cover
Contact Name
Nathanail Sitepu
Contact Email
psnail21@gmail.com
Phone
+6281321151320
Journal Mail Official
psnail21@gmail.com
Editorial Address
Rukan Mutiara Marina No.40 Semarang - Jawa Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 23029498     EISSN : 26850834     DOI : 10.52104
Aim dan Scope HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen mencakup sbb: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Kepemimpinan Kristen
Articles 80 Documents
Mengokohkan Nasionalisme di Kalangan Dewasa Muda Etnis Tionghoa melalui Penggembalaan Gereja Kuntjara, Kuntjara; Jonathans, Kornelius Rulli; Mesakh, Jacob
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.299

Abstract

This study aims to examine the role of church shepherding in enhancing nationalism among young adult Chinese Indonesians. The background of this research stems from the persistent sense of apathy and alienation from national identity experienced by some in the younger Chinese Indonesian generation, largely due to a historical legacy of marginalization. The method employed is a Systematic Literature Review (SLR) by analyzing various scholarly sources relevant to the themes of pastoral care, ethnic identity, and nationalism within the context of the church and Indonesian society. The findings indicate that contextual, narrative, and restorative shepherding practices are effective in fostering national awareness through faith-based teaching integrated with Pancasila values, cross-cultural engagement, and the healing of collective memory. The discussion reveals that pastoral strategies addressing both social and spiritual identity holistically can cultivate a sense of national belonging without erasing ethnic heritage. The church holds great potential as a transformative social agent, empowering young adult Chinese Indonesians to become nationalistic, faithful, and actively engaged citizens. Thus, church shepherding plays a significant role in addressing the challenges of ethnic integration and in shaping nationalism in Indonesia. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran penggembalaan gereja dalam meningkatkan nasionalisme di kalangan dewasa muda etnis Tionghoa di Indonesia. Latar belakang penelitian ini didasari oleh adanya kecenderungan sikap apatis dan keterasingan identitas nasional yang masih dirasakan sebagian generasi muda Tionghoa akibat warisan sejarah marginalisasi. Metode yang digunakan adalah Systematic Literature Review (SLR) dengan menganalisis berbagai sumber literatur ilmiah yang relevan dengan tema penggembalaan, identitas etnis, dan nasionalisme dalam konteks gereja dan masyarakat Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggembalaan yang bersifat kontekstual, naratif, dan restoratif mampu membentuk kesadaran kebangsaan melalui pengajaran iman yang terintegrasi dengan nilai-nilai Pancasila, kegiatan lintas budaya, serta pemulihan memori kolektif. Diskusi menunjukkan bahwa strategi penggembalaan yang menyentuh identitas sosial dan spiritual secara holistik dapat menumbuhkan rasa memiliki terhadap bangsa tanpa menghilangkan jati diri etnis. Gereja memiliki potensi besar menjadi agen transformasi sosial yang menolong dewasa muda etnis Tionghoa menjadi pribadi yang nasionalis, beriman, dan siap berkontribusi dalam kehidupan berbangsa. Dengan demikian, penggembalaan gereja berperan signifikan dalam menjawab tantangan integrasi etnis dan pembentukan nasionalisme di Indonesia.
Pemuridan dalam lmplementasi Pembentukan Karakter Kepemimpinan Generasi Z di Era 4.0 Br Siringo-Ringo, Natallia; Santosa, Santosa
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.203

