cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima; Arsitektur, Misi Agama dan Kekuasaan Retno Kartini
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.263 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.530

Abstract

The article discusses the history of Sultan Muhammad Salahuddin Mosque in Bima, and it was written as an effort to preserve the cultural heritage of the Indonesian heritage, especially related to the historic mosque and its role in the development of Islam in the region of Bima, West Nusa Tenggara. This descriptive study focuses on writing about the history of the mosque's founding, its architecture and its historic objects inside the mosque, as well as the function of the mosque from time to time. The results were extracted from various sources, starting with interviews with key informants, document studies, and observations. This historic mosque was originally built by Sultan Abdul Kadim in 1737 AD, then continued by his successor, Sultan Abdul Hamid until it was completed in 1780 AD. This palace mosque is a symbol of the religiosity of the community of Bima and serves as a center of Islamic religious mission in his time. The mosque that was destroyed by an allied bomb in 1948 was then rebuilt from its original form and was named as Sultan Muhammad Salahuddin Mosque. Artikel hasil penelitian terhadap Masjid Sultan Muhammad Salahuddin Bima ditulis sebagai salah satu upaya untuk melestarikan warisan budaya Bangsa Indonesia, khususnya yang berkaitan dengan masjid bersejarah dan perannya dalam perkembangan Islam di wilayah Bima, Nusa Tenggara Barat. Penelitian diskriptif ini berfokus pada penulisan seputar sejarah pendirian masjid, arsitektur dan benda-benda bersejarah yang ada di dalamnya, serta fungsi masjid dari masa ke masa. Hasil penelitian digali dari berbagai sumber, dimulai dengan wawancara dengan informan kunci, studi  dokumen, dan observasi. Masjid bersejarah ini awalnya dibangun oleh Sultan Abdul Kadim pada pada tanggal tahun 1737 M, kemudian dilanjutkan penerusnya, Sultan Abdul Hamid sampai selesai pada tahun 1780 M. Masjid istana ini merupakan simbol religiu­sitas masyarakat Bima dan berfungsi sebagai pusat penyiaran agama Islam di masanya. Masjid yang pernah hancur terkena bom tentara sekutu pada tahun 1948 kemudian dibangun kembali sesuai bentuk aslinya dan dinamai sebagai Masjid Sultan Muhammad Salahuddin.Kata kunci: Masjid bersejarah; Sultan Muhammad Salahuddin; Bima 
Tradisi Penulisan Tafsir Al-Qur’an Bahasa Jawa Cacarakan: Studi Atas Kur’an Jawen Muhammadiyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi Siti Mariatul Kiptiyah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.47 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.531

Abstract

The article discusses the writing of Qur’anic commentary in Javanese language or Cacarakan, especially in the Kur’an Jawen Muhammadiyah and Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi. My focus is to explore the writing tradition of Qur’anic commentaries and interpretative context of the books. Considering both were published in 1927 and 1928, this study seeks to explain how the tradition of writing of the Qur’anic commentary in Java, especially in the era of colonialism before the event of Sumpah Pemuda in 1928. In my analysis, Kur’an Jawen Muhamma­diyah and Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi although written  in the same language that is aksara cacarakan, they have different issues. The interpretation about jihad in Kur’an Jawen Muhammadiyah was a response to the Christian missionary activity and the tafsir was raising the issue of harmony among religious people. On the other hand, Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi discusses more about how to make solidarity in Muslim society.Keyword:  cacarakan, Qur’anic commentary, Javanese, Muslim solidarity Artikel ini membahas tentang penulisan tafsir Al-Qur’an bahasa Jawa Cacarakan, utamanya pada Kur’an Jawen Muhammadiyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi. Fokus saya adalah mengeksplorasi tradisi penulisan dan konteks penafsiran kedua kitab tafsir tersebut. Mengingat keduanya terbit pada tahun 1927 dan 1928, studi ini penting untuk melihat bagaimana geliat penulisan tafsir Al-Qur’an di Jawa, khususnya pada era kolonialisme menjelang diikrarkannya Sumpah Pemuda tahun 1928. Dari pembacaan saya, meski Kur’an Jawen Muhamma­­diyah dan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi ditulis dengan bahasa yang sama, keduanya memiliki pola penulisan yang berbeda dan menyasar konteks penafsiran yang berbeda pula. Kur’an Jawen Muhammadiyah (1927) secara penulisan berbentuk terjemah tafsiriyah dan merespon massifnya gerakan zending atau kristenisasi oleh pemerintah kolonial, dengan memberi penekanan pada dakwah secara damai untuk mencapai kerukunan antar umat beragama. Sedangkan Tafsir Kur’an Jawen Pandam lan Pandoming Dumadi (1928) secara penulisan menggunakan pola kitab tafsir sesuai dengan namanya, ia lebih banyak menyinggung perdebatan seputar furu’iyah dan menekankan pada kerukunan internal umat Islam.Kata kunci: cacarakan, tafsir Al-Qur’an, Bahasa Jawa, solidaritas Muslim 
Eksplorasi dan Digitalisasi Manuskrip Keagamaan: Pengalaman di Minangkabau Ridwan Bustamam
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (465.721 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.532

