cover
Contact Name
Unang arifin
Contact Email
bcsurp@unisba.ac.id
Phone
+628996888183
Journal Mail Official
bcsurp@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Jl. Tamansari No. 20, Bandung 40116, Indonesia, Tlp +62 22 420 3368, +62 22 426 3895 ext. 6891
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
ISSN : -     EISSN : 28282124     DOI : https://doi.org/10.29313/bcsurp.v2i2
Bandung Conference Series: Urban and Regional Planning (BCSURP) menerbitkan artikel penelitian akademik tentang kajian teoritis dan terapan serta berfokus pada Perencanaan Wilayah dan Kota dengan ruang lingkup sebagai berikut: Agribisnis, Bencana Alam, Daya Dukung dan Tampung, Ekonomi Lokal, Ekowisata Mangrove, Fasilitas, Gempa Bumi, Evakuasi, Jasa budaya dan spiritual, pariwisata, Jasa Ekosistem, Karangsong Disabilitas, kearifan local, Kelayakan, Kinerja dan Pelayanan Jalan, landmark, pencemaran udara, planologi, Pola Penggunaan Ruang, Rantai pasok, Ruang Terbuka Hijau, Sarana dan prasarana, Shelter, SIKIM, Sistem Penyediaan Air Minum, Taman, Tempat Ibadah, Tingkat Kerentanan Bencana, Wisata. Prosiding ini diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah Unisba. Artikel yang dikirimkan ke prosiding ini akan diproses secara online dan menggunakan double blind review minimal oleh dua orang mitra bebestari.
Articles 225 Documents
Strategi Penataan Kawasan Tepian Sungai Kapuas di Kelurahan Benua Melayu Laut Muhammad Mahfud; Ernady Syaodih
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.949 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3650

Abstract

Abstract. The changed-functioning riverside areas are characterized by the presence of different types of buildings that are not well organized, both physically and functionally. One of the river areas of interest is the Kapuas Riverside in Pontianak, which has become an icon and attraction to visitors. This research was conducted on the riverbanks of Benua Melayu Laut Urban Village, South Pontianak District, Pontianak City, West Kalimantan. This area became a built-up area (people's homes). One of the arrangements that are being carried out by the Pontianak city government is to construct a waterfront on the banks of the Kapuas river. This development is carried out as a new city program, in the Pontianak City Regional Spatial Plan (RTRW) for 2013-2033. The approach method used in this study is a quantitative descriptive approach and SWOT analysis. This analysis was carried out to develop a strategy for structuring the Kapuas riverbank area in the Benua Melayu Laut Urban Village. Based on the analysis that has been done, there are several strategies for structuring the banks of the Kapuas river using 8 elements of Hamid Shirvani's arrangement as well as social and economic aspects in the research area. One of the structuring strategies that have to be followed up by relevant stakeholders in the construction of street vendor stalls by the Department of Cooperatives and small and medium enterprises in order for the activities can continue and pedestrian circulation is not disrupted. The results of the study showed an aggressive strategy by optimizing the opportunities that exist in the arrangement effort. So the proper technique was to make internal improvements and actively develop existing opportunities so as to create better conditions). Abstrak. Wilayah Tepian Sungai yang sudah mengalami alih fungsi ditandai dengan adanya berbagai macam bangunan yang tidak tertata baik fisik maupun fungsinya. Salah satu kawasan tepian sungai yang menjadi perhatian adalah tepian Sungai Kapuas di Kota Pontianak yang menjadi ikon serta menjadi daya tarik pengunjung. Penelitian ini dilakukan di Tepian Sungai Kapuas di Kelurahan Benua Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat. Wilayah ini menjadi kawasan terbangun (rumah tinggal warga). Salah satu penataan yang sedang dilakukan oleh pemerintah Kota Pontianak adalah dengan membangun waterfront di tepian Sungai Kapuas. Pembangunan ini dilakukan merupakan program Kota baru, pada Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Pontianak tahun 2013-2033. Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dan analisis SWOT. Analisis ini dilakukan untuk menyusun strategi penataan Kawasan tepian Sungai Kapuas di Kelurahan Benua Melayu Laut. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan ada beberapa Strategi Penataan Kawasan Tepian Sungai Kapuas dengan menggunakan 8 elemen penataan Hamid Shirvani serta aspek sosial dan ekonomi di wilayah penelitian. Salah satu strategi penataan yang perlu ditindaklanjuti oleh stake holder terkait adalah pembangunan kios-kios PKL oleh Dinas Koperasi dan UMKM agar akivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan serta sirkulasi pejalan kaki tidak terganggu. Hasil penelitian menunjukan agresif strategy dengan mengoptimalkan peluang yang ada dalam upaya penataan. Maka startegi yang tepat adalah melakukan perbaikan internal dan secara aktif mengembangkan peluang yang ada sehingga dapat menciptakan kondisi yang lebih baik.
Digitalisasi Kebudayaan Keraton Kanoman Cirebon Ibnu Amal Fadhilah; Irland Fardani
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (843.088 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3662

