cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 221 Documents
Identifikasi Pengelolaan Kawasan Permukiman Kumuh di Kelurahan Sanua Dheanissa Trifatika; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.321 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3501

Abstract

Abstract. Sanua Village is a village that is indicated as high slum based on the Kendari Mayor's Decree No. 767/2014 concerning Determination of the Location of Slum Housing and Slum Settlement in Kendari City, with an area of ​​21 Ha. The problem identified in this area is that the sanitation conditions of the residential environment are not managed properly, so that it has an impact on the quality of the river in Sanua Village. This results in a reduction in the aesthetics of the area which affects the aesthetics and image of Kendari City. Based on this condition, it is necessary to conduct an identification study of area management in order to create a beautiful, comfortable, and worthy area to become a dwelling. The purpose of this study is to identify the management of residential areas in Sanua Village, using descriptive analysis method. From the results of the study conducted, that the condition of the existing house buildings only 45.47% that meet the standard of decent housing. Fulfillment of clean water, 68% of people use water sources from mountain springs, river conditions are not adequate, because 45.53% of people dispose of liquid waste and solid waste directly into the river. This happens because in the management of this area, the community does not understand the importance of area management. From this study it can be concluded that (1) in general, the condition of community housing does not meet the standard of decent housing; (2) generally the community disposes of liquid waste and solid waste directly into the river, thus having an impact on the condition of the river; (3) the community is less concerned and does not understand in the management of the area's environment. Some things that can be recommended include; (1) rejuvenating residential areas; (2) conduct socialization on the management of settlement sanitation; (3) invite the community to take part in the management of settlement sanitation through increasing public knowledge of healthy residential areas. Abstrak. Kelurahan Sanua merupakan Kelurahan yang terindikasi kumuh tinggi berdasarkan SK Walikota Kendari No. 767/2014 tentang Penetapan Lokasi Perumahan Kumuh dan Permukiman Kumuh Kota Kendari, dengan luas 21 Ha. Permasalahan yang teridentifikasi pada kawasan ini adalah kondisi sanitasi lingkungan permukiman tidak terkelola dengan baik, sehingga memberikan dampak terhadap kualitas sungai di Kelurahan Sanua. Hal ini mengakibatkan berkurangnya estetika kawasan yang berpengaruh terhadap estetika dan image Kota Kendari. Berdasarkan kondisi ini, perlu dilakukan studi indentifikasi pengelolaan kawasan agar dapat mewujudkan kawasan yang indah, nyaman, dan layak menjadi suatu hunian. Tujuan dari studi ini adalah teridentifikasinya pengelolaan kawasan permukiman di Kelurahan Sanua, dengan menggunakan metode deskriptif analisis. Dari hasil kajian yang dilakukan, bahwa kondisi bangunan rumah yang ada hanya 45,47% yang memenuhi standar hunian layak. Pemenuhan akan air bersih, 68% masyarakat menggunakan sumber air dari mata air pegunungan, kondisi sungai sudah tidak memadai, karena 45,53% masyarakat membuang limbah cair dan limbah padat langsung ke sungai. Hal ini terjadi karena dalam pengelolaan kawasan ini, masyarakat belum memahami akan pentingnya pengelolaan kawasan. Dari kajian ini dapat disimpulkan bahwa (1) pada umumnya kondisi hunian masyarakat belum memenuhi standar hunian layak; (2) umumnya masyarakat membuang limbah cair dan limbah padat langsung ke sungai, sehingga memberikan dampak terhadap kondisi sungai; (3) masyarakat kurang peduli dan kurang memahami dalam pengelolaan lingkungan kawasan. Beberapa hal yang dapat direkomendasikan antara lain; (1) melakukan peremajaan kawasan permukiman; (2) melakukan sosialisasi tentang pengelolaan sanitasi permukiman; (3) mengajak masyarakat untuk ikut berperan dalam pengelolaan sanitasi permukiman melalui peningkatan pengetahuan masyarakat akan kawasan permukiman sehat.
Studi Kelayakan Perencanaan Pengembangan Kawasan Pendidikan di Kabupaten Majalengka Berdasarkan Kriteria Smart Environment Dewi Febriyanti; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.991 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3503

