cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Identifikasi Potensi Bioswales dan Green Street dalam Pengendalian Banjir di Sub DAS Cikapundung Daerah Tengah Sholeha Miftah; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8409

Abstract

Abstract. The main factor causing flooding in Cikapundung Sub-watershed Central Region is dense population which results land conversion that water catchment area decreases. Therefore necessary control floods that still pay attention ecological aspects and pay attention limited land, one of which is through the application bioswales and green street that can overcome local scale flooding on small land. The purpose of this research to identify potential locations for implementation bioswales and green street and to identify how well these bioswales and green street are able to control frequent flooding in study area. The methodology used in this research is Pearson log distribution type III, SCS (Soil Conservation Service) method, and general formula for calculating initial flood prediction. The results of this study are that the application bioswales area of 711.46 Ha can reduce flood volume 29.78%. There are 3 types combinations of green street elements that have potential to implemented in Cikapundung Sub-watershed Central Region, the application type 1 green street area of 99.98 Ha can reduce flood volume 5.53%, the application type 2 green street area of 12.62 Ha can reduce flood volume 2.86%, and the application type 3 green street area of 13.47 Ha can reduce flood volume 2.89%. Abstrak. Faktor utama penyebab terjadinya banjir di wilayah Sub DAS Cikapundung Daerah Tengah adalah padatnya penduduk yang mengakibatkan terjadinya alih fungsi lahan sehingga wilayah resapan air berkurang. Oleh karena itu diperlukan pengendalian banjir yang tetap memperhatikan aspek ekologis dan memperhatikan keterbatasan lahan, dimana salah satunya adalah melalui penerapan bioswales dan green street yang dapat menangani banjir skala lokal pada lahan yang tidak terlalu luas. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lokasi potensial penerapan bioswales dan green street serta untuk mengidentifikasi seberapa besar kemampuan bioswales dan green street dalam mengendalikan banjir yang kerap terjadi di wilayah penelitian. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah distribusi log pearson tipe III, metode SCS (Soil Conservation Service), dan rumus umum untuk menghitung prediksi banjir awal. Hasil dari penelitian ini adalah penerapan bioswales seluas 711,46 Ha mampu mengurangi volume banjir sebesar 29,78%. Terdapat 3 tipe kombinasi elemen green street yang berpotensi untuk diterapkan di Sub DAS Cikapundung Daerah Tengah, penerapan green street tipe 1 seluas 99,98 Ha mampu mengurangi volume banjir sebesar 5,53%, penerapan green street tipe 2 seluas 12,62 Ha mampu mengurangi volume banjir sebesar 2,86%, serta penerapan green street tipe 3 seluas 13,47 Ha mampu mengurangi volume banjir sebesar 2,89%.
Kesiapan Masyarakat dalam Mengembangkan Pertanian 4.0 di Desa Cibodas Kecamatan Lembang Indri Yuliantari Putri; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8438

