cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 225 Documents
Minat Masyarakat terhadap Keraton Cirebon di Era Globalisasi Alamsyah Al Ghani; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.719 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3595

Abstract

Abstract. The tourism sector is claimed to be one way to improve the economy for the community. The palace is a form of historical heritage and also a cultural heritage. Until now, the palace and its derivatives can still be found in the city of Cirebon even though it is influenced by the currents of globalization. The current flow of globalization has had an influence on the cultural development of the Indonesian nation. In the era of globalization, there are many other tourist destinations that are considered more attractive. This is what makes this research conducted with the aim of knowing the public's interest in the Cirebon Palace and its derivatives in the era of globalization. This study uses a descriptive method using a quantitative approach. The sampling technique used is Cluster Random Sampling and the number of research samples obtained is 117 respondents. Selected respondents in this study are people who live in Cirebon City, Cirebon Regency, Bandung City. The results of the analysis show that from the 8 questions, the majority of respondents answered agree, which means that people are still interested in the Cirebon Palace cultural tourism despite the strong current of globalization. This can be used as a reference by the palace manager to develop cultural tourism in the three palaces both in terms of development and marketing. Abstrak. Sektor Pariwisata diklaim sebagai salah satu jalan untuk meningkatkan perekonomian bagi masyarakat. Keraton merupakan salah satu bentuk peninggalan sejarah dan juga cagar budaya. Sampai saat ini keraton beserta turunannya masih dapat dijumpai di Kota Cirebon walaupun dipengaruhi oleh adanya arus globalisasi. Arus globalisasi saat ini telah menimbulkan pengaruh terhadap perkembangan budaya bangsa Indonesia. Di era globalisasi pun banyak muncul destinasi wisata lainnya yang dianggap lebih menarik. Hal inilah yang membuat penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui minat masyarakat terhadap Keraton Cirebon beserta turunannya di era globalisasi. Penelitian ini memakai metode deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan yaitu Cluster Random Sampling dan diperoleh jumlah sampel penelitian sebanyak 117 responden. Responden terpilih dalam penelitian ini adalah masyarakat yang berdomisili di Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon Kota Bandung. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari ke-8 pertanyaan didapat bahwa mayoritas responden menjawab setuju yang berarti bahwa masyarakat masih berminat terhadap wisata budaya Keraton Cirebon walaupun adanya arus globalisasi yang kuat. Hal ini dapat dijadikan acuan oleh pengelola keraton untuk mengembangkan wisata budaya pada ketiga keraton baik dari segi pembangunan maupun pemasaran.
Kajian Biaya Dampak Pembangunan Revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati di Kecamatan Cilimus Kabupaten Kuningan Muhammad Dzulfikar; Tonny Judiantono; Yulia Asyiawati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.324 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3596

Abstract

Abstract. In 2016, the West Java Provincial Government has planned development activities for the Revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area, which is included in the Building and Environmental Management Plan for the Linggajati Village Cultural Heritage Tourism Area. The revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area is not only the revitalization of the Linggarjati Negotiation Building, but the revitalization activities consist of the development of tourism areas so as to have an impact on local government finances in meeting the level of service for public goods. The purpose of this study is to identify the predicted impact of local government financing in the revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area. The approach used to achieve the study objectives is a special procedure approach with the case study method analysis method. From the results of the study, it was found that the financing issued by the Regional Government was Rp. 205,857,496,234, for the fulfillment of infrastructure needs. Meanwhile, the income that is expected to be received by the regional government is Rp. 323,983,216,483 sourced from permits, taxes, and regional levies. Based on the analysis carried out, it can be concluded that the construction of the revitalization of the Linggarjati Negotiation Building Area is not expected to be a burden on the regional government's finances. The Regional Government of Kuningan Regency must prepare regulations related to the amount of retribution. Abstrak. Pada tahun 2016, Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah merencanakan kegiatan pembangunan untuk Revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati, yang termasuk kedalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Kawasan Wisata Cagar Budaya Kelurahan Linggajati. Revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati tidak hanya revitalisasi Gedung Perundingan Linggarjati, tapi kegiatan revitalisasi tersebut terdiri dari pengembangan kawasan pariwisata sehingga menimbulkan dampak terhadap keuangan Pemerintah daerah dalam pemenuhan tingkat pelayanan terhadap barang public. Tujuan dari kajian ini adalah mengidentifikasi prediksi dampak pembiayaan Pemerintah Daerah dalam pembangunan revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati. Pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan studi adalah pendekatan prosedur khusus dengan metode analisis case study method. Dari hasil studi diperoleh bahwa pembiayaan yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah sebesar Rp. 205.857.496.234, untuk pemenuhan kebutuhan infrastruktur Sedangkan pendapatan yang diperkirakan akan diterima Pemerintah daerah adalah sebesar Rp. 323.983.216.483 yang bersumber dari perizinan, perpajakan, dan retribusi daerah. Berdasarkan analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa pembangunan revitalisasi Kawasan Gedung Perundingan Linggarjati diperkirakan tidak akan membebani terhadap keuangan Pemerintah Daerah. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan harus mempersiapkan aturan-aturan yang terkait dengan besaran retribusi.
Prediksi Perubahan Tutupan Lahan dan Suhu Permukaan Lahan: Studi Kasus Kota Surabaya Tri Bagus Armansyah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (612.583 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3597

