cover
Contact Name
Nathanail Sitepu
Contact Email
psnail21@gmail.com
Phone
+6281321151320
Journal Mail Official
psnail21@gmail.com
Editorial Address
Rukan Mutiara Marina No.40 Semarang - Jawa Tengah
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Harvester: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen
ISSN : 23029498     EISSN : 26850834     DOI : 10.52104
Aim dan Scope HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen mencakup sbb: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Sistematika 3. Teologi Praktika 4. Kepemimpinan Kristen
Articles 80 Documents
Deskripsi Tentang Kedatangan Anak Manusia: Perumpamaan Tentang Pohon Ara Dalam Markus 13: 24-32 Desti Samarenna
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 1 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i1.116

Abstract

The world is in a difficult situation. There are several incidents that occur continuously in various countries such as Covid which last very long and cause a lot of suffering. In various places, there are earthquakes, floods, landslides, landslides, weather that is increasingly difficult to predict, and living conditions that are increasingly individualistic. Thinking about this naturally raises the question of whether the “world,” is coming to an end. Mark 13:24-32 which is described in apocalyptic literary form speaks of the coming of the Son of Man which is described in apocalyptic literary form as the time leading up to God's final judgment. The purpose of writing is to explain the conditions faced in the form of difficulties leading to God's judgment and to give hope to the faithful who are suffering at this time to stick to God. The research method is descriptive-theological, namely investigating data in the Bible specifically about the coming of the Son of Man which is explained in contextAbstrakDunia sedang berada dalam situasi yang yang sulit. Ada beberapa Kejadian yang terjadi secara berkesinambungan di berbagai Negara seperti Covid yang berlangsung sangat panjang dan menimbulkan banyak penderitaan. Diberbagai tempat ada gempa, banjir, tanah lonsor, longsor cuaca yang semakin sulit diprediksi, dan keadaan hidup yang makin individualisme. Memikirkan hal tersebut tentu muncul pertanyaan apakah “dunia,” sedang menuju titik akhir. Markus 13:24-32 yang digambarkan dalam bentuk sastra apokaliptik berbicara tentang kedatangan Anak Manusia ya ngdigambarkan dalam bentuk sastra apokaliptik masa-masa menuju penghakiman terakhir Allah. Tujuan penulisan untuk menjelaskan keadaan yang dihadapi dalam bentuk kesulitan-kesulitan menuju penghakiman Allah dan memberikan harapan bagi umat beriman yang menderita saat ini agar tetap berpaut kepada Tuhan. Metode penelitian dengan deskriptif-teologis, yaitu menyelidiki data yang ada dalam Alkitab secara khusus tentang kedatangan Anak Manusia yang dijelaskan secara konteks.
Spiritual Reinforcement Bagi Para Lansia Menghadapi Kematian Berdasarkan 1 Tesalonika 4:13-18 Franseda Sihite
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 1 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i1.117

Abstract

The elderly often experience anxiety when facing death. For this reason, spiritual strengthening is needed for the elderly so they don't dissolve in anxiety. This article aims to explain Spiritual Reinforcement for the elderly based on biblical teachings in 1 Thess. 4:13-18 as a provision for the faith of the elderly to go through old age, especially facing death that will come. This scientific work uses the hermeneutic method with a text exposition approach 1 Thess. 4:13-18. The results of the study concluded that 1 Thess. 4:13-18 can be a spiritual strengthening for believers, especially for the elderly congregation that death is a temporary separation from believers who are still alive (1 Thess. 4:13), the death of a believer is sleeping with Jesus (1Thess. 4:14), and death becomes the door to enter eternal life and the meeting of every believer with Christ (1 Thess. 4:15-18).AbstrakPara lansia sering kali mengalami kecemasan ketika menghadapi kematian. Untuk itu diperlukan penguatan rohani terhadap para lansia sehingga tidak larut dalam kecemasan. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan Spiritual Reinforcement (Penguatan Rohani) terhadap para lansia berdasarkan ajaran alkitab dalam 1 Tes. 4:13-18 sebagai bekal iman lansia menjalani masa tua, khususnya menghadapi kematian yang kelak akan tiba. Karya ilmiah ini menggunakan metode hermeneutika dengan pendekatan eksposisi teks 1 Tes. 4:13-18. Hasil penelitian  menunjukkan bahwa teks 1 Tes. 4:13-18 dapat menjadi penguatan spiritual bagi orang-orang percaya, khususnya jemaat lansia yaitu bahwa kematian adalah perpisahan sementara dengan orang percaya yang masih hidup (1 Tes. 4:13), kematian orang percaya adalah tidur bersama Yesus (1Tes. 4:14), dan kematian menjadi pintu memasuki  kehidup kekal dan berkumpulnya setiap orang percaya dengan Kristus (1 Tes. 4:15-18).
Sumbangsih Teokrasi Yudaisme Masa Intertestamental bagi Perluasan Misi Kerajaan Allah di Indonesia Busno Busno; Yakob Yakob; Urbanus Toher; Herianto Herianto; Yonathan Salmon Efrayim Ngesthi
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 1 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i1.121

