cover
Contact Name
Mulyawan Safwandy Nugraha
Contact Email
mulyawan77@gmail.com
Phone
+628121117577
Journal Mail Official
jurnal.lektur@gmail.com
Editorial Address
Gedung kementerian Agama RI lantai 20 Jl. MH. Thamrin No. 6 Kebon Sirih Menteng Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10340
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Lektur Keagamaan
ISSN : 16937139     EISSN : 2620522X     DOI : DOI: 10.31291/jlka
the studies of classic religious manuscripts; the studies of contemporary religious manuscripts; religious history and society; religious archaeology; and religious arts on the scope of Nusantara.
Articles 309 Documents
Nilai-Nilai Kearifan Lokal dalam Tradisi Perang Obor di Tegalsambi-Jepara sebagai Karakteristik Islam Nusantara Efa Ida Amaliyah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.558 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.552

Abstract

This research wants to describe the ritual processing of Perang Obor at Tegalsambi Jepara, Central Java, both of local wisdom tradition and the characteristic of Islam Nusantara. In this study uses anthropological approach to know how a faith illustrated in ritualism of Perang Obor especially to streghten traditional ties among individuals. The steps of Perang Obor ritual they are, such as pilgrimage to danyang (ancestors) numbering seven, parading The Pedang Gendir Gambang Sari and Padang Sari heirloom, a statue, and bedug which is trusted as a heritage of Sunan Kalijaga to kebayan Tegalsambi. The last step ia puppet performance. Perang Obo Ritual ia a colaboration between religion and ancestral culture's. The local wisdom worth appears as a shape of Islam Nusantara in Indonesia. The values as though a symbolic of honouring to ancestros, tollerantion and emphaty to others (peranh abor's actors), and solidarity to Mbah Gemblong postering. The values depicts an indigenious.Keyword: Islam Nusantara, Local Wisdom, Perang Obor, Tegal­sambiTulisan ini bertujuan untuk mengetahui tentang prosesi tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi Jepara, dan mengetahui tentang nilai-nilai ke­arifan lokal dalam tradisi tersebut Perang Obor di Desa Tegalsambi Jepa­ra sebagai karakteristik Islam Nusantara, dengan pendekatan antro­pologi, maka mendapatkan gambaran tentang kepercayaan dan khususnya ritus memperkuat ikatan-ikatan sosial tradisional di antara individu-individu. Ritual Perang Obor mempunyai beberapa prosesi, seperti ziarah ke Danyang yang berjumlah tujuh, mengarak pusaka, yaitu Pedang Gendir Gambang Sari dan Podang Sari, sebuah arca, serta sebuah bedug yang dipercaya sebagai warisan Sunan Kalijaga kepada kebayan Tegalsambi. Prosesi diakhiri dengan pagelaran wayang kulit. Ritual perang obor mem­beri warna sebagai kolaborasi antara agama dan budaya nenek moyang, nilai-nilai kearifan lokal muncul sebagai bentuk Islam Nusantara yang ada di Indonesia. Nilai-nilai tersebut antara lain, sebagai bentuk penghor­matan terhadap nenek moyang (danyang), toleransi dan empati terhadap sesama (pemain perang obor), kesetiakawanan sesama penerus Mbah Gem­blong. Nilai-nilai tersebut menggambarkan bentuk indigeneous mas­ya­rakat setempat.Kata kunci: Islam Nusantara, Kearifan Lokhal, Perang Obor, Tegal­sambi
Mengenal Budaya Batak Toba Melalui Falsafah “Dalihan Na Tolu” (Perspektif Kohesi dan Kerukunan) Adison Adrian Sihombing
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (389.163 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.553