Abstract

Abstract. Keraton Kanoman is one of the most historical cultural heritages in Cirebon City. Currently, the Canoman Palace still does not have an introduction media other than social media such as Instagram, Facebook, and Youtube. The purpose of this study is to design and create an android-based digital application. The application is a form of innovation in the digitization of culture at the Cirebon Canoman Palace. The benefit of this research is to make it easier for people to get to know the culture in the Cirebon Canoman Palace. In addition, this research can also be an innovation in the application of Smart City in Cirebon City, especially in the field of tourism. This research uses qualitative methods. Data or sample collection is carried out using four ways, namely observation, documentation, interviews, and literature studies. The data obtained is then processed to be packaged in a digital application. In designing and making applications, the Agile method is used which consists of six stages, namely Planning, Implementation, Testing, Documentation, Deployment, and Maintenance. Application creation is done by utilizing Android Studio software. The scope of this study is the Cirebon Canoman Palace. In the research conducted, there were four categories of data used, namely building sites, palace history, heirloom objects, as well as customs and rituals. The result of the study is an android-based digital application called DIGICIREBON. The application has several features that display building sites, heirloom objects, palace history, as well as customs and rituals. Each of these features comes with a description, photos, and videos. The compiled application is interactive with the availability of rating and review features. Abstrak. Keraton Kanoman merupakan salah satu cagar budaya yang sangat bersejarah di Kota Cirebon. Saat ini, Keraton Kanoman masih belum memiliki media pengenalan selain media sosial seperti Instagram, Facebook, dan Youtube. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merancang dan membuat sebuah aplikasi digital berbasis android. Aplikasi tersebut merupakan bentuk dari inovasi dalam digitalisasi kebudayaan di Keraton Kanoman Cirebon. Manfaat penelitian ini adalah untuk memudahkan masyarakat untuk mengenal kebudayaan yang ada di Keraton Kanoman Cirebon. Disamping itu, penelitian ini juga dapat menjadi sebuah inovasi dalam penerapan Smart City di Kota Cirebon khususnya pada bidang pariwisata. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengambilan data atau sampel dilakukan menggunakan empat cara yaitu observasi, dokumentasi, wawancara, dan studi pustaka. Data yang didapat selanjutnya diolah untuk dikemas dalam sebuah aplikasi digital. Dalam perancangan dan pembuatan aplikasi, digunakan metode Agile yang terdiri dari enam tahap yaitu Planning, Implementasi, Testing, Dokumentasi, Deployment, dan Maintenance. Pembuatan aplikasi dilakukan dengan memanfaatkan software Android Studio. Lingkup dari penelitian ini adalah Keraton Kanoman Cirebon. Dalam penelitian yang dilakukan, terdapat empat kategori data yang digunakan yaitu tapak bangunan, sejarah keraton, benda pusaka, serta adat dan ritual. Hasil penelitian merupakan sebuah aplikasi digital berbasis android bernama DIGICIREBON. Aplikasi tersebut memiliki beberapa fitur yang menampilkan tapak bangunan, benda pusaka, sejarah keraton, serta adat dan ritual. Masing-masing fitur tersebut dilengkapi dengan deskripsi, foto, dan video. Aplikasi yang disusun bersifat interaktif dengan tersedianya fitur rating dan ulasan.
Kajian Pendekatan Willingness To Accept terhadap Dampak Kegiatan Pertambangan Batu Andesit di Desa Lagadar Maryam Ya Muhaemin; Chusharini Chamid
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.059 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3667

