cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Arahan Perluasan Kawasan Pasar Simpang Dago Berdasarkan Rencana Tata Ruang Kota Bandung Deby Shafa Anifa; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9189

Abstract

Abstract. Traditional markets are synonymous with negative stigma, such as dirty, disorderly places, minimal facilities, and the character of places that are prone to fraud. Simpang Dago market in the city of Bandung, which has a negative stigma, is also affected by the problems of irregular street vendors, traffic, and trade zoning. Simpang Dago Market revitalization has been carried out several times, but has not produced a significant impact. In fact, the revitalization in 2015 and 2019 has not resolved the problem of irregular street vendors, traffic, and trade zoning. The planned outputs in the Bandung City RDTR 2015–2035 and Bandung City RTRW 2022–2042 direct the expansion of the trade and service area in the Simpang Dago area. This has the potential to deal with problems that have not ended yet, by expanding Simpang Dago Market area inward which currently has an area of 3,610.05 m². The expansion of the Simpang Dago Market area has not been determined and studied further, so this research is important to overcome the irregularity problem. Calculations for the expansion of the Simpang Dago Market area in Bandung City used a mixed methods approach with descriptive and spatial (GIS-based) analysis methods. The results showed that Simpang Dago Market area could be planned for an inward expansion of 10,680 m² with an increase in the market classification to type II according to SNI 8152:2021 Public Market. Abstrak. Pasar tradisional identik dengan stigma negatif, seperti tempat yang kumuh, kotor, tidak beraturan, fasilitas yang minim, serta karakter tempat yang rawan terjadi kecurangan. Pasar Simpang Dago Kota Bandung dengan stigma negatif tersebut turut terdampak permasalahan ketidakteraturan PKL, lalu lintas, serta zonasi perdagangan. Revitalisasi Pasar Simpang Dago sudah beberapa kali dilakukan, tetapi belum menghasilkan dampak yang signifikan. Bahkan, revitalisasi di tahun 2015 dan 2019 belum mengatasi permasalahan ketidakteraturan PKL, lalu lintas, serta zonasi perdagangan tersebut. Keluaran rencana dalam RDTR Kota Bandung Tahun 2015–2035 dan RTRW Kota Bandung Tahun 2022–2042 mengarahkan perluasan kawasan perdagangan dan jasa di kawasan Simpang Dago. Hal ini menjadi potensi untuk menangani permasalahan yang selama ini belum berakhir, yakni dengan perluasan kawasan Pasar Simpang Dago ke arah dalam yang secara eksisting memiliki luas sebesar 3.610,05 m². Perluasan kawasan Pasar Simpang Dago belum ditentukan dan diteliti lebih lanjut, sehingga penelitian ini menjadi penting untuk mengatasi permasalahan ketidakteraturan tersebut. Perhitungan untuk perluasan kawasan Pasar Simpang Dago Kota Bandung menggunakan pendekatan mixed methods dengan metode analisis deskriptif dan spasial (GIS-based). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Pasar Simpang Dago dapat direncanakan perluasan ke arah dalam sebesar 10.680 m² dengan peningkatan klasifikasi pasar menjadi tipe II sesuai SNI 8152:2021 Pasar Rakyat.
Analisis Pemenuhan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Berdasarkan Kebutuhan Oksigen di Kecamatan Cianjur Muhammad Akbar Fauzy; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9215