Abstract

Dalihan Natolu is understood as the identity and rules that govern the social system and as a determining factor in the custom of Batak culture. There are several studies about the meaning and values of this philosophy. This article intended to search and to find the philosophical foundation of Dalihan Natolu. At the same time, this article also wants to show how is “the das sollen” and “das sein” of Dalihan Natolu in the recent time. The method used in this research is qualitative descriptive-interpretative me­thod in the perspective of philosophy of phenomenology and library re­search. The results of this research shows that Dalihan Natolu is the mani­festation of the essence of life of the human being itself and the result of the search for the depth of the life of Batak Toba people. Dalihan Natolu is the manifestation of the nature of the Debata Natolu (Triune God). He be­comes the pillar and guarantor of a harmonious life of the entire order of the Toba Batak culture in order to pursue and reach happiness of life (das sollen). Unfortunately, there have been shifting and deviations of values and also perspective changing about the position of the three func­tional groups in Dalihan Na Tolu itself called Hula-hula, Dongan Sabu­tuha, and Boru (das sein).Keywords: Dalihan Na Tolu, Hula-hula, Dongan Sabutuha, BoruDalihan Natolu dipahami sebagai identitas dan pedoman hidup yang mengatur sistem kekerabatan serta menjadi faktor penentu dalam adat budaya Batak. Tulisan ini memiliki dua tujuan yaitu: mencari dan mene­mu­kan landasan filosofis Dalihan Natolu; dan menampilkan bagai­mana “das sollen” dan “das sein” Dalihan Natolu di zaman “now”. Metode pe­ne­litian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-interpretatif dalam pers­­pektif filsafat fenomenologi dan penelitian kepustakaan. Hasil pene­litian menunjukkan bahwa Dalihan Natolu merupakan perwujudan hakikat hidup manusia itu sendiri dan merupakan hasil pencarian makna hidup suku Batak Toba. Dalihan Natolu merupakan perwujudan dari hakikat De­bata Natolu (Allah yang tiga). Dia menjadi tiang penyangga dan pen­jamin menuju kehidupan yang harmonis. Namun demikian telah terjadi pergeser­an, penyimpangan nilai serta perubahan cara pandang akan posisi kedu­du­kan ketiga golongan fungsional yang ada dalam Dalihan Natolu, yaitu Hula-hula, Dongan Sabutuha, dan Boru.Kata kunci: Dalihan Na Tolu, Hula-hula, Dongan Sabutuha, Boru
Abuya Drs. K.H. Saifuddin Amsir: Intelektual Ulama Betawi yang Cukup Berpengaruh Abad ke-21 nasrullah anas nurdin
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.852 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.554

Abstract

The history of the Batavia ulama, which is actually inseparable from the history of Islam in the archipelago, turns out that the role and contribution of its ulama intellectuals is very little studied, even almost marginalized in the writing of Islamic history in Indonesia land. Therefore, a biographical review of Abuya K.H. Saifuddin Amsir (died Thursday, July 19, 2018) as a charismatic intellectual/ulama in Jakarta who was quite influential in the 21st century became very important so that religious treasure and ulama’s works as well as the historicity of Islam in Batavia can be known by the wider public. This study aims to enrich our insight into the history of Islam certain localities—in this case in the Capital City of DKI Jakarta—so as to be able to increase knowledge and appreciation to the archipelago ulama and their intellectuals who have given large role and contribution in the establishment and dynamics of Indonesian Islam.Keywords: Networking of Ulama, Betawenese, Contribution of Ulama, Scientific PublicationSejarah ulama Betawi yang sejatinya tidak bisa dipisahkan dari sejarah Islam di Nusantara, ternyata peran dan kontribusi intelektual ulamanya sangat minim ditelaah, bahkan nyaris termarginalkan dalam penulisan sejarah Islam di persada Indonesia. Karenanya, penelaahan tentang bio­grafi Abuya K.H. Saifuddin Amsir (wafat Kamis 19 Juli 2018) selaku intelektual kharismatik/ulama Jakarta yang cukup berpengaruh pada abad ke-21 ini menjadi sangat penting agar khazanah keulamaan dan karya-karyanya sekaligus historisitas Islam di Betawi dapat dikenal oleh publik luas. Kajian ini tidak lain untuk memperkaya wawasan kita tentang sejarah Islam lokalitas tertentu—dalam hal ini di Ibukota DKI Jakarta—sehingga mampu menambah pengetahuan dan penghargaan kepada ulama Nusantara dan karya mereka, yang telah memberikan peran serta kontribusi besar dalam penguatan dan dinamika Islam Indonesia.   Kata Kunci: Jaringan Ulama, Etnis Betawi, Kontribusi Ulama, Publikasi Ilmiah
“As-Sittīna Mas’alah” Kitab Fikih Abad Pertengahan Karya Syekh Abu Al-‘Abbas Ahmad Zahid Agus Supriatna
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (701.795 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.561

