cover
Contact Name
Siti Nurul Rofiqo Irwan
Contact Email
rofiqoirwan@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
vegetalika.faperta@ugm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Vegetalika
ISSN : 23024054     EISSN : 26227452     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Vegetalika ISSN (Cetak): 2302-4054 dan ISSN (Online): 2622-7452 adalah open access jurnal yang mempublikasikan artikel-artikel ilmiah berupa gagasan dan hasil penelitian. Topik publikasi berkaitan dengan disiplin ilmu Agronomi mencakup Manajemen dan Produksi Tanaman, Hortikultura, Ekologi Tanaman, Fisiologi Tanaman, Genetika dan Pemuliaan, Teknologi Benih, Bioteknologi Tanaman, dan Biostatistika.
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
Keragaan Sepuluh Kultivar Padi Lokal (Oryza sativa L.) Daerah Istimewa Yogyakarta Whisnu Agung Suryanugraha; Supriyanta Supriyanta; Kristamtini Kristamtini
Vegetalika Vol 6, No 4 (2017)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1533.728 KB) | DOI: 10.22146/veg.30917

Abstract

Penanaman padi varietas unggul mengakibatkan keanekaragaman padi lokal menurunsecara drastis bahkan punah. Kehilangan sumber daya genetik merupakan kehilanganyang tidak ternilai harganya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahuikeragaan karakter agronomi sepuluh kultivar padi lokal (Oryza sativa L.). Sepuluhkultivar padi lokal ditanam di di dusun Timur, Selomartani, Kalasan, Yogyakarta padaDesember 2016 hingga Maret 2017 dengan Rancangan Acak Kelompok Lengkap(RAKL) dengan ulangan sebanyak tiga. Sepuluh kultivar lokal tersebut berasal dariberbagai daerah di Yogyakarta yaitu Mentik putih, Mentik susu, Sri kuning, Pandan wangi, Cempo putih, Kenanga, Gading Melati, Pangestu, Similikiti, dan Menorehbercak ungu. Penanaman dilakukan dengan membuat petak berukuran 4×4 m yangditanam secara jajar legowo 2:1, jumlah tanaman 2 rumpun per lubang, umur bibit 15hari. Analisis varians dilakukan untuk variabel kuantitatif dengan taraf kepercayaan 5%.Jika terdapat signifikansi, dilanjutkan dengan uji HSD Tukey. Kultivar mentik susu dankenanga adalah kultivar yang termasuk dalan kelompok padi sedang dengan umurpanen 120–150 HSS. Sedangkan, delapan kultivar lain termasuk dalam padi berumurgenjah. Kultivar Mentik susu dan Kenanga juga merupakan kultivar yang memiliki umurberbunga paling lama yaitu 100 HSS dan 95 HSS. Kultivar Sri kuning memiliki hasilproduksi aktual paling tinggi dengan 6,28 ton/ha. Di sisi lain, kultivar Mentik susumenjadi yang paling rendah denga 2,18 ton/ha. Analisis korelasi antar karaktermenunjukan karakter jumlah gabah isi per malai, jumlah gabah total per malai, bobot100 butir, dan kepadatan malai memiliki korelasi positif yang kuat terhadap hasilproduksi aktual. Umur berbunga dan umur panen merupakan karakter yang memilikikorelasi negatif paling besar terhadap hasil produksi aktual.
Alternatif Pohon Buah untuk Penghijauan Permukiman Perkotaan Berdasarkan Pendugaan Tingkat Keindahan dan Pendapat Masyarakat di Kelurahan Rejowinangun, Yogyakarta Cut Annisa Nabila; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Budiastuti Kurniasih; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1009.412 KB) | DOI: 10.22146/veg.31978