Abstract

Abstract. Oxygen is an essential element required by humans for life and survival. Besides humans, oxygen is also needed by motor vehicles and industries for optimal combustion, thus reducing exhaust emissions that pollute the air. The fulfillment of oxygen needs can be achieved through the development of Green Open Spaces (RTH), which function as the city's lungs and serve as irreplaceable oxygen producers. In the year 2021, Cianjur District had a total area of RTH amounting to 1.99% of the total area, which is still below the established standard of at least 30% of the total area of urban areas. The purpose of this research was to analyze the fulfillment of RTH based on oxygen needs in Cianjur District in the year 2021. This study utilized a mixed methods approach. The calculation of oxygen needs was assumed to be used only by residents, motor vehicles, and industries, and then calculated based on their respective standards. Next, to calculate the required RTH area, the Gerarkis equation (1974) modified by Nasyith (2020) was used. The results of this research showed that the oxygen produced by the existing RTH in Cianjur District in 2021, covering an area of 50.03 hectares, amounted to 25,329.00 kg/day. When compared to the total oxygen demand in Cianjur District in 2021, which amounted to 378,929.80 kg/day, it indicated a deficit of 353,600.79 kg/day. This means that Cianjur District in 2021 still needs additional RTH covering an area of 698.47 hectares, equivalent to 27.72% of its total area, to fulfill its oxygen requirements in the region. Abstrak. Oksigen merupakan hal esensial yang diperlukan oleh manusia untuk hidup dan kehidupannya. Selain manusia oksigen juga diperlukan oleh kendaraan bermotor dan industri untuk proses pembakaran yang optimal, sehingga emisi gas buang akan semakin sedikit yang mencemari udara. Pemenuhan kebutuhan oksigen dapat terpenuhi dengan pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang sejatinya memiliki fungsi sebagai paru-paru kota sekaligus sebagai produsen oksigen yang belum tergantikan. Kecaman Cianjur pada tahun 2021 memiliki jumlah luasan RTH sebesar 1,99% dari total luas wilayah yang masih di bawah standar yang ditetapkan yaitu paling sedikit sebesar 30% (tiga puluh persen) dari total luas wilayah kawasan perkotaan. Dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis terkait pemenuhan RTH berdasarkan kebutuhan oksigen di Kecamatan Cianjur pada Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan secara mix methods. Perhitungan kebutuhan oksigen diasumsikan hanya digunakan oleh penduduk, kendaraan bermotor, dan industri yang kemudian dihitung berdasarkan standarnya masing-masing. Kemudian, untuk menghitung kebutuhan luas RTH menggunakan persamaan Gerarkis (1974) yang di modifikasi dalam (Nasyith, 2020). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah oksigen yang dihasilkan oleh RTH eksisting di Kecamatan Cianjur pada tahun 2021 seluas 50,03 ha adalah sebesar 25.329,00 kg/hari, jika nilai tersebut dibandingkan dengan total kebutuhan oksigen di Kecamatan Cianjur pada tahun 2021 sebesar 378.929,80 kg/hari, maka Kecamatan Cianjur pada tahun 2021 masih defisit oksigen sebesar 353.600,79 kg/hari atau dapat dikatan pada tahun tersebut Kecamatan Cianjur masih membutuhkan RTH seluas 698,47 ha atau sebesar 27,72% dari total luas wilayahnya untuk memenuhi kebutuhan oksigen kawasannya.
Strategi Pemenuhan Neraca Pangan Padi dalam Mendukung Kebijakan Ketahanan Pangan di Desa Kiangroke, Banjaran. Arya Sugihman; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9232

