cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 225 Documents
Profil Wilayah Kampung Wisata Braga Thirafi Yasyifa Ramadhani; Fachmy Sugih Pradifta
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (602.175 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3385

Abstract

Abstract. Braga Tourism Village is one of the villages that was proclaimed as a Tourism Village and inaugurated in 2019, is a program of the Bandung City government to develop tourism. Braga Tourism Village has the potential and assets that are rich in historical value. This research was identified exploratively using a qualitative descriptive approach, while the method in this study was based on a literature review related to policy, history, secondary data, and observations. From the results of the study, it was found that public spaces that have the highest influence that can be potential and attractive in the Braga Tourism Village, as for the public spaces are Co-Working Space, Gang Apandi, Gang Cikapundung, Gapura Gang Apandi, Teras Braga, Ropih Art House, Mural Gang, Family Medicinal Plants area, and RW 06 Hall. For public spaces that have the potential to be an attraction in Braga Tourism Village, it is necessary to identify related public spaces, therefore a general description of Braga Tourism Village is needed. Abstrak.Kampung Wisata Braga merupakan salah satu Kampung yang dicanangkan sebagai Kampung Wisata dan diresmikan pada tahun 2019, merupakan program pemerintan Kota Bandung dalam upaya mengembangkan pariwisata. Kampung Wisata Braga memiliki potensi dan aset yang kaya akan nilai sejarah. Penelitian ini diidentifikasi secara eksploratif menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif sedangkan untuk metode pada penelitian ini berlandasakan dari kajian literatur terkait kebijakan, sejarah, data sekunder dan hasil observasi. Dari hasil penelitian didapatkan ruang publik yang memiliki pengaruh paling tinggi yang dapat menjadi potensi maupun daya tarik di Kampung Wisata Braga, adapun ruang publik tersebut yaitu Co-Working Space, Gang Apandi, Gang Cikapundung, Gapura Gang Apandi, Teras Braga, Rumah Seni Ropih, Gang Mural, area Tanaman Obat Keluarga, dan Balai RW 06. Dari ruang publik yang memiliki potensi sebagai daya tarik yang terdapat di Kampung Wisata Braga perlunya melakukan identifikasi terkait ruang publik tersebut oleh karena itu diperlukan gambaran umum mengenai Kampung Wisata Braga.
Identifikasi Faktor-Faktor Pendukung dan Penghambat dalam Peningkatan Wisata Religi di Kawasan Masjid Manonjaya di Tasikmalaya: Wilayah Studi : Masjid Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat Muhammad Satria Faldi Fazary; Bambang Pranggono
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.456 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3403

Abstract

Abstract. Religious tourism is one type and has something to do with religious aspects. From the word religion, it is not just a journey, but it has a meaning for spiritual insight. Tasikmalaya Regency has the characteristics of a city of 1000 Islamic boarding schools and many mosques spread across its territory with interesting characteristics, especially the study area at the Great Mosque of Manonjaya. The Great Mosque of Manonjaya is characteristic of Dya Tarik from the structure of the building mixed with neoclassical nuances, the white walls are characteristic of Europe, the roof is an entity of influence from Javanese structures. In terms of its majestic beauty, but has obstacles in terms of tourism management or marketing, if the factors are not identified, tourism will run stagnate, for the purpose of identifying the supporting and inhibiting factors in order to increase tourism in the Great Mosque of Manonjaya, Tasikmalaya Regency. This study uses the MEX method (a combination of qualitative and quantitative methods) which can influence researchers based on tourism concepts such as Accessibility, Amenity, Attractions and Ancillary (Management or Management) and uses a special questionnaire using factor analysis and interviews in its identification . From this method using observation, questionnaires (visitors), interviews (managers or management) of the Great Mosque of Manonjaya, Tasikmalaya Regency closed for questionnaires and interviews. Abstrak. Wisata religi merupakan salah satu jenis dan ada kaitannya dengan aspek keagamaannya. Dari kata religi bukan perjalanan saja tetapi ada maknanya terhadap wawasan spiritual.Kabupaten Tasikmalaya memiliki ciri khas kota 1000 pesantren dan banyak Masjid yang tersebar di wilayahnya dengan ciri khas menarik terutama wilayah studi di Masjid Agung Manonjaya dari segi sejarahnya yang kental merupakan peninggalan kolonial. Masjid Agung Manonjaya ciri khas dya Tarik daru struktur bangunan tercampur oleh nuansa neoklasik, dinding warna putih ciri khas Eropa, atapnya sebuah entitas pengaruh dari struktur Jawa. Dari segi keindahannya yang megah, tetapi memiliki penghambat baik itu pengeolaan ataupun pemasaran wisata, apabila faktor-faktor tidak diidentifikasi wisata akan berjalan stagan, untuk pertujuan mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat agar peningkatan wisata di Masjid Agung Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Kajian ini menggunakan metode mex (gabungan metode kualitatif dan kuantitatif) dapat mempengaruh di dalam peneloti berdasarkan konsep wisata seperti Aksesibilitas, Amenitas, Atraksi dan Ancilliarry (pengelolaan atau pengurus), khusus kuesioner mengunakan analisis faktor dan wawancara dalam identifikasinya. Dari metode ini menggunakan observasi, kuesioner (pengunjung), wawancara (pengurus ataupun pengelolaan) Masjid Agung Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya secara tertutup.
Faktor Ketidaksesuaian Pemanfataan Lahan di Koridor Jalan Letjend Hertasning Perspektif Pengguna Lahan Agsha Dewantara; Ernawati Hendrakusumah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.449 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3405

