cover
Contact Name
Nur Asni Setiani
Contact Email
nur.asni@stfi.ac.id
Phone
+6285718360277
Journal Mail Official
jurnal@stfi.ac.id
Editorial Address
Gedung 1 Kampus Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia Jl. Soekarno Hatta no. 354 (Parakan Resik) Bandung, 40266 West Java, Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi Indonesia
ISSN : 23032138     EISSN : 2830201X     DOI : http://dx.doi.org/10.58327/jstfi
Core Subject : Health, Science,
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA (P-ISSN: 2303-2138) is open access and peer-reviewed (double-blind) Scientific Journal that publishes all research articles/reviews/ short communication related to the pharmacy research. The focus of JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA is to publish articles in pharmacy. Scope of this journal are: 1. Pharmacology, 2. Pharmaceutical biology, 3. Pharmacy, 4. Pharmaceutical chemistry, 5. Community pharmacy, 6. Biotechnology and biomolecular sciences.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2022)" : 5 Documents clear
GAMBARAN PENGETAHUAN STUNTING PADA IBU HAMIL DAN IBU MENYUSUI DI PUSKESMAS CIJAGRA LAMA Sari, Nia Kurnia; Ismayadi, Pupung; Fauzi, Novi Irwan; Gindani, Jeanice Fitria
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (433.256 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.170

Abstract

Stunting merupakan suatu kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis khususnya pada 1.000 hari pertama kehidupan sehingga anak menjadi sangat pendek pada usianya.   Data Dinas Kesehatan Kota Bandung tahun 2019 menunjukkan bahwa Kecamatan Lengkong memiliki prevalensi tertinggi persentase balita stunting sebesar 14,35%, sebanyak 390 balita. Kecamatan Lengkong termasuk wilayah binaan Puskesmas Cijagra Lama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan stunting pada ibu hamil dan ibu menyusui di Puskesmas Cijagra Lama. Penelitian menggunakan metode cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 98 orang ibu hamil dan 90 orang ibu menyusui. Pengambilan sampel secara purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner sebelum dan sesudah penyuluhan, membagikan brosur edukasi, kemudian data dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan stunting pada responden ibu hamil sebelum diberikan penyuluhan dengan kategori baik, cukup, dan kurang adalah 28%, 60%, dan 12%. Setelah diberikan penyuluhan terjadi peningkatan kategori baik, cukup dan kurang  menjadi 72%, 25%, dan 3%. Tingkat pengetahuan responden ibu menyusui sebelum diberikan penyuluhan, kategori baik, cukup dan kurang adalah  47%, 40%, dan 13%. Setelah diberikan penyuluhan terjadi peningkatan kategori baik, cukup dan kurang menjadi 82%, 17%, dan 1%. Kesimpulan : Pemberian informasi dan edukasi memberikan dampak baik pada ibu hamil dan ibu menyusui.
Pengaruh Waktu dan Suhu Penyimpanan Terhadap Kadar Amoksisilin dan Asam Klavulanat dari Produk Ruahan (Bulk) Sirup Kering Co-Amoxiclav Sundalian, Melvia; Husein, Sri Gustini; Ayuningtyas, Vidya Putri Putri
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (649.367 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.177

Abstract

Co-Amoxiclav merupakan antibiotik kombinasi antara amoksisilin dan asam klavulanat yang digunakan untuk mengatasi infeksi akibat bakteri yang sudah resisten terhadap amoksisilin tunggal. Amoksisilin dan asam klavulanat memiliki gugus cincin β-laktam yang mudah terhidrolisis jika kondisi penyimpanan tidak sesuai. Untuk itu dilakukan monitoring kadar amoksisilin dan asam klavulanat pada produk ruahan saat proses penyimpanan selama proses produksi berlangsung. Waktu dan suhu penyimpanan mempengaruhi penurunan kadar zat aktif dalam produk ruahan. Penentuan kadar dilakukan dengan metode KCKT (Kromatografi Cair Kinerja Tinggi) dengan fase gerak metanol : NaH2PO4 0,05 M (10:90) dengan fase diam kolom inertsil ODS 4 ukuran 150 x 4,6 mm 5 µm, laju alir 1,0 mL/menit dengan volume injek 20 µl pada panjang gelombang 220 nm. Sampel produk ruahan ini disimpan pada suhu chiller (2-8°C), suhu AC 24 jam (16-25°C) dan suhu ambient (< 30°C) selama 12 hari dengan waktu pengujian pada hari ke-0, 4, 8 dan 12. Penurunan kadar amoksisilin dan asam klavulanat yang paling signifikan terjadi pada suhu ambient (< 30°C), sedangkan kondisi penyimpanan yang paling stabil terhadap kadar amoksisilin dan asam klavulanat yaitu pada suhu chiller (2-8°C). Lama penyimpanan produk ruahan yang disarankan tidak lebih dari 4 hari.
FORMULASI KRIM ANTIOKSIDAN EKTRAK ETANOLIK KULIT BUAH RAMBUTAN (Nephelium lappaceum L.) putri, yola desnera; Setyani, Fitri; Kartamihardja, Haruman
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.228 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.178

