cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 3 (2019)" : 15 Documents clear
KORELASI KADAR KALSIUM DAN MASSA OTOT PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN Triska Dianti Wahyuningrum; Mohammad Rudiansyah; FX Hendriyono
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (183.949 KB)

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is the 18th cause of death in the world in 2010. The decline in Glomerular Filtration Rate (GFR) in CKD patients causes hyperphosphatemia which can reduce blood calcium levels. Calcium is an important component in increasing the formation, homeostasis and regeneration of skeletal muscles so calcium can prevent muscle wasting. This study aims to determine the correlation between calcium and muscle mass in CKD patients undergoing routine hemodialysis. The study used an analytic observational design with a cross-sectional approach. This study involved 30 male CKD patients with range of age between 25-59 years old who performed hemodialysis twice a week for at least 3 months in a Hemodialysis Installation at Ulin Hospital Banjarmasin. Subjects were taken by purposive sampling method. The results obtained a median calcium level of 9.4 (8.0 -15.3) mg / dL and an average muscle mass of 34.31 ± 4.389%. From the results of the Spearman Somers'd Gamma correlation test, p = 0.301 which means there is no correlation. There is no correlation between calcium levels and muscle mass in CKD patients undergoing routine hemodialysis. Keywords:Chronic kidney disease, calcium, muscle mass, hemodialysis Abstrak:.Penyakit ginjal kronik (PGK) menjadi penyebab kematian peringkat ke-18 dunia tahun 2010. Penurunan Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pada pasien PGK menyebabkan hiperfosfatemia yang dapat menurunkan kadar kalsium darah. Kalsium merupakan komponen penting dalam peningkatan pembentukan, homeostasis dan regenerasi otot skeletal sehingga kalsium dapat mencegah pengecilan otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi kadar kalsium dan massa otot pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Penelitian menggunakan rancangan observational analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian melibatkan 30 pasien PGK berjenis kelamin laki-laki berusia 25-59 tahun yang melakukan hemodialisis 2 kali seminggu minimal selama 3 bulan di Instalasi Hemodialisis RSUD Ulin Banjarmasin. Subyek diambil dengan metode purposive sampling. Hasilnya didapatkan median kadar kalsium 9,4(8,0 -15,3) mg/dL dan rata-rata massa otot 34,31±4,389%. Dari hasil uji korelasi Spearman Somers’d Gamma didapatkan p=0,301 yang berarti tidak terdapat korelasi. Tidak terdapat korelasi antara kadar kalsium dan massa otot pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Kata-katakunci: Penyakit ginjal kronik, kalsium, massa otot, hemodialisis
GAMBARAN KADAR HORMON FT4 DAN TSH PADA ANAK SINDROM NEFROTIK DI RSUD ULIN BANJARMASIN Larissa Faisa Faisa; FX Hendriyono; Selli Muljanto
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.513 KB)

