cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Pengantar Redaksi dan Daftar Isi Dewan Redaksi
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2156.676 KB)

Abstract

Kulit Muka, Pengantar Redaksi, Daftar Isi, Indeks Judul dan Kulit Belakang
The Thought of KH Ahmad Sanusi (1889-1950) in Da’wah and Education Paradigm Shodiqin, Asep
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.18 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.582

Abstract

KH Ahmad Sanusi adalah sosok yang memiliki karakter pemikiran yang unik. Dalam beberapa hal ia memiliki pemikiran yang berbeda dalam memandang praktek keagamaan, khususnya dalam koteks hegemoni pemikiran modernis maupun tradisionalis. Keterlibatan KH Ahmad Sanusi dalam perdebatan-perdebatan yang bersifat furu’iyyah baik dengan kalangan modern maupun dengan kalangan tradisional merupakan suatu bukti bahwa ia merupakan tokoh yang berpengaruh secara intelektual dalam persoalan agama. Permasalahan pokok yang dikaji dalam tulisan ini adalah karakter pemikiran keagamaan KH Ahmad Sanusi yang mengambil posisi tidak menerima sepenuhnya terhadap kalangan tradisionalis dan tidak pula berpihak secara sepenuhnya pada pandangan-pandangan kaum modernis, terutama fokusnya pada pemikiran dakwah dan pendidikan.Kata kunci: Da’wah, Pendidikan, Tafsir. KH Ahmad Sanusi is a figure who has a unique character of thought. In some ways he has different ideas in view of religious practice, especially in the hegemony of modernist and traditionalist hegemony. KH Ahmad Sanusi's involvement in furu'iyyah debates both with the modern and the traditional is a proof that he is an intellectually influential figure in religious matters. The main issue examined in this paper is the character of KH Ahmad Sanusi's religious thought which takes a position of not fully accepting the traditionalists and is not entirely aligned with the views of the modernists, especially its focus on da'wah and education.  Keyword : Da’wah, Education, Tafseer
Masjid dan Musala dalam Sorotan: Kajian Sosiopragmatik Kesalahan Nama Masjid/ Musala di Padang Hadi, Syofyan; Faisol, Yufni; Wartiman, Wartiman
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (385.197 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.588

Abstract

This study is an extension research of previous research finding conducted by researcher and team, which resulted in more than 50 names of mosques and musalas in Padang were considered error. These forms of error exist in terms of morphological, semantic, morphology and semantic contexts and imla’ rules. However, to explain these errors more compre­hensively, a sociopragmatic viewpoint is required. In this context, it can be assumed that in understanding a word or language, the socio­logical context of the speaker and its use in determining and choosing certain symbols in their language are necessary to be considered. The phe­nomenon of naming a house of worship such as a mosque and musala cannot be separated from social context of the owners of the place of worship. This frequently causes pragmalinguistic failure in under­standing the phenomenon of language which only relies on how to express language structurally, following the rules exclusively without giving attention to the social and cultural context of the speaker itself. This research is a field research which applies qualitative methods. The main data is obtained through interviews with mosques and musalas administrator and also the surrounding community to find out the historical and socio-cultural background of naming the mosques or musalas. The data of this study are all the names of mosques and musalas in Padang, especially those 50 names that are considered error from the perspective of Arabic grammar.Keywords: Sociopragmatics, mosque, musala, Padang Kajian ini adalah kelanjutan dari temuan peneliti dan tim yang dalam penelitian sebelumnya mendapatkan kesalahan pada lebih dari 50 nama masjid dan musala yang ada di kota Padang. Bentuk-bentuk kesalahan tersebut ada dalam konteks morfologis, semantic, morfologis dan semantic serta kaidah imlai’. Akan tetapi, untuk menjelaskan kesalahan tersebut secara lebih komprehensif diperlukan sudut pandang sosiopragmatik. Dalam konteks ini bisa dipahami bahwa pemahaman sebuah kata atau bahasa haruslah memperhatikan konteks sosiologis penutur dan pengguna­nya dalam menentukan dan memilih simbol tertentu dalam bahasa mereka. Tidak terkecuali tentunya penamaan sebuah rumah ibadah seperti masjid dan musala yang juga tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial masyarakat yang menjadi pemilik rumah ibadah tersebut. Hal ini yang seringkali menjadi penyebab kegagalan pragmalinguistik dalam memahami feno­mena bahasa yang hanya bertumpu pada bagaimana mengungkapkan bahasa sesuai aturan tanpa memberikan perhatian kepada koteks sosial dan cultural penutur itu sendiri. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif, di mana data utama diperoleh melalui wawancara dengan pengurus masjid dan musala dan juga masyarakat sekitar untuk mengetahui latar belakang historis dan sosio-budaya penamaan masjid atau musala mereka. Adapun data pene­litian ini adalah semua nama masjid dan musala yang ada di kota Padang, khususnya yang dianggap keliru dalam sudut pandang tata bahasa Arab yaitu kurang lebih 50 masjid dan musala.Kata Kunci: Sosiopragmatik, Masjid, Musala, Padang
Menggagas Islam Inklusif Budaya Jawa Dalam Serat Nitisruti Zaman Kasultanan Pajang (Abad 16 M) Riyadi, M Irfan; Muzakki, M Harir
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (260.04 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.590