Abstract

Abstract. The road corridor of lieutenant hertasning, located between the two sub-sub-district, densities of the makassar city district, in directions of the geared space pattern asa medium-density settlement and education center Its reality developed asa trading and market area. The purpose of this study is to identify Spaces and parcels that do not fit with the directives of space patterns and identify the discrepancy factor in the land-use corridor of lieutenant hertasning street. Superstructures to map areas of land use and kapling that do not match with directions for space patterns and multiple regression analysis to identify the factors that most influence the mismatch of land use based on a perspective of the manta society. Analysis shows that there was a discrepancy in the land use in the jalar corridor Lieutenant hertasning in 2011 before the town of makassar in 2011-2031 had 11.68 hectares and 93 inappropriate capling 148 kapling As of 2021, there was an increase in land use 1395 hectares and 165 lapels did not fit and 76 appropriate capers whereas At the end of multiple regression analysis, it shows that the most significant key driving factors influence communities to make use of unsuited land that is unaccessibility of the RTRW, then the means and accessibility while the constraint in using space against direction is a cost in development, then taxes and land value. Abstrak. Koridor Jalan Letjend Hertasning yang terletak di antara dua kecamatan yaitu Kecamatan Rappocini dan Kecamatan Panakkukang Kota Makassar, dalam arahan pola ruang diarahkan sebagai kawasan permukiman berkepadatan sedang dan kawasan pusat pendidikan namun pada realitanya berkembang sebagai kawasan perdagangan dan pertokoan. Tujuan penelitian ini untuk mengindentifikasi luasan lahan dan kapling yang tidak sesuai dengan arahan pola ruang dan mengindentifikasi faktor ketidaksesuain pemanfataan lahan di koridor Jalan Letjend Hertasning persperktif pengguna lahan.dengan menggunakan metode analisis spasial superimpose untuk memetakan luasan penggunaan lahan dan kapling yang tidak sesuai dengan arahan pola ruang dan analisis regresi berganda untuk mengindentifikasi faktor yang paling berpengaruh terhadap ketidaksesuaian pemanfataan lahan berdasarkan perspektif masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa terjadi ketidaksesuaian pemanfataan lahan di koridor Jalan Letjend Hertasning pada tahun 2011 sebelum adanya RTRW Kota Makassar Tahun 2011-2031 sebesar 11,68 Hektar dan 93 kapling yang tidak sesuai dan sesuai sebanyak 148 kapling sedangkan pada tahun 2021 terjadi peningkatan ketidaksesuain pemanfataan lahan sebesar 13,95 Hektar dan sebanyak 165 kapling tidak sesuai dan 76 kapling yang sesuai sedangkan pada hasil analisis regresi berganda menunjukkan bahwa faktor pendorong utama yang paling signifikan mempengaruhi masyarakat memanfaatkan lahan tidak sesuai yaitu ketidaktahuan terhadap RTRW, kemudian sarana dan aksesibilitas sedangkan faktor kendala dalam memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan arahan adalah biaya dalam pembangunan, kemudian pajak dan nilai lahan.
Studi Faktor Pemulihan Pariwisata Budaya Kota Bandung Era Covid-19 Novanda Jessa Charda; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.422 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3408