Abstract

The article discusses about codicology and texts critics of As-Sittina Mas’alah (SM) manusscript. The method used is descriptive analytical, and to critique the script used leager method that is a business to critique the text by using a good quality of the text to be a leager. SM texts used Arabic and for scholiast used Cirebon (Sundanese-Javanese)language. SM texts used Arabic font, and for the scholiast used Pegon. SM texts is written by Abu Al- ‘Abbās Ahmad Zāhid in year 900 H/1500 after cen­turies, and written by ulama in Nusantara at years 1500-1900 after cen­turies. SM texts contain the errors, and  including; 10 in omission, 3 in dittography 1 in transposition, 4 in substitution, and 12 deviations in the form of grammar (Arabic). SM texts contains provisions jurisprudence of Mazhab Imam Syafi’ī, the script begun from the description of rules Faith and Islam, then purification procedure, description of the prayer, alms, fasting and pilgrimage. SM texts was used in Nusantara Islamic schools at years 1500-1900 after centuries for the lesson  fiqih, it’s used because had a simple meaning for Nusantara people’s (that times in religion transition) for learning a way of Islam.Keywords: Text Edition, Manuscript, Fikih Book, As-Sittīna Mas­’alah.Artikel ini membahas naskah As-Sittīna Mas’alah (SM) pada aspek teks maupun fisik yaitu naskahnya. Masalah teks dikaji melalui kritik teks dan masalah fisik naskah dikaji melalui kodikologi. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriftif analitik, dan untuk metode kritik naskah digunakan metode landasan yaitu metode yang diterapkan apabila menurut tafsiran ada satu atau segolongan naskah yang unggul kualitasnya diban­ding­kan dengan naskah-naskah lain yang diperiksa dari sudut bahasa, ke­sastraan, sejarah, dan lain sebagainya sehingga dapat dinyatakan sebagai naskah yang mengandung paling banyak bacaan yang paling baik.  Bahasa yang digunakan dalam naskah adalah bahasa Arab untuk teks SM dan ba­hasa Cirebon (Sunda-Jawa) untuk terjemahannya (scholia). Aksara yang di­gunakan adalah Arab dan Pegon, aksara Arab digunakan pada teks SM dan Pegon digunakan pada scholia. Teks SM berasal dari Mesir, ditulis oleh Abu Al-‘Abbās Zāhid sekitar tahun 900 H/ 1400-1500 M, dan disalin oleh ulama Nusantara sekitar tahun 1500-1900 M. Kesalahan penyalinan yang terdapat pada teks SM meliputi:  omisi 10 kesalahan, ditografi 3 ke­sa­­lahan, transposisi 1 kesalahan, subtitusi 4 kesalahan, dan kesalahan dalam bentuk gramatika bahasa Arab 12 kesalahan. Teks SM berisi  fiqih dari Mazhab Imam Syafi’ī, dimulai dengan penjelasan kaidah Iman dan rukun Islam, penjelasan pentingnya menimba ilmu agama, penjelasan tata cara bersuci, salat, zakat, puasa dan ibadah haji. Adapun fungsi sosial nas­kah SM di Nusantara adalah sebagai referensi bahan ajar di beberapa pe­san­tren untuk mata pelajaran fiqih, dipilihnya naskah SM oleh ulama Nu­santara sebagai sumber referensi pengajaran fiqih waktu itu, karena isi uraiannya sederhana dan isinya mencakup keseluruhan rukun Islam, se­hingga dapat memberikan pemahaman yang mudah bagi masyarakat Nu­santara (ketika itu sedang mengalami masa transisi keberagamaan) untuk men­jalankan ibadah sesuai tata cara ibadah dalam Islam.Kata Kunci: Edisi Teks, Naskah Kuno, Kitab Fikih, As-Sittīna Mas’alah.
Perkawinan Manusia dengan Jin: Kajian atas Naskah Ākām al-Marjān fī Ahkām al-Jān Ahmad Yunani
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2214.772 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.562

