cover
Contact Name
Alwan Wibawanto
Contact Email
alwan@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285228111066
Journal Mail Official
pustakaloka@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Pramuka No. 156 Po. Box. 116 Ponorogo 63471, Jawa Timur, Indonesia
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
Pustakaloka: Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan
ISSN : 20852118     EISSN : 25024108     DOI : https://doi.org/10.21154/pustakaloka
Core Subject : Science, Social,
PUSTAKALOKA: Jurnal Kajian Informasi & Perpustakaan is a peer-reviewed journal taken from the library of IAIN Ponorogo on Information and Library Science. PUSTAKALOKA is published twice annually (June and December) by the journal editors from the Library IAIN Ponorogo in cooperation with the Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) Jawa Timur. Every received article will be reviewed by the journal editors and external editors and reviewers who are competent in each related field. The review uses double-blind peer review before the journal is published. PUSTAKALOKA will publish selected paper under a Creative Commons Attribution ShareAlike 4.0 International License. And, every article is free of charge for authors and readers.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 15 No. 1 (2023)" : 11 Documents clear
Praktik Literasi Digital dalam Membangun Literasi Akademik: Studi di UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Ulumi, Bahrul -; Azka, Muhammad Mikail
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5841

Abstract

Abstract: This research examines students' digital literacy practices in developing academic literacy while they are studying with online, offline, or blended methods. It uses a qualitative method with a case study approach to explore experiences, feelings, and also the development of certain phenomena during the Covid 19 pandemic occured. The main data collection was obtained from observations, documents, in-depth interviews with informants who had used UIN Walisongo central library information services, and students’written asignments. The results show that they have expertise in digital literacy or are called literate in using tools or applications used in lectures. They don't find it difficult to adapt to all tools. Evidently, they can dig up sources of scientific information provided by libraries or other sources. Student expertise in mastering digital literacy is crucial to have academic literacy skills. This is very justified because the strengthening of academic literacy skills is supported by mastery of digital literacy. However, their academic literacy related to scientific writing skills is problematic. This is indicated by the tendency of the percentage of similarity check results to be divided into two major groups, namely the range of 0 to 7% and 47 to 99%.Keywords: academic libraries, McClelland theory of motivation; Zotero class;Abstrak: Penelitian ini mengkaji praktik literasi digital mahasiswa dalam mengembangkan literasi akademik selama mereka belajar dengan metode daring, luring, atau blended. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi pengalaman, perasaan, dan juga perkembangan fenomena tertentu selama pandemi Covid 19 terjadi. Pengumpulan data utama diperoleh dari observasi, dokumen, wawancara mendalam terhadap informan yang pernah menggunakan layanan informasi perpustakaan pusat UIN Walisongo, dan tugas tertulis mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka mempunyai keahlian dalam literasi digital atau disebut literate dalam menggunakan alat atau aplikasi yang digunakan dalam perkuliahan. Mereka tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan segala alat. Terbukti, mereka bisa menggali sumber informasi ilmiah yang disediakan perpustakaan atau sumber lainnya. Keahlian mahasiswa dalam menguasai literasi digital sangat penting dalam konteks kemampuan literasi akademik. Hal ini sangat beralasan karena penguatan kemampuan literasi akademik ditopang oleh penguasaan literasi digital. Namun literasi akademik mereka terkait keterampilan menulis ilmiah masih bermasalah. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan persentase hasil pemeriksaan kemiripan terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu rentang 0 hingga 7% dan 47 hingga 99%.Kata kunci: kelas Zotero; perpustakaan perguruan tinggi; teori motivasi McClelland
Distinction of Millennials and Generation Z Islamic Literacy: A Comparative Study of Reading Preferences at UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5905

