cover
Contact Name
I Made Sukma Muniksu
Contact Email
municzhu.made@gmail.com
Phone
+6281236724990
Journal Mail Official
gunawidyauhn@gmail.com
Editorial Address
Program Studi Pendidikan Agama Hindu, Jurusan Pendidikan Agama, Fakultas Dharma Acarya, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar Jl. Ratna, No.51, Denpasar Jl. Nusantara, Kubu, Bangli
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Guna Widya : Jurnal Pendidikan Hindu
ISSN : 23555696     EISSN : 23555696     DOI : -
Guna Widya : Jurnal Pendidikan Hindu dengan ISSN online 2655-0156 (SK no. 0005.26550156/JI.3.1/SK.ISSN/2018.12 - 5 Desember 2018 (mulai edisi Vol. 6, No. 1, Maret 2019), diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Agama Fakultas Dharma Acarya Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar mulai tahun 2014, didedikasikan sebagai publikasi ide, gagasan, hasil penelitian terkait pendidikan agama Hindu. Guna Widya : Jurnal Pendidikan Hindu terbit 2 kali dalam setahun, terindeks oleh Sinta 5, CrossRef, Google Scholar, dan Garuda
Articles 178 Documents
STRATEGI MEMBANGUN PERILAKU POSITIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN Ni Wayan Sariani Binawati
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (684.772 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1542

Abstract

Kehidupan masyarakat mengalami perubahan mengikuti perkembangan teknologi. Berbagai dampak muncul positif maupun negatif. Perilaku yang merugikan dan mencemaskan masyarakat mulai muncul sehingga situasi menjadi tidak nyaman. Ketidaknyamanan muncul akibat dari rasa jengkel, kesal dan marah karena faktor ketersinggungan dan kurang mendapat perhatian. Pola hidup juga sangat berpengaruh pada perilaku. Suasana seperti ini juga sering terjadi di sekolah sehingga suasana belajar menjadi tidak nyaman. Untuk membangun perilaku positif diperlukan beberapa strategi diantaranya;Perubahan pembiasaan, saling menyapa, saling mengingatkan dengan ekspresi wajah yang menyenangkan selalu dilakukan secara persuasif sepanjang waktu dan mengikuti pendidikan belajar seumur hidup akan menambah wawasan pengetahuan dan keterampilan sehingga generasi berkepribadian dan berbudaya sesuai dengan nilai-nilai di masyarakat terwujud.
PENDIDIKAN AGAMA HINDU DALAM PEMENTASAN TARI BARONG KETET UNTUK PERTUNJUKAN PARIWISATA DI BANJAR DENJALAN BATUBULAN I Nyoman Alit Supandi
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.647 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1544

Abstract

Tari Barong tidak termasuk tari wali, tetapi tidak semua barong tidak temasuk tari wali, Salah satu tari Barong yang secara kontinyu dipertontonkan adalah tari barong ketet di banjar denjalan desa Batubulan untuk pertunjukkan pariwisata, tari ini memiliki kesenian yang sangat menarik, hal ini akan mendukung perkembangan pariwisata. Yudabakti dan Watra 2007:25 Seni atau estetika yang jangkaunnya tidak terbatas pada suatu daerah tertentu saja, akan tetapi berlaku secara mendunia dan universal. Bahasanya menjangkau termasuk wilayah Bali yang sudah terkenal tentang seninya. Salah satu wujud kesenian yang dipertunjukkan sebagai hiburan pariwisata yaitu tari barong ketet. Kenapa tari Barong Ketet ini di tulis Karena tari Barong Ketet ini sudah terkenal, melihat dari segi ceritra mengandung unsur kebaikan dan keburukan. Didalam jaman gelobalisasi ini, orang lebih cenderung mengejar kemajuan tampa melihat dampak negatifnya. Disamping tari Barong Ketet ini memiliki unsur ruwa bineda juga terkandung nilai pendidikan estetis, religiusnya, dan sosial masyarakat. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka pertunjukkan tari Barong Ketet ini sangat menarik untuk ditulis. Adapun hasil penulisan ini adalah sebagai berikut 1. prosesi pementasan tari Barong Ketet terlebih dahulu dilakukan persiapan untuk pementasan, ada yang mengatur dibidang gambelan, dekorasi, tiket, peralatan dan pakian. 2. Nilai yang terkandung didalam pementasan barong ketet yaiu nilai pendidikan estetis religius dan sosial masyarakat. Estetisnya terletak kepada periasan barong dan kuubnya barong, sedangkan nilai religiusnya terdapat pada saat pementasan harus mempersembahkan sesajen dari pada itu setiap pementasan sebaiknya mempersembahkan sesajen, guna untuk mendapatkan keharmonisan. sedangkan nilai sosial masyarakat terdapat pada aktipitas pelaksanaan pementasan terjalin kerjasama yang sangat baik, karena seke barong menyadari bahwa manusia adalah sebagai mahluk yang sosial, dan memiliki pedoman tatwa masi sehingga semuanya adalah sama dan tidak ada yang membedakan satu antara yang lainnya.
EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN UPANISAD DALAM MEMBENTUK SISWA YANG BERKARAKTER Ni Nyoman Perni
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.45 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1545

Abstract

Selain Belajar adalah hal yang paling penting dalam menciptakan karakter manusia. itu, era postmodernisme menyiratkan degradasi moralitas, sehingga perlu untuk mempelajari pembelajaran yang efektif untuk menumbuhkan karakter. Sebaliknya ada stigma yang mengatakan bahwa belajar telah gagal dalam melahirkan karakter manusia. Kitab Upanishad sebagai kesimpulan dari fakta Veda Samhita bahwa itu berisi berbagai pembelajaran yang sangat efektif dalam mengembangkan karakter siswa. Secara implisit menekankan pengalaman belajar. Siswa diminta untuk mengalami terlebih dahulu, sehingga mengandalkan pengalaman, kematangan siswa akan terbentuk dan sangat efektif untuk menumbuhkan karakter. Selain itu, belajar Upanishad menekankan proses penguatan dengan menjalankan ajaran prinsifel, yaitu Abhyasa, Brahmacari dan Shraddha. Pembelajaran berikutnya berkaitan dengan kemandirian juga digambarkan dalam Upanishad bahwa banyak siswa benar-benar memiliki kemandirian. Belajar melalui kecenderungan spiritual, diyakini oleh para guru Upanishad dapat menumbuhkan karakter dan dapat mengubah roh manusia (Manava) terhadap karakter ilahi (Madhava).
ANALISIS NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA GAGURITAN TAMTAM Putu Subawa
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.806 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1546

Abstract

Pijakan utama yang harus dijadikan sebagai landasan dalam menerapkan pendidikan karakter adalah nilai moral universal yang dapat digali dari agama. Nilai melukiskan suatu harga yang diyakini seseorang (termasuk di dalamnya keyakinan normatif). Nilai adalah sesuatu yang abstrak yang harganya mensifati atau disifati pada sesuatu hal dan ciri-cirinya dapat dilihat dari tingkah laku, memiliki kaitan dengan istilah fakta, tindakan, norma moral, cita-cita, keyakinan, dan kebutuhan. Nilai dalam hal ini adalah ajaran-ajaran yang terdapat dalam Weda atau Kitab Suci Agama Hindu, khususnya terdapat dalam lontar, kekawin-kekawin, geguritan-geguritan yang ada di Bali, oleh karena itu nilai yang bersumber dari kitab suci ini adalah merupakan cara penanaman nilai yang terbaik pada diri pribadi pada setiap orang.
PENDIDIKAN KARAKTER DALAM LONTAR TUTUR SILAKRAMANING AGURON-GURON Ni Made Sukerni
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1547

