cover
Contact Name
Rosid Bahar
Contact Email
rosidbahar@gmail.com
Phone
+6282111688459
Journal Mail Official
mahadaly@idrisiyyah.ac.id
Editorial Address
Pagendingan, Jatihurip, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46153
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Published by Ma'had Aly Idrisiyyah
ISSN : -     EISSN : 28082044     DOI : https://doi.org/10.58572/hkm.v1i2
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam provides an international scholarly forum for research on Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic, and other aspects of Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought in all times and places. By promoting an understanding of the richly variegated Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought in both thought and practice and in its cultural and social contexts, the journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all fields of Islamic studies.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia" : 10 Documents clear
Dimensi Tarbiyyah Rūhiyyah dalam Ilmu Tasawuf Luqman Al Hakim
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.747 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.5

Abstract

Pendidikan Islam formalistic belum cukup untuk mencerdaskan umat dari segi spiritualitas dan mentalitas. Pendidikan yang parsial melahirkan problematika kehidupan yang baru. Problematika umat bagaikan benang kusut tidak akan dapat dipecahkan jika sebatas mengandalkan ijtihad. Akan tetapi membutuhkan petunjuk dan pandangan secara ruhani. Bimbingan Jibril kepada Nabi Saw, pada umumnya berbentuk ruhani. Sehingga tarbiyah rūhiyah, menjadi model bimbingan yang paling esensi dalam menghantarkan umat kepada substansi ajaran Islam. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan data kepustakaan. Dalam Beberapa tafsir al-Qur`an terdapat kisah bimbingan rūhaniah Nabi Ya`qub kepada anaknya Yusuf ketika di goda oleh Zulaikha. Demikian dalam atsar dijelaskan bimbingan rūhaniah Umar bin Khattab kepada pasukannya, dan bimbingan rūhaniah Nabi Saw kepada Utsman bin’Affan ketika ia dikhianati. Bimbingan rūhaniah Nabi Saw, telah dirasakan pula oleh seorang pembesar Tab’in, Uwais al-Qarni. Dalam sejarahnya ia tidak pernah dibimbing oleh Nabi Saw, secara lahirah akan tetapi meraih maqam kewalian yang tinggi. Demikian pula bimbingan rūhaniah Nabi Saw kepada para Mursyid hakiki dalam menerima tugas, petunjuk dan wirid. Tuliasan ini diharapkan dapat memperkenalkan konsep tarbiyah yang komprehensif dalam Islam, karena bimbingan rūhaniah tidak dibatasi ruang dan waktu.
Analogi dalam Interpretasi Wahdatul Wujud dan Implikasinya dalam Kehidupan Rizal Fauzi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.821 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.6

Abstract

Istilah “Wahdatul wujud”, tidak pernah ditemukan dalam tulisan-tulian Ibn ‘Arabi, ia merupakan kesimpulan dari beberapa peneliti berkenaan dengan konsep wujud Tuhan dan alam menurut Ibn ‘Arabi.Wahdatul wujud, menurut sebagian besar Shufi adalah puncak kondis batin yang fanadan syuhud, sehingga yang disadari dan dirasakan hanyalah wujud al-Haqq. Menurut sebagian Ulama wahdatul wujud adalah konsep tauhid di kalangan Shufiyah, sehingga menjadi ajaran aqidah. Dalam memahami kedalaman konsep wahdatul wujud, penulis menggunakan pendekatan analogis. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pemikiran tokoh dengan meneliti kitab Fushuhs al-hikam, dan syarah-syarahnya. Sebagaimana biasa dilakukan oleh para Teolog dalam membuktikan keEsaan Tuhan, lewat entitas yang lainnya (siwallᾱh), Maka Ibn ‘Arabi dalam menjelaskan wujud Al-Haqq pun menggunakan perbandingan hakikat wujud alam (siwallᾱh). Pondasi konsep ini adalah hadis Nabi Saw,”Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya. Salah satu Interpetasidalam memahami wahdatul wujud, yaitu wujud hakiki Tuhan adalah batin-Nya sedangkan zahir-Nya hanyalah cerminan atau bayangan-Nya yang bukanlah Dzat-Nya akan tetapi wujud makhluk-Nya yang bergantung kepada Allah SWT. Dengan analogiruh dan jasad manusia, dimana hakikat manusia adalah ruhnya sedangkan jasadnya hanyalah bungkus yang berbeda dengan ruh itu sendiri, akan tetapi menjadi satu kesatuan karena sangat dekat, akan tetapi tidak bercampur dan masing-masing memiliki perbedaan yang nyata. Dalam hal ini penulis mencoba mengintegrasikan pemahaman ‘ainiyyah(immanen) dan ghairiyyah dalam memahami wahdatul wujud. Hal ini disebabkan adanya dua pernyataan yang seolah bersebrangan dari Ibn ‘Arabi, antara tanzih(transenden)dan tasybih (imanen) Tuhan.
Paradoks Identitas Kaum Salafis Asep Ahmad Arsyul
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.412 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.13