Abstract

Abstract:. One of the complications of nephrotic syndrome is hypothyroidism. Hypothyroidism in nephrotic syndrome is caused by glomerular filtration damage and proximal tubule dysfunction which causes the FT4 loss into urine. Hypothyroidism in children can cause delay in growth and disruption of the body's metabolism. The aim of this study was to describe the hormone levels of FT4 and TSH in children with nephrotic syndrome in relapsing phase and steroid-resistant nephrotic syndrome in Ulin General Hospital Banjarmasin in the period January 2017 - August 2018. The study sample consisted of 12 pediatric nephrotic syndrome patients who had met the inclusion criteria. The research is the descriptive research with a retrospective cross sectional approach. Result shown that of 12 patients consisting of 6 NS in relapsing phase and 6 SRNS, the overall FT4 levels were 20.31 ± 7.72, and TSH 4.5 ± 4.3 The mean FT4 levels in relapsing were 17.34 ± 3 and in SRNS 17.34, while TSH levels in relapsing  4.9 ± 5.3 and in SRNS 4.03 ± 3.42. This shows overall levels of FT4 and TSH normal, so it can be concluded that in children with relapsing and resistant nephrotic syndrome in Ulin General Hospital Banjarmasin don’t have hypothyroidism. Keywords: FT4 level, TSH level, relaps nephrotic syndrome, steroid resistant nephrotic syndrome (SRNS) Abstrak: Salah satu komplikasi dari sindrom nefrotik adalah hipotiroid. Hipotiroid pada sindrom nefrotik disebabkan karena adanya kerusakan filtrasi glomerulus dan disfungsi tubulus proksimal yang menyebabkan FT4 terbuang lewat urin. Hipotiroid pada anak dapat menyebabkan keterlambatan tumbuh kembang dan gangguan metabolisme tubuh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran kadar hormon FT4 dan TSH pada anak sindrom nefrotik relap dan sindrom nefrotik resisten steroid di RSUD Ulin Banjarmasin periode Januari 2017 – Agustus 2018. Sampel penelitian terdiri dari 12 orang pasien anak sindrom nefrotik yang telah memenuhi kriteria inklusi. Penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif dengan pendekatan cross sectional  retrospektif. Hasil penelitian menunjukan dari 12 orang pasien SN, terdiri dari 6 orang SN relaps dan 6 orang SNRS secara keseluruhan rerata kadar FT4 20,31 ± 7,72, dan TSH 4,5 ± 4,3. Rerata kadar FT4 pada SN Relaps 17,34±3 dan pada SNRS 17,34, sedangkan kadar TSH pada SN Relaps 4,9± 5,3 dan pada SNRS 4,03± 3,42.  Hal ini menunjukan secara keseluruhan kadar FT4 dan TSH normal, sehingga dapat disimpulkan pada anak sindrom nefrotik relaps dan resisten di RSUD Ulin Banjarmasin tidak mengalami hipotiroid Kata-kata kunci: Kadar FT4, kadar TSH, sindrom nefrotik relap, sindrom nefrotik resisten steroid
HUBUNGAN INDEKS MASSA TUBUH DAN WAIST HIP RATIO TERHADAP DAYA TAHAN OTOT PADA PENARI MODERN Ivana Ellenora Ellenora; Dona Marisa; Asnawati Asnawati
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.326 KB)

Abstract

Abstract: Muscle endurance is one of the components of health related physical fitness which is defined as the ability of muscles to carry out aerobic metabolism continuously but in a short time muscle fatigue does not occur. Muscle endurance can be influenced by nutritional status and body fat. Nutritional status can be measured  by body mass index and body fat can be measured by the waist hip ratio. This study aims to determine the association between body mass index with muscle endurance in modern dancer and association between waist hip ratio with muscle endurance in modern dancer. This research uses the subject of modern dancer research in Banjarmasin. This study was an observational analytic study with a cross sectional method. Thirty one subjects were selected by simple random sampling. The result obtained showed that the average BMI = 21.59 kg/m2, WHR = 0.84, and muscle endurance = 35.35 times/minute. Pearson correlation test results were obtained (p = 0.000, r = -0.982) there was a strong correlation with the negative correlation direction between body mass index and muscle endurance in modern dancers, and (p = 0.000, r = -0.977) there was a strong correlation with the negative correlation direction between waist hip ratio and muscle endurance in modern dancer. Keywords : body mass index, waist hip ratio, muscle endurance, modern dancer Abstrak: Daya tahan otot adalah salah satu dari komponen kebugaran yang berhubungan dengan kesehatan yang didefinisikan sebagai kemampuan otot saat melakukan metabolisme aerobik secara terus menerus tetapi dalam waktu cepat tidak terjadi kelelahan otot. Daya tahan otot dapat dipengaruhi oleh status gizi dan lemak tubuh. Status gizi dapat diukur dengan indeks massa tubuh dan lemak tubuh dapat diukur dengan waist hip ratio. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan indeks massa tubuh dengan daya tahan otot pada penari modern dan hubungan waist hip ratio dengan daya tahan otot pada penari modern. Penelitian ini menggunakan subyek penelitian penari modern di Banjarmasin. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 31 subyek dipilih secara simple random sampling. Hasil penelitian diperoleh rerata nilai IMT = 21,59 kg/m2, WHR = 0,84, dan daya tahan otot = 35,35 kali/menit. Hasil uji korelasi Pearson didapatkan (p = 0,000, r = -0,982) terdapat korelasi yang kuat dengan arah korelasi negatif antara indeks massa tubuh dengan daya tahan otot pada penari modern, dan (p = 0,000, r = -0,977) terdapat korelasi yang kuat dengan arah korelasi negatif antara waist hip ratio dengan daya tahan otot pada penari modern. Kata-kata kunci:indeks massa tubuh, waist hip ratio, daya tahan otot, penari modern
GAMBARAN FAKTOR PROGNOSIS PADA PASIEN SKIZOFRENIA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Eka Putri Widyarti; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.328 KB)

Abstract

Abstract: Schizophrenia is a severe mental disorder. This study aims to describe the prognostic factors in schizophrenic patients at Sambang Lihum Mental Hospital. The method used is descriptive. The number of samples is 103 people using purposive sampling technique. Data were obtained from medical records, interviews, DAI-10 questionnaires, and patient assessment response to family support questionnaires. Data analysis using frequency distribution. The result showed that majority of respondents were men (76%), elementary education (43%), unemployed (72%), unmarried (83%), age of onset in early adults (33%), hadn’t family history (83%), duration of untreated psychosis less than 1 month (41%), had trigger factors (52%), duration of illness for 1-4 years (37%), moderate family support (54 %),  relapse (66%), adhered to treatment (87%), didn’t have a prepsychotic personality (83%), and undifferentiated schizophrenia (47%). The conclusion of this study is that most schizophrenic patients at Sambang Lihum Mental Hospital have a poor prognosis factor (62%). Keywords: schizophrenia, prognostic factors Abstrak: Skizofrenia termasuk dalam gangguan mental yang berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor prognosis pada pasien skizofrenia di RSJ Sambang Lihum. Metode yang digunakan adalah deskriptif. Jumlah sampel sebanyak 103 orang dengan menggunakan teknik purposive sampling. Data didapat dari rekam medis, wawancara, kuesioner DAI-10, dan kuesioner respon penilaian pasien terhadap dukungan keluarga. Analisis data dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah laki-laki (76%), pendidikan SD (43%), tidak bekerja (72%), tidak menikah (83%), usia onset pada dewasa awal (33%), tidak memiliki riwayat keluarga (83%), durasi psikosis yang tidak diobati kurang dari 1 bulan (41%), memiliki faktor pencetus (52%), durasi sakit 1-4 tahun (37%), dukungan keluarga sedang (54%), pernah relaps (66%), patuh terhadap pengobatan (87%), tidak memiliki kepribadian prepsikotik (83%), dan tipe skizofrenia tak terinci (47%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah sebagian besar pasien skizofrenia di RSJ Sambang Lihum memiliki faktor prognosis yang buruk (62%). Kata-kata kunci: skizofrenia, faktor prognosis.
KORELASI ALKALINE PHOSPHATASE DAN KALSIUM SERUM PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN Marcella Pavita; FX Hendriyono; Mohammad Rudiansyah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (209.453 KB)

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease is one of the health problems throughout the world with incidence and prevalence that always rincrease, bad outcome, and high costs. In patients with CKD there are an imbalance of fluids and minerals due to kidney inability to excrete fluids which affect calcium levels in blood and enzyme alkaline phosphatase (ALP) levels. Alkaline phosphatase is an enzyme which works on alkaline so calcium can easily deposit in tissue. This study is conduncted to determine the correlation of ALP and serum calcium in CKD patients undergoing routine hemodialysis. Observasional analytic with cross sectional approach on 30 research subject is used for the method. The reasearch subjects were selected by purposive sampling with an alternative tests Sommers d gamma. The results showed no correlation between ALP and serum calcium in CKD patients undergoing routine hemodialysis (p value=0,91) Keywords: chronic kidney disease , alkaline phosphatase, calcium, routine hemodialysis Abstrak: Penyakit ginjal kronik merupakan masalah kesehatan diseluruh dunia dengan insidensi dan prevalensi yang selalu meningkat, hasil yang buruk dan biaya perawatan yang tinggi. Pada penderita PGK keseimbangan cairan dan mineral akan terganggu akibat ketidakmampuan ginjal dalam eksresi cairan sehingga akan mempengaruhi kadar kalsium dan enzim alkaline phosphatase (ALP) dalam darah. Alkaline phosphatase merupakan enzim untuk mempersiapkan suasana basa agar kalsium mudah terdeposit pada jaringan. Penelitian ini dilakukan di instalasi hemodialisis RSUD Ulin Banjarmasin untuk mengetahui korelasi ALP dan kalsium serum pada penderita PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Metode yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional pada 30 subjek penelitian. Subjek penelitian dipilih dengan menggunakan purposive sampling dengan analisis uji alternatif Sommers d gamma. Hasil uji analisis menunjukan tidak adanya korelasi antara ALP dan kalsium serum pada penderita PGK yang menjalani hemodialisis rutin (p value=0,91) Kata-kata kunci: Penyakit ginjal kronik, alkaline phosphatase, kalsium, hemodialisis rutin.
PERBANDINGAN EFEKTIVITAS INJEKSI INTRAARTIKULAR ASAM HIALURONAT BERAT MOLEKUL RENDAH BERDASARKAN DURASI PEMBERIAN PADA PASIEN OSTEOARTRITIS LUTUT Een Amalia Pratiwi; I Nyoman Suarjana; Alfi Yasmina
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.653 KB)

