cover
Contact Name
Nathanail Sitepu
Contact Email
psnail21@gmail.com
Phone
+6281321151320
Journal Mail Official
psnail21@gmail.com
Editorial Address
Rukan Mutiara Marina No.40 Semarang - Jawa Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 23029498     EISSN : 26850834     DOI : 10.52104
Aim dan Scope HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen mencakup sbb: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Kepemimpinan Kristen
Articles 80 Documents
Pardes, Empat Tingkat Penafsiran Kitab Ibrani: Menimbang Sod Sebagai Penafsiran Esoterik Yang Mengundang Polemik Yehuda Indra Gunawan; Abraham Pontius Sitinjak
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 6, No 2 (2021): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2021
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.009 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v6i2.66

Abstract

Pardes (sometimes written as 'PaRDeS') represents an abbreviation for: Peshat, Derash, Remez, and Sod apart from having different levels of search for meaning, but also unique in their way of interpretation. The advent of Pardes' hermeneutics has given direction to the world of Jewish hermeneutics. Pardes was the benchmark for hermeneutics in the Jewish tradition. Pardes becomes the standard in the steps of interpretation, mainly to examine the literary structure of the biblical text by considering the text as a whole based on their source language and combining relevant secondary and tertiary (third) background materials. Yet many theologians consider Sod, the highest level for interpreting the "hidden meaning", as an incomprehensible endeavor. The Sod approach in a unique way, namely esoteric interpretation, is regarded as something that cannot be revealed with certainty. Sod is doubtful about the level of accuracy in interpreting the biblical text. This article wants to review the extent of this hermeneutic interpretation polemic, and whether the esoteric approach of Sod in Pardes is still relevant for biblical hermeneutics today? This article will review it based on library research.AbstrakPardes (kadang ditulis ‘PaRDeS’) mewakili singkatan untuk: Peshat, Derash, Remez, dan Sod selain memiliki tingkatan yang berbeda dalam pencarian makna, tetapi juga memiliki keunikan tersendiri dalam cara menafsir. Hadirnya hermeneutik Pardes telah memberi arahan bagi dunia hermeneutik Yahudi. Pardes-lah yang menjadi tolok ukur hermeneutik dalam tradisi Yahudi. Pardes menjadi standar dalam langkah-langkah menafsir, utamanya untuk memeriksa struktur sastra dalam teks Kitab Suci dengan mempertimbangkan teks secara keseluruhan berdasarkan bahasa sumber mereka dan menggabungkan bahan latar belakang sekunder dan tersier (ketiga) yang relevan. Namun banyak teolog menganggap Sod, tingkatan tertinggi untuk menafsirkan “makna tersembunyi”, sebagai upaya yang tak mungkin dapat terselami. Pendekatan Sod dengan caranya yang khas yaitu penafsiran esoterik dianggap sebagai sesuatu yang tak mungkin dapat diungkap secara pasti. Sod diragukan tingkat keakuratannya dalam menafsir teks Kitab Suci. Artikel ini ingin mengulas sejauh mana polemik penafsiran hermeneutik ini, dan apakah pendekatan esoterik Sod dalam Pardes ini masih relevan bagi hermeneutik biblical di masa kini? Artikel ini akan mengulasnya berdasarkan riset kepustakaan.
Menerapkan Prinsip Rekonsiliasi Menurut Roma 5:10-11 Septerianus Waruwu; Mangiringtua Togatorop
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 4, No 2 (2019): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2019
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (596.796 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v4i2.18

