseng Sawah Linda Wardani; Weishaguna; Fachmy Sugih Pradifta
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8831

Abstract

Abstract. This study aims to provide guidance regarding the Srengseng Sawah cemetery site. The background of this study is the lack of clear guidance on the cemetery site in Srengseng Sawah. This research uses a Mixed Methods approach with data collection techniques through interviews, field observations, and literature studies. The results of this study will produce recommendation guidance in the form of zoning and cemetery structures that are in line with local cultural characteristics and sustainability. Zoning will consider aspects such as land availability, layout, and spatial structure. The cemetery structure will consider the theory of neighborhood, which takes into account the distance, functional importance of each facility, and the layout of facilities. It is expected that the results of this study can contribute to the development of sustainable cemetery sites in Srengseng Sawah. The generated recommendation guidance can serve as a guideline for the government, relevant stakeholders, and the community in planning and managing cemetery sites in Srengseng Sawah. Additionally, this research can also serve as a reference for further research in the fields of urban planning, architecture, and cemetery planning Abstrak. Studi ini bertujuan untuk memberikan arahan terkait tapak pemakaman Srengseng Sawah. Latar belakang studi ini adalah belum adanya arahan yang jelas terkait tapak pemakaman di Srengseng Sawah. Penelitian ini menggunakan pendekatan Mix Methode dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi lapangan, dan studi literatur. Hasil penelitian ini akan menghasilkan rekomendasi arahan berupa zonasi dan struktur pemakaman yang sesuai dengan karakteristik budaya setempat dan berkelanjutan. Zonasi akan mempertimbangkan aspek-aspek seperti ketersediaan lahan, tata letak dan struktur ruang. Struktur pemakaman akan mempertimbangkan teori neighbourhood yang mempertimbangkan jarak, kepentingan fungsi setiap fasilitas dan tata letak fasilitas. Diharapkan hasil studi ini dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan tapak pemakaman yang berkelanjutan di Srengseng sawah Rekomendasi arahan yang dihasilkan dapat menjadi pedoman bagi pemerintah, pemangku kepentingan terkait, dan masyarakat dalam merencanakan dan mengelola tapak pemakaman di Srengseng Sawah. Selain itu, penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya dalam bidang perencanaan perkotaan, arsitektur dan perencanaan pemakaman.