Abstract

Islamic Manuscript of Nusantara has long been the object of resear­ch. Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage Office for Research and Development and Training began to seriously conserve the manuscript systematically since 2008 until now, among others through the digitalization of religious classical manuscripts. Until 2016, about 2,203 titles of religious manuscripts were successfully digitized from various parts of Indonesia, including the religious manus­cripts of West Sumatra. Digitalization activities in this area are not as easy as planned, many obstacles to be faced by the digital team, technical issues and obstacles that arise from the owner of the script itself. The implementation strategy of digitizing manuscript used such as involving manuscripts from MANASSA, SULUAH Padang, IAIN Imam Bonjol Padang, and Andalas Padang University. In fact, there are still many religious manuscripts in West Sumatera that have not been photographed until 2016. Due to limited quotas, the manuscripts that are digitized are only 45 manuscripts, coming from three regions: 1) Pauh Kambar Hilir, Nan Sabaris, Padang Pariaman; 2) Batu Baraia, Saturday Feed, Luhak, Fifty Koto; 3) Kasiak, Koto Sani, Sumani, Solok. This community-owned manuscript contains among others tauhid, tafseer, fiqh, mujarabat, fala­kiyah, nahwu-naraf knowledge, and tasawuf. One of the most important recommendations of the digitalization team is: "intensive coordination and collaboration is needed in order to save the manuscript, because if done sepa­­ra­tely, the conservation effort of the manuscript will not run opti­mally.Keywords: exploration, digitizing, religious manuscripts, West Sumatra, Minangkabau  Naskah klasik (manuskrip) keislaman Nusantara sudah lama menyita perhatian para peneliti dari dalam maupun luar negeri. Puslitbang Lektur dan Khazanah Keagamaan Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama mulai serius mengkonservasi naskah kuno secara sistematis sejak tahun 2008 sampai sekarang, antara lain melalui digitalisasi naskah klasik keagamaan. Hingga tahun 2016, sekitar 2.203 judul naskah keagamaan telah berhasil didigital dari berbagai wilayah di Indonesia, termasuk di dalamnya manuskrip keagamaan dari Sumatera Barat. Kegiatan digitalisasi di daerah ini pun tidak semudah yang direncanakan, banyak kendala yang harus dihadapi oleh tim digital, baik kendala yang bersifat teknis maupun kendala yang berasal dari pemilik naskah itu sendiri. Strategi digitalisasi naskah yang digunakan misalnya melibatkan para pegiat naskah dari MANASSA, SULUAH Padang, IAIN Imam Bonjol Padang, dan Univer­sitas Andalas Padang. Sesungguhnya masih banyak manuskrip keagamaan di Sumbar yang belum difoto tahun 2016. Karena kuota yang terbatas, maka manuskrip keagamaan yang didigital hanya berjumlah 45 naskah, yaitu dari tiga daerah: 1) Pauh Kambar Hilir, Nan Sabaris, Padang Pariaman; 2) Batu Baraia, Pakan Sabtu, Luhak, Lima Puluh Koto; 3) Kasiak, Koto Sani, Sumani, Solok. Naskah milik masyarakat ini berisi antara lain tauhid, tafsir, fikih, mujarabat, falakiyah, ilmu nahwu-saraf, dan tasawuf. Tim digitalisasi manuskrip keagamaan Sumbar akhirnya meru­mus­kan rekomandasi, yang terpenting adalah: “perlu koordinasi dan kola­borasi secara intensif dalam rangka penyelamatan manuskrip, sebab jika dilakukan secara terpisah-pisah, maka upaya konservasi manuskrip tidak akan berjalan secara optimal.Kata kunci: eksplorasi, digitalisasi, manuskrip keagamaan, Sumatera Barat, Minangkabau
Perkembangan dan Tantangan Sosial Kehidupan Perempuan Salafi di Kalimantan Selatan Siti Tarwiyah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.481 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.533

Abstract

One important aspect of the Salafi movement is their view of women's position. This purification movement attempts to restore the female khittah as the very symbolic early era of the Islamic Prophethood. Bringing women back into the house, wearing burkas and long robes, a very strict muhrim system, and full adherence to husbands and total sacrifice to the family. This paper attempts to show how the lives of Salafi women in South Kalimantan, especially with regards to their positions and roles in the family and social environment. In the early part, it will be shown how the women became acquainted with Salafism, and then involved, struggle to defend Salafi ideology that is puritanical, asocial and typical Arabism amid pessimism of South Kalimantan society, including how the conflict they encounter in the big family, dilemma in carrying out career and conflict at work. In the end, this article also showa how effort of Salafi women reconcile the conflicts while building social relationships with their surroundings. On the other hand, they keep trying to maintain the purified ideology they believe to be true, behind the burka and the cloak covering their bodies.Keywords: Salafi Women, Burka, Ideology, Banjarmasin Salah satu faham penting dalam gerakan Salafi adalah ideologi mereka tentang posisi perempuan. Gerakan purifikasi ini mencoba mengembalikan khittah perempuan seperti era awal kenabian yang sangat simbolik. Membawa para wanita kembali ke dalam rumah, mengenakan burka dan jubah, sistem muhrim yang sangat ketat, dan ketaatan penuh terhadap suami dan pengorbanan total terhadap keluarga. Tulisan ini mencoba menunjukkan, bagaimana kehidupan perempuan perempuan Salafi di Kalimantan Selatan, terutama berkaitan dengan posisi dan peran mereka dalam keluarga dan lingkungan sosial.Pada bagian awal, akan diperlihatkan bagaimana perempuan-perempuan tersebut berkenalan dengan Salafisme, lalu kemudian melibatkan diri, turut membangun dan ikut berjuang mempertahankan ideologi Salafi yang puritan, asosial dan khas Arabisme di tengah pesimisme masyarakat Kalimantan Selatan, ter­masuk didalamnya bagaimana konflik yang mereka temui dalam keluar­ga besar, dilema dalam menjalankan karir dan konflik dalam pekerjaan.Di bagian akhir, akan ditunjukkan pula bagaimana usaha para wanita Salafi da­lam merekonsiliasi konflik sekaligus membangun hubungan sosial dengan lingkungan sekitarnya, sementara di sisi lain tetap berusaha meme­lihara ideologi purifikasi yang mereka yakini benar, dibalik burka dan jubah yang meliputi mereka.Kata Kunci: Perempuan Wanita Salafi, Burka, Ideologi, Banjar­masin 
Nasionalisme dalam Teks Keagamaan Indonesia Masa Depan Choirul Fuad Yusuf
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.774 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.534

