cover
Contact Name
Rosid Bahar
Contact Email
rosidbahar@gmail.com
Phone
+6282111688459
Journal Mail Official
mahadaly@idrisiyyah.ac.id
Editorial Address
Pagendingan, Jatihurip, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46153
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Published by Ma'had Aly Idrisiyyah
ISSN : -     EISSN : 28082044     DOI : https://doi.org/10.58572/hkm.v1i2
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam provides an international scholarly forum for research on Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic, and other aspects of Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought in all times and places. By promoting an understanding of the richly variegated Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought in both thought and practice and in its cultural and social contexts, the journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all fields of Islamic studies.
Articles 71 Documents
Relevansi Tasawuf Cinta Ilahi Rabi’ah al-Adawiyah terhadap Problem Radikalisme Beragama di Indonesia Mohamad Za'in Fiqron; Erina Dwi Parawati
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.26

Abstract

Abstract This article aims to understand and explain the significance of Rabi'ah al-Adawiyah's love of Sufism in the Contemporary religious context. Rab'iah Adawiyyah is a female Sufi who was admired by many Sufis after her and quoted by the Sufis of love in particular. Rab'ah al-Adawiyah made a huge contribution to the discipline of Sufism, namely al-Mahabbah. The method of this article is based on qualitative documentation as a data collection technique. Data were obtained from various literature relevant to this research topic, then analyzed using Hans-Georg Gadamer's hermeneutic theory. Gadamer's contribution in text interpretation is the concept of fusion horizons, in which there is a fusion of understanding between the horizons of the reader and the writer. The resulting meaning is not reproductive, but productive. So that the concept of Sufism Rabi'ah can be read in the contemporary horizon. The results of this study show that Rab'iah's ideas about love can be the answer in reviving the inner subjectivity or dimension of religious spirituality in the midst of religious problems. As is known, if religion is not lived with love, it will give birth to fundamentalism, radicalization, and religious conflict. This reading is very important, in the midst of the glitz of technology and the hustle and bustle of modernity, studying Sufism will more or less help in treating the crisis of spirituality. Keywords: Contemporary Religion, Women Sufi’s, Rabi'ah al-Adawiyah. Abstrak Artikel ini bertujuan memahami dan menjelaskan signifikansi tasawuf cinta Rabi’ah al-Adawiyah dalam konteks keberagamaan Kontemporer. Rab’iah Adawiyyah adalah sufi perempuan yang dikagumi oleh banyak sufi setelahnya dan dikutip oleh kalangan sufi cinta pada khususnya. Rab’ah al-Adawiyah memberikan sumbangsih amat besar bagi disiplin tasawuf, yakni al-Mahabbah. Metode artikel ini berbasis kualitatif dengan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Data diperoleh dari berbagai literatur yang relevan dengan topik penelitian ini, kemudian dianalisis memakai teori hermeneutika Hans-Georg Gadamer. Sumbangsih gadamer dalam penafsiran teks ialah konsep fusi horizon, di mana terjadi peleburan pemahaman antara horizon pembaca dengan penulis. Makna yang dihasilkan bukanlah reproduktif, melainkan produktif. Sehingga konsep tasawuf Rabi’ah dapat dibaca dalam horizon kekinian. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa gagasan Rab’iah tentang cinta mampu menjadi jawaban dalam menghidupkan innersubjektivitas atau dimensi spiritualitas agama di tengah problematika keagamaan. Sebagaimana diketahui, manakala agama tidak dihayati dengan cinta, akan melahirkan fundamentalisme, radikalisasi, dan konflik keagamaan. Pembacaan ini amat penting, di tengah gemerlapnya teknologi dan hiruk-piruk modernitas, mengkaji tasawuf sedikit-banyak akan membantu dalam mengobati krisis spiritualitas. Kata Kunci: Keberagamaan Kontemporer, Sufi Perempuan, Rabi’ah al-Adawiyah.
Kaidah Al-Yaqinu Laa Yuzaalu Bisyakkin: Keyakinan Tidak Dapat Dihapuskan dengan Keraguan Eva Nur Hopipah; Aah Tsamratul Fuadah
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.34