Abstract

Inclusive and exclusive is a discourse of social-cultural relations which relates to the state and religion. In the context of Javanese Islamic history, some Islamic groups declare their truth of religion that propose exclusivity, anti-plurality and intolerance. This situation occurred during the 16th century at Pajang Kingdom. There are an Islamic group wishing to uphold Shari'a versus Hindu/Javanese groups who wished to apply local traditions. This has the potential to lead to various conflicts of society. In this condition, Serat Nitisruti, a poet from Pajang Karang Gayam, was published. This paper aims to reveal the inclusive concepts of Islam in the text. The concept will be explored through three stages: identification of the text, interpretation of the content, and the relevance of the concept to the present reality. The results of this study, first, Nitisruti was written by Karang Gayam in 1591 AD; Second, Nitisruti contains inclusive Islamic themes: openness of spirituality, educational ethics, politics, traditions, and society. Third, there is a universal concept of inclusive value in terms of ambek adiluhung (being noble), wuwus den aris (gentle speaking), tepo sliro (appreciating), tinarbuko (open) and mulat sariro hangroso wani (daring to blame yourself) which remains relevant to this present era.Keywords: Inclusive Islam, Serat Nitisruti, Poet of Pajang, Karang Gayam.  Inklusif dan eksklusif merupakan diskursus hubungan sosial-budaya yang terkait dengan cara bernegara dan beragama. Dalam konteks sejarah Islam Jawa, sebagian kelompok Islam mengedepankan kebenaran agama­nya yang mendorong eksklusifitas, anti pluralitas dan intoleran. Situasi ini terjadi di Kerajaan Pajang abad 16 M dengan ditandai munculnya kelom­pok Islam dengan slogan tegaknya syariat versus kelompok Hindu/Jawa yang ingin menerapkan tradisi dan budaya lokal. Hal ini sangat potensial menimbulkan aneka konflik sosial antar kelompok masyarakat. Pada kondisi inilah Serat Nitisruti karya pujangga Pajang Karang Gayam diterbitkan, dimana naskah ini disinyalir mampu memberi solusi problem keanekaragaman masyarakat Pajang. Tulisan ini bertujuan menungkapkan konsep islam inklusif dalam naskah tersebut. Konsep itu akan digali melalui tiga tahap: identifikasi naskah, inter­pretasi content, dan relevansi konsep dengan realitas kekinian. Hasil penelitian ini: pertama, mengung­kapan bahwa Nitisruti merupakan tulisan Karang Gayam pada tahun 1591 M; Kedua, Nitisruti mengan­dung tema Islam inklusif: keterbukaan spiritualitas, etika pendidikan, politik, tradisi-budaya, dan sosial masya­rakat. Ketiga, terdapat nilai inklusif universal pada istilah ambek adiluhung (bersikap luhur), wuwus den aris (bicara lemah lembut), tepo sliro (menghargai), tinarbuko (terbuka) dan mulat sariro hangroso wani (berani menyalahkan diri sendiri), yang tetap relevan hingga saat ini.Kata kunci: Islam Inklusif, Serat Nitisruti, Pujangga Pajang, Karang   Gayam.
Gempa Bumi dalam Pandangan-Dunia Orang Jawa: Studi atas Dua Manuskrip Primbon Jawa Abad ke-19 M gusmian, islah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 17 No. 2 Tahun 2019
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (728.804 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i2.594

