cover
Contact Name
Hasni Syahida
Contact Email
hsyahida@ulm.ac.id
Phone
+6287815460096
Journal Mail Official
homeostasis@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Homeostasis: Jurnal Mahasiswa Pendidikan Dokter
ISSN : -     EISSN : 27224333     DOI : -
Core Subject : Health, Science,
Homeostasis adalah jurnal yang berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian yang memiliki fokus dan ruang lingkup di bidang kedokteran dan kesehatan. Tulisan-tulisan yang dimuat bisa dalam bentuk Original Research, Literature Review, ataupun Laporan Kasus. Homeostasis terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember di setiap tahunnya.
Articles 21 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2020)" : 21 Documents clear
Perbandingan Aktivitas Daya Hambat Sediaan Tunggal dengan Kombinasi Infus Phyllantus niruri dan Peperomia pellucida terhadap Salmonella typhi Thea Shagita; Lia Yulia Budiarti; Edyson Edyson
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.141 KB)

Abstract

Abstract: Phyllantus niruri (meniran) and Peperomia pellucida (sirih cina) are traditional medicine which contain the chemical compounds that is act as antibacterial agent. Meniran contains various chemical compounds like flavonoid, alkaloid, and tanin,  whereas in sirih cina are flavonoid and alkaloid. This study aims to compare the inhibitory activity of single concentration treatments with a combination of meniran and sirih cina infusion on the Salmonella typhi in vitro. Data analysis was performed by One-way ANOVA test and Duncan post-hoc test (ɑ<0,05). The result showed that there where significant difference from each treatment of single and combination dose infusion of Phyllantus niruri and Peperomia pellucida. In conclusion, the single and combination dose of meniran and sirih cina does not have the optimum inhibitory activity againts S. typhi. Keywords: Phyllantus niruri, Peperomia pellucida, Salmonella typhi, single dose, combination dose, inhibitory zone. Abstrak: Phyllantus niruri (meniran) dan Peperomia pellucida (sirih cina) merupakan tanaman obat yang mempunyai kandungan zat aktif yang bersifat antibakteri. Tanaman meniran mengandung zat aktif flavonoid, alkaloid, dan tanin, sedangkan sirih cina mengandung zat aktif flavonoid dan alkaloid. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan aktivitas daya hambat dari sediaan tunggal dan kombinasi infus meniran dan sirih cina terhadap Salmonella typhi secara in vitro. Analisis data menggunakan uji One-way anova dan uji post-hoc Duncan (ɑ<0,05). Hasil penelitian didapatkan perbedaan bermakna dari masing-masing perlakuan sediaan tunggal dan kombinasi infus meniran dan sirih cina. Kesimpulan dari penelitian ini adalah sediaan tunggal maupun kombinasi infus meniran dan sirih cina belum dapat menghambat pertumbuhan S. typhi secara optimum. Kata-kata kunci: Phyllantus niruri, Peperomia pellucida, Salmonella typhi, sediaan tunggal, sediaan kombinasi, zona hambat.
Hubungan Faktor Ibu dan Neonatus dengan LDH Serum pada Asfiksia Neonatorum Farah Rullyta Rizkina; Pudji Andayani; Lena Rosida
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.034 KB)