Abstract

ABSTRACT Fiqhiyyah rules are scientific disciplines that have a high level of urgency for humans. Bearing in mind that the benchmark for the legal object is themukallaf itself, it is different from ushul fiqh, of course. In qawa'id al-ahkam or fighiyyah rules there are what are called kubra rules or ashasiyyah rules which consist of five rules. This qubra rule is a rule whose basic text or argument is beyond doubt because it comes from the Qur'an and hadith. One of the Kubra rules is the rule of al-yaqinu laa yuzaalu bissyakin which means belief cannot be erased by doubt. There are eleven branches in this rule. There are also conditions and exceptions described by jurists in this rule. Examples of applying the rules in the fields of ubudiyah, mu'amalah, jinayah, to siyasah are clearly illustrated comprehensively. The research methodology used in this paper is library research which explores and quotes from credible sources so that it can be used as a reference for scientists in their fields to develop and practice these principles in everyday life. Keywords: Fiqhiyyah rules. Qawa'id al-Ahkam, Rule of Kubra, Al-Yaqiinu Laa Yuzaalu Bissyakkin ABSTRAK Kaidah fiqhiyyah adalah disiplin ilmu yang memiliki tingkat urgensi tinggi untuk manusia. Mengingat patokan objek hukumnya adalah mukallaf itu sendiri, berbeda dengan ushul fiqh tentunya. Dalam qawa’id al-ahkam atau kaidah fighiyyah ada yang disebut dengan kaidah kubra atau kaidah ashasiyyah yang terdiri dari lima kaidah. Kaidah qubra ini adalah kaidah yang dasar nash ataupun dalilnya tidak diragukan lagi karena bersumber dari Al-Qur’an dan hadits. Salah satu kaidah kubra ialah kaidah al-yaqinu laa yuzaalu bissyakin yang artinya keyakinan tidak dapat dihapuskan dengan keraguan. Terdapat sebelas cabang dalam kaidah ini. Adapula syarat-syarat dan pengecualian yang dipaparkan oleh para ahli fukaha dalam kaidah ini. Contoh penerapan kaidah dalam bidang ubudiyah, mu’amalah, jinayah, hingga siyasah pun sangatlah jelas tergambar dengan komprehensif. Metodologi penelitian yang digunakan dalam karya tulis ini adalah penelitian kepustakaan yang menggali dan menukil dari sumber yang kredibel sehingga bisa dijadikan rujukan untuk ilmuwan di bidangnya mengembangkan dan mengamalkan kaidah ini ke dalam kehidupan keseharian. Kata Kunci: Kaidah Fiqhiyyah. Qawa’id al-Ahkam, Kaidah Kubra, Al-Yaqiinu Laa Yuzaalu Bissyakkin
Gerakan Sosial Tarekat Idrisiyyah; (Melacak Akar Moderasi dalam Konsep Tasawuf Sanusiyyah Asep Ahmad Arsyul
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.36

Abstract

Simplifikasi dan generalisasi atas sufisme sebagai momok keterbelakangan peradaban Islam merupakan upaya rasionalisasi yang nir-objektif. Karena itu, pembahasan ini menjadi penting untuk diteliti karena posisinya hendak mengklarifikasi problematika yang menyelimuti karakter dan hakekat tasawuf itu sendiri, melalui penelaahan mendalam terhadap tarekat Idrisiyyah. Atas dasar pernyataan itu, maka persoalan yang dikaji akan dibatasi oleh dua pertanyaan saja, yaitu; pertama, bagaimana sejarah perkembangan gerakan Sanusiyyah hingga ke tarekat Idrisiyyah?; dan kedua, bagaimana konsep moderasi perspektif tarekat Sanusiyyah? Dengan demikian, kajian ini akan mengandalkan jenis penelitian library research dengan alur pendekatan historis-sosiologis. Dalam konteks itu, asumsi yang melatari analisis wacana terhadap lokus terikat memunculkan satu pandangan umum sementara bahwa kemampuan tarekat Idrisiyyah sebagai sebuah gerakan sosial dalam proses mengadapsi tuntutan perubahan sosial yang begitu cepat didasarkan atas sistem keberagamaan terbuka yang meniscayakan seperangkat perilaku modern yang inklusif.
Tipologi Thariqah Sufiyyah di Indonesia Rizal Fauzi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.37