Abstract

Reconciliation in the New Testament is an important and interesting topic to discuss. Reconciliation is one of the important doctrines that Christians should understand, how God reconciles humans with Himself. This is believed by many people to lack understanding, due to the lack of books that specifically discuss reconciliation. In the Old Testament man reconciles himself to God, by offering atonement sacrifices to God. Thus humans are at peace with God. While the concept of reconciliation in the New Testament, God provides the atoning sacrifice through Jesus Christ. The importance of reconciliation for believers is to restore their relationship with the creator after being separated by sin, and to enjoy a beautiful fellowship with God without having to offer burnt sacrifices again. Abstrak: Rekonsiliasi dalam Perjanjian Baru merupakan topik yang penting dan menarik untuk dibahas. Rekonsiliasi  merupakan salah satu doktrin  penting yang semestinya dimengerti oleh  orang Kristen, bagaimana Allah merekonsiliasi manusia dengan diriNya. Hal ini banyak orang percaya kurang memahami, disebabkan karena  kurangnya buku yang membahas secara khusus tentang rekonsiliasi.  Dalam Perjanjian Lama manusia merekonsiliasi dirinya  dengan Allah, dengan mempersembahkan korban pendamaian  kepada Tuhan. Dengan demikian manusia berdamai dengan Allah. Sedangkan konsep rekonsiliasi dalam Perjanjian Baru, Allah yang menyediakan korban pendamaian melalui Yesus Kristus.  Pentingnya rekonsiliasi bagi orang percaya adalah memulihkan relasinya dengan sang pencipta setelah dipisahkan oleh dosa, dan menikmati kembali persekutuan yang indah bersama Tuhan tanpa harus mempersembahkan korban bakaran lagi.  
Kepemimpinan Tuhan Yesus di Masa Krisis Sebagai Model Kepemimpinan Kristen Saat Ini Sayang Tarigan; Yanto Paulus Hermanto; Nira Olivia P
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 6, No 1 (2021): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2021
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (246.359 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v6i1.54

Abstract

Abstract: Secular leadership is not the same as leadership inherited from the Lord Jesus. The leadership of Jesus is a historical and inspiring leadership model for every Christian leader from time to time. The superiority of Jesus' leadership model stems from the communication of the Father's vision to his followers with a touch of compassion which is the basis of His leadership.In this study the authors used qualitative methods. While the data collection process, the method approach used is literature study. Through a series of research conducted, there are various leadership models that are found, but the Christ leadership model provides superior characteristics and models, especially in times of crisis like today.Keywords: Leadership, Jesus, Christian.Abstrak: Kepemimpinan sekuler tidak sama dengan kepemimpinan yang diwariskan oleh Tuhan Yesus. Kepemimpinan Yesus di dunia merupakan model kepemimpinan yang  bersejarah dan menginspirasi bagi setiap pemimpin Kristen dari zaman ke zaman. Keunggulan model kepemimpinan Yesus bertolak dari komunikasi visi Bapa kepada para pengikut dengan sentuhan belaskasihan yang menjadi dasar kepemimpinan-Nya. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif. Sementara proses pengumpulan data, pendekatan metode yang digunakan adalah studi literatur. Melalui serangkaian penelitan yang dilakukan, terdapat beragam model kepemimpinan yang dijumpai, namun model kepemimpinan Kristus memberikan ciri dan model yang unggul, terutama dalam masa-masa krisis seperti saat ini.Kata kunci: Kepemimpinan, Yesus, Kristen.
Keadilan, Demokrasi dan HAM dalam Perspektif Pentakosta Andreas Sese Sunarko
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 4, No 1 (2019): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2019
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.678 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v4i1.7