Abstract

This research article in the form of a scientific work aims to describe the Jewish Theocracy during the intertestamental period, especially the Maccabean, Hasmonean, and Herodian Reigns, and contributions to religious leaders in churches, Christian organizations, and community leaders in Indonesia in efforts to expand God's kingdom. The method used is a Literature Study to collect research data from online articles and books related to the research topic. After data analysis was carried out, the research results found that the contribution of the Intertestamental Theocracy of Judaism to the expansion of the mission of God's kingdom was in the form of the important role of leaders to expand God's kingdom, promote a moderate religious attitude, and carry out the mission of God's kingdom holistically.AbstrakArtikel penelitian berupa karya ilmiah ini bertujuan memaparkan tentang Teokrasi Yahudi masa intertestamental, khususnya Masa  Pemerintahan Makabe, Hasmoneas, dan Herodes dan  sumbangsih bagi  para pemimpin agama di gereja, organisasi Kristen dan tokoh masyarakat di Indonesia dalam upaya meluaskan kerajaan Allah itu. Metode yang dipakai adalah Studi Pustaka (Literature Study) untuk mengumpulkan data penelitian dari artikel online dan buku-buku yang berkaitan dengan topik penelitian. Setelah analisis data dilakukan, maka diperoleh hasil penelitian yang menemukan bahwa sumbangsih Teokrasi Yudaisme Masa Intertestamental bagi perluasan misi kerajaan Allah adalah berupa pentingnya peran para pemimpin untuk meluaskan kerajaan Allah, mengedepankan sikap beragama yang moderat, dan melaksanakan misi kerajaan Allah secara holistik.
Tinjauan Etika Kepemimpinan Kristen Terhadap Kolegialitas Pelayan Di GPIB ATK Ambarawa Paulin Maureel Titiheru; Irene Ludji; Simon Julianto
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 1 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i1.111

Abstract

Quality church service is closely related to the relationship between ministers. Relationships that are seen as unequal between ministers can negatively affect the quality of service in the church. This article discusses the impact of unequal relations between servants on service effectiveness and proposes the value of collegiality as the main principle that must be considered together. Collegiality is a sense of loyalty of friends to colleagues. The purpose of this study is to analyze leadership practices and the role of collegiality of servants in GPIB ATK Ambarawa from the perspective of Christian leadership ethics. The research method used is qualitative with a type of descriptive writing to make an accurate description of facts related to the phenomenon under investigation. The results of this study show that in terms of building collegiality relationships in terms of Christian leadership ethics, the servants at GPIB ATK Ambarawa, still need to improve their quality. This is because there are still some weaknesses in the collegiality relationship that exists between servants at GPIB ATK Ambarawa.Abstrak Pelayanan gereja yang berkualitas berhubungan erat dengan relasi antar pelayan. Relasi yang dipandang tidak setara antar pelayan dapat berdampak negatif terhadap kualitas pelayanan di gereja. Artikel ini membahas tentang dampak dari relasi yang tidak setara antar pelayan terhadap efektivitas pelayanan dan mengusulkan nilai kolegialitas sebagai prinsip utama yang harus diperhatikan bersama. Kolegialitas adalah rasa setia kawan terhadap teman sejawat. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis praktik kepemimpinan dan peran kolegialitas pelayan di GPIB ATK Ambarawa dari perspektif etika kepemimpinan Kristen. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan jenis penulisan deskriptif untuk membuat deskripsi secara akurat mengenai fakta terkait fenomena yang diselidiki. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam hal membangun hubungan kolegialitas ditinjau dari etika kepemimpinan Kristen, para pelayan di GPIB ATK Ambarawa, masih perlu meningkatkan kualitasnya. Hal ini dikarenakan, masih ditemukannya beberapa kelemahan dalam hubungan kolegialitas yang terjalin antar pelayan di GPIB ATK Ambarawa.
Pertobatan Sebagai Sebuah Bentuk Persiapan Menghadapi Akhir Zaman Dalam Matius 24:1-14 Orianto Hura; Martina Novalina; Anwar Three Millenium Waruwu
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 1 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i1.115