Abstract

Pola keberagamaan kaum salafisme sejatinya menampakkan iden-titas keagamaan yang heterogen. Karenanya, pembacaan atas sala-fisme yang dilakukan oleh tulisan ini mutlak perlu dibedah melalui pendekatan ideologis dus sosiologis, mengingat kompleksitas anasir yang dikandung oleh salafisme sendiri. Kesimpulan awalnya seder-hana: (1) bahwa salafisme sebagai sebuah organisme yang hidup berkorespondensi dengan perilaku adaptif terhadap semua kategori sosial yang terus mempengaruhinya, baik secara negatif maupun positif, dan (2) salafisme sebagai sebuah doktrin sangat dominan menegasikan selain dirinya dari rumah besar al Firqah an Najiyah dan/atau Ahl Sunnah wal Jama’ah. Alih-alih menganggapnya sebagai mitra kerja potensial, malah memandangnya sebagai musuh ideo-logis yang – bilamana perlu–, harus dialienasi dari realitas kehi-dupan sosial. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis pergeseran makna salafisme yang dalam perkembangannya selalu menuai perdebatan klaimitas yang tak pernah selesai [contentious label]. Kecuali itu, pergumulan antar identitas salafisme dengan dimensi kehidupan sosio-politik yang mengiringinya menjadi penting untuk dikaji oleh artikel ini. Sisi lain yang tak kalah penting untuk dianalisis adalah relasi intra/inter personal yang dibangun oleh setiap varian iden-titas salafisme, berkaitan dengan pandangannya terhadap kelompok in group atau out group. Maka pertanyaan riset dari risalah ini adalah: Pertama, apa dan ba-gaimana makna salafisme sesungguhnya? Kedua, bagaimana ideo-logi salafisme menerjemahkan identitasnya ke dalam segmentasi kehidupan sosio-politik secara umum? Dan bagaimana pula posisi lain [the others] di dalam pandangan dunia kaum salafisme? Semen-tara itu, metode dan pendekatan riset yang digunakan dalam risalah ini sepenuhnya bersifat library research dengan beberapa pendekat-an historis, analisis deskriptif dan fenomenologis.
Syaikh Yusuf Makassar Penampakan Diri Tuhan Baharudin Abdul Rahman
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.14

Abstract

Di alam Melayu Indonesia, ide penampakan diri Tuhan (i.e., tajalli) dipadankan dengan martabat tujuh. Konsep iniberanjak dari sebuah prinsip ontologi (the principle of ontological movement) yang berasumsi bahwa pada diri Tuhan yang transenden (la ta'ayyun), terdapat sebuah "tekanan" (al-Karb) atau hasrat dan keinginan untuk diketahui. Tekanan ini kemudian terselesaikan melalui penampakan diri (ta'ayyun) yang terjadi dalam beberapa tahapan-tahapan manifestasi diri Tuhan (tajalliyat). Prinsip ontologi ini berpijak pada sebuah hadits qudsi yang berbunyi: "Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Tetapi, Aku ingin [karena cinta] untuk diketahui, maka Aku ciptakan ciptaan agar supaya Aku diketahui." Pijakan di atas menunjukkan adanya kesepadanan makna antara "penciptaan" (al-khalq) dengan "penampakan" (al-'ijtila) diri Tuhan, hal mana dapat dipahami bahawa segala sesuatu yang ada (maujud) atau totalitas semesta hanyalah merupakan agregasi dari manifestasi-manifestasi diri Tuhan. Penelitian ini menjadikan risalah al-MakassariTuḥfat al-Talib al-Mubtadi wa Minhat al-Salik al-Muhtadi sebagai literatur atau sumber utama dalam mengeksplor ide al-Makassari mengenai penampakan diri Tuhan ini. Yang demikian, karena karya tersebut lebih khusus membahas ide yang dimaksud.
Filsafat Pendidikan Al-Habib Alawy Al-Haddad Rosid Bahar
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.056 KB) | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.15

