cover
Contact Name
Rosid Bahar
Contact Email
rosidbahar@gmail.com
Phone
+6282111688459
Journal Mail Official
mahadaly@idrisiyyah.ac.id
Editorial Address
Pagendingan, Jatihurip, Kec. Cisayong, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat 46153
Location
Kab. tasikmalaya,
Jawa barat
INDONESIA
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Published by Ma'had Aly Idrisiyyah
ISSN : -     EISSN : 28082044     DOI : https://doi.org/10.58572/hkm.v1i2
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam provides an international scholarly forum for research on Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought. Taking an expansive view of the subject, the journal brings together all disciplinary perspectives. It publishes peer-reviewed articles on the historical, cultural, social, philosophical, political, anthropological, literary, artistic, and other aspects of Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, Islamic Thought in all times and places. By promoting an understanding of the richly variegated Sufism, Tariqa, Islamic Philosophy, Islamic Theology, and Islamic Thought in both thought and practice and in its cultural and social contexts, the journal aims to become one of the leading platforms in the world for new findings and discussions of all fields of Islamic studies.
Articles 80 Documents
Dinamika Politik Dalam Perkembangan Tasawuf Muhammad Ikhya Ulumuddin; Nur Hayyid, Muhammad
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 5 No. 2 (2025): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v5i2.195

Abstract

Penelitian ini membahas dinamika hubungan antara tasawuf dan politik dalam sejarah peradaban Islam, dengan menelusuri bagaimana praktik dan pemikiran sufistik berkembang seiring perubahan konteks sosial-politik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka, dan bertujuan untuk memahami interaksi kompleks antara spiritualitas Islam dan kekuasaan politik, serta bagaimana tasawuf tetap relevan sebagai kekuatan moral dan sosial di tengah perubahan zaman. Sejak masa awal Islam pasca Khulafa Rasyidin, muncul kecenderungan untuk menjauh dari hiruk-pikuk kekuasaan dan memilih jalan spiritual, yang ditandai dengan praktik zuhud. Pada masa kekhalifahan Abbasiyah, tasawuf mengalami pembentukan ajaran secara sistematis dan kelembagaan melalui munculnya tarekat-tarekat. Para tokoh sufi seperti Hasan al-Bashri, Al-Hallaj, dan Al-Ghazali menunjukkan bagaimana tasawuf bisa menjadi kritik moral terhadap kekuasaan sekaligus berperan dalam memberikan legitimasi. Di periode pertengahan hingga modern, tarekat menjadi institusi sosial-politik penting yang berperan sebagai mediator, penggerak opini, serta kekuatan sosial yang mampu menentang ketidakadilan. Tasawuf juga berkembang dalam konteks negara-bangsa modern dan globalisasi, dengan peran yang beragam mulai dari gerakan spiritual moderat hingga aktor politik aktif. Di Indonesia, tarekat terbukti memainkan peran strategis dalam perlawanan terhadap penjajahan, pendidikan masyarakat, dan dinamika sosial-politik kontemporer.
Genealogi dan Persebaran Tarekat Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo Hidayatulloh, Rizki
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.162

Abstract

This paper examines the genealogy and spread of Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo. Shaikh Ahmad Khatib al-Sambasī, the founder of this tariqah, had a famous caliph, 'Abd Al-Karīm Al-Bantanī. From this caliph, a Purworejo named Zarkasyī ibn Asnawi received ijāzah murshid Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah which means that he has the authority to spread Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah and appoint the murshid of the tariqah. From this Shaikh Zarkasyī, Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah spread to various corners. With a library research method, whose data sources come from books or journals related to the research topic. The main source comes from the biography book of KH. Nawawi, the fourth murshid of Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo, and several journals, it can be seen that the spread of Ṭarīqah Qādiriyyah wa Naqsyabandiyyah Berjan Purworejo includes Java, Sumatra, Kalimantan (especially Brunei Darussalam and Malaysia), and the Malay Peninsula.
Integrasi Tasawuf Akhlaki Al-Ghazālī Dalam Keberlanjutan Lingkungan: Paradigma Spiritual Menghadapi Krisis Ekologi Al-Hakim, Dzaky Nabil; Mufidah, Hafizhah Nuri Rahma; Ismawati, Hema; Annur, Fauzi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.191