Abstract

This article examines the Javanese world-view of earthquakes recorded in the Primbon manuscript collection of Yogyakarta Sultanate Palace number D6 / M269 / Bh 139 by Sri Sultan Hamengkubuwono V (1820-1855 AD) and Primbon and Prayer collection from the Center for Manuscripts and Khazanah Islam Nusantara Archipelago. Javanese people are chosen because they have a unique and unique view in interacting with fellow humans, nature, and God. While the manuscript is placed as a database, because it is a record of history, thoughts, attitudes, views in the past. There are two problems examined in this article, namely: how is the understanding and attitude of the Javanese community towards the earth­quake event and what are the factors that influence that under­standing? Using Karl Mannheim's sociological theory of knowledge, it was found that Javanese understood earthquakes as a sign system that attached predic­tive and subjective-imaginative meanings and spiritually responded with prayer and slametan rituals. And the most important thing found in this study is that Javanese understand earthquakes actively and positively where they always move from one destiny to another to maintain harmony and safety.Keywords: Manuscript, Earthquake, Java, Palace, Pesantren Artikel ini mengkaji tentang pandangan-dunia orang Jawa tentang peristiwa gempa bumi yang terekam dalam manuskrip Serat Primbon koleksi Kraton Kasultanan Yogyakarta nomor D6/M269/Bh 139 karya Sri Sultan Hamengkubuwono V (1820-1855 M) dan Primbon dan Doa koleksi Pusat Kajian Naskah dan Khazanah Islam Nusantara. Orang Jawa dipilih karena mereka memiliki pandangan yang khas dan unik dalam berinteraksi dengan sesama manusia, alam, dan Tuhan. Sedangkan manuskrip diletak­kan sebagai basis data, karena ia merupakan rekaman sejarah, pemikiran, sikap, pandangan di masa lalu. Ada dua hal yang dikaji dalam artikel ini, yaitu: bagaimana pemahaman dan sikap masyarakat Jawa terhadap peris­tiwa gempa bumi serta apa faktor-faktor yang memengaruhi pemahaman itu? Dengan memakai teori sosiologi pengetahuan Karl Mannheim, di­temu­kan bahwa orang Jawa memahami gempa bumi sebagai sistem tanda yang dilekatkan makna-makna prediktif dan bersifat subjektif-imajinatif serta secara spiritual direspons dengan ritual doa dan slametan. Dan hal terpenting yang ditemukan dalam kajian ini adalah orang Jawa memahami gempa bumi secara aktif dan positif di mana mereka selalu bergerak dari satu takdir ke takdir yang lain untuk menjaga keselarasan dan keselamatan.Kata Kunci: Manuskrip, Gempa Bumi, Jawa, kraton, Pesantren
Peran Seni Tari Zikir Saman di Pandeglang, Banten Hayati, Ela Hikmah; Rasikin, Rasikin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.893 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.596

Abstract

This study discusses one of the dance arts in Pandeglang Banten, namely the Dhikr Saman dance. This dance is one culture that is able to carry Islamic values. The emergence of the Dhikr Saman dance culture is from a tarekat called Samaniyah brought by Sheikh Muhammad bin Abd Karim al-Samman from Aceh in the 18th century, by modifying the teachings of the Khalwiyat, Qadiriyah, Naqsabandiyah and Syadziliyah orders. This study aims to reveal how the role of the Dhikr Saman dance uses the structural functional theory analysis tool proposed by Talcot Parsons. The results of this study reveal that the Dhikr Saman Dance art is able to give a role in spreading Islamic values in the Pandeglang community in the aspects of religion and culture, but after 2009 the Dhikr Saman Dance no longer has an important role in the Society due to more modern thought changes brought by Muhammadiyah, which suggests that Islamic values contained in the Dhikr Saman dance are impure teachings.Keywords: Influence, Islamic Culture, Dhikr Saman, Pandeglang Studi ini membahas tentang salah satu seni budaya Tari di Pandeg¬lang Banten yaitu tari Zikir Saman. Seni tari ini merupakan salah satu budaya yang mampu membawa nilai-nilai Islam. Munculnya budaya tari Zikir Saman yaitu dari sebuah tarekat yang bernama Samaniyah yang dibawa oleh Syekh Muhammad bin Abd Karim al-Samman dari Aceh pada abad ke-18 M, dengan cara memodifikasi ajaran tarekat Khalwiyat, Qadiriyah, Naqsabandiyah dan Syadziliyah. Studi ini bertujuan meng¬ungkap bagaimana peran seni tari Zikir Saman dengan menggunakan alat analisis teori fungsionalisme struktural yang dikemukakan oleh Talcot Parsons. Hasil dari studi ini mengungkapkan bahwa seni tari Zikir Saman mampu memberikan peran dalam menyebarkan nilai-nilai Islam di kalangan Masyarakat Pandeglang dalam aspek agama dan budaya, akan tetapi setelah tahun 2009 tari Zikir Saman tidak lagi mempunyai peran penting dalam Masyarakat karena adanya perubahan pemikiran yang lebih modern yang dibawa oleh Muhammadiyah, yang menggap bahwa nilai-nilai Islam yang terkandung dalam seni tari Zikir Saman merupakan ajaran yang sudah tidak murni.Kata Kunci: Pengaruh, Seni Budaya Islam, Zikir Saman, Pandeglang
Keraton Yogyakarta dan Praktik Literasi Budaya Keagamaan Melalui Media Digital Iswanto, Agus
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 2 (2019): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 17 No. 2 Tahun 2019
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (689.187 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i2.598