Abstract

Abstract. The concept design for the development of the education area in Majalengka Regency has been stated in the master plan document for the development of the Majalengka education area. Even though you already have a master plan, it is necessary to conduct a feasibility test of the plan before the plan is implemented to identify problems, opportunities, benefits and results that will be obtained from the plan. The suitability of the education area development plan with the smart environment criteria is an effort to realize environmentally sustainable development so as to reduce the chance of adverse impacts on the environment in the future. The purpose of this study was to analyze the feasibility level of implementing the development of an educational area in Majalengka Regency based on smart environment criteria so that recommendations were obtained. The method used in this research is descriptive quantitative by using scoring. Based on the results of the analysis, it shows that the education area development plan in Majalengka Regency is quite feasible to be implemented when viewed based on the smart environment criteria. Recommendations to expedite the implementation of this plan include facilitating licensing, making AMDAL, maximizing the socialization process to the community, adding aspects of disaster mitigation, implementing 5R concept waste management, adding a burial ground of at least 1 ha and developing environmentally friendly energy processing technology in planning documents and propose several programs or activities for environmental conservation such as reducing the use of paper and plastic. Abstrak. Rancangan konsep pengembangan kawasan pendidikan di Kabupaten Majalengka telah tertuang dalam dokumen masterplan pengembangan kawasan pendidikan Majalengka. Meskipun telah memiliki masterplan, perlu dilakukan uji kelayakan rencana sebelum rencana tersebut diimplementasikan untuk mengidentifikasi masalah, peluang, manfaat dan hasil yang akan diperoleh dari rencana tersebut. Kesesuaian rencana pengembangan kawasan pendidikan dengan kriteria smart environment merupakan suatu upaya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan berwawasan lingkungan sehingga mengurangi peluang terjadinya dampak buruk bagi lingkungan di masa yang akan datang. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis tingkat kelayakan implementasi pengembangan kawasan pendidikan di Kabupaten Majalengka berdasarkan kriteria smart environment sehingga didapatkan rekomendasi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menggunakan skoring. Berdasarkan hasil analisis, menunjukan bahwa rencana pengembangan kawasan pendidikan di Kabupaten Majalengka cukup layak untuk diimplementasikan jika dilihat berdasarkan kriteria smart environment. Rekomendasi guna melancarkan implementasi rencana ini diantaranya yaitu memudahkan perizinan, membuat AMDAL, memaksimalkan proses sosialisasi pada masyarakat, menambah aspek mitigasi bencana, menerapkan pengelolaan sampah berkonsep 5R, menambah tanah peruntukan pemakaman minimal 1 Ha dan pengembangan teknologi pengolahan energi yang ramah lingkungan pada dokumen perencanaan serta mengusulkan beberapa program atau kegiatan untuk pelestarian lingkungan seperti pengurangan penggunaan kertas dan plastik.
Identifikasi Kapasitas Masyarakat Pemulung dalam Menghadapi Bencana Longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti Kecamatan Cipatat Kabupaten Bandung Barat Raisya Mutiara Insani; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.095 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3505

Abstract

Abstract. The Sarimukti Final Disposal Site (TPA) has two landslide disasters, namely garbage, and soil landslides, garbage landslide disasters occur due to waste that has exceeded capacity, while landslide disasters occur because the landfill location is on a steep slope and is on high ground motion conditions. Landslides can endanger the safety and disrupt the activities of people living in the Sarimukti TPA area. The people who are the object of research are people who live in the Sarimukti TPA area. The community is dominated by scavengers. In the scavenger community living in the TPA, there are vulnerable age groups, namely the elderly, seniors, toddlers, and women. The purpose of this study was to identify the condition of the capacity of the scavenger community at TPA Sarimukti. The methodology used is quantitative by conducting capacity analysis. The capacity assessment was obtained from the results of the interview recapitulation and based on the existing conditions of the Sarimukti TPA area. The results of the analysis obtained are the capacity of the Sarimukti TPA community in dealing with disasters, the condition of the low capacity of the scavenger community causes the scavenger community to experience difficulties in preventing, preparing, overcoming, and repairing the impact of the disaster. Abstrak. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti tedapat dua bencana longsor yaitu longsor sampah dan tanah, bencana longsor sampah terjadi akibat tumpukan sampah yang sudah melebihi kapasitas, sedangkan bencana longsor tanah terjadi karena lokasi TPA yang berada pada kemiringan lereng curam dan kondisi gerakan tanah tinggi. Bencana longsor dapat membahayakan keselamatan dan menganggu aktivitas masyarakat yang tinggal di kawasan TPA Sarimukti. Masyarakat yang menjadi objek penelitian adalah masyarakat yang tinggal di kawasan TPA Sarimukti. Masyarakat tersebut didominasi oleh pemulung. Dalam masyarakat pemulung yang tinggal di TPA terdapat kelompok usia rentan yaitu lansia, manula, balita dan wanita. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi kapasitas masyarakat pemulung di TPA Sarimukti. Metodelogi yang digunakan yaitu kuantitatif dengan melakukan analisis kapasitas. Penilaian kapasitas diperoleh dari hasil rekapitulasi wawancara dan berdasarkan kondisi eksisting kawasan TPA Sarimukti. Hasil analisis yang diperoleh yaitu kapasitas masyarakat TPA Sarimukti dalam menghadapi bencana rendah, kondisi kapasitas masyarakat pemulung yang rendah menyebabkan masyarakat pemulung menjadi mengalami kesulitan dalam mencegah, mempersiapkan, mengatasi dan memperbaiki dampak dari bencana.
Kajian Kinerja Pemerintah Kota Bandung dalam Penerapan Smart Living : Studi Kasus Kecamatan Coblong Asyifa Fadia Puspita; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.663 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3515