Abstract

Abstract: Neonatal asphyxia is a condition in neonates which failed to breath spontaneously and regularly, leads to high mortality and morbidity because of multiorgan dysfunction. Serum lactate dehydrogenase (LDH) is an enzyme which can be used as an acurate predictor of neonatal asphyxia outcome.The purpose of this study is to analyze the correlation of maternal (maternal age, parity, hypertension in pregnancy) and neonatal factors (gestational age, birth weight) with serum LDH in neonatal asphyxia at Ulin General Hospital Banjarmasin. This research is an analytic observational with cross sectional approach. Total 20 samples were obtained by total purposive sampling according to inclusion criteria (Apgar score ≤ 5). Data analysis of this study used Spearman correlation and simple linear regression test. The results are maternal age (p = 0,384), parity (p = 0,568), hypertension in pregnancy (p = 0,840), and gestational age (p = 0,590) don’t have significant correlation with serum LDH. Birth weight has a significant and negative correlation with serum LDH (p = 0,042). It can be concluded that there are no significant correlation between maternal age, parity, hypertension in pregnancy, and gestational age with serum LDH, but there is a significant correlation between birth weight with serum LDH in neonatal asphyxia at Ulin General Hospital Banjarmasin. Keywords: Neonatal asphyxia, serum LDH, maternal risk factors, neonatal risk factors Abstrak: Asfiksia neonatorum merupakan kondisi kegagalan bernapas yang memiliki angka mortalitas dan morbiditas tinggi karena dapat menimbulkan disfungsi multi organ. Laktat dehidrogenase (LDH) serum merupakan enzim yang dapat dijadikan prediktor akurat luaran asfiksia neonatorum. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan faktor ibu (usia ibu, paritas, hipertensi kehamilan) dan neonatus (usia gestasi, berat badan lahir) dengan LDH serum pada asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan studi potong lintang. Sebanyak 20 sampel didapatkan secara total purposive sampling sesuai kriteria inklusi yaitu skor Apgar ≤ 5. Analisis data penelitian ini menggunakan uji korelasi Spearman dan regresi linear sederhana. Hasil uji analisis statistik menghasilkan faktor usia ibu (p = 0,384), paritas (p = 0,568), hipertensi kehamilan (p = 0,840), dan usia gestasi (p = 0,590) tidak memiliki hubungan signifikan dengan LDH serum pada asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Faktor risiko berat badan lahir memiliki hubungan signifikan dan tidak searah dengan kenaikan LDH serum (p = 0,042). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan antara faktor usia ibu, paritas, hipertensi kehamilan, dan usia gestasi dengan LDH serum, namun terdapat hubungan signifikan antara berat badan lahir dengan LDH serum pada asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata kunci: Asfiksia neonatorum, faktor risiko ibu, faktor risiko neonatus, LDH serum.
Perbedaan Kualitas Hidup Antara Pasien Penyakit Jantung Koroner yang Rutin dan Tidak Rutin Melakukan Senam Jantung Sehat Muhammad Muzain Azhar; Fauzan Muttaqien; Dona Marisa
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.601 KB)

Abstract

Abstract: Coronary heart disease (CHD) patients usually experience a decrease in quality of life. Regularly exercise is proven to improve the quality of life. One of the recommended sports for CHD patients is heart healthy gymnastics. The purpose of this study is to determine the differences in the quality of life of CHD patients who routinely and do not routinely perform healthy heart gymnastics. This study was an observational study with a cross-sectional approach. A total of 24 samples with 8 routinely and 16 non-routinely doing healthy heart exercises were obtained in total sampling according to inclusion and exclusion criteria. From the Fisher test results obtained for the physical domain value of p = 0.759, psychological domain value of p = 0.22, social relations domain value of p = 0.074, and environmental domain value of p = 0.074. It can be concluded that there are no significant differences in all domains of quality of life between subjects who are routinely and not routinely doing healthy heart gymnastics. Keywords: coronary heart disease, quality of life, healthy heart gymnastics. Abstrak: Pasien penyakit jantung koroner (PJK) biasanya mengalami penurunan kualitas hidup. Olahraga teratur dapat meningkatkan kualitas hidup. Salah satu olahraga yang dianjurkan untuk pasien PJK adalah senam jantung sehat. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui perbedaan kualitas hidup pasien PJK yang rutin melakukan senam jantung sehat dan tidak rutin melakukan senam jantung sehat. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross-sectional. Sebanyak 24 sampel dengan 8 yang rutin dan 16 tidak rutin melakukan senam jantung sehat didapat secara total sampling sesuai kriteria inklusi dan ekslusi. Kualitas hidup Subjek yang rutin melakukan senam jantung sehat baik di domain hubungan sosial dan lingkungan, sedangkan di domain fisik didapatkan hasil kualitas hidup yang buruk. Dari hasil uji Fisher didapatkan hasil untuk domain fisik nilai p = 0,553, domain psikologi nilai p = 0,22, domain hubungan sosial nilai p = 0,09, dan domain lingkungan nilai p = 0,091. Bisa disimpulkan tidak terdapat perbedaan bermakna di semua domain kualitas hidup antara subjek yang rutin dan tidak rutin melakukan senam jantung sehat. Kata-kata kunci: PJK, kualitas hidup, senam jantung sehat
Hubungan Kebisingan Rumah dengan Kejadian Hipertensi Wahyu Sandika Putra; Farida Heriyani; Djallalluddin Djallalluddin
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.873 KB)

