cover
Contact Name
Ervita Nindy Oktoriany
Contact Email
rekmedstia@gmail.com
Phone
+6283613722299
Journal Mail Official
rekmedstia@gmail.com
Editorial Address
Jl. Baiduri Bulan No 1 Malang
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HELATH INFORMATION
ISSN : 27159817     EISSN : 27229831     DOI : -
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, atas berkat dan rahmat Nya kamidapat kembali hadir untuk menyajikan artikel-artikel terkini pada JRMIK: Jurnal Rekam Medis & Informasi Kesehatan Volume 03 Nomor 02 Edisi Juni, Tahun 2022. Semua artikel yang dimuat pada Jurnal ini telah diseleksi dan ditelaah oleh Dewan Editor . Hanya artikel-artikel berkualitas baik dan sangat baik yang dapat dimuat pada JRMIK: Jurnal Rekam Medis & Informasi Kesehatan. Topik-topik yang disajikan pada edisi ini meliputi: klasifikasi dan kodefikasi rekam medis, komunikasi rekam medis, dan manajemen rekam medis. Kepada penulis yang telah berkontribusi pada penerbitan jurnal edisi ini, kami menyampaikan terima kasih yang mendalam, selanjutnya kami mengundang rekan sejawat peneliti perekam medis dan informasi kesehatan mengirimkan naskah untuk disajikan pada jurnal ini. Saran dan kritik yang membangun, pembaca dan para pihak lainnya sangat kami harapkan. Selamat membaca.
Articles 78 Documents
ANALISIS KETEPATAN KODEFIKASI DIAGNOSIS GANGGUAN JIWA PASIEN RAWAT INAP DI RUMAH SAKIT JIWA ISLAM KLENDER Mutmainatul Ulla; Noor Yulia; Deasy Rosmala Dewi; Puteri Fannya
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.94

Abstract

Kesehatan jiwa adalah keadaan seseorang dapat bertumbuh dalam segala aspek fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga mampu mengenali kemampuannya, mampu menghadapi stres, bekerja secara produktif dan mampu berkontribusi pada komunitasnya. Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) adalah orang yang mempunyai gangguan fisik, mental, sosial, pertumbuhan dan perkembangan, serta kualitas hidup yang buruk sehingga meningkatkan risiko terjadinya gangguan jiwa. Sedangkan Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) adalah orang yang mengalami gangguan berupa pikiran, perilaku dan perasaan yang bermanifestasi sebagai episode gejala yang berulang. Ketepatan kode diagnosis merupakan penulisan kode diagnosis penyakit yang sesuai dengan klasifikasi pada ICD-10 untuk keperluan statistik, manajemen informasi kesehatan, dan klaim pembiayaan pelayanan kesehatan. Mengetahui tingkat ketepatan kodefikasi diagnosis gangguan jiwa pasien rawat inap di rumah sakit Jiwa Islam Klender. Metode penelitian deskriptif secara kuantitatif dengan desain penelitian secara cross sectional. Populasi penelitian rekam medis gangguan jiwa pasien rawat inap pada bulan Januari-Maret 2025 sebesar 3234 dengan rumus slovin, dibutuhkan sampel berjumlah 97 rekam medis. Teknik pengambilan sampel penelitian menggunakan simple random sampling. Teknik pengumpulan data penelitian secara observasi menggunakan data daftar tilik dan wawancara menggunakan pedoman wawancara. Tingkat ketepatan kodefikasi diagnosis gangguan jiwa di RS Jiwa Islam Klender sebesar 54% dan 46% tidak tepat yang disebabkan oleh kode titik ke 4 tidak dikoding dan tidak melihat keterangan usia, yang menunjukkan masih adanya kelemahan dalam proses pengodean. Sebaiknya SOP di evaluasi dan direvisi dengan mencantumkan pedoman penggunaan karakter ke-4 dan ke-5 ICD-10 dan RS perlu meningkatkan implementasi Rekam Medis Elektronik (RME).
SYMPTOM-BASED SCREENING OF INFECTIOUS DISEASES: QUESTIONNAIRE SURVEY FOR EARLY DETECTION Khomsatun Ni’mah; Sabran Sabran; Dony Setiawan; Mochammad Choirur Roziqin
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.100

Abstract

Skrining gejala penyakit menular merupakan upaya penting dalam deteksi dini dan pencegahan penyebaran infeksi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan proporsi gejala klinis tuberkulosis (TBC), human immunodeficiency virus (HIV), dan demam berdarah dengue (DBD) pada populasi yang diperiksa. Hasil skrining menunjukkan bahwa mayoritas responden tidak memiliki gejala maupun faktor risiko utama terkait ketiga penyakit. Pada TBC, hanya sebagian kecil responden yang mengalami gejala klasik seperti batuk berkepanjangan dan demam persisten, tanpa temuan radiologis yang mendukung adanya kasus aktif. Untuk HIV, tidak ditemukan perilaku maupun riwayat medis berisiko, sementara gejala kronis tidak spesifik hanya dialami oleh sebagian kecil responden, sehingga risiko penularan HIV relatif rendah. Pada DBD, tidak terdeteksi kasus demam akut, dan gejala pendukung seperti nyeri otot, sakit kepala, atau nyeri sendi hanya muncul pada sebagian kecil responden tanpa bukti laboratorium maupun riwayat paparan signifikan. Temuan ini menegaskan bahwa prevalensi gejala penyakit menular dalam populasi penelitian tergolong rendah, namun skrining terintegrasi tetap diperlukan untuk deteksi dini serta pemantauan berkelanjutan, terutama pada individu dengan gejala ringan atau faktor risiko tertentu.
KESIAPAN FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI NEGARA BERKEMBANG DALAM MENGADOPSI SISTEM REKAM MEDIS ELEKTRONIK: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW Audhita Palupi Ekasari; Peni Sriwahyu Natasari; Annisa Asti Pratiwi; Ervita Nindy Oktoriani
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.102

Abstract

Transisi menuju Rekam Medis Elektronik (RME) sangat penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Namun, fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di negara berkembang menghadapi tantangan kesiapan yang lebih berat dibandingkan negara maju. Penelitian ini bertujuan untukmenyintesis bukti ilmiah terkait kesiapan fasyankes di negara berkembang dalam mengadopsi sistem RME. Systematic literature review ini disusun mengikuti panduan PRISMA dan kerangka kerja PCC. Pencarian komprehensif dilakukan pada basis data PubMed dan Google Scholar untuk artikel yangditerbitkan antara tahun 2016 hingga 2026 dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Dari 172 artikel yang ditemukan, 42 artikel memenuhi kriteria inklusi, didominasi oleh metode kuantitatif (50%) dengan lokus penelitian mayoritas di Indonesia (59,5%) dan benua Afrika (23,8%). Hasil sintesis menunjukkanbahwa fasyankes secara umum berada pada kategori cukup siap hingga siap pada dimensi SDM, organisasi, dan infrastruktur karena adanya persepsi positif pengguna terhadap manfaat RME. Meski demikian, implementasi penuh terhambat oleh beban dokumentasi ganda selama masa transisi,keterbatasan anggaran, rendahnya literasi digital, kendala konektivitas internet, minimnya pelatihan terstruktur, serta lemahnya interoperabilitas sistem. Walau staf kesehatan menunjukkan sikap positif terhadap adopsi RME, kesenjangan finansial, infrastruktur, dan regulasi masih nyata. Keberhasilanintegrasi nasional memerlukan manajemen perubahan yang matang, pelatihan digital berkelanjutan oleh manajemen fasyankes, penguatan regulasi teknis, serta bantuan dana dari pemerintah.
ANALISIS PERUBAHAN BEBAN KERJA PMIK BAGIAN PENGKODEAN DIAGNOSA SETELAH PENERAPAN REKAM MEDIS ELEKTRONIK MENGGUNAKAN METODE ABK-KES DI RUMAH SAKIT WAVA HUSADA KEPANJE Farah Adiba; Adhi Caraka
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.103

Abstract

Latar Belakang: Penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) merupakan bagian dari transformasi digital pelayanan kesehatan yang bertujuan meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kualitas pelayanan rumah sakit. Implementasi RME mengubah alur kerja Petugas Manajemen Informasi Kesehatan(PMIK), khususnya pada bagian pengkodean diagnosis, karena proses pencarian, pengambilan, dan pengelolaan dokumen rekam medis yang sebelumnya dilakukan secara manual beralih menjadi sistem digital. Perubahan tersebut berpotensi memengaruhi beban kerja petugas sehingga perlu dilakukan analisis kebutuhan sumber daya manusia menggunakan metode Analisis Beban Kerja Kesehatan (ABKKes).Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perubahan beban kerja PMIK bagian pengkodean diagnosis setelah penerapan Rekam Medis Elektronik menggunakan metode ABK-Kes di Rumah Sakit Wava Husada Kepanjen.Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan observasional. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan telaah dokumen pada unit pengkodean diagnosis. Analisis data dilakukan menggunakan metode ABK-Kes dengan menghitung waktu kerja tersedia, norma waktu, standar beban kerja, faktor tugas penunjang, serta kebutuhan sumber daya manusia sebelum dan sesudah penerapan Rekam Medis Elektronik.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan Rekam Medis Elektronik mampu meningkatkan efisiensi proses pengkodean diagnosis. Kebutuhan tenaga PMIK pada sistem manual sebesar 3,90 orang (dibulatkan menjadi 4 orang), sedangkan setelah penerapan Rekam Medis Elektronik menjadi 2,41orang (dibulatkan menjadi 2 orang). Meskipun demikian, rumah sakit tetap mempertahankan tiga petugas untuk menjaga kelancaran pelayanan dan mengantisipasi fluktuasi beban kerja.Kesimpulan: Penerapan Rekam Medis Elektronik terbukti menurunkan beban kerja PMIK bagian pengkodean diagnosis melalui penyederhanaan alur kerja dan peningkatan efisiensi waktu. Hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar dalam perencanaan kebutuhan sumber daya manusia serta optimalisasi implementasi Rekam Medis Elektronik di rumah sakit.
ANALISIS KOMUNIKASI EFEKTIF PETUGAS REKAM MEDIS DENGAN TENAGA KEPERAWATAN DENGAN METODE REACH DI RUMAH SAKIT BAPTIS KEDIRI Soraya Soraya; Firgiana Putri Duari
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.104