Abstract

Abstract. This study aims to analyze food security in Kiangroke village, Banjaran District. Data obtained through land suitability analysis, natural resource management, and agricultural policies are used to evaluate the challenges and potentials in achieving food security in this area. The research findings indicate that Kiangroke village faces challenges in meeting the increasing food needs of its population. Although rice production in this region has good potential, paddy loss needs to be addressed to achieve an optimal amount of rice. In addressing these challenges, comprehensive strategies are needed, such as improving agricultural productivity, developing agricultural infrastructure, and strengthening the capacity of farmers and agricultural institutions. The food security program in Kiangroke, Banjaran District can focus on identifying the potential of natural resources, developing organic farming, and enhancing access to local markets. Collaboration among the government, farmers, and other stakeholders is key to the successful implementation of this program. By implementing appropriate strategies, it is expected that Kiangroke village can achieve a higher level of food security and improve the well-being of farmers and the entire rural community. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketahanan pangan di desa kiangroke Kecamatan Banjaran. Data yang diperoleh melalui analisis kesesuaian lahan, pengelolaan sumber daya alam, dan kebijakan pertanian digunakan untuk mengevaluasi tantangan dan potensi dalam mencapai ketahanan pangan di wilayah ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa desa Kiangroke menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat yang semakin bertambah. Meskipun produksi beras di wilayah ini memiliki potensi yang baik, penyusutan gabah perlu diperhatikan untuk memperoleh jumlah beras yang optimal. Dalam menghadapi tantangan ini, diperlukan strategi yang komprehensif, seperti peningkatan produktivitas pertanian, pengembangan infrastruktur pertanian, dan penguatan kapasitas petani dan kelembagaan pertanian. Program ketahanan pangan di Kiangroke Kecamatan Banjaran dapat difokuskan pada identifikasi potensi sumber daya alam, pengembangan pertanian organik, dan peningkatan akses ke pasar lokal. Kolaborasi antara pemerintah, petani, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci keberhasilan implementasi program ini. Dengan menerapkan strategi yang tepat, diharapkan Desa Kiangroke dapat mencapai tingkat ketahanan pangan yang lebih baik dan meningkatkan kesejahteraan petani serta masyarakat desa secara keseluruhan.
Evaluasi Kondisi Alun-Alun Kabupaten Subang Berdasarkan Persepsi Pengunjung dan Pemerintah Kemal Ismail Dwi Putra; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9244

Abstract

Abstract. Subang square serves as an open space where people carry out socio-economic activities. This decrease in function is suspected because the management and supervision system is not optimal, so that many plaza facilities are damaged. In 2023 the alun – alun Subang is revitalized, but the academic study of the evaluation of the square based on public perception has not been studied. Therefore this research is needed so that it can be used by the government in carrying out revitalization. The analytical method used to answer the first target in this study is descriptive analysis and a rasch model for evaluating the alun – alun Subang based on visitor perceptions. The facilities and infrastructure in alun – alun Subang consist of: 71.43 garden lights, trash bins 41.67 and park benches 66.67, and children's playgrounds are included in the category of facilities and infrastructure that are in bad condition. The reliability coefficient value of Cronbach Alpha is 0.84, Person Reliability is 0.84, and Person Separation is 2.28.b. Based on the interpretation of Item Measure, Guttman Scalogram, and Variable Wright Maps, it is stated that the highest item difficulty level is item number 4 which discusses the availability of adequate public toilets. 1. Repairing the facilities and infrastructure of alun – alun Subang, especially facilities and infrastructure that are in poor condition, including: garden lights, trash cans, park benches, and children's playgrounds. 2. Arrange parking zones and trading activities in areas outside the Subang Regency Square, bearing in mind that the parking and trading zones are supporting sectors of Subang Regency Square in facilitating visitors so that further management and supervision is needed. Abstrak. Alun – alun Subang berfungsi sebagai ruang terbuka tempat masyarakat melakukan aktifitas sosial ekonomi. Penurunan fungsi ini diduga karena sistem pengelolaan dan pengawasan yang tidak optimal, sehingga banyak fasilitas alun – alun yang mengalami kerusakan. Tahun 2023 alun – alun Subang kembali di revitalisasi, namun kajian akademis terhadap evaluasi alun – alun berdasarkan persepsi masyarakat belum dikaji. Oleh karena itu penelitian ini di perlukan agar bisa menjadi bagi pemerintah dalam melakukan revitalisasi. Metode analisis yang dipergunakan untuk menjawab sasaran yang pertama pada penelitian ini merupakan analisis deskriptif dan rasch model untuk evaluasi alun – alun Kota Subang berdasarkan persepsi pengunjung ini.Sarana dan prasarana yang terdapat di Alun-Alun Kabupaten Subang terdiri dari: lampu taman 71,43, tempat sampah 41,67 dan bangku taman 66,67, dan taman bermain anak termasuk ke dalam kategori sarana dan prasarana yang memiliki kondisi buruk.a. Nilai koefisien realibilitas Cronbach Alpha sebesar 0,84, Realibilitas Person bernilai 0,84, dan Separation Person sebesar 2,28.b. Berdasarkan interpretasi Item Measure, Guttman Scalogram, dan Variable Wright Maps, menyatakan bahwa tingkat kesulitan item paling tinggi adalah item nomor 4 yang membahas mengenai ketersediaan toilet umum yang sudah memadai. 1. Memperbaiki sarana dan prasarana Alun-Alun Kabupaten Subang, terutama sarana dan prasarana yang memiliki kondisi buruk, meliputi: lampu taman, tempat sampah, bangku taman, dan tempat bermain anak. 2. Melakukan penataan zona parkir dan kegiatan perdagangan di kawasan luar Alun-Alun Kabupaten Subang, mengingat bahwa zona parkir dan perdagangan merupakan sektor pendukung Alun-Alun Kabupaten Subang dalam memfasilitasi pengunjung sehingga diperlukan pengelolaan dan pengawasan lebih lanjut.
Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Wisata Kampung Seni & Budaya Berbasis Eco – Museum di Kelurahan Jelekong Kabupaten Bandung Lathansya Mulya Sukmawati; Tarlani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9270