Abstract

Abstract: The rate of high population density and dense residential houses in East Kelayan Health Center Region, Banjarmasin can trigger some disturbing noises. These noises may result to the increase levels of stress hormones such epinephrine, non-epinephrine and cortisol, which can lead to hypertension. This study aims to determine the association between house noise and the occurence of hypertension in dense residential houses at East Kelayan Health Center Region, Banjarmasin. This study used an analytic observational method with a case control approach. The sample of this study were patients with hypertension and non-hypertension based on medical record data according to the diagnosis by the doctors at East Kelayan Health Center from January-July 2019. The sample were obtained using simple random sampling technique. Chi-square test is used to analyze the data. The results in the case group showed there are 86.7% of patients with hypertension in noisy areas, and 13.3% in quite áreas. The results of the control group showed there are 53.3% of patients without hypertension in noisy areas, and 46.7% in quite areas. Chi square analysis showed the result of (p = 0.011 OR = 5.688) showing there is a significant association between house noise and the occurence of hypertension in dense residential houses at East Kelayan Health Center Region Banjarmasin. Keywords: Noise homes, hypertension, solid occupancy, East Kelayan. Abstrak: Kepadatan penduduk yang tinggi dan hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin dapat memicu suatu kebisingan di wilayah tersebut. Akibat dari kebisingan tersebut dapat meningkatkan kadar hormon stres, seperti epineprin, non-epinerpin dan kortisol tubuh yang dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan kebisingan rumah dengan kejadian hipertensi pada hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan case control. Sampel penelitian ini pasien hipertensi dan tidak hipertensi berdasarkan data rekam medis yang sesuai diagnosis dokter Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin periode Januari-Juli 2019. sampel diambil menggunakan simple random sampling. Uji análisis dengan chi-square. Hasil penelitian ini pada kelompok kasus terdapat 86,7% penderita hipertensi berada di tempat yang bising, 13,3% tidak bising sedangkan kelompok kontrol terdapat 53,3% penderita tidak hipertensi berada di tempat yang bising, 46,7% tidak bising. Hasil análisis dperoleh (p=0,011 OR=5,688) terdapat hubungan yang signifikan antara kebisingan rumah dengan kejadian hipertensi pada hunian rumah yang padat di wilayah Puskesmas Kelayan Timur Banjarmasin. Kata-kata kunci: Kebisingan rumah, hipertensi, hunian padat, Kelayan Timur.
Hubungan Paparan Informasi dan Pergaulan Remaja dengan Kejadian Pernikahan Dini di Kecamatan Aluh-Aluh Tahun 2019 Eka Novica Puspa Dewi; Meitria Syahadatina Noor; Farida Heriyani
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.134 KB)

