cover
Contact Name
Davit Nugraha
Contact Email
pharmacogenius@gmail.com
Phone
+6285314834050
Journal Mail Official
pharmacogenius@gmail.com
Editorial Address
Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacy Genius
ISSN : -     EISSN : 29644771     DOI : https://doi.org/10.56359/pharmgen.v2i1
Core Subject : Health, Science,
A manuscripts submitted to Pharmacy Genius should be an original research article related to the field of the all scopes of Pharmaceutical Science such as: 1. Pharmaceutics, 2. Biopharmaceutics, 3. Drug Delivery System, 4. Physical Pharmacy, 5. Chemical Pharmacy, 6. Pharmaceutical Technology, 7. Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, 8. Pharmacology and Toxicology, 9. Pharmacokinetics, 10. Pharmaceutical Chemistry, 11. Pharmaceutical Biology, 12. Community and Clinical Pharmacy, 13. Regulatory Affairs and Management Pharmacy, 14. and Alternative Medicines.
Articles 83 Documents
Formulasi Tablet dengan Eksipien Pati Talas Beneng (Xanthosoma undipes K. Koch) sebagai Penghancur Gusmayadi, Inding; Prisiska, Fahjar
Pharmacogenius Journal Vol 3 No 3 (2024): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v3i3.564

Abstract

Pendahuluan: Tablet adalah sedian padat kompak, dibuat secara kempa cetak, dalam bentuk tabung pipih atau sirkuler, kedua permukaannya rata atau cembung, mengandung satu jenis obat atau lebih dengan atau tanpa zat tambahan. Tablet dibuat dari bahan aktif dan bahan tambahan yang meliputi bahan pengisi, penghancur, pengikat dan pelicin. Penghancur mempengaruhi pelepasan zat aktif obat dari sediaan untuk kemudian dapat memberikan efek terapi yang diinginkan. Pati merupakan salah satu bahan penghancur tablet pada konsentrasi 3-15% b/b. Xanthosoma undipes K.Koch merupakan salah satu sumber pati yang memiliki kadar pati sebesar 15.21%. Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan pati Xanthosoma undipes K.Koch. sebagai penghancur Metode: Pembuatan Tablet dilakukan dengan metode kempa langsung dengan empat formula menggunakan konsentrasi pati talas beneng yang berbeda yaitu 0%, 5%, 10% dan 15%, kemudian dievaluasi waktu hancur masing-masing formula. Hasil: Uji waktu hancur keempat formula memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia dengan waktu hancur pada formula I sebesar 76.11 detik, formula II sebesar 64.67 detik, formula III sebesar 42.17 detik dan untuk formula IV sebesar 25.83 detik. Kesimpulan: Pati Xanthosoma undipes dapat digunakan sebagai eksipien zat penghancur pada tablet. Karakteristik tablet dengan Pati Xanthosoma undipes dapat memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia dari keempat formula pati Xanthosoma undipes dapat digunakan sebagai eksipien zat penghancur pada tablet. Karakteristik tablet dengan Pati Xanthosoma undipes dapat memenuhi persyaratan Farmakope Indonesia dari keempat formula.
Inovasi Dan Tantangan Dalam Pengemasan Obat: Studi Review Terhadap Peran Kemasan Dalam Kualitas Produk Farmasi Abadi, Shada Adila; Julianti, Nurul Hasni; Zaida, Yumna; Latifah, Nor
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 2 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i2.633

Abstract

Pendahuluan: Pengemasan sediaan farmasi memegang peranan penting dalam menjamin mutu, stabilitas, keamanan, dan efektivitas obat hingga sampai ke tangan konsumen. Seiring berkembangnya teknologi, kemasan tidak lagi hanya berfungsi sebagai pelindung fisik, tetapi juga sebagai bagian dari sistem penghantaran obat yang inovatif dan efisien. Tujuan: Artikel review ini bertujuan untuk mengkaji berbagai bentuk inovasi terkini dalam pengemasan sediaan farmasi serta tantangan yang dihadapi dalam implementasinya, khususnya dalam konteks industri farmasi di Indonesia. Metode: Metode penelusuran literatur dilakukan melalui database ilmiah seperti Google Scholar dan ScienceDirect dengan rentang waktu publikasi antara tahun 2015 hingga 2025. Hasil:  Kajian menunjukkan bahwa inovasi seperti kemasan ramah lingkungan, child-resistant packaging, integrasi barcode digital, kemasan pintar dengan sensor, serta otomatisasi proses pengemasan telah terbukti meningkatkan kualitas dan efisiensi produk farmasi. Namun, tantangan seperti keterbatasan investasi riset, tingginya cacat kemasan, kompleksitas regulasi, dan keterbatasan teknologi masih menjadi hambatan utama dalam adopsi inovasi secara luas. Kesimpulan: Dibutuhkan kolaborasi antara industri, regulator, dan akademisi untuk menciptakan solusi strategis yang seimbang antara inovasi dan kepatuhan terhadap regulasi, demi mendukung pengembangan sistem pengemasan obat yang lebih maju, aman, dan berkelanjutan.
Pengembangan Uji Stabilitas Berdasarkan Mutu Fisik Terhadap Sediaan Semi Solid dan Oral Liquid Rahman, Akmal Fadhlir; Putri, Audy Apriliana; Latifah, Nor
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 2 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i2.652