Abstract

Abstract.Tourism is a leading sector contributing the highest foreign exchange in Indonesia. In tourism activities, community participation is one of the crucial factors supporting the success of tourism endeavors. Jelekong Village is one of the villages located in Baleendah District and is home to an art village known as Kampung Seni & Budaya Jelekong. The purpose of this research is to determine the level of community participation in the development of Eco-Museum-based tourism. Kampung Seni & Budaya Jelekong has the potential to become an Eco-Museum as it fulfills the three dimensions required for an Eco-Museum. The methods used in this research are quantitative and descriptive qualitative with scoring analysis and analysis of participation levels. Based on the analysis results, it can be concluded that the level of community participation in Kampung Seni & Budaya Jelekong falls into the Agree category, considering several proposed indicators. The average participation percentage is 62.5%. Abstrak. Pariwisata merupakan sektor unggulan penyumbang devisa tertinggi di Indonesia. Dalam kegiatan pariwisata, partisipasi masyarakat merupakan salah satu faktor penting pendukung keberhasilan kegiatan pariwisata. Kelurahan Jelekong merupakan salah satu kelurahan yang berada di Kecamatan Baleendah dan yang memiliki kampung seni yaitu Kampung Seni & Budaya Jelekong. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan wisata berbasis Eco-Museum. Kampung Seni & Budaya Jelekong berpotensi dijadikan sebagai Eco – museum karena telah memenuhi 3 dimensi dari Eco – Museum. Metode yang digunakan yaitu kuantitatif dan deskriptif kualitatif dengan analisis skoring dan analisis tingkat partisipasi. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bahwa tingkat partisipasi masyarakat masyarakat Kampung Seni & Budaya Jelekong termasuk kedalam kelas Setuju, dilihat dari beberapa indikator yang diajukan. Persentase partisipasi rata – rata yaitu sebesar 62,5%.
Pengelolaan Sampah Rendah Karbon Menggunakan Pemodelan System Dynamics Dinar Aulliyah Balqis; Ivan Chofyan
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9295

