cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Identifikasi Faktor yang Mempengaruhi Perubahan Pendapatan masyarakat Desa Lebakmuncang Tiara Aisyah; Asep Hariyanto
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8530

Abstract

Abstract. Tourism is one of the solutions to overcome economic problems because it can create new jobs, increase income and trigger other sectors to develop. Lebakmuncang Village is a tourist village located in Ciwidey District, Bandung Regency, West Java, which has natural beauty and potential as a tourist spot. Besides that, based on the results of observations, Lebakmuncang Village still has several problems such as poor accessibility conditions such as poor road conditions, lack of lighting, inadequate public toilets, inadequate public facilities for tourists, lack of directions to get to tourist attractions. Apart from these problems, the reduction in the number of visitors is also a major problem because tourism activities depend on whether or not tourists come. So that there is a change in the income conditions of the people in the Lebakmuncang Village. Therefore, this research is in order to find out what factors influence changes in people's income in Lebakmuncang Village. The method used in this study is a quantitative approach method with data collection methods using questionnaires, interviews, observation and documentation and the analytical method is Likert scale analysis with the results of the analysis namely accessibility being the main factor (> 70%) which has a strong influence on changes in income what happened in the Lebakmuncang Village. Abstrak. Pariwisata merupakan salah satu solusi untuk mengatasi permasalahan ekonomi karena dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru, peningkatan pengahasilan dan memicu sektor – sektor lainnya untuk berkembang. Desa Lebakmuncang adalah salah satu desa wisata yang terletak di Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang memiliki keindahan alam dan potensi sebagai tempat wisata. Disamping itu, berdasarkan hasil observasi Desa Lebakmuncang masih memiliki beberapa permasalahan seperti kondisi aksesibilitas yang buruk seperti kondisi jalan yang buruk, kurangnya penerangan, toilet umum yang kurang memadai, fasilitas umum untuk wisatawan masih kurang memadai, kurangnya petunjuk arah untuk menuju tempat wisata. Selain dari permasalahan tersebut, adanya pengurangan jumlah pengunjung juga menjadi masalah utama karena aktivitas wisata tergantung kepada datang atau tidaknya wisatawan. Sehingga terjadi perubahan dalam kondisi pendapatan masyarakat di Desa Lebakmuncang tersebut. Oleh karena itu adanya penelitian ini guna untuk mengetahui faktor apa saja yang menjadi pengaruh dalam perubahan pendapatan masyarakat di Desa Lebakmuncang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pendekatan kuantitatif dengan metode pengumpulan data menggunakan metode kuisioner, wawancara, observasi dan dokumentasi dan metode analisis adalah analisis skala likert dengan hasil analisis yaitu aksesibilitas menjadi faktor utama (>70%) yang memiliki pengaruh kuat dalam perubahan pendapatan yang terjadi di masyarakat Desa Lebakmuncang.
Perspektif Wisatawan Terhadap Komponen Pariwisata Situs Astana Gede, Kabupaten Ciamis Dika Saputra; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8578