Abstract

Abstract This study explores the integration of al-Ghazālī’s Sufi ethics into the framework of environmental sustainability as a spiritual and ethical paradigm addressing contemporary ecological crises. Employing an emic-oriented qualitative analytical library research methodology, the investigation examines al-Ghazālī’s seminal work, Ihya’ Ulūm al-Dīn, alongside secondary sources from accredited journals to understand how maqāmāt such as at-taubat, asy-syukr, az-zuhd, and al-mahabbah constitute an ethical transformation framework connecting spiritual, moral, and behavioral dimensions of human life. Findings indicate that pillars of environmental sustainability, including Planetary Boundaries, Life Cycle Assessment, and Sustainable Development Goals, are mutually complementary with religious agency, with Sufi ethics serving as a value-driven catalyst for ecological practices at individual, communal, and institutional levels. Universal values across faiths, including metanoia in Christianity, karma purification in Hinduism, and moral purification in Buddhism, exhibit intrinsic resonance with al-Ghazālī’s maqāmāt, facilitating interfaith collaboration in environmental stewardship. Content analysis reveals that integrating Sufi ethics promotes sustainable behavioral transformation through inner purification, gratitude, consumption restraint, and universal love, effectively addressing root causes of ecological crises such as anthropocentrism and consumerism. This study proposes an integrative conceptual model bridging spirituality, ethics, and ecology, with practical implications for religious education, governmental policy, and community engagement, emphasizing that environmental sustainability can be realized through a holistic synergy of moral, spiritual, and social dimensions. Abstrak Penelitian ini mengeksplorasi integrasi tasawuf akhlaki al-Ghazālī dalam kerangka keberlanjutan lingkungan sebagai paradigma spiritual dan etis untuk merespons krisis ekologi kontemporer. Menggunakan metodologi studi kepustakaan analitis kualitatif berbasis emic, kajian ini menelaah karya utama al-Ghazālī, Ihya’ Ulūm al-Dīn, serta literatur sekunder dari jurnal terakreditasi untuk memahami bagaimana maqāmāt seperti At-Taubat, Asy-Syukr, Az-Zuhd, dan AlMahabbah membentuk kerangka transformasi etis yang menghubungkan dimensi spiritual, moral, dan perilaku manusia. Hasil analisis menunjukkan bahwa pilar keberlanjutan lingkungan, termasuk Planetary Boundaries, Life Cycle Assessment, dan Sustainable Development Goals, saling melengkapi dengan agensi keagamaan, di mana tasawuf akhlaki berfungsi sebagai sumber nilai yang mendorong praktik ekologis pada tingkat individu, komunitas, dan institusi. Nilai-nilai universal lintas agama, seperti metanoia dalam Kristen, karma purification dalam Hindu, dan moral purification dalam Buddha, menunjukkan resonansi intrinsik dengan maqāmāt al-Ghazālī, membuka peluang kolaborasi interfaith untuk pelestarian lingkungan. Kajian ini mengungkap bahwa integrasi tasawuf akhlaki memfasilitasi perubahan perilaku berkelanjutan melalui penyucian batin, rasa syukur, pengendalian konsumsi, dan cinta universal, yang efektif menghadapi akar krisis ekologi seperti antroposentrisme dan konsumerisme. Temuan ini menawarkan model konseptual integratif antara spiritualitas, etika, dan ekologi, dengan implikasi praktis untuk pendidikan agama, kebijakan pemerintah, dan partisipasi masyarakat, sekaligus menegaskan bahwa keberlanjutan lingkungan dapat diwujudkan melalui sinergi moral, spiritual, dan sosial yang holistik. 
Tarekat Haddadiyah di Nusantara Abad Ke-17: Transmisi Intelektual, Jaringan Spiritualitas, dan Dinamika Lokalitas dalam Perspektif Tasawuf Yasir, Yasirul Musyaffa; Jazilah, M Syukron; Gina Husniati Zahra; Ayatulloh
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.202

