cover
Contact Name
Mulyanto
Contact Email
widyaparwa@gmail.com
Phone
+6281243805661
Journal Mail Official
widyaparwa@gmail.com
Editorial Address
https://widyaparwa.kemdikbud.go.id/index.php/widyaparwa/about/editorialTeam
Location
Kota yogyakarta,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Widyaparwa
Jurnal Widyaparwa memublikasi artikel hasil penelitian, juga gagasan ilmiah penelitian (prapenelitian) yang terkait dengan isu-isu di bidang kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah.
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol 50, No 2 (2022)" : 15 Documents clear
VERBA ITERATIF DALAM BAHASA SUNDA Emma Maemunah; Dyah Susilawati; Rini Esti Utami
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.197 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1136

Abstract

Iterative verbs are verbs that express an activity which occurs many times or repeatedly. Iterative verbs are characterized by language forms that arise as a result of morphological processes. This study describes the types of iterative verbs in Sundanese language in their morphological behavior. Iterative verb data were obtained from written sources using the listening method for providing data and followed by note-taking techniques. The data were analyzed using the distributional method with the two-by-two opposition technique. The results showed that morphologically iterative Sundanese verbs are characterized by affixation and reduplication. There are seven types of iterative verb marker affixations in Sundanese, namely D-an, di-D-an, di-D-ar-an, N-D-an, N-D-ar-an, ka-D-an, and (pa)ting +D. Meanwhile, reduplication of iterative verb markers in Sundanese is dwilingga dwimurni, dwilingga dwireka, dwilingga with R-keun suffix, dwilingga with N-R-keun confix, dwilingga with ka-R prefix, dwipurwa reduplication, dwipurwa with prefix and suffix ti–ar-R, dwilingga and dwipurwa with the suffix R-an, dwilingga and dwipurwa with the confix di-R-keun. The accompanying markers for iterative verbs are hantem, teu weleh, tansah, haben, mindeng, remen, often, osok, kungsi, and sometimes.Verba iteratif merupakan verba yang menyatakan suatu aktivitas yang terjadi berkali-kali atau berulang-ulang. Verba iteratif ditandai oleh bentuk bahasa yang muncul akibat proses morfologis. Dalam penelitian ini digambarkan jenis verba iteratif bahasa Sunda dalam perilaku morfologisnya. Data verba iteratif diperoleh dari sumber tertulis dengan metode simak untuk penyediaan data dan dilanjutkan dengan teknik catat. Data dianalisis dengan metode distribusional dengan teknik oposisi dua-dua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara morfologis verba iteratif bahasa Sunda ditandai oleh afiksasi dan reduplikasi.  Terdapat tujuh jenis afiksasi penanda verba iteratif bahasa Sunda, yakni D-an, di-D-an, di-D-ar-an, N-D-an, N-D-ar-an, ka-D-an, dan (pa)ting+D. Sementara itu reduplikasi penanda verba iteratif bahasa Sunda adalah reduplikasi dwilingga  dwimurni, dwilingga dwireka, dwilingga dengan sufiks R –keun, dwilingga dengan konfiks N-R-keun, dwilingga dengan prefiks ka- R, reduplikasi dwipurwa, dwipurwa dengan prefiks dan sufiks ti–ar-R, dwilingga dan dwipurwa dengan sufiks R-an, dwilingga dan dwipurwa dengan konfiks di-R-keun. Pemarkah penyerta verba iteratif adalah hantem, teu weleh, tansah, haben, mindeng, remen, sering, osok, kungsi, dan kadangkala.
CERPEN “ISTANA TEMBOK BOLONG” KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA: TINJAUAN POSMODERNISME Riqko Nur Ardi Windayanto
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.364 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.975