Abstract

Abstract. The city of Surabaya as a metropolitan city cannot be avoided from the phenomenon of urbanization. This has an impact on increasing built-up land which has the potential to erode other lands, one of which is vegetation land so that it can trigger an increase in land surface temperature. The existence of the Cellular Automata method and the use of satellite imagery make it possible to predict changes in land cover and land surface temperature in the future. It was found that in 2034 in the city of Surabaya there was a change in land cover in the form of an increase in built-up land from 25692,15 Ha to 29982,19 Ha, a decrease in vegetation land from 3615,78 Ha to 1698,45 Ha, a decrease in vacant land from 3138,87 Ha to 889,04 Ha, decreased water area from 402,14 Ha to 280,25 Ha and found an increase in land surface temperature which was dominated by temperature class >30 °C by 30044,38 Ha, decreased temperature class from 28-30 °C to 2171,83 Ha, a decrease in the temperature class from 24-26 °C to 117,56 Ha, a decrease in the temperature class from 22-24 °C to 4,52 Ha without a temperature class of 20-22 °C and <20 °C. Abstrak. Kota Surabaya sebagai kota metropolitan tidak terhindar dari adanya fenomena urbanisasi. Hal tersebut berdampak pada peningkatan lahan terbangun yang berpotensi mengikis lahan-lahan lain salah satunya lahan vegetasi sehingga dapat memicu peningkatan suhu permukaan lahan. Adanya metode Cellular Automata dan pemanfaatan citra satelit memungkinkan untuk memprediksi perubahan tutupan lahan dan suhu permukaan lahan di masa yang akan datang. Didapati hasil penelitian pada tahun 2034 di Kota Surabaya terjadi perubahan tutupan lahan berupa meningkatnya lahan terbangun dari 25692,15 Ha menjadi 29982,19 Ha, menurunnya lahan vegetasi dari 3615,78 Ha menjadi 1698,45 Ha, menurunnya lahan kosong dari 3138,87 Ha menjadi 889,04 Ha, menurunnya lahan perairan dari 402,14 Ha menjadi 280,25 Ha serta ditemui meningkatnya suhu permukaan lahan yang didominasi oleh kelas suhu >30 °C sebesar 30044,38 Ha, menurunnya kelas suhu 28-30 °C menjadi 2171,83 Ha, menurunnya kelas suhu 26-28 °C menjadi 510,65 Ha, menurunnya kelas suhu 24-26 °C menjadi 117,56 Ha, menurunnya kelas suhu 22-24 °C menjadi 4,52 Ha tanpa adanya kelas suhu 20-22 °C dan <20 °C.
Analisis Ketercapaian Kinerja Utama (Important Performance Analysis) City Branding Kota Surakarta di Sektor Pariwisata Muhammad Anwar Farouqi; Ernady Syaodih Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.977 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3598