Abstract

Abstract. Lagadar Village is one of the villages that has the potential in the form of mining, the mining location is less than 100 meters with settlements below, the impact of environmental degradation and social impacts can be handled, one of which is Willingness To Accept. This study aims to conduct a study using the Willingness To Accept approach to the impact of andesite mining activities in Lagadar Village. The approach method used in this study is mixed methods, with descriptive analysis methods, contingent valuation methods, and multiple linear regression. The results of the study show that there are indirect and direct impacts caused by mining activities, namely the absorption of local labor by 69% of 32 workers, 9.83 ha of mining activities are at a level prone to high ground movement which is at risk of erosion, along 1,296 meters of road conditions to Mining activities suffer damage in the form of bumpy roads, cracks, and potholes. Changes in the landscape of ±14.33 Ha within 10 years, 53% of the people felt the vibrations from the blasting, 51% of the people felt that the noise interfered with hearing and activities, and 18% felt that air pollution had occurred in the form of dust and arid. It shows that 59% of respondents are willing to receive compensation funds and 41% of respondents are not willing to receive compensation funds. The estimated average value of WTA in the radius closest to the impact is 0-100 m of IDR 455,200 / month / family, and the total value of WTA is IDR 3,351,439,800, the amount of WTA value is positively influenced by the number of family dependents and is influenced by factors residence distance negatively. Abstrak. Desa Lagadar merupakan salah satu desa yang memiliki potensi berupa pertambangan, lokasi pertambangan berjarak kurang dari 100 meter dengan permukiman di bawahnya, adanya dampak penurunan kualitas lingkungan dan dampak sosial dapat ditangani salah satunya dengan Willingness To Accept. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan kajian dengan menggunakan pendekatan Willingness To Accept terhadap dampak kegiatan pertambangan batu andesit di Desa Lagadar. Metode pendekatan yang digunakan pada penelitian ini yaitu mixed methods, dengan metode analisis deskriptif, contingent valuation method, dan regresi linier berganda. Hasil penelitian terdapat dampak secara tidak langsung dan langsung yang diakibatkan oleh kegiatan pertambangan yaitu penyerapan tenaga kerja lokal sebesar 69% dari 32 pekerja, 9,83 Ha kegiatan tambang berada pada tingkat rawan gerakan tanah tinggi yang berisiko terjadinya erosi, sepanjang 1.296 meter kondisi jalan menuju kegiatan pertambangan mengalami kerusakan berupa jalan bergelombang, retak, dan berlubang. Perubahan bentang alam sebesar ±14,33 Ha dalam kurun 10 tahun, 53% masyarakat merasakan getaran dari peledakan, 51% masyarakat merasakan kebisingan mengganggu pendengaran dan aktivitas, serta 18% merasakan telah terjadinya polusi udara berupa debu dan gersang. Menunjukkan bahwa sebesar 59% responden bersedia menerima dana kompensasi dan 41% responden tidak bersedia menerima dana kompensasi. Didapatkan nilai estimasi rata-rata WTA pada radius paling dekat dengan dampak yaitu 0-100 m sebesar Rp 455.200 /bulan/KK, dan nilai total WTA sebesar Rp 3.351.439.800, besaran nilai WTA dipengaruhi oleh jumlah tanggungan keluarga secara positif dan dipengaruhi oleh faktor jarak tempat tinggal secara negatif.
Identifikasi Pola Ruang Kampung Sarugo Jorong Sungai Dadok Nagari Koto Tinggi Kabupaten Limapuluh Kota Fajar Maulana; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.108 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3683