Abstract

Cultural literacy is important because of the diversity of Indonesian culture, and the challenges of globalization and the digital revolution. Cultural literacy can be done through various media and institutions, but there are not many institutions and media care to this cultural literacy. Yogyakarta Palace is one of the traditional institutions that practice cultural literacy through digital media. This article aims to identify the types of digital media that are used as a vehicle for literacy practices in Islamic religious culture, describe the Islamic religious culture that is displayed and interpret aspects of Islamic religious teachings of the religious culture. In addition, this article discusses the negotiation and adaptation of the Yogyakarta Palace in the practice of literacy through digital media. This study found that, in addition to education about the treasures of Islamic religious culture, the practice of literacy of Islamic religious culture through digital media carried out by the Yogyakarta Palace also showed negotiations and adaptations. Negotiations and adaptations arise in two ways. The first is negotiation and adaptation of tradition with digital technology, namely the Yogyakarta Palace presenting traditional culture (including religious culture) in digital space. Second, negotiation and adaptation of Javanese Islamic identity to the understanding of Islam that does not accept cultural elements in practicing Islamic teachings.Keywords: Literacy practice, religious cultural literacy, digital media, Yogyakarta Palace Literasi budaya penting karena keragaman budaya Indonesia serta tantangan globalisasi dan revolusi digital. Literasi budaya dapat dilakukan melalui berbagai media dan institusi, tetapi tidak banyak institusi dan media yang memperhatikan literasi budaya ini. Keraton Yogyakarta adalah salah satu institusi tradisional yang mempraktikkan literasi budaya melalui media digital. Artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis media digital yang digunakan sebagai wahana praktik literasi dalam budaya agama Islam, menggambarkan budaya agama Islam yang ditampilkan dan menafsirkan aspek-aspek ajaran agama Islam dari budaya agama. Selain itu, artikel ini membahas negosiasi dan adaptasi Keraton Yogyakarta dalam praktik literasi melalui media digital. Studi ini menemukan bahwa, selain pendidikan tentang khazanah budaya agama Islam, praktik literasi budaya agama Islam melalui media digital yang dilakukan oleh Istana Yogyakarta juga menunjukkan negosiasi dan adaptasi. Negosiasi dan adaptasi muncul dalam dua cara. Pertama adalah negosiasi dan adaptasi tradisi dengan teknologi digital, yaitu Keraton Yogyakarta menghadirkan budaya tradisional (termasuk budaya agama) di ruang digital. Kedua, nego­siasi dan adaptasi identitas Islam Jawa dengan pemahaman Islam yang tidak menerima unsur budaya dalam mempraktikkan ajaran Islam.Kata Kunci: Praktik literasi, literasi budaya keagamaan, media digital, Keraton Yogyakarta
Kitāb Seribu Masā’il Salinan dari Banten: Sebuah Konstruksi Sejarah Proses Islamisasi Nusantara shoheh, muhamad; Sugito, Muhammad Shofin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.795 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.599

