cover
Contact Name
Julitinus Harefa
Contact Email
missiocristo@gmail.com
Phone
+6282191306517
Journal Mail Official
missiocristo@gmail.com
Editorial Address
Jl. Wonorejo IV No. 58 - 62A Surabaya, 60263
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Missio Cristo
ISSN : 26206633     EISSN : 26566567     DOI : https://doi.org/10.58546
Core Subject : Religion,
Jurnal “Missio-Cristo” merupakan jurnal teologi yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia dan sebagai sarana publikasi hasil penelitian baik di dalam maupun di luar Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia. Jurnal ini memuat artikel yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya dengan ruang lingkup teologi sistematika, biblika, historika, misiologi dan pratikka. Informasi mengenai panduan teknis penulisan artikel dan prosedur penggarapan naskah telah tersedia di pihak penerbit. Proses penanganan naskah melalui tim editor sebagai kelayakkan gaya dan format dan dilanjukkan melalui Peer Review Process sesuai persyaratan dan pedoman penulisan artikel yang baik dan benar. Penerbitan Jurnal ini dilakukan enam bulan sekali, yakni: pada bulan April dan Oktober.
Articles 45 Documents
Ketahanmalangan Misionaris Diladang Misi: Studi Konten Analisis Roma 5:1-5 Yatmini; Rio Janto Pardede; Rajokiaman Sinaga
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Missio-Cristo April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.334 KB) | DOI: 10.58456/jmc.v5i1.21

Abstract

Mission as a very important part in the life of the church and it is the responsibility of believers to do it, especially for those who are truly called. Therefore, missions cannot be carried out by careless people. Because the duties and responsibilities that are borne are full of risks, including lives. This study aims to see the theological principles that must be understood by missionaries, so that they can have the resilience to face the challenges of serving in the mission field. The research method used is content analysis of Romans 5:1-5, which is the theological basis. Based on the results of the content analysis research: 1) missionary resilience is a missionary's fighting value to be able to survive in the difficult situations he experiences in the field of service, 2) the extent to which the biblical principles of missionary resilience are in the mission field, so that they can survive in difficult situations, the missionaries must: a) realize that he is justified by faith in Jesus Christ, b) he lives by grace, c) tribulation will lead to endurance, d) perseverance causes missionaries to endure trials, e) trials lead to stronger hope in Christ, f) belief in Christ will never disappoint even if he will end his life. Abstrak Bahasa Indonesia Misi sebagai bagian yang sangat penting dalam kehidupan bergereja dan merupakan tanggungjawab orang percaya untuk melakukannya, secara khusus bagi mereka yang benar-benar terpanggil. Oleh karena itu, misi tidak dapat dilakukan oleh orang-orang yang sembarangan. Karena tugas dan tanggungjawab yang dipikul penuh dengan resiko, termasuk nyawa. Penelitian ini bertujuan untuk melihat prinsiop-prinsip teologis yang harus dipahami oleh misionaris, sehingga mereka dapat memiliki ketahanmalangan dalam menghadapi tantangan dalam pelayanan di ladang misi. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis isi teks Roma 5:1-5, yang merupakan landasakn teologis. Berdasarkan hasil penelitian analisis isi: 1) ketahanmalangan misionaris adalah suatu nilai juang misionaris untuk dapat bertahan dalam situasi-siatuasi sulit yang dialaminya di ladang pelayanan, 2) sejauhmana Alkitab prinsip-prinsip ketahanmalangan misionaris diladang misi, sehingga dapat bertahan dalam situasi sulit, maka misionaris harus:a) menyadari bahwa dirinya dibenarkan oleh iman kepada Yesus Kristus, b) Ia hidup karena kasih karunia, c) kesesangsaraan akan menimbulkan ketekunan, d) ketekunan menimbulkan misionaris tahan uji, e) tahan uji menimbulkan pengharapanbyang semakin kokoh kepada Kristus, f) keyakinan kepada Kritus tidak akan pernah mengecewakan sekalipun ia akan mengakhiri hidupnya.
Konsep Selibat Pada Masa Intertestamental Dan Tinjauan Teologis Terhadap Selibat Gereja Katolik Thomas Bedjo Oetomo; Ivan Kurniawan Waruwu
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Missio-Cristo April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.78 KB) | DOI: 10.58456/jmc.v5i1.22