Abstract

Abstrack. The Wold Health Organization has determined that Covid-19 is a pandemic that is dangerous to human life due to its very fast and massive transmission, in the city of Bandung as one of the most cases of transmission, causing problems for the tourism destination sector which cannot operate because it is temporarily closed because it belongs to the non-essential sector, so the purpose of this study is to find out in what quadrant the tourism recovery is and the key factors for its recovery. The qualitative approach is the concentration of the study, using the method of analyzing strengths, weaknesses, opportunities, and threats to program planning variables to reduce risk, preparation of standby programs, response preparation programs, and programs to return to their original conditions on the criteria of crisis awareness indicators, security awareness, standards operational procedures, crisis management, tourism planning, health and safety measures, emergency response procedures, investigations, assistance and communication, tourism continuation, human resource-debriefing. From the results of the analysis, this study finds that the position of tourism in Bandung is in quadrant I, namely supporting aggressive steps, meaning being optimistic internally and externally as a guide in affirming the direction of improving recovery, while assessing the position of key factors owned by tourism objects and the relevant government towards recovery. met at the indicators of crisis awareness and communication assistance that had been adaptive and responsive was carried out in the Covid-19 pandemic situation. Abstrak. Wold Health Organization menetapkan Covid-19 menjadi sebuah pandemi yang membahayakan bagi kehidupan umat manusia disebabkan penularanya yang sangat cepat dan masif, di Kota Bandung sebagai salah satu kasus penularan terbanyak memberi masalah pada sektor destinasi pariwisata yang tidak dapat beroprasi sebab di tutup sementara karena tergolong pada sektor non-esensial, sehingga tujuan studi ini guna menemukan pada posisi kuadran apa pemulihan pariwisata beserta faktor kunci pemulihanya. Pendekatan kualitatif menjadi konsentrasi studi, dengan menggunakan metode analisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman kepada variabel perencanaan program untuk mengurangi risiko, persiapan program siaga, program persiapan respons, dan program pengembalian ke kondisi semula terhadap kareteria indikator kesadaran krisis, kesadaran keamanan, standar oprasional procedure, manajemen krisisi, perencanaan pariwisata, tindakan kesehatan dan keselamatan, prosedur tanggap darurat, investigasi, bantuan dan komunikasi, kelanjutan pariwisata, sdm-pembekalan. Dari hasil analisis, studi ini menemukan posisi kepariwisataan Kota Bandung berada di kuadran I yakni mendukung pada langkah agresif, artinya optimis secara internal dan eksternal sebagai petunjuk dalam mempertegas arah meningkatkan pemulihan, sementara penilaian kedudukan faktor kunci yang di miliki objek pariwisata dan pemerintah terkait menuju pemulihan bertemu pada kareteria indikator kesadaran krisis dan bantuan komunikasi yang telah adaptif serta responsif di laksanakan dalam situasi pandemi Covid-19.
Identifikasi Tingkat Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan Desa Wisata Lamajang Kabupaten Bandung Faizal Hamada; Gina Puspitasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.258 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3424

Abstract

Abstract. Tourism is one of the leading sectors that contributes the highest foreign exchange in Indonesia. Tourism activities are unlikely to be successful if there is no participation from the community. Lamajang Village is one of the villages in Indonesia which has been a tourism village since 2011. The purpose of this study was to determine the level of community participation in the development of the Lamajang Tourism Village. The method used is quantitative descriptive statistics with scoring analysis methods and participation rate analysis. From the results of the analysis, it can be concluded that the level of participation of the people of Lamajang Village is high, seen from the 4 stages, namely the planning stage of 92%, the implementation stage of 85.4%, the utilization stage of the results of 87%, the evaluation stage of 81% and the average percentage of participation. the average is 86.25%. However, the enthusiasm of the community has not been optimally supported by the village government in terms of funding so that the development of the Lamajang Tourism Village has not been optimal. Abstrak. Pariwisata merupakan salah satu sektor unggulan penyumbang devisa tertinggi di Indonesia. Kegiatan Pariwisata tidak mungkin berhasil apabila tidak adanya partisipasi dari masyarakat. Desa Lamajang salah satu desa di Indonesia yang merupakan Desa Wisata sejak tahun 2011. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengembangan Desa Wisata Lamajang. Metode yang digunakan yaitu statistik deskriptif kuantitatif dengan metode analisis skoring dan Analisis tingkat partisipasi. Dari hasil analisis dapat disimpulkan bawah tingkat partisipasi masyarkat Desa Lamajang yaitu tinggi, dilihat dari 4 tahapan yaitu tahap perencanaan sebesar 92%, tahap pelaksanaan sebesar 85,4%, tahap pemanfaatan hasil sebesar 87%, tahap evaluasi sebesar 81% dan persentase partisipasi rata-rata yaitu sebsar 86,25%. Namun, antusias masyarakat tersebut belum didukung secara optimal oleh pemerintah desa dari segi pendanaan sehingga, pengembangan Desa Wisata Lamajang belum optimal.
Penentuan Lokasi TPS 3R Berbasis Preferensi Masyarakat dan Spasial GIS di Kelurahan Tiban Lama Kota Batam Muhammad Baihaqi; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.414 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3448