Abstract

Abstract: Intraarticular hyaluronic acid is often used in clinical practice to relieve knee pain and inflammation, which are clinical manifestations of knee osteoarthritis (OA). This study aimed to determine the difference in effectiveness of weekly intraarticular injection of low molecular weight hyaluronic acid for three times and five times. This study used cohort study design. A total of 128 who met the inclusion criteria were included in this study and classified into two groups, namely, those who received injection for three weeks and five weeks. The effectiveness of the therapy was evaluated by the WOMAC scale questionnaire before and after receiving the injection. Analysis with the unpaired T test showed no significant difference between the two groups (p=0.66). It can be concluded that there was no significant difference in effectiveness of weekly intraarticular injection with low molecular weight hyaluronic acid between three and five time injection. Keywords: hyaluronic acid, duration of administration, knee osteoarthritis Abstrak: Asam hialuronat intraartikular sering digunakan dalam praktik klinis untuk meredakan nyeri dan peradangan lutut, yang merupakan manifestasi klinis dari osteoartritis (OA) lutut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efektivitas injeksi intraartikular asam hialuronat berat molekul rendah setiap minggu selama tiga kali dan lima kali. Penelitian ini menggunakan rancangan studi kohort. Sebanyak 128 pasien yang memenuhi kriteria inklusi diikutkan dalam penelitian ini dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu yang mendapat injeksi selama tiga minggu dan lima minggu. Efektivitas terapi dievaluasi dengan kuesioner skala WOMAC pada saat sebelum dan sesudah mendapat injeksi. Analisis dengan uji T tidak berpasangan menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna antara kedua kelompok (p=0,66). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan efektivitas yang bermakna antara injeksi intraartikular asam hialuronat berat molekul rendah setiap minggu selama tiga kali dan lima kali. Kata-kata kunci: asam hialuronat, durasi pemberian, osteoartritis lutut
GAMBARAN FAKTOR EKSTERNAL KEJADIAN RELAPS PADA PASIEN PENYALAHGUNAAN NAPZA DI RUMAH SAKIT JIWA SAMBANG LIHUM Raudhatun Naimah; Sherly Limantara; Husnul Khatimah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.495 KB)