Abstract

Abstract. Jorong Sungai Dadok is an administrative area under Nagari Koto Tinggi. In Jorong, the Dadok River consists of the division of areas based on Minangkabau customs, namely there are several hamlets with settlement centers and community activities located in Koto called Kampung Sarugo. The village is the oldest village in Koto Tinggi and consists of tribes that coexist harmoniously. So that in its territory in one koto consists of several gadang houses, that in the concept of Kampuang or the settlement of the historical gadang house is intended for one tribe, but in Kampung Sarugo there are several tribes with their rumah gadang. The purpose of this study is to identify spatial patterns and settlement patterns. The approach method used is the Exploratory approach method with the aim of identifying spatial patterns and settlements. The conclusion is basically that the concept of the Jorong Dadok River space pattern is an administrative boundary of the area in which there are four hamlet areas, namely Lake, Mudiak Dadok, Padang Jungkek and kampung Tingga surrounded by Taratak and the four hamlets are centered on Koto or what is referred to as Kampung Sarugo as the center of community activities and activities in Jorong Sungai Dadok. Sarugo village as a traditional village in it contains local knowledge and wisdom, which is seen in the matrilineal kinship system, art, traditional ceremonies and physical settlement elements in the form of rumah gadang, balai adat, rangkiang lasuang, cibuak and others. Abstrak. Jorong Sungai Dadok merupakan wilayah administrasi dibawah Nagari Koto Tinggi. Didalam Jorong Sungai Dadok terdiri atas pembagian wilayah berdasarkan adat istiadat Minangkabau yakni terdapat beberapa dusun dengan pusat permukiman dan kegiatan masyarakatnya berada di Koto yang dinamakan Kampung Sarugo. Kampung tersebut merupakan kampung tertua yang ada di Koto Tinggi dan didalamnya terdiri atas suku-suku yang hidup berdampingan secara harmonis. Sehingga dalam wilayahnya dalam satu koto terdiri atas beberapa rumah gadang, bahwa secara konsep Kampuang atau pemukiman rumah gadang sejarahnya itu diperuntukan untuk satu suku, akan tetapi di Kampung Sarugo ini terdapat beberapa suku dengan rumah gadangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola ruang dan pola permukiman. Metode pendekatan yang digunakan yaitu metode pendekatan Eksploratif dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola ruang dan permukiman. Kesimpulannya adalah Pada dasarnya bahwa konsep pola ruang Jorong Sungai Dadok merupakan suatu batasan administrasi wilayah yang didalamnya terdapat empat wilayah dusun yakni Danau, Mudiak Dadok, Padang Jungkek dan Kampung Tingga yang dikelilingi oleh Taratak dan keempat dusun tersebut berpusat pada Koto atau yang disebut sebagai Kampung Sarugo sebagai pusat aktivitas dan kegiatan masyarakat di Jorong Sungai Dadok. Kampung Sarugo sebagai kampung adat didalamnya terkandung pengetahuan dan kearifan lokal yakni terlihat dalam sistem kekerabatan matrilineal, kesenian, upacara adat dan elemen permukiman fisik yakni berupa rumah gadang, balai adat, rangkiang lasuang, cibuak dan lainya.
Kajian Tri Tangtu di Buana Konservasi Air Situ Sipatahunan: Studi Kasus: Situ Sipatahunan, Kabupaten Bandung Tresna Fuji Ilahi; Weishaguna
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (450.805 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3752