Abstract

Pendidikan karakter mulai dinomor satukan oleh pemerintah, sebab perkembangan sosial politik, pendidikan dan kebangsaan sekarang ini memang cenderung menegaskan pendidikan karakter bangsa. Maraknya perilaku anarkis, tawuran antar warga, penyalahgunaan narkoba dan penyimpangan nilai-nilai karakter bangsa lainnya menunjukan indikasi adanya masalah akut dalam pembangunan karakter bangsa. Lontar Tutur Silakramaning Aguron-Guron merupakan salah satu sumber agama yang dijadikan sebagai pedoman dasar sebagai pembentukan karakter yang berlandaskan pada ajaran Tri Kaya Parisudh yang merupakan pondasi dalam membangun karakter anak yang dimulai dari pikiran.
UNIVERSALITAS MAHATMA GANDHI I Made Arsa Wiguna
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 1 (2017): Volume 4, Nomor 1, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.089 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i1.1548

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyampaikan gagasan tentang pemikiran universal MK Gandhi atau yang lebih dikenal dengan Mahatma Gandhi. Beliau adalah sosok yang rendah hati namun memiliki pemikiran yang sangat dalam tentang kehidupan. Beliau juga merupakan tokoh paling penting dalam kemerdekaan India. Empat ciri khas Mahatma Gandhi dalam usahanya merebut kemerdekaan India yakni Ahimsa, Satyagraha, Swadesi, dan Hartal. Semangat dan prinsip- prinsip universal inilah yang hendaknya diwarisi dan dikorelasikan dengan kehidupan saat ini.
PENTINGNYA SARANA PENDIDIKAN DALAM MENUNJANG KUALITAS PENDIDIKAN DI SEKOLAH Ni Wayan Sri Yustikia
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 2 (2017): Volume 4, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.243 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i2.1549

Abstract

Indonesian constitution mandate regarding the effort to improve the nation’s education level is not an easy thing to do and not to be regarded merely as a political product. The mandate is a prerequisite of the glory of The Indonesian republic, and therefore no bargaining should be made over it. The National education Act as the implementation of the mandate in the Indonesian Constitution, has already followed by the increase in the National Education Budget into 20% of the National Income and Expense Budget. Such a fantastic move and this writing will elaborate the use of such fund in real life to accommodate the needs of the students. The vital means of education, starting from the classroom, teaching and learning aids, learning medias, books, journal, and encyclopedia as the source of learning should be improved. Therefore the implementation of the constitution should be based on the empirical needs of education. Brilliant students, the improvement education of Indonesia should be the goal of a great nation such as Indonesia.
UPAYA GURU DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK DI ERA GLOBALISASI Ni Nengah Selasih
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 2 (2017): Volume 4, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (447.343 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i2.1554

Abstract

Changes in time will bring changes in education which are dynamic and drastic so that the adaptation of educators with knowledge, skills, and values is highly needed to be invested to the students. Being a teacher is a challenging profession. A good teacher is a teacher who enjoys his work, believes in taught material, hard worker, spends a lot of time preparing lesson plans, uses parenting patterns, cares about his students' needs, and seeks to enable all students in learning. Being a creative and innovative teacher is not something that comes in just a second, it takes a long process. Therefore, to be an inspirational teacher, it can be done by keeping a commitment to keep giving creative, inspirational, and innovative spirit to the students. With the spirit given, teachers can create superior human creativity and competitive ability. Teachers are role models, role models for their students so that teachers should prioritize their desires to students, they must be creative, inspirational, innovative, and productive.
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA HINDU TENTANG WARIGA MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT) BAGI SISWA KELAS X MIPA-7 SMAN 1 KUTA SELATAN SEMESTER 1 TAHUN PELAJARAN 2016/2017 I Gede Pasek Artana
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 2 (2017): Volume 4, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/gw.v4i2.1555