Abstract

The church is the body of Christ and Christ is the head of the church. This metaphor of the relationship between the church and Christ, intends to illustrate that the dynamics of church life must be centered on Christ. The church must not put church rules beyond the Bible which is the word of Jesus Christ. The establishment of certain spiritual principles must not undermine other spiritual principles. Celibacy is one of the efforts to uphold the principle of chastity and chastity in fulfilling the calling of service. But if celibacy becomes a law for the ordination of a clergyman, then it can undermine the spiritual principle of building a sacred and lasting home. In the Catholic Church, celibacy is following or practicing what is written in the Bible. But to produce proper application, accurate interpretation is needed. Pay attention to the literal, grammatical, historical, and contextual meaning. Thus, the church can find the meaning intended by the author of the book, not an assumption, whose truth is very subjective. Abstrak Bahasa Indonesia Gereja adalah tubuh Kristus dan Kristus adalah kepala gereja. Metafora relasi antara gereja dengan Kristus ini, hendak menggambarkan bahwa dinamika kehidupan gereja harus berpusat pada Kristus. Gereja tidak boleh meletakkan aturan gereja melampaui Alkitab yang adalah firman Yesus Kristus. Penegakkan prinsip rohani tertentu tidak boleh merusak prinsip rohani yang lain. Selibat adalah salah satu usaha untuk menegakkan prinsip kesucian dan kemurnia dalam memenuhi panggilan pelayanan. Namun jika selibat menjadi suatu undang-undang pentahbisan seorang rohaniwan, maka hal tersebut dapat merusak prinsip rohani membangun rumah tangga yang sakral dan langgeng. Dalam kalangan Gereja Katolik, selibat adalah meneledani atau mempraktekkan apa yang tertulis dalam Alkitab. Tetapi untuk menghasilkan penerapan yang tepat, dibutuhkan interpretasi yang akurat. Memperhatikan arti literalnya, gramatikal, historikalnya, dan kontekstualnya. Dengan demikian, gereja dapat menemukan arti yang dimaksud penulis kitab, bukan sebuah dugaan, yang kebenarannya sangat subyektif.
Adakah Perkawinan Manusia Di Surga Kelak? : (Tanggapan Teologis Terhadap Ajaran Perkawinan di Dunia Yang Akan Datang Versi Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th) Samuel T. Gunawan
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Missio-Cristo April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.024 KB) | DOI: 10.58456/jmc.v5i1.23