Abstract

Abstract. This study focuses on the issue of the need to establish a water conservation zone based on the Sundanese landscape in the Situ Sipatahunan area. The urgency of this study is based on interests regarding the urgency of the environment, the urgency of heritage, and the urgency of the local community. This study focuses on the question of how to classify the tri tangtu water conservation zone in the Situ Sipatahunan area. Therefore, the purpose of this study is to identify the classification of water conservation zones in the Situ Sipatahunan area according to Tri tangtu di buana. The approach used to solve the problem is the tri tangtu di buana concept approach which includes buana nyungcung, buana panca tengah, and buana larang. Each zone was analyzed with four variables and criteria which include topography, land use, conservation elements according to the Sundanese landscape, and the presence of sites and culture. This study uses a qualitative hermeneutic method with a comparative analysis method that is focused on comparing the existing data with the tri tangtu criteria in the water conservation area and validated with other supporting theoretical foundations. Based on the results of the analysis, there were three land classifications in the delineation of the Situ Sipatahunan area, namely Buana nyungcung as an upstream zone which functioned as a water conservation or water catchment zone, Buana panca tengah as a middle zone functioned as a water cultivation zone, and Buana larang as a downstream zone functioned as a protection zone. local (buffer). Abstrak. Studi ini berfokus pada isu kebutuhan penetapan zona konservasi air berdasarkan tata buana sunda di Kawasan Situ Sipatahunan. Urgensi studi ini didasari kepentingan mengenai urgensi lingkungan, urgensi heritage, dan urgensi komunitas lokal setempat. Studi ini berfokus pada pertanyaan bagaimana klasifikasi tri tangtu zona konservasi air di Kawasan Situ Sipatahunan. Oleh karena itu, tujuan studi ini yakni mengidentifikasi klasifikasi zona konservasi air di kawasan Situ Sipatahunan menurut Tri tangtu di buana. Pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah tersebut dengan pendekatan konsep tri tangtu di buana yang meliputi buana nyungcung, buana panca tengah, dan buana larang. Masing-masing zona dianalisis dengan empat variable dan kriteria yang meliputi topografi, tata guna lahan, elemen konservasi menurut tata buana sunda, dan keberadaan situs dan kebudayaan. Studi ini menggunakan metode kualitatif hermeneutic dengan metode analisis komparasi yang difokuskan dengan cara membandingkan data eksisting dengan kriteria tri tangtu di buana konservasi air dan dilakukan validasi dengan landasan teori pendukung lainnya. Berdasarkan hasil analisis didapatkan tiga klasifikasi lahan pada deliniasi Kawasan Situ Sipatahunan yaitu Buana nyungcung sebagai zona hulu yang difungsikan sebagai zona konservasi air atau resapan air, Buana panca tengah sebagai zona tengah difungsikan sebagai zona budidaya air, dan Buana larang sebagai zona hilir difungsikan sebagai zona perlindungan setempat (buffer).
Identifikasi Tingkat Ketercapaian Kota Ramah HAM Ditinjau dari Hak Warga Kota berdasarkan Persepsi Masyarakat: Studi Kasus Kecamatan Coblong Fitria Dwi Rahman; Ira Safitri Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.311 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3762

Abstract

Abstract. One of the human rights protected by the government is the rights of urban people. Can access all public facilities and utilities without exception. As one of the embodiments of SDG's and NUA. Cities should be enjoyed and used by everyone. The city of Bandung is one of the human rights-friendly cities in Indonesia that upholds the rights of its citizens. After five years running, the charter of the declaration of a human rights-friendly city has been questioned. Most residents do not know that the city of Bandung has the status of a human rights-friendly city. Therefore, the authors identify the level of achievement of a human rights-friendly city so that they can provide input in optimizing government efforts that play a role in fulfilling the basic rights of citizens. And what causes this human rights-friendly city to fail. By using an empirical approach and a mix method as well as djanalysis using a Rasch model to see the level of achievement and defining factor. From the results of the analysis, it is found that this Human Rights-friendly city is highly realized because the rights of the city's citizens are fulfilled. It's just that the less than optimal socialization also affects the lack of community participation. In the research conducted, hopefully it can be used as input for the government to re-socialize a human rights-friendly city in the city of Bandung. Abstrak. Hak asasi manusia yang dilindungi pemerintah salah satunya adalah hak asasi masyarakat kota. Dapat mengakses semua fasilitas dan utilitas publik tanpa terkecuali.sebagai salah satu perwujudan SDG’s dan NUA. Kota harus dinikmati dan dimanfaatkan oleh semua orang. Kota Bandung menjadi salah satu kota ramah HAM di Indonesia yang menjunjung tinggi hak warga kota nya. Setelah lima tahun berjalan, piagam deklarasi kota ramah HAM tersebut dipertanyakan. Sebagian besar warga tidak mengetahui bahwa Kota Bandung menyandang status kota ramah HAM. Maka dari itu penulis mengidentifikasi tingkat ketercapaian kota ramah HAM agar bisa memberikan masukan dalam pengoptimalan upaya pemerintah yang berperan sebagai pemenuhan hak dasar warga. Serta apa yang menyebabkan kota ramah HAM ini tidak berhasil. Dengan menggunakan pendekatan empiris dan mix method serta djanalisis menggunakan rasch model agar terlihat tingkat ketercapaian dan faktor penentu. Dari hasil analisis didapatkan bahwa kota Ramah HAM ini terealisasi tinggi karena hak warga kota yang terpenuhi. Hanya saja sosialisasi yang kurang maksimal mempengaruhi pula kurangnya partisipasi wasyarakat. Dalam penelitian yang dilakukan semoga bisa menjadi bahan masukan kepada pemerintah untuk mensosialisasikan kembali kota ramah HAM di Kota Bandung.
Kajian Green Infrastructure dalam Upaya Menambah Ketersediaan Air Tanah di Kota Bandung Atha Retha Hanani; Hilwati Hindersah
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.193 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3775