Abstract

Abstract: The characteristics of the generation are related to the side of Islamic behavior that they should adhere to. We can analyze the selection of literacy commonly used in studying Islam. However, the challenge is increasing the prevalence of various literacy that does not introduce tolerance and diversity, even leading to radicalism. Therefore, mapping the relationship between generation categories and literacy selection is used, especially in the Higher Education environment, considering its role as a center for knowledge development. Through the mixed method, this study tries to compare the use of literacy between 2 different generations, namely Millennial and Z, at UIN Sayyid Ali Rahmatullah. The results of this study show that first, Millennials tend to use gadgets to obtain Islamic knowledge compared to Generation Z, who prefer to learn Islam face-to-face or in person. Second, Gen Z finds less radical content than millennials, who show how their interest in the issue of radicalism is lower as a form of their apathy on the issue. Third, Gen Z is more acknowledging that they know what kind of Islamic content to avoid than Gen Y, but this is just a matter of the general meaning of their version of radicalism rather than specific to characters, books, or other sources that should be avoided.Keywords: Gen Z , Islamic literacy, MillennialAbstrak: Karakteristik generasi berhubungan dengan sisi perilaku keislaman yang seharusnya mereka anut. Hal itu bisa kita analisis pemilihan literasi yang biasa dipakai dalam mempelajari Islam. Namun demikian, tantangan saat ini mengarah pada makin maraknya berbagai literasi yang tidak memperkenalkan toleransi dan keberagaman bahkan mengarah pada radikal. Oleh karena itu, pemetaan hubungan antara kategori generasi dengan pemilihan literasi yang dipakai terutama di lingkungan Perguruan Tinggi, perlu dilakukan mengingat perannya sebagai pusat berkembangan pengetahuan. Melalui metode mix method, penelitian ini mencoba untuk membandingkan penggunaan literasi yang digunakan antara 2 generasi yang berbeda yaitu Millenial dan Z, di UIN Sayyid Ali Rahmatullah sebagai salah satu PTKIN terbesar di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan yaitu pertama, milenial memang cenderung suka menggunakan gadget dalam memperoleh pengetahuan keislaman dibanding generasi Z yang lebih menyukai belajar islam via tatap muka atau langsung. Kedua, Gen Z lebih jarang menemukan konten yang berbau radikal dibanding milenial dimana menunjukkan bagaimana ketertarikan mereka terhadap isu radikalisme lebih rendah sebagai wujud apatisme mereka pada isu tersebut. Ketiga, Gen Z lebih mengakui bahwa mereka tahu konten keislaman seperti apa yang harus dihindari dibanding Gen Y, akan tetapi hal ini hanya sekedar secara umum arti radikal versi mereka bukan spesifik pada tokoh, buku ataupun sumber lainnya yang seharusnya dihindari.Kata Kunci: Gen Z, Literasi keislaman, Milenial, 
Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Budaya Literasi Mahasiswa PAI di Universitas Ahmad Dahlan Erchan, Nadya; Masduki, Yusron
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5717