Abstract

The research entitled “Will Human Marriage In Heaven Someday? (The Theological Response to the Teaching of Marriage in the World to Come Version Rev. Dr. Erastus Sabdono)” aims to reveal the misinterpretation of Erastus Sabdono which states that there is a possibility of marriage in heaven in the future according to God's pattern (betrothed by God) based on the text of Matthew 22:30. The text of Matthew 22:30 which explicitly rejects the possibility of marriage in heaven has been twisted by Erastus Sabdono to support his view of the possibility of marriage in heaven. To achieve the above objectives, this research uses qualitative research with library research methods, and is supported by descriptive, explanative and evaluative approaches. Based on doctrinal and biblical research on the text of Matthew 22:30, it is clear that Jesus explicitly stated that there would be no marriage in the world to come, not even the possibility! Thus, it can be concluded that Erastus Sabdono's teaching about a future marriage in heaven according to God's pattern (betrothed by God) is an exegetical fallacy that results in a misinterpretation that can result in misleading. Abstrak Bahasa Indonesia Penelitian yang berjudul “Adakah Perkawinan Manusia Di Surga Kelak? (Tanggapan Teologis Terhadap Ajaran Perkawinan Di Dunia Yang Akan Datang Versi Pdt. Dr. Erastus Sabdono, M.Th)” ini bertujuan untuk mengungkap kesalahan tafsir Erastus Sabdono yang menyatakan kemungkinan adanya perkawinan di surga kelak yang sesuai pola Allah (dijodohkan Allah) berdasarkan teks Matius 22:30. Teks Matius 22:30 yang secara eksplisit menolak kemungkinan adanya perkawinan di surga telah diplintir untuk Erastus Sabdono demi mendukung pandangannya tentang adanya kemungkinan perkawinan di surga. Untuk mencapai tujuan tersebut di atas penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan, serta didukung dengan pendekatan deskriptif, eksplanatif dan evaluatif. Berdasarkan penelitian doktrinal dan biblikal terhadap teks Matius 22:30, jeals bahwa Yesus secara eksplisit menyatakan tidak ada perkawinan di dunia yang akan datang, bahkan kemungkinannya pun tidak! Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ajaran Erastus Sabdono tentang adanya perkawinan di surga kelak yang sesuai pola Allah (dijodohkan Allah) adalah sebuah kesalahan eksegetikal (exegetical fallacy) yang menghasilkan kesalahan tafsir (misinterpretation) yang dapat berakibat menyesatkan.
Model Pembelajaran Yesus Berdasarkan Injil Theofilus Sunarto
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Missio-Cristo April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.851 KB) | DOI: 10.58456/jmc.v5i1.24

Abstract

In Matthew 9:11 the Pharisees mention Jesus; "Teacher" ..., they said to Jesus' disciples: "Why does your teacher eat with tax collectors and sinners?". Then in Matthew 17:24 Jesus was again called "teacher" by the tax collector, who said to Peter: "Did teacher not yourpay the two dirhams?". Further in John 3: 2 a Pharisee named Nicodemus called Jesus "teacher", Nicodemus said: "Rabbi, we know that you have come as a teacher sent by God; .....". From this statement, both the Pharisees and the temple tax collectors mention and acknowledge Jesus as a teacher. As a teacher of course Jesus had a model in doing learning to His disciples. Because the learning model is very necessary to achieve an educational goal. The model of Jesus' teaching to His disciples ”which is focused in the four Gospels. By studying Jesus' model of learning, teachers can prepare their learning process well and their educational goals can be achieved. Abstrak Bahasa Indonesia Dalam Kitab Injil Matius 9:11 orang Farisi menyebut Yesus ; “guru” ..., berkatalah mereka kepada murid-murid Yesus: “Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa ?”. Kemudian dalam Matius 17:24 kembali Yesus disebut “guru” oleh pemungut bea Bait Allah, yang berkata kepada Petrus: “Apakah gurumu tidak membayar bea dua dirham itu ?”. Selanjutnya dalam Yohanes 3:2 seorang Farisi yang bernama Nikodemus menyebut Yesus “guru”, Nikodemus berkata: “Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah;.....”. Dari pernyataan tersebut, baik orang Farisi dan juga pemungut bea Bait Allah menyebut serta mengakui bahwa Yesus sebagai guru. Sebagai seorang guru tentu Yesus mempunyai model dalam melakukan pembelajaran kepada murid-murid-Nya. Karena model pembelajaran sangat diperlukan untuk mencapai suatu tujuan pendidikan. Model pembelajaran Yesus kepada murid-murid-Nya” yang difokuskan dalam ke empat Kitab Injil. Dengan mempelajari model pembelajaran Yesus, para pengajar dapat mempersiapkan proses pembelajarannya dengan baik dan tujuan pendidikannya dapat tercapai.
Kerajaan Seribu Tahun Dalam Perspektif Kaum Injili Julitinus Harefa; Meniati Hia
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 1 (2022): Jurnal Missio-Cristo April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.464 KB) | DOI: 10.58456/missiocristo.v5i1.25