Abstract

Abstract. Astana Gede Site is a historical area that is part of the heritage of the Sunda-Galuh Kingdom. It has diverse tourism potentials that are not limited to the historical aspect alone. Despite its great potential, the number of tourists visiting the Astana Gede Site is still relatively low compared to the surrounding tourist attractions. This research aims to identify tourists' perspectives on the tourism components of the Astana Gede Site in order to understand tourists' views and provide evaluations for the development of the Astana Gede Site. The research method used is a qualitative and quantitative descriptive research method. Data collection was done through a survey using questionnaires distributed to tourists visiting the Astana Gede Site. The research findings indicate that cultural, pilgrimage, and natural tourist attractions have received good ratings from tourists. The attractions and accessibility of the tourist attractions are considered adequate by tourists, indicating that this destination has attractive features and can be relatively easily reached. However, there are some amenity facilities that are considered inadequate by tourists. The Astana Gede Site lacks an adequate number of toilets, cleanliness of the prayer room, seating for tourists, and resting places for visitors, furthermore, the reason for the low number of tourist visits is due to insufficient promotion. Abstrak. Situs Astana Gede adalah wilayah bersejarah yang merupakan bagian dari warisan Kerajaan Sunda-Galuh, memiliki beragam potensi wisata yang tidak terbatas pada aspek sejarah saja. Meskipun memiliki potensi yang besar, jumlah wisatawan yang mengunjungi Situs Astana Gede masih relatif rendah dibandingkan dengan objek wisata di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perspektif wisatawan terhadap komponen pariwisata Situs Astana Gede dalam rangka mengetahui padangan wisatawan dan menjadi evaluasi bagi pengembangan Situs Astana Gede. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada wisatawan yang mengunjungi Situs Astana Gede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata budaya, ziarah, dan alam telah memperoleh penilaian yang baik dari wisatawan. Atraksi dan aksesibilitas objek wisata dinilai memadai oleh wisatawan, menunjukkan bahwa destinasi ini memiliki daya tarik yang menarik dan dapat dicapai dengan relatif mudah. Namun, terdapat beberapa fasilitas amenitas yang dinilai kurang memadai oleh wisatawan. Situs Astana Gede memiliki kekurangan pada jumlah toilet, kebersihan mushola, tempat duduk bagi wisatawan dan tempat beristirahat bagi wisatawan yang berkunjung, selain itu alasan minimnya kunjungan wisatawan dikarenakan kurangnya promosi.
Kesiapan Desa Cipamekar Menuju Desa Wisata di Kecamatan Conggeang Kabupaten Sumedang Nurlina Aswad; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8595

Abstract

Abstract.Cipamekar Village has potential village potential and is included in the group of tourism village plans in Sumedang Regency that will be developed. But with the problems that occurred in Cipamekar Village related to village tourism that is being developed, it will affect the development plans for Cipamekar Village as a tourist village in Sumedang Regency, namely village institutions that still do not have village regulations related to village tourism, human resources, regarding funding, lack of village community participation, there are parties who refuse, and there is no collaboration with investors/third parties. The purpose of this research is to identify the readiness of both the village government and the people of Cipamekar Village to go to a tourist village in the hope of improving the village economy, especially the village community. In this study using a quantitative approach method. Data collection methods were carried out by means of interviews, questionnaires, and observation. Data analysis in this study used a scoring analysis using a Likert scale. The average value of the village government readiness assessment is 70.30%. The average value of the village community readiness assessment is 56.80%. So, it can be concluded that the village government is ready to become a tourist village, while the village community is still not ready. Abstrak. Desa Cipamekar memiliki potensi desa yang potensial dan termasuk ke dalam kelompok rencana desa wisata di Kabupaten Sumedang yang akan dikembangkan. Tetapi dengan adanya permasalahan-permasalahan yang terjadi di Desa Cipamekar terkait dengan wisata desa yang sedang dikembangkan akan mempengaruhi terhadap rencana pengembangan Desa Cipamekar sebagai salah satu desa wisata di Kabupaten Sumedang yaitu kelembagaan desa yang masih belum mempunyai peraturan desa terkait wisata desa, sumber daya manusia, perihal pendanaan, kurangnya partisipasi masyarakat desa, terdapat pihak-pihak yang menolak, dan belum adanya kerja sama dengan investor/pihak ketiga. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kesiapan baik dari pihak pemerintah desa dan masyarakat Desa Cipamekar untuk menuju desa wisata dengan harapan dapat meningkatkan perekonomian desa terkhusus masyarakat desa. Pada penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara yaitu wawancara, kuesioner, dan observasi. Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis skoring yang menggunakan skala likert. Nilai rata-rata penilaian kesiapan pemerintah desa adalah 70,30%. Nilai rata-rata penilaian kesiapan masyarakat desa adalah 56,80%. Maka, dapat disimpulkan bahwa pemerintah desa sudah siap dalam menuju desa wisata sedangkan masyarakat desa masih belum siap.
Identifikasi Ekosistem Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dalam Mendukung Pengembangan Ekonomi Lokal di Desa Campakamulya Alvina Tania Destiani; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8608