Abstract

Abstract: Early marriage is a marriage under 20 years old. Kecamatan Aluh-Aluh has the most early marriage cases in Kabupaten Banjar (67 cases). The risk factors of early marriage are information exposure and teenager’s promiscuity. The purpose of this study is to know the correlation of information exposure and teenager’s promiscuity toward early marriage cases in Kecamatan Aluh-Aluh on 2019. The study method used is analytical observational with case control approach. There are 16 samples that meet the inclusion criteria for each group, taken with total sampling method. Data analysis using chi square test (p<0,05). The result showed that 75% women that got married early are exposed to information  poorly and 56% women that got married early are promiscuous. The analysis showed the p value for information exposure is 0,144 and the p value of teenager’s promiscuity is 0,154. The conclusion is that there is no correlation of information exposure and teenager’s promiscuity toward  early marriage cases in Kecamatan Aluh-Aluh on 2019.Keywords: early marriage, information exposure, teenager’s promiscuity Abstrak: Pernikahan dini adalah pernikahan di umur <20 tahun. Kecamatan Aluh-Aluh memiliki jumlah kasus pernikahan dini tertinggi di Kabupaten Banjar (67 kasus). Faktor risiko pernikahan dini adalah paparan informasi dan pergaulan remaja. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan paparan informasi dan pergaulan remaja dengan kejadian pernikahan dini di Kecamatan Aluh-Aluh tahun 2019. Metode penelitian menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan case control. Terdapat 16 sampel yang memenuhi kriteria inklusi untuk masing-masing kelompok, diambil dengan metode total sampling. Analisis data menggunakan uji chi square (p<0,05). Hasil penelitian menunjukkan 75% perempuan menikah dini kurang terpapar informasi dan 56% perempuan menikah dini memiliki pergaulan berisiko. Hasil analisis menunjukkan nilai p = 0,144 untuk paparan informasi dan nilai p = 0,154 untuk pergaulan remaja. Kesimpulannya adalah tidak terdapat hubungan antara paparan informasi dan pergaulan remaja dengan kejadian pernikahan dini di Kecamatan Aluh-Aluh tahun 2019. Kata-kata kunci: pernikahan dini, paparan informasi, pergaulan remaja
Perbedaan Waktu Reaksi Anggota Sbrunners yang Joging Teratur dan Tidak Teratur Muhammad Nardho Pratama; Asnawati Asnawati; Ahmad Husairi
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (150.585 KB)

Abstract

Abstract: Regular exercise has benefits for the body such as improving health, increasing attention and concentration, improving nerve function, and improving blood flow. These benefits can make a person's reaction time faster. The South Borneo Runners community has a regular jogging schedule but not all members follow the schedule. This study aims to determine whether there are differences in reaction times between South Borneo Runners members who jog regularly and irregularly. This research is an observational analytic study with cross-sectional approach. Samples were determined using a consecutive sampling technique and 41 subjects were obtained. Subjects were divided into 2 groups, the regular jogging group of 26 people and the irregular jogging group of 15 people. Measurement of reaction time using Kosinski's time reaction software. Data were analyzed using an unpaired t test and showed p = 0.202. It can be concluded that there is no difference in reaction times between South Borneo Runners members who jog regularly and irregularly. Keywords: reaction time, regular jogging, exercise. Abstrak: Olahraga teratur memiliki manfaat bagi tubuh seperti meningkatkan kesehatan, meningkatkan perhatian dan konsentrasi, memperbagus fungsi saraf, dan memperlancar aliran darah. Berbagai manfaat tersebut dapat membuat waktu reaksi seseorang semakin cepat. Komunitas South Borneo Runners memiliki jadwal olahraga joging yang teratur tetapi tidak semua anggotanya mengikuti jadwal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan waktu reaksi antara anggota South Borneo Runners yang joging teratur dan tidak teratur. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Sampel ditetapkan menggunakan teknik consecutive sampling dan didapatkan sebanyak 41 subjek penelitian. Subjek terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok joging teratur sebanyak 26 orang dan kelompok joging tidak teratur sebanyak 15 orang. Pengukuran waktu reaksi menggunakan Kosinski’s time reaction software. Data dianalisis menggunakan uji t tidak berpasangan dan didapatkan nilai p=0,202. Jadi, dapat disimpulkan bahwa tidak ada perbedaan waktu reaksi antara anggota South Borneo Runners yang joging teratur dan tidak teratur. Kata-kata kunci: waktu reaksi, joging teratur, olahraga.
Hubungan Faktor Ibu dan Neonatus dengan Jumlah Eritrosit Berinti pada Asfiksia Neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin Awaliya Nur Ramadhana; Pudji Andayani; Lena Rosida
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (266.643 KB)