Abstract

In some stories circulating in the community, as well as in some writings, there is information about the existence of marriages of humans with supernatural beings (jinns). For example, the marriage story between Panembahan Senopati and Ratu Kidul, an event that seems impossible to occur because of two different realms, namely the real world with the supernatural. However, this event can occur, whether human beings with supernatural beings, or vice versa, with specific goals and objectives, such as seeking wealth, immunity, magic, and various other pleasures according to the wishes of the culprit. In the text of Ākām al-Marjān fī Ahkām al-Jān, there is one chapter that explains this, namely the existence of a relationship between humans and jinn, and vice versa, in various aspects. One of them is in the form of a marriage bond. It was also explained about the legal consequences it caused, especially about whether or not the action was carried out. This text is written in Arabic. This paper tries to reveal the matter of human marriage with jinn based on the text. The approach used is the philology and textual analysis. The philology is used to produce text editions. Then equipped with the translation in Indonesian. While the textual analysis is carried out on the contents of the text, namely an explanation of the occurrence of marriage between humans and jinn, indicators of the relationship between the two, and the arguments related to the prohibition of marriage.Keywords: Marriage, jinn, Imam Malik, law, Ahkām al-Jān, textDalam beberapa cerita yang beredar di masyarakat, demikian pula dalam beberapa tulisan, terdapat informasi tentang adanya peristiwa perkawinan manusia dengan makhluk gaib (bangsa jin). Misalnya, cerita perkawinan antara Panembahan Senopati dan Ratu Kidul, sebuah peristiwa yang tampaknya mustahil terjadi karena dua alam yang berbeda, yakni alam nyata dengan alam gaib. Akan tetapi, peristiwa ini bisa terjadi, baik manusia dengan makhluk gaib tersebut, maupun sebaliknya, dengan tujuan dan maksud tertentu, seperti mencari kekayaan, kekebalan tubuh, kesaktian, dan berbagai kesenangan lainnya sesuai keinginan pelakunya. Dalam naskah Ākām al-Marjān fī Ahkām al-Jān, terdapat satu bab yang mejelaskan hal tersebut, yaitu adanya hubungan antara manusia dengan jin, dan sebaliknya, dalam berbagai aspek. Salah satunya adalah adalah dalam bentuk ikatan perkawinan. Dijelaskan pula tentang akibat hukum yang ditimbulkannya, khususnya tentang boleh atau tidaknya perbuatan itu dilakukan. Naskah ini ditulis dengan aksara dan bahasa Arab. Tulisan ini mencoba mengungkap perihal perkawinan manusia dengan jin berdasarkan naskah tersebut. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan filologi dan analisis tekstual. Pendekatan filologi digunakan untuk menghasilkan edisi teks. Kemudian dilengkapi dengan terjemahannya dalam bahasa Indonesia. Sedangkan analisis tekstual dilakukan atas isi dari naskah tersebut, yaitu penjelasan tentang terjadinya perkawinan antara manusia dengan jin, indikator adanya huhubungan antar keduanya, dan dalil-dalil yang terkait dengan larangan perkawinan tersebut.Kata kunci: Perkawinan, jin, Imam Malik, hukum, Ahkām al-Jān, teks.
Kampung Sindu: Jejak Islam dan Situs Kerukunan di Keramas, Gianyar, Bali I Nyoman Yoga Segara
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.385 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.563