Abstract

This study aims to reveal historical facts, irony, and parody, the opposition between the center and the periphery, and contextualization of the short story "Istana Tembok Bolong" by Seno Gumira Ajidarma with the postmodernism theory of Linda Hutcheon. Methodologically, this research consists of data collection and data analysis. Data are collected by listening and noting the lingual units of short stories and literature studies. Data are analyzed by linking textual and contextual coherently. The results show that this short story uses two social historical facts about prostitution in Yogyakarta in 1970, namely ciblek, which is combined with Bong Suwung's prostitution. This amalgamation makes historical facts ironic and parody, not nostalgic. This is done to show the opposition between Mbak Tum (PSK) as the periphery and the community as the center. Mbak Tum is voiced, while society is deconstructed. Contextually, it is related to space hierarchy, resistance to street sex workers, and criticism of the state. For future researchers, it is recommended to explore the role and implications of social historical facts in this short story, considering that Seno often uses historical facts in his other short stories.Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan fakta sejarah, ironi, dan parodi, oposisi antara pusat dan pinggiran, serta kontekstualisasi cerpen “Istana Tembok Bolong” karya Seno Gumira Ajidarma dengan teori posmodernisme Linda Hutcheon. Secara metodologis, penelitian ini terdiri atas pengumpulan data dan analisis data. Data dikumpulkan dengan menyimak-mencatat satuan-satuan lingual dari cerpen dan studi pustaka. Data dianalisis dengan mengaitkan antara yang tekstual dan yang kontekstual secara koheren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cerpen ini menggunakan dua fakta sejarah sosial mengenai prostitusi di Yogyakarta pada 1970, yaitu Ciblek, yang digabungkan dengan prostitusi Bong Suwung. Penggabungan itu menjadikan fakta sejarah bersifat ironis dan parodis, bukan nostalgis. Hal itu di-lakukan untuk menunjukkan oposisi antara Mbak Tum (PSK) sebagai pinggiran dan masyarakat sebagai pusat. Mbak Tum disuarakan, sedangkan masyarakat didekonstruksi. Secara kontekstual, hal itu berkaitan dengan hierarki ruang, resistansi PSK jalanan, dan kritik terhadap negara. Bagi peneliti berikutnya, disarankan untuk mengeksplorasi peran dan implikasi fakta sejarah sosial dalam cerpen ini mengingat Seno kerap menggunakan fakta-fakta sejarah dalam cerpen-cerpennya yang lain.
TRANSFORMASI PERALATAN RUMAH TANGGA TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA DI ERA INDUSTRI DAN UPAYA KONSERVASI Prembayun Miji Lestari; Retno Purnama Irawati; Mujimin Mujimin
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (590.133 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1163

Abstract

The purpose of this study is to describe the transformation of Javanese traditional household appliances in the industrial era, and to describe the conservation efforts of the Javanese traditional household appliances lexicon which is threatened with extinction due to technological transformation. The research data consists of a lexicon of traditional Javanese household appliances that have undergone a transformation in Javanese society in the regencies of Klaten, Boyolali, and Semarang obtained from interviews, observations, and literature review. The results of the study show that the transformation of traditional household appliances in modern Javanese society cannot be separated from the times and has experienced a language shift from Javanese to a foreign language, especially English. Some traditional Javanese household appliances that have been transformed into modern household appliances are classified based on whether traditional tools are still used by the community today. Conservation efforts that can be done to preserve traditional household appliances in era 5.0 include: documenting the names of traditional Javanese household appliances and distributing them to the wider community through articles; preservation of the physical visual form of the utensil, through pictures, replicas of traditional utensils, displays of traditional household utensils in strategic public places for individuals, communities, or official institutions. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan transformasi peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Jawa di era industri, dan memaparkan upaya konservasi leksikon peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Jawa yang terancam punah karena transformasi teknologi. Data penelitian terdiri atas leksikon peralatan rumah tangga tradisional Jawa yang mengalami transformasi pada masyarakat Jawa di Kabupaten Klaten, Boyolali, dan Semarang. Data pelenilitian diperoleh dari hasil wawancara, observasi, dan kajian pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bentuk transformasi peralatan rumah tangga tradisional masyarakat Jawa modern tidak terlepas dari perkembangan zaman dan mengalami pergeseran bahasa dari bahasa Jawa ke bahasa asing utamanya bahasa Inggris. Beberapa alat rumah tangga tradisional Jawa yang bertransformasi menjadi alat rumah tangga modern diklasifikasikan berdasar masih tidaknya perkakas tradisonal dipergunakan oleh masyarakat hingga saat ini. Upaya konservasi yang bisa dilakukan untuk melestarikan peralatan rumah tangga tradisional di era 5.0 diantaranya: mendokumentasi nama peralatan rumah tangga tradisional Jawa dan menyebarkannya ke masyarakat luas melalui artikel; pelestarian bentuk visual secara fisik dari perkakas tersebut, melalui gambar, replika peralatan tradisional, displai peralatan rumah tangga tradisional di tempat umum yang strategis secara pribadi, komunitas, atau lembaga resmi. 
REPRESENTASI PESANTREN DALAM NOVEL KARYA PEREMPUAN PENULIS INDONESIA Novi Diah Haryanti; Ahmad Bahtiar; Rosida Erowati; Syihaabul Hudaa
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (388.824 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1052