Abstract

Abstract: Asphyxia neonatorum can cause multiorgan system disorders because of severe or chronic hypoxia. Chronic hypoxia can triggered by maternal factor like maternal age and hypertension gestational, also type of labour which cause acute hypoxia, meanwhile neonatal factor like birth weight and small for gestational age can show degree of hypoxia intrauterine. Hypoxic event can trigger erythropoetic so that nucleated erythrocytes release to the circulation. The aim of the study was to determine the relationship of maternal and neonatal risk factors with nucleated erythrocytes in neonatal asphyxia at RSUD Ulin Banjarmasin. This type of research is analytic observational with prospective crossectional method. A total of 16 samples were obtained by purposive sampling technique. Data collection uses a research form. Data were analyzed univariately, then bivariately with Fisher’s exact test with a significance level of p < 0,05. The results obtained by the value of p = 0.304 for maternal age, p = 0.489 for the type of labor, p = 0,654 for hypertension gestational, p = 0.092 for birth weight, and p = 0,511 for small for gestational age. Conclusion there is no significant relationship between the maternal age, type of labor, hypertension gestational, birth weight, and small for gestational age with nucleated erythrocyes in asphyxia neonatorum at RSUD Ulin Banjarmasin. Keywords: asphyxia neonatorum, maternal factor, neonatal factor, nucleated erythrocytes, risk factor.  Abstrak: Asfiksia neonatorum dapat menyebabkan kerusakan multiorgan karena adanya hipoksia berat atau kronik. Hipoksia kronik dapat dipicu oleh faktor ibu berupa usia ibu dan hipertensi selama kehamilan, serta jenis persalinan yang memicu hipoksia akut, sementara faktor neonatus yaitu berat badan lahir dan kecil masa kehamilan dapat mencerminkan hipoksia intrauterin. Kondisi hipoksia akan meningkatkan eritropoiesis sehingga eritosit berinti akan lepas ke sirkulasi. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan faktor risiko ibu dan neonatus dengan jumlah eritrosit berinti pada asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Jenis penelitian ini observasional analitik dengan metode prospective crossectional. Sebanyak 16 sampel didapatkan dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan formulir penelitian. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s exact dengan tingkat kebermaknaan p < 0,05. Hasil penelitian diperoleh nilai p = 0,304 untuk usia ibu, p = 0,489 untuk jenis persalinan, p = 0,654 untuk hipetensi selama kehamilan, p = 0,092 untuk berat badan lahir, dan p = 0,511 untuk kecil masa kehamilan. Kesimpulan tidak terdapat hubungan bermakna secara statistik antara usia ibu, jenis persalinan, hipertensi selama kehamilan, berat badan lahir, dan kecil masa kehamilan dengan jumlah eritrosit berinti pada asfiksia neonatorum di RSUD Ulin Banjarmasin. Kata-kata kunci: asfiksia neonatorum, eritrosit berinti, faktor ibu, faktor neonatus, faktor risiko.
Gambaran Jumlah Leukosit pada Pasien Kanker Serviks yang Menerima Kemoterapi Jessica Manoralisa; Hariadi Hariadi; FX Hendriyono
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.146 KB)