Abstract

This article investigates the evolution of the Haddadiyah Sufi order in 20th-century Indonesia by examining its intellectual transmission, spiritual networks, and local adaptations. Rooted in the teachings of Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad of Hadramaut, the Haddadiyah order represents a form of amali (practical) Sufism that harmonizes ritual practices, spiritual ethics, and inclusive religious engagement. Employing a qualitative approach based on textual analysis and historical interpretation, this study reveals how the Haddadiyah tradition was disseminated through non-formal religious circles and the dynamic roles of Ba‘Alawi scholars. The findings highlight the order’s success in embedding its spiritual practices into local cultures while maintaining theological authenticity. Furthermore, the use of digital platforms and women-led majelis illustrates its adaptability to contemporary demands. The Haddadiyah model promotes values such as love, sincerity, humility, and social empathy, positioning Sufism not merely as a mystical path but as a transformative force in shaping moderate Islamic civilization. Keywords: Ba‘Alawi, dhikr, Hadramaut, moderation, Sufism Abstrak Artikel ini menelaah perkembangan Tarekat Hadadiyah di Indonesia pada abad ke-20 dengan menitikberatkan pada transmisi intelektual, jaringan spiritual, serta proses adaptasinya terhadap konteks lokal. Bersumber dari ajaran Imam al-Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad di Hadramaut, Hadadiyah mencerminkan model tasawuf amali yang memadukan ritual dzikir, etika spiritual, dan keterlibatan keagamaan yang inklusif. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dan analisis historis-konseptual, penelitian ini mengungkap bahwa penyebaran Hadadiyah berlangsung melalui struktur keagamaan nonformal dan peran aktif ulama dari jaringan Ba‘Alawi. Temuan menunjukkan bahwa tarekat ini berhasil berakulturasi dengan budaya lokal tanpa kehilangan keotentikan ajaran. Selain itu, pemanfaatan media digital serta partisipasi perempuan dalam majelis taklim memperlihatkan daya adaptif Hadadiyah terhadap zaman modern. Nilai-nilai seperti cinta, kejujuran, tawadhu‘, dan kepedulian sosial menjadi inti ajaran, menjadikan tasawuf Hadadiyah tidak hanya sebagai jalan spiritual personal, tetapi juga sebagai kekuatan transformasi peradaban Islam moderat yang inklusif.
Kritik orientalis terhadap tasawuf: antara distorsi dan pemahaman Salsabil, Shoopa Alifiah; Sa'ad, Suadi
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.230

Abstract

This study aims to analyze Orientalist critiques of Sufism and to understand how Muslim scholars and practitioners respond to the epistemological constructions developed by Western thought toward Sufi teachings. This phenomenon is significant because Orientalist criticism often distorts the essence of Islamic spirituality by portraying Sufism as a product of non-Islamic cultural assimilation. The study employs a descriptive qualitative approach using the library research method, examining various primary and secondary sources such as the works of Orientalists (Reynold A. Nicholson, Louis Massignon, and Edward Said) and contemporary Muslim scholars (Syed Naquib Al-Attas, Amin Abdullah, and Rahmawati). Data were collected through documentation and analyzed using the Miles, Huberman, and Saldaña model, which includes data reduction, data display, and verification to identify key themes. The findings reveal that Orientalist critiques of Sufism are grounded in a rationalistic-secular paradigm that neglects the spiritual and revelatory dimensions of Islam. Conversely, Muslim scholars affirm that Sufism is rooted in the Qur’an and the Sunnah, emphasizing the principles of tazkiyatun nafs (purification of the soul), ihsan (spiritual excellence), and tawhid (oneness of God). Three main themes emerge: (1) the epistemological distortion by Orientalists regarding the sources of Sufi teachings, (2) the reconstructive responses of Muslim scholars through the Islamization of knowledge, and (3) the de-Orientalization of Islamic studies as a form of epistemic justice. Theoretically, this research enriches the discourse on Islamic epistemology and postcolonial studies, while practically it offers new directions for developing Islamic curricula that integrate rationality and spirituality. Future studies are suggested to use a phenomenological field approach to examine the empirical experiences of Sufi communities in confronting Western knowledge hegemony.
Perang salib dan serangan tentara mongol serta dampaknya terhadap tatanan kehidupan global Mochammad An'im
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.256