Abstract

This article aims at: (i) describing condition of Indonesian”s  natio­nalism, (ii) analysing the socio-political effects  of religious texts toward nationalism in Indonesia, and (iii) proposing strategic alternatives for empowering the future Indonesian’s nationalism. Through an inductive-deductive approach, the article highlights that, unavoidably,  globalization has shaped any condusive situation for the growth and development of universal and transnational ideologies. Globalisation of religious text—liberal, radical, and moderate-- has been capable of breeding transna­tionalism ideologies in Indonesia. For the sake of stopping the growth of such destructive ideologies, the use of socio-cultural approach is neces­sarily needed. Which is carried out by (i) controlling and censoring ade­quatrely toward religious texts, and (ii) revitalilizing the constructive religious text legacies, (iii) intensifying and extensifying committment and responsibility of the Goverment, private institution, and society at large to manage any cultural legacies of Nusantara.Key words: globalization, nationalism, religious texts, transnational ideologies,  sociocuktural approach.Artikel ini bertujuan: (i) menggambarkan kondisi nasionalisme Indonesia, (ii) menganalisis pengaruh teks keagamaan transnasional terha­dap nasio­na­lis­me Indonesia, dan (iii) mengusulkan strategi penguat­an nasiona­lis­me Indonesia melalui pendekatan sosial budaya. Dengan menggunakan pendekatan induktif-deduktif, artikel menggaris-bawahi bahwa globalisasi  berdampak kuat terjadinya pertumbuhan dan perkembangan gerakan trans­nasional. Globalisasi teks keagamaan—baik teks liberal, teks radikal mau­pun teks moderat—telah menyuburkan pertumbuhan gerakan transna­sional di Indonesia. Untuk itu, pendekatan sosial budaya menjadi salah satu salah satu cara efektif untuk menang­hambat perkembangan globalisasi faham transnasional, diantara­nya mela­lui: (i) penyaringan, pengontrolan, dan pengawasan terhadap teks keaga­ma­an (ii) revitalisasi khazanah teks-teks keagamaan yang konstruktif bagi nasionalisme Indonesia & NKRI, dan (iii) intensifikasi dan ekstensifikasi program, serta (iv) penguatan komit­men semua pihak—Pemerintah, Peme­rintah Daerah, dan masyarakat.Kata kunci: globalisasi, nasionalisme, teks keagamaan, faham trans­na­sional, pendekatan sosial-budaya. 
Tradisi Islam, Tradisi Arab dan Tradisi Jawa: Membaca Karya dan Pemikiran K.H. Ahmad ar-Rifai Kalisalak Agus Iswanto
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (231.761 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.535

Abstract

This article reviews the book of philological research on one of the works of a Javanese ulama, namely K.H. Ahmad ar-Rifai Kalisalak. The work is entitled nazam Tarekat. Aside from being a philological research, which aims to present the text edition of the manuscript of ar-Rifai, this book also examines the context surrounding the author's life and the social function of the text. This book is an example for the research that combines the study of philology and Islamic studies in a research project. This book emphasizes the rich intellectual traditions of the author, Ahmad ar-Rifai, which includes Islamic traditions, Arabic poetry and Javanese poetry. These three traditions, in Gadamer hermeneutic terms, merge to produce a work of the nazam Tarekat. The work of this book can also be an important proof of the contextualization strategy of Islamic preacing in Muslim Nusantara society.Keywords: philology, Indonesian Islamic intellectual tradition, hermeneutic, Ahmad ar-Rifai    Artikel ini mengulas buku yang berupa hasil penelitian filologis tentang salah satu karya dari seorang ulama Jawa, yakni K.H. Ahmad ar-Rifai Kalisalak. Karya tersebut berjudul nazam Tarekat. Selain sebagai sebuah penelitian filologis, yang tujuannya menyajikan edisi teks dari naskah karya ar-Rifai, buku ini juga mengulas konteks yang melingkupi kehidupan sang pengarang dan fungsi sosial dari teks yang dikaji. Buku ini menjadi contoh untuk hasil penelitian yang memadu­kan kajian filologis dan kajian Islam dalam satu proyek penelitian. Buku ini menegaskan tentang kekayaan tradisi intelektual yang dimiliki sang pengarang, Ahmad ar-Rifai, yang meliputi tradisi Islam, tradisi puisi Arab dan puisi Jawa. Ketiga tradisi tersebut, dalam istilah hermeneutik Gadamer, melebur sehingga menghasilkan sebuah karya nazam Tarekat. Karya Buku ini juga dapat menjadi bukti penting tentang strategi kontekstualisasi ajaran Islam dalam masyarakat Muslim Nusantara.Kata kunci: filologi, tradisi intelektual Islam Indonesia, herme­neutik, Ahmad ar-Rifai
Makna Baru Naskah di Era Ekonomi Kreatif: Dangding Haji Hasan Mustapa dalam Kaos Jajang A Rohmana
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (565.864 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.538