Abstract

There are several historical sources that reveal the entry and development of Islam in Bali, both from the studies of historians and Babad Dalem. Base on the field and study documents obtained information that although there are a few differences in interpretation, almost all of these historical sources state that the entry of Islam was not through violence, but was brought by King Gelgel, who migrated due to the collapse of Majapahit. When Gelgel as the epicenter of the kingdom in Bali encountered a setback and a split, Muslim migrants who came from Java, Makassar, and Lombok were employed as soldiers to defend the kingdom from attacks. After the war, the soldiers were given shelter in the form of land supply. They create unique villages according to their ancestral tribes, such as Kampung Jawa, Kampung Bugis, or Kampung Sasak. This article aims to explore the history and the development of Islam in the township in question, one of them Kampung Sindu. Kampung Sindu is one of the Islamic communities of the Sasak tribe, Lombok, which inhabits the catu land in the village of Keramas, Gianyar Regency, Bali. The results of the research shows that they mix in sosial, cultural, and religious life and become an integral part of the village, particularly in the field of palemahan and pawongan. They build harmony sites with totality. Tolerance is maintained based on shared values through local wisdom. They have become Balinese Muslims.Keywords: Kampung Sindu, Keramas Village, Islamic Footprint, Harmony SiteAda banyak sumber sejarah yang menceritakan masuk dan berkem­bangnya Islam di Bali, baik dari kajian para sejarawan maupun Babad Dalem. Berdasarkan penelitian lapangan dan studi dokumen diperoleh keterangan bahwa meskipun terdapat sedikit perbedaan tafsir, namun hampir semua sumber sejarah menyatakan masuknya Islam tidak melalui jalan kekerasan, tetapi dibawa oleh raja Gelgel, ikut bermigrasi karena runtuhnya Majapahit, dan jalur niaga di pesisir. Saat Gelgel sebagai episentrum kerajaan di Bali mengalami kemunduran dan perpecahan, pendatang Islam yang datang dari Jawa, Makassar dan Lombok banyak dijadikan prajurit untuk melindungi kerajaan dari serangan sesama kerajaan lain serta menghadapi kolonial Belanda. Setelah peperangan, para prajurit itu diberikan tempat tinggal berupa tanah catu dan sampai saat ini masih menjaga hubungan baik dengan keluarga kerajaan. Mereka membangun perkampungan yang unik dan khas, sesuai suku leluhurnya, seperti Kampung Jawa, Kampung Bugis, atau Kampung Sasak. Artikel ini bertujuan untuk menelusuri sejarah dan perkembangan Islam di perkam­pungan yang dimaksud, salah satunya Kampung Sindu. Kampung Sindu adalah salah satu komunitas Islam dari suku Sasak, Lombok yang men­diami tanah catu kerajaan di desa Keramas, Kabupaten Gianyar, Bali. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan sosial, budaya dan agama, mereka berbaur dan menjadi bagian integral dari desa pakraman, khususnya di bidang palemahan dan pawongan. Situs keru­kunan mereka bangun dengan totalitas. Toleransi dipelihara berdasarkan nilai bersama melalui kearifan-kearifan lokal. Mereka telah menjadi orang Bali beragama Islam.Kata Kunci: Kampung Sindu, Desa Keramas, Jejak Islam, Situs Kerukunan
Khazanah Intelektual Ulama Betawi Abad ke-19 dan ke-20 M nur rahmah
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.21 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.564

Abstract

Jakarta as a metropolitan city and the center of Indonesian government in its history can not be separated from the role of the Betawi scholars (ulama). As well as fighting physically in resistance against colonialism, Betawi scholars are also very productive in writing to intellectual work. However, many of these works have not been well documented. Even though the works are the most authentic proof of the intellectual role of scholars in educating the lives of the people. This research seeks to answer questions about what are the works of Betawi scholars and how they are typologies. From the author's search results, there are 160 the intellectual works of   Betawi scholars who lived in the 19th and 20th centuries. The trends of these intellectual works were in the jurisprudence (Fikih). The trend of scholars to choose jurisprudence in writing their writings shows a change in insight and orientation among pesantren or religious education institutions. This change in insight and orientation is based on the awareness of people's needs for practical religious teachings. The works are dominated in the form of khulasah. It shows that some Betawi scholars still believe that the works of scholars in the past as the masterpiece, so the Betawi scholars only able to write summary of those works.The Intelectual works of the Betawi scholars is also written more in Arabic. This phenomenon shows the mastery of the Ulama on the Arabic language. Moreover, many of the Betawi scholars studied in the Middle East, so that the influence of Arabic in the daily lives of the ulamas became very high.Keywords: ulama, Batavia, ulama’s work, 19th-20th century, Jakarta Jakarta sebagai kota metropolitan dan pusat pemerintahan Indonesia dalam sejarahnya tidak lepas dari peran para ulama Betawi. Selain ikut berjuang secara fisik dalam perlawanan melawan kolonial, ulama Betawi juga sangat produktif dalam melahirkan karya intelektual. Namun, karya-karya tersebut belum terdokumentasikan dengan baik. Padahal karya-karya itu merupakan bukti yang paling otentik mengenai peran intelektual ulama dalam mencerdaskan kehidupan umat. Tulisan ini berusaha menjawab per­tanyaan tentang apa saja karya-karya ulama Betawi dan bagaimana karak­teristiknya. Dari hasil penelusuran, terhimpun 160 karya yang merupakan buah karya intelektual 26 ulama Betawi yang hidup di abad ke-19 dan ke-20 M. Kecenderungan karya intelektual tersebut berada pada bidang fikih. Ke­cenderungan ini menunjukkan adanya perubahan wawasan dan orientasi di kalangan pesantren, khususnya ulama penulis, dari tawawuf yang lebih mewarnai pemikiran ulama abad ke-17 dan ke-18 M ke fikih. Perubahan wawasan dan orientasi ini didasari oleh adanya kesadaran tentang kebu­tuhan masyarakat terhadap ajaran agama yang bersifat praktis. Dari segi jenisnya, karya-karya tersebut kebanyakan berupa khulasah atau ringkasan. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini sebagian ulama masih cenderung terkungkung oleh pemikiran bahwa apa yang terdapat dalam kitab-kitab kuning sudah mengcover seluruh kebutuhan informasi keagamaan sehingga menulisnya kembali dalam konteks kekinian menjadi kurang progresif. Karya ulama Betawi juga lebih banyak ditulis dalam bahasa Arab yang merupakan bukti penguasaan mereka terhadap bahasa Arab. Hal ini disebabkan antara lain karena mereka berguru dan belajar kepada ulama di Timur Tengah sehingga bahasa Arab lebih banyak memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari. Meskipun demikian, sebagian mereka tetap memiliki karya dalam bahasa Melayu dan Indonesia sebagai upaya memenuhi kebutuhan masyarakat lokalnya.Kata Kunci: ulama, Betawi, karya ulama, abad 19-20, Jakarta
Kontinuitas dan Transformasi Penistaan Agama: Gerakan Sosial Islam Pra-Kemerdekaan Juma Juma
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 16 No 2 (2018)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (371.379 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v16i2.568