Abstract

Abstract.Cibodas village is one of the locations that became agriculture 4.0 in Cijerokasi village, chosen by the ministry of agriculture for becoming a farming village in 2019. However, agriculture 4.0 farming still considers several factors such as community readiness and knowledge. Agriculture 4.0 will be feasible to develop and the community is ready to develop it. Therefore, it is necessary to know the readiness of the Cibodas Village community before development. This study aims to determine the feasibility of agriculture 4.0, identify the level of community readiness and determine strategies for developing agriculture 4.0. The research method used is mix methods. Data collection was carried out by interviews and questionnaires. Assessing feasibility using Cost Benefit Analysis, Feasibility R/C Ratio, Readiness assessment using Community Readiness Model, and determining strategies using SWOT. The results of the analysis show that agriculture 4.0 can be said to be feasible if farmers have 1Ha of land and are combined so that a period of 5 years according to the Net Present Value is obtained Rp 127,174,487.00 / year, with a Net B / C value of 10.63 meaning that every Rp 1,000 of capital will profit Rp 10,630, with a break-even point farmers managed to sell 12,633 kg of vegetables and the cost of investment will return in 1 year and 9 months. The Cibodas Village community is at readiness level 5, namely preparation, characterized by the availability of local resources and the availability of time so that the strategy is to build an integrated agricultural center in Cijarekso village as a development center for technology 4.0, installing agricultural equipment communally so that capital expenditures are minimal and building cooperatives as a forum for selling crops. Abstrak. Desa Cibodas merupakan salah satu lokasi yang menjadi pertanian 4.0 di kampung Cijerokasi, dipilih oleh kementerian pertanian karena menjadi desa tani tahun 2019. Namun usahatani pertanian 4.0 masih mempertimbangkan beberapa faktor seperti kesiapan dan pengetahuan masyarakat. Pertanian 4.0 apakah akan layak untuk dikembangkan dan masyarakat siap untuk mengembangkannya. Oleh karena itu perlu mengetahui kesiapan masyarakat Desa Cibodas sebelum pengembangan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kelayakan pertanian 4.0, mengidentifikasi tingkat kesiapan masyarakat dan menentukan strategi mengembangkan pertanian 4.0. Metode penelitian yang digunakan adalah mix methods. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuisioner. Menilai kelayakan menggunakan Cost Benefit Analysis, Kelayakan R/C Ratio, Penilaian kesiapan menggunakan Community Readiness Model, dan menentukan strategi menggunakan SWOT. Hasil analisis menunjukan pertanian 4.0 bisa dikatakan layak jika petani memiliki lahan 1Ha dan digabung sehingga kurun waktu 5 tahun menurut Net Present Value diperoleh Rp 127.174.487,00/tahun, dengan nilai Net B/C 10,63 artinya setiap Rp 1.000 modal akan untung Rp 10.630, dengan titik impas petani berhasil menjual sayuran sebanyak 12,633 kg dan biaya dari investasi akan kembali dalam 1 tahun 9 bulan. Masyarakat Desa Cibodas berada pada tingkat kesiapan 5 yaitu preparation ditandai dengan tersedianya sumber daya lokal dan ketersediaan meluangkan waktu sehingga strategi yaitu membangun pusat pertanian terpadu di kampung cijarekso sebagai pengembangan pusat teknologi 4.0 pemasangan alat pertanian secara komunal sehingga pengeluaran modal sedikit dan membangun koperasi sebagai wadah untuk penjualan hasil panen.
Penataan Kawasan Pasar Andir dan sekitarnya sebagai Pusat Perdagangan Lina Azizah Nurfadilah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8447

Abstract

Abstract. The Trade Area is a place for activities intended for buying and selling for the daily needs of the community. The Andir Market area has several problems, such as (1) Mobility (2) Street Vendors (3) Garbage to (4) parking lots. The aim of the research is to plan the arrangement of the Andir Market area and its surroundings as a trading center for the Andir market area and its surroundings which are orderly and orderly. This study uses a mix of qualitative methods to analyze the characteristics of the area. Quantitative for calculating the intensity of buildings and road movements in the Andir Market Area. In addition, this study also uses the synoptic analysis method where the structuring elements are seen from; land use, building layout, circulation, accessibility, signage. The results of this study are to determine the concept of structuring the trading area as a more organized, efficient and comfortable Pasar Andir area with the output of 2D and 3D design of the Andir Market area. Abstrak. Kawasan Perdagangan ialah wadah kegiatan diperuntukan untuk jual-beli untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari Pasar Tradisional ialah pasar yang dalam pelaksanaannya masih tradisional secara langsung, penjual dan pembeli dapat berinteraksi sepenuhnya seperti Pasar Andir. Kawasan Pasar andir memiliki beberapa permasalahan seperti, (1)Mobilitas (2) Pedagang Kaki Lima (3) Sampah hingga (4) tempat parkir. Tujuan penelitian Merencanakan Penataan Kawasan Pasar Andir dan sekitarnya sebagai pusat perdagangan Kawasan Pasar Andir dan sekitarnya yang tertata dan teratur. Penelitian ini menggunakan metode mix metode Kualitatif untuk menganalisis Karakteristik wilayah Kawasan. Kuantitatif untuk menghitung intesintas bangunan dan pergerakan jalan yang ada pada Kawasan Pasar Andir. Selain itu penelitian ini juga menggunakan metode analisis synoptic yang dimana elemen penataan dilihat dari ; tataguna lahan, tata masa bangunan, sirkulasi, aksebilitas, signage. Hasil dari penelitian ini yaitu menentukan konsep penataan Kawasan perdagangan sebagai Kembali Kawasan pasar andir yang lebih tertata, efisien dan nyaman dengan output perancangan 2D dan 3D Kawasan Pasar Andir.
Efektivitas Pembangunan Kolam Retensi Pengendalian Banjir di Kelurahan Andir Shafa Salsabila Ekaputri Laida; Hani Burhanudin; Ernawati Hendrakusumah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8448

Abstract

Abstract. The problem in Bandung Regency, precisely in Baleendah District, is flooding that comes from the overflow of the Citarum watershed. Floods from the overflow of the Citarum Watershed that hit Baleendah District, especially the Andir Village, were recorded in the 2020 flood data in the Andir Village, causing a loss of 5,192 households and 15,973 people. The flood height reached 20 cm to 250 cm and has submerged thousands of houses. To deal with this flood problem, the government built a retention pond in Andir Village. Based on this phenomenon, the problem is formulated in the form of "The level of effectiveness of the construction of a flood control retention pond in Andir Village". The purpose of this research is to find out how effective the Andir Retention Pond is in dealing with flood problems. The method used in this study is a qualitative descriptive analysis method with a field observation approach and a community perspective. The results obtained are that the retention pond is considered capable of reducing the area of flooding, reducing the time scale of flooding, reducing the height of flooding, reducing the impact that occurs due to flooding, implementing outreach to the community, and the benefits of the Andir Retention Pond construction have been felt. Abstrak. Permasalahan di Kabupaten Bandung tepatnya di Kecamatan Baleendah adalah banjir yang berasal dari luapan DAS Citarum. Banjir dari luapan DAS Citarum yang menimpa Kecamatan Baleendah khususnya Kelurahan Andir ini tercatat pada data banjir tahun 2020 di Kelurahan Andir merugikan masyarakat sebanyak 5.192 Kepala Keluarga (KK) dan 15.973 jiwa. Ketinggian banjir mencapai 20 cm hingga 250 cm dan telah merendam ribuan rumah. Untuk menangani permasalahan banjir ini, Pemerintah membangun Kolam Retensi di Kelurahan Andir. Berdasarkan fenomena tersebut, dirumuskan masalah berupa “Besaran tingkat efektivitas dari pembangunan Kolam Retensi pengendalian banjir di Kelurahan Andir”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa efektif Kolam Retensi Andir ini dalam menangani masalah banjir. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi lapangan dan perspektif masyarakat. Hasil yang didapatkan adalah kolam retensi tersebut dinilai mampu mereduksi luasan banjir, mengurangi skala waktu terjadinya banjir, mengurangi ketinggian banjir, mengurangi dampak yang terjadi akibat banjir, terlaksananya sosialisasi terhadap masyarakat, dan telah dirasakannya manfaat dari pembangunan Kolam Retensi Andir tersebut.
Pengembangan Inklusivitas Pariwisata Halal Berdasarkan Atensi Masyarakat Desa Alamendah Berbasis Neurosains Ghafira Shofia Kusnandar; Imam Indratno
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8493

Abstract

Abstract. Desa Alamendah has the potential to develop the concept of halal tourism compared to other villages. However, there are challenges due to the lack of human resources with a proper understanding of halal tourism concepts and limited response from industry players. To address this, a cognitive approach is used, employing electroencephalography (EEG) measurements to gather real-time and valid data, enabling the formulation of effective development strategies.The main objective of this research is to identify the community's attention towards the development of inclusive Halal Tourism in Desa Wisata Alamendah, utilizing an innovative neuroscientific approach through EEG measurements, and formulating development concepts that can be applied in Desa Alamendah. The research findings indicate a significant level of attention among stakeholders towards the development of inclusive halal tourism. Additionally, survey results and psychological approaches show that the majority of respondents have comprehended the concept of halal tourism and support its implementation in Desa Wisata Alamendah, as it can provide benefits to the community. Therefore, efforts are needed to integrate socio-cultural values in organizing tourism activities in Desa Alamendah and preserve the socio-cultural heritage, which forms the foundation for creating halal tourism. Abstrak. Desa Alamendah memiliki potensi untuk mengembangkan konsep pariwisata halal dibandingkan desa lainnya. Namun, terdapat tantangan akibat kurangnya sumber daya manusia yang memahami konsep pariwisata halal secara baik dan respon terbatas dari para pelaku industri. Untuk mengatasi hal ini, digunakan pendekatan kognitif dengan menggunakan pengukuran elektroensefalografi (EEG) untuk mengumpulkan data real-time yang valid sehingga dapat merumuskan strategi pengembangan yang efektif. Tujuan utama penelitian ini adalah mengidentifikasi atensi masyarakat terhadap pengembangan Pariwisata Halal yang inklusif di Desa Wisata Alamendah, dengan pendekatan neurosains inovatif melalui pengukuran EEG serta merumuskan konsep pengembangan yang dapat diaplikasikan pada Desa Alamendah. Hasil penelitian menunjukkan adanya tingkat atensi yang signifikan pada stakeholder terhadap pengembangan pariwisata halal yang inklusif. Selain itu, hasil kuesioner dan pendekatan psikologi menunjukkan bahwa sebagian besar responden telah memahami konsep pariwisata halal dan mendukung penerapannya di Desa Wisata Alamendah, serta dapat memberikan keuntungan bagi masyarakat. Sehingga dalam pengembangannya diperlukan upaya dalam mengintegrasikan nilai sosial budaya dalam penyelenggaraan kegiatan wisata di Desa Alamendah, serta mewujudkan pelestarian sosial budaya yang menjadi landasan masyarakat dalam menciptakan wisata yang halal.
Strategi Pengembangan Ekowisata Desa Tarumajaya, Kabupaten Bandung Salsabilla Zahra; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8494