Abstract

This study discusses the revitalization of Sundanese manuscripts in the formation of local cultural identity through creative economy of fashion industry in West Java. The main source is Sundanese manuscript of Haji Hasan Mustapa’s dangding (1852-1930) which is transfered into t-shirts design. Hasan Mustapa is a great Sundanese poet whose name is make into one of the street names in Bandung. Hasan Mustapa’s dangding t-shirts was really appreciated by its consumers from the Sundanese community and the observers of Hasan Mustapa’s thought. The design of Hasan Mustapa’s t-shirts has been a part of the new meaning of Sundanese literary script in the creative economy era of Indonesia. Through culture identity theory, the study confirm that anthropologically the manuscript can be transfered into any media. The t-shirts became an alternative media that represents an effort to strengthen the local culture as well as to indigenize religious values in contemporary Indonesia. Through the t-shirts design, Hasan Mustapa’s dangding manuscript can be disseminated into the Islamic public sphere. It significantly represents the so-called safari and cultural migrant as a form of local expression in the global era.Keywords: manuscript, dangding, t-shirts, distribution outlet, identity Kajian ini membahas revitalisasi naskah Sunda dalam pembentukan identitas budaya lokal melalui ekonomi kreatif industri fesyen di Jawa Barat. Sumber utamanya adalah teks naskah Sunda berupa puisi dangding Haji Hasan Mustapa (1852-1930) yang dialihmediakan ke dalam kaos. Hasan Mustapa adalah seorang bujangga Sunda terbesar yang namanya diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Bandung. Kaos dangding sufistik Hasan Mustapa mendapat apresiasi dari konsumen umumnya komunitas kesundaan dan pengkaji Hasan Mustapa. Desain kaos dangding Mustapa telah menjadi bagian dari pemaknaan baru naskah sastra Sunda di era ekonomi kreatif. Melalui perspektif teori identitas budaya, hasil kajian menegaskan bahwa secara antropologis, naskah dapat dimanfaatkan dalam media apapun seiring perkembangan zaman. Kaos menjadi sebuah media alternatif yang merepresentasikan upaya penguatan budaya lokal sekaligus indigenisasi nilai-nilai keagamaan di era Indonesia kontemporer. Melalui kaos pula naskah dangding Mustapa didiseminasikan dari manuskrip ke ruang publik. Ia secara signifikan mewakili apa yang disebut sebagai safari dan migransi budaya sebagai sebuah bentuk ekspresi lokal di era global.Kata kunci: naskah, dangding, kaos, distro, identitas
Peran Lie Kim Hok (1853-1912) Dalam Membangkitkan Agama Khonghucu Di Indonesia Era 1900-An Susanto, Dwi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.573 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.546

Abstract

The role of Lie Kim Hok in spreading Confucianism is not only seen from involvement in cultural organizations, but it is seen from the literary works. The research is to discussing the thoughts and contents of Lie Kim Hok's work. This research shown the social practices carried out by Lie Kim Hok in promoting Confucians. This paper uses the concept of structural duality from Anthony Giddens. The results achieved were, Lie Kim Hok gave a response to the social structure of the Chinese peranakan community, especially through the Confucian religious move­ment. Secondly, Lie Kim Hok's ideas and actions were responded to by the emergence of various religious movements through the writing of religious and educational work by other intellectuals. Third, the social practice was further a response to the colonial discourse so that the movement returned to Confucianism was not only a religious movement, but an attempt at cultural nationalism. This cultural nationalism was further part of the colonial resistance movement. Therefore, Lie Kim Hok is basically resistant to colonial discourse.Key words: Confucius, Chinese descendant, Lie Kim Hok Peran Lie Kim Hok dalam menyebarkan agama Khonghucu tidak hanya terlihat dari keterlibatan dalam organisasi kultural, tetapi hal itu terlihat dari karya yang dihasilkan. Penelitian yang telah dilakukan belum menunjukkan praktik sosial yang dilakukan Lie Kim Hok dalam mempromosikan Khonghucu. Tulisan yang ada membicarakan pemikiran dan isi karya dari Lie Kim Hok. Tulisan ini menggunakan konsep dualitas struktur dari Anthony Giddens. Hasil yang dicapai adalah, pertama, Lie Kim Hok memberikan respon pada struktur sosial di kalangan masyarakat peranakan Cina, khususnya melalui gerakan agama Khonghucu. Kedua, gagasan dan tindakan Lie Kim Hok itu direspon dengan kemunculan berbagai gerakan keagamaan melalui penulisan karya  keagamaan dan pendidikan oleh para intelektual yang lain. Ketiga, praktik sosial tersebut lebih lanjut merupakan sebuah respon atas wacana kolonial sehingga gerakan kembali pada ajaran agama Khonghucu itu bukan hanya sebagai gerakan kegamaan, melainkan sebagai upaya nasionalisme kebudayaan. Nasionalisme kebudayaan ini lebih lanjut adalah bagian dari gerakan resistensi kolonial. Dengan demikian, Lie Kim Hok pada dasarnya bersifat resisten terhadap wacana kolonial.  Kata kunci: Khonghucu, peranakan Tionghoa, Lie Kim Hok
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 1 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2145.909 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Gaya Selingkung
Hermeneutika Terjemah Al-Qur’an Era Kolonial: Telaah Kitab Terjemah Al-Qur’an Hidāḥyah al-Raḥmān Muhammad Fathur Rozaq
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.184 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.549

Abstract

The process of translating the Koran into local languages has a hermeneutic side that depends on the translator's milieu. This cannot be avoided as a logical consequence of the gradation of God's words into human words. Even the translated book of the Qur'an Hidāya al-Raḥmān by Muhammad Hanbali cannot be separated from the context - in this case colonial - so that this work also becomes an integral part that can be used to add fragments to the picture of the period. The author assumes that the study of this book has its own significance because the translation of the Qur'an has a broader range of verses than the Qur'anic commentary which is only studied by educated circles. This article will reveal the process of writing translation texts written in the pre-independence era. Furthermore, the factors causing the content of the text are arranged in a certain way as an answer or resistance to the problems at that time. Schleiermacher's hermeneutic theory will be used as an approach to understanding the overall picture or number and partial description or phenomenon of the text. From this it was found that the writing of this book was carried out carefully because of the supervision of the colonial government against the text to protect the status quo. Besides that, the nuances of the pensantren and Javanese ethics strongly influenced the writing style of the book.Keywords: Translation, Hidāya al-Raḥmān, colonial, hermeneutics. Proses penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa lokal memiliki sisi hermeneutis yang bergantung pada milieu penerjemah. Hal ini tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi logis akan gradasi dari kata-kata Tuhan menjadi kata-kata manusia. Pun kitab terjemah Al-Qur’an Hidāyah al-Raḥmān karya Muhammad Hanbali tidak lepas dari konteks –dalam hal ini kolonial– sehingga karya ini juga menjadi bagian integral yang dapat digunakan untuk menambah fragmen gambaran kurun tersebut. Penulis berasumsi bahwa telaah terhadap kitab ini memiliki signifikansi tersendiri karena terjemah Al-Qur’an memiliki jangakauan lebih luas daripada kitab tafsir Al-Qur’an yang hanya dikaji oleh kalangan terpelajar. Artikel ini akan mengungkap proses kepenulisan teks terjemah yang dikarang di era pra-kemerdekaan tersebut. Lebih jauh akan ditelaah faktor-faktor penyebab konten teks disusun dengan cara tertentu sebagai jawaban atau perlawanan atas permasalahan pada tempo itu. Teori hermeneutika Schleiermacher akan digunakan sebagai pendekatan untuk memahami gambaran keseluruhan atau nomena dan gambaran parsial atau fenomena dari teks. Dari sini ditemukan bahwa penulisan kitab ini dilakukan secara hati-hati karena adanya pengawasan dari pemerintah kolonial terhadap teks yang melawan status quo. Di samping itu nuansa kepesantrenan dan etika Jawa sangat kental memengaruhi gaya kepenulisan kitab.Kata Kunci: Terjemah, Hidāyah al-Raḥmān, kolonial, hermeneutika.

Filter by Year

2012 2025