Abstract

Artikel ini mengkaji dua peristiwa besar dalam sejarah peradaban global, yaitu Perang Salib dan serangan bangsa Mongol, serta dampaknya terhadap tatanan kehidupan dunia dari masa lalu hingga masa kini. Keduanya tidak hanya mencerminkan konflik militer, tetapi juga benturan ideologi, politik, dan kebudayaan antara dunia Islam dan Barat. Melalui pendekatan historis-analitis, penelitian ini menelusuri bagaimana kedua peristiwa tersebut membentuk dinamika geopolitik dan peradaban manusia secara global. Perang Salib yang dimulai pada akhir abad ke-11 M menjadi momentum interaksi intensif antara Islam dan Kristen Barat yang melahirkan baik konfrontasi maupun pertukaran budaya. Sementara itu, serangan bangsa Mongol pada abad ke-13 M membawa kehancuran besar, terutama dengan runtuhnya Baghdad pada tahun 1258 M, namun juga membuka jalur perdagangan dan pertukaran ilmu pengetahuan di wilayah Eurasia. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa kedua peristiwa tersebut memiliki pengaruh jangka panjang terhadap struktur sosial, ekonomi, dan politik dunia. Warisan sejarahnya masih terasa dalam hubungan antarperadaban masa kini yang sering diwarnai oleh rivalitas, tetapi juga mengandung peluang bagi dialog dan kerja sama global. Dengan memahami dinamika sejarah tersebut, umat manusia dapat membangun kesadaran reflektif menuju tatanan dunia yang damai dan berkeadaban.
Ontologi cahaya dalam teosofi iluminasi suhrawardi : studi kritis terhadap teori emanasi paripatetik Anisa; Saepul; Akbar, Muhamad Falqih; Dzawafi, Agus Ali
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.259

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ontologi dalam teosofi iluminasi menurut Syihab al-Din al-Suhrawardi sebagai upaya memahami kembali struktur realitas dalam filsafat Islam. Kajian ini menyoroti bagaimana sistem filsafat Isyraqiyyah menggabungkan rasionalitas dan intuisi melalui prinsip nur (cahaya) sebagai dasar metafisika universal. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan, dengan sumber primer berupa buku karya Syihab Ad-Din Yahya As-Suhrawardi yaitu Hikmah Al-Isyraq: teosofi cahaya dan metafisika huduri, serta sumber sekunder berasal dari jurnal, buku, dan artikel ilmiah yang berkaitan dengan judul. Data dianalisis melalui metode analisis kritis dan hermeneutik, untuk menyingkap struktur ontologis dan dimensi teosofis pemikiran Suhrawardi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa realitas dalam filsafat Isyraqiyyah dipahami sebagai gradasi cahaya yang berpuncak pada Nur al-Anwar, di mana eksistensi dan pengetahuan menjadi satu kesatuan iluminatif. Temuan ini menegaskan bahwa filsafat Isyraqiyyah bukan hanya sistem metafisika, tetapi juga jalan spiritual yang menuntun manusia menuju pencerahan batin dan kesadaran Ilahi, sekaligus menawarkan kritik terhadap rasionalisme modern yang terlepas dari nilai-nilai spiritual.
Studi Kritis terhadap Konsep Mahabbah dan Ma’rifah dalam Mengisi Spiritualisasi Ilmu Pengetahuan Subagja, Suni; Amalia, Serly
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.280