Abstract

Justice, democracy and human right are crucial instruments of a modern country where the implementation should consider the equity and run together as unity.  Modern country that is able to implement those instruments consistenly will become a souvereint authority, gain economically prosperity and have a humanly dignity. However, in the real practice of those instruments, a dichotomy occured with arguing about Western and Eastern democracy.  Due to the unsolved differentiation problems for the practice of democracy, there are some chlases in law enforcement, which bring a negative impact such asa human right violation. Despite of the existence of many concepts of justice, democracy and human right, the author are intending to analyse from another persepective, Pentacostal perspective. This analysis aims to a fresh point of view that will bring a positive impact for the implementation of justice, democracy and human rights.Abstrak: Keadilan, Demokrasi dan HAM adalah merupakan instrumen-instrumen penting dari sebuah negara modern, dimana dalam pelaksanaannya secara ideal harus berjalan bersama-sama dan tidak boleh berjalan secara parsial.a  Negara modern yang mampu menjalankan instrumen-instrumen ini secara konsisten akan menjadi negara yang berwibawa secara kedaulatan dan sejahtera secara ekonomi dan bermartabat dari sisi kemanusiaan. Dalam prakteknya seringkali terjadi benturan-benturan kepentingan dari para pemangku pentingan yang pada akhirnya membuat kurang efektifnya penegakan hukum yang melahirkan ketidakadilan dan ketidakadilan ini berimplikasi pada terjadinya pelanggaran HAM. Terlepas dari adanya banyak konsep tentang Keadilan, Demokrasi dan HAM maka penulis akan mengkajinya dalam perspektif yang berbeda yaitu dari perspektif Pentakosta. Harapannya adalah dari perspektif Pentakosta ini nantinya akan memberikan dampak bagi pelaksanaan Keadilan, Demokrasi dan HAM secara universal.
Makna Garam Dan Terang Dalam Matius 5:13-16 Bagi Pengikut Kristus Nathanail Sitepu
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 7, No 2 (2022): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2022
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (342.132 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v7i2.108

Abstract

Jesus' Sermon on the Mount about the Salt and Light of the world in the Gospel of Matthew 5:13-16 is a figurative expression, so it is not possible to interpret it through literal or literal understanding. In this article the author uses a descriptive method, namely literature review, collecting data and analyzing verses 13-16 through word cases and translations from Greek and various Bible translations. Based on this research, it can be concluded that the meaning of salt and light refers to the identity of followers of Jesus Christ which is attached wherever they go and wherever they are.AbstrakKhotbah Yesus di Bukit tentang Garam dan Terang dunia dalam Injil Matius 5:13-16 merupakan suatu ungkapan figuratif, sehingga untuk memaknainya tidak boleh melalui pemahaman secara hurufiah atau literal. Dalam artikel ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu kajian literatur, mengumpulkan data-data dan menganalisis ayat 13-16 melalui kasus kata dan terjemahan dari bahasa Yunani dan berbagai terjemahan Alkitab. Berdasarkan penelitian ini disimpulkan bahwa makna garam dan terang menunjuk kepada identitas pengikut Yesus Kristus yang melekat kemanapun mereka pergi dan dimanapun mereka berada.
Urgensi Menemukan Model Pemuridan Sesuai Tipe Spiritualitas Jemaat Nathanail Sitepu
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 5, No 2 (2020): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2020
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.91 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v5i2.44

Abstract

God wants His church to experience growth both in quantity and quality. One of the ways to achieve church growth is through the discipleship process. Through discipleship, every church member is encouraged to experience growth in his spiritual life towards spiritual maturity, that is, like Christ. A spiritually mature believer will have a desire to serve, testify to spread the good news so that many people can become part of the community of faith in the Lord Jesus, thus impacting the growth of the church. This paper intends to describe church growth, a model for spirituality and discipleship. By using literature study, which is to explore the relevant literature to answer the discussion, then the results are presented descriptively. From this discussion, it can be concluded that the type of church spirituality can be an alternative answer for determining the model of discipleship in the church.AbstrakTuhan menghendaki gereja-Nya mengalami pertumbuhan baik secara kuantitas maupun kualitas. Salah satu cara untuk mencapai pertumbuhan gereja adalah melalui proses pemuridan. Melalui pemuridan, setiap anggota gereja didorong untuk mengalami pertumbuhan dalam kehidupan rohaninya menuju kedewasaan rohani, yakni serupa dengan Kristus. Orang percaya yang dewasa rohani akan memiliki kerinduan untuk melayani, bersaksi untuk mewartakan kabar baik sehingga banyak orang dapat menjadi bagian dari komunitas iman pada Tuhan Yesus, sehingga berdampak pada pertumbuhan gereja. Tulisan ini bermaksud mendeskripsikan pertumbuhan gereja, model spiritualitas dan pemuridan. Dengan menggunakan studi pustaka yaitu menggali literatur yang relevan untuk menjawab pembahasan tersebut kemudian hasilnya disajikan secara deskriptif. Dari pembahasan tersebut, dapat simpulkan bahwa tipe spiritualitas jemaat dapat menjadi alternatif jawaban untukmenentukan model pemuridan di gereja.
Sinergitas Kepemimpinan Senior Dan Muda Di Gkii Se-Jabodetabek Dalam Menghadapi Dampak Pandemi 19 Dan Disrupsi Era: Sebuah Kajian Kepemimpinan Transformatif Anggi Maringan Hasiholan; Purim Marbun
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 6, No 2 (2021): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2021
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.742 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v6i2.73