Abstract

Generation Z lives in the 4.0 era, where digital technology has penetrated into various aspects of human life. Likewise, the digital era has an effect on the formation of the leadership character of generation Z. Leadership character can be formed through the implementation of discipleship, by providing teaching, guidance, motivation, responsibility and example. This study describes the formation of leadership character through discipleship patterns by instilling several aspects of leadership character including; integrity, excellence, humility, initiative, discipline and courage. The research was conducted using qualitative methods. Data collection in this study uses the discussion group method or known as FGD (Focud Group Discussion) the research subject, namely students of the Salatiga Integrated Rapids.  The data collection method uses several discussion groups according to the topic indicators discussed.  In the research conducted, it is stated that discipleship is the main way to improve the leadership character of generation Z. Healthy leadership is formed by imitating the pattern of Christ's leadership character.AbstrakGenerasi Z hidup di era 4.0, dimana teknologi digital telah merambah dalam berbagai segi kehidupan manusia. Demikian juga era digital berpengaruh terhadap pembentukan karakter kepemimpinan generasi Z. Karakter kepemimpinan dapat dibentuk melalui implementasi pemuridan, dengan memberikan pengajaran, bimbingan, motivasi, tanggung jawab dan keteladanan. Penelitian ini mendeskripsikan pembentukan karakter kepemimpinan melalui pola pemuridan dengan menanamkan beberapa aspek karakter kepemimpinan meliputi; integritas, excellent, kerendahan hati, inisiatif, disiplin dan keberanian. Penelitian dilakukan menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode grup diskusi atau dikenal dengan FGD (Focus Group Discussion) subjek penelitian, yaitu mahasiswa STAK Terpadu Pesat Salatiga. Metode pengumpulan data menggunakan beberapa kelompok diskusi sesuai indikator topik yang dibahas. Dalam penelitian yang dilakukan menyatakan bahwa pemuridan menjadi cara yang utama dilakukan untuk meningkatkan karakter kepemimpinan generasi Z. Kepemimpinan yang sehat dibentuk dengan meneladani pola karakter kepemimpinan Kristus.
Pandangan Teologis tentang Dosa Asal dan Implikasinya bagi Religiositas Kristen Busno, Busno; Toher, Urbanus
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.292

Abstract

Original sin is a central concept in Christian theology that refers to man's first transgression of God's commandments and is still widely debated by theologians. This article aims to deepen the theological understanding of original sin by exploring the views of theologians and their impact on religiosity and its widespread consequences on the doctrine of salvation. The method used is a Literature Study with a theological analysis of the text of Genesis 3 and Rome 5:12-19, and references from Christian theologians who lived in the early centuries AD, the Reformation, and modern times. The results of the analysis show the importance of God's grace in dealing with the consequences of original sin that has destroyed human nature and the order of creation totally, and invites Christians to live in repentance, humility, and efforts towards social justice. Thus, the understanding of the origin of sin and its impact contributes to improving the quality of Christian religiosity, namely being full of hope, love, and commitment to peace and justice in the world. AbstrakDosa asal merupakan konsep sentral dalam teologi Kristen yang merujuk pada pelanggaran pertama manusia terhadap perintah Allah dan masih banyak diperdebatkan para teolog. Artikel ini bertujuan untuk mendalami pemahaman teologis dosa asal dengan mengeksplorasi pandangan para teolog dan dampaknya terhadap religiositas  serta konsekuensi yang meluas pada doktrin keselamatan. Metode yang digunakan adalah Studi Pustaka dengan analisis teologis terhadap  teks Kej. 3 dan Rm. 5:12-19,  dan referensi dari para ahli teologi Kristen, yang hidup pada abad permulaan masehi, masa reformasi dan zaman modern.  Hasil analisis menunjukkan pentingnya kasih karunia Allah dalam menghadapi konsekuensi dosa asal yang telah merusak hakekat manusia secara total (kerusakan total) dan tatanan ciptaan, serta mengajak umat Kristen untuk hidup dalam pertobatan, rendah hati, dan upaya menuju keadilan sosial. Dengan demikian, pemahaman tentang dosa asal dan dampaknya memberikan sumbangsih berupa perbaikan kualitas religiositas Kristen menjadi penuh dengan harapan, kasih, dan komitmen untuk perdamaian dan keadilan di dunia.
Profesionalisme Guru Sekolah Minggu: Kunci Meningkatkan Kepatuhan Pelayanan Napitupulu, Basariah; Nugroho, Andreas Eko; Sianipar, Rikardo Panusunan
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.280