Abstract

This article expounds on the significance of repentance as a preparation for the end times within the context of religious understanding and spirituality. The empirical issue at hand is the lack of clear comprehension regarding the significance and implications of repentance in facing the end times. The objective of this research is to deeply understand the importance of repentance based on Matthew 24:1-14, encompassing the implications of repentance in individuals' daily lives, their relationship with God, and their relationship with fellow human beings in the context of the end times. This research utilizes the method of textual analysis or interpretation. The findings of this study indicate that repentance is a crucial calling in facing the end times, as through repentance, individuals prepare themselves spiritually, establish a proper relationship with God, and equip themselves to spread the message of the Gospel to the world. Repentance brings about significant changes in individuals' lives and has far-reaching impacts on the mission of spreading the Gospel.AbstrakArtikel ini menguraikan pentingnya pertobatan sebagai bentuk persiapan menghadapi akhir zaman dalam konteks pemahaman agama dan spiritualitas. Masalah empiris yang muncul adalah kurangnya pemahaman yang jelas tentang signifikansi dan implikasi pertobatan dalam menghadapi akhir zaman. Tujuan penelitian ini adalah memahami pentingnya pertobatan berdasarkan Matius 24:1-14, termasuk implikasi pertobatan dalam kehidupan sehari-hari, hubungan individu dengan Tuhan, dan hubungan individu dengan sesama manusia dalam konteks akhir zaman. Penelitian ini menggunakan metode analisis teks atau tafsir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertobatan merupakan panggilan penting dalam menghadapi akhir zaman, karena melalui pertobatan individu mempersiapkan diri secara rohani, membangun hubungan yang benar dengan Allah, dan mempersiapkan diri untuk menyebarkan pesan Injil kepada dunia. Pertobatan membawa perubahan signifikan dalam kehidupan individu dan memiliki dampak yang luas dalam misi menyebarkan Injil.
Tinjauan terhadap Konsep Pengudusan Progresif dalam Perspektif Teologi Reformed Siahaan, Robert Ridsad
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 9, No 1 (2024): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2024
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v9i1.191

Abstract

Living in holiness is an absolute command that God gives to all God's people. In Reformed theology, the concept of progressive sanctification is very often highlighted and emphasized as a very important part of the Christian's life and relationship with God. This article wants to review the concept of progressive sanctification in the perspective of Reformed theology by highlighting the view of the concept and process that takes place in progressive sanctification and its implications in the practical life of Christians. Sanctification in Reformed theology is seen as a direct act of God in the work of salvation bestowed by God in the work of the cross of Christ and is also a continuous process that Christians must undergo. The method used is Literature review, the author will present the concept of progressive sanctification in the perspective of several reformed theologies such as John Calvin, John Owen, Brakel, Watson and conduct a comparative analysis of the views of David Peterson and Don Payne. The author concludes that sanctification is not a gradual process where Christians become more and more holy and more like Christ. Progressive sanctification is rather seen as a process of transformation and growth in faith towards spiritual maturity in Jesus Christ. In some aspects and in the historical development of Christianity, the author sees that Reformed theology in understanding and practicing the aspect of progressive sanctification has become one of the important benchmarks for Christians in understanding and practicing sanctification itself. AbstrakHidup dalam kekudusan adalah perintah mutlak yang Allah berikan kepada semua umat Allah. Di dalam teologi Reformed konsep mengenai pengudusan progresif sangat sering disoroti dan ditekankan sebagai bagian yang sangat penting dalam kehidupannya orang Kristen dan relasinya dengan Allah. Artikel ini ingin meninjau konsep pengudusan progresif dalam perspektif teologi Reformed dengan menyoroti pandangan terhadap konsep dan proses yang terjadi dalam pengudusan progresif serta implikasinya dalam kehidupan praktis orang Kristen. Pengudusan dalam teologi Reformed dipandang sebagai tindakan langsung dari Allah dalam karya keselamatan yang dianugerahkan Allah di dalam karya salib Kristus dan juga merupakan proses yang terus menerus yang harus dijalani oleh orang Kristen. Metode yang digunakan adalah Literatur review, penulis akan memaparkan konsep pengudusan progresif dalam perspektif dari beberapa teologi reformed seperti John Calvin, John Owen, Brakel, Watson dan melakukan analisis secara komparatif dari pandangan David Peterson dan Don Payne. Penulis menyimpulkan bahwa pengudusan bukanlah suatu proses bertahap dimana orang Kristen menjadi semakin bertambah kudus dan menjadi semakin serupa dengan Kristus. Pengudusan progresif lebih dilihat sebagai suatu proses transformasi dan pertumbuhan iman menuju kedewasaan rohani di dalam Yesus Kristus. Dalam beberapa aspek dan dalam perkembangan sejarah Kekristenan penulis melihat teologi Reformed dalam memahami dan menjalankan aspek pengudusan progresif telah menjadi salah satu tolok ukur penting bagi umat Kristen dalam memahami dan mempraktekkan pengudusan itu sendiri.
Religiusitas dan Rasionalisme Empirisme Immanuel Kant dalam Berteologi Tanamal, Nini Adelina
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 9, No 1 (2024): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2024
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v9i1.175

Abstract

This research examines the relationship between religiosity and empiricist rationalism in the context of Immanuel Kant's theological thought. By applying literature analysis methods, this research explores how Kant integrated rationalism and empiricism to form a new approach to theology that not only appreciates the role of reason in understanding religion, but also recognizes the importance of empirical experience. This research shows that Kant offers a framework in which religious beliefs can be analyzed and understood through the lens of rationality without ignoring the value of subjective and sensory experience. In this way, Kant succeeded in creating a bridge between two worlds that are often considered opposites: religious belief and rational-empirical understanding. Truth is still truth, it cannot be denied through thought and empiricism in rationalism. This paper describes qualitatively the thoughts of Immanuel Kant which are linked to the concepts of religiosity and empiricist rationalism in theology. AbstrakPenelitian ini mengkaji hubungan antara religiusitas dan rasionalisme empirisme dalam konteks pemikiran teologis Immanuel Kant. Dengan menerapkan metode analisis literatur, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana Kant mengintegrasikan rasionalisme dan empirisme untuk membentuk sebuah pendekatan baru dalam berteologi yang tidak hanya menghargai peran akal budi dalam memahami keagamaan, tetapi juga mengakui pentingnya pengalaman empiris. Penelitian ini menunjukkan bahwa Kant menawarkan sebuah kerangka kerja di mana keyakinan keagamaan dapat dianalisis dan dipahami melalui lensa rasionalitas tanpa mengesampingkan nilai pengalaman subjektif dan indrawi. Dengan demikian, Kant berhasil menciptakan sebuah jembatan antara dua dunia yang sering dianggap berseberangan: kepercayaan religius dan pemahaman rasional-empiris. Kebenaran adalah tetap kebenaran, tidak dapat disangkal melalui pemikiran dan empirisme dalam rasionalisme. Tulisan ini mendeskripsikan secara kualitatif tentang pemikiran Immanuel Kant yang dikaitkan dalam konsep religiusitas dan rasionalisme empirisme dalam berteologi.
Manajemen Konflik Bagi Gereja Masa Kini Menurut Kisah Para Rasul 6:1-7 Igir, Syeny Yullyana; Sitepu, Nathanail
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 2 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i2.135

Abstract

Conflict is a reality that occurs in God's church. Conflict can cause division if not handled seriously and correctly, but conflict can also be a means of growth and maturation in the church as the body of Christ. Therefore, to overcome conflict in today's church, conflict management skills are needed. This article will discuss the dynamics of conflict that occurred in Acts 6: 1-7 and examine the conflict management patterns carried out by the Apostles. The method used in this article is a qualitative method with an interpretative approach (interpretative design) to the biblical text in the context of conflict management. In conducting the analysis, the author will highlight the text in the frame of conflict management thinking and find that there was indeed a conflict between the Greek-speaking Jews and the Hebrews regarding the distribution of their widows in daily service. The finding in this article is that the Apostles applied a conflict management pattern by listening to the grievances that arose due to conflict, conducting self-efficiency, and conducting mediation and delegation as conflict resolution. AbstrakKonflik merupakan realita yang terjadi di dalam gereja Tuhan. Konflik dapat menyebabkan perpecahan bila tidak ditangani secara serius dan benar, namun konflik juga dapat menjadi sarana pertumbuhan dan pendewasaan dalam gereja sebagai tubuh Kristus. Oleh sebab itu, untuk mengatasi konflik dalam gereja masa kini dibutuhkan kemampuan manajemen konflik. Artikel ini akan membahas dinamika konflik yang terjadi dalam Kisah Para Rasul 6:1-7 dan mengkaji pola manajemen konflik yang dilakukan oleh para Rasul. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan interpretatif (interpretative design) terhadap teks Alkitab dalam konteks manajemen konflik. Di dalam melakukan analisis, penulis akan menyoroti teks dalam bingkai berpikir manajamen konflik dan menemukan bahwa memang terjadi konflik antara orang-orang Yahudi berbahasa Yunani dengan orang-orang Ibrani terkait pembagian kepada janda-janda mereka dalam pelayanan sehari-hari. Temuan dalam artikel ini adalah para rasul menerapkan pola manajemen konflik dengan mendengarkan keluhan-keluhan yang muncul karena konflik, melakukan efisiasi diri, dan mengadakan mediasi dan pendelegasian sebagai penyelesaian konflik.
Peran Kepemimpinan Kristen Berkarakter Kristus bagi Pertumbuhan Gereja Dau, Mersi Prastika; Benu, Yance Novrianti
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 9, No 1 (2024): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Juni 2024
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v9i1.171

Abstract

Christian leadership with the character of Christ has a very important role in church growth. Christian leaders who have the character of Christ are also able to mobilize God's people to actively participate in church services. This study uses a literature study approach, by examining references as a basis for research conducted from relevant sources according to the topic of discussion. The data collection process begins with selecting a reference source, then analyzing the data and providing a descriptive explanation of the results obtained. The results of this research found that the context of church growth is closely related to Christian leadership with the character of Christ. The character of Christ is the main key to effective Christian leadership and has a positive impact on church growth. It can be underlined that Christian leadership with the character of Christ can help the church grow and achieve spiritual goals. Leadership based on the character of Christ is a solid foundation for the growth and success of the Christian church. AbstrakKepemimpinan Kristen yang berkarakter Kristus memiliki peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan gereja. Pemimpin Kristen yang berkarakter Kristus juga mampu mengerahkan umat Tuhan untuk berpartisipasi aktif dalam pelayanan gereja. Kajian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan, dengan menelaah referensi-referensi sebagai tumpuan bagi riset yang dilakukan dari sumber-sumber yang relevan sesuai dengan topik pembahasan. Proses pengumpulan data dimulai dengan memilih sumber referensi, lalu kemudian menganalisis data dan memberikan penjelasan deskriptif mengenai hasil yang diperoleh. Hasil penelitian ini menemukan bahwa konteks pertumbuhan gereja erat kaitannya dengan kepemimpinan Kristen yang berkarakter Kristus. Karakter Kristus adalah kunci utama dalam kepemimpinan Kristen yang efektif dan berdampak positif terhadap pertumbuhan gereja. Dapat digarisbawahi, kepemimpinan Kristen yang berkarakter Kristus dapat membantu gereja bertumbuh dan mencapai tujuan rohani. Kepemimpinan yang didasarkan pada karakter Kristus adalah landasan yang kokoh untuk pertumbuhan dan keberhasilan gereja Kristen.
Makna Teologis Frasa “Waktunya Sudah Dekat” Dalam Wahyu 22:10 Dan Implikasinya Wesley, Jhon; Yakob, Yakob
HARVESTER: Jurnal Teologi dan Kepemimpinan Kristen Vol 8, No 2 (2023): Teologi dan Kepemimpinan Kristen - Desember 2023
Publisher : STTI Harvest Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52104/harvester.v8i2.125