Abstract

Abstract. Waste management is a crucial sector for controlling emissions. Transferring waste to landfills will produce methane gas, which is five times more fatal than CO2. Bandung city still relies on landfills for its waste management. 70% of its waste treated by regional on overcapacity landfill. Meanwhile, the 30% reduction target cannot be achieved without the informal sector. Therefore, a waste management system strategy from the source is needed, it would reduce the waste entering landfills only and prevents methane production. This study aims to determine the impact of the current waste management system on the emissions produced, then formulate a management system scenario that can reduce this impact. To achieve the first objective, primary data through observation become input for descriptive analysis of the existing system. Then, this analysis supports quantitative analysis in system dynamics with the last seven years from the institution. The base model is intervened through scenarios, including consumption reduction, TPS4R, and cooperation. The results show that the existing waste management system has poor performance if continued, it can only handle 6% of emissions in 2041 compared to its production. In addition, from the simulated scenarios, the best one is consumption reduction because it prevents waste production itself. Actions taken include limiting spending on consumption, only buying essentials, buying overstock products sold at half price, and so on. The consumption reduction scenario can reduce waste handled by landfills by up to 67,8%, unhandled waste by up to 70%, and optimal emission production by 64,4%. Abstrak. Pengelolaan sampah adalah sektor penting untuk mengendalikan emisi. Sampah yang terus ditransfer ke TPA akan menghasilkan gas metana yang dampaknya 5 kali lebih fatal dibandingkan CO2. Kota Bandung merupakan salah satu kota yang masih mengandalkan TPA dalam pengelolaan sampahnya. Bahkan target penanganan sampah yang mencapai 70% itupun dilakukan TPA regional yang overload. Sedangkan target pengurangan 30% tidak bisa efektif tanpa sektor informal. Maka dibutuhkan strategi sistem pengelolaan sampah sedari sumber, bukan hanya mengurangi sampah di TPA tetapi juga mencegah produksi metana. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dampak sistem pengelolaan sampah eksisting terhadap emisi yang dihasilkan, lalu merumuskan skenario sistem pengelolaan yang dapat mengurangi dampak tersebut. Untuk mencapai tujuan pertama dibutuhkan data primer, hasil observasi lapangan menjadi masukan analisis deskriptif untuk sistem eksisting. Lalu, analisis tersebut menjadi pendukung analisis kuantitatif dalam dinamika sistem dengan data sekunder 7 tahun terakhir dari instansi kebersihan Kota Bandung. Model dasar dari pengelolaan eksisting kemudian diintervensi melalui skenario-skenario tunggal yang meliputi pengurangan konsumsi, TPS4R, dan kerja sama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan sampah eksisting memiliki performa yang buruk jika dilanjutkan, bahkan di tahun 2041 hanya dapat menangani 6% emisi dibandingkan produksinya. Selain itu, dari skenario yang disimulasikan, yang paling baik performanya adalah pengurangan konsumsi karena mencegah produksi sampah itu sendiri. Tindakan yang dilakukan di antaranya, membatasi pengeluaran untuk konsumsi, hanya membeli yang esensial, membeli produk overstock yang dijual setengah harga, dan sebagainya. Skenario pengurangan konsumsi dapat menurunkan sampah yang ditangani TPA hingga 67,8%, sampah tidak tertangani sampai 70%, serta produksi emisi optimal 64,4%.
Pemetaan Tingkat Bahaya Bencana Kebakaran Sebagai Dasar Upaya Mitigasi Bencana Kebakaran Vachnabil Juriansyah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9426