Abstract

Minat masyarakat Permukiman Rejowinangun Yogyakarta terhadap penanaman pohon buah untuk alternatif tanaman penghijauan, sebagai bagian dari pengembangan lanskap produktif, cukup tinggi. Penelitian bertujuan mengetahui pendapat masyarakat mengenai penghijauan permukiman perkotaan dengan pohon buah serta mengetahui tingkat keindahan alternatif pohon buah. Metode penelitian dilakukan dengan metode survei pengambilan data secara stratified purposive sampling dan analisis Scenic Beauty Estimation (SBE). Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Rejowinangun Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan, sebagian besar masyarakat setuju terhadap pelaksanaan penghijauan dengan pohon buah dengan memperhatikan teknis penanaman pohon. Pengetahuan masyarakat Rejowinangun terhadap buah lokal Yogyakarta di sekitar jalan sekunder sebesar 11,11%, jalan tersier sebesar 21,48%, dan jalan kuarter sebesar 20%. Alternatif pohon buah untuk penghijauan jalan dengan nilai SBE tertinggi yaitu jambu air (Eugenia aquea; 67,61), kepel (Stelechocarpus burahol; 67,22), dan jambu dersono (Syzygium malaccense; 61,13).
Evaluasi Berbagai Genotipe Jagung (Zea mays L.) pada Dua Macam Pemberian Nitrogen Reynaldo Christian; Erlina Ambarwati
Vegetalika Vol 8, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.476 KB) | DOI: 10.22146/veg.33139

Abstract

Jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman penting dengan tujuan utama dari budidaya untuk menghasilkan potensi hasil panen. Karakter pada tanaman yang memiliki nilai ekonomis biasanya dipengaruhi oleh karakter poligenik yang kompleks, dan menunjukan pengaruh yang tinggi dari lingkungan. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengevaluasi performa berbagai jenis kultivar pada lingkungan dengan bermacam pemberian N. Penelitian dilaksanakan di dua macam lahan di daerah Bantul, Yogyakarta dengan karakter lahan berpasir di Srandakan dan lahan sawah di Sewon dengan dua macam pemberian pupuk N (dengan pupuk N dan tanpa pupuk N). Penelitian dilaksanakan pada akhir bulan Mei 2017 hingga pertengahan bulan September 2017. Dipilih tiga kultivar jagung hibrida komersil (‘Pioneer-35’, ‘Bisi 816’, ‘Bima 20’), tiga kultivar komposit (‘Srikandi’, ‘Sukmaraga’, dan ‘Lamuru’) dan satu kultivar komposit jagung lokal (jagung putih). Hasil menunjukkan kultivar hibrida memiliki performa yang baik pada lingkungan dengan pemberian N. Kultivar OP memiliki performa sedang pada seluruh lingkungan dan kultivar komposit lokal memiliki performa rendah di seluruh lingkungan.
Yield Stability and Resistance of Five Melon Genotypes (Cucumis melo L.) Cultivated On Three Altitude Areas Muhammad Iqbal
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.33166

Abstract

The study was conducted to determine the yield stabilities of five melon varieties tested at three altitude areas and to obtain a variety of melon whose yield and stability exceed at three altitude areas. The study examined five melon varieties, namely 'Golden Aroma', 'Ladika', King Melon, Bravo, and M19 at three altitudes, namely Jombang (lowland 52 m dpl), Jiput (mediumland 460 m dpl), and Bojong (highland 776 m dpl) using a complete randomized block design (RAKL) with four replicates (blocks). The study was conducted during the rainy season in October 2016-January 2017 (in Jombang), November 2016-February 2017 (in Jiput), and March 2017-June 2017 (in Bojong). The results showed that the varieties that had yield per hectare and genotype resistance to the environment exceeded the general average were the varieties of King Melon and Bravo, although both of them were unstable at three altitude areas. Average yield per hectare for King Melon (19.33 ton/ha) and Bravo (18.21 ton/ha) and genotype resistance to the environment for King Melon (65.42%) and Bravo (56.25%) were superior to the commercial varieties of 'Golden Aroma' and 'Ladika' and able to compete with national melon yields in 2013 (17.71 ton/ha) and 2014 (18.37 ton/ha).
Pengaruh Waktu Aplikasi Pyraclostrobin terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Cabai (Capsicum Annuum L.) Ayu Ainullah Muryasani; Endang Sulistyaningsih; Eka Tarwaca Susila Putra
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (567.835 KB) | DOI: 10.22146/veg.33518