Abstract

Micro, Small and Medium Enterprises (MSMEs) play an important role in economic growth because they can create jobs and alleviate poverty. Therefore, this research aims to identify the state and condition of the MSME ecosystem to find out what the condition of the MSME ecosystem is, identify components of the MSME ecosystem that can support local economic development and formulate a development strategy. This research uses mixed methods with a sequential explanatory research model. This method is a combination of quantitative and qualitative methods. From the results of the study, it is known that the MSME ecosystem in Campakamulya Village does not yet support creating synergy between its components. Components that are less supportive of systemic conditions are finance, networks and synergy as well as knowledge and empowerment. Meanwhile, in framework conditions, the components that are less supportive of framework conditions are culture, formal institutions and policies. Therefore, it has not supported local economic development and has not been able to utilize existing potential. This condition is due to the lack of cooperation and synergy between the community, government, stakeholders and MSME players. In order to support the development of MSMEs and bring harmony between components of their ecosystem, development strategies can be carried out, namely optimizing the development of business networks between MSME players, optimizing superior products through exhibitions, maintaining existing cultural and creative values ​​and the government assisting in training, empowerment and funding. Abstrak. Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi karena dapat terciptanya lapangan pekerjaan dan pengentasan kemiskinan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keadaan dan kondisi ekosistem UMKM untuk mengetahui bagaimana kondisi dari ekosistem UMKM, mengidentifikasi komponen ekosistem UMKM yang dapat mendukung pengembangan ekonomi lokal dan merumuskan suatu strategi pengembangan. Penelitian ini menggunakan mixed methods dengan model penelitian sequential explanatory. Metode ini merupakan gabungan dari metode kuantitatif dan kualitatif. Dari hasil kajian, diketahui bahwa ekosistem UMKM Desa Campakamulya belum mendukung untuk menciptakan suatu sinergitas antar komponennya. Komponen yang kurang menunjang dari kondisi sistemik adalah keuangan, jaringan dan sinergitas serta pengetahuan dan pemberdayaan. Sedangkan dalam kondisi kerangka kerja, komponen yang kurang menunjang dari kondisi kerangka kerja adalah budaya, lembaga formal dan kebijakan. Maka dari itu, belum mendukung pengembangan ekonomi lokal dan belum bisa memanfaatkan potensi yang ada. Kondisi tersebut dikarenakan belum adanya kerjasama dan sinergitas antara masyarakat, pemerintah, stakeholders dan para pelaku UMKM. Guna mendukung pengembangan UMKM dan menyatukan keselarasan antar komponen ekosistemnya, dilakukan strategi pengembangan yang dapat dilakukan yaitu melakukan optimalisasi pengembangan jaringan usaha antar pelaku UMKM, melakukan optimalisasi produk unggulan melalui pameran, menjaga nilai – nilai budaya dan kreativitas yang ada serta pemerintah membantu dalam pelatihan, pemberdayaan dan pendanaan.
Prediksi Volume Genangan Berdasarkan Rencana Penggunaan Lahan RTRW Kota Sukabumi Tahun 2022-2042 Muhammad Alif Haidar; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8639

Abstract

Abstract. Changes in land use in an area will cause pressure on space and environment because there are many land conversions from non-built-up land to built-up land so as to make the water catchment area smaller which will lead to greater water runoff the surface of the surface which then causes problems such as puddle and also flooding. This research was conducted to know amount of water runoff and inundation plans in Sukabumi City. The methodology used is descriptive quantitative while the analytical method is Hydrological Analysis precisely through the Pearson III Log Method and the Soil Conservation Service (SCS) method. Based on the analysis that has been carried out, the value of the planned rainfall with a 5 year return period is 113,710 mm, the surface runoff is 66,73 mm and the inundation volume with a 5 year return period is 3.221,288,88 m³. Abstrak. Perubahan penggunaan lahan di suatu wilayah akan menyebabkan tekanan terhadap ruang dan lingkungan karena banyak terjadi alih fungsi lahan. dari lahan non-terbangun ke lahan terbangun sehingga membuat semakin kecilnya daerah resapan air yang akan menyebabkan semakin besarnya limpasan air di permukaan yang kemudian menimbulkan permasalahan seperti genangan air dan juga banjir. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah limpasan air dan genangan rencana di Kota Sukabumi. Metodologi yang digunakan yakni kuantitatif deskriptif sedangkan metode analisis yaitu Analisis Hidrologi tepatnya melalui Metode Log Pearson III dan metode Soil Conservation Service (SCS). Berdasarkan analisis yang telah dilakukan, didapat nilai curah hujan rencana dengan periode ulang 5 tahun sebesar 113,710 mm, limpasan permukaan sebesar 66,73 mm dan volume genangan rencana periode ulang 5 tahun sebesar 3.221.228,88 m³.
Evaluasi Penyediaan Fasilitas Wisata Museum Geologi Menuju Museum Ramah Disabilitas Nuzul Putri Deliani; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8640

Abstract

Abstract. Persons with disabilities must have easy access, treatment and adequate accommodation to meet their needs as tourists as well as equality and opportunity to carry out tourism activities. The Geology Museum is the first museum in the city of Bandung to declare it friendly for visitors with disabilities in 2019. In creating a friendly museum for visitors with disabilities, the provision of tourist facilities at the Geology Museum needs to be a concern. The purpose of this research is to identify the achievements of the Geology Museum in providing tourism facilities to disability-friendly museums. This type of research was carried out qualitatively, with a formal evaluation approach method through collecting data from literature studies and observations which were processed by comparative analysis. The evaluation instrument refers to Permen PU No. 30 of 2006, Bandung City Regional Regulation No. 15 of 2019, and City of Toronto Accessibility Design Guidelines (2004). The results of this study note that only 58% of the facilities available at the Geology Museum are said to be sufficient to go to a disability-friendly museum. Abstrak. Penyandang disabilitas harus memiliki akses yang memudahkan, mendapatkan perlakuan, dan akomodasi yang layak untuk memenuhi kebutuhan mereka sebagai wisatawan serta kesetaraan dan kesempatan untuk melakukan kegiatan wisata. Museum Geologi menjadi museum pertama di Kota Bandung yang mencanangkan ramah bagi pengunjung disabilitas pada tahun 2019. Dalam mewujudkan museum ramah bagi pengunjung disabilitas, penyediaan fasilitas wisata di Museum Geologi perlu menjadi perhatian. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi capaian Museum Geologi dalam penyediaan fasilitas wisata menuju museum ramah disabilitas. Jenis penelitian dilakukan secara kualitatif, dengan metode pendekatan evaluasi formal melalui pengumpulan data studi literatur dan observasi yang diolah dengan analisis komparatif. Intrumen evaluasi mengacu pada Permen PU No.30 Tahun 2006, Perda Kota Bandung No.15 Tahun 2019, dan City of Toronto Accessibility Design Guidelines (2004). Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa hanya 58% fasilitas yang tersedia di Museum Geologi dikatakan cukup untuk menuju museum ramah disabilitas.
Kajian Pengendalian Penggunaan Lahan di Kecamatan Cimenyan Muhammad Farhan; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8673

Abstract

Abstract.Cimenyan District in the development of land use is still not controlled causing disruption of the protective function. so that it can lead to landslides. The occurrence of landslides from time to time is of course a special concern regarding the area which is prone to landslides. On the other hand, Cimenyan Sub-District has a relatively high population among other sub-districts in Bandung Regency, of course the occurrence of this disaster can not only cause material losses but can also claim lives. From this study aims to identify the level of deviation and identify the suitability of land use control instruments in Cimenyan District. In carrying out this analysis, it was carried out using the overlay method of land use maps, spatial patterns, and data on the level of vulnerability to landslides from KRB Bandung Regency. From these results, land changes from 2013 - 2022 have increased the area of agriculture and settlements, while there is a level of deviation. Large land use deviations are quite high, namely, 7.82% or the equivalent of 353.70 Ha. To identify the causes of landslides due to high rainfall and reduced plant vegetation with strong roots. and identification of control instruments can be done by overlaying a map of land irregularities and the level of vulnerability to landslides, as for the recommendations from the control, of course, first verify the legality of the permit. If there is no legality/permit, of course, sanctions/disincentives must be given. Abstrak. Kecamatan Cimenyan dalam perkembangan penggunaan lahan masih belum terkendali menimbulkan gangguan fungsi lindung. sehingga dapat mengakibatkan bencana tanah longsor Terjadinya bencana tanah longsor dari waktu ke waktu tentu dapat menjadi perhatian khusus terkait wilayah tersebut yang rawan akan bencana longsor. Di sisi lain Kecamatan Cimenyan memiliki jumlah penduduk cukup tinggi diantara kecamatan lainnya di Kabupaten Bandung, tentunya terjadinya bencana tersebut tidak hanya dapat memberikan kerugian berupa materiel saja melainkan dapat merenggut korban jiwa. Dari penelitian tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat penyimpangan dan mengidentifikasi kesesuaian instrumen pengendalian penggunaan lahan di Kecamatan Cimenyan. Dalam melakukan analisis ini dilakukan dengan menggunakan metode overlay peta penggunaan lahan, pola ruang, dan data tingkat kerentanan bencana tanah longsor dari KRB Kabupaten Bandung. Dari hasil tersebut perubahan lahan dari tahun 2013 - 2022 terjadi penambahan luasan pada pertanian dan permukiman sedangkan untuk adanya tingkat penyimpangan Penggunaan lahan besar penyimpangan cukup tinggi yaitu, 7,82% atau setara dengan 353,70 Ha. Untuk identifikasi penyebab terjadinya tanah longsor diakibatkan karena tingginya curah hujan dan berkurangnya vegetasi tanaman berakar kuat. dan untuk identifikasi instrumen pengendalian dapat dilakukan dengan overlay peta penyimpangan lahan dan tingkat kerentanan tanah longsor, adapun dari rekomendasi dari pengendalian tersebut tentuntunya verifikasi terlebih dahulu legalitas izinnya Apabila tidak ada legalitas/izinnya maka tentu harus diberikan sanksi/disinsentif.
Livabilitas Alun-alun Kota Cilegon Berdasarkan Persepsi Pengunjung Muhammad Dava Noviandhi; Fachmy Sugih Pradifta
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8687