Abstract

Leadership has always been a never-ending problem. One of them is the younger generation, who leads the senior generation. This is not without reason. The Covid-19 pandemic and the disruption of the era brought significant changes in the church's life, including the Church of the Victory for the Indonesian Faith in Jabodetabek. As a church that has experienced a significant change in the percentage of young leadership, GKII in Jabodetabek faces new problems related to the cooperation built between generations within it. Coordination needs to create transformative leadership that carries out the internalization of the church's vision and mission. The research method used is descriptive qualitative with data collection techniques through observation and interviews, analyzed by an implementation. The study results stated that GKII throughout Jabodetabek had synergized between young and senior leaders to achieve shared visions and missions despite Covid-19 and the era's disruption. There were five implementations: Equipping Leaders, establishing a diaconal body, making GKII Apps and Websites, monthly discussion and evaluation meetings between leaders, and a balanced percentage of young and senior leaders.AbstrakKepemimpinan selalu menjadi masalah yang tidak pernah selesai. Salah satunya adalah kehadiran generasi muda yang memimpin di kalangan generasi senior. Hal ini bukanlah tanpa alasan, pandemi Covid-19 dan disrupsi era membawa perubahan yang signifikan dalam kehidupan gereja, termasuk Gereja Kemenangan Iman Indonesia Se-Jabodetabek. Sebagai gereja yang telah mengalami perubahan persentase kepemimpinan muda yang signifikan, GKII Se-Jabodetabek mendapat masalah baru terkait kerja sama yang dibangun antar generasi yang ada didalamnya. Koordinasi perlu dilakukan guna terciptanya kepemimpinan transformatif yang melaksanakan internalisasi visi dan misi gereja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi dan wawancara yang dianalisis secara implementasi. Hasil penelitian menyatakan bahwa GKII Se-Jabodetabek telah melakukan sinergi antara pemimpin muda dan senior untuk mencapai visi-misi bersama meskipun telah terjadi Covid-19 dan disrupsi era. Terdapat lima implementasi yang dilakukan yaitu, Equipping Leaders, membangun badan diakonia, membuat GKII Apps dan Website, rapat diskusi dan evaluasi setiap satu bulan sekali antara para pemimpin, dan persentase yang seimbang antara pemimpin muda dan senior.
Konsep Gereja berdasarkan Kisah Para Rasul 2:41-47 dan Aplikasinya dalam Bergereja di Era digital Ezra Tari
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 5, No 1 (2020): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2020
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.542 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v5i1.19