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to determine the role of the library in increasing the literacy culture of Islamic Religious Education students at Ahmad Dahlan University Yogyakarta, starting from an overview of the literacy culture of Islamic Religious Education students, then the efforts of the library in improving literacy culture as well as the inhibiting and supporting factors influencing the efforts of the library in improving the literacy culture of Islamic Religious Education students. Qualitative methods with a case study approach orCase Studies, The samples in this study were from campus 4 and campus 6 library staff as well as 8 Islamic Religious Education students of Jogja and Wates in 2019-2022. The results of the research shows that the role of the library in increasing the literacy culture is as a mediator and facilitator who provides programs and services so that it can support literacy cultural activities in the library but the cultural description of literacy of Islamic Religious Education students in 2022 is still classified as This can be proven through the intensity of visits by Islamic Religious Education students, namely only around 3-4 students out of a total of 932 Islamic Religious Education students from the 2019-2022 class and student interest in utilizing library services and programs in enhancing the literacy culture presented by the library has not done it optimally. The supporting factors are the procurement of relevant library materials and the inhibiting factors that exist in students, namely the lack of motivation and enthusiasm.Keywords : Library, Culture of Literacy, Islamic Religious Education Students Abstrak: Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peran perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, mulai dari gambaran budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam, kemudian upaya perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi serta faktor penghambat dan faktor pendukung yang mempengaruhi upaya perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus atau Case Studies. Sampel dalam penelitian ini berasal dari staf perpustakaan kampus 4 dan kampus 6 serta 8 mahasiswa Pendidikan Agama Islam Jogja dan Wates Tahun 2019-2022. Hasil dari penelitian yang dilaksanakan menunjukkan bahwa peran perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ialah sebagai mediator dan fasilitator yang menyediakan program dan layanan sehingga dapat mendukung kegiatan budaya literasi di perpustakaan namun gambaran budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam pada tahun 2022 masih tergolong rendah hal ini dapat dibuktikan melalui intensitas kunjungan mahasiswa Pendidikan Agama Islam yaitu hanya berkisar 3-4 mahasiswa dari jumlah 932 mahasiswa Pendidikan Agama Islam Angkatan Tahun 2019-2022 dan minat mahasiswa dalam memanfaatkan layanan dan program perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi yang disajikan oleh pihak perpustakaan belum dilakukan secara maksimal. Adapun faktor pendukung berupa pengadaan bahan pustaka yang relevan serta faktor penghambat yang ada pada mahasiswa yaitu kurangnya motivasi dan semangat.Kata Kunci : Perpustakaan, Budaya Literasi, Mahasiswa PAI 
Keterampilan Interpersonal sebagai Modal Kultural dalam Menghadapi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Enlevi, Silva; Masruri, Anis
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5586

Abstract

Abstract: Interpersonal skills are one of the mandatory assets that librarians must have to be able to carry out the Social Inclusion-Based Library Transformation program, because in its concept, social inclusion is closely related to library relations with the community. This study aims to find out why interpersonal skills become cultural capital in the Social Inclusion-Based Library Transformation program. This research uses a literature review design which is carried out by reviewing, summarizing, and pouring the thoughts of researchers from several library materials such as books and journals. The result of this research is that so far the library has a program with a brilliant idea but it is not achieved well because of the librarian's inability to communicate it. Thus, interpersonal skills are very important The TPBIS program is carried out as planned. Based on Pierre Bourdieu's capital practice, there are four capitals to achieve goals, namely economic capital, cultural capital, social capital, and cultural capital. Interpersonal skills are cultural capital. With one cultural capital, he can automatically attract three other capitals because Bourdieu's capital practice has a butterfly effect that can bind the other three capitals. Keywords: Interpersonal skills; Librarian; Social Inclusion-Based Library Transformation; Cultural Capital. Abstrak: Keterampilan interpersonal merupakan salah satu modal wajib yang harus dimiliki pustakawan untuk dapat melaksanakan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, karena dalam konsepnya, inklusi sosial sangat erat kaitannya dengan hubungan perpustakaan terhadap masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa keterampilan interpersonal menjadi modal kultural di dalam program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Penelitian ini menggunakan desain kajian literatur (literature review) yang dilakukan dengan cara mengulas, merangkum, dan menuangkan pemikiran peneliti yang berasal dari beberapa bahan pustaka seperti buku dan jurnal. Hasil dari penelitian ini adalah selama ini perpustakaan mempunyai program dengan ide brilian akan tetapi tidak tercapai dengan baik karena ketidakcakapan pustakawan di dalam mengkomunikasikannya. Maka, keterampilan interpersonal menjadi sangat penting agar Program TPBIS terlaksana sesuai rencana. Berdasarkan praktik modal Pierre Bourdieu terdapat empat modal untuk mencapai tujuan yakni modal ekonomi, modal kultural, modal sosial, dan modal kultural. Keterampilan interpersonal merupakan modal kultural. Dengan satu modal kultural, maka ia secara otomatis dapat menarik tiga modal lainnya karena praktik modal Bourdieu mempunyai butterfly effect yang mampu mengikat tiga modal lainnya.Kata Kunci: keterampilan interpersonal; pustakawan;  transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial; modal kultural.
Peran Perpustakaan dalam Meningkatkan Budaya Literasi Mahasiswa PAI di Universitas Ahmad Dahlan Erchan, Nadya; Masduki, Yusron
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5717