Abstract

Abstract. Water is a natural resource that is a basic need for all living things, especially humans. Groundwater is one of the sources of water used by humans. However, the condition of groundwater in Bandung City is currently experiencing a decrease in the groundwater level caused by the use of unmeasured groundwater, while the catchment area is converted into housing. For this reason, this study aims to identify green infrastructure in increasing the availability of groundwater in the city of Bandung. In this study, there are 2 stages. The first stage is the analysis of the potential location for the application of green infrastructure using intersect analysis on arcgis. The second stage is an analysis of the ability of green infrastructure to increase groundwater availability using the SCS TR-55 method. The results showed that the location that has the potential to apply infiltration basin is 790.278 Ha, the location that has the potential to be applied to infiltration trench is 171,599 Ha and the location that has the potential to apply bioretention is 264.873 Ha. The calculation results show that the infiltration pond can absorb 61% of the peak discharge, the infiltration ditch can absorb 41% of the peak discharge and the bioretention capacity of 46% of the peak discharge. Abstrak. Air merupakan salah satu sumberdaya alam yang menjadi kebutuhan pokok bagi seluruh makhluk hidup khususnya manusia. Air tanah adalah salah satu sumber air yang digunakan oleh manusia. Namun kondisi air tanah di Kota Bandung saat ini terjadi penurunan muka air tanah yang disebabkan oleh penggunaan air tanah yang tidak terukur sedangkan daerah resapan dialihfungsikan menjadi perumahan. Untuk itu penelitian ini bertujuan mengidentifikasi green infrastructure dalam menambah ketersediaan air tanah di Kota Bandung. Dalam penelitian ini terdapat 2 tahapan. Tahap yang pertama yaitu analisis lokasi potensi penerapan green infrastructure menggunakan analisis intersect pada arcgis. Tahap kedua yaitu analisis kemampuan green infrastructure dalam menambah ketersediaan air tanah menggunakan metode SCS TR-55. Hasil penelitian menunjukan bahwa lokasi yang berpotensi diterapkan kolam resapan seluas 790,278 Ha, lokasi yang berpotensi diterapkan parit resapan seluas 171,599 Ha dan lokasi yang berpotensi diterapkan bioretensi seluas 264,873 Ha. Hasil perhitungan menunjukan kolam resapan dapat meresapkan air sebesar meresapkan air sebesar 61% dari debit puncak, parit resapan dapat meresapkan air sebesar 41% dari debit puncak dan kemampuan bioretensi dalam meresapkan air 46% dari debit puncak.
Kajian Kinerja Teras Cihampelas sebagai Ruang Publik Di Kota Bandung Azmia Kayla Ghaida Hasya; Verry Damayanti
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.261 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3794