Abstract

Abstract. Pontianak City, with its densely populated urban areas, faces an increased risk of fire disasters. Fire incidents are common occurrences in both urban and non-urban regions. In urban areas, fires primarily happen in densely populated and highly active zones. According to the Head of the Regional Public Order Agency (SATPOL PP) of Pontianak, there were 39 reported fire incidents in the city in 2021. Therefore, this research aims to assess the level of fire disaster risk in Pontianak City. The research adopts a quantitative approach, utilizing both primary and secondary data, analyzed through the PERKA BNPB NO 12 of 2012 and PERMEN PUN NO 20 of 2009 methodologies. The analysis revealed that six neighborhoods are classified as having a high-threat level, while 16 neighborhoods exhibit high vulnerability levels to fire disasters. Additionally, the capacity analysis indicated that all neighborhoods in Pontianak City have a low Community Resilience Index (IKM) and a moderate Community Disaster Index (IKD) of 0.45. Based on the risk assessment, five neighborhoods in Pontianak City are deemed high-risk areas, highlighting the need for appropriate infrastructure and recommendations. Measures such as installing fire hydrants and increasing awareness of fire disaster risks are essential, given the diverse traditional customs and rituals in Pontianak involving fire, including cultural ceremonies. Strengthening community involvement through environmental monitoring, fire-fighting training, and assistance in handling fire emergencies are vital steps to mitigate fire disasters effectively. Abstrak. Kota Pontianak mempunyai kawasan perkotaan yang cukup padat. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya bencana kebakaran di Kota Pontianak. Kebakaran merupakan salah satu jenis bencana yang sering terjadi pada kawasan perkotaan dan non-perkotaan. Pada kawasan perkotaan, kejadian kebakaran utamanya terjadi pada daerah berpenduduk padat atau pada daerah yang memiliki aktivitas tinggi dan menurut kepala Dinas SATPOL PP Kota Pontianak sudah terjadi 39 kasus kejadian kebakaran di tahun 2021 sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi nilai tingkat risiko bencana kebakaran di Kota Pontianak. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan didukung penggunaan data primer maupun sekunder diolah menggunakan metode analisis PERKA BNPB NO 12 Tahun 2012 dan PERMEN PUN NO 20 Tahun 2009. Hasil analisis tingkat bahaya kebakaran menunjukkan 6 kelurahan dengan kelas bahaya tinggi, hasil analisis kerentanan menunjukkan 16 kelurahan dengan tingkat nilai kerentanan tinggi, hasil analisis kapasistas seluruh kelurahan di Kota Pontianak memiliki tingkat IKM yang rendah dengan tingkat IKD yang sedang sebesar 0,45. Dari hasil analisis tingkat risiko bencana kebakaran dapat diketahui bahwa 5 kelurahan di Kota Pontianak memiliki tingkat risiko tinggi sehingga Kota Pontianak memerlukan saran dan infrastruktur yang memadai seperti pengadaan hidran, meningkatkan kesadaran pengenalan bahaya bencana kebakaran dikarenakan masyarakat Pontianak memiliki beragam tradisi adat dan ritual yang melibatkan api salah satunya upacara adat dan pemantauan lingkungan atau dengan pelatihan dan bantuan dalam menghadapi kebakaran.
Identifikasi Implementasi Pembangunan Green City Berdasarkan Persepsi Masyarakat di Kecamatan Rancasari Kota Bandung Muhammad Maulana Rizki; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9441

