cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
K.H. Abdul Halim dan Gagasan Pendidikan Ekonomi Berbasis Pesantren Asep Saefullah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (821.06 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i1.520

Abstract

This paper discusses the biography of K.H. Abdul Halim, a cleric, educator, political activist, a national hero, who was born in Jatiwangi, Majalengka, West Java on June 26, 1887 and died on May 7, 1962, in a peaceful and quiet place, Santi Asromo, Majalengka. The title of the National Hero from the Government of Indonesia was granted on the basis of his important roles in education, economics and politics. Among his legacy are the religious educational institutions, namely Santi Asromo Pesantren, the religious organization of the Islamic Ummah Union (PUI), and several books such as the Kitab Petunjuk bagi Sekalian Manusia (Manual for Man), Ekonomi dan Koperasi dalam Islam (Economics and Cooperative in Islam), dan Ketetapan Pengajaran di Sekolah Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama (The Teaching Decrees at Ibtidaiyah Persyarikatan Ulama School). His biography is a manifestation of appreciation for his services and works, his struggle and his devotion to science and people, as well as his role and contribution in building the nation of Indonesia with noble character and dignity. Another milestone of his is the value of the struggle and at the same time his Islamic scholarship can be an example for the younger generation in particular and for anyone who aspires to build a nation of Indonesia which is based on the Belief in One God, fair and civilized, united in the context of the Republic of Indonesia (NKRI).Keywords: Kiai, Education, Pesantren, Majalengka, West JavaTulisan ini mengangkat biografi K.H. Abdul Halim dan gagasannya tentang pendidikan ekonomi di pesantren. Ia memiliki nama kecil Otong Syatori, dikenal sebagai ulama pejuang, pendidik, dan aktivis politik. Ia dilahirkan di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, pada 26 Juni 1887, dan wafat dalam usia 75 tahun pada 7 Mei 1962, di Santi Asromo, Majalengka. Ia mendapat gelar Pahlawan Nasional dari Pemerintah RI tahun 2008. Perjuangannya meliputi pendidikan, ekonomi, dan politik. Adapun metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah deskriptif-analitis dengan perspektif historis. Adapun fokusnya, selain biografi singkat K.H. Abdul Halim, juga tentang konsep pendidikan ekonomi berbasis pesantren. Dari hasil pembahasan ditemukan bahwa ia telah melakukan pembaharuan di bidang pendidikan agama dan sekaligus memberikan keterampilan kewirausahaan bagi santri dan lulusannya. Awalnya gagasan tersebut berasal dari konsep pembaharuannya yang disebut Iṣlāḥ as-Ṡamāniyyah, yaitu: perbaikan akidah, ibadah, pendidikan, keluarga, kebiasaan (adat), masyarakat, ekonomi, dan hubungan umat dan tolong-menolong. Di bidang pendidikan, ia memadukan sistem pesantren dengan sistem sekolah, ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum, serta memberkali para santrinya dengan berbagai keterampilan tangan dan keahlian teknik. Di bidang ekonomi, disebutnya dengan Iṣlāḥ al-Iqtiṣād, untuk menanggulangi ketimpangan ekonomi di masyarakat, yaitu dengan menanamkan kesadaran kepada kaum muslimin agar berusaha memperbai¬ki dan meningkatkan kehidupan ekonominya dan berjuang secara bersama-sama melalui wadah koperasi.Kata kunci: Abdul Halim, Santi Asromo, pendidikan ekonomi, Iṣlāḥ as-Ṡamāniyyah, Iṣlāḥ al-Iqtiṣād
K.H. Raden Muhammad Adnan (1889-1969 M): Ulama dan Pejuang di Bidang Pendidikan, Politik, dan Agama dari Kauman Surakarta Islah Gusmian
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.159 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i1.521