Abstract

This brief paper discusses one of the classical literary texts of Islamic Nusantara entitled Kitab Seribu Masalah (the book of a thousand problems). This study uses a philological and textual approach to reveal the relationship and linkage between text and context, which then leads to efforts to produce interpretations related to the history of the Islamization process in the archipelago. This research is conducted to answer three problems, namely: How the KSM manuscript description, what is the content of the text, and how the context behind the birth of the work.From the idea side, Kitab Seribu Masalah contains dialogue between two people: First, the figure of Muhammad saw. in the manuscript is described as an end-time prophet of God's messenger, who calls to believe in Him. He is believed to have abundant knowledge from Allah swt., so that it can answer various problems that are considered and faced by Humans. Second, the figure of Abdullah ibn As-Salam of the Tribe of Thamud illustrated as a clever Jewish clergyman, very pious to the contents of the Torah, Gospel, Zabur and earlier books. He is so trustworthy and has a large fanatic followers of up to seven hundred people. The dialogue at least explores the problem of the relationship between God and His Messenger, regarding cosmological issues, about eschatology, testing the intelligence of the end-time prophet, the puzzle, the meaning of numbers, and others.Keywords: Kitab Seribu Masalah, Hikayat, 'Abdullah bin Salam, Islamization of the Archipelago Tulisan singkat ini membahas salah satu teks klasik Islam Nusantara yang berjudul Kitab Seribu Masalah. Penelitian ini menggunakan pende­katan filologis dan tekstologis untuk mengungkap hubungan antara teks dan konteks, yang kemudian bermuara pada usaha-usaha memproduksi interpretasi-interpretasi terkait sejarah proses Islamisasi di Nusantara. Penelitian ini dilakukan untuk menjawab masalah kandungan isi naskah KSM, dan konteks yang melatarbelakangi lahirnya, serta kaitannya dengan proses Islamisasi Nusantara.Penelitian ini berkesimpulan bahwa terdapat 13 buah naskah yang berjudul Kitāb Seribu Masā’il atau Hikayat Seribu Masalah. Dari tiga belas naskah tersebut, 9 naskah ada di PNRI Jakarta dan 4 naskah ada di Universitas Leiden, Belanda. Ketiga belas naskah yang dimaksud adalah naskah ML 19, ML 59, ML200, ML 442, W 82, W 83, W 84, W 85, W 86, KL.26, 6064 D, OPH 72, dan Cod. Or. 1960. Setelah melakukan perban­dingan akhirnya peneliti memilih naskah ML 19 sebagai obyek untuk dila­kukan penyuntingan dan edisi kritis.Dari sisi ide, Kitāb Seribu Masalah berisi dialog antara Nabi Muhammad saw. dan Abdullah bin Salam. Abdullah bin Salam adalah seo­rang tokoh dari Suku Tsamud yang diilustrasikan sebagai seorang pendeta Yahudi yang cerdik-pandai, alim akan isi Taurat, Injil, Zabur dan kitab-kitab terdahulu. Ia begitu dipercaya dan mempunyai banyak pengikut fanatik hingga lebih dari tujuh ratus orang. Dialog tersebut berisi masalah relasi Allah dan Rasul-Nya, kosmologis, eskatologis, ujian kecerdasan Nabi, teka-teki, arti bilangan, dan lain-lain.Kata Kunci: Kitāb Seribu Masā’il, Hikayat, ‘Abdullah bin Salam, Islamisasi Nusantara
Jaringan Pesantren di Jawa Barat Tahun 1800-1945: Critical Review atas Disertasi “Jaringan Pesantren di Priangan 1800-1945” Karya Ading Kusdiana Fauzan, Pepen Irpan; Fata, Ahmad Khoirul
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.026 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.602