Abstract

Abstract: The purpose of this research is to determine the role of the library in increasing the literacy culture of Islamic Religious Education students at Ahmad Dahlan University Yogyakarta, starting from an overview of the literacy culture of Islamic Religious Education students, then the efforts of the library in improving literacy culture as well as the inhibiting and supporting factors influencing the efforts of the library in improving the literacy culture of Islamic Religious Education students. Qualitative methods with a case study approach orCase Studies, The samples in this study were from campus 4 and campus 6 library staff as well as 8 Islamic Religious Education students of Jogja and Wates in 2019-2022. The results of the research shows that the role of the library in increasing the literacy culture is as a mediator and facilitator who provides programs and services so that it can support literacy cultural activities in the library but the cultural description of literacy of Islamic Religious Education students in 2022 is still classified as This can be proven through the intensity of visits by Islamic Religious Education students, namely only around 3-4 students out of a total of 932 Islamic Religious Education students from the 2019-2022 class and student interest in utilizing library services and programs in enhancing the literacy culture presented by the library has not done it optimally. The supporting factors are the procurement of relevant library materials and the inhibiting factors that exist in students, namely the lack of motivation and enthusiasm.Keywords : Library, Culture of Literacy, Islamic Religious Education Students Abstrak: Adapun tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peran perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, mulai dari gambaran budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam, kemudian upaya perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi serta faktor penghambat dan faktor pendukung yang mempengaruhi upaya perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus atau Case Studies. Sampel dalam penelitian ini berasal dari staf perpustakaan kampus 4 dan kampus 6 serta 8 mahasiswa Pendidikan Agama Islam Jogja dan Wates Tahun 2019-2022. Hasil dari penelitian yang dilaksanakan menunjukkan bahwa peran perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ialah sebagai mediator dan fasilitator yang menyediakan program dan layanan sehingga dapat mendukung kegiatan budaya literasi di perpustakaan namun gambaran budaya literasi mahasiswa Pendidikan Agama Islam pada tahun 2022 masih tergolong rendah hal ini dapat dibuktikan melalui intensitas kunjungan mahasiswa Pendidikan Agama Islam yaitu hanya berkisar 3-4 mahasiswa dari jumlah 932 mahasiswa Pendidikan Agama Islam Angkatan Tahun 2019-2022 dan minat mahasiswa dalam memanfaatkan layanan dan program perpustakaan dalam meningkatkan budaya literasi yang disajikan oleh pihak perpustakaan belum dilakukan secara maksimal. Adapun faktor pendukung berupa pengadaan bahan pustaka yang relevan serta faktor penghambat yang ada pada mahasiswa yaitu kurangnya motivasi dan semangat.Kata Kunci : Perpustakaan, Budaya Literasi, Mahasiswa PAI 
Studi Perbandingan Antara Taman Bacaan Masyarakat “Ngudi Kawruh” dan “Guyub Rukun” dalam Peningkatan Literasi Arianto, Muhammad Solihin; Pamungkas, Octia Putri
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5769