Abstract

This article describes the life history of K.H. R. Muhammad Adnan and the roles he plays in education, social, political, and religious fields. This study is written with a social history approach as well as diachronic and synchronic analysis. The concept of elite developed by Weber, in this article is also used to see the existence of Kiai Adnan as a figure born among the elite and raised in the tradition of pesantren education. His existence has a strong influence on his functional orientation, both social, political, and religious functions. In the field of religion, from the era of physical revolution to independence, Kiai Adnan has played an important role, namely to develop religious education by establishing various schools and boarding schools. In the field of socio-politics, Kiai Adnan appear as a likeable figure and can be accepted by many circles, and made politics as a means of devotion to the nation. The characteristics and his father's upbringing have made him a transformed figure, and throughout his life he has devoted himself to the progress of the nation and the glory of his religion.Keywords: Kiai, Surakarta, Politics, Islam, IndonesiaArtikel ini menguraikan tentang sejarah hidup K.H. R. Muhammad Adnan dan peran-peran yang dimainkannya di bidang pendidikan, sosial, politik, dan keagamaan. Topik ini ditulis dengan pendekatan sejarah sosial serta analisis diakronis dan analisis sinkronis. Konsep elite yang dikembangkan Weber, dalam artikel ini juga dipakai untuk melihat eksistensi Kiai Adnan sebagai sosok yang lahir di kalangan elite dan dibesarkan dalam tradisi pendidikan pesantren. Eksistensinya ini mempunyai pengaruh terhadap orientasi fungsionalnya, baik fungsi sosial, politik, dan keagamaan. Di bidang agama, sejak era revolusi fisik hingga kemerdekaan, Kiai Adnan telah memainkan peran penting, yaitu mengembangkan dunia pendidikan agama dengan mendirikan berbagai sekolah maupun pesantren. Di bidang sosial-politik, Kiai Adnan tampil sebagai tokoh yang cair dan bisa diterima oleh semua kalangan, serta menjadikan politik sebagai sarana pengabdian kepada bangsanya. Karekter dan didikan ayahnya telah menjadikan dirinya sebagai sosok yang telah bertransformasi menjadi dirinya sendiri, dan di sepanjang hidupnya ia mengabdikan dirinya untuk kemajuan bangsa dan kemuliaan agamanya.Kata kunci: kiai, surakarta, politik, Islam, Indonesia
Pesantren dalam Kebijakan Pendidikan Indonesia Badrudin Badrudin; Yedi Purwanto; Chairil N Siregar
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 1 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.709 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i1.522

Abstract

Pesantrens are often said to have received discriminatory treatment in Indonesian education politics, despite the fact that pesantrens have contributed positively to the development of education in Indonesia. But how is the Government's policy towards pesantren in Indonesia after Indonesia's independence? This article discusses this issue based on recent research results using a political (policy) and historical approach with descriptive methods. The technique of data collection is developed by documentation study on education policy in Indonesia, observation, as well as interviews. The study proves that the Government has dominated the policy towards pesantren where the pesantren policy is approved, accepted and implemented by government institutions. The research also concludes that since the inclusion of pesantren into By Law No. 20 Year 2003 on Indonesia’s National Education System, pesantren is in a vortex of attraction and interest between society and the Government. Pesantrens are treated discriminatively by the Government characterized by unclear implementation, regulation and budget allocation for these pesantrens. In essence, Pesantrens have not received the proper attention from the Government.Keywords: policy, education, pesantren, IndonesiaPesantren sering dikatakan mendapatkan perlakuan diskriminatif dalam politik pendidikan Indonesia, walaupun pesantren telah berkontribusi positif pada perkembangan pendidikan di Indonesia. Tapi bagaimanakah sebenarnya kebijakan Pemerintah terhadap pesantren di Indonesia setelah Indonesia merdeka? Artikel ini membahas isu ini berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan pendekatan politik (kebijakan) dan sejarah dengan metode deskriptif. Teknik Pengumpulan data dilakukan dengan studi dokumentasi terhadap kebijakan pendidikan di Indonesia, observasi, dan juga wawancara. Penelitian membuktikan bahwa Pemerintah telah mendominasi kebijakan terhadap pesantren di mana kebijakan pesantren disetujui, diterima dan dilaksanakan oleh pranata pemerintah. Penelitian menyimpulkan bahwa sejak dimasukkannya pesantren ke dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, maka pesantren berada dalam pusaran tarik menarik kepentingan antara masyarakat dengan Pemerintah. Pesantren diperlakukan diskriminatif oleh Pemerintah ditandai dengan ketidakjelasan implementasi, regulasi dan alokasi anggaran untuk pesantren. Intinya, Pesantren belum mendapatkan perhatian yang seharusnya dari Pemerintah.Kata Kunci: kebijakan, pendidikan, pesantren, Indonesia
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.031 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Gaya Selingkung
Varian Islam Nusantara: Jawa, Minangkabau dan Gorontalo Donald Qomaidiansyah Tungkagi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.378 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.524