Abstract

Abstract. City branding is an urban marketing strategy that aims to strengthen the relationship between visitors and build a good city image. Unfortunately, branding has made the name Solo more well-known, but has not had enough economic impact. The problem arises how the level of achievement of performance and importance in the development of city branding. The purpose of this study is to find out how city branding is carried out by the Surakarta City government in an effort to increase the potential for visiting tourists. Data analysis methods used include IPA analysis (Importance Performance Analysis) and primary data collection methods (interviews, questionnaires, observations) and secondary (document review). Based on the results of the analysis of the calculation of the government's performance and interests in each indicator, the government is expected to improve tourism branding, technology, and socio-cultural conditions. The conclusion of this research is that most of the government's performance exceeds expectations and the government carries out many programs that facilitate the community. The recommendation for the Surakarta City government is to synergize every program of activities and services in the development of city branding Abstrak.City branding adalah strategi pemasaran perkotaan yang bertujuan untuk memperkuat hubungan antara pengunjung dan membangun citra kota yang baik. Sayangnya, branding telah membuat nama Solo semakin dikenal, namun belum cukup berdampak secara ekonomi. Timbul permasalahan bagaimana tingkat kertecapaian kinerja dan kepentingan dalam pengembangan city branding. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana city branding yang dilakukan oleh pemerintah Kota Surakarta dalam upaya meningkatkan potensi berkunjung wisatawan. Metode analisis data yang digunakan meliputi Analisis IPA (Importance Performance Analysis) dan metode pengumpulan data primer (wawancara, kuesioner, observasi) dan sekunder (menelaah dokumen). Berdasarkan hasil analisis perhitungan kinerja dan kepentingan pemerintah dalam setiap indikator, pemerintah diharapkan dapat meningkatkan branding wisata, teknologi, dan kondisi sosial budaya. Kesimpulan dari penilitian ini sebagian besar kinerja pemerintah melebihi ekspetasi dari harapan dan pemerintah banyak melakukan program yang memfasilitasi masyarakat. Adapun rekomendasi untuk pemerintah Kota Surakarta yaitu mensinergikan setiap program kegiatan dan pelayanan dalam pengembangan city branding.
Identifikasi Atraksi Wisata Budaya Keraton Cirebon Beserta Turunannya Dinda Erina Utami; Astri Mutia Ekasari
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (544.064 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3607

Abstract

Abstract. Cirebon City is famous for the existence of the Kasepuhan Palace, Kanoman Palace, and Kacirebonan Palace as the potential to become the main cultural and historical tourism destinations in this city. The palace also has its own cultural charm, such as dance, food, architecture, and traditional ceremonies. The three palaces are part of the culture of the community's capital that can be developed into a tourism attraction. The purpose of writing this article is to identify the cultural tourism attractions of the Cirebon palace and their derivatives. The method used is an exploratory method to explore and study more deeply about the cultural tourism attractions of the palace in Cirebon and its derivatives. The results of field observations and documentation show that there are very diverse historical and cultural relics of the Cirebon palaces including dances (Mask Dance, Sintren Dance), traditional ceremonies (Panjang Jimat, Grebeg Syawal), culinary (Nasi Bogana), and building architecture. The conclusion of this study found various kinds of cultural tourism attractions of the palace that hold meaning and history for Cirebon’s people Abstrak. Kota Cirebon terkenal dengan adanya Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan sebagai potensi untuk menjadi destinasi utama wisata budaya dan sejarah di kota ini. Keraton juga memiliki pesona budayanya tersendiri, seperti seni tari, makanan, arsitektur, upacara adat. Ketiga keraton menjadi salah satu bagian kebudayaan dari modal masyarakat yang bisa dikembangkan menjadi atraksi pariwisata. Tujuan penulisan artikel ini mencoba untuk mengidentifikasi atraksi wisata budaya keraton Cirebon beserta turunannya. Metode yang digunakan adalah metode metode eksploratif untuk menggali dan mengkaji lebih dalam mengenai atraksi wisata budaya keraton di Cirebon beserta turunannya. Hasil observasi dan dokumentasi lapangan menunjukkan adanya peninggalan sejarah dan budaya keraton-keraton Cirebon yang sangat beragam diantaranya tarian (Tari Topeng, Tari Sintren), upacara adat (Panjang Jimat, Grebeg Syawal), kuliner (Nasi Bogana), dan arsitektur bangunan. Kesimpulan dari penelitian ini ditemukan berbagai macam atraksi wisata budaya keraton hingga saat ini yang menyimpan makna serta sejarah bagi masyarakat Kota Cirebon.
Pengembangan Wisata Religi Banten Lama Riza Subban Alhakimi; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.194 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3618

Abstract

Abstract. The issue which states that there are indications that Banten Lama religious tourism cannot develop from now on because stakeholders have not made efforts to develop religious tourism and have not paid more attention to its development. Then find out the problem. The problem covers two aspects, namely aspects of tourist attraction and aspects of management and service. Based on the above background, the formulation of the problem arises, whether religious tourism in Banten Lama can be more developed. With the aim of knowing whether or not the Old Banten religious tourism could be more developed. The analysis used in this research is descriptive analysis of the scale range. The analyzed aspect is the aspect of tourist attraction with the factors assessed are, tourist attraction, accessibility, tourism support facilities, tourism support services, conditions around the area and accommodation. Aspects of management and service with assessed factors are management and service, organizational structure, master plan, “Collaborative Management” of cross-sectoral agencies and Sapta Pesona. Answering from the problem formulation that says whether Banten Lama religious tourism can be more developed. Based on the results of the analysis and discussion in the previous chapter, it was concluded that the Old Banten religious tourism "Can Develop". For tourist attractions and management and services that are not yet developed, reviewing a development can be a must. The proposal is aimed at factors with criteria that are sufficiently developed and not developed, namely tourist attraction, conditions around the area, management and services, master plan and accommodation. Abstrak. Isu yang menyatakan bahwa ada indikasi wisata religi Banten Lama tidak dapat berkembang dari sekarang karena pemangku kepentingan belum berupaya dalam mengembangkan wisata religi serta kurang perhatian lebih terhadap pengembangannya. Kemudian diketahuilah permasalahannya. Permasalahannya mencakup kepada dua aspek, yaitu aspek daya tarik wisata dan aspek pengelolaan dan pelayanan. Berdasarkan latar belakang di atas, maka timbulah rumusan masalah, apakah wisata religi Banten Lama dapat lebih berkembang. Dengan tujuan, mengetahui wisata religi Banten Lama dapat tidaknya lebih berkembang. Analisis yang digunakan pada peneliatian ini adalah, analisis deskriptif rentang skala. Aspek yang dianalisis yaitu aspek daya tarik wisata dengan faktor yang dinilai adalah, daya tarik wisata, aksesibilitas, fasilitas pendukung wisata, layanan pendukung wisata, kondisi sekitar kawasan dan akomodasi. Aspek pengelolaan dan pelayanan dengan faktor yang dinilai adalah pengelolaan dan pelayanan, struktur organisasi, induk pengembangan (master plan), “Collaborative Management” instansi lintas sektor dan sapta pesona. Menjawab dari rumusan masalah yang mengatakan apakah wisata religi Banten Lama dapat lebih berkembang. Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan pada bab sebelumnya diambil kesimpulan bahwasannya wisata religi Banten Lama “Dapat Berkembang”. Terhadap daya tarik wisata dan pengelolaan dan pelayanan yang belum berkembang, meninjau suatu pengembangan bisa menjadi keharusan. Usulan dituju pada faktor-faktor dengan kriteria cukup berkembang dan tidak berkembang yaitu daya tarik wisata, kondisi sekitar kawasan, pengelolaan dan pelayanan, induk pengembangan (master plan) dan akomodasi.
Kajian Kampung Islam Kauman di Kecamatan Gondomanan Kota Yogyakarta Fazri Ismail; Bambang Pranggono
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.488 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3624