Abstract

Abstract. The city of Bandung applies the concept of a smart city, as an effort to overcome urban problems and provide a sense of life for the people of Bandung City, especially Coblong District through smart living. Smart living is the concept of urban development to realize a quality and sustainable life through smart thinking. However, until now, Coblong District itself still has various problems that occur in aspects of urban life such as congestion problems, uneven facilities and infrastructure, slums, inadequate public transportation, and low levels of security. Therefore, the author conducted a study that aims to examine the role of the performance of the Bandung City regional government in applying the Smart Living concept to realize the feasibility of living standards of people in Coblong District. There are 4 main indicators of Smart Living consisting of 15 variables that are used to assess the level of satisfaction of the people of District Coblong. The methodology used in this study is a mixed method approach with data collection methods carried out primarily and secondarily and processed using the Importance Performance Analysis method with the help of IBM SPSS software. The average value of entire smart living variable for suitability level between performance and importance is 76.07%, which means the quality of service that is being delivered by the government in the implementation of smart living haven't matched up with the expectations of Coblong district society, therefore, improvements in performance is needed, especially in variables that are a priority the main ones are Realizing access to the availability of healthy food and drink and health, Realizing a safe, peaceful and orderly urban environment, Integrated security. Abstrak. Kota Bandung menerapkan konsep smart city, sebagai upaya dalam mengatasi permasalahan perkotaan dan memberikan kelayakan hidup bagi masyarakat Kota Bandung, khususnya Kecamatan Coblong melalui smart living. Smart living merupakan konsep pembangunan kota untuk mewujudkan kehidupan yang berkualitas dan berkelanjutan melalui pemikiran cerdas. Namun hingga saat ini Kecamatan Coblong sendiri masih memiliki berbagai permasalahan yang terjadi dalam aspek kehidupan perkotaan seperti masalah kemacetan, sarana dan prasarana yang tidak merata, kawasan kumuh, transportasi umum yang tidak memadai, dan tingkat keamanan yang rendah. Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengkaji peran kinerja pemerintah daerah Kota Bandung dalam menerapkan konsep Smart Living untuk mewujudkan kelayakan taraf hidup masyarakat di Kecamatan Coblong. Terdapat 4 indikator utama Smart Living yang terdiri dari 15 variabel yang digunakan untuk menilai tingkat kepuasan masyarakat Kecamatan Coblong. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan metode campuran dengan metode pengumpulan data yang dilakukan secara primer dan sekunder serta diproses menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA) dengan bantuan software IBM SPSS. Nilai rata-rata seluruh variabel smart living untuk tingkat kesesuaian antara kinerja dan kepentingan adalah 76,07%, yang artinya kualitas layanan yang diberikan oleh pemerintah dalam pelaksanaan Smart Living Belum Sesuai dengan harapan masyarakat di Kecamatan Coblong sehingga perlu peningkatan kinerja khususnya dalam variabel yang menjadi prioritas utama yaitu Mewujudkan akses terhadap ketersediaan makanan dan minum sehat dan kesehatan, Mewujudkan lingkungan perkotaan yang aman, tentram dan tertib , Keamanan yang terintegrasi
Studi Penerapan Ketinggian Bangunan pada Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan di KKOP Bandara Husein Sastranegara Kota Bandung Andi Irsyad Nugraha; Ira Safitri D
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.268 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3522