Abstract

The study of Acts 2:41-47 is aimed to know the fellowship of early believers. This fellowship was concerned about the togetherness between the congregation. It's different in this era in which the congregation tends to be individualistic with themselves. Moreover, the upcoming of technology which makes the people are busy with themself. Although the positive side of the technology is to accelerate the information. The aim of this study is to find the spirit of a community that prioritizes other needs. This study uses hermeneutics methodology. Hermeneutics includes three subjects, such: first, the world of the text. Second, the world of the author. Third, the world of the reader. Based on this study, there are four parts that can be practiced such as accepting others with joys, learning together, communion, and build togetherness by fellowship. Kajian Kisah Para Rasul 2:41-47 bermaksud menelusuri persekutuan umat mula-mula. Pola persekutuan yang memperhatikan sesamanya secara langsung. Berbeda saat ini, orang cenderung individualis, mementingkan diri sendiri. Apalagi ditambah dengan munculnya teknologi yang membuat orang sibuk dengan dirinya sendiri. Namun sisi positif dari teknologi adalah mempercepat penyebaran informasi. Tujuan penulisan kajian ini adalah upaya menemukan kembali semangat persekutuan yang mengutamakan kepentingan orang lain. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Hermeneutik meliputi tiga subjek yang saling berkaitan yakni: Pertama, dunia teks. Kedua, dunia pengarang. Ketiga,dunia pembaca. Berdasarkan kajian yang dilakukan oleh penulis, maka ada empat hal yang dapat dipraktekkan yakni, menerima seorang dengan sukacita, kebiasaan belajar bersama, memperkuat persekutuan, dan membangun kebersamaan melalui makan bersama.
Misi Gereja Dalam Realitas Sosial Indonesia Masa Kini Kalis Stevanus; Yunianto Yunianto
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 6, No 1 (2021): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2021
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.321 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v6i1.61

Abstract

In general, the problem of mission today is related to a one-sided emphasis on one side. One emphasizes and maintains the context of the humanitarian field with all its problems and challenges so that it tends to ignore the text. While others are fixated on the text and ignore the context. It is undeniable that the mission paradigm will influence and determine its missionary practice. This paper is intended to contribute theoretically about the importance of reconstructing the Church's mission paradigm that is relevant to the context of today's Indonesia, and practically the churches in Indonesia can implement an applicable form of mission by taking part in alleviating the concrete problems faced. by the community according to the capabilities of the church members. By using a qualitative approach, namely a literature study, the author will describe descriptively about the foundation of Christian mission and the urgency of conducting a review or updating of the understanding and practice of its mission in the current concrete situation. It was concluded that the mission of the church must still be carried out but in its implementation it must pay attention to the social situation in the community. Because the mission of the church without paying attention to the context of its recipients will find difficulties and even failures in carrying out God's will as the light and salt of the world. This means that the strategy or technique of the church's mission must be implemented according to the current context in which the church is present.
Praktik Kenabian dalam Konteks Sejarah Sosial Budaya Israel dan Timur Tengah Elkana Chrisna Wijaya
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 4, No 1 (2019): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2019
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.318 KB) | DOI: 10.52104/harvester.v4i1.6

Abstract

The thing that cannot be denied in this research is that the involvement of women in the practice of Christian spirituality in the present is greatly influenced by understanding and understanding of situations and contexts in the biblical text. The existence of the role of women both in the church and in certain Christian organizations continues to be a long-standing debate and has not received satisfactory results. That is why in this study, the author examines and analyzes the existence and influence of women in the biblical period, especially in the context of the Old Testament, in connection with the spiritual practices of women at that time. Abstrak: Hal yang tidak dapat dipungkiri dalam penelitian ini adalah bahwa keterlibatan kaum wanita dalam praktek kerohanian Kristen di masa kini, sangat dipengaruhi oleh pemahaman dan pengertian terhadap situasi dan konteks dalam teks Alkitab. Keberadaan peranan wanita baik di gereja maupun di organisasi Kristen tertentu, terus menjadi perdebatan yang berkepanjangan dan belum mendapatkan hasil yang memuaskan. Itulah sebabnya dalam penelitian ini, penulis mengkaji dan menganalisis keberadaan dan pengaruh kaum wanita di masa Alkitab, khususnya dalam konteks Perjanjian Lama, sehubungan dengan praktik kerohanian kaum wanita pada masa tersebut.