Abstract

Sunday School ministry is an important part of the church that aims to shape Christian children by instilling Biblical values and building their faith from an early age. The success of this ministry is greatly influenced by the level of compliance of Sunday School teachers in carrying out their duties. One way to improve compliance is through enhancing the professionalism of Sunday School teachers, which includes competence in teaching, responsibility, and commitment to ministry. This study uses a literature analysis method to examine the relationship between Sunday School teachers' professionalism and ministry compliance. Based on a study of various theological literature, Christian education, and church ministry management. The results of the study concluded that the professionalism of Sunday School teachers has a significant impact on compliance in Sunday School ministry. Factors such as training, spiritual guidance, and church support play a key role in improving the quality of Sunday School ministry. Therefore, the church needs to develop strategic policies to strengthen the professionalism of Sunday School teachers for the sake of the sustainability of effective and quality Sunday School ministry. AbstrakPelayanan Sekolah Minggu adalah bagian penting dalam gereja yang bertujuan untuk membentuk anak-anak Kristen dengan menanamkan nilai-nilai Alkitab dan membangun iman mereka sejak dini. Keberhasilan pelayanan ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kepatuhan guru Sekolah Minggu dalam menjalankan tugasnya. Salah satu cara untuk meningkatkan kepatuhan adalah melalui peningkatan profesionalisme guru Sekolah Minggu, yang mencakup kompetensi dalam mengajar, tanggung jawab, dan komitmen terhadap pelayanan. Penelitian ini menggunakan metode analisis literatur untuk menelaah profesionalisme guru Sekolah Minggu dan kepatuhan dalam pelayanan. Berdasarkan studi terhadap berbagai literatur teologi pendidikan Kristen, dan manajemen pelayanan gerejawi. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa profesionalisme guru Sekolah Minggu memiliki dampak signifikan terhadap kepatuhan dalam pelayanan Sekolah Minggu. Faktor seperti pelatihan, pembinaan spiritual, dan dukungan gereja memainkan peran kunci dalam meningkatkan kualitas pelayanan Sekolah Minggu. Oleh karena itu, gereja perlu mengembangkan kebijakan strategis untuk memperkuat profesionalisme guru Sekolah Minggu demi keberlangsungan pelayanan Sekolah Minggu yang efektif dan berkualitas.
Model Pemuridan Paulus kepada Titus serta Implikasinya bagi Pemberdayaan Jemaat dalam Pelayanan Gereja Kurniawan, Ernest; Antonius, Yosef; Timadius, Hendrik
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.297

Abstract

Discipleship is a critical element in shaping spiritual character and leadership within the church. However, implementing effective discipleship models remains a challenge in many local churches. The Apostle Paul, through his mentoring relationship with Titus, presents a comprehensive and contextual example of discipleship. This study employs a qualitative method using a systematic literature review approach. Data sources include the Bible, classical and contemporary theological works, and relevant academic articles. Thematic analysis is applied to identify key elements in Paul’s discipleship model as reflected in his epistle to Titus. The findings show that Paul’s discipleship model incorporates personal relationships, sound doctrinal teaching, practical ministry equipping, exemplary living, training to face challenges, and the principle of multiplication. This process not only develops disciples but also produces leaders who can sustain and expand the ministry. Paul’s discipleship model with Titus serves as an ideal framework for modern churches seeking to empower their congregations. Discipleship is not merely a transfer of knowledge but a transformative process that nurtures faith and equips believers for active and responsible ministry involvement. AbstrakPemuridan merupakan elemen penting dalam pembentukan karakter rohani dan kepemimpinan dalam gereja. Namun, penerapan model pemuridan yang efektif masih menjadi tantangan di banyak gereja lokal. Paulus, melalui relasinya dengan Titus, memberikan teladan pemuridan yang menyeluruh dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan metode sistematic literature review, pendekatan studi pustaka. Sumber data meliputi Alkitab, literatur teologis klasik dan kontemporer, serta artikel akademik yang relevan. Analisis dilakukan secara tematik terhadap elemen-elemen pemuridan Paulus yang dituliskan dalam suratnya kepada Titus. Ditemukan bahwa model pemuridan Paulus mencakup aspek relasi personal, pengajaran yang sehat, pembekalan untuk pelayanan, keteladanan hidup, pelatihan menghadapi tantangan, dan prinsip multiplikasi. Proses pemuridan tidak hanya membentuk murid, tetapi juga menghasilkan pemimpin yang mampu melanjutkan pelayanan. Model pemuridan Paulus kepada Titus menjadi pola ideal yang dapat diadaptasi gereja masa kini untuk memberdayakan jemaat secara efektif. Pemuridan tidak hanya menumbuhkan iman, tetapi juga memperlengkapi jemaat untuk terlibat aktif dan bertanggung jawab dalam pelayanan.
Analisis Perbandingan Kepemimpinan Otoriter dengan Prinsip Kepemimpinan Berbasis Nilai Agama Alfina, Diya; Citriadin, Yudin
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.232