Abstract

In the Millennial Era, some Christian theologians have forgotten and abandoned the doctrine of the Millennial Kingdom which in fact was inherited from the early church fathers. Even more, narrowed and sharper differences are caused by this doctrine, thus creating suspicion among the people through hypocritical Bible texts for self-justification. The presence of this scientific work aims to find out again the main points of truth contained in the Thousand Years doctrine written in God's Word. Whether the Millennium Kingdom is an event that will occur in the future or is currently taking place. In hermeneutic language, whether this Millennial Kingdom is literal (literal) or figurative (figuratively). Therefore, to restore the interest of Christian theologians regarding the attitude towards the Millennial doctrine, a comparative study of the three Millennials is needed which will be presented in the following discussion. For the approach to this study, the author uses library research methods. These efforts will provide an overview for readers to determine how to determine which one is closest to and in accordance with Bible truth. Abstrak Bahasa Indonesia Di Era-millenial beberapa teolog Kristen telah melupakan dan meninggalkan doktrin tentang Kerajaan Seribu Tahun yang notabene warisan dari para Bapa-bapa gereja mula-mula. Bahkan semakin mengerucut dan tajam perbedaan yang ditimbulkan oleh doktrin ini, sehingga menciptakan suasana mencurigai diantara umat dengan memunafikkan teks-teks Alkitab demi pembenaran diri. Kehadiran karya ilmiah ini bermaksud untuk merenungkan kembali pokok-pokok kebenaran yang terkandung dalam doktrin Kerajaan Seribu Tahun yang dituliskan dalam Firman Tuhan. Apakah Kerajaan Seribu Tahun merupakan peristiwa yang terjadi diwaktu yang akan datang atau sedang berlangsung. Dalam bahasa hermeneutiknya, apakah Kerajaan Seribu Tahun ditafsirkan secara harafiah (literal) atau Figuratif (kiasan). Oleh sebab itu, untuk mengembalikan minat para teolog Kristen terkait pengambilan sikap yang tepat pada doktin Millenial dibutuhkan studi perbandigan diantara ketiga paham Millenial yang akan dipaparkan pada pembahasan berikutnya. Untuk pendekatan pada kajian ini penulis menggunakan metode penelitian literatur. Upaya tersebut akan memberikan gambaran kepada para pembaca untuk menentukan sikap doktrin mana yang paling mendekati dan sesuai dengan kebenaran Alkitab.
Dilematika Gideon: Makna Pemilihan Hanya 300 Tentara Harman Ziduhu Laia
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 2: Jurnal Missio-Cristo Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58456/missiocristo.v5i2.26

Abstract

God's selection of just 300 men put Gideon in a very difficult faith dilemma, between advancing or retreating in battle against the Midianite army which was many times more numerous. This act of God certainly had significant meaning and purpose for Gideon and his army. These aims and purposes can only be understood and rightly expresses based on a reading of the context of Gideon's own situation, not based on our current context. A reading of the context shows that God had a very clear design and purpose, namely to show Gideon and his men that their victory was entirely due to God's own deeds and power; to make Gideon more trusting and dependent upon God's presence. God's choice of selection criteria for the me also shows that there is an attitude of heart within most men that makes them unfit to fight, and so not needed at the battlefront. ABSTRAK BAHASA INDONESIA  Pemilihan hanya 300 tentara oleh Allah menempatkan Gideon dalam sebuah dilematika iman yang sangat sulit, antara maju atau mundur untuk beperang melawan tentara Midian yang jumlahnya berkali lipat banyaknya itu. Tindakan Allah ini tentu saja memiliki maksud dan tujuan bagi Gideon dan tentaranya. Maksud dan tujuan ini harus diungkapkan berdasarkan pembacaan konteks keadaaan Gideon itu sendiri, bukan berdasarkan pembacaan konteks keadaan masa kini. Dalam pembacaan konteks tersebut menunjukkan bahwa Allah memiliki maksud dan tujuan, yaitu untuk menunjukkan kepada Gideon dan tentaranya bahwa  kemenangan mereka [adalah] oleh karena perbuatan dan kuasa Allah; untuk membuat Gideon lebih mempercayai dan bergantung pada penyertaan Tuhan; penyeleksian tentara menunjukkan adanya sikap hati yang tidak layak di antara mereka untuk berperang, sehingga tidak perlu untuk ikut berperang.
Implementasi Karakter Berdasarkan Galatia 5:22-23 Ke Dalam Tema-Tema Pendidikan Agama Kristen Dan Budi Pekerti Siswa Smp Bhaktiar Sihombing
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 2: Jurnal Missio-Cristo Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58456/missiocristo.v5i2.27