Abstract

Abstract. Tarumajaya Tourism Village is a tourist village located in the Kertasari Subdistrict, Bandung Regency. Tarumajaya Village has gained attention from various parties since the implementation of the Citarum Harum program and the presence of Situ Cisanti. Additionally, the designation of Tarumajaya Village as a pilot tourism village by the Ministry of Tourism and Creative Economy has made it more known among tourists. This Tourism Village is expected to provide opportunities for the community to utilize the existing potentials in supporting the sustainability of tourism activities. The aim of this research is to determine the appropriate strategies for the development of eco-tourism in Tarumajaya Tourism Village. The approach used in this study combines quantitative and qualitative methods, also known as mixed methods. The data collection methods employed in this study consist of primary and secondary data sources. The analysis methods utilized are Supply Demand Analysis and SWOT Analysis. The analysis results reveal that Tarumajaya Village's tourism is positioned in quadrant I. Therefore, it is suitable to use the Strengths Opportunities (SO) strategy to develop the business, supported by a growth-oriented strategy. One of the suitable strategies is the Ecotourism Education Program: Developing an educational program that educates tourists about the natural diversity, sustainability, and environmental protection in Tarumajaya Village. Abstrak. Desa Wisata Tarumajaya merupakan desa wisata yang terdapat di Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Desa Tarumajaya menjadi sorotan banyak pihak sejak adanya program Citarum Harum dan Situ Cisanti. Selain itu ditetapkannya Desa Tarumajaya menjadi desa wisata rintisan oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif membuat Desa Tarumajaya menjadi lebih dikenal oleh wisatawan. Desa wisata ini diharapkan dapat memberikan peluang pada masyarakat untuk memanfaatkan potensi-potensi yang ada untuk mendukung keberlangsungan kegiatan pariwisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui strategi yang tepat untuk pengembangan ekowisata Desa Wisata Tarumajaya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dan metode kualitatif atau disebut juga dengan mix methods. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam studi ini terbagi ke dalam dua bagian yaitu sumber data primer dan sekunder. Metode analisis yang digunakan yaitu Analisis Supply Demand dan Analisis SWOT. Dari hasil analisis diketahui bahwa pariwisata Desa Tarumajaya berada pada posisi kuadran I. Sehingga cocok menggunakan strategi SO atau Strenghts Opportunities untuk mengembangkan usaha tersebut dan didukung oleh strategi pertumbuhan agresif atau Growth Oriented Strategy. Salah satu strategi yang tepat yaitu dengan Program Edukasi Ekowisata: Mengembangkan program edukasi yang mengedukasi wisatawan tentang keanekaragaman alam, keberlanjutan, dan perlindungan lingkungan di Desa Tarumajaya
Identifikasi Fasilitas Geopark Stone Garden : Studi Kasus Cipatat Kabupaten Bandung Barat Alvy Nabilazzahra; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8502