Abstract

Abstract: Cervical cancer is malignancy disease in cervix. Chemotherapy is cancer’s treatment using systemic drugs. This study determines the description of leukocytes number in cervical cancer patients who receive paclitaxel and carboplatin chemotherapy phases I, II, III and IV at Ulin General Hospital Banjarmasin in August 2018 - March 2019. This is descriptive study with cohort approach. The results showed 46 patients who appropriate the criteria, 1 patient with IB stage and 45 patients with IIIB stage. Patients with early-stage have normal leukocyte number before chemotherapy and after first, second and third chemotherapy then decrease after fourth chemotherapy. At advanced stage, leukocyte number have 12 patients (26.7%) increase before chemotherapy. Four patients (8.9%) increase and 5 patients (11.1%) decrease after first chemotherapy. One patient (2.2%)  increase and 7 patients (15.6%) decrease after second chemotherapy. One patient (2.2 increase after third chemotherapy and 11 patients (24.5%) decrease after third and fourth chemotherapy. Keywords: leukocyte, paclitaxel, carboplatin, cervical cancer. Abstrak: Kanker serviks adalah penyakit keganasan leher rahim. Kemoterapi adalah salah satu pengobatan dengan menggunakan obat sistemik. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran jumlah leukosit pasien kanker serviks yang menerima kemoterapi paklitaksel dan karboplatin fase I, II, III dan IV di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus 2018 – Maret 2019. Penelitian bersifat deskriptif dengan desain kohort. Hasil penelitian didapatkan 46 pasien memenuhi kriteria, 1 pasien stadium IB dan 45 pasien stadium IIIB. Pada stadium awal didapatkan jumlah leukosit pasien normal sebelum kemoterapi dan sesudah kemoterapi pertama, kedua, ketiga kemudian menurun sesudah kemoterapi keempat. Pada pasien stadium lanjut didapatkan data jumlah leukosit sebanyak 12 pasien (26,7%) meningkat sebelum kemoterapi. Sebanyak 4 pasien (8,9%) meningkat dan 5 pasien (11,1%) menurun sesudah kemoterapi pertama. Sebanyak 1 pasien (2,2%) meningkat dan 7 pasien (15,6%) menurun sesudah kemoterapi kedua. Sebanyak 1 pasien (2,2%) meningkat sesudah kemoterapi ketiga dan 11 pasien (24,5%) menurun sesudah kemoterapi ketiga dan keempat. Kata-kata kunci: leukosit, paklitaksel, karboplatin, kanker serviks.
Identifikasi Salmonella typhi pada Air Galon Bermerek dan Isi Ulang di Banjarmasin Sheni Chang; Rahmiati Rahmiati; Husnul Khatimah; Noor Muthmainnah; Ida Yuliana
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.959 KB)

Abstract

Abstract: Bottled drinking water is widely used by the community. Many people choose bottled gallon drinking water as their daily source of drinking water both branded gallon water and refill gallon water. Mandatory parameters on drinking water quality in microbiology are the total Coliform bacteria and Escherichia coli not more than 0 in 100 ml samples. In Indonesian National Standard (SNI) Number 01-3553 of 2006 stated that the pathogenic bacteria should not be on bottled drinking water, included Salmonella. The purpose of this study was to identify Salmonella typhi on branded gallon water and refill gallon water from drinking water depots The sampling technique was purposive sampling by selecting 5 brands of branded gallon water and 5 drinking water depots, in total 30 samples. Bacteriological tests were done by conventional method. The results showed that from 30 samples identified there were no samples contaminated by Salmonella typhi. Keywords: Salmonella typhi, branded gallon water, refill gallon water, Banjarmasin Abstrak: Air minum dalam kemasan sekarang ini banyak digunakan oleh masyarakat. Banyak masyarakat yang memilih air minum dalam kemasan galon sebagai sumber air minum sehari-hari baik air galon yang bermerek maupun air galon isi ulang. Parameter wajib  dalam kualitas air minum secara mikrobiologi adalah total bakteri Coliform dan Escherichia coli tidak lebih dari 0 dalam 100 ml sampel. Pada Standar Nasional Indonesia (SNI) No. 01-3553 tahun 2006 dicantumkan bahwa bakteri patogen tidak boleh ada di dalam air minum kemasan, termasuk Salmonella. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi Salmonella typhi pada air galon bermerek dan air galon isi ulang dari depot air minum isi ulang (DAMIU). Teknik yang digunakan adalah purposive sampling dengan memilih 5 merek air galon bermerek dan 5 tempat DAMIU, dengan total 30 sampel. Uji bakteriologis dilakukan dengan metode konvensional. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 sampel yang diidentifikasi tidak ditemukan adanya sampel yang terkontaminasi Salmonella typhi. Kata-kata kunci: Salmonella typhi, air galon bermerek, air galon isi ulang, Banjarmasin
Perbandingan Aktivitas Daya Hambat Sediaan Tunggal dengan Kombinasi Infus Phyllanthus niruri dan Peperomia pellucida terhadap Escherichia coli Lutfia Papita Derizky Rahmayanti; Edyson Edyson; Lia Yulia Budiarti
Homeostasis Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Homeostasis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.218 KB)