Abstract

Abstract: Drug relapse means the return of abuse after being stopped. The aim of the study was to describe the external factors of relapse in drug abuse patients. The research method is descriptive with a total sampling sample obtained 25 respondents. The results showed that family support factors did not have close ties (20%), could not communicate openly (20%), there were disputes (60%), were humiliated and cornered (40%), families abused drugs (32%), divorced parents (24%), do not supervise and control activities (24%). Friend factors were found to still be reunited with abusing friends (60%), friends challenged abuse (36%), friends made it easier to get drugs (32%), obtained information about drugs (48%). Socio-economic factors obtained less salary (28%), lower education (72%), difficulty getting a job (52%), no special skills (44%). Social support factors were found to be considered rubbish (44%), considered to have a bad influence (60%). The conclusion of the most external factors is the existence of disputes in the family, still reunited with friends who abuse, low education, and are considered to have a bad influence. Keywords: drug relapse, family support, friends, socioeconomics, social support Abstrak: Relaps NAPZA artinya kembalinya menyalahgunakan setelah dihentikan. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran faktor eksternal kejadian relaps pada pasien penyalahgunaan NAPZA. Metode penelitian adalah deskriptif dengan sampel total sampling didapatkan 25 responden. Hasil penelitian didapatkan faktor dukungan keluarga diantaranya tidak memiliki ikatan yang erat (20%), tidak dapat berkomunikasi secara terbuka (20%), adanya perselisihan (60%), direndahkan dan dipojokkan (40%), keluarga menyalahgunakan NAPZA (32%), orangtua bercerai (24%), tidak mengawasi dan mengontrol kegiatan (24%). Faktor teman didapatkan masih berkumpul kembali dengan teman yang menyalahgunakan (60%), teman menantang menyalahgunakan (36%), teman mempermudah mendapatkan NAPZA (32%), memperoleh informasi tentang NAPZA (48%). Faktor sosial ekonomi didapatkan gaji kurang (28%), pendidikan rendah (72%), kesulitan mendapatkan pekerjaan (52%), tidak mempunyai keterampilan khusus (44%). Faktor dukungan sosial didapatkan dianggap sampah (44%), dianggap membawa pengaruh buruk (60%). Kesimpulan faktor eksternal paling banyak adalah adanya perselisihan dalam keluarga, masih berkumpul kembali dengan teman yang menyalahgunakan, pendidikan rendah, dan dianggap membawa pengaruh buruk. Kata-kata kunci: relaps NAPZA, dukungan keluarga, teman, sosial ekonomi, dukungan sosial
PERBEDAAN TEKANAN DARAH DAN DENYUT NADI SEBELUM DAN SESUDAH LATIHAN FISIK INTENSITAS SEDANG PADA PEMAIN FUTSAL Septiyan Dimas Putra Akbar; Dona Marisa; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.384 KB)

Abstract

Abstract: Measuring changes in blood pressure and heart rate during rest or post-exercise is the right method to monitor individual adaptations to the cardiovascular system during exercise. This study aims to determine differences in blood pressure and heart rate before and after moderate intensity physical exercise in futsal players and not futsal players in Banjarmasin. This research is a quasi-experimental study with a pre-test and post-test approach, with a population of futsal players and not futsal players who are in the Faculty of Medicine of Lambung Mangkurat University Banjarmasin. Medium intensity physical exercise that is used is pedaling the ergocycle for 10 minutes. The results of paired t test for blood pressure and the heart rate can be concluded that there were significant differences in blood pressure and heart rate before and after moderate intensity physical exercise in futsal players and not futsal players in Banjarmasin Keywords: futsal player, heart rate, physical exercise moderate intensity, blood pressure Abstrak: Pengukuran perubahan pada tekanan darah dan denyut nadi selama istirahat atau pasca latihan adalah metode yang tepat untuk memantau adaptasi individu terhadap sistem kardiovaskular pada saat latihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas sedang pada pemain futsal dan bukan pemain futsal di Banjarmasin. Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental dengan pendekatan pre-test dan post-test, dengan populasi pemain futsal dan bukan pemain futsal yang berada di Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Latihan fisik intensitas sedang yang digunakan adalah mengayuh ergocycle selama 10 menit. Hasil uji t berpasangan untuk tekanan darah dan denyut nadi diperoleh  bahwa terdapat perbedaan bermakna pada tekanan darah dan denyut nadi sebelum dan sesudah latihan fisik intensitas sedang pada pemain futsal dan bukan pemain futsal di Banjarmasin.
PERBEDAAN JUMLAH EOSINOFIL PENGGUNA AIR SUNGAI MARTAPURA DENGAN PENGGUNA AIR PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM BANDARMASIH Ummi Nihayah Nihayah; Huldani Huldani; Rahmiati Rahmiati
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.395 KB)