Abstract

This study aims to improve the learning outcomes of Hindu and Budi Pekerti education subjects on Wariga for students of class X MIPA-7 SMA Negeri 1 Kuta Selatan through the implementation of cooperative learning model Teams Games Tournaments (TGT) held in the first semester of the academic year 2016 / 2017, which starts from September until October 2016 with the subject of research is the students of class X MIPA-7 SMA Negeri 1 Kuta Selatan 2016/2017 lesson year as many as 29 students who are Hindu. Basic Competency presented to the students is Explaining the essence of Padewasan (wariga) in the life of Hindus. This research was conducted in 2 cycles with planning, implementation, observation, and reflection on each cycle. Data collection techniques used are with the test results and observation sheet. Data analysis using comparative descriptive analysis technique by comparing the learning outcomes at initial conditions with the results achieved in each cycle, and qualitative descriptive analysis by comparing the results of observation and reflection on the cycle I and cycle II. The result of data analysis shows that there is improvement of learning quality both process and learning result. It can be seen that in the first cycle there has been an increase in the average score of 11.38 students, ie from the average score of the students at the initial conditions 66.21 to 77.59 and an increase in the average score of students 7.41 on cycle II of Average grade grade 77.59 to 85.00. While the completion of classical learning at the end of the first cycle, there was an increase of 27.59%, from the initial condition that has been completed only 51.72% to 79.31%, and there is an increase in learning mastery by 13, 79 from 79.31 % To 93.10% in cycle II. It is based on the results of observations during the learning process and the results of the assessment of knowledge about wariga after the learning process takes place. So it is suggested to the teacher especially the subject teacher of Hindu and Budi Pekerti Education to use cooperative learning model Teams Games Tournaments (TGT) in an effort to improve the learning result of Hindu Religion and Budi Pekerti.
PENANAMAN KONSEP TRI KAYA PARISUDHA DALAM TRADISI MARERAOSAN Gek Diah Desi Sentana
Guna Widya: Jurnal Pendidikan Hindu Vol 4 No 2 (2017): Volume 4, Nomor 2, Tahun 2017
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.109 KB) | DOI: 10.25078/gw.v4i2.1556

Abstract

Tradisi di Bali baik itu lisan dan tertulis selalu diusahakan terjaga kelestariannya, bukan hanya oleh masyarakatnya yang mayoritas beragama Hindu, tetapi juga oleh pemerintah. Hal itu dilakukan karena tradisi itu sendiri sebagian besar berkaitan dengan upacara yang dilakukan oleh umat Hindu Bali, dan sudah menjadi ikon masyarakat Bali. Sebuah tradisi akan selalu dapat berkembang dan eksis apabila didukung oleh pendukungnya itu sendiri, artinya selalu ada orang yang mau melestarikan tradisi tersebut, setidaknya dapat memperkenalkannya pada kalangan anak-anak sampai pada yang dewasa. Salah satu tradisi lisan yang menjadi bagian dari kearifan lokal daerah dan terdapat hampir di seluruh wilayah Bali yaitu tradisi yang berkaitan dengan ritual perkawinan yaitu tradisi mareraosan. Keterjalinan hubungan perkawinan antara mempelai dan keluarga didasari dengan perkawinan yang sah, legal dan telah mengikuti berbagai kegitan ritual perkawinan. Hampir seluruh warga di Bali merupakan bagian dari pola hubungan keluarga dan perkawinan seperti ini. Sehingga proses sosialisasi untuk keluarga seperti ini dapat berjalan dengan lancar dan baik. Keluarga dengan tipe seperti inipun bisa dikatakan keluarga yang baik sebab dengan sah dan legalnya sebuah keluarga, maka proses sosialasasi dan penerapan fungsi serta peran mempelai dalam masyarakat dapat berjalan dengan baik. Untuk memahami pentingnya perkawinan bagi keluarga dan masyarakat maka calon mempelai perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya konsep Tri Kaya Parisudha dalam ajaran Agama Hindu melalui Tradisi Mareraosan.

Page 9 of 18 | Total Record : 178