Abstract

Abstract. The 20th century was characterized by rapid and often uncontrolled urban growth that led to population density that continued to increase every year, resulting in many problems in the city, for example land conversion, flooding, and congestion. The Green City concept is a city concept that partly implements programs to balance the ecosystem and improve environmental quality. The purpose of this research is to determine the extent of development performance and community interests for Green City development based on community perceptions in Rancasari District, Bandung City. The target is to identify the performance of Green City development in Rancasari District, Bandung City. The benefits of the results of this study are that it can be an evaluation and recommendation in an effort to improve local government performance with the development of the Green City concept. The approach method in this research is quantitative method by using Importance Performance Analysis (IPA) analysis method and qualitative descriptive analysis. Importance Performance Analysis (IPA) analysis is an analytical technique to identify the main performance factors that must be demonstrated by the organization to prioritize public satisfaction In the IPA analysis that has been carried out there are quadrants in determining the priority scale, namely Quadrant I (Concentrate these) which amounts to 5, Quadrant II (Keep up the good work) which amounts to 8 attributes, then Quadrant III (Low priority) amounts to 9, and Quadrant IV (Possible overkill) amounts to only 2 attributes. Based on the results of measuring the level of conformity of the Rancasari sub-district, the average is 54.75%. This percentage shows a poor level of conformity so that people are not satisfied with the government's performance in Green City Development. Abstrak. Abad ke-20 ditandai dengan pertumbuhan kota yang cepat dan seringkali tidak terkendali sehingga menimbulkan kepadatan penduduk yang terus meningkat setiap tahun nya mengakibatkan banyak nya permasalahan di kota, contoh alih fungsi lahan, banjir, serta kemacetan. Konsep Green City (Kota Hijau) adalah konsep kota yang sebagian menerapkan program untuk menyeimbangkan ekosistem dan meningkatkan kualitas lingkungan. Tujuan dilakukanya penelitian ini yaitu untuk mengetahui sejauh mana kinerja pembangunan dan kepentingan masyarakat untuk pembangunan Green City berdasarkan persepsi masyarakat di Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Sasarannya adalah teridentifikasinya kinerja pembangunan Green City di Kecamatan Rancasari Kota Bandung. Adapun manfaat dari hasil penelitian ini yaitu dapat menjadi evaluasi dan rekomendasi dalam upaya peningkatan kinerja pemerintah daerah dengan pembangunan konsep Green City. Metode pendekatan dalam penelitian ini yaitu metode kuantitatif dengan menggunakan metode analisis Importance Performance Analysis (IPA). Analisis Importance Performance Analysis (IPA) adalah teknik analisis untuk mengidentifikasi faktor kinerja utama yang harus ditunjukkan oleh organisasi untuk memprioritaskan kepuasan masyarakat Dalam Analisa IPA yang telah dilakukan terdapat kuadran dalam penentuan skala prioritas, yaitu Kuadran I (Concentrate these) yang berjumlah 5, Kuadan II (Keep up the good work) yang berjumlah 8 atribut, lalu Kuadran III (Low priority) berjumlah 9, dan Kuadran IV (Possible overkill) berjumlah yang hanya 2 atribut. Berdasarkan hasil pengukuran tingkat kesesuaian kecamatan Rancasari rata-rata sebesar 54,75%. Persentase ini menunjukkan tingkat kesesuaian yang kurang baik sehingga masyarakat tidak puas dengan kinerja pemerintah dalam Pembangunan Green City.
Penentuan Lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU) di SWK Ujung Berung Kota Bandung Adam Pramudya Jourdan; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.9573

Abstract

Abstract. Planning is something that is needed in determining an activity for the future so that it can run well. One of them is planning regarding land for burial. The city as a place for various activities of the citizens of the city. A city will have a large burden in meeting the needs of its citizens. Population growth due to births and migration will lead to an increase in the need for land as a means of breeding and carrying out daily activities. On the other hand, population withdrawal in an area caused by death will require land designated for burial areas. Therefore the purpose of this study was to identify the optimal location for a Public Cemetery which is useful for serving the needs of the community for burial grounds in the Ujung Berung area, City of Bandung. The approach method used in this research is descriptive quantitative and the analytical method used in this research is ownership analysis, land use analysis, process hierarchy analysis (AHP), and spatial analysis. For data collection methods using secondary and primary data. The results of the analysis that has been carried out are 3 optimal locations based on the area, namely location 1 with an area of 31.7 Ha, location 2 with an area of 14.4 Ha and location 3 with an area of 8.2 Ha. With a land requirement of 5 hectares for the next 20 years, location 2 is the optimal and effective location for a public cemetery in the Ujung Berung area that can serve the needs of local community facilities. Abstrak. Perencanaan merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan didalam menentukan suatu kegiatan untuk kedepannya agar dapat berjalan dengan baik. Salah satu nya adalah perencanan mengenai lahan untuk pemakaman. Kota sebagai tempat berbagai aktifitas warga kotanya. Suatu kota akan memiliki beban yang besar dalam memenuhi kebutuhan warganya. Pertambahan penduduk akibat dari adanya kelahiran serta migrasi akan menyebabkan peningkatan kebutuhan lahan sebagai sarana untuk berkembang biak dan melakukan aktivitas sehari-hari. Disisi lain pengurangan penduduk pada suatu wilayah yang diakibatkan oleh faktor kematian akan membutuhkan lahan yang diperuntukan untuk area pemakaman. Maka dari itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi lokasi yang optimal untuk Tempat Pemakaman Umum (TPU) yang berguna untuk melayani kebutuhan masyarakat akan lahan pemakaman di wilayah SWK Ujung Berung Kota Bandung. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kependudukan, analisis penggunaan lahan, analisis hirarki proses (AHP), dan analisis spasial. Untuk metode pengumpulan data menggunakan data sekunder dan primer. Hasil dari analisis yang telah dilakukan terdapat 3 lokasi yang optimal berdasarkan luasan wilayah nya, yaitu lokasi 1 dengan luas 31,7 Ha, lokasi 2 dengan luas 14,4 Ha dan lokasi 3 dengan luas 8,2 Ha. Dengan kebutuhan lahan untuk 20 tahun yang akan datang sebesar 5 Ha maka lokasi 2 merupakan lokasi yang optimal dan efektif untuk sebuah lahan pemakaman umum di wilayah SWK Ujung Berung yang dapat melayani kebutuhan sarana masyarakat setempat.
Arahan Pengembangan Co-Working Space di Kawasan Kampus 1 (satu) Universitas Islam Bandung 10070320062, Restu Septian Nugraha; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 5 No. 2 (2025): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v5i2.18441