Abstract

Pesantren's life is a topic that is often raised in Indonesian literature. The topic of pesantren is not only written by men but also seen in women's works. This study focuses on Indonesian novels written by women in Islamic boarding schools. This study aims to see the representation of pesantren in women's novels. The research corpuses selected included Perempuan Berkalung Sorban by Abidah El Khaeliqy, Hati Suhita by Khilma Anis, Cahaya Cinta Pesantren by Ira Madan, Akademi Harapan Vita Agustina, and novel by Farahdiba Maria and Maryam. This qualitative descriptive study looks at the characteristics of the pesantren represented by women writers in modern Indonesian novels. The findings of the five novels studied. Namely, two novels (Perempuan Berkalung Sorban and Hati Suhita) represent traditional pesantren. This appears through the symbols and traditions of the santri and the kiai in the novel, such as studying the yellow book, haul, pilgrimage, and sowan. Two novels (Cahaya Cinta Pesantren and Akademi Harapan) represent modern Islamic boarding schools that show modern learning patterns and place students at the story's centre. One novel (Maria and Maryam) represents a flash boarding school. Although each novel represents a different style of pesantren, these novels have the same problem: showing the lives of women in pesantren and the tradition of matchmaking.Kehidupan pesantren menjadi topik yang sering diangkat dalam karya sastra Indonesia. Tak hanya ditulis oleh laki-laki, topik pesantren juga tampak dalam karya perempuan. Penelitian ini berfokus pada novel Indonesia berlatar pesantren yang ditulis oleh perempuan. Penelitian ini bertujuan melihat representasi pesantren dalam novel-novel karya perempuan. Korpus penelitian   yang dipilih di antaranya: Perempuan Berkalung Sorban  karya Abidah El Khaeliqy, Hati Suhita karya Khilma Anis, Cahaya Cinta Pesantren Karya Ira Madan, Akademi Harapan karya Vita Agustina, dan karya Farahdiba berjudul Maria dan Maryam. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Metode analisis isi, dengan teknik simak catat dilakukan untuk mengumpulan data berupa kutipan dalam novel. Penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk melihat karakteristik pesantren yang direpresentasikan perempuan penulis dalam novel Indonesia modern. Temuan dari lima novel yang diteliti yaitu, dua novel (Perempuan Berkalung Sorban dan Hati Suhita) merepresentasikan pesantren tradisional. Hal tersebut muncul lewat simbol-simbol dan tradisi yang dilakukan oleh santri dan para kiai dalam novel, seperti mengkaji kitab kuning, haul, ziarah, dan sowan. Dua novel (Cahaya Cinta Pesantren dan Akademi Harapan) merepresentasikan pesantren modern yang memperlihatkan pola pembelajaran modern dan menempatkan santri menjadi pusat cerita, dan satu novel (Maria dan  Mariam) merepresentasikan pesantren kilat. Meskipun setiap novel mewakili corak pesantren yang berbeda, novel-novel tersebut memiliki persamaan masalah yaitu memperlihatkan kehidupan perempuan di pesantren dan tradisi perjodohan.
MEMBANGUN KEPERCAYAAN PUBLIK UNTUK MEMULAI PROGRAM VAKSINASI COVID-19 DI INDONESIA: ANALISIS MULTIMODAL KEBAHASAAN Vilya Lakstian Catra Mulia
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (328.389 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.982