Abstract

Komunikasi efektif merupakan pilar utama dalam menunjang koordinasi interprofesional di rumah sakit demi menjamin keselamatan pasien dan mutu pelayanan. Namun, hubungan kerja antara petugas rekam medis dan tenaga keperawatan kerap diwarnai hambatan komunikasi akibat tingginya bebankerja dan perbedaan prioritas tugas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam penerapan komunikasi efektif antara petugas rekam medis dengan tenaga keperawatan menggunakan pisau analisis metode REACH (Respect, Empathy, Audible, Clarity, dan Humble) di Rumah SakitBaptis Kediri. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Data dihimpun melalui observasi partisipatif pasif, wawancara mendalam dengan informan kunci dari kedua unit, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum, kelima prinsip REACHtelah diinternalisasikan oleh petugas. Faktor penghambat yang dominan ditemukan pada dimensi Audible dan Clarity yang dipicu oleh gangguan situasional lingkungan kerja yang bising dan penyampaian pesan yang tergesa-gesa saat jam sibuk pelayanan. Di sisi lain, tidak adanya SOP tertuliskhusus mengenai komunikasi interprofesional berbasis REACH menjadi celah institusional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun komunikasi berjalan cukup efektif, manajemen rumah sakit perlu merumuskan regulasi taktis berupa SOP komunikasi berbasis REACH dan melaksanakan pelatihanterjadwal demi meminimalkan risiko miskomunikasi dokumen rekam medis.
ANALISIS KESIAPAN IMPLEMENTASI SISTEM IDRG MELALUI PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) KLAIM DI RSU UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG Ervita Nindy Oktoriani; Subi Hariyanto
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.105

Abstract

Transisi dari sistem e-Klaim berbasis Indonesian Case Base Groups (INA-CBGs) menuju sistem Indonesian Diagnosis Related Groups (iDRG) membawa risiko operasional yang tinggi bagi rumah sakit apabila tidak diimbangi dengan kesiapan regulasi internal. Penelitian ini bertujuan untukmenganalisis kesiapan operasional unit casemix RSU Universitas Muhammadiyah Malang dalam implementasi iDRG serta menghasilkan solusi taktis berupa rancangan Standard Operating Procedure (SOP) Entry Data Klaim yang valid dan aplikatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan action research (riset aksi). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan petugas koder rekam medis, verifikator internal, serta kepala unit casemix, ditambah dengan teknik telaah dokumen. Penapisan prioritas masalah diujimenggunakan metode USG (Urgency, Seriousness, Growth), sementara pelacakan akar penyebabnya dipetakan menggunakan diagram Fishbone. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah paling mendesak dengan total skor tertinggi (14) adalah belum tersedianya SOP khusus untuk entry dataklaim pada sistem iDRG. Analisis Fishbone mengonfirmasi bahwa akar permasalahan utama didominasi oleh aspek method (belum adanya alur kerja tertulis dan proses kerja tidak seragam) serta aspek man (petugas belum terlatih dan kurangnya pemahaman koding iDRG). Sebagai tindakan nyatadari riset aksi ini, telah berhasil disusun draf rancangan SOP Entry Data Klaim iDRG terstandarisasi yang mencakup alur verifikasi berkas resume medis, validasi kesesuaian kode ICD-10 dan ICD-9 CM, hingga tahapan grouping e-Klaim. Implementasi draf prosedur baku ini direkomendasikan untuksegera disahkan guna meminimalisir kesalahan teknis petugas, mempercepat siklus pengajuan, dan mengamankan stabilitas keuangan rumah sakit.
ANALISIS FAKTOR RENDAHNYA BED OCCUPANCY RATE BERDASARKAN PENDEKATAN 5M DAN PENYUSUNAN STRATEGI OPTIMALISASI PEMANFAATAN TEMPAT TIDUR DI RS X Mohammad Arief Rachman; Noer Fadhillah
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.106

Abstract

Bed Occupancy Rate (BOR) digunakan untuk menggambarkan tingkat pemanfaatan tempat tidur rawat inap. Nilai BOR yang rendah menunjukkan bahwa kapasitas tempat tidur belum digunakan secara optimal. Namun, nilai BOR saja belum dapat menjelaskan faktor yang berkaitan denganrendahnya penggunaan tempat tidur. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor rendahnya BOR berdasarkan pendekatan 5M serta menyusun strategi optimalisasi pemanfaatan tempat tidur di RS X. Metode: Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain sequential explanatory. Tahapkuantitatif menggunakan seluruh data Sensus Harian Rawat Inap periode Januari-Maret 2026 pada rumah sakit dengan kapasitas 50 tempat tidur. Tahap kualitatif melibatkan dua informan kunci, yaitu kepala instalasi rekam medis dan kepala ruang rawat inap. Data dikumpulkan melalui telaah dokumen, wawancara, dan observasi. Temuan kuantitatif dan kualitatif diintegrasikan menggunakan joint display berdasarkan unsur Man, Money, Material, Method, dan Machine. BOR bulan Januari sebesar 18,32%, Februari 16,36%, dan Maret 14,39%, dengan BOR kumulatif sebesar 16,36%. Darikapasitas 4.500 hari-tempat-tidur, sebanyak 83,64% belum terpakai. Berdasarkan keterangan informan, rendahnya aliran pasien berkaitan dengan mekanisme rujukan dan ketentuan pihak ketiga penjamin biaya kesehatan. Temuan lain menunjukkan belum adanya pelatihan BOR secara terstruktur,perbedaan status pasien antara sistem dan kondisi sebenarnya, verifikasi Sensus Harian Rawat Inap yang belum konsisten, serta pemantauan tempat tidur yang belum dilakukan secara langsung melalui sistem. Strategi perbaikan meliputi pencocokan data antarunit, standardisasi sensus, pemetaan alurpasien, penguatan jejaring rujukan, pelatihan petugas, penerapan dashboard tempat tidur secara bertahap, dan evaluasi bulanan. Rendahnya BOR di RS X berkaitan dengan rendahnya pemanfaatan tempat tidur dan pengelolaan data yang belum optimal. Perbaikan perlu dilakukan secara bertahap pada alur pasien, proses pencatatan, kompetensi petugas, dan sistem informasi.
Evaluasi Beban Kerja Petugas Coder pada Implementasi Rekam Medis Elektronik Dengan Metode WISN di Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya Robiatud Daniyah; Mudesta Viresi Ngongo
JRMIK Vol 7 No 2 (2026): JOURNAL OF MEDICAL RECORDS AND HEALTH INFORMATION
Publisher : Malang: Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58535/jrmik.v7i2.107

Abstract

Latar belakang : Implementasi Rekam Medis Elektronik (RME) telah mengubah pola kerja petugas coder di rumah sakit, sehingga diperlukan evaluasi terhadap beban kerja untuk memastikan kecukupan tenaga dan menjaga mutu pelayanan. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengevaluasi bebankerja petugas coder pada implementasi Rekam Medis Elektronik menggunakan metode Workload Indicators of Staffing Need (WISN) di Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya.Metode : Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Analisis kebutuhan tenaga dilakukan menggunakan metode WISN sesuai Pedoman Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu kerja tersedia petugas coder sebesar 116.340 menit/tahun, dengan rata-rata waktu pengkodean 0,6 menit per berkas rekam medis rawat jalan dan 1,1 menit per berkas rekam medis rawat inap.. Berdasarkan perhitungan metode WISN diperoleh kebutuhan tenaga petugas coder sebesar 1,8782 orang yang dibulatkan menjadi 2 orang. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jumlah petugas coder yang tersedia saat ini masih sesuai dengan kebutuhan pelayanan. Implementasi RME menyebabkan kegiatan pokok petugas coder lebih berfokus padapenginputan kode diagnosis, sedangkan telaah rekam medis, verifikasi diagnosis, validasi dokumen, dan kodefikasi untuk klaim BPJS Kesehatan dilaksanakan oleh Unit Casemix. Meskipun demikian, petugas coder masih menjalankan tugas tambahan seperti audit rekam medis, pemeriksaankelengkapan dokumen, penyusunan laporan, dan membantu proses pendaftaran pasien. Oleh karena itu, evaluasi beban kerja dan pembagian tugas perlu dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi peningkatan volume pelayanan, perubahan regulasi pengkodean, maupun pengembangan fitur RME.Hasil penelitian ini diharapkan menjadi dasar bagi manajemen Rumah Sakit Mata Undaan Surabaya dalam perencanaan kebutuhan sumber daya manusia dan pengelolaan beban kerja petugas coder.