Abstract

Abstract. The growth of Indonesia’s urban population in the next five years will rapidly increase. The increasing urban’s population affects people's needs, for example, the need of public places. According to Bandung Urban Mobility Project 2031 which contains other Skywalk development plan in Bandung, a study of Teras Cihampelas’s performance is important as a reference to the other development plan. In the early stage of construction, Teras Cihampelas was described as a public space in the form of a modified Skywalk. In addition, this study promotes UN-Habitat Global Agenda, Global Public Space Programme. This study aims to identify the performance of Teras Cihampelas as a public space in Bandung. The methodology of this research is a quantitative approach. The analysis of this research is Importance Performance Analysis (IPA). This research used purposive sampling and accidental sampling methods. The questionnaire was conducted on 100 respondents who meet the criteria as a visitor of Teras Cihampelas or has been visited Teras Cihampelas. According to the analysis result, it obtained which attributes that must be improved by the local government. Those attributes are Parking system, Facilities for disabled people, Clean and quiet public space, Climate-friendly design, Facilities and security systems, Security for vulnerable groups (children and women), and Adaptation to the post-pandemic era. Those attributes have poor performance and don’t meet respondent’s expectations. Abstrak. Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia selama lima tahun mendatang akan semakin meningkat. Peningkatan penduduk sejalan dengan peningkatan kebutuhan, salah satunya peningkatan kebutuhan sarana ruang terbuka publik. Dalam dokumen Urban Mobility Project 2031 dijelaskan bahwa akan ada rencana pembangunan Skywalk di Kota Bandung. Namun, kajian mengenai kinerja Teras Cihampelas dirasa penting sebagai acuan dalam pembangunan selanjutnya. Pada awal pembangunan, Teras Cihampelas dijelaskan sebagai salah satu ruang publik berbentuk Skywalk yang telah dimodifikasi. Kajian ini juga dilakukan dalam rangka mendukung agenda global UN Habitat yaitu Global Public Space Programme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kinerja Teras Cihampelas sebagai Ruang Publik di Kota Bandung. Metodologi adalah Analisis IPA (Importance Perfomance Analysis). Proses pengumpulan data melalui observasi dan kuesioner. Metode pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling serta aksidental sampling. Kuesioner dilakukan pada 100 responden dengan kriteria merupakan pengunjung Teras Cihampelas atau pernah berkunjung ke Teras Cihampelas. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh kinerja atribut Teras Cihampelas yang menjadi prioritas utama untuk ditingkatkan menjadi lebih baik yaitu Sistem parkir khusus, Fasilitas kelompok disabilitas, Kebersihan dan Ketenangan, Desain yang mempertimbangkan kondisi iklim, Fasilitas dan sistem keamanan, Keamanan bagi kelompok rentan (Anak-anak dan perempuan), serta Penyesuaian dengan era post-pandemic. Atribut atau elemen tersebut dianggap kinerjanya belum sesuai dengan harapan responden.
Kajian Sense of Place sebelum dilakukan Revitalisasi pada Kawasan Kota Tua Cimanuk Indramayu Muhammad Luthfi Almakhi; Ira Darwin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.586 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3818

Abstract

Abstract. The Cimanuk Old Town Area has a long history from pre-colonial times to the present, especially with regard to the Cimanuk Port which functions as a distribution center for agricultural products. In the pre-colonial period, Cimanuk Port was used as a magnet for economic activity and became the choice of residence for immigrants. During the Dutch colonial period, the construction of the Pos Highway and diverting distribution from the waterway to the land route made the prestige of Cimanuk Harbor and the surrounding urban areas dim and experience a decline in function in the present. This is the basis of this research with the aim of exploring the meaning of a place (sense of peace) in The Cimanuk Old Town Area so that historical documents are recorded in its development, especially when a discourse is being rolled out to revitalize the area. This study uses a combination method (mix methods). In the first stage, the research used descriptive qualitative analysis method in identifying the sense of place through the description of the physical form of the area and the description of human activities in it by first dividing the blocks in the area based on the results of observations and interviews. For the second stage, using the Rasch models analysis method in identifying the level of sense of place, through distributing questionnaires based on people's perceptions. This study explains that the results for the first stage show that the Cimanuk Old Town Area tends to be linear, following the pattern of the road network and the Cimanuk River flow and has a diversity of activities in the Cimanuk Old Town Area. For the second stage, the results show a low level of sense of place attachement, place attachment, place identity and community dependence in activities in The Cimanuk Old Town area. Abstrak. Kawasan Kota Tua Cimanuk memiliki sejarah yang panjang dari masa prakolonial hingga saat ini terutama yang berkaitan dengan Pelabuhan Cimanuk yang berfungsi sebagai pusat distribusi hasil pertanian. Pada masa prakolonial, Pelabuhan Cimanuk dijadikan magnet kegiatan perekonomian dan menjadi pilihan bermukim para pendatang. Pada masa kolonial Belanda adanya pembangunan Jalan Raya Pos dan mengalihkan distribusi dari jalur air menuju jalur darat menjadikan pamor Pelabuhan Cimanuk dan kawasan perkotaan disekitarnya meredup dan mengalami penurunan fungsi di masa sekarang. Hal tersebut menjadi dasar dari penelitian ini dengan tujuan untuk mengekspIorasi makna suatu tempat (sense of pIace) pada Kawasan Kota Tua Cimanuk agar tercatatnya dokumen sejarah dalam perkembangannya, terlebih saat ini digulirkan wacana untuk merevitalisasi kawasan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kombinasi (mix metods). Pada tahap pertama, penelitian menggunakan metode analisis kualitatif deskriptif dalam mengidentifikasi gambaran sense of place melalui gambaran bentuk fisik kawasan dan gambaran aktivitas manusia di dalamnya dengan terlebih dahulu membagi blok pada kawasan berdasarkan hasil observasi dan wawancara. Untuk tahap kedua, mengggunakan metode analisis rasch models dalam mengidentifikasi tingkat sense of place, melalui penyebaran kuesioner berdasarkan persepsi masyarakat. Penelitian ini menjelaskan bahwa hasil untuk tahap pertama, menunjukkan Kawasan Kota Tua Cimanuk cenderung berbentuk linier yang mengikuti pola jaringan jalan dan aliran Sungai Cimanuk serta memiliki keragaman aktivitas di Kawasan Kota Tua Cimanuk. Untuk tahap yang kedua, hasilnya menunjukkan tingkat sense of place rendah yang dibentuk oleh keterikatan tempat, identitas tempat dan ketergantungan masyarakat dalam berkegiatan di Kawasan Kota Tua Cimanuk.
Identifikasi Penyediaan Air Bersih oleh PDAM Tirta Medal dalam Melayani Rumah Sakit Umum di Kabupaten Sumedang Mujahidah Nur Fauziah Mulyadi; Hani Burhanudin
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.778 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3822