Abstract

Mahabbah dan ma‘rifah merupakan dua konsep fundamental dalam tradisi tasawuf yang merepresentasikan dimensi cinta spiritual dan pengetahuan ilahiah dalam hubungan manusia dengan Allah Swt. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengertian, landasan konseptual, serta keterkaitan antara mahabbah dan ma‘rifah dalam kerangka spiritualitas Islam, sekaligus menelaah relevansinya bagi kehidupan manusia modern yang kerap mengalami krisis makna dan kekosongan batin. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) yang bersumber pada Al-Qur’an, hadis Nabi, serta literatur tasawuf klasik dan kontemporer. Analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui proses pengumpulan, reduksi, interpretasi, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahabbah merupakan kecintaan ruhiah yang tulus dan total kepada Allah tanpa pamrih duniawi, sedangkan ma‘rifah adalah pengenalan batiniah terhadap Allah yang diperoleh melalui penyucian hati dan anugerah Ilahi. Kedua konsep ini bersifat saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan spiritual seorang sufi, sebagaimana tercermin dalam pemikiran tokoh-tokoh tasawuf seperti Rabi‘ah al-‘Adawiyah, Dhu’n-Nun al-Mishri, dan al- Ghazali. Mahabbah melahirkan kedekatan eksistensial dengan Tuhan, sementara ma‘rifah memperdalam kesadaran spiritual dan transformasi akhlak. Dengan demikian, mahabbah dan ma‘rifah dapat dipandang sebagai fondasi utama tasawuf yang tetap relevan dalam membangun spiritualitas Islam yang bermakna di tengah tantangan kehidupan kontemporer.
Babisme dan bahaisme dalam kontestasi otoritas keagamaan pada masa dinasti qajar abad ke-19 Najah, Aas Safinatun; Putri, Shelsie Amalia; Fahmi, Salman Nur
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.285

Abstract

Penelitian ini mengkaji munculnya gerakan Babisme dan Bahaisme sebagai fenomena sosial-keagamaan yang signifikan dalam transformasi identitas Persia pada abad ke-19. Kedua gerakan ini muncul di tengah konteks historis Dinasti Qajar yang mengalami krisis legitimasi politik, tekanan imperialisme Barat dan Rusia, serta ketegangan sosial akibat modernisasi. Penelitian bertujuan untuk menganalisis akar ideologis kedua gerakan, menjelaskan konteks sosio-politik kemunculannya, mengidentifikasi dampak terhadap masyarakat Persia, dan mengevaluasi persekusi yang dialami pengikutnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-historis dengan analisis sumber primer dan sekunder, termasuk teks-teks keagamaan, dokumen sejarah Qajar, dan literatur akademis kontemporer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Babisme, yang dimulai oleh Sayyid Ali Muhammad al-Bab pada 1844, merupakan gerakan reformasi radikal yang menantang ortodoksi Syiah Itsna Asyariyah. Gerakan ini kemudian berkembang menjadi Bahaisme di bawah kepemimpinan Mirza Husayn Ali Nuri (Baha'ullah), yang menekankan universalisme agama dan kesetaraan umat manusia. Kedua gerakan menghadapi persekusi brutal dari pemerintah Qajar dan ulama Syiah, mengakibatkan ribuan korban jiwa, termasuk eksekusi publik sang Bab pada 1850. Meskipun mengalami penindasan, warisan ideologis kedua gerakan tetap berpengaruh dalam membentuk wacana modernitas, reformasi sosial, dan pluralisme keagamaan di Iran modern. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman kompleksitas dinamika agama-politik dalam sejarah Timur Tengah modern.
Konsep Tawakal dalam Kitab Tanwirul Qulub: Analisis Isi dan Relevasinya bagi Kehidupan Modern Muhamad Zidan Alida Putera, Muhamad; A’isy, Anisa Rihadatul; Gufron, Iffan Ahmad; Kurniawan, Ade Fakih
Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam Vol. 6 No. 1 (2026): Hikamia: Jurnal Pemikiran Tasawuf dan Peradaban Islam
Publisher : Ma'had Aly Idrisiyyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58572/hkm.v6i1.292

Abstract

The concept of tawakal is one of the main teachings in Islamic spirituality that plays an important role in shaping inner peace and emotional balance. In modern life, which is characterized by psychological pressure, materialistic orientation, and spiritual crisis, tawakal has become a relevant religious value to be reexamined. This study aims to analyze the concept of tawakkul in the book Tanwirul Qulub by Shaykh Muhammad Amin Al-Kurdi and to explain its relevance to contemporary life. This research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach. Data were collected through library research, using Tanwirul Qulub as the primary source and various scholarly books and journals as secondary sources. Data analysis was conducted using content analysis to reveal the conceptual and practical meanings of tawakal. The results indicate that the value of tawakal helps individuals avoid materialistic lifestyles, reduce envy toward others, and better manage emotions such as disappointment, anxiety, and anger. The concept of tawakal in Tanwirul Qulub is not only relevant as a classical Sufi teaching but also serves as a practical guide for addressing psychological and spiritual problems in modern society.