Abstract

Material or financial achievements. Many psychological and social factors also influence employees’ subjective well-being, one of which is the leadership style applied within the organization. This study aims to compare two different leadership models: authoritarian leadership and value-based leadership grounded in religious principles (Christianity and Islam). Using a literature review approach, this research explores the impact of each leadership style on employee well-being and work motivation. The findings indicate that authoritarian leadership tends to suppress participation, cause stress, and reduce job satisfaction due to high control and one-way communication. In contrast, Christian and Islamic leadership, which emphasize values such as love, empathy, humility, and service, can create a more positive, inclusive work environment that supports personal development. These religious value-based leadership principles can also be applied in multicultural and multi-religious contexts without causing exclusivity. This study concludes that organizations adopting a humanistic leadership approach based on inclusive spiritual values tend to be more capable of fostering employee well-being and loyalty.AbstrakKebahagiaan di tempat kerja merupakan aspek penting yang tidak selalu ditentukan oleh pencapaian materi atau finansial semata. Banyak faktor psikologis dan sosial yang turut memengaruhi kesejahteraan subjektif karyawan, salah satunya adalah gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan dua model kepemimpinan yang berbeda, yaitu kepemimpinan otoriter dan kepemimpinan berbasis nilai agama (Kristen dan Islam). Menggunakan pendekatan studi literatur, penelitian ini menggali dampak masing-masing gaya kepemimpinan terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja karyawan. Hasil kajian menunjukkan bahwa kepemimpinan otoriter cenderung menekan partisipasi, menimbulkan stres, dan menurunkan kepuasan kerja karena kontrol yang tinggi dan komunikasi satu arah. Sebaliknya, kepemimpinan Kristen dan Islam yang menekankan nilai-nilai seperti cinta kasih, empati, kerendahan hati, dan pelayanan, mampu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif, inklusif, dan mendukung perkembangan personal. Nilai-nilai kepemimpinan berbasis nilai agama tersebut juga dapat diaplikasikan dalam konteks multikultural dan multiagama tanpa menimbulkan eksklusivitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa organisasi yang mengadopsi pendekatan kepemimpinan yang humanis dan berbasis nilai-nilai spiritual yang inklusif cenderung lebih mampu membangun kesejahteraan dan loyalitas karyawan. 
Pemuridan dan Pelayanan Inklusif bagi Kaum Marjinal: Kajian Teologis Perumpamaan Perjamuan Kawin dalam Injil Matius Pangow, Harmen Johannes Mario; Sugiharto, Tjoe Khin; Sarjono, Haryadi
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.293