Abstract

This research analyses the blasphemy the authors of Djawi Hisworo, Swara Oemoem and Madjalah Bangoen have done by observing the social history of Islam. Emile Durkheim's concept of mechanic solidarity is used to describe the blasphemy based on the spirit of religion. Where, the reli­gion (Islam) has become a bond between followers, even though it has different traditions and habits. The social psychology approach to des­cribes organizations or elites advises on have succeeded in mobilizing people to protest against religious politicians. Blasphemy, both past and today, makes people united under the issues of religion. The difference is that in the past, the “blasphemy voice” is more congregation, while today, blasphemy is more politically-pragmatic in the interests of electoral poli­tics. The solidarity which was formed from blasphemy of religion later be­comes the congregation (Islam), whereas today, it forms solidarity based on political sectarian.Keyword: Newspapers, Blasphemy, Solidarity, Religion-Political Rela­tionsPenelitian ini mengkaji penistaan agama yang dilakukan oleh penulis Djawi Hisworo, Swara Oemoem dan Madjalah Bangoen dengan pen­dekatan sejarah sosial umat Islam. Teori solidaritas mekanik Emile Dur­khe­im digunakan untuk menganalisis protes atas penistaan berbasis se­mangat agama. Di mana, agama (Islam) telah menjadi unsur pengikat antara pengikutnya, walau pun memiliki tradisi dan kebiasaan yang ber­beda-beda. Pendekatan psikologi sosial untuk melihat organisasi atau elit yang menggerakkan umat menyuarakan protes terhadap penista agama. Penistaan agama, baik masa lalu atau masa kini sama-sama membuat umat bersatu di bawah isu agama. Perbedaannya, di masa lalu, “suara penistaan agama” lebih bersifat keummatan, sementara hari ini, penistaan agama lebih bernuansa politis-pragmatis demi kepentingan politik elektoral. Soli­daritas yang terbentuk dari penistaan agama di masa lalu bersifat keum­matan (Islam), sedangkan hari ini, berupa solidaritas berbasis politik sek­tarian. Kata Kunci: Surat Kabar, Penistaan Agama, Solidaritas, Relasi Agama-Politik
Islamisasi Masyarakat Sasak Dalam Jalur Perdagangan Internasional: Telaah Arkeologis Dan Manuskrip Jamaluddin, Jamaluddin; Khaerani, Siti Nurul
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 18 No 1 (2020): Jurnal Lektur Keagamaan Vol. 18 No. 1 Tahun 2020
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (14868.888 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v18i1.577