Abstract

Abstract. One of the building height policies in Bandung is influenced by the existence of Husein Sastranegara Airport which is located in the middle of the city. In the Obstacle Limitation Surface rules for Husein Sastranegara Airport, the height of the building is regulated according to zoning regulations and the distance from the airport, including the Inner Approach Area in Cicendo and Sumur Bandung Districts. Obstacle Limitation Surface in the Potentially Accident Hazard Area is the most dangerous area, because the area is directly adjacent to the runway so the plane has a very low altitude. This study aims to identify the application of building heights in the Inner Approach area at Obstacle Limitation Surface of Husein Sastranegara and other irregularities so as not to interfere with air traffic. This study uses a qualitative approach with descriptive analysis method. Data - data taken by the method of observation, interviews, and secondary data. The analysis carried out is to compare the OLS policy rules from various standards, especially in the Potentially Accident Hazard Area, and compare them with existing conditions to see violations that occur. The results showed 1) OLS of Husein Sastranegara Airport had met national and international flight standards, 2) There were several violations found in the boundaries of the OLS, building heights, and land use around the airport. So far, these violations have not interfered with flights, but these violations need to be dealt with further because they are very dangerous for the safety of passengers and the public Abstrak. Kebijakan ketinggian bangunan di Kota Bandung salah satunya dipengaruhi oleh keberadaan Bandara Husein Sastranegara yang terletak di tengah kota. Dalam aturan KKOP Bandara Husein Sastranegara, ketinggian bangunan diatur sesuai peraturan zonasi dan jarak dengan bandara termasuk pada Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan yang berada di Kecamatan Cicendo dan Sumur Bandung. KKOP pada Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan merupakan kawasan paling berbahaya, karena kawasan tersebut berbatasan langsung dengan landasan pacu sehingga pesawat memiliki ketinggian yang sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penerapan ketinggian bangunan pada Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan di KKOP Husein Sastranegara serta penyimpangan lainnya sehingga agar tidak mengganggu lalu lintas penerbangan udara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis deskriptif. Data – data diambil dengan metode observasi, wawancara, dan data sekunder. Analisis yang dilakukan adalah dengan membandingkan aturan kebijakan KKOP dari berbagai standar terutama pada Kawasan Kemungkinan Bahaya Kecelakaan, serta membandingkan dengan kondisi eksisting untuk melihat pelanggaran yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan 1)KKOP Bandara Husein Sastranegara sudah memenuhi standar penerbangan secara nasional dan internasional, 2)Terdapat beberapa pelanggaran yang ditemukan pada batas - batas KKOP, ketinggian bangunan, hingga penggunaan lahan sekitar bandara. Pelanggaran tersebut sejauh ini tidak mengganggu penerbangan, namun pelanaggaran tersebut perlu ditindak lebih jauh karena sangat berbahaya bagi keselamatan penumpang dan masyarakat.
Kajian Green Infrastructure dalam Pengendalian Genangan di Ruas Jalan Kota Kupang: Studi Kasus: Jalan W.J Lalamentik Alifya Poeti Naqiya Asasty; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.353 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3529

Abstract

Abstract. Kupang City is the capital of East Nusa Tenggara Province which currently experiencing inundation issues due to the lack of drainage planning capabilities followed by increased permeable land use without paying attention to the stormwater absorption areas. W.J Lalamentik Street is a collector's road that has trade and service activities that experience inundation every year, especially in the wet weather season. As a result of this inundation, it has hampered people's mobility. This study aims to bioretention to control overflow inundation towards the road area through the urban stormwater management method. The analysis consisted of peak runoff discharge analysis to measure the maximum discharge that occurred in the research area using the rational method and then comparing the planned discharge with the existing drainage channel discharge. After that, the volume of bioretention capacity was calculated to see the ability of bioretention in controlling inundation using the Manning method. The results showed that the runoff discharge on W.J Lalamentik was 3.975 m/s for a 2 year return period, 5.765 m³/s for a 5 year return period and 7.305 m³/s for a 10 year return period. For capability analysis, it was found that bioretention capacity has a volume of 8.93 m³/s which indicates that the bioretention capacity is able to control inundation on the Jalan W.J Lalamentik section. The application of bioretention must also supported by soil type, infiltration and the ability of the trees so it can maximize the potential of bioretention as one of the green infrastructures for controlling inundation. Abstrak. Kota Kupang merupakan Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur yang saat ini telah mengalami isu genangan akibat minimnya kemampuan perencanaan drainase yang diikuti oleh peningkatan tata guna lahan kedap air tanpa memperhatikan kawasan penyerapan air hujan. Jalan W.J Lalamentik merupakan jalan kolektor yang memiliki kegiatan perdagangan dan jasa yang mengalami kejadian genangan tiap tahunnya khususnya pada musim penghujan. Timbulan genangan ini mengakibatkan terhambatnya mobilitas masyarakat dalam melakukan perjalanan antar wilayah. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji salah satu jenis infrastruktur hijau yaitu bioretensi untuk mengendalikan genangan yang melimpah menuju ruas jalan melalui metode manajemen limpasan air hujan. Analisis pada penelitian ini terdiri dari analisis debit limpasan puncak untuk mengukur debit maksimal yang terjadi di wilayah penelitian menggunakan metode rasional kemudian dilakukan perbandingan debit rencana dengan debit saluran drainase eksisting. Setelah itu, dilakukan perhitungan volume kapasitas bioretensi untuk melihat kemampuan bioretensi dalam mengendalikan genangan menggunakan metode Manning. Hasil dari analisis debit didapatkan bahwa debit limpasan yang terjadi di Jalan W.J Lalamentik adalah sebesar 3.975 m³/s untuk kala ulang 2 tahun, 5,765 m³/s untuk kala ulang 5 tahun dan 7,305 m³/s untuk kala ulang 10 tahun. Untuk analisis kemampuan, didapatkan bahwa kapasitas bioretensi memiliki volume sebesar 8.93 m³/s yang menunjukan bahwa kapasitas bioretensi mampu mengendalikan genangan di ruas Jalan W.J Lalamentik. Penerapan bioretensi juga harus didukung oleh jenis tanah, infiltrasi beserta kemampuan pohon yang akan dipilih sehingga dapat memaksimalkan potensi bioretensi sebagai salah satu infrastruktur hijau pengendali genangan.
Kajian Konsep Green Infrastructure (Constructed Wetland) dalam Revitalisasi Kualitas Air di Kawasan DAS Cikapundung Natasya Safira Viyanka Viyanka; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.526 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3538

Abstract

Abstract. River is network of water from springs to estuaries which is bounded by a border line. The entry of waste into the river will cause changes in biological, chemical, and physical factors of the waters. Cikapundung watershed has a length of 28 km. The condition of the Cikapundung sub-watershed is currently experiencing a decline both quantitatively and qualitatively. Cikapundung River water pollution is caused by household waste, livestock waste and the rest is industrial waste. Management of water resources in the Cikapundung River is very important to prevent water pollution, further research is needed to discuss the revitalization of water quality in the Cikapundung River using the concept of green infrastructure (Constructed Wetland). The purpose of this study is to reduce water pollution in the Cikapundung watershed so that it can be reused according to its designation. The method used in this study is a mixed method of qualitative analysis and quantitative analysis. The results of this study are that the water pollution of the Cikapundung River is caused by human factors, the quality of the river water is quite polluted and highly polluted. The concept of green infrastructure (Constructed Wetland) is most appropriate to use in improving river water quality because it is able to effectively reduce river water pollutant levels. The total wastewater is 4,008,159,760 liters/day, so the need for artificial wetlands is 24 units with a capacity of 4,713,771,000 liters to accommodate wastewater from 7,856,286 people, with a volume of 166 m3/unit. Removal efficiency 9% - 88%. Abstrak. Sungai adalah suatu jaringan air dari mata air ke muara yang dibatasi oleh garis perbatasan. Masuknya limbah ke sungai akan menyebabkan perubahan faktor biologi, kimia, dan fisik perairan. DAS Cikapundung memiliki panjang 28 km. Kondisi sub-DAS Cikapundung saat ini mengalami penurunan baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Pencemaran air Sungai Cikapundung disebabkan oleh limbah rumah tangga, limbah ternak dan sisanya limbah industri. Pengelolaan sumber daya air di Sungai Cikapundung sangat penting untuk mencegah pencemaran air, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk membahas revitalisasi kualitas air di Sungai Cikapundung dengan menggunakan konsep infrastruktur hijau (Constructed Wetland). Tujuan dari penelitian ini untuk mengurangi pencemaran air di DAS Cikapundung sehingga dapat digunakan kembali sesuai dengan peruntukannya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Metode Campuran analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Hasil penelitian ini pencemaran air Sungai Cikapundung disebabkan oleh faktor manusia, memiliki kualitas air sungai yang cukup tercemar dan sangat tercemar. Konsep infrastruktur hijau (Constructed Wetland) paling tepat digunakan dalam meningkatkan kualitas air sungai karena mampu menurunkan kadar polutan air sungai secara efektif. Total air limbah adalah 4.008.159.760 liter/hari, sehingga kebutuhan lahan basah buatan sebanyak 24 unit dengan kapasitas 4.713.771.000 liter untuk menampung air limbah dari 7.856.286 orang, dengan volume 166 m3/unit. Efisiensi penghapusan kadar polutan 9% - 88%.
Perspektif Pengunjung terhadap Bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman Cirebon Suci Dewi Rahmawati; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.68 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3559

Abstract

Abstract. Indonesia has a lot of cultural diversity that makes Indonesia has potential in the field of cultural tourism. Cultural heritage buildings are one of the cultural attractions that are in great demand by visitors. Kasepuhan Palace and Kanoman Palace are one of the cultural heritage buildings because they have cultural historical values ​​in them. Cultural heritage buildings, especially Kanoman Palace and Kasepuhan Palace, need preservation. Visitors have an important role in the implementation of conservation, one way for visitors to preserve cultural heritage buildings is by visiting these objects. This study analyzes the perspective of visitors to the buildings of the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace. The purpose of this study is as a reference for visitors' perspectives on cultural heritage buildings and policy recommendations. The method used in this research is a descriptive qualitative approach. The results of this study are that there is visitor interest in the object of cultural tourism attraction and the perspective of visitors to the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace buildings that the buildings inside are still well preserved with their atmosphere and cultural historical values. Abstrak. Indonesia memiliki banyak keragaman budaya yang menjadikan Indonesia memiliki potensi dalam bidang wisata budaya. Bangunan cagar budaya merupakan salah satu objek wisata budaya yang banyak diminati para pengunjung. Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan cagar budaya karena memiliki nilai sejarah budaya di dalamnya. Bangunan cagar budaya khususnya Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan perlu adanya pelestarian. Pengunjung memiliki peranan penting dalam pelaksanaan pelestarian, salah satu cara pengunjung melestarikan bangunan cagar budaya dengan mengunjungi objek tersebut. Pada penelitian ini menganalisis perspektif pengunjung terhadap bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai referensi perspektif pengunjung terhadap bangunan cagar budaya dan rekomendasi kebijakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat ketertarikan pengunjung terhadap objek daya tarik wisata budaya dan perspektif pengunjung terhadap bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman bahwa bangunan di dalamnya masih terjaga baik suasana dan nilai sejarah budayanya.
Analisis Kerentanan Bencana Banjir di Kabupaten Majalengka: Studi Kasus: Kecamatan Kertajati Fauziah Al-Amin; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.946 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3561

Abstract

Abstract. Kertajati District is one of the sub-districts that has become an Industrial Designated Area (KPI) in the Rebana Metropolitan New Urban and Industrial Estate program. In line with the program, Kertajati District has been equipped with various adequate infrastructure, such as West Java International Airport (BIJB) and Cikopo - Palimanan (Cipali) Toll Road, one of which is located in Kertajati District, Pakubeureum Village to be exact. However, when the flood occurred in February 2021, the flood submerged 5 (five) villages in Kertajati District and submerged the arterial route to BIJB and GT Kertajati with a height of 70 cm - 1 meter. As a result, GT Kertajati was temporarily closed and drivers were advised to leave in GT Sumberjaya or GT Cikedung. This study aims to analyze the vulnerability of floods that occurred in Kertajati District. The method used in this research is descriptive quantitative by calculating social vulnerability index, physical vulnerability index, economic vulnerability index and environmental vulnerability index. 2 of 2012 and the Technical Module for the Study of Flood Disaster Risk. The results of this study are the index of vulnerability to flooding in Kertajati District is in the medium to high class. Abstrak. Kecamatan Kertajati merupakan salah satu kecamatan yang menjadi Kawasan Peruntukan Industri (KPI) dalam program Kawasan Industri dan Perkotaan Baru Rebana Metropolitan. Selaras dengan program tersebut, maka Kecamatan Kertajati sudah dilengkapi berbagai infrastruktur yang memadai, seperti Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) dan Jalan Tol Cikopo - Palimanan (Cipali) yang salah satu Gate Tol nya berada di Kecamatan Kertajati, tepatnya di Desa Pakubeureum. Namun, saat banjir yang terjadi pada Februari tahun 2021 lalu, banjir tersebut merendam sebanyak 5 (lima) Desa di Kecamatan Kertajati serta merendam jalur arteri menuju ke arah BIJB dan GT Kertajati dengan ketinggian 70 cm – 1 meter. Akibatnya, GT Kertajati ditutup sementara dan pengendara diimbau untuk keluar di GT Sumberjaya atau GT Cikedung. Penelitian ini bertujuan untuk meganalisis kerentanan bencana banjir yang terjadi di Kecamatan Kertajati. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dengan menghitung indeks kerentanan sosial, indeks kerentanan fisik, indeks kerentanan ekonomi dan indeks kerentanan lingkungan untuk kemudian dilakukan pemodelan spasial sesuai Perka BNPB No. 2 Tahun 2012 dan Modul Teknis Kajian Risiko Bencana Banjir. Hasil dari penelitian ini adalah indeks kerentanan bencana banjir di Kecamatan Kertajati berada pada kelas sedang hingga tinggi.
Prediksi Lahan Terbangun di Wilayah Peri-Urban Kota Bandung Pramudya Alif; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.711 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3583