Abstract

Abstract: Phyllanthus niruri (meniran) and Peperomia pellucida (sirih cina) are used by the native people of Borneo as herbal medicines. Alkaloids, anthraquinones, tannins, phenols, terpenoid, flavonoids, and steroids in both herb act as antibacterial substances. Herbal medicine usually consumed in a single or combination preparation. The aim of this study was to analyze the differences in the inhibitory activity of a single and combination of meniran and sirih cina infusion against Escherichia coli (E. coli). True-experimental method with a post-test only with the control group design was used in this study. The concentration of meniran and sirih cina infusion were 10%, 20%, 30%, and 40%. Gentamicin and distilled water are used as positive and negative controls. Data analyzed using the One-Way ANOVA test and the Post-hoc Duncan test (α = 0.05) found significant differences (p <0.05) between single and combination preparations. The largest inhibitory zone was produced by a combination of 20% meniran + 20% sirih cina (19.62 ± 0.40 mm). The synergistic effect was seen in combination preparations which had a greater inhibition zone than a single preparation, but this inhibitory activity was significant differences with gentamicin inhibition zone (22.69 ± 0.03 mm). It was concluded that combination preparation has larger inhibitory zone than a single preparation, but could not produce optimum inhibition against E. coli ATCC 25922. Keywords: Single preparation, combination preparation, Phyllanthus niruri, Peperomia pellucida, Inhibitory activity. Abstrak: Phyllanthus niruri (meniran) dan Peperomia pellucida (sirih cina) dimanfaatkan masyarakat Kalimantan sebagai obat herbal. Alkaloid, antrakuinon, tanin, fenol, terpenoid, flavonoid, dan steroid merupakan kandungan senyawa pada kedua tanaman yang bersifat antibakteri. Selain sediaan tunggal, obat herbal juga dapat digunakan dalam bentuk kombinasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan aktivitas daya hambat optimum sediaan tunggal dengan kombinasi infus meniran dan sirih cina terhadap Escherichia coli (E. coli). Metode true-experimental dengan rancangan post-test only with control group design digunakan pada penelitian ini. Perlakuan yang digunakan ialah sediaan tunggal dan kombinasi infus meniran dan sirih cina dengan konsentrasi 10%, 20%, 30%, dan 40%. Gentamisin dan akuades digunakan sebagai kontrol positif dan negatif. Data yang dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji Post-hoc Duncan (α=0,05) ditemukan bahwa hasil antara sediaan tunggal dan kombinasi berbeda bermakna (p<0,05). Zona hambat terbesar dihasilkan oleh sediaan kombinasi meniran 20% + sirih cina 20% (19,62±0,40 mm). Efek sinergis terlihat pada perlakuan sediaan kombinasi yang memiliki zona hambat lebih besar dibanding sediaan tunggal, namun aktivitas daya hambat tersebut masih belum bisa menyamai zona hambat gentamisin (22,69±0,03 mm) berdasarkan uji statistik. Disimpulkan bahwa sediaan kombinasi memiliki zona hambat lebih besar dibanding sediaan tunggal, namun belum dapat menghasilkan daya hambat optimal terhadap E. coli ATCC 25922. Kata-kata kunci: sediaan tunggal, sediaan kombinasi, Phyllanthus niruri, Peperomia pellucida, Escherichia coli, daya hambat.

Page 1 of 3 | Total Record : 21