Abstract

This article proposes several characters based on Galatians 5:22-23 that can be implemented into the themes of Christian Religious Education (PAK) or Budi Pekerti that have been determined by the Ministry of Education and Culture (Kemdikbud) of the Republic of Indonesia at the junior high school (SMP) class VII. The type of research method used by the author is descriptive method, namely by discussing the developmental psychology of junior high school students, the themes of PAK and Budi Pekerti according to the Ministry of Education and Culture, exploring character values ​​based on the fruit of the Spirit in Galatians 5:22-23. Then, at the end, the author will implement these character values ​​into the PAK and Budi Pekerti curriculum that has been prepared by the Ministry of Education and Culture (Kemdikbud). ABSTRAK BAHASA INDONESIA Artikel ini mengusulkan beberapa karakter berdasarkan Galatia 5:22-23 yang bisa diimplementasikan ke dalam tema-tema Pendidikan Agama Kristen (PAK) atau Budi Pekerti yang telah ditentukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) Republik Indonesia pada tingkat siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas VII. Adapun jenis metode penelitian yang digunakan oleh penulis adalah metode deskriptif, yaitu dengan membahas tentang psikologi perkembangan siswa SMP, tema-tema PAK dan Budi Pekerti menurut Kemdikbud, penggalian nilai-nilai karakter berdasarkan buah Roh dalam Galatia 5:22-23. Kemudian, pada bagian akhir penulis akan mengimplementasikan nilai-nilai karakter tersebut ke dalam kurikulum PAK dan Budi Pekerti yang telah disusun oleh Kemdikbud.
Makna Pandangan Eskatologi “Premelianisme” Bagi Orang Percaya Masa Kini Thomas Bedjo Oetomo
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 2: Jurnal Missio-Cristo Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58456/missiocristo.v5i2.28

Abstract

The Bible is a source of accurate doctrine. The application of hermeneutic principles by theologians produces views. The dissimilarity in the use of hermeneutic principles results in the alteration of the doctrines that are believed. There is dissimilarity in the doctrine of eschatology among theologians, due to differences in hermeneutic principles in interpreting biblical texts. Discrepancy of theological understanding will also be followed by the diversity of church denominations. Dissimilarity of church doctrine is a necessity and until the second coming of Christ, it is impossible to make similarity. This fact should not keep the church busy seeking to justify its own doctrine and demean the doctrines of other churches. As a result, the church can forget its main mandate, which is to carry out the Great Commission of Christ. ABSTRAK BAHASA INDONESIA Alkitab adalah sumber doktrin yang akurat. Penerapan prinsip hermeneutik oleh para teolog menghasilkan pandangan-pandangan. Disimilaritas penggunaan prinsip hermeneutik mengakibatkan terjadinya alterasi doktrin yang diimani. Adanya disimilaritas doktrin eskatologi di kalangan para teolog, dikarenakan perbedaan prinsip hermeneutik dalam menginterpretasikan teks-teks Alkitab. Diskrepansi paham teologi akan diikuti pula keragaman denominasi gereja. Disimilaritas doktrin gereja adalah sebuah keniscayaan dan sampai kedatangan Kristus kedua kalipun, mustahil untuk dijadikan similaritas. Fakta ini sebaiknya tidak membuat gereja sibuk mencari pembenaran doktrinnya sendiri-sendiri dan merendahkan doktrin gereja-gereja lain. Akibatnya gereja bisa melupakan mandat utamanya, yaitu menyelenggarakan Amanat Agung Kristus.
Hambatan Dan Penyelesaian Penginjilan Di Tengah Masyarakat Multikultural Di Kota Surabaya Teguh Santoso; Erlin Maharani
Jurnal Missio Cristo Vol. 5 No. 2: Jurnal Missio-Cristo Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58456/missiocristo.v5i2.29