Abstract

The discovery of Covid-19 vaccine gives opportunity to people for getting better immunity. However in its presence, Covid-19 vaccine is faced with some worries about its contents. The Indonesian Ministry of Religious Affairs and The Ministry of Health had role in constructing people’s belief towards the vaccine’s safety and halal so that vaccination program would be done soon. Various ways were applied, including using social media. Through this research, the researcher collected the data from the data source in the form of multimodal documents which were from the official accounts by the Ministry of Religious Affairs and Health in Facebook for socializing the first Covid-19 vaccine received by Indonesia, Sinovac. The research was done by linguistic multimodal analysis along with Systemic Functional Linguistics (SFL) and social photography approaches. The collected data had fulfilled the criteria formulated by the researcher. Using interpersonal and textual analysis with SFL, the researcher discusses how socialization applied by those two ministries implementing texts for building relation between the ministries and practicing communication strategy. Supported by social photography analysis, constructing belief visually is formed from the findings of subject’s position, eye contact, and camera shot. This research finally does not only give scientific study of language, but also connect it with the technique of implementing visual communication.Ditemukannya vaksin Covid-19 memberikan peluang kepada masyarakat untuk memperoleh imunitas yang lebih baik. Namun, di awal penemuannya, vaksin Covid-19 dihadapkan pada sejumlah keraguan atas kandungannya. Kementerian Agama (Kemenag) dan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia berperan besar dalam membangun kepercayaan publik terhadap keamanan dan kehalalannya sehingga program vaksinasi dapat segera dilakukan. Beragam cara dilakukan termasuk melalui media sosial. Melalui penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dari sumber data dokumen multimodal, yaitu postingan visual dari akun resmi Kemenag dan Kemenkes di Facebook dalam menyosialisasikan vaksin Covid-19 pertama yang diterima Indonesia, Sinovac. Penelitian dilakukan dengan analisis multimodal kebahasaan dengan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional (LSF) dan fotografi sosial. Data yang diperoleh telah memenuhi kriteria yang diformulasikan oleh peneliti. Melalui analisis makna interpersonal dan tekstual dengan LSF, peneliti membahas bagaimana sosialiasi yang dilakukan Kemenag dan Kemenkes  mengimplementasikan teks untuk membangun relasi antarkedua lembaga tersebut dan strategi komunikasi yang dijalankan. Dengan dukungan analisis fotografi sosial, membangun kepercayaan secara visual dibentuk dari hasil posisi subjek, kontak mata, serta bidikan kamera. Penelitian ini akhirnya tidak hanya memberikan kajian ilmiah terhadap bahasa saja, tetapi juga mengaitkannya dengan teknik kerja komunikasi visual
Indeks abstrak NFN Widyaparwa
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.81 KB)

Abstract

KEMAMPUAN PROBLEM SOLVING TOKOH ANAK PADA MASA PANDEMI COVID-19 DALAM KUMPULAN CERPEN SEJUTA CERITA ANAK BANYUMAS Wiekandini Dyah Pandanwangi; Aldi Aditya; Ummi Nurjamil Baiti Lapiana
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.505 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1138