Abstract

Abstract. Kampung Kauman Yogyakarta is an old residential neighborhood in the central area of ​​Yogyakarta City which has a very distinctive character, especially its Islamic historicity and religiosity. Kauman village has a pattern of settlements that gather and cluster with buildings that are close to each other so that it makes a dense area like Islamic cities in the Middle East. The reformist Islamic movement, Muhammadiyah, which was founded by KH Ahmad Dahlan was also born in Kauman Village on November 18, 1912. Although in Kauman Village there is an Islamic renewal movement and the people are obedient in carrying out Islamic teachings based on the Qur'an and Sunnah, namely anti-superstition. , heresy, Churafat (TBC) but Kauman Village is adjacent to the location of the palace's cultural tradition, namely its cultural values ​​are still mixed with mystical things. This study aims to identify Kauman Village, Yogyakarta, which can be considered as an Islamic village. This study uses a qualitative approach with the method of socio-cultural analysis of Islam and analysis of historical evidenceThis study aims to determine the socio-cultural conditions of the Kauman Islamic Village and the elements as evidence of historical heritage in Kauman Village, Yogyakarta. Data collection techniques used in this study were questionnaires, interviews, observation and literature study. The results of the research analysis show that Kampung Kauman Yogyakarta has an identity as an Islamic village as seen from the socio-cultural values ​​of its people, settlement patterns, and evidence of historical heritage elements. Abstrak. Kampung Kauman Yogyakarta merupakan sebuah lingkungan permukiman tua di kawasan pusat Kota Yogyakarta yang mempunyai karakter yang sangat khas, khususnya ciri historisitas dan religiusitas keislamannya. Kampung Kauman memiliki pola permukiman yang berkumpul dan bergerombol dengan bangunan yang saling berdempetan sehinggan menjadikan kawasan yang padat seperti kota-kota Islam di Timur Tengah. Gerakan Islam pembaharu yaitu Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan juga lahir di Kampung Kauman pada tahun 18 November 1912. Meskipun di Kampung Kauman terdapat gerakan pembaharuan Islam dan masyarakatnya taat dalam menjalankan ajaran Islam yang berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunah yakni anti dengan Tahayul, Bid’ah, Churafat (TBC) tapi Kampung Kauman berdempetan dengan lokasi tradisi budaya keraton yakni nilai kebudayaannya masih bercampur dengan hal-hal mistis. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi Kampung Kauman Yogyakarta dapat dianggap sebagai Kampung Islam. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan metode analisis sosial budaya Islam dan analisis bukti sejarah untuk mengetahui kondisi sosial budaya Kampung Islam Kauman dan elemen-elemen sebagai bukti peningalan sejarah di Kampung Kauman Yogyakarta. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, wawancara, observasi dan studi literatur. Hasil dari analisis penelitian menunjukkan bahwa Kampung Kauman Yogyakarta memiliki identitas sebagai Kampung Islam terlihat dari nilai sosial budaya masyarakatnya, pola permukiman, dan bukti elemen peninggalan sejarah.
Evaluasi Kondisi Pariwisata Kawasan Wisata Gunung Galunggung Dofi khaikal Arwani; Gina Puspitasari Rochman
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.189 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3633