Abstract

This research focuses on the challenges and solutians faced in the task of evangelization in a pluralistic society.as part of its main task, the church today still recognizes evangelism as its duty and responsibility. The main problem is how the church increases the effectiveness of evangelism as one of its taks, especially in a pluralistic society, and how the church provides a solution. Evangelism in a pluralistic society especially in large cities is a challenge faced. Whether the church is able toface challenges it finds in plural societies, and how the churh provides a solution. From the results of study it was found that the challenges of evangelism in plural societies include: the existence of exclusive community groups, so that outreach was difficult to do, and the difficulty of establishing cooperation with urban communities was caused by factors such as: high suspicion in a pluralistic society in balancing the demands of life, and urban society. ABSTRAK BAHASA INDONESIA Penelitian ini memaparkan tentang hambatan-hambatan serta cara penyelesaian yang dihadapi dalam melaksanakan tugas penginjilan dalam masyarakat yang bersifat multicultural. Sebagai bagian dari tugas utamanya, gereja masa kini pun masih mengakui penginjilan sebagai tugas dan tanggung jawabnya. Menjadi pokok permasalahannya adalah bagaimana gereja meningkatkan keefektifan penginjilan sebagai salah satu tugasnya, khususnya di tengah masyarakat yang bersifat multikultural. Penginjilan di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk khususnya di kota-kota besar, merupakan tantangan yang harus dihadapi oleh gereja masa kini. Apakah gereja mampu menghadapi tantangan demi tantangan yang ditemukannya di tengah masyarakat multikultural, serta bagaimana cara gereja memberikan jalan keluar. Dari hasil penelitian diketahui bahwa tantangan penginjilan dalam masyarakat multikultural antara lain: adanya kelompok masyarakat yang besifat eksklusif, sehingga penjangkauan sulit dilakukan, serta kesulitan untuk membangun kerja sama dengan masyarakat kota disebabkan oleh faktor-faktor antara lain: Tingginya rasa curiga dalam diri masyarakat, kesibukan masyarakat untuk mengimbangi tuntutan kehidupan, dan masyarakat kota pada umumnya berfikir apakah kerja sama itu akan memberi keuntungkan atau tidak sama sekali baginya.
Frasa “Menjadi Hamba Kebenaran” Dalam Roma 6: 15-23 Dan Implikasinya Bagi Orang Percaya Masa Kini Geraldi Carlitos; Elisua Hulu
Jurnal Missio Cristo Vol. 2 No. 2: Jurnal Missio-Cristo Oktober 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sola Gratia Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58456/missiocristo.v5i2.33

Abstract

Kontras antara hamba dosa dan hamba kebenaran dalam Roma 6:15-23 muncul berkali-kali. Ini merupakan sebuah penekanan. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa setiap manusia hanya diperhadapkan pada dua pilihan yang eksklusif satu sama lain. Tidak memilih yang satu berarti memilih yang lain, begitu pula sebaliknya. Tidak ada netralitas. Keengganan untuk menjadi hamba kebenaran bukan menuju pada netralitas, melainkan pada perbudakan dosa. Hamba kebenaran atau hamba dosa. Kehidupan atau kematian. Pengudusan atau kecemaran. Manusia tidak memiliki jalan alternatif di dalam hidupnya.