Abstract

This article discusses how the encounter of Islam and culture in Indonesia, and how Islam on one hand  affects culture and on the other hand it is influenced by culture. The encounter between Islam and local culture has formed a new habitat that is later called the Islamic Nusantara tradition. The findings in this article prove that the interaction of Islam with local culture occurs in a socio-historical context influenced by the pattern of the spread of Islam in the archipelago. By using the theory of Taufik Abdullah in this article the author compares the three variants of Islamic Nusantara with the pattern and uniqueness of each form: a) Javanese variant, there is a process of acculturation between Islam and culture which are equally strong. The Javanese Islamic variant describes the result of a reconciliation process between identity, belief and the style of Javanese and Islam as "Mystic Synthesis". B) Minangkabau variant, born from "Negotiation of Islam and Adat" as a very thick area of Islamic and customary nuances make the dimensions in Islamic variants in Minangkabau cannot be separated from the conflict between the two parties who gave the role. C) Gorontalo variant, with different Islamiza­tion process with other kingdoms in the Nusantara in general. Since the early period of Islamic encounter with Gorontalo culture, there has been more tangible "Integration between Islam and Adat". Keywords: Java, Minangkabau, Gorontalo, Islam NusantaraArtikel ini mendiskusikan bagaimana perjumpaan Islam dan budaya di Indonesia, dan bagaimana Islam pada satu sisi berpengaruh terhadap budaya dan di sisi lain dipengaruhi oleh budaya. Perjumpaan antara Islam dan budaya lokal telah membentuk habitat baru yang belakangan disebut tradisi Islam Nusantara. Temuan dalam artikel ini membuktikan bahwa interaksi Islam dengan budaya lokal terjadi dalam konteks sosio-historis yang dipengaruhi pola penyebaran Islam di kawasan Nusantara. Dengan menggunakan teori Taufik Abdullah dalam artikel ini penulis memban­ding­kan tiga varian Islam Nusantara dengan corak dan keunikannya masing-masing diantaranya: a) Varian Jawa, terjadi proses akulturasi an­tara Islam dan budaya yang sama-sama kuat. Varian Islam Jawa meng­gambarkan hasil proses rekonsiliasi antara identitas, keyakinan serta gaya Jawa dan Islam ini dengan sebutan “Sintesis Mistik”. b) Varian Minang­kabau, lahir dari “Negosiasi Islam dan Adat” sebagai wilayah yang sangat kental nuansa Islam dan adat membuat warna dalam varian Islam di Minangkabau tidak lepas dari dari konflik antara dua pihak yang memberi peranan tersebut. c) Pola Gorontalo, dengan proses Islamisasi yang ber­beda dengan kerajaan-kerajaan di Nusantara pada umumnya. Sejak periode awal perjumpaan Islam dengan budaya Gorontalo lebih berwujud “Integ­rasi antara Islam dan Adat”.Kata kunci: Jawa, Minangkabau, Gorontalo, , Islam Nusantara 
Parupama; Nasehat yang Menghibur Syamsurijal Syamsurijal
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.675 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.525