Abstract

Pemberian pyraclostrobin yang merupakan fungisida dari jenis strobilurin memiliki kemampuan untuk memacu sintesis prekursor IAA yaitu L-tryptopha yang dapat memicu pertumbuhan dan hasil tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu aplikasi pyraclostrobin terbaik terhadap pertumbuhan, hasil dan kesehatan tanaman cabai (Capsicum annuum L.). Penelitian dilakukan di Balai Pengembangan Perbenihan Tanaman Pangan dan Hortikultura, Ngipiksari, Sleman, Yogyakarta pada bulan Februari-Agustus 2016. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) dengan 1 faktor dan 4 blok. Aras faktor ini terdiri dari lima perlakuan yaitu pemberian pyraclostrobin pada benih, pyraclostrobin pada media, pyraclostrobin pada bibit, pyraclostrobin pada tanaman di lapangan dan tanpa perlakuan. Pada perlakuan pyraclostrobin pada benih, pyraclostrobin pada media dan pyraclostrobin pada bibit dilakukan penyemprotan di lapangan saat 30 hspt, 60 hspt dan 90 hspt dengan dosis 1 kg/ha, Data dianalisis menggunakan analisis varian (ANOVA) taraf kepercayaan 95% dan diuji lanjut dengan Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil penelitian memberikan informasi bahwa perlakuan pyraclostrobin pada benih, pyraclostrobin pada media, pyraclostrobin pada bibit dan perlakuan pyraclostrobin pada tanaman di lapangan dengan dosis 1 kg/ha pyraclostrobin sebanyak 3 kali penyemprotan di lapangan saat 30, 60 dan 90 hspt tidak meningkatkan pertumbuhan, hasil dan kesehatan tanaman cabai. Perlakuan pyraclostrobin pada bibit dapat menjadi rekomendasi untuk budidaya tanaman cabai, karena pertumbuhan buah yang lebih cepat waktu panen lebih awal dengan bobot segar buah yang lebih besar, sehingga dapat memberikan peluang bagi petani untuk memperoleh penghasilan lebih banyak.
Pengaruh Pemeraman Eksplan Daun dengan Kolkisina Secara In Vitro terhadap Keberhasilan Pembentukan Terung Tetraploid Fathin Nabihaty; Taryono Taryono; Rani Agustina Wulandari
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (937.085 KB) | DOI: 10.22146/veg.33555

Abstract

Perbaikan tanaman untuk meningkatkan daya tawar terung dapat dilakukan melalui poliploidisasi. Pemberian kolkisina secara in vitro berpeluang meningkatkan efisiensi poliploidisasi. Penelitian dilakukan untuk mengkaji pengaruh pemeraman eksplan daun dengan kolkisina secara in vitro terhadap keberhasilan poliploidisasi dan pembentukan terung tetraploid (4x), serta mendapatkan tetraploid berdasarkan ciri morfologi planlet dan jumlah kromosom. Tiga aras periode peram dengan 2,5 mM kolkisina (24, 48, dan 72 jam) dan satu perlakuan pemeraman tanpa kolkisina sebagai pembanding, diujicobakan pada lima jenis terung (Rimbang, Lokal Bantul, Pipit, Hijau Malang, dan Limao) menggunakan rancangan acak lengkap. Tahap utama yang dilalui eksplan yaitu pra-pemeraman, pemeraman dengan kolkisina, regenerasi, penggantian media tanam 1-6 kali, pengakaran, dan regenerasi ulang hingga 2 kali. Tata cara ini berhasil membentuk Terung Rimbang poliploid yang terdiri dari 2x+3x dan 3x+4x. Jumlah individu poliploid diperkirakan sebanyak 59%, sisanya 41% merupakan diploid. Planlet yang memiliki sel tetraploid sekaligus ploidinya tertinggi diperoleh dari pemeraman kolkisina selama 72 jam.
Konsep Perencanaan Taman Museum Kars Indonesia Wonogiri, Jawa Tengah Berdasarkan Potensi Tanaman Lokal Maharsadi Mahfud Amarulaziz; Siti Nurul Rofiqo Irwan; Rohlan Rogomulyo
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.933 KB) | DOI: 10.22146/veg.33556