Abstract

Abstract. The phenomenon begins with the provision of few 3R TPS facilities but the need for waste processing is so high in Tiban Lama Village, location direction is a consideration, seen from the community's desire for the existing 3R TPS facilities. Therefore, this study aims to determine the preferences of the surrounding community towards the direction of the TPS 3R Tiban Lama location, the problems in this study are formulated as follows. Based on this phenomenon, the problem in this research is formulated as follows: (1) What is the community's preference for determining the location of the 3R TPS in the village of Tiban Lama? (2) How to determine the location of the most suitable 3R TPS to be applied in the village of Tiban Lama?. The researcher uses a scoring analysis technique method with a Likert scale. The population selected in this study is the village of Tiban Lama. With the sampling technique, namely Proportional Random Sampling, the number of research samples was 68 respondents. In addition, GIS spatial analysis was also used in this study. The data analysis technique used in this research is the technical analysis of the mix method qualitative quantitative and descriptive. The results of this study are: there are 3 variables determining the location, namely distance to settlements, land use and distance to TPS and the addition of 3R TPS as many as 4 units with location distribution in several RWs with the highest level of waste generation including RW 1, 12, 14, 10, 7 dan RW 13. Abstrak. Fenomena diawali terhadap pengadaan sarana TPS 3R yang sedikit namun kebutuhan akan pengolahan sampah yang begitu tinggi di Kelurahan Tiban Lama, arahan lokasi menjadi pertimbangan dilihat dari keinginan masyarakat terhadap keberadaan sarana TPS 3R yang ada. Oleh karena itu, dilakukannya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui preferensi masyarakat sekitar terhadap arahan lokasi TPS 3R Tiban Lama, maka permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut: (1) Bagaimanakah preferensi masyarakat terhadap penentuan lokasi TPS 3R di Kelurahan Tiban Lama? (2) Bagaimanakah penentuan lokasi TPS 3R yang paling sesuai diterapkan di Kelurahan Tiban Lama? Peneliti menggunakan metode teknik analisis skoring dangan skala likert. Populasi yang dipilih dalam penelitian ini adalah masyarakat Kelurahan Tiban Lama. Dengan teknik pengambilan sampel yaitu Proposional Random Sampling diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 68 responden selain itu analisis spasial spasial GIS juga digunakan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi, dan studi pustaka. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknis analisis mix methode kualitatif kuantitatif dan deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah: terdapat 3 variabel penentuan loaksi yaitu jarak terhadap permukiman, guna lahan dan jarak terhadap TPS serta didapat penambahan TPS 3R sebanyak 4 unit dengan persebaran lokasi pada beberapa RW dengan tingkat timbulan sampah tertinggi diantaranya RW 1, 12, 14, 10, 7 dan RW 13
Penetapan Jalur Evakuasi Berdasarkan Multi-Risiko Bencana di Kecamatan Lembang Fadiah Kamila; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.321 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3454