Abstract

Movement of literacy in the community, making oral tradition has lost own place. Folklore and fairy tales told through oral began to be replaced by comics, movies on television and writing through gadgets. In local communities, the oral tradition is still an important means of informing  messages. One of the living oral traditions and the media to express criticism is Parupama in South Sulawesi. This paper explains  how this parupama tradition is used by community to convey advice, messages and criticism through jokes. Advice and criticism is channeled through in an entertaining way. The data in this paper were obtained through qualitative research in two places, namely Tanah Toa Kajang and Tamaona village located in Bulukumba district, South Sulawesi.Key word: Message, Oral tradition, Criticism, Parupama Gerakan literasi di tengah masyarakat telah membuat tradisi lisan kehilangan tempat. Cerita rakyat dan dongeng yang disampaikan melalui lisan mulai digantikan dengan komik, film di televisi dan tulisan melalui gadget. Padahal di masyarakat lokal sendiri, tradisi lisan masih menjadi sarana penyampaian pesan yang penting. Salah satu tradisi lisan yang masih hidup dan menjadi media menyampaikan nasehat adalah Parupama yang hidup dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Tulisan ini menggambar­kan bagaimana tradisi Parupama ini digunakan oleh masyarakat untuk menyampaikan nasehat, pesan dan kritikan melalui lelucon. Nasehat dan kritikan disalurkan dengan cara menghibur. Data dalam tulisan ini dida­pat­kan melalui penelitian kualitatif di dua tempat, yaitu desa Tanah Toa Kajang dan desa Tamaona, berada di kabupaten Bulukumba, Sulawesi-selatan.   Kata Kunci: Pesan, tradisi lisan, kritik, parupama 
Pertumbuhan Lembaga Pendidikan Islam di Kerajaan Langkat Pada Tahun 1912-1942 Muaz Tanjung
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.241 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.526

Abstract

Before the establishment of the Islamic Kingdom of Langkat, the people there have embraced Islam. This is because Langkat is adjacent to Aceh, which had already been ruled by an Islamic empire and it broadcast Islam to various regions, including the east coast of Sumatra. The Kingdom of Langkat, especially after relocated its Capital  to Tanjung Pura, had made Islam as a main reference and political legitimacy of the Sultan and the Kingdom in general. As a consequence, Islam is practiced by the majority of Muslim community and reflected in various fields. At the beginning of the 20th century in East Sumatra there emerged publicly funded educational institutions, including those in Langkat. However, religious subjects are not officially acknowledged. Seeing this situation, the Sultan and other Muslims felt responsible for establishing an independent Islamic educational institution. Although Islamic education was preiously taught to Muslim children, but its implementation was largely limited in mosques or private homes. The Kingdom was destined to improve the quality of Islamic education through building an independent educational institution.Keywords: Education, Islamic Empire, Langkat, Sumatera, Indonesia Sebelum berdirinya kerajaan Langkat, masyarakat di sana telah me­me­luk agama Islam. Hal ini dikarenakan wilayah Langkat berbatasan dengan Aceh yang telah memiliki kerajaan Islam dan menyiarkan Islam ke berbagai daerah, terutama di pantai timur Sumatera. Kerajaan Langkat terutama setelah berpusat di Tanjung Pura, menjadikan agama Islam sebagai pedoman dan legitimasi terhadap kebijakan-kebijakan sultan dan kerajaan secara umum. Masyarakat yang mayoritas beragama Islam dalam berbagai dinamika kehidupannya mencerminkan perilaku keislaman yang kuat. Di awal abad ke-20 M di Sumatera Timur banyak berdiri lembaga pendidikan umum, termasuk di Langkat. Namun demikian, pelajaran agama secara resmi tidak dibenarkan. Melihat keadaan ini, sultan dan umat Islam lainnya merasa bertanggungjawab untuk mendirikan lembaga pendidikan Islam yang berdiri sendiri. Meskipun pada masa sebelumnya pendidikan Islam tetap diajarkan kepada anak-anak Muslim, namun pelak­sanaannya masih berlangsung terbatas hanya di masjid atau rumah-rumah pribadi guru. Oleh karena itu Kerajaan Langkat terdorong untuk mening­katkan mutu pendidikan Islam dengan membangun lembaga pendidikan yang berdiri sendiri.Kata kunci: Pendidikan, Kerajaan Islam, Langkat, Sumatera, Indonesia 
The sharia on non-muslims: should they follow? Hasna Azmi Fadhilah; Fitri Mahara
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.492 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.527