Abstract

Abstract: This research is aimed to study how the comparison between the “Ngudi Kawruh” and “Guyub Rukun” Community Reading Centre in literation. The research method used in this research is interview, observation, and documentation. Data validity test in this research uses source and technique triangulation. Moreover, data analysis used is Miles and Huberman model. The research finds that the activities of literation in the “Ngudi Kawruh” Community Reading Centre are more than the “Guyub Rukun” in terms ofthe 6 (six) dimensions of literation as mentioned in the theory. The “Ngudi Kawruh”meets all the 6 (six) dimensions of literation,meanwhile the Guyub Rukun only has 5 (five) dimensions of literation, those are reading and writing literation, science literation, digital literation, financial literation, and cultural and citizenship literation.Keywords: Comparative Study, Community Reading Centre, Literation Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana perbandingan antara TBM Ngudi Kawruh dan TBM Guyub Rukun dalam literasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Untuk pengumpulan data, metode yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian, uji keabsahan data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Sedangkan analisis data yang diterapkan dalam penelitian ini merujuk kepada model Miles dan Huberman. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa dari 6 (enam) dimensi literasi yang digunakan sebagai rujukan teori, kegiatan literasi TBM Ngudi Kawruh lebih banyak dibandingkan TBM Guyub Rukun. Jika TBM Ngudi Kawruh memenuhi 6 (enam) dimensi literasi tersebut, maka TBM Guyub Rukun hanya mencakup 5 (lima) dimensi dari 6 dimensi literasi yaitu literasi baca tulis, literasi sains, literasi digital, literasi finansial serta literasi budaya dan kewargaan.Kata Kunci    : Studi Perbandingan, Taman Bacaan Masyarakat, Literasi
Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Untuk Menciptakan Knowledge Society Hamida, Nurul Atik; Sein, Lau Han
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5808

Abstract

Abstract: The existence of libraries as centers for empowerment and self-development is often overlooked by the community. Libraries need to undergo a transformation into social inclusion-based libraries, meaning they become part of creating a knowledge society, thus raising the quality of life for the community. This research aims to analyze the transformation of social inclusion-based libraries that can create a knowledge society. The research approach used is qualitative with a literature review.The results of this research show that the transformation of social inclusion-based libraries significantly contributes to creating a knowledge society through the activation of literacy culture among all segments of society. Literacy here is not only about reading, writing, and arithmetic skills but also involves cognitive skills that underpin an individual's ability to think critically and logically, enabling them to acquire knowledge that can be used to develop their potential and talents.With a basis in social inclusion, libraries can become open spaces for all layers of society, thus creating a knowledge society with two orientations: outcome orientation, which focuses on the impact of events in society, and service orientation, which places greater emphasis on the humanistic approach and social approach.Keywords : knowledge society; library ; social inclusion Abstrak: Keberadaan perpustakaan sebagai pusat pemberdayaan dan pengembangan diri masih seringkali dihiraukan keberadaannya oleh masyarakat. Perpustakaan harus melakukan transformasi menjadi perpustakaan berbasis inklusi sosial artinya menjadi bagian dalam menciptakan knowledge society sehingga taraf kehidupan masyarakat menjadi meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial yang dapat menciptakan knowledge society (masyarakat yang berpengetahuan). Adapun pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan tinjauan kepustakaan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial berkontribusi besar dalam menciptakan knowledge society melalui pengaktifan budaya literasi di semua kalangan. Literasi yang tidak hanya berupa kemampuan baca, tulis, dan hitung, akan tetapi juga memberikan kemampuan terkait aspek cognitive skills yang melandasi seseorang agar mampu berpikir kritis dan logis sehingga mempunyai pengetahuan yang dapat digunakan untuk mengembangkan potensi serta talenta mereka. Dengan basis inklusi sosial, perpustakaan mampu menjadi ruang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat sehingga menciptakan knowledge society dengan dua orientasi yaitu orientasi pada outcame (dampak) tertentu yang terjadi di masyarakat dan orientasi pelayanan yang lebih menekankan pada humanistic approach  dan social approach.Kata Kunci : inklusi sosial; knowledge society; perpustakaan
Praktik Literasi Digital dalam Membangun Literasi Akademik: Studi di UPT Perpustakaan Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang Ulumi, Bahrul -; Azka, Muhammad Mikail
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5841