Abstract

Abstract. Lembang District is one of the sub-districts in West Bandung Regency which is prone to three main disasters, namely landslides, volcanoes, and earthquakes. Lembang District has the potential for earthquakes that have a major impact on other disasters. If the Lembang Fault is active, it is expected to cause a large earthquake. Lembang Subdistrict is also prone to landslides with high rainfall intensity, geographically close to Mount Tangkuban Parahu which means that the sub-district of Lembang will be affected by the eruption if Tangkuban Parahu volcano erupts. This multi-disaster risk study will be used as a guide to determine evacuation routes in Lembang District. The identification of multiple disaster risks and the identification of evacuation routes in Lembang District are the main objectives of this study. The method used is a mixed method through multi-risk analysis, capacity analysis, and network analysis. The results obtained are that the multi-disaster risk in Lembang District is high, based on district-level decision making and evacuation route analysis produces 8 evacuation routes which consist of evacuation routes, evacuation directions, temporary evacuation sites, and final evacuation sites. Abstxrak. Kecamatan Lembang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang rawan akan tiga bencana utama yaitu longsor, gunung api, dan gempa. Kecamatan Lembang memiliki potensi gempa yang berdampak besar pada bencana lainnya. Apabila sesar lembang aktif diperkirakan akan mengakibatkan gempa besar. Kecamatan Lembang juga rawan longsor dengan intensitas hujan yang tinggi, letak geografis yang berdekatan dengan Gunung Tangkuban Parahu sehingga Kecamatan Lembang pun terkena dampak erupsinya. Penelitian multi risiko bencana di Kecamatan Lembang ini akan dijadikan pedoman untuk penentuan jalur evakuasi. Teridentifikasinya multi risiko bencana dan teridentifikasinya jalur evakuasi di Kecamatan Lembang merupakan tujuan utama dari penelitian ini. Metode yang digunakan adalah metode yang bersifat campuran melalui metode analisis multi risiko, analisis daya tampung dan analisis jaringan. Hasil yang diperoleh yaitu multi risiko bencana di Kecamatan Lembang adalah tinggi berdasarkan pengambilan keputusan tingkat kecamatan dan analisis jalur evakuasi menghasilkan 8 rute evakuasi yang didalamnya terdiri dari jalur evakuasi, arah evakuasi, tempat evakuasi sementara, dan tempat evakuasi akhir.
Kajian Falsafah Aboge dalam Sistem Ruang Hunian Di Kota Cirebon Mochamad Ghiffary; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.337 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3460

Abstract

Abstract. Indonesia has many ancient philosophies, one of which is in the city of Cirebon which has other important cultural sources. Cirebon has historical evidence that comes from cultural heritage that is local but intangible or intangible. In Cirebon itself, the concept of the embodiment of residential space emerged, namely in the Aboge Philosophy. The purpose of this study is to describe the Aboge philosophy in the residential space system. The approach and analysis method used in this research is to use the hermeneutic approach. In the Aboge philosophy there is a balance between humans, God, and the environment, which is shown through the elements of time, the layout of a room, the direction of the wind, and holding rituals, all of these elements are an effort to get rid of negative energy in the construction of a dwelling. The aboge philosophy that exists and develops in the city of Cirebon is intengible, but this is still maintained by some people and the Cirebon palace by means of "getok tular". Consideration of the aboge philosophy in the creation of a residential space is the location (where will the house face), time (hour, date, day, month), person (name, date of birth, what day was born, whose son), and the process of making a dwelling begins. from making the foundation to raising the temperature. Abstrak. Di Negara Indonesia memiliki banyak falsafah-falsafah kuno salah satunya berada di Kota Cirebon yang memiliki sumber kebudayaan penting lainnya. Cirebon memiliki bukti sejarah yang berasal dari warisan budaya yang sifatnya lokal namun tidak berwujud atau intangible. Di Cirebon itu sendiri muncul konsep perwujudan ruang hunian yakni di dalam Falsafah Aboge. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Falsafah Aboge dalam sistem ruang hunian. Metode pendekatan dan analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan hermeneutik. Dalam Falsafah Aboge terdapat keseimbangan antara manusia, tuhan, dan lingkungan itu ditunjukan melalui unsur waktu, tata letak suatu ruangan, arah mata angin, serta mengadakan ritual, semua unsur-unsur tersebut merupakan upaya untuk membuang energi negatif dalam pambangunan suatu hunian. Falsafah aboge yang berada dan berkembang di Kota Cirebon ini bersifat intengible, namun hal ini masih tetap dipertahankan oleh sebagaian masyarakat dan keraton Cirebon dengan cara “getok tular”. Pertimbangan falsafah aboge dalam penciptaan suatu ruang hunian terdapat lokasi (rumah akan menghdap kemana), waktu (Jam, Tanggal, Hari, Bulan), orang (nama, tanggal lahir, hari apa dilahirkan, bin siapa), dan proses pembuatan suatu hunian tersebut dimulai dari pembuatan pondasi hingga menaikan suhunan.
Kajian Alih Fungsi Lahan Sawah Menjadi Kawasan Terbangun: Studi Kasus: Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali Faza Fahira Sani; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.876 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3469