Abstract

Abstract. The tourist area of Mount Galunggung is one of the leading natural tourist areas in Tasikmalaya Regency. This area will be developed into a geotourism area. Prior to development, it is necessary to evaluate the tourism condition in this area. This is because there are several problems that exist in the Mount Galunggung tourist area including the discovery of a large amount of garbage scattered about, the existence of vandalism by visitors, accessibility to the damaged Galunggung crater, and things that worsen the tourism situation due to the Covid-19 pandemic which resulted in the closure of the Mount Galunggung tourist area for some time and caused considerable losses for the tourist area. Therefore, the purpose of this study is "to assess the feasibility of tourism conditions in the Mount Galunggung tourist attraction area during the covid 19 pandemic". This is based on theories and policies regarding evaluation, tourists, tourist objects and attractions and tourism components. The existence of this theory so that researchers use a quantitative and qualitative approach to determine a hypothesis test that has been determined. With scoring analysis method and data testing method, namely normality test, validity test, and reliability test. Therefore, the conclusion of this study is that the components of tourist attractions (Attraction), amenities (amenities), accessibility (accessibility), and tourism support (Ancilliary Services) in the Galunggung Tourism Area are in good condition based on tourist ratings. With that, there are suggestions from researchers, namely improving the condition of the tourism component, building lodging around tourist areas, increasing the application of Health protocols, and increasing promotion and information media. Abstrak. Kawasan wisata gunung galunggung adalah salah satu Kawasan wisata alam unggulan di Kabupaten Tasikmalaya. Kawasan ini akan dikembangkan menjadi Kawasan geowisata. Sebelum dilakukan pengembangan, diperlukan adanya suatu evaluasi kndisi pariwisata di Kawasan ini. Hal ini dikarenakan terdapat beberapa permasalahan yang ada dikawasan wisata gunung galunggung diantaranya ditemukan banyaknya sampah yang berserakan, adanya vandalism yang dilakukan oleh para pengunjung, aksesibilitas menuju ke kawah galunggung yang rusak, serta hal yang memperburuk keadaan wisata tersebut karena adanya pandemi Covid-19 yang berakibat pada ditutupnya Kawasan wisata Gunung Galunggung selama beberapa waktu dan menyebabkan kerugian yang cukup besar bagi kawasan wisata tersebut. Maka dari itu tujuan dalam penelitian ini yaitu “Untuk mengevaluasi kondisi pariwisata di Kawasan objek wisata Gunung Galunggung”. Hal tersebut didasari dengan teori serta kebijakan mengenai evaluasi, wisatawan, objek dan daya tarik wisata serta komponen wisata. Adanya teori tersebut sehingga peneliti menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan kualitatif untuk menentukan suatu uji hipotesis yang sudah ditetapkan. Dengan metode analisis skoring serta metode pengujian data yaitu uji normalitas, uji validitas, dan uji reliabilitas. Maka dari itu kesimpulan dari penelitian ini yaitu Komponen atraksi wisata (Attraction), Amenitas (amenities), Aksesibilitas (accessibility), dan pendukung wisata (Ancilliary Services) di Kawasan Wisata Galunggung berada dalam kondisi baik berdasarkan penilaian wisatawan. Dengan itu adanya usulan dari peneliti yaitu peningkatan kondisi komponen wisata, pembangunan penginapan di sekitar kawasan wisata, peningkatan penerapan protokol Kesehatan, dan peningkatan media promosi dan informasi.
Studi Penentuan Lokasi Alternatif Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah di Kabupaten Cianjur Tegar Aditama; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (893.704 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3636

Abstract

Abstract. Garbage is a serious problem in Cianjur Regency. The Department of Environment (DLH) of Cianjur Regency itself is considering a new land for the Final Disposal Site (FDS). The Department of Environment (DLH) of Cianjur Regency projects that the land for the new TPA will be around 25 hectares. The Cianjur Regency Government plans 2 new TPA locations in Cikadu Subdistrict and Cikalong Kulon Subdistrict. The condition of the Pasir Sembung Final Disposal Site (FDS) is already mounting and efforts are being made to reduce the volume of waste by dredging the waste and turning the waste into a pedestal or road. Cianjur Regency only has one final disposal site for waste, namely the Pasir Sembung Final Disposal Site (FDS). This TPA has been operating since 1975. The purpose of this research is to find a new FDS location in Cianjur Regency. The method used in this research is descriptive quantitative method. Data collection techniques through observation and questionnaires. The analytical method in this study uses the overlay analysis method and the hierarchy process analysis (AHP) and uses (SNI) No.19-3241-1994 as a research reference. The results of this study are the chosen location of the TPA Garbage in Cikadu District, which is in Cikadu Village, Mekarjaya Street with an area of ​​240 Ha and Cikalong Kulon District, which is in Padajaya Village, Mariwati Street with an area of ​​4.78 Ha. Abstrak. Sampah menjadi masalah yang serius di Kabupaten Cianjur. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur sendiri tengah mempertimbangkan lahan baru untuk Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Pihak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cianjur memproyeksikan lahan untuk TPA baru sekitar 25 Ha. Pemerintah Kabupaten Cianjur merencanakan 2 calon lokasi TPA yang baru di Kecamatan Cikadu dan Kecamatan Cikalong Kulon. Kondisi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pasir Sembung sudah menggunung dan dilakukan upaya untuk mengurangi volume sampah dengan pengerukan sampah dan sampah tersebut menjadi alas atau jalan. Kabupaten Cianjur hanya memiliki satu tempat pembuangan akhir untuk sampah yaitu di TPA Pasir Sembung. TPA ini beroperasi sejak tahun 1975. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mencari lokasi TPA yang baru di Kabupaten Cianjur. Adapun metode yang digunakan dalam peneliltian ini adalah metode kuantitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi dan kuesioner. Metode analisis dalam penelitian ini menggunakan metode analisis overlay dan analisis hierarcy process (AHP) serta menggunakan (SNI) No.19-3241-1994 sebagai acuan penelitian. Hasil dari penelitian ini adalah terpilihnya lokasi TPA Sampah di Kecamatan Cikadu, yang berada di Desa Cikadu, Jalan Mekarjaya dengan luasan 240 Ha dan Kecamatan Cikalong Kulon, yang berada di Desa Padajaya, Jalan Mariwati dengan luasan 4,78 Ha.
Strategi Pengembangan Wisata Petualangan Berbasis 7 Safety Code Pariwisata Petualangan: Lokasi Studi: Desa Sukakarya, Kecamatan Sukanagara Mochammad Ilham Adibrata Patehan; Saraswati
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.033 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3643