Abstract

This article describes the problem solving or problem solving carried out by the child characters during the Covid-19 pandemic, which was seen in the collection of short stories of a million stories for children from Banyumas. The background of this research is psychological issues experienced by children due to the loss of their social environment during the Covid-19 pandemic. Children experience complex problems due to changes in habits during the pandemic. This research is  descriptive qualitative research with a literary psychology approach. The theory used is the theory of Problem Solving. This research is a literature study with reading and note-taking techniques for data collection. Data analysis using content analysis. The results of the analysis show that the five main characters of the children in the collection of short stories of Sejuta Anak Banyumas perform positive activities as a form of problem solving in solving the internal problems they face. The five main characters' positive activities are 1) getting closer to God, 2) developing hobbies such as writing fictions and joining organizations, and 3) doing social activities that are beneficial to others.Artikel ini memaparkan problem solving atau pemecahan masalah yang dilakukan oleh tokoh anak selama menghadapi masa pandemi Covid-19 yang tampak dalam kumpulan cerpen Sejuta Cerita Anak Banyumas. Latar belakang penelitian adalah masalah psikologis yang dialami oleh anak karena kehilangan lingkungan sosialnya akibat pandemi Covid-19. Anak-anak mengalami permasalahan yang kompleks karena perubahan kebiasaan di masa pandemi. Oleh karena itu, kemampuan problem solving tokoh anak selama menghadapi masa pandemi Covid-19 menjadi fokus penelitian. Penelitian ini termasuk penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan psikologi sastra. Teori yang digunakan adalah teori Problem Solving. Penelitian ini merupakan penelitian studi pustaka dengan teknik baca dan catat untuk pengumpulan data. Analisis data menggunakan analisis konten. Hasil analisis memperlihatkan bahwa kelima tokoh utama anak dalam kumpulan cerpen Sejuta Cerita Anak Banyumas melakukan aktivitas positif sebagai bentuk problem solving dalam memecahkan masalah internal yang mereka hadapi. Aktivitas positif yang kelima tokoh utama lakukan, yaitu 1) mendekatkan diri pada Tuhan, 2) mengembangkan hobi seperti menulis karya fiksi dan mengikuti organisasi, dan 3) melakukan kegiatan sosial yang bermanfaat bagi orang lain.
PENDEKATAN SOSIOSEMANTIK-LEKSIKAL DALAM PERISTILAHAN PERKEBUNAN TEH Wiwin Erni Siti Nurlina; Lili Dahliani
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.697 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1018

Abstract

The communication of science must be clear so that the concept of science can be understood clearly and precisely. The concept of plantation science can be in the form of a term. Many of the terms in the tea plantation sector are adopted from regional languages, one of which is Sundanese. In this paper, the terminology of the tea plantation field which is often used by Sundanese people is examined. To understand the meaning of these terms, a sociosemantic- lexical approach is used. The studying of meaning on the lingual form of the term includes its meaning related to the meaning of the socio-cultural view of the Sundanese people. The meaning components contained in the term concerned are studied lexically. The method is descriptive qualitative, with the technique of sorting the meaning components and categories. The meaning component consists of a shared meaning component and a specific meaning component that can be identified through a componential analysis. By using sociosemantic-lexical approach, the meaning of the term concerned can be clearly and precisely known. Based on the category, the term plantation is categorized into (i) noun (thing), such as peko, manjing; (ii) verbs (activity) such as ngabentang, mupul, ngodok; and (iii) adjectives (state), such as nyeupan, hiaten. Based on the semantic analysis, the correct meaning of the term will be revealed.The components of social meaning that exist are togetherness and respect.Komunikasi ilmu haruslah jelas agar konsep dapat dipahami dengan pasti. Konsep ilmu perkebunan dapat berupaistilah. Peristilahan pada bidang perkebunan banyak yang diangkat dari bahasa daerah, salah satunya Bahasa Sunda. Pada tulisan ini dikaji peristilahan bidang perkebunan teh yang sering digunakan oleh masyarakat yang berasal dari bahasa Sunda. Untuk memahami makna peristilahan tersebut digunakan pendekatan sosiosemantik-leksikal. Maksudnya, telaah makna pada bentuk lingual istilah dikaji maknanya dengan melibatkan makna pandangan sosial budaya dari masyarakat Sunda. Komponen makna yang terkandung pada istilah yang bersangkutan dikaji secara leksikal. Metode yang digunakan ialah deskriptif kualitatif, dengan teknik pilah komponen makna dan pilah kategori. Komponen makna tersebut terdisi atas komponen makna bersama dan komponen makna spesifik yang dapat diketahu melalui analisis komponen makna (componential analysis). Dengan pendekatan sosiosemantik-leksikal tersebut, dapat diketahui secara jelas dan tepat makna dari istilah yang bersangkutan. Berdasarkan kategorinya, istilah perkebunan teh ada yang berjenis kategori (i) nomina (benda), seperti peko, manjing; (ii) verba (aktivitas) seperti ngabentang, mupul,  ngodok; dan (iii) adjektiva (keadaan), seperti nyeupan, hiaten. Berdasarkan analisis semantiknya, istilah akan terkuak ketepatan maknanya. Komponen makna sosial yang ada yaitu kebersamaan dan rasa hormat.
PERUBAHAN ANTROPONIMI DALAM MASYARAKAT JAWA Dwi Atmawati; Wening Purnami; Arif Izzak
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.02 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.1142