Abstract

Abstract. Sumedang Regency has 3 General Hospital Units, including Sumedang Hospital, Pakuwon General Hospital, and Harapan Keluarga Hospital. Sumedang Hospital is planned to be developed by increasing the number of beds. In addition, there is a general hospitals that will operate, namely Berlian Kasih General Hospital and Harapan Keluarga Hospital which have not been served by the PDAM Tirta medal. The purpose of this study is to identify the amount of clean water provided by the PDAM Tirta Medal in serving clean water for General Hospitals in the Sumedang Regency. The method used in this research is a descriptive quantitative analysis and then projects the results using arithmetic methods. Based on the existing conditions, the scale of clean water distribution services managed by PDAM Tirta Medal has covered 15 sub-districts which are divided into four regions. The results of the projection analysis show that the supply of clean water in Region I will only be available for 6 years if during that time PDAM Tirta Medal does not further develop its clean water supply because the supply discharge is quite small. Meanwhile, in Region II the supply projection will increase again until 2038, the projected supply discharge is 244.04 m3/day Abstrak. Kabupaten Sumedang memiliki 3 Unit Rumah Sakit Umum, diantaranya RSUD Sumedang, RSU Pakuwon, dan RSU Harapan Keluarga. RSUD Sumedang direncanakan akan dikembangkan dengan menambah jumlah bed. Selain itu, terdapat Rumah Sakit Umum yang akan beroperasi, yaitu Rumah Sakit Umum Berlian Kasih serta RSU Harapan Keluarga juga belum terlayani oleh PDAM Tirta medal. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi jumlah penyediaan air bersih PDAM Tirta Medal dalam melayani air bersih untuk Rumah Sakit Umum yang berada di Kabupaten Sumedang. Metode yang digunakan pada penelitian ini berupa analisis kuantitatif deskriptif kemudian memproyeksikan hasilnya menggunakan metode aritmatika. Berdasarkan kondisi eksisting, skala pelayanan distribusi air bersih yang dikelola PDAM Tirta Medal telah mencakup 15 kecamatan yang dibagi ke dalam empat wilayah. Hasil analisis proyeksi menunjukan bahwa penyediaan air bersih di wilayah I hanya akan tersedia selama 6 tahun apabila dalam jangka waktu tersebut PDAM Tirta Medal tidak mengembangkan lagi penyediaan air bersihnya karena debit penyediaan yang cukup kecil. Sementara pada wilayah II proyeksi penyediaan akan naik kembali hingga tahun 2038, debit proyeksi penyediaanyya sebesar 244,04 m3/hari.

Page 9 of 23 | Total Record : 225