Abstract

Abstract: This research examines students' digital literacy practices in developing academic literacy while they are studying with online, offline, or blended methods. It uses a qualitative method with a case study approach to explore experiences, feelings, and also the development of certain phenomena during the Covid 19 pandemic occured. The main data collection was obtained from observations, documents, in-depth interviews with informants who had used UIN Walisongo central library information services, and students’written asignments. The results show that they have expertise in digital literacy or are called literate in using tools or applications used in lectures. They don't find it difficult to adapt to all tools. Evidently, they can dig up sources of scientific information provided by libraries or other sources. Student expertise in mastering digital literacy is crucial to have academic literacy skills. This is very justified because the strengthening of academic literacy skills is supported by mastery of digital literacy. However, their academic literacy related to scientific writing skills is problematic. This is indicated by the tendency of the percentage of similarity check results to be divided into two major groups, namely the range of 0 to 7% and 47 to 99%.Keywords: academic libraries, McClelland theory of motivation; Zotero class;Abstrak: Penelitian ini mengkaji praktik literasi digital mahasiswa dalam mengembangkan literasi akademik selama mereka belajar dengan metode daring, luring, atau blended. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk mengeksplorasi pengalaman, perasaan, dan juga perkembangan fenomena tertentu selama pandemi Covid 19 terjadi. Pengumpulan data utama diperoleh dari observasi, dokumen, wawancara mendalam terhadap informan yang pernah menggunakan layanan informasi perpustakaan pusat UIN Walisongo, dan tugas tertulis mahasiswa. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka mempunyai keahlian dalam literasi digital atau disebut literate dalam menggunakan alat atau aplikasi yang digunakan dalam perkuliahan. Mereka tidak merasa kesulitan untuk beradaptasi dengan segala alat. Terbukti, mereka bisa menggali sumber informasi ilmiah yang disediakan perpustakaan atau sumber lainnya. Keahlian mahasiswa dalam menguasai literasi digital sangat penting dalam konteks kemampuan literasi akademik. Hal ini sangat beralasan karena penguatan kemampuan literasi akademik ditopang oleh penguasaan literasi digital. Namun literasi akademik mereka terkait keterampilan menulis ilmiah masih bermasalah. Hal ini ditunjukkan dengan kecenderungan persentase hasil pemeriksaan kemiripan terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu rentang 0 hingga 7% dan 47 hingga 99%.Kata kunci: kelas Zotero; perpustakaan perguruan tinggi; teori motivasi McClelland
Kebutuhan Informasi Narapidana Narkotika dalam Proses Rehabilitasi Sosial di Lembaga Permasyarakatan Kelas I Tangerang Nuristia, Maghfira; Azwar, Muhammad
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5861

Abstract

Abstract: Drugs abuse occurs based on the awareness of the perpetrator. Understanding of narcotics, legal norms, and even knowledge about oneself is the cause of narcotics abuse. Library materials can be a means in the rehabilitation process for narcotics prisoners in Correctional Institutions. This study employs descriptive method with qualitative approach, the main objective of this study is to find out   information needs of narcotics inmates at Tangerang Class I Penitentiary. As for the data collection technique, the researcher uses observations, interviews with seven informants, and documentation in order to obtain the data. The results shows that reason of drugs abuse is caused by three factors, i.e. personality factors, educational factors, and spanning population factors. Narcotic inmates need information with subjek fiction, religious, and general. Currently, the procurement of library materials in library is obtained only through grants from the National Library and the Regional Library of Tangerang City. The results of this study can be used as reference for conducting library books and library activities in the Library of Tangerang Class I Penitentiary in Tangerang.Keywords: information needs; narcotics inmates; social rehabilitation; Tangerang class I penitentiaryAbstrak: Penyalahgunaan narkotika terjadi berdasarkan kesadaran pelaku. Pemahaman mengenai narkotika, norma hukum, bahkan pengetahuan mengenai diri sendiri menjadi penyebab penyalahgunaan narkotika. Bahan perpustakaan dapat menjadi sarana dalam proses rehabilitasi narapidana narkotika di Lembaga Permasyarakatan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan mengetahui jenis kebutuhan informasi narapidana narkotika di Lembaga Permasyarakatan. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah observasi, wawancara dengan tujuh informan, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan penyebab penyalahgunaan narkotika terdiri dari tiga faktor, yaitu kepribadian, pendidikan, dan populasi yang rentan. Narapidana narkotika membutuhkan informasi dengan subjek fiksi, agama, dan umum. Saat ini pengadaan bahan perpustakaan hanya melalui hibah dari Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah Kota Tangerang dan belum menyesuaikan dengan kebutuhan pemustaka. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi dalam kegiatan pengadaan bahan perpustakaan dan kegiatan perpustakaan di Perpustakaan Lembaga Permasyarakatan Kelas I Tangerang.Kata kunci: narapidana narkotika; rehabilitasi sosial; Lembaga Permasyarakatan Kelas I Tangerang 
Distinction of Millennials and Generation Z Islamic Literacy: A Comparative Study of Reading Preferences at UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung Taufiqurrohim, Taufiqurrohim
Pustakaloka Vol. 15 No. 1 (2023)
Publisher : IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/pustakaloka.v15i1.5905