Abstract

Pada dasarnya, konsep pendidikan Islam memiliki pengertian yang sangat luas. Bahkan para ilmuwan pun memiliki konsep yang berbeda-beda. Namun, penulis menemukan konsep pendidikan islam yang menarik dari Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terdapat dalam kitab Nashoihud Diniyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian pendidikan islam, konsep ilmu dalam islam, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad serta bermanfaat secara teoritis dapat memperkaya teori-teori konsep pendidikan islam dan memberikan gambaran bagi seluruh komponen pendidikan terutama Pendidikan Islam dalam menerapkan konsep Pendidikian Islam secara menyeluruh.Kerangka pemikiran dalam penelitian ini meliputi konsep pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian pendidikan islam, konsep ilmu dalam islam, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terdapat dalam kitab Nashoihud Diniyah.Metode penelitiannya adalah studi pustaka. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi dan studi pustaka. Sumber datanya berupa sumber data primer dan sekunder. Jenis datanya berupa data kualitatif. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif analitik dengan langkah menginventarisir data, mengelompokan data sesuai tujuan dan rumusan masalah serta menarik kesimpulan.Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nashoihud Diniyah selaras dengan teori-teori yang diungkapkan oleh para pakar pendidikan islam baik dari segi pengertian, konsep ilmu, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam.Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nashoihud Diniyah yang terdiri dari pengertian pendidikan islam yaitu proses mencari ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim sesuai dengan nilai-nilai islam demi tercapainya tujuan pendidikan islam yang hakiki, konsep ilmu dalam islam meliputi ilmu iman, ilmu islam dan ilmu ihsan, dasar-dasar pendidikan islam meliputi ayat qauliyah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ayat kauniyah (alam dan ciptaan Allah), ayat insaniyah (ijma), serta tujuan pendidikan islam yaitu terciptanya muslim yang takwa baik takwa duniawi maupun takwa ukhrawi.
Filsafat Pendidikan Al-Habib Alawy Al-Haddad Bahar, Rosid; Syafrudin
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.15

Abstract

Pada dasarnya, konsep pendidikan Islam memiliki pengertian yang sangat luas. Bahkan para ilmuwan pun memiliki konsep yang berbeda-beda. Namun, penulis menemukan konsep pendidikan islam yang menarik dari Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terdapat dalam kitab Nashoihud Diniyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian pendidikan islam, konsep ilmu dalam islam, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad serta bermanfaat secara teoritis dapat memperkaya teori-teori konsep pendidikan islam dan memberikan gambaran bagi seluruh komponen pendidikan terutama Pendidikan Islam dalam menerapkan konsep Pendidikian Islam secara menyeluruh.Kerangka pemikiran dalam penelitian ini meliputi konsep pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian pendidikan islam, konsep ilmu dalam islam, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terdapat dalam kitab Nashoihud Diniyah.Metode penelitiannya adalah studi pustaka. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi dan studi pustaka. Sumber datanya berupa sumber data primer dan sekunder. Jenis datanya berupa data kualitatif. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif analitik dengan langkah menginventarisir data, mengelompokan data sesuai tujuan dan rumusan masalah serta menarik kesimpulan.Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nashoihud Diniyah selaras dengan teori-teori yang diungkapkan oleh para pakar pendidikan islam baik dari segi pengertian, konsep ilmu, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam.Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nashoihud Diniyah yang terdiri dari pengertian pendidikan islam yaitu proses mencari ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim sesuai dengan nilai-nilai islam demi tercapainya tujuan pendidikan islam yang hakiki, konsep ilmu dalam islam meliputi ilmu iman, ilmu islam dan ilmu ihsan, dasar-dasar pendidikan islam meliputi ayat qauliyah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ayat kauniyah (alam dan ciptaan Allah), ayat insaniyah (ijma), serta tujuan pendidikan islam yaitu terciptanya muslim yang takwa baik takwa duniawi maupun takwa ukhrawi.
Dimensi Tarbiyyah Rūhiyyah dalam Ilmu Tasawuf Hakim, Luqman Al
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.5