Abstract

Abstract. The phenomenon that occurs in Banyudono District is the construction of toll exits that have an influence on the development of activities and built-up areas. This encourages the rate of conversion of agricultural land in Banyudono District and affects regional food security. The purpose of identifying the impact of rice field conversion due to the development of built-up areas in Banyudono District, Boyolali Regency. The method carried out in this study uses a quantitative approach with several analyzes including analysis of the tendency to change the function of paddy fields, and impact analysis. From the results of the analysis, it was found that the trend of development of built-up areas and the proximity of rice fields to roads triggered the conversion of rice fields in Banyudono District, as well as having an impact on socioeconomics and reducing regional food security. Abstrak. Fenomena yang terjadi di Kecamatan Banyudono terdapat pembangunan exit tol yang memberikan pengaruh terhadap pengembangan kegiatan dan kawasan terbangun. Hal ini mendorong laju konversi lahan pertanian di Kecamatan Banyudono serta berpengaruh pada ketahanan pangan wilayah. Tujuan teridentifikasinya dampak alih fungsi lahan sawah akibat perkembangan kawasan terbangun di Kecamatan Banyudono, Kabupaten Boyolali. Metode yang dilakukan pada kajian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan beberapa analisis di antaranya analisis kecenderungan alih fungsi lahan sawah, dan analisis dampak. Dari hasil analisis didapat bahwa kecenderungan perkembangan kawasan terbangun dan kedekatan lahan sawah dengan jalan memicu alih fungsi lahan sawah di Kecamatan Banyudono, serta berdampak terhadap sosial ekonomi dan penurunan ketahanan pangan wilayah.
Kajian Potensi Desa sebagai Aset dalam Pengembangan Desa Wisata Rawabogo Siti Al Zyanasya; Imam Indratno
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3485

Abstract

Abstract. Potential is an essential element that must exist in developing a tourist village. Rawabogo Village is one of the tourist villages in Bandung Regency, which has diverse potential, both natural and cultural. Behind this potential, Rawabogo Village still has potential that can be further explored and utilized to support the development of the Rawabogo Tourism Village. This study aims to further identify the potential of Rawabogo Village as an asset in keeping the Rawabogo Tourism Village through asset mapping developed by Jody Kretzmann and John McKnight. The method used in this research is descriptive qualitative with interactive analysis techniques. Data collection was conducted through interviews, observation, and documentation studies. The study results show that Rawabogo Village has a diversity of potential besides nature and culture that can develop to support the development of its tourist village. From asset mapping, it's known that Rawabogo Village possesses valuable assets are the diversity of abilities and skills of individuals and community groups as well as the existence of Mount Nagara Padang, especially the Megalithic Stone Site, which in addition to being a tourism potential is also the identity of Rawabogo Village. Abstrak. Potensi merupakan unsur penting yang harus ada dalam pengembangan desa wisata. Desa Rawabogo merupakan salah satu desa wisata di Kabupaten Bandung yang memiliki keberagaman potensi baik alam maupun budayanya. Dibalik potensi tersebut, Desa Rawabogo masih memiliki potensi yang dapat digali lebih lanjut keberadaannya serta diberdayagunakan untuk mendukung pengembangan Desa Wisata Rawabogo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai keberadaan potensi yang dimiliki Desa Rawabogo sebagai asset dalam mendukung Desa Wisata Rawabogo melalui pemetaan asset yang dikembangkan oleh Jody Kretzmann and John McKnight. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik analisis interaktif. Pengumpulan data pada penelitian dilakukan melalui metode wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan Desa Rawabogo memiliki keberagaman potensi selain alam serta budayanya yang dapat dikembangkan lagi untuk mendukung pengembangan desa wisatanya. Dari pemetaan asset diperoleh asset berharga yang dimiliki oleh Desa Rawabogo, yakni keberagaman kemampuan dan keterampilan dari setiap individu dan kelompok masyarakat serta adanya Gunung Nagara Padang terutama Situs Batu Megalitikum didalamnya yang selain menjadi potensi wisata juga menjadi identitas dari Desa Rawabogo itu sendiri.

Page 6 of 23 | Total Record : 225