Abstract

Sinar biru saat penggunaan layar perangkat digital berbahaya untuk kesehatan kulit manusia karena memicu pembentukan radikal bebas reactive oxygen species (ROS) pada kulit yang mengakibatkan kolagen dan sel kulit rusak sehingga terjadi penuaan dini. Hasil penelitian sebelumnya menunjukan bahwa ekstrak etanol kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.) mengandung senyawa flavonoid yang memiliki aktivitas antioksidan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai IC50 ekstrak kulit buah rambutan dan nilai IC50 krim ekstrak kulit buah rambutan, membuat formulasi krim ekstrak kulit buah rambutan sebagai antioksidan dengan tiga konsentrasi polietilenglikol 1000 yang berbeda F1(0%), F2 (1%), dan F3 (0,5%) serta mengetahui nilai IC50 nya dan mengetahui kesetabilan sediaan tersebut. Ekstrak kulit rambutan dan sediaan krim ekstrak kulit rambutan diuji aktivitas antioksidanya dengan menggunakan metode penangkapan radikal 1,1-diphenyl-2-pikrilhidrazil (DPPH). Hasilnya menunjukan bahwa nilai IC50 ekstrak kulit buah rambutan sebesar 1,511 µg/mL dan nilai IC50 krim hari kesatu pada F1, F2, F3 secara berturut - turut sebesar 83,125 µg/mL, 750 µg/mL, 556,667 µg/mL. Pada hari ke 28 nilai IC50 pada F1 meningkat sebesar 103,333 µg/mL. Hasil uji stabilitas ketiga formula stabil dalam segi konsistensi, pH, bau, dan warna, selama penyimpanan 28 hari.
OPTIMASI EKSPRESI SCFV-BAD ANTI-NS1 VIRUS DENGUE PADA ESCHERICHIA COLI ORIGAMI MENGGUNAKAN RESPONSE SURFACE METHOD Astriany, Dewi; Effendi, Syulastri; Febriani Aji Kusuma, Sherlynda; Kusumawardhani, Shinta; Permana Maksum, Iman; Natalia, Dessy; Subroto, Toto
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.556 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.183

Abstract

Dengue merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan di dunia. Manifestasi klinis infeksi dengue sulit dibedakan dengan penyakit infeksi lainnya. Uji diagnostik infeksi virus dengue yang cepat dan akurat sangat diperlukan untuk konfirmasi penyakit dan penanganan pasien yang tepat. NS1 adalah glikoprotein yang paling imunogenik dan lestari, disekresikan ke dalam aliran darah. Oleh karena itu, pemeriksaan antigen dari virus dengue NS1 telah diidentifikasi sebagai salah satu penanda spesifik dalam uji diagnostik laboratorium, yang dapat digunakan untuk mendeteksi infeksi dengue primer atau sekunder pada stadium awal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kondisi optimum ekspresi protein fusi scFv-BAD rekombinan untuk deteksi antigen NS1 virus dengue menggunakan Response Surface Method. Ekspresi protein diinduksi oleh berbagai konsentrasi IPTG (0,1, 0,5, dan 1 mM) pada beberapa suhu selama 18 jam dalam medium Luria Bertani dengan penambahan biotin. ScFv terbiotinilasi rekombinan yang dimurnikan dikarakterisasi dengan metode SDS-PAGE. Hasil penelitian menunjukkan bahwa protein fusi scFv-BAD rekombinan sebagian berada dalam bentuk terlarut dan sebagian berupa badan inklusi. Analisis Central Composite Design menunjukkan bahwa konsentrasi IPTG yang sesuai untuk memproduksi protein scFv rekombinan adalah 0,5 mM pada suhu 28 ºC pada media Luria Bertani.
PERBANDINGAN METODE FERMENTASI, EKSTRAKSI, DAN KEPOLARAN PELARUT TERHADAP KADAR TOTAL FLAVONOID DAN STEROID PADA DAUN SUKUN (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg) Riasari, Hesti; Fitriansyah, Sani Nurlaela; Hoeriah, Irna Siti
JURNAL SAINS DAN TEKNOLOGI FARMASI INDONESIA Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.089 KB) | DOI: 10.58327/jstfi.v11i1.165

Abstract

Daun sukun mengandung metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, kuinon, dan steroid1. Proses biosintetik dapat menyebabkan perubahan warna, kandungan, dan jenis kandungan yang ada pada daun sukun. penelitian menggambarkan konsentrasi total metabolit sekunder yang dipisahkan berdasarkan polaritas pelarut dan metode ekstraksi. Proses biosintetik adalah fermentasi daun hijau segar menjadi daun hijau fermentasi (HF) melalui metode fermentasi aerob dan anaerob. Ekstraksi dilakukan dengan dua metode yaitu metode panas (sokletasi) dan metode dingin (maserasi) untuk membandingkan metode ekstraksi yang lebih baik. Ekstraksi dilakukan dengan kepolaran bergradasi menggunakan pelarut N-heksana, etil asetat, dan etanol. Ekstraksi kepolaran bertingkat akan menghasilkan senyawa-senyawa tertentu yang terpisah secara spesifik pada setiap pelarut yang digunakan, oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data ilmiah mengenai pengaruh metode fermentasi, metode ekstraksi, dan gradien polaritas pelarut terhadap kandungan flavonoid dan steroid total ekstrak daun. . sukun (Artocarpus altilis (Parkinson) Fosberg). Hasil kandungan flavonoid total tertinggi adalah ekstrak etil asetat dari daun sukun fermentasi aerobik dengan metode maserasi 0,3054 g QE/100g dan kandungan steroid total tertinggi pada ekstrak N-heksana dari daun sukun fermentasi aerobik maserasi 0 , 1169g/100g. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode ekstraksi terbaik untuk menentukan kadar total flavonoid dan steroid adalah metode maserasi. Sedangkan polaritas pelarut yang baik untuk penentuan kadar flavonoid total adalah etil asetat aerobik, dan N-heksana aerobik untuk penentuan kadar steroid total, metode fermentasi yang efektif dalam meningkatkan kadar metabolit sekunder pada daun sukun adalah metode fermentasi aerobik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5