Abstract

Abstract. Geopark Stone Garden is one of the tourism potentials in West Java and involves a cultural heritage site that has knowledge, high historical meaning, is unique and has aesthetic value, the community believes these karst rocks were once the seabed which experienced land rise, so that hills were formed with coral rocks. According to Wawan as the manager, the karst of Geopark Stone Garden is called Limestone, which is a sedimentary rock that forms on the seabed in millions of years, through geological processes the rock deposits are finally lifted to the sea surface and form plains or glamping stone mountains. The purpose of this research is to identify the availability, function, and condition of the facilities at Geopark Stone Garden. The method of collecting data in this study was by means of field observations in the form of photo documentation, the analytical method used was weighted scoring based on the Guttman scale measurement scale. The results of the scoring weighting are, availability for each facility is available or scattered, then for facilities that are not functioning properly, namely facilities, gates, and directions, then for facilities that are not in good condition, namely facilities, gates, toilets, tourist information boards, road network, garbage bins, directions, parking lots, sewage drainage, places of worship, and gazebos. The need for maintenance or rejuvenation of every facility in Geopark Stone Garden Abstrak. Geopark Stone Garden merupakan salah satu potensi wisata di Jawa Barat dan melibatkan situs warisan budaya yang memiliki ilmu pengetahuan, makna sejarah yang tinggi, keunikan dan memiliki nilai estetika, masyarakat percaya bebatuan karst ini dulunya adalah dasar laut yang mengalami kenaikan daratan, sehingga terbentuklah bukit dengan bebatuan karang. Menurut Wawan selaku pengelola, karst Geopark Stone Garden ini bernama Batu Gamping, yaitu batu endapan yang terbentuk di dasar laut dalam kurung waktu jutaan tahun, melalui proses geologi akhirnya endapan batu tersebut terangkat ke permukaan laut dan membentuk dataran atau pegunungan batu glamping. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi ketersediaan, fungsi, dan kondisi fasilitas di Geopark Stone Garden. Metode pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara observasi lapangan berupa dokumentasi foto, metoda analisis yang digunakan yaitu pembobotan skoring berdasarkan skala pengukuran skala guttman. Hasil dari pembobotan skoring yaitu, ketersediaan untuk setiap fasilitas sudah tersedia atau tersebar, selanjutnya untuk fasilitas yang tidak berfungsi dengan baik yaitu fasilitas, gapura, dan petunjuk arah, selanjutnya untuk fasilitas yang tidak baik kondisinya yaitu fasilitas, gapura, toilet, papan informasi wisata, jaringan jalan, tempat sampah, petunjuk arah, tempat parkir, drainase air kotor, tempat ibadah, dan gazebo. Perlunya perawatan atau peremajaan pada setiap fasilitas di Geopark Stone Garden.
Strategi Pengembangan Desa Wisata Dayeuhkolot Kecamatan Sagalaherang Kabupaten Subang Rivaldi Noval Gumilar; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8505