Abstract

Abstract. The development of the tourism sector in Indonesia is currently experiencing a very rapid increase. Adventure tourism is one of the types of tourist destinations that is growing very rapidly both in the world and in Indonesia. This tourism can develop supported by Indonesia's beautiful and rich natural resources and with biodiversity which certainly attracts tourists to come. The government through the Ministry of Tourism has issued Guidelines for 7 Safety Code Pariwisata Petualangan as a safety guide for organizing adventure tourism in Nusa, Tirta, Dirga. However, behind the great potential there are challenges that must be considered by various parties, one of which is related to knowledge and standards regarding safety related to sustainability. The purpose of this research is to plan an Adventure Tourism Development Strategy Based on the 7 Safety Code Pariwisata Petualangan by following the guidelines that have been provided. This study uses an Action Research approach. The analytical method used is descriptive quantitative analysis method and SWOT analysis. Based on the results of the analysis, this study shows that Sukakarya Village has extraordinary tourism potential, be it natural tourism or artificial tourism. However, improvements are still needed in several sectors to create a safe and comfortable atmosphere for adventure tourism activities in Sukakarya Village. The recommendations generated in this study are in the form of alternative strategies for developing adventure tourism in tourist destinations in Sukakarya Village by involving the government, managers, land owners, land managers and all members of the community. Abstrak. Perkembangan sektor pariwisata di indonesia saat ini sedang mengalami peningkatan yang sangat pesat. Wisata Petualangan merupakan salah satu dari sekian jenis destinasi wisata yang berkembang sangat pesat baik di dunia maupun di Indonesia. Wisata ini dapat berkembang didukung dengan sumber daya alam indonesia yang indah dan kaya serta dengan keanekaragaman hayati yang tentunya menarik wisatawan untuk datang. Pemerintah melalui Kementerian Pariwisata menerbitkan Pedoman 7 Safety Code Pariwisata Petualangan sebagai pedoman keselamatan bagi penyelenggaraan wisata petualangan Nusa, Tirta, Dirga. Akan tetapi, Di balik potensi yang besar terdapat tantangan yang harus di perhatikan oleh berbagai pihak, salah satunya berkaitan dengan pengetahuan dan standar mengenai Keselamatan yang berkaitan dengan keberlanjutan. Tujuan dari penelitian ini adalah merencanakan Strategi Pengembangan Wisata Petualangan Berbasis 7 Safety Code Pariwisata Petualangan dengan mengikuti pedoman yang telah tersedia. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan Action Research. Metode analisis yang digunakan adalah metode analisis deskritif kuantitatif dan analisis SWOT. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menunjukan bahwa Desa Sukakarya memiliki potensi wisata yang sangat luar biasa baik itu wisata alam atau wisata buatan. Akan tetapi masih diperlukan peningkatan di beberapa sektor guna menciptakan suasana aman dan nyaman untuk kegiatan wisata petualangan di Desa Sukakarya. Rekomendasi yang dihasilkan dalam penelitian ini yaitu berupa alternatif strategi pengembangan pariwisata petualangan pada destinasi wisata di Desa Sukakarya dengan melibatkan pemerintah, pengelola, pemilik lahan, pengelola lahan dan semua kalangan masyarakat.

Page 8 of 23 | Total Record : 225