Abstract

Thariqah sebagai madzhab shufiyah muncul sekitar 3H, dimana Junaid al-Baghdadi, diakui sebagai pencetus thariqah dalam shufiyah. Hal ini karena banyak murid Syaikh al-Junaid yang menjadi masyaikh shufiyah selanjutnya, seperti Abu ‘Abdillah al-Kattani, Abu Muhammad al-Jariri, Abu Ya’qub an-Nahrajuri, Abu ‘Abdullah al-Makki, dan lainnya. Adanya silsilah dalam Tarekat, merupakan salah satu syarat utama keabsahan suatu thariqah. Masuknya tarekat ke Indonesia diyakini berbarengan dengan masuknya Islam di Nusantara, dan berkembang sekitar abad ke 15M, seperti yang dibawa oleh Hamzah Fansur yang bertarekat Qadiriyah, Bahkan konon sebelum adab ke 13 para penasihat kerajaan Aceh dari ulama shufi. kemudian masuk tarekat Syathariyah, Naqsyabandiyah, Khalwatiyah, Samaniyah dan ‘Alawiyah. Kemudian masuk Tarekat Tijaniyah dan Sanusiyah Idrisiyyah ke Jawa Barat pada abad ke19 M, oleh Syaikh Akbar Abdul Fattah. Seiring perkembangan dan penyebaran Tarekat di Indonesia, terjadi keragaman corak atau tipologi tarekat, diantaranya tarekat normal, tarekat ruhaniyah, tarekat ‘Alawiyah, tarekat ta’lim wa ta’allum, dan tarekat neo shufisme. Metode penilitian yang digunakan berdasarkan kepada teori teori Mark J.R Sedgwick, dan merujuk kepada kepustakaan. Hasil dari penelitian menunjukan bahwa adanya 5 tipologi tarekat di Indonesia dari segi silsilah dan ajaran.
Muamalah dalam Tasawwuf: Pendekatan Rohani dalam Penyelesaian Konflik Antar Agama, Suku, Ras dan Kelompok Salman Alfarisi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 3 No. 2 (2023): HIkamia
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v3i2.38

Abstract

Tasawwuf, sebagai dimensi spiritual Islam, memiliki potensi besar dalam memberikan kontribusi terhadap penyelesaian masalah sosial yang kompleks yang dihadapi oleh masyarakat Muslim. Dalam konteks ini, artikel ini menginvestigasi relevansi pendekatan rohani tasawwuf terhadap muamalah (interaksi sosial) dalam rangka menyelesaikan masalah sosial di dalam masyarakat Muslim. Latar belakang penelitian ini muncul dari pemahaman bahwa masalah sosial seperti ketidakadilan, konflik, dan kurangnya harmoni antar individu dan kelompok sering terjadi dalam masyarakat Muslim. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk menganalisis nilai-nilai dan ajaran tasawwuf, yang mencakup kasih sayang, tolong-menolong, pemahaman karakter, dan toleransi, dapat diaplikasikan sebagai pendekatan rohani dalam mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan melakukan tinjauan literatur terhadap sumber-sumber utama dalam tasawwuf serta menganalisis konsep-konsep dan prinsip-prinsip tasawwuf yang relevan dengan muamalah dan penyelesaian masalah sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan rohani dalam tasawwuf dapat memberikan panduan yang kuat dalam menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif. Dalam kesimpulannya, penelitian ini mengajukan bahwa memahami perspektif tasawwuf dengan pendekatan rohani dapat menjadi solusi yang efektif dalam penyelesaian masalah sosial dalam masyarakat Muslim. Dengan menerapkan nilai-nilai tasawwuf, masyarakat Muslim dapat menciptakan hubungan sosial yang lebih baik, saling menghormati, yang berlandaskan nilai-nilai kemanusiaan.
Filsafat Pendidikan Al-Habib Alawy Al-Haddad Bahar, Rosid; Syafrudin
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 1 No. 2 (2021): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v1i2.15

Abstract

Pada dasarnya, konsep pendidikan Islam memiliki pengertian yang sangat luas. Bahkan para ilmuwan pun memiliki konsep yang berbeda-beda. Namun, penulis menemukan konsep pendidikan islam yang menarik dari Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terdapat dalam kitab Nashoihud Diniyah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengertian pendidikan islam, konsep ilmu dalam islam, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad serta bermanfaat secara teoritis dapat memperkaya teori-teori konsep pendidikan islam dan memberikan gambaran bagi seluruh komponen pendidikan terutama Pendidikan Islam dalam menerapkan konsep Pendidikian Islam secara menyeluruh.Kerangka pemikiran dalam penelitian ini meliputi konsep pendidikan Islam yang terdiri dari pengertian pendidikan islam, konsep ilmu dalam islam, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad yang terdapat dalam kitab Nashoihud Diniyah.Metode penelitiannya adalah studi pustaka. Teknik pengumpulan datanya menggunakan teknik observasi dan studi pustaka. Sumber datanya berupa sumber data primer dan sekunder. Jenis datanya berupa data kualitatif. Analisis data dilakukan dengan pendekatan kualitatif analitik dengan langkah menginventarisir data, mengelompokan data sesuai tujuan dan rumusan masalah serta menarik kesimpulan.Hasil penelitian menunjukan bahwa konsep pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nashoihud Diniyah selaras dengan teori-teori yang diungkapkan oleh para pakar pendidikan islam baik dari segi pengertian, konsep ilmu, dasar-dasar pendidikan islam dan tujuan pendidikan islam.Berdasarkan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa konsep pendidikan islam menurut Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad dalam kitab Nashoihud Diniyah yang terdiri dari pengertian pendidikan islam yaitu proses mencari ilmu yang diwajibkan kepada setiap muslim sesuai dengan nilai-nilai islam demi tercapainya tujuan pendidikan islam yang hakiki, konsep ilmu dalam islam meliputi ilmu iman, ilmu islam dan ilmu ihsan, dasar-dasar pendidikan islam meliputi ayat qauliyah (Al-Qur’an dan As-Sunnah), ayat kauniyah (alam dan ciptaan Allah), ayat insaniyah (ijma), serta tujuan pendidikan islam yaitu terciptanya muslim yang takwa baik takwa duniawi maupun takwa ukhrawi.
Transformasi Tasawuf Modern Menurut Nasaruddin Umar Dan Relevansinya Dalam Masyarakat Multikulturalisme Di Indonesia Hariyanto
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v4i1.68

Abstract

Abstract Sufism has undergone significant changes in line with the progress of time. New perspectives on understanding Sufism and its practices continue to emerge in the modern era. From Nasaruddin Umar's viewpoint, the transformation of modern Sufism includes a fresh understanding of the meanings of spirituality and religiosity, as well as changes in the way Sufi teachings are practiced. This research discusses Nasaruddin Umar's views on the transformation of modern Sufism and its relevance in the multicultural society of Indonesia.The study utilizes written works by Nasaruddin Umar and videos on his YouTube channel, analyzing them through content analysis methods to explore his perspectives and examine their relevance in addressing the phenomenon of multiculturalism in Indonesian society. In Nasaruddin Umar's perspective, Sufism needs to accommodate the changes occurring in society and provide relevant answers to the spiritual challenges faced in the context of multiculturalism. The results of this study indicate that the concept of modern Sufism from Nasaruddin Umar's perspective can positively contribute to responding to cultural conflicts in Indonesia. By instilling values of compassion and tolerance in Sufi practices, society can overcome divisions and embrace diversity as a positive strength. The transformation of Sufism not only reflects adaptation to the times but also serves as a source of inspiration to build a more harmonious and inclusive society. Keywords: Transformation, Modern Sufism, Multiculturalism, Nasaruddin Umar Abstrak Tasawuf telah mengalami perubahan penting seiring dengan kemajuan zaman. Perspektif-perspektif baru dalam memahami tasawuf dan praktik-praktiknya terus muncul di era modern. Dalam perspektif Nasaruddin Umar, transformasi tasawuf modern mencakup pemahaman baru tentang makna spiritualitas dan keberagamaan, serta perubahan dalam cara mengamalkan ajaran tasawuf. Penelitian ini membahas pandangan Nasaruddin Umar tentang transformasi tasawuf modern dan relevansinya dalam masyarakat Multikulturalisme di Indonesia. Studi ini menggunakan literature tertulis karya Nasaruddin Umar serta video-video dalam kanal youtube, lalu menganalisisnya dengan metode analisis konten untuk mengekplorasinya pandangan dan melihat kerelevanan pemikirannya dalam menghadapi fenomena masyarakat Multikulturalisme di Indonesia. Dalam pandangan Nasaruddin Umar, tasawuf perlu mengakomodasi perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat dan menyediakan jawaban-jawaban yang relevan untuk tantangan-tantangan spiritualitas yang dihadapkan dalam konteks masyarakat Multikulturalisme. Hasil dari studi ini menunjukkan bahwa konsep tasawuf modern perspektif tasawuf Nasaruddin Umar mampu memberikan kontribusi positif dalam merespons konflik-konflik kultural di Indonesia. Dengan menanamkan nilai-nilai kasih sayang dan toleransi dalam praktik tasawuf, masyarakat dapat mengatasi perpecahan dan merangkul keberagaman sebagai kekuatan positif. Transformasi tasawuf ini bukan hanya mencerminkan adaptasi terhadap zaman, tetapi juga menjadi sumber inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih harmonis dan inklusif. Kata Kunci: Transformasi, Tasawuf Modern, Multikulturalisme, Nasaruddin Umar
Tingkatan Kemursyidan menurut Syaikh Akbar Muhamamd Fathurrahman Fauzi, Rizal
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v4i1.69

Abstract

Mursyid merupakan rukun sentral dalam suatu Tarekat Muktabarah. Mursyid tersebar diberbagai negara dengan ragam tarekat, seperti Qadiriyah, Syadziliyah, Idrisiyyah, dan lainnya. Setiap pendiri Tarekat diyakini sebagai mursyid yang kamil mukamil (sempurna dan menyempurnakan murid) adalah suatu martabat kemursyidan yang tertinggi setiap zaman yang hanya ditempati oleh satu mursyid dalam suatu zaman untuk seluruh dunia. Adapun mursyid yang melanjutkannya ada yang menduduki kemursyidan seperti mursyid yang awal atau bisa menduduki kemursyidan dibawahnya. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti martabat-martabat kemursyidan yang tersebar dipenjuru dunia sebagai pewaris para Nabi yang jumlahnya banyak, sedangkan Mursyid yang menjadi wakil Rasulillah Saw hanya satu pada zamannya. Kemudian meneliti persyaratan-persyaratan kemursyidan dari beberapa tingkatan kemursyidan, dan juga menjelaskan kualivikasi mursyid dari setiap tingkatannya. Metode penelitian yang digunakan adalaah kualitatif deskriptif dengan mengkaji kajian atau buku-buku karya Syaikh Akbar Muhammad Fathurrahman. Ia adalah Mursyid Tarekat Idrisiyyah Indonesia yang memiliki gagasan bahwa mursyid adalah wali Allah yang mendapatkan tugas membimbing dari mursyid sebelumnya karena telah memenuhi kualifikasi kemursyidan dan layak membimbing murid kepada Allah. Kesimpulannya martabat kemursyidan tertinggi disebut dengan istilah Mursyid kamil mukammil, atau Syaikh tarbiyah, atau khalifah Rasulillah Saw, dengan tingkat kewalian yaitu Quthbul Aqthab atau Sulthan al-Auliya, yaitu pemimpin para wali Allah pada zamannya. Setelah mendapatkan mandat dan izin membimbing dari mursyid sebelumnya maka mendapatkan pengakuan dari ruhani Rasulullah sebagai wakilnya, dan ia mendapatkan misi-misi atau mendapatkan talqin dan ijazah wirid-wirid dari Nabi Saw. Sedangkan mursyid dibawahnya hanya mendapatkan izin dari mursyid sebelumnya sebagai mursyid tidak mendapatkan penguatan dari ruhani Rasulillah Saw sebagai wakilnya. Istilah bagi mursyid dibawahnya disesuaikan dengan keahlian yang dimilikinya. Mursyid yang hanya mampu mentalqinkan dzikir disebut Syaikh talqin, yang mampu selain mentalqinkan juga mampu mentazkiyah murid maka disebut syaikh tazkiyah, ada yang memiliki tiga kemampuan selain taqin dan tazkiyah yaitu tarbiyah ruhiyah dan ini yang tertinggi maka ia disebut syaikh tarbiyah atau murabbirruh, atau disebut kamil mukammil. Bahkan menguasai ilmu syariah dengan baik, ilmu makrifat dan hakikat yang sempurna juga metode dan media tarbiyah yang lengkap
Kontroversi dalam Tasawuf dan Mursyid Pili, Salim Bela
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v4i1.71