Abstract

The phrase “the time is near” is one of the passages that has become familiar among Christians in understanding the second coming of Christ to earth. However, there are many Christians who do not understand the theological meaning of this word precisely. No wonder the coming of Christ becomes meaningless for some believers. Some think it's just a fictional story. However, some people try to interpret the coming of the Lord Jesus with calendar dates. Actually, what is the theological meaning and urgency of the phrase above? This article aims to discuss the meaning of the phrase "the time is near" according to the Book of Revelation 22:10. The method used is qualitative with a literature study approach. The findings show that first, the theological meaning of the phrase "The Time Is Near" states a good opportunity from God to fulfill the second coming of Christ to rule as King, defeat Satan and his army, Judgment Day, and provide deliverance from suffering for His people. Second, it refers to the event of Christ's return to this world which is unexpected (sudden) and happened quickly, and not known by anyone except the Father in Heaven. The implications of the second coming of Christ about the phrase "The time is near" are, First, every believer must have the certainty that Christ's second coming will give His people deliverance from suffering in this world. Second, the second coming of Christ cannot be known by anyone, except for the Father in Heaven. Third, believers must persevere in faith, be faithful in preaching the Gospel, and be ready at all times waiting for Christ to return and reign as King.AbstrakFrasa kata “waktunya sudah dekat” merupakan salah satu bagian yang menjadi familiar di kalangan orang Kristen dalam memahami kedatangan Kristus kedua kali ke bumi. Namun, ada banyak orang Kristen kurang memahami dengan tepat makna teologis dari kata tersebut. Tidak heran kedatangan Kristus menjadi tidak berarti bagi sebagian orang percaya. Ada yang beranggapan itu cerita fiksi belaka. Namun, ada juga orang yang mencoba menafsirkan kedatangan Tuhan Yesus dengan penanggalan kalender. Sebenarnya, apa makna teologis dan urgensi dari frasa tersebut di atas?  Artikel ini bertujuan untuk membahas makna frasa ‘waktunya sudajt dekat” sesuai Kitab Wahyu 22:10. Metode yang digunakan adalah Kualitatif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil temuan menunjukkan bahwa pertama, makna teologis frasa “Waktunya Sudah Dekat” menyatakan kesempatan yang baik dari Allah menggenapi kedatangan Kristus kedua kali memerintah sebagai Raja, mengalahkan Iblis dan pasukannya, Hari Penghakiman, serta memberikan kelepasan dari penderitaan bagi umat-Nya.  Kedua, mengacu kepada peristiwa kedatangan Kristus kembali ke dunia ini yang tidak terduga (tiba-tiba) dan terjadi dengan cepat, serta tidak diketahui oleh siapapun, kecuali Bapa di Surga. Implikasi kedatangan  Kristus kedua dalam kaitan dengan frasa “Waktunya sudah dekat’ adalah, Pertama, setiap orang percaya harus memiliki kepastian akan kedatangan Kristus kedua kali memberikan umat-Nya kelepasan dari penderitaan di dunia ini. Kedua, kedatangan Kristus kedua kali tidak bisa diketahui siapun, kecuali Bapa di Surga. Ketiga, orang percaya harus bertekun dalam iman, setia mengabarkan Injil dan siap sedia setiap saat menantikan Kristus datang kembali dan memerintah sebagai Raja.