Abstract

This article will examine the Islamization of the Sasak people in the path of international trade in the XVI century by using data from ancient manuscripts and articles which have been rarely accessed by previous researchers because this research is historical research. The approach to be used is the historical approach and to uncover the history of Islamization in Lombok can not be separated from the two main sources of this research, namely ancient manuscripts and archeological discovery. Related to ancient manuscripts, the philological approach becomes a necessity. While those related to archeological discovery becomes an area of archeological studies, for this reason this research will also conduct an archeological survey. The main finding of this study is, that the Sasak people were Muslimised by Javanese and Malay scholars. The Sasak people have the same understanding and teachings as other regions in the archipelago, namely Islam ahlussunnah wal jamaah.Keyword: Archeological, History, Islamization, Manuscript, Trade.  Artikel ini akan mengkaji tentang islamisasi masyarakat Sasak dalam jalur perdagangan internasional. Dengan menggunakan data naskah-naskah kuno dan artepak yang selama ini jarang diakses oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Karena penelitian ini adalah penelitian sejarah, maka pende­katan yang akan digunakan adalah pendekatan sejarah. Untuk mengungkap sejarah Islamisasi di Lombok tidak dapat dilepaskan dari dua sumber utama penelitian ini, yaitu manuskrip kuno dan tinggalan arkeologi. Terkait dengan manuskrip kuno, maka pendekatan filologi menjadi keniscayaan. Sementara yang berkaitan dengan tinggalan arkeologis menjadi wilayah kajian arkeologi, untuk itu dalam penelitian ini juga akan melakukan survey arkeologis. Temuan utama penelitian ini adalah, bahwa masyarakat Sasak diislamkan oleh ulama-ulama dari Jawa dan Melayu. Masyarakat Sasak memiliki pemahaman dan ajaran yang sama dengan daerah lainnya di Nusantara, yaitu Islam ahlussunnah wal jamaah.Kata kunci: Arkeologi, Islamisasi, Manuskrip, Sejarah, Perdagangan.
Puitisasi Ajaran Islam: Analisis Tekstual Nadoman Akhlak karya Kiai Muhyidin Limbangan (1903-1980) Gunawan, Aditia
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 17 No 1 (2019)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.538 KB) | DOI: 10.31291/jlka.v17i1.578

Abstract

This article will discuss the work of a scholar who has never been mentioned in Islamic literature in West Java. He is Kiai Muhyidin (1903-1980) from Limbangan, Garut. His work is called Nazmul Hujah, or commonly referred to among santri as Nadoman Akhlak. The selection of this work is mainly due to the absence of a special study of the author and his work. In fact, this work is interesting enough to be studied further because it shows the author's attempt to translate the great works of Imam al-Ghāzāli, Iḥyā ‘ulum al-din, even though only a small part of it is in Sundanese, and in poetic form. This research will first discuss in passing the terms nadoman, pupujian, and syi'iran. Then, the author will introduce the biography of Kiai Muhyidin through a review of the text in the Den Maki collection autograph script and interview. Finally, one of his works, Nadoman Akhlak, will be explored through textual analysis. In the broader Sundanese-Islamic context, this work is another example of the indigenous efforts of Islam as a Sundanese identity, through efforts to translate Arabic works into languages that were easily understood by Sundanese santri’s.Keywords: Nadoman Akhlak, Poetization, textual analysis, Kiai Muhyidin, Limbangan Artikel ini akan membicarakan karya seorang ulama yang selama ini belum pernah disebut-sebut dalam literatur Islam di Jawa Barat. Ulama tersebut adalah Kiai Muhyidin (1903-1980) yang berasal dari Limbangan, Garut. Karyanya berjudul Nazmul Hujah, atau biasa disebut di kalangan santri sebagai Nadoman Akhlak. Pemilihan karya ini terutama disebabkan belum adanya kajian secara khusus terhadap penulis dan karyanya. Padahal, karyanya ini cukup menarik untuk dikaji lebih lanjut karena menunjukkan usaha penulis untuk menerjemahkan karya besar Imam al-Ghāzāli, Iḥyā ‘ulum al-dīn, meski hanya bagian kecilnya saja ke dalam bahasa Sunda, serta ke dalam bentuk puisi. Penelitian ini pertama-tama akan membahas secara sepintas tentang istilah nadoman, pupujian, dan syi’iran. Kemudian, penulis akan memperkenalkan biografi Kiai Muhyidin melalui telaah teks dalam naskah autograf koleksi Den Maki dan wawancara. Terakhir, salah satu karyanya, Nadoman Akhlak, akan dikupas melalui analisis tekstual. Dalam konteks Sunda-Islam yang lebih luas, karya ini merupakan sebuah contoh lain dari usaha membumikan Islam ke dalam identitas Sunda, melalui usaha penerjemahan karya Arab ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.Kata kunci: Nadoman Akhlak, puitisasi, analisis tekstual, Kiai Muhyidin, Limbangan

Filter by Year

2012 2025