Abstract

This anthroponymic research is focused on studying the proper names of Javanese people living in the Special Region of Yogyakarta (DIY). DIY was designated as the research location because it is one of the places that have historical value in Javanese civilization. In addition, in DIY there is also a palace which is rich in Javanese cultural values. This study aims to determine the proper name contained in DIY, whether there are still retaining Javanese elements or Javanese elements have been lost and replaced with proper names originating from other regions. The theory used in this study is the theory of anthroponymy by Crystal (2008). The data was collected by using the method of documentation, sampling technique, and interviews. This documentation method is used to obtain proper name data from written sources, such as print, electronic, and internet media. The informants were selected based on the criteria of being married and having children; Javanese ethnic; come from low, middle, and high social status. Data analysis used the contextual method. Based on this research, it is known that cultural acculturation and technological advances affect the choice of the proper name for the Javanese people in Yogyakarta. There has been a shift in naming children, from traditional Javanese to 'modern' names and to people's names of Arabic origin.Penelitian antroponimi ini difokuskan pada nama diri orang Jawa yang tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). DIY ditetapkan sebagai lokasi penelitian karena merupakan salah satu tempat yang me-miliki nilai sejarah dalam peradaban Jawa. Selain itu, di DIY juga terdapat keraton yang kaya nilai-nilai budaya Jawa. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan nama diri yang terdapat di DIY, apakah masih ada yang mempertahankan unsur Jawa atau unsur Jawa telah hilang dan diganti dengan nama diri yang berasal dari daerah lain. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori antroponimi oleh Crystal (2008). Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi, teknik sampling, dan wawancara. Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data nama diri dari sumber tulis, seperti media cetak, elektronik, dan internet.  Informan dipilih berdasarkan kriteria sudah menikah dan memiliki anak; bersuku Jawa; berasal dari status sosial rendah, menengah, dan tinggi. Dalam nalisis data digunakan metode kontekstual. Berdasarkan penelitian ini diketahui bahwa akulturasi budaya dan kemajuan teknologi berpengaruh pada pemilihan nama diri pada masyarakat Jawa di DIY. Telah terjadi pergeseran dalam penamaan anak, dari nama tradisional Jawa ke modern dan ke nama orang yang berasal dari bahasa Arab.
MAKNA DALAM TUTURAN DI AKUN INSTAGRAM JOKOWI: PENDEKATAN BEHAVIORISME Eko Purnomo; Miftakhul Huda
Widyaparwa Vol 50, No 2 (2022)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.998 KB) | DOI: 10.26499/wdprw.v50i2.960

Abstract

Meaningful utterance if it has implications for speech partners. This study aims to describe behaviorism meaning in Jokowi’s utterances on Instagram. This study is descriptive qualitative. Data sources are captions on Jokowi’s Instagram, national news sites, and government websites. Data are Jokowi's utterances in the form of captions on Jokowi's Instagram, news, and the government's official website which contain the meaning of behaviorism and people's behavior. Data collection techniques in this study use reading, documentation, and continued note-taking. Data analysis techniques use pragmatic identity method then followed by intertextuality analysis. The results of this study indicate that Jokowi's utterances contain Behaviourism meanings are (1) asking, (2) hoping, (3) optimistic, and (4) reminding. It is possible that Jokowi’s utterances as a president in Indonesia is still being listened to by his subordinates or his people because Jokowi’s utterances are implied and implemented by the intended speech partners.

Page 1 of 2 | Total Record : 15