Abstract

Penelitian ini bertujuan menginventarisasi dan mengidentifikasi tanaman lokal yang berada di sekitar Museum Kars Indonesia dan memberikan konsep perencanaan taman yang berbasis pada pemanfaatan tanaman lokal. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei menggunakan teknik pengambilan data purposive sampling dan wawancara mendalam. Wawancara dilakukan dengan narasumber yang dinilai memiliki pengetahuan yang cukup tentang kondisi lahan Museum Kars Indonesia dan kawasan disekitarnya, mengetahui jenis-jenis tanaman lokal di kawasan museum beserta potensi yang dimiliki dalam upaya pengembangan kualitas lanskap taman Museum Kars Indonesia. Wawancara dilakukan di sekitar kawasan museum yang memiliki karakter fisik lahan yang menyerupai kondisi lahan di area Taman Museum Kars Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan pada kawasan Museum kars Indonesia terdapat 47 jenis tanaman lokal yang terdiri dari 34 jenis pohon, dan 13 jenis perdu dan semak. PadaTaman Museum Kars Indonesia terdapat 21 jenis tanaman yang terdiri dari 13 jenispohon dan 8 jenis perdu dan semak. Tanaman lokal di kawasan Museum Kars Indonesiamemiliki potensi berupa tanaman bunga untuk meningkatkan keindahan dan variasiwarna, potensi produksi buah yang dapat meningkatkan nilai tambah taman dan dayatarik pengunjung, variasi bentuk, warna dan ukuran tajuk tanaman yang dapatdimanfaatkan untuk membentuk pola tanaman yang teratur, berimbang dan beriramaserta keberagaman tanaman yang dapat menghasilkan keanekaragaman hayati(Biodiversity) dari segi tanaman maupun sebagai habitat satwa. Dengan adanyapenelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan pihak pengelola museum untukmeningkatkan kualitas taman museum menjadi lebih baik.
Karakterisasi Morfologi dan Fotoperiodisme Padi Lokal (Oryza sativa L.) Indonesia Mirza Bintang Ahimsa; Panjisakti Basunanda; Supriyanta Supriyanta
Vegetalika Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1086.868 KB) | DOI: 10.22146/veg.33557

Abstract

Penelitian berjudul Karakterisasi Morfologi dan Fotoperiodisme Padi Lokal (oryza sativa L.) Indonesia yang dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai September 2016 di Kebun Tri-Dharma, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada yang berlokasi di Desa Bantengan, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, menggunakan 11 kultivar padi lokal yang merupakan koleksi Departemen Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian UGM yang bertujuan untuk mengkarakterisasi aspek morfologi dan mengidentifikasi pengaruh fotoperiode terhadap umur berbunga padi lokal Indonesia Penanaman dilakukan dalam kondisi lingkungan yang seragam dengan menggunakan rumah plastik seluas 5 x 5 m. Setiap kultivar ditanam dalam ember, setiap ember berisi satu tanaman. Data penelitian dianalisis mengikuti kaidah RAL (Rancangan Acak Lengkap) dengan tanggal tanam sebagai faktor. Hasil pengukuran panjang daun kultivar yang termasuk golongan daun panjang adalah 'Hitam Pagentan', 'Temen Ireng', dan 'Saka', kultivar yang termasuk golongan daun sedang adalah 'Bulu', 'Toraja', dan 'CempoIreng', kultivar yang termasuk golongan daun pendek adalah 'Menthik Wangi', 'Ciherang','Cukah, dan 'Andelrojo', dan kultivar yang termasuk golongan sagat pendek adalah'Nipponbare'. Pengukuran tinggi tanaman menunjukan padi yang memiliki tinggi tanamanterpendek yaitu 'Nipponbare', sedangkan yang tertinggi yaitu 'Temen Ireng' dan padi yangmemiliki ketegaran batang yang lemah seperti 'Bulu', 'Toraja', 'Hitam Pagentan', 'TemenIreng', 'Saka'. Kultivar 'Ciherang' dan Kultivar 'Menthik Wangi'. Hasil penelitian terhadapfotoperiodisme menunjukan kultivar yang tidak sensitif terhadap cahaya yaitu 'Nipponbare','Menthik Wangi' dan 'Cempo Ireng', sedangkan kultivar padi yang sensitif terhadap cahayayaitu 'Saka', 'Cukah', 'Andelrojo', 'Hitam Pagentan', 'Ireng temen', 'Toraja', 'Ciherang', dan'Bulu'.
Effects of Stem Cutting Time and Height on Yield Components and Yield of Rice Ratun System (Oryza sativa L.) Vicky Silvia Nuzul
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.34148