Abstract

Pendidikan Islam formalistic belum cukup untuk mencerdaskan umat dari segi spiritualitas dan mentalitas. Pendidikan yang parsial melahirkan problematika kehidupan yang baru. Problematika umat bagaikan benang kusut tidak akan dapat dipecahkan jika sebatas mengandalkan ijtihad. Akan tetapi membutuhkan petunjuk dan pandangan secara ruhani. Bimbingan Jibril kepada Nabi Saw, pada umumnya berbentuk ruhani. Sehingga tarbiyah rūhiyah, menjadi model bimbingan yang paling esensi dalam menghantarkan umat kepada substansi ajaran Islam. Tulisan ini menggunakan metode penelitian kualitatif, dengan data kepustakaan. Dalam Beberapa tafsir al-Qur`an terdapat kisah bimbingan rūhaniah Nabi Ya`qub kepada anaknya Yusuf ketika di goda oleh Zulaikha. Demikian dalam atsar dijelaskan bimbingan rūhaniah Umar bin Khattab kepada pasukannya, dan bimbingan rūhaniah Nabi Saw kepada Utsman bin’Affan ketika ia dikhianati. Bimbingan rūhaniah Nabi Saw, telah dirasakan pula oleh seorang pembesar Tab’in, Uwais al-Qarni. Dalam sejarahnya ia tidak pernah dibimbing oleh Nabi Saw, secara lahirah akan tetapi meraih maqam kewalian yang tinggi. Demikian pula bimbingan rūhaniah Nabi Saw kepada para Mursyid hakiki dalam menerima tugas, petunjuk dan wirid. Tuliasan ini diharapkan dapat memperkenalkan konsep tarbiyah yang komprehensif dalam Islam, karena bimbingan rūhaniah tidak dibatasi ruang dan waktu.
Analogi dalam Interpretasi Wahdatul Wujud dan Implikasinya dalam Kehidupan Fauzi, Rizal
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.6

Abstract

Istilah “Wahdatul wujud”, tidak pernah ditemukan dalam tulisan-tulian Ibn ‘Arabi, ia merupakan kesimpulan dari beberapa peneliti berkenaan dengan konsep wujud Tuhan dan alam menurut Ibn ‘Arabi.Wahdatul wujud, menurut sebagian besar Shufi adalah puncak kondis batin yang fanadan syuhud, sehingga yang disadari dan dirasakan hanyalah wujud al-Haqq. Menurut sebagian Ulama wahdatul wujud adalah konsep tauhid di kalangan Shufiyah, sehingga menjadi ajaran aqidah. Dalam memahami kedalaman konsep wahdatul wujud, penulis menggunakan pendekatan analogis. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pemikiran tokoh dengan meneliti kitab Fushuhs al-hikam, dan syarah-syarahnya. Sebagaimana biasa dilakukan oleh para Teolog dalam membuktikan keEsaan Tuhan, lewat entitas yang lainnya (siwallᾱh), Maka Ibn ‘Arabi dalam menjelaskan wujud Al-Haqq pun menggunakan perbandingan hakikat wujud alam (siwallᾱh). Pondasi konsep ini adalah hadis Nabi Saw,”Sesungguhnya Allah menciptakan Adam atas rupa-Nya. Salah satu Interpetasidalam memahami wahdatul wujud, yaitu wujud hakiki Tuhan adalah batin-Nya sedangkan zahir-Nya hanyalah cerminan atau bayangan-Nya yang bukanlah Dzat-Nya akan tetapi wujud makhluk-Nya yang bergantung kepada Allah SWT. Dengan analogiruh dan jasad manusia, dimana hakikat manusia adalah ruhnya sedangkan jasadnya hanyalah bungkus yang berbeda dengan ruh itu sendiri, akan tetapi menjadi satu kesatuan karena sangat dekat, akan tetapi tidak bercampur dan masing-masing memiliki perbedaan yang nyata. Dalam hal ini penulis mencoba mengintegrasikan pemahaman ‘ainiyyah(immanen) dan ghairiyyah dalam memahami wahdatul wujud. Hal ini disebabkan adanya dua pernyataan yang seolah bersebrangan dari Ibn ‘Arabi, antara tanzih(transenden)dan tasybih (imanen) Tuhan.
Paradoks Identitas Kaum Salafis Arsyul, Asep Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.13

Abstract

Pola keberagamaan kaum salafisme sejatinya menampakkan iden-titas keagamaan yang heterogen. Karenanya, pembacaan atas sala-fisme yang dilakukan oleh tulisan ini mutlak perlu dibedah melalui pendekatan ideologis dus sosiologis, mengingat kompleksitas anasir yang dikandung oleh salafisme sendiri. Kesimpulan awalnya seder-hana: (1) bahwa salafisme sebagai sebuah organisme yang hidup berkorespondensi dengan perilaku adaptif terhadap semua kategori sosial yang terus mempengaruhinya, baik secara negatif maupun positif, dan (2) salafisme sebagai sebuah doktrin sangat dominan menegasikan selain dirinya dari rumah besar al Firqah an Najiyah dan/atau Ahl Sunnah wal Jama’ah. Alih-alih menganggapnya sebagai mitra kerja potensial, malah memandangnya sebagai musuh ideo-logis yang – bilamana perlu–, harus dialienasi dari realitas kehi-dupan sosial. Tulisan ini dimaksudkan untuk menganalisis pergeseran makna salafisme yang dalam perkembangannya selalu menuai perdebatan klaimitas yang tak pernah selesai [contentious label]. Kecuali itu, pergumulan antar identitas salafisme dengan dimensi kehidupan sosio-politik yang mengiringinya menjadi penting untuk dikaji oleh artikel ini. Sisi lain yang tak kalah penting untuk dianalisis adalah relasi intra/inter personal yang dibangun oleh setiap varian iden-titas salafisme, berkaitan dengan pandangannya terhadap kelompok in group atau out group. Maka pertanyaan riset dari risalah ini adalah: Pertama, apa dan ba-gaimana makna salafisme sesungguhnya? Kedua, bagaimana ideo-logi salafisme menerjemahkan identitasnya ke dalam segmentasi kehidupan sosio-politik secara umum? Dan bagaimana pula posisi lain [the others] di dalam pandangan dunia kaum salafisme? Semen-tara itu, metode dan pendekatan riset yang digunakan dalam risalah ini sepenuhnya bersifat library research dengan beberapa pendekat-an historis, analisis deskriptif dan fenomenologis.
Syaikh Yusuf Makassar Penampakan Diri Tuhan Rahman, Baharudin Abdul
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.14

Abstract

Di alam Melayu Indonesia, ide penampakan diri Tuhan (i.e., tajalli) dipadankan dengan martabat tujuh. Konsep iniberanjak dari sebuah prinsip ontologi (the principle of ontological movement) yang berasumsi bahwa pada diri Tuhan yang transenden (la ta'ayyun), terdapat sebuah "tekanan" (al-Karb) atau hasrat dan keinginan untuk diketahui. Tekanan ini kemudian terselesaikan melalui penampakan diri (ta'ayyun) yang terjadi dalam beberapa tahapan-tahapan manifestasi diri Tuhan (tajalliyat). Prinsip ontologi ini berpijak pada sebuah hadits qudsi yang berbunyi: "Aku adalah perbendaharaan tersembunyi. Tetapi, Aku ingin [karena cinta] untuk diketahui, maka Aku ciptakan ciptaan agar supaya Aku diketahui." Pijakan di atas menunjukkan adanya kesepadanan makna antara "penciptaan" (al-khalq) dengan "penampakan" (al-'ijtila) diri Tuhan, hal mana dapat dipahami bahawa segala sesuatu yang ada (maujud) atau totalitas semesta hanyalah merupakan agregasi dari manifestasi-manifestasi diri Tuhan. Penelitian ini menjadikan risalah al-MakassariTuḥfat al-Talib al-Mubtadi wa Minhat al-Salik al-Muhtadi sebagai literatur atau sumber utama dalam mengeksplor ide al-Makassari mengenai penampakan diri Tuhan ini. Yang demikian, karena karya tersebut lebih khusus membahas ide yang dimaksud.

Page 1 of 1 | Total Record : 10