Abstract

Abstract: The characteristics of the generation are related to the side of Islamic behavior that they should adhere to. We can analyze the selection of literacy commonly used in studying Islam. However, the challenge is increasing the prevalence of various literacy that does not introduce tolerance and diversity, even leading to radicalism. Therefore, mapping the relationship between generation categories and literacy selection is used, especially in the Higher Education environment, considering its role as a center for knowledge development. Through the mixed method, this study tries to compare the use of literacy between 2 different generations, namely Millennial and Z, at UIN Sayyid Ali Rahmatullah. The results of this study show that first, Millennials tend to use gadgets to obtain Islamic knowledge compared to Generation Z, who prefer to learn Islam face-to-face or in person. Second, Gen Z finds less radical content than millennials, who show how their interest in the issue of radicalism is lower as a form of their apathy on the issue. Third, Gen Z is more acknowledging that they know what kind of Islamic content to avoid than Gen Y, but this is just a matter of the general meaning of their version of radicalism rather than specific to characters, books, or other sources that should be avoided.Keywords: Gen Z , Islamic literacy, MillennialAbstrak: Karakteristik generasi berhubungan dengan sisi perilaku keislaman yang seharusnya mereka anut. Hal itu bisa kita analisis pemilihan literasi yang biasa dipakai dalam mempelajari Islam. Namun demikian, tantangan saat ini mengarah pada makin maraknya berbagai literasi yang tidak memperkenalkan toleransi dan keberagaman bahkan mengarah pada radikal. Oleh karena itu, pemetaan hubungan antara kategori generasi dengan pemilihan literasi yang dipakai terutama di lingkungan Perguruan Tinggi, perlu dilakukan mengingat perannya sebagai pusat berkembangan pengetahuan. Melalui metode mix method, penelitian ini mencoba untuk membandingkan penggunaan literasi yang digunakan antara 2 generasi yang berbeda yaitu Millenial dan Z, di UIN Sayyid Ali Rahmatullah sebagai salah satu PTKIN terbesar di Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan yaitu pertama, milenial memang cenderung suka menggunakan gadget dalam memperoleh pengetahuan keislaman dibanding generasi Z yang lebih menyukai belajar islam via tatap muka atau langsung. Kedua, Gen Z lebih jarang menemukan konten yang berbau radikal dibanding milenial dimana menunjukkan bagaimana ketertarikan mereka terhadap isu radikalisme lebih rendah sebagai wujud apatisme mereka pada isu tersebut. Ketiga, Gen Z lebih mengakui bahwa mereka tahu konten keislaman seperti apa yang harus dihindari dibanding Gen Y, akan tetapi hal ini hanya sekedar secara umum arti radikal versi mereka bukan spesifik pada tokoh, buku ataupun sumber lainnya yang seharusnya dihindari.Kata Kunci: Gen Z, Literasi keislaman, Milenial, 

Page 1 of 2 | Total Record : 11