Abstract

Pesantren as subcultures are indeed interesting to be studied. Several studies have been carried out such as Zamakhsary Dhofier on the network of pesantren in Java and Martin van Bruinessen on the pesantren and tarekat. Continuing it, Ading Kusdiana through her dissertation at Padjadjaran University conducted a research on the network of Pesantren in the Priangan region (West Java), focusing on the existence and conti­nuity of Pesantren through five inter-Islamic networks: scientific networks, marriage, genealogical, congregational religious views, and the similarity of the vision of opposition to the invaders. Kusdiana's research confirmed Zamakhshari Dhofier's theory and did not refute it at all. So that this feels like a new work with a sense of "old work". The study of this theme will be even more interesting if Kusdiana uses the new genealogical theory as Yudi Latif did. This will also portray changes and continuity in the network of Pesantren. However, Kusdiana’s work deserves to be appre­ciated because it presents a lot of new data-information regarding the traces and spreads of Pesantren in Priangan. Through thiswork, we can get a relatively completed picture of the world of Pesantren in Priangan in the 1800-1945 period.Keywords: Network of Pesantren, Genealogy Theory, Pesantren in Priangan Pesantren sebagai subkultur memang menarik dikaji. Beberapa kajian telah dilakukan seperti Zamakhsary Dhofier tentang jaringan pesantren di Jawa dan Martin van Bruinessen tentang pesantren dan tarekat. Melanjut­kan keduanya, Ading Kusdiana melalui disertasinya di Universitas Padjadjaran melakukan penelitian jaringan pesantren di wilayah Priangan (Jawa Barat), dengan titik-fokus pada proses eksistensi dan kesinam­bungan pesantren melalui lima bentuk jaringan antarpesantren: jaringan keilmuan, perkawinan, genealogis, kesamaan pandangan keagamaan tare­kat, serta kesamaan visi penentangan terhadap penjajah. Namun penelitian Kusdiana ini meneguhkan teori Zamakhsyari Dhofier dan sama sekali tidak melakukan penyanggahan terhadapnya. Sehingga ini terasa sebagai karya baru dengan rasa “karya lama”. Kajian terhadap tema ini akan semakin menarik jika Kusdiana menggunakan teori genealogis baru seperti yang dilakukan Yudi Latif. Ini sekaligus akan memotret perubahan dan kontinuitas dalam jaringan pesantren yang dikajinya. Namun demikian, karya Kusdiana ini layak diapresiasi karena menyajikan banyak data-informasi baru terkait jejak dan sebaran-pertumbuhan pesantren di Priangan. Melalui karya Kusdiana ini, kita bisa mendapatkan gambaran relatif utuh terkait dunia pesantren di Priangan pada periode 1800-1945.Kata Kunci: Jaringan Pesantren, Teori Genealogi, Pesantren di Priangan
Pengayaan Literasi Keagamaan Melalui Akses Buku Keagamaan Penyuluh Agama Di Sulawesi Utara Eko Putro, Zaenal Abidin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.051 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.605

Abstract

The role role of religious instructors (penyuluh agama) supervised by the Ministry of Religious Affairs (MoRA) are very important in Indonesian society. It is assumed that they can contribute to maintain harmonious life in society and to foster moderation in terms of religious understanding among Indonesian people. Previously, they had only served society with special forces such as policeman, military, student living in dormitory, etc. But now they provide religious assistant to broader society. However, attentions to this group is still a bit low especially regarding with access to religious textbooks and literatures. This paper, which is the result of field research that was conducted in Manado and its surrounding area and using mixed method, has shown how the religious instructors gain their access to religious literatures. One of important research findings was that the religious instructors could be able to suffice their religious textbooks as well as religious literature by themselves autonomously.Keywords: literacy, expressive revolution, religious instructors, religious litetarures. Peran para penyuluh agama yang bernaung di bawah Kementerian Agama dewasa ini dipandang sangat penting dalam masyarakat Indonesia. Mereka dipandang berkontribusi dalam memelihara keharmonisan dalam masyarakat dan juga mendukung kampanye moderasi beragama. Sebelumnya, penyuluh agama hanya melayani nasihat maupun bantuan keagamaan kepada masyarakat dengan profesi khusus seperti polisi, tentara, dan juga mereka yang tinggal di asrama-asrama. Belakangan baru mereka melayani masyarakat secara luas. Namun sayangnya, perhatian kepada mereka terutama kebutuhan dan akses akan bahan bacaan keagamaan mereka masih tergolong rendah. Artikel ini, yang dihasilkan dari penelitian lapangan di Sulawesi Utara dan menggunakan mixed method ini, menggambarkan bagaimana para penyuluh agama itu memperoleh sumber bacaannya. Salah satu temuan pentingnya adalah para penyuluh agama mampu secara swadaya menutupi kebutuhan buku teks dan literatur keagamannya dengan cara swadayaKata Kunci: Literasi, Literatur Keagamaan, Penyuluh Agama Islam (dai), Revolusi Ekspresif. 

Filter by Year

2012 2025