Abstract

Abstract. The city of Cilegon is one of the cities that is nicknamed the industrial city, in line with this nickname, it needs public open spaces that are comfortable and safe for its users to be livable. One of the efforts to increase the liability of public open space in urban areas is a supporting facility to improve the liability conditions of parks. Based on the problems above, the purpose of this study is to identify the Performance and Interests of the Cilegon City Square Facility in Realizing Livability Based on Visitors' Perceptions. The method used in this research is descriptive quantitative. By using the method of importance performance analysis (IPA). Analysis of importance performance analysis shows performance figures with an average of 3.4 while for interests with a figure of 3.88. Based on the results of the analysis, the liability level of Cilegon City Square is 88.43% and 11.57% has not been achieved. Abstrak. Kota Cilegon merupakan salah satu kota yang dijuluki sebagai Kota industri sejalan dengan julukan tersebut diperlukannya ruang terbuka publik yang nyaman serta aman bagi penggunanya supaya livable. Salah satu upaya meningkatkan livabilitas ruang terbuka publik pada kawasan perkotaan, maka diperlukan sebuah fasilitas pendukung untuk meningkatkan kondisi livabilitas pada taman. Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan penelitian ini mengidentifikasi Kinerja dan Kepentingan Fasilitas Alun-Alun Kota Cilegon Dalam Mewujudkan Livabilitas Berdasarkan Persepsi Pengunjung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif deskriptif. Dengan menggunakan metode importance performance analysis (IPA). Analisis importance performance analysis menunjukan angka kinerja dengan rata-rata 3,4 sedangkan untuk kepentingan dengan angka sebesar 3,88. Berdasarkan hasil analisis tingkat livabilitas Alun-Alun Kota Cilegon sebesar 88,43% dan yang belum tecapai 11,57%.
Identifikasi Potensi Pengembangan Kegiatan Pertanian dalam Mendukung Perwujudan Food Estate Daffa Satria Wiguna; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8692