Abstract

Pendahuluan : Dalam dunia farmasi sediaan obat baik semi-solid seperti krim, pasta, salep, lotio dan gel maupun oral liquid seperti emulsi, suspensi dan sirup, merupakan produk krusial yang memerlukan jaminan kualitas keamanan dan efektivitas hingga ke pasien. Untuk memastikan hal ini uji stabilitas menjadi sangat penting bertujuan untuk mempertahankan integritas fisik, kimia dan mikrobiologi produk sepanjang masa penyimpanan dan penggunaannya mengingat faktor lingkungan seperti suhu dan kelembaban dapat memengaruhi stabilitas. Tujuan : Artikel review ini secara spesifik bertujuan untuk menganalisis perkembangan uji stabilitas mutu fisik sediaan semi-solid dan oral liquid dari tahun 2015 hingga 2025. Metode : yang digunakan adalah pencarian literatur daring dari berbagai basis data akademik menghasilkan 22 artikel nasional yang relevan. Hasil : analisis menunjukkan adanya evolusi dalam parameter uji, di mana selain pengujian dasar seperti organoleptis, pH dan viskositas, studi-studi terbaru mulai memasukkan uji lebih lanjut seperti cycling test, skrining fitokimia, uji iritasi, uji kesukaan, ukuran globul, Freeze and Thaw, serta uji stabilitas dipercepat. Kesimpulan : Perkembangan ini mencerminkan kemajuan teknologi farmasi dan pemahaman biofarmasi yang lebih mendalam, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi, keamanan dan akseptabilitas produk. Oleh karena itu, review ini menyimpulkan bahwa pemahaman dan implementasi uji stabilitas yang komprehensif sangat esensial bagi apoteker dan ilmuwan farmasi dalam pengembangan produk-produk baru dan menjaga kualitas obat yang beredar.
Uji Stabilitas Fisik Formulasi Sediaan Face Mist Ekstrak Daun Kelor (Moringa Oleifera) Dengan Variasi Gliserin Adha, Ilham Fauzan
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.674

Abstract

Pendahuluan : Face mist merupakan salah satu sediaan kosmetik cair yang digunakan untuk menyegarkan dan melembapkan kulit wajah. Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung senyawa aktif antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan kulit. Gliserin digunakan sebagai humektan dalam formulasi untuk meningkatkan kelembaban kulit. Tujuan: Mengetahui pengaruh variasi konsentrasi gliserin terhadap stabilitas fisik face mist ekstrak daun kelor. Metode: Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tiga formula yang mengandung ekstrak daun kelor 10% dan variasi konsentrasi gliserin (F1: 17,5%; F2: 22,5%; F3: 25%). Evaluasi dilakukan terhadap parameter fisik meliputi organoleptik, homogenitas, pH, kelembaban kulit, daya sebar semprot, waktu kering, dan cycling test. Hasil: menunjukkan semua formula bersifat homogen, warna bening kekuningan dan bau khas gliserin, tanpa perbedaan organoleptik berarti. Nilai pH rata-rata sekitar 5,1–5,2, berada dalam interval aman 4,5–6,5 dan tidak berbeda signifikan (p>0,05) antar formula. Aplikasi face mist secara signifikan meningkatkan kelembapan kulit; peningkatan terbesar pada formulasi dengan gliserin tertinggi (F3: +16,7%±0,5%). Rata-rata diameter semprotan ≈5,3 cm pada semua formula (memenuhi standar 5–7 cm). Waktu kering masing-masing formula <2 menit, dengan F1 tercepat. Setelah uji siklus suhu, tidak terjadi perubahan signifikan organoleptik, pH, atau daya sebar semprot Kesimpulan: Face mist dengan ekstrak daun kelor dan variasi gliserin dapat diformulasikan dengan stabilitas fisik yang baik. Formula F3 dengan gliserin 25% merupakan formulasi terbaik berdasarkan evaluasi fisik.
Uji Evaluasi Fisik Pasta Gigi Ekstrak Daun Singkong (Manihot esculenta) dengan Natrium CMC sebagai Gelling Agent Nugraha, Rifki
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.675