Abstract

The diversity of Sufi facial aspects, both in theoretical conceptualization (nadzariyah) and practical application within various orders (amaliyah), has led to perceptions, some of which carry negative connotations. The negative image of Sufism, emanating from the theoretical aspects of its teachings, is partly rooted in the intertextuality of concepts such as zuhud, faqir, and khalwat, which are often understood incomprehensively and devoid of contextualization. Consequently, these concepts suggest individual passivity and the practitioner's social detachment through escapism. The objective of this research is to provide an alternative portrayal counteracting the prevailing negative perceptions of Sufism. Additionally, it aims to establish the notion that positive perceptions of Sufism are propagated by the rightful murshid – a genuine Sufi expert who profoundly grasps the essence of authentic Sufism. Understanding one's position in life, the murshid is not a figure easily found amidst the multitude of contemporary scholars due to the numerous criteria that must be fulfilled, promising quality guidance for disciples. This exposition stems from qualitative research utilizing a Literature Review approach. Data collection techniques involve intensive examination of internal reference sources within the Sufi tradition/field of knowledge. The acquired data is subsequently expounded and interpreted analytically.
Iriban Sendang Medini: Aktualisasi Gerakan Ekosufisme Warga Ngesrep Balong Dalam Merespon Krisis Air destin anjelya, nadya; El Salsabila, La Rossa; Mahatma Nugraha, Ezra; Fauzan Hidayatullah, Ahmad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 4 No. 1 (2024): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v4i1.85

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana gerakan tasawuf falsafi di Ngesrep Balong mengadaptasi dan menerapkan upaya pelestarian mata air Sendang Medhini sebagai tanggapan terhadap eskalasi krisis air yang tengah terjadi. Dengan menerapkan pendekatan deskriptif kualitatif dan memanfaatkan metode Depth Analysis, serta melakukan wawancara langsung dengan para tokoh kunci di lokasi riset, penelitian ini berhasil menggali pemahaman yang mendalam tentang bagaimana gerakan tersebut berfungsi dan mengintegrasikan nilai-nilai tasawuf dan falsafi dalam konteks pelestarian alam. Hasil temuan mengungkap bahwa iriban, sebagai suatu tradisi yang turun-temurun, tak hanya menjadi langkah konkret dalam menjaga kelestarian alam, tetapi juga menjadi perwujudan dari pengabdian dan rasa hormat kepada Sang Pencipta serta nilai-nilai leluhur yang berharga. Melalui keterkaitan antara spiritualitas dan filsafat tasawuf, gerakan ini memberikan pandangan yang penting dan berharga dalam menghadapi tantangan-tantangan lingkungan yang kompleks pada era modern ini. Implikasi dari penelitian ini menyoroti pentingnya mengintegrasikan dimensi spiritual dalam upaya menjaga lingkungan, serta mempertegas relevansi nilai-nilai tradisional dalam menjawab tantangan-tantangan global saat ini.