Abstract

Abstract: Contaminated river water is very possible to contains many microorganism, by consuming the contaminated water may activates body immunity, especially eosinophils. Banjarmasin people also receive the clean water from local water supply utility(PDAM) so the risk of infection is smaller than river water user. The aims of this study was determine the differences of eosinophils count between Martapura river water consuments and Bandarmasih Local Water Supply Utility Consument in Banjarmasin. This study is an analytic observational with a cross sectional approach. Sample selection used purposive sampling technique. The results showed the average eosinophils count in 30 samples of river water consuments were 3.2%, and 30 samples of PDAM water consuments were 4.39%. Data analysis used independent T test and the result showed that there were not significant difference of eosinophil count between Martapura river water Consuments  with the Bandarmasih PDAM water Consuments in Banjarmasin on August 2018. Keyword: river water, pdam water, immunity, eosinophils. Abstrak: Air sungai yang tercemar sangat mungkin mengandung mikroorganisme patogen, sehingga mengkonsumsinya dapat mengaktivasi imunitas tubuh, salah satunya eosinofil. Masyarakat Banjarmasin juga mendapat air bersih dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) sehingga resiko infeksi lebih kecil. Penelitian ini  bertujuan  untuk mengetahui perbedaan jumlah eosinofil pengguna air sungai dengan pengguna air perusahaan daerah air minum di Kota Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Pemilihan sampel menggunakan tekhnik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan  rerata jumlah eosinofil pada 30 sampel pengguna  air sungai  adalah 3,2% dan 30 sampel pengguna air PDAM adalah 4,39%.. Hasil analisis data dengan menggunakan uji t tes tidak berpasangan menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan jumlah eosinofil  masyarakat pengguna air sungai Martapura dengan masyarakat pengguna air PDAM di kota Banjarmasin pada Agustus 2018. (p= 0,623)Kata-kata kunci: air sungai, air PDAM, imunitas, eosinofil.
KORELASI KADAR KOLESTEROL TOTAL DAN MASSA LEMAK PADA PASIEN PENYAKIT GINJAL KRONIK YANG MENJALANI HEMODIALISIS RUTIN Meyta Saskia Regita Putri; FX Hendriyono; Mohammad Rudiansyah
Homeostasis Vol 2, No 3 (2019)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.775 KB)

Abstract

Abstract: Chronic kidney disease (CKD) is one of the global public health problems with prevalence 13,4% in 2016. In CKD hypoalbuminemia increases the activity of 3-hydroxy-3-methylglutaril CoA reductase that works on cholesterol synthesis, resulting in hypercholesterolemia. The aim of the study was to find a correlation between total cholesterol levels and fat mass in CKD patients undergoing routine hemodialysis. This is an observational analytic studies with cross-sectional approach. Thirty subjects were obtained by purposive sampling. Subjects were male CKD patients aged between 25-59 years old undergoing hemodialysis, twice a week at least for 3 months, in Hemodialysis Installation of Ulin Hospital Banjarmasin. From this study, the median of total cholesterol level was 183 mg / dL (108-371 mg / dL). The median of fat mass was 12,2%, (4,8-31,6%). The correlation test, Spearman somers' gamma, results showed no correlation (p = 0,108). There is no correlation between total cholesterol levels and fat mass in CKD patients undergoing routine hemodialysis. Keywords: Total cholesterol, fat mass, chronic renal failure, routine hemodialysis.Abstrak: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat global dengan prevalensi 13.4% pada tahun 2016. Pada PGK terjadi hipoalbuminemia yang meningkatkan kerja enzim 3-hidroksi-3-metilglutaril KoA reduktase yang bekerja pada sintesis kolesterol, sehingga terjadi hiperkolesterolemia. Tujuan penelitian untuk mencari adanya korelasi kadar kolesterol total dan massa lemak pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Subyek didapat dengan metode purposive sampling sebanyak 30. Subyek adalah pasien PGK laki-laki berusia 25-59 tahun yang menjalani hemodialisis 2 kali seminggu minimal selama 3 bulan di Instalasi Hemodialisis RSUD Ulin Banjarmasin. Hasil penelitian didapatkan nilai median kadar kolesterol total 183 mg/dL (108-371 mg/dL). Nilai median massa lemak pada penelitian ini 12,2% (4,8-31,6%). Hasil uji korelasi Spearman somers’d gamma menunjukan tidak terdapat korelasi pada penelitian ini (p=0,108). Tidak terdapat korelasi antara kadar kolesterol total dan massa lemak pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis rutin. Kata-kata kunci: kolesterol total, massa lemak, penyakit ginjal kronik, hemodialisis rutin

Page 1 of 2 | Total Record : 15