Abstract

Abstract. The rapid growth of Bandung City as the center of West Java Province and the center of the Bandung Metropolitan Area (BMA) has caused the development of the city to spread to peri-urban areas. Peri-urban areas affected by the spread of Bandung City include Cileunyi District, Rancaekek District, Jatinangor District which is located in the eastern part of Bandung City. As a result, the development of built-up land in the three sub-districts increased rapidly. This study aims to predict the development of built-up land in peri-urban areas in 2036 due to the spread of Bandung City. The methods used in this study are supervised image classification and Cellular Automata Markov. Analysis was carried out with ArcGis and TerrSet software. Digital elevation model, slope, population density, distance to road, distance to city center, and distance to industry are the driving variables used in this study to obtain land cover in 2036. The results of the study show that the kappa validation is 0.89. The accuracy value is in the very good category and is suitable to be used to predict land cover in 2036. Prediction of built-up land in the study area in 2036 reaches 5,104.75 Ha. The largest built-up areas are located in Cileunyi, Rancaekek, Jatinangor sub-districts with an area of ​​1,922.41 ha, 1,720.28 ha, and 1,456.87 ha, respectively. The development of built-up land leads to the west or approaches the city of Bandung. Abstrak. Pesatnya pertumbuhan Kota Bandung sebagai pusat Provinsi Jawa Barat dan pusat Bandung Metropolitan Area (BMA) menyebabkan perkembangan kota merembet ke wilayah peri-urban. Wilayah peri-urban yang terkena dampak perembetan Kota Bandung diantaranya Kecamatan Cileunyi, Kecamatan Rancaekek, Kecamatan Jatinangor yang terletak di bagian Timur Kota Bandung. Akibatnya perkembangan lahan terbangun di ketiga kecamatan meningkat dengan pesat. Studi ini bertujuan memprediksi perkembangan lahan terbangun di wilayah peri-urban pada tahun 2036 akibat perembetan Kota Bandung. Metode yang digunakan dalam studi ini adalah klasifikasi citra supervised dan Cellular Automata Markov. Analisis dilakukan dengan perangkat lunak ArcGis dan TerrSet. Digital elevation model, kemiringan lereng, kepadatan penduduk, jarak terhadap jalan, jarak terhadap pusat kota, dan jarak terhadap industri merupakan variabel pendorong yang digunakan dalam studi ini untuk memperoleh tutupan lahan tahun 2036. Hasil studi menunjukkan validasi kappa adalah 0,89. Nilai akurasi termasuk kategori sangat baik dan layak digunakan untuk memprediksi tutupan lahan tahun 2036. Prediksi lahan terbangun di wilayah studi tahun 2036 mencapai 5.104,75 Ha. Lahan terbangun terbesar secara berurutan berada di Kecamatan Cileunyi, Rancaekek, Jatinangor dengan luas masing-masing 1.922,41 Ha, 1.720,28 Ha, dan 1.456,87 Ha. Perkembangan lahan terbangun mengarah ke arah barat atau mendekati Kota Bandung.

Page 7 of 23 | Total Record : 221