Abstract

Abstract. Food estate development is one way to maintain food security in Indonesia. The current phenomenon is the need for food as a basic human need which will continue to increase over time, besides that it is also necessary to limit food imports and continue to prioritize food with regional independence. Therefore, the Government through the Ministry of Defense is currently planning The 5 locations to be developed as food estates include Kertajati Village, Kertajati District, Majalengka Regency. This village is considered potential because Mekarjaya Village itself has an area of ​​25% of the total plantation area in Kertajati District. The area for plantations in Mekarjaya Village itself is recorded at 2237.502 Ha. This area is the largest compared to 13 other villages in Kertajati District, Majalengka Regency. The purpose of this research is to identify the development of agricultural activities in supporting the realization of food esate activities. The stages of analysis carried out in this study include Geospatial analysis, On farm Analysis and Off Farm Analysis which have the aim of assessing from these three aspects whether Mekarjaya Village is suitable to be used as an Agricultural Area in supporting food estate activities and it was found that Mekarjaya Village is suitable for used as a food estate area but there are still many things that need to be repaired or developed. Abstrak. Pengembangan food estate merupakan salah satu cara dalam upaya dalam menjaga ketahanan pangan yang ada di Indonesia. Fenomena yang terjadi saat ini adalah kebutuhan akan pangan sebagai basic human needs yang seiring dengan berjalanya waktu akan terus meningkat, selain itu juga perlu adanya pembatasan mengenai impor pangan dan tetap mengedepankan pangan dengan kemandirian daerah, Maka dari itu Pemerintah melalui Kementerian Pertahanan saat ini sedang merencanakan 5 lokasi untuk dikembangkan sebagai food estate diantaranya adalah Desa Kertajati Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka. Desa ini dianggap potensial karena Desa Mekarjaya sendiri memliki luasan 25% dari total luas perkebunan di Kecamatan Kertajati. Tercatat luasan untuk perkebunan di Desa Mekarjaya sendiri yaitu sebesar 2237,502 Ha, Luasan Tersebut merupakan yang terbesar bila dibandingkan dengan 13 Desa lainnya yang berada di Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka. Tujuan untuk peneleitian ini adalah mengidentifikasi pengembangan kegiatan pertanian dalam mendukung perwujudan kegiatan food esate. Tahapan Analisis yang dilakukan pada kajian ini diantaranya adalah analisis Geospasial, Analsisis On farm dan Analisis Off Farm yang memiliki tujuan untuk menilai dari ketiga aspek tersebut Desa Mekarjaya apakah cocok untuk dijadikan Kawasan Pertanian dalam mendukung kegiatan food estate dan di dapati hasil bahwa desa mekarjaya cocok untuk dijadikan Kawasan food estate tetapi masih banyak hal hal yang harus diperbaiki atau dikembangkan.
Kajian Konsep Infrastruktur Hijau untuk Menurunkan Suhu Udara di Kawasan Teknopolis SWK Gedebage Diva Rosseana; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8693

Abstract

Abstract. According to the Bandung City document detail spatial planning, SWK Gedebage is designated as a Bandung City Service Center with the Technopolis concept. With the existence of these regulations, the development and construction is rapid and triggers the level of demand for land. The increase in the demand for land that occurs requires the conversion of green land into built-up land and has an impact on increasing temperatures due to development. This can affect changes in climate elements which will affect the increase in air temperature. One of the efforts that can be made to reduce air temperature is to apply the concept of green infrastructure in every development process in urban areas. Green infrastructure can help reduce urban heat. This study aims to determine the distribution of hotspots in SWK Gedebage using Landsat 8 OLI imagery and extract TOA, BT, NDVI, PVI and Emissivity values to obtain LST values and compare them to the previous 5 years. Then a simulation of the application of the green infrastructure concept was carried out using the Envi-Met software and the result was that the green wall can reduce the air temperature > 1oC while the green roof can help reduce the air temperature up to 0.89oC. Abstrak. Menurut RDTR Kota Bandung, SWK Gedebage diperuntukkan sebagai Pusat Pelayanan Kota Bandung dengan konsep Teknopolis. Dengan adanya peraturan tersebut maka perkembangan dan pembangunannya pesat dan memicu terhadap tingkat kebutuhan lahan. Peningkatan akan kebutuhan lahan yang terjadi menuntut adanya alih fungsi lahan hijau menjadi lahan terbangun dan berdampak kepada peningkatan suhu akibat pembangunan. Hal ini dapat berpengaruh terhadap perubahan unsur iklim yang akan berpengaruh terhadap kenaikan suhu udara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menurunkan suhu udara adalah dengan menerapkan konsep infrastruktur hijau dalam setiap proses pembangunan di perkotaan. Infrastruktur hijau mampu membantu menurunkan suhu panas perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persebaran titik panas di SWK Gedebage menggunakan citra landsat 8 OLI dan mengekstraksi nilai TOA, BT, NDVI, PVI dan nilai Emisivitas sehingga mendapatkan nilai LST dan dibandingkan dengan 5 tahun sebelumnya. Kemudian dilakukan simulasi penerapan konsep infrastruktur hijau menggunakan software Envi-Met dan didapatkan hasil bahwa green wall dapat menurunkan suhu udara >1oC sementara green roof dapat mmebantu menurunkan suhu udara sampai dengan 0.89oC.