Abstract

Abstract. The development of tourism in Indonesia continues to increase, this is used by the government in improving the economy of the community and the country. The existence of various potentials owned by each region is the main capital in the development of the tourism sector, one of which supports the creation of a tourist village. A tourist village is an area that offers various types of existing tourism potential, such as natural attractions, culture, and local community creativity with the support of attractions, amenities, accessibility and other facilities to attract tourists to visit the tourist village. Dayeuhkolot Village itself has the goal of becoming a tourist village with various types of potential to be utilized as tourist attractions. Creating a tourist village requires a development strategy in utilizing tourism potential as the main component in a tourist village. This research approach uses a mix method approach or a combination of qualitative and quantitative methods. The types of data used are primary and secondary data obtained through various methods such as interviews, questionnaires, observation, and related literature studies. In addition, this study focuses on management in tourist villages with the support of local community participation in creating good and developing tourist villages. Therefore, it is necessary to have a development strategy as a plan in an effort to realize and market tourist villages so that they can achieve the goal of improving quality in the economic, tourism, and also for the welfare of the surrounding community. Abstrak. Perkembangan pariwisata di Indonesia terus meningkat, hal tersebut dimanfaatkan pemerintah dalam meningkatkan perekonomian masyarakat dan negara. Adanya berbagai potensi yang dimiliki tiap daerah menjadi modal utama dalam pengembangan sektor pariwisata, salah satunya mendukung terciptanya suatu desa wisata. Desa wisata merupakan suatu kawasan yang didalamnya menawarkan berbagai jenis potensi wisata yang ada, seperti atraksi alam, budaya, dan kreativitas masyarakat lokal dengan adanya dukungan atraksi, amenitas, aksesibilitas dan fasilitas lainnya untuk menarik wisatawan berkunjung ke desa wisata tersebut. Desa Dayeuhkolot sendiri memiliki tujuan menjadi desa wisata dengan berbagai jenis potensi yang dimiliki untuk dapat dimanfaatkan menjadi atraksi wisata. Menciptakan suatu desa wisata perlu adanya strategi pengembangan dalam memanfaatkan potensi wisata sebagai komponen utama yang ada dalam suatu desa wisata. Pendekatan penelitian ini menggunakan metode pendekatan mix method atau gabungan dari metode kualitatif dan kuantitatif. Jenis data yang digunakan merupakan data primer dan sekunder yang diperoleh melalui berbagai cara seperti wawancara, kuesioner, observasi, dan studi litelatur yang berkaitan. Selain itu, dalam penelitian ini memfokuskan pada pengelolaan di desa wisata dengan adanya dukungan partisipasi masyarakat lokal dalam menciptakan desa wisata yang baik dan berkembang. Maka dari itu, perlu adanya strategi pengembangan sebagai rencana dalam upaya merealisasikan serta memasarkan desa wisata agar dapat mencapai tujuan untuk meningkatkan kualitas di sektor perekonomian, pariwisata, dan juga bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. The development of tourism in Indonesia continues to increase, this is used by the government in improving the economy of the community and the country. The existence of various potentials owned by each region is the main capital in the development of the tourism sector, one of which supports the creation of a tourist village. A tourist village is an area that offers various types of existing tourism potential, such as natural attractions, culture, and local community creativity with the support of attractions, amenities, accessibility and other facilities to attract tourists to visit the tourist village. Dayeuhkolot Village itself has the goal of becoming a tourist village with various types of potential to be utilized as tourist attractions. Creating a tourist village requires a development strategy in utilizing tourism potential as the main component in a tourist village. This research approach uses a mix method approach or a combination of qualitative and quantitative methods. The types of data used are primary and secondary data obtained through various methods such as interviews, questionnaires, observation, and related literature studies. In addition, this study focuses on management in tourist villages with the support of local community participation in creating good and developing tourist villages. Therefore, it is necessary to have a development strategy as a plan in an effort to realize and market tourist villages so that they can achieve the goal of improving quality in the economic, tourism, and also for the welfare of the surrounding community.
Analisis Pengaruh Perubahan Pola Penggunaan Lahan terhadap Bencana Banjir di Kecamatan Gedebage Arya Cakrapravastha; Lely Syiddatul Akliyah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8513

Abstract

Abstract. Changes in land use patterns that occur in Gedebage District are increasing every year. This is due to the fact that Gedebage District has become the center for technological development in the city of Bandung in accordance with the direction of the Bandung City RPJMD 2018-2023 point 3. As a result, many rice fields have been converted into hardened buildings and settlements resulting in reduced green open space around Gedebage District. The purpose of this study is to identify which land use patterns are most influential in Gedebage District. The method used in this research is map overlay method and multiple linear regression analysis method. Based on the results of the overlay analysis, the data shows that there are many land uses that do not match the 2015-2035 Bandung City RDTR spatial pattern map in Gedebage District. The results of the analysis of this study indicate that land use that greatly influences flood height is trade and service land use in Gedebage Subdistrict. Gedebage Subdistrict must work together to tackle the flood disaster in Gedebage Subdistrict, the Gedebage Subdistrict community must comply with applicable regulations by not carrying out land conversion without permission from the authorities. Abstrak. Perubahan pola penggunaan lahan yang terjadi di Kecamatan Gedebage semakin meningkat setiap tahunnya. Hal ini disebabkan dijadikannya Kecamatan Gedebage menjadi pusat pengembangan teknologi kota Bandung sesuai dengan arahan dari RPJMD Kota Bandung Tahun 2018-2023 poin ke 3. Dampaknya banyak sawah yang dirubah menjadi bangunan diperkeras dan pemukiman sehingga berkurangnya ruang terbuka hijau yang ada di sekitaran Kecamatan Gedebage. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi pola penggunaan lahan apa yang paling berpengaruh di Kecamatan Gedebage. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode overlay peta dan metode analisis regresi linier berganda. Berdasarkan hasil analisis overlay bahwa data menunjukkan banyaknya penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peta pola ruang RDTR Kota Bandung 2015-2035 di Kecamatan Gedebage. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan yang sangat berpengaruh terhadap luas banjir adalah penggunaan lahan perdagangan dan jasa di Kecamatan Gedebage melakukan penyesuaian antara kondisi eksisting penggunaan lahan Kecamatan Gedebage dengan RDTR Kota Bandung 2015-2035 dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap segala aspek, Pemerintah Kota Bandung dan Kecamatan Gedebage harus bekerjasama untuk menanggulangi bencana banjir yang ada di Kecamatan Gedebage, masyarakat Kecamatan Gedebage harus taat dengan peraturan yang berlaku dengan cara tidak melakukan alih fungsi lahan tanpa seizin dari pihak yang berwenang.
Strategi Pengembangan Ekowisata Taman Wisata Alam Punti Kayu Kecamatan Alang-Alang Lebar Kota Palembang M Syafrul Rasidin Safrul; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8525