Abstract

Since 2001, the Aceh provincial administration and legislative council have approved the Qanun Jinayat (behavior-governing bylaw) that obliges public in Aceh to follow sharia, the Islamic legal code. While it has been widely accepted by Aceh Muslims, the sharia implementation on non-muslim has sparked a huge debate. To understand the public opinion on this issue, we conducted face-to-face interviews and surveyed more than two hundreds fifty people in Aceh Tengah about their views following the case of Buddhists who were caned for violating sharia law. From the research that we did, our findings reveal that Acehnese people have different opinion on this. A half our respondents, including the non-Muslims do not see sharia law as a burden for them to live in Aceh. While the others, such as human rights activists and non-governmental organizations reported that this law enactment has prompted human rights abuses. Looking at the divisive views, the national and Aceh government are suggested to take further action to avoid more confusion among Acehnese people and religious conflict in the future. Keywords: Sharia Law, Aceh, Non-MuslimsSejak tahun 2001, pemerintah provinsi dan dewan legislatif Aceh telah menyetujui pemberlakuan Qanun Jinayat (peraturan perundang-undangan) yang mewajibkan masyarakat di Aceh untuk mengikuti syariah, kode hukum Islam. Meskipun telah diterima secara luas oleh Muslim Aceh, implementasi syariah bagi non-Muslim telah memicu perdebatan besar. Untuk memahami opini publik mengenai masalah ini, kami melakukan wawancara tatap muka dan mensurvei lebih dari dua ratus lima puluh orang di Aceh Tengah mengenai pandangan mereka menyusul kasus seorang penganut Buddha yang dicambuk karena melanggar hukum syariah. Dari penelitian yang kami lakukan, temuan kami mengungkapkan bahwa orang Aceh memiliki pendapat yang berbeda-beda mengenai hal ini. Setengah responden kami, termasuk non-Muslim, tidak melihat hukum syariah sebagai beban bagi mereka untuk tinggal di Aceh. Sementara yang lainnya, seperti aktivis Hak Asasi Manusia dan Lembaga Swadaya Masyarakat melaporkan bahwa undang-undang ini telah menyebabkan pelanggaran Hak Asasi Manusia. Melihat pandangan yang terpecah seperti ini, pemerintah pusat dan Aceh disarankan untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk menghindari kebingungan masyarakat Aceh dan konflik agama di masa depan.Kata kunci: Hukum Syariah, Aceh, Non-Muslim 
Moralitas Pemimpin: Dialektika atas Teks Suci Agama dan Pembentukan Budaya Lokal (Kajian Living Hadits dalam Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) Jilid 2 Eps.3) Ridha Hayati
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1264.097 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.528

Abstract

In recent years, some Indonesian television artists have used the Qur'an and the Hadith as part of the dialogue in their work. Thus in some of the TV soap opera there are religious and aesthetic power that shows the content of religion, that is da'wah or tabligh (invitation, or appeal) to the audience. The Seeker of God (PPT) is an example, how soap opera Ramadan is filled with nuances of religion and has more emphasis on the elements of Islam. In this research, the writer reviews the one of the episodes in PPT soap opera which generally talk about a leadership in society. In this episode, religious texts (Al-Qur'an and Hadith) and community actions interact, ayat and the referred hadith are sometimes understood textually, but sometimes also contextually. It is expected that this research explains that the study of the Qur’an and hadits do not only dwell on the literature of the books of tafsir only, but also has spread in the media technology in its curremt forms.Keywords: Al-Qur’an, Hadith, Dialogue, Indonesian Television. Belakangan ini, muncul karya-karya para seniman dan artis televisi Indonesia yang menjadikan Al-Qur’an maupun Hadits sebagai bagian dari dialognya. Sehingga dalam karya tersebut tercium aroma religius dan berdaya estetitis yang menunjukkan muatan spiritualitas yang bersifat dakwah atau tabligh (ajakan, seruan, maupun himbauan) bagi penonton­nya. Sinetron Para Pencari Tuhan (PPT) adalah sinetron Ramadhan yang bernuansa religi dan lebih menekankan unsur-unsur keislaman. Dalam penelitian ini penulis mengkaji sinetron PPT jilid 2 episode 3 yang secara umum berbicara tentang sebuah kepemimpinan dalam masyarakat. Di dalam episode ini, teks keagamaan (Al-Qur‟an dan Hadis) dan tindakan masyarakat saling berinteraksi, ayat maupun hadits yang dirujuk terkadang dipahami secara tekstual, namun terkadang juga kontekstual. Penelitian ini diharapkan dapat menjelaskan bahwa kajian Al-Qur’an dan hadis tidak hanya berkutat pada literatur kitab tafsir saja, melainkan telah menjalar dalam media teknologi sesuai perkembangan zamannya.Kata Kunci: Al-Qu’an, Hadits, Dialog, Televisi Indonesia. 
Orientalisme Vs Oksidentalisme: Benturan dan Dialogisme Budaya Global Rohanda Rohanda; Dian Nurrachman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 15 No 2 (2017)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.46 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v15i2.529

Abstract

Imperialism and colonialism have spawned research centers that examine the parts of the world that they control. Through these centers, orientalists work to discuss, write, produce and perform the Eastern world on the stage of Western culture. Authenticity, exoticism and grandeur of the East are dismantled, stripped down, doubted and elusive. Through orientalist goggles, the East is produced as a "hybrid" form; no more pure and original East. East is used as a storage or projection of their own unfamiliar (read: the West) aspects, such as crime, moral decadence, and so on. On the other hand, the East is seen as a dazzling world of exotic and full of mystical seductions. Meanwhile, unlike the orientalism that was originally intended as a serious study of the cultures to legitimize Western colonial powers in the Eastern world, occidentalism is precisely born from the methodological problems of orientalism which is said to be objective. Whereas behind the objectivity is stored Western interests to dominate, rearrange, and control the East. Orientalism has sparked nativist intellectuals to question the validity of orientalist works in constructing Eastern stereotypes. It cannot be denied then that these two discourses - Orientalism and Occidentalism - are in a position between the clashes and the global cultural dialogue.Keywords: Orientalism, oxidentalism, imperialism, colonialism, conf­­lict, dialogue Imperialisme dan kolonialisme telah melahirkan pusat-pusat studi dan kajian yang menelaah belahan dunia yang dikuasainya. Melalui pusat-pusat kajian inilah, para orientalis bekerja untuk memperbincangkan, menulis, memproduksi dan mempertunjukkan dunia Timur di atas panggung kebudayaan Barat. Keaslian, keeksotisan dan keagungan Timur dibongkar, dipreteli, diragukan dan dibuat samar-samar. Melalui kacamata orientalis, Timur diproduksi sebagai suatu bentuk “hibrida”; tidak ada lagi Timur yang murni dan orisinal. Timur dijadikan tempat penyimpanan atau proyeksi dari aspek-aspek mereka sendiri (baca: Barat) yang tidak diakuinya, seperti kejahatan, dekadensi moral, dan lain-lain. Pada sisi lain, Timur dipandang sebagai dunia mempesonakan dari yang eksotis dan penuh dengan rayuan-rayuan mistis. Sementara itu, berbeda halnya dengan orientalisme yang sejak semula dimaksudkan sebagai kajian serius politik-budaya untuk melegitimasi kekuatan-kekuatan kolonial Barat di dunia Timur, oksidentalisme justeru lahir dari problem metodologis orientalisme yang katanya obyektif. Padahal di balik keobyektifan itu tersimpan kepentingan-kepentingan Barat untuk  mendominasi, menata kembali, dan menguasai Timur. Orientalisme telah memicu para intelektual nativis untuk mempertanyakan keabsahan (validitas) karya-karya para orientalis dalam membangun stereotip-stereotip ketimuran. Maka tidak dapat dipungkiri kemudian bahwa dua wacana ini — orientalisme dan oksidentalisme — berada dalam posisi di antara benturan dan dialogisme budaya global.Kata-kata kunci: orientalisme, oksidentalisme, imperialisme, kolo­nialisme, benturan, dialog 

Filter by Year

2012 2025