Abstract

Abstract. The rapid advancement of technology has a major impact on changes in individual behavior patterns, many people tend to rely on the internet and look for a comfortable place to interact, including in the context of academic learning. Co-working space is a supporting facility for students in learning activities outside the classroom. Co-working space on campus not only functions as a meeting place for students, but also as a collaboration space between students, lecturers, and staff, where students can complete individual assignments or discuss in groups. Unisba currently has superior accreditation, so it should provide facilities that reflect superior accreditation, one of which is co-working space. This study aims to identify the determination of location points and development of co-working space in the Universitas Islam Bandung campus area. The method used in this study is quantitative with spatial triangulation analysis techniques. The results of the study indicate that the location of co-working space development in the campus area 1 (one) of the Islamic University of Bandung is spread across 6 buildings, namely Tamansari building 1 (one), FMIPA, LPPM, Dean's Office, Medicine, and Postgraduate, with the development of co-working space divided into 2 categories, namely the development of co-working space by utilizing empty spaces that currently do not have optimal functions, and optimization of co-working space that is currently available. The area of ​​co-working space in the Campus area 1 (one) of the Islamic University of Bandung is less than the standard, which is 1,235.27 m2 out of 3 (three) so that it is necessary to increase the area of ​​co-working space. Abstrak. Pesatnya kemajuan teknologi berdampak besar pada perubahan pola perilaku individu, banyak orang cenderung mengandalkan internet dan mencari tempat yang nyaman untuk berinteraksi, termasuk dalam konteks pembelajaran akademik. Co-working space menjadi fasilitas pendukung mahasiswa dalam kegiatan pembelajaran di luar kelas. Co-working space di kampus tidak hanya berfungsi sebagai tempat pertemuan mahasiswa, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi antara mahasiswa, dosen, dan staf karyawan, di mana mahasiswa dapat menyelesaikan tugas individu maupun berdiskusi secara kelompok. Unisba saat ini memiliki akreditasi unggul, sehingga sudah seharusnya memberikan fasilitas yang mencerminkan akreditasi unggul, salah satunya adalah co-working space. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penentuan titik lokasi dan pengembangan co-working space di Kawasan kampus Universitas Islam Bandung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuantitatif dengan teknik analisis triangulasi spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lokasi pengembangan co-working space di kawasan kampus 1 (satu) Universitas Islam Bandung tersebar kedalam 6 gedung, yaitu gedung tamansari 1 (satu), FMIPA, LPPM, Dekanat, Kedokteran, dan Pascasarjana, dengan pengembangan co-working space terbagi kedalam 2 kategori, yaitu pengembangan co-working space dengan memanfaatkan ruang – ruang kosong yang saat ini tidak memiliki fungsi yang optimal, dan optimalisasi co-working space yang saat ini tersedia.