Abstract

Abstract. Several cities in Indonesia have implemented ecotourism as a tourist destination that sells nature. Like one of the City Forest Parks located in Palembang City, the park is called Punti Kayu which already existed and was built by the Dutch Government in 1936. Before becoming Punti Kayu, it was formerly called Taman Syailendra and was changed to Punti Kayu until now. The reason for the construction of Punti Kayu is to become a water catchment area. Punti Kayu City Forest Park has been approved as a Nature Tourism Park based on a conservation area that can be used as a City Forest tourist attraction. The land area of Punti Kayu has decreased from year to year from 98 hectares to 48 hectares until in 2002 Punti Kayu was legalized as a Nature and Conservation Tourism Park with an area of 39.9 hectares. for 2 years the world has been hit by the Covid-19 pandemic, causing losses to all mankind, including in the field of tourism. In this case, research was conducted to find out the current condition of the Punti Kayu Nature Park and how the researchers attempted to formulate a development strategy to anticipate land reduction and develop the Punti Kayu Nature Park so that it could attract many tourists to visit. The approach method used in this study is the combined method or Mix Method. The analytical method that researchers use is qualitative and quantitative analysis. Qualitative analysis itself was carried out by interviews, observation, data collection from previous researchers. Quantitative analysis that researchers do by using SWOT. The results of this research are expected to be a recommendation for a Development Strategy for the management to continue to develop Punti Kayu Abstrak. Beberapa Kota di Indonesia sudah menerapkan Ekowisata sebagai salah satu destinasi wisata yang menjual alam. Seperti salah satu Taman Hutan Kota yang terletak di Kota Palembang, Taman tersebut bernama Punti Kayu yang sudah ada dan dibangun Pemerintah Belanda pada Tahun 1936. Sebelum menjadi Punti Kayu dulunya bernama Taman Syailendra dan diubah menjadi Punti Kayu hingga sekarang. Alasan dibangunnya Punti Kayu untuk menjadi daerah resapan air. Taman Hutan Kota Punti Kayu sudah disahkan menjadi Taman Wisata Alam berbasiskan daerah konservasi yang bisa dimanfaatkan sebagai objek wisata Hutan Kota. Luas lahan Punti Kayu mengalami pengurangan dari tahun ke tahun dari luas lahan 98 Ha menjadi 48 Ha hingga pada tahun 2002 Punti Kayu di sahkan sebagai Taman Wisata Alam dan Konservasi dengan luas 39,9 Ha. selama 2 tahun Dunia dilanda pandemi Covid-19 sehingga menyebabkan kerugian seluruh umat manusia tak terkecuali dalam bidang pariwsata. Pada kasus ini diadakan penelitian untuk mengetahui kondisi terkini dari Taman Wisata Alam Punti Kayu serta bagaimana upaya peneliti dalam merumuskan sebuah strategi pengembangan untuk mengantisipasi terjadinya pengurangan lahan serta mengembangkan Taman Wisata Alam Punti Kayu agar bisa menarik banyak wisatawan untuk berkunjung. Metode pendekekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode gabungan atau Mix Method. Metode analisis yang peneliti gunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif sendiri dilakukan dengan wawancara, observasi, pengumpulan data dari peneliti sebelum. Analisis kuantitatif yang peneliti lakukan dengan cara memakai SWOT. Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa menjadi rekomendasi Strategi Pengembangan bagi pihak pengelola untuk terus mengembangkan Punti Kayu