Abstract

In contemporary Christian ministry, the issue of inclusivity toward marginalized groups is often neglected. The Parable of the Wedding Banquet in Matthew 22:1–14 offers a profound theological insight into the divine invitation that transcends social boundaries. This study aims to explore the theological meaning of this parable as a foundation for inclusive discipleship and ministry to the marginalized. This research employs a qualitative approach using a literature study and narrative theological analysis. The text of Matthew 22:1–14 is examined exegetically, considering its historical, social, and canonical context, and interpreted in the light of public theology and contemporary discipleship praxis. The findings reveal that the invitation in the parable is not only universal but also explicitly embraces those who are socially excluded. The act of “inviting everyone found on the streets” affirms inclusivity as a characteristic of the Kingdom of God. Discipleship emerging from this invitation is transformative, requiring acceptance, repentance, and faithfulness. These findings affirm that the Church is called to be a community of embrace rather than exclusion. Inclusive ministry is not merely a social approach but a prophetic act rooted in a theological understanding of grace. The practical implication is the need to reposition discipleship strategies to actively reach out to the marginalized, rather than passively waiting for their participation. AbstrakDalam konteks pelayanan Kristen kontemporer, isu inklusivitas terhadap kaum marjinal seringkali terabaikan. Perumpamaan Perjamuan Kawin dalam Injil Matius 22:1-14 menawarkan pemahaman mendalam tentang undangan ilahi yang melampaui batas-batas sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji makna teologis perumpamaan tersebut sebagai dasar bagi pemuridan dan pelayanan yang inklusif terhadap kaum marjinal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis teologis naratif. Teks Matius 22:1-14 dianalisis secara eksegetis dengan memperhatikan konteks historis, sosial, dan kanonik, serta ditafsirkan dalam terang teologi publik dan praksis pemuridan gereja masa kini. Hasil kajian menunjukkan bahwa undangan dalam perumpamaan tidak hanya bersifat universal, tetapi juga secara eksplisit mencakup mereka yang tersingkirkan secara sosial. Tindakan “mengundang siapa saja yang dijumpai di jalanan” menegaskan inklusivitas sebagai ciri Kerajaan Allah. Pemuridan yang lahir dari undangan ini bersifat transformatif, karena menuntut penerimaan, pertobatan, dan kesetiaan. Temuan ini menegaskan bahwa gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang merangkul, bukan menyingkirkan. Pelayanan inklusif bukanlah sekadar pendekatan sosial, melainkan tindakan profetik yang lahir dari pemahaman teologis tentang kasih karunia. Implikasi praktisnya adalah perlunya reposisi strategi pemuridan yang menyasar kaum marjinal secara aktif, bukan pasif.
Implikasi Spiritualitas Yesus sebagai Dasar Integritas bagi Guru Pendidikan Agama Kristen Muskita, Mesak; Stevanus, Kalis
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.247

Abstract

The focus of this article is to highlight the integrity of Jesus and his relationship with His spirituality, especially in the Gospel of Luke. The author will conduct a narrative study of the texts in the Gospel of Luke and combine it with a literature study to get a complete picture of the integrity and spirituality of Jesus. The findings obtained were that Jesus' integrity stemmed from his spirituality, which was demonstrated by his intense prayer activities. Meanwhile, His integrity is demonstrated by His daily life consistent with what He taught. What He taught, that is what He lived. It is hoped that through the results of this research, Christian Religious Educators will not only gain new insights but also be committed to implementing their implications in carrying out their calling as educators. AbstrakFokus tulisan ini adalah menyoroti integritas Yesus dan hubungannya dengan spiritualitas-Nya terutama di dalam Injil Lukas. Penulis akan melakukan kajian naratif terhadap teks-teks di dalam Injil Lukas dan menggabungkan dengan kajian pustaka untuk mendapatkan gambaran yang utuh tentang integritas dan spiritualitas Yesus. Temuan yang diperoleh bahwa integritas Yesus bersumber dari spiritualitas-Nya, yang ditunjukkan dengan aktivitas doanya yang intens. Sedangkan integritas-Nya ditunjukkan dengan kehidupan-Nya sehari-hari konsisten dengan apa Dia ajarkan. Apa yang diajarkan, itulah yang dihidupi-Nya. Guru Pendidikan Agama Kristen diharapkan melalui hasil penelitian ini bukan sekadar memeroleh wawasan baru tetapi komitmen menerapkan implikasinya  dalam menjalankan panggilannya sebagai seorang pendidik.
Komunikasi Pemimpin Kristen di Era Digital: Membangun Kepercayaan dan Tim Pelayanan yang Solid Harianto, Budi; Sirait, Hikman; Rahayu, Esti
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.283

Abstract

Christian leaders often fail to recognize the importance of good communication skills in this digital era to build a trustworthy, strong ministry. That is why conflicts and even divisions often occur. The purpose of this study is to determine the urgency of good communication skills in the digital era in Christian leadership to build trust in the ministry team. This qualitative research uses a literature study method by applying three data analysis steps presented by Santana. The results of the study illustrate that a leader must pay attention to good communication aspects in the digital era, such as humanistic, persuasive communication, easy-to-understand language style, respecting and honoring and providing adequate responses, seeking direct face-to-face interaction, and so on. Thus, it will encourage the creation and development of commitment and cooperation within the ministry team, which will have an impact on performance and the level of satisfaction with the performance and services provided to the congregation. AbstrakPemimpin Kristen sering kurang menyadari pentingnya kemampuan komunikasi yang baik di era digital ini untuk membangun kepercayaan tim pelayanan yang solid. Itu sebabnya sering terjadinya konflik dan bahkan perpecahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui urgensi kemampuan komunikasi yang baik di era digital dalam kepemimpinan Kristen untuk membangun kepercayaan tim pelayanan. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode studi pustaka dengan menerapkan tiga langkah analisis data yang disampaikan Santana. Hasil penelitian memberi gambaran bahwa seorang pemimpin harus memperhatikan aspek-aspek komunikasi yang baik di era digital seperti komunikasi yang humanis, persuasif, gaya bahasa yang mudah dimengerti, menghargai dan menghormati serta memberikan respons yang memadai, mengupayakan interaksi langsung tatap muka, dan lain sebagainya. Dengan demikian akan mendorong tercipta dan terbangunnya komitmen dan kerja sama di dalam tim pelayanan yang berdampak pada kinerja dan tingkat kepuasan terhadap kinerja dan pelayanan yang diberikan kepada jemaat. 
Implementasi Teologi Ibadah Kontekstual bagi Generasi Muda di Yayasan Sungai Kehidupan Kalimantan Barat Susi, Susi
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 10, No 1 (2025): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2025
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v10i1.253

Abstract

In a growing society, especially among the younger generation, churches and religious organizations are faced with the challenge of presenting relevant and meaningful worship. The River of Life Foundation in West Kalimantan, which brings together young people from various ethnic, cultural, and denominational backgrounds of the church, responds to this challenge with a contextual theological approach to worship. This research aims to explore the application of contextual worship theology that can answer the spiritual needs of young people in their cultural and social contexts. Using a qualitative method based on case studies, this study identifies young people's preferences for more interactive, flexible, and innovative worship, as well as the importance of integration between traditional and modern elements. The research findings indicate that the principles underlying the theology of contextual worship, such as building the unity of the body of christ in worship, creating an inclusive-doctrinal worship model, responding to social and cultural changes, and integrating tradition with worship innovation, play an important role in creating a form of worship that not only touches on spiritual but also social aspects. Through the application of contextual worship theology that considers cultural and technological elements, the river of life foundation is expected to provide a relevant and positive worship experience for the younger generation. AbstrakDalam masyarakat yang terus berkembang, khususnya di kalangan generasi muda, gereja dan organisasi keagamaan dihadapkan pada tantangan untuk menghadirkan ibadah yang relevan dan bermakna. Yayasan Sungai Kehidupan di kalimantan barat, yang menghimpun anak muda dari berbagai latar belakang etnis, budaya, dan denominasi gereja, merespons tantangan ini dengan pendekatan teologi ibadah yang kontekstual. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan teologi ibadah kontekstual yang dapat menjawab kebutuhan spiritual anak muda dalam konteks budaya dan sosial mereka. Dengan menggunakan metode kualitatif berbasis studi kasus, penelitian ini mengidentifikasi preferensi anak muda terhadap ibadah yang lebih interaktif, fleksibel, dan inovatif, serta pentingnya integrasi antara unsur tradisional dan modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prinsip-prinsip yang melandasi teologi ibadah kontekstual berupa membangun kesatuan tubuh kristus dalam ibadah, model ibadah inklusif-doktrinal, merespons perubahan sosial dan budaya,  integrasi antara tradisi dengan inovasi ibadah diyakini mampu berperan penting dalam menciptakan bentuk ibadah yang tidak hanya menyentuh aspek spiritual tetapi juga sosial. Melalui penerapan teologi ibadah kontekstual yang mempertimbangkan unsur budaya dan teknologi, Yayasan Sungai Kehidupan diharapkan dapat menyediakan pengalaman ibadah yang relevan dan berdampak positif bagi generasi muda masa kini.