Abstract

Ratun is the ability of the rice plant to regenerate new tillers after harvest, so it can be increased rice productivity. The aim of this research was to compare the yield components and yield between rice ratun with the parent rice, to analyze influence of stem cutting time and height on yield components and yield of rice ratun system and also to determine optimum cutting time and height for the yield components and yield of rice ratun. This research was heald in Pusat Inovasi Agroteknologi (PIAT) of  Gadjah Mada University, Kalitirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta on March to June 2017.  The experiment used split-plot design with cutting time as the main plot and cutting height as sub plot with 3 blocks as replication. The cutting time consisted of 3 levels i.e. at harvest time, 7 days after harvest time, and 14 days after harvest time.  Meanwhile, cutting height consisted of 4 levels i.e. 3 cm, 13 cm, 23 cm, and 33 cm above the ground.The research showed that the yield components and yield of rice ratun lower than the parent rice. Cutting time at harvest time, 7, 14 days after harvest time with the cutting height close to the ground increase yield component and yield of rice ratun but delay the generative phase. The highest yield components and yield of rice ratun achieved at harvest time cutting time with cutting height 3 cm above the ground.
Tanggapan Dua Kultivar Kedelai (Glycine max L.) Terhadap Empat Aras Salinitas Mahmud Ismail
Vegetalika Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/veg.34288

Abstract

Salinitas merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hampir semua pertumbuhan tanaman kedelai pada fase vegetatif dan generatif. Pengaruh salin pada berbagai varietas tanaman kedelai berbeda-beda tergantung pada tingkat kepekaan varietas tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian empat kadar salin terhadap pertumbuhan dan hasil dua varietas kedelai. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan dua faktor (CRD Faktorial) faktor pertama adalah varietas kedelai Grobogan dan varietas kedelai Malika. Faktor kedua adalah kadar salinitas: N0= kontrol, 1,17 dS/m, 2,34 dS/m, dan 3,51 dS/m. Data hasil pengamatan dianalisis menggunakan analisis varian dilanjutkan dengan uji jarak Duncan Multiple Range Test(DMRT) dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dua varietas kedelai mampu bertahan pada kadar salin 1,17 dS/m pengukuran variabel: tinggi tanaman, luas perakaran, luas daun, klorofil a, bobot segar tajuk, bobot kering tajuk, panjang akar pada varietas Malika, bobot segar akar, bobot kering akar, laju pertumbuhan nisbi tajuk dan akar, laju asimilasi bersih, jumlah polong pertanaman dan jumlah biji pertanaman. Dua varietas kedelai menunjukkan penurunan hasil pada pemberian kadar salin 3,51 dS/m. Penurunan hasil pada varietas kedelai Malika adalah 23% jumlah polong pertanaman, 31% jumlah biji pertanaman, 39% berat kering biji , dan 20% berat 100 biji. Sedangkan pada varietas Grobogan adalah 18% jumlah polong pertanaman, 17% jumlah biji pertanaman, 26% berat kering biji , dan 11% berat 100 biji.