Abstract

Pendahuluan : Pasta gigi adalah bahan pembantu yang digunakan untuk membersihkan gigi secara mekanis dari sisa makanan, menghilangkan plak, dan bau tak sedap pada mulut.Daun singkong (Manihot esculenta Crantz) mengandung senyawa yang berperan sebagai senyawa antibakteri yaitu alkaloid, saponin, flavonoid dan steroid. Tujuan: mengevaluasi stabilitas fisik pasta gigi gel berbahan baku ekstrak daun singkong dengan Natrium CMC sebagai gelling agent. Metode: Penelitian ini menggunakan metode ekstraksi daun singkong dengan Natrium CMC sebagai gelling agent. Ekstrak kental daun singkong dengan konsentrasi 30% dapat dibuat menjadi sediaan pasta gigi yang baik. Natrium CMC telah digunakan secara luas di bidang farmasi sebagai eksipien. Natrium karboksimetil selulosa (Na-CMC) merupakan senyawa turunan selulosa yang dapat larut dalam air. Penelitian yang akan dilakukan pada penelitian ini adalah eksperimental yang bertujuan untuk Uji evaluasi fisik pasta gigi ekstrak daun singkong (Manihot Esculenta) dengan Natrium CMC sebagai gelling agent. Konsentrasi Natrium CMC yang akan digunakan adalah 5%, 10% dan 15%. Hasil: Semua formula homogen (tidak terdapat partikel kasar). Nilai pH hampir netral (≈7,2–7,3) sesuai Standar Nasional Indonesia (4,5–10,5), sehingga aman bagi mukosa mulut. Viskositas rata-rata berkisar 415–420 mPa·s pada ketiga formula, sesuai rentang SNI (2.000–50.000 cP), dan tidak berbeda signifikan (P>0,05). Tinggi busa rendah (3–4 mm), jauh di bawah batas maksimum 15 mm, dengan tidak ada perbedaan signifikan antar formula. Secara keseluruhan, pasta gigi gel ekstrak daun singkong dengan Natrium CMC memenuhi kriteria fisik pasta gigi yang baik. Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukan ekstrak dari daun singkong (Manihot Esculenta) dapat diformulasikan menjadi sediaan Pasta Gigi gel dengan Natrium CMC dan sediaan memenuhi persyaratan uji evaluasi fisik.
Analisis Kadar Klorida dalam Air Minum Isi Ulang dengan Metode Argentometri (Metode Mohr) di Kecamatan Rajadesa Hermawan, Wawan
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.676

Abstract

Pendahuluan : Air minum isi ulang populer sebagai alternatif karena harganya murah, namun tidak semua depot menjamin kualitas airnya. Klorida (Cl⁻) merupakan anion yang banyak terdapat dalam air dan termasuk parameter penting pada standar kualitas air minum (Permenkes No.492/2010). Kelebihan klorida dapat mengganggu sifat fisik air, merusak pipa logam, dan menimbulkan masalah kesehatan seperti kerusakan ginjal Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengukur kadar klorida pada air minum isi ulang dari beberapa depot di Kecamatan Rajadesa. Metode: Metode yang digunakan adalah titrasi argentometri Mohr dengan larutan AgNO₃ standar dan indikator K₂CrO₄ (titik akhir endapan merah bata). Analisis dilakukan di Laboratorium Kimia Farmasi STIKes Muhammadiyah Ciamis pada Maret 2024. Hasil: penelitian menunjukkan kadar klorida sampel berkisar antara 4,31–38,35 mg/L, dengan rata-rata 16,8 mg/L. Seluruh nilai berada jauh di bawah ambang batas maksimum yang ditetapkan (250 mg/L). Kesimpulan: Berdasarkan hal tersebut, air minum isi ulang di Rajadesa secara kimia memenuhi batas kualitas dan layak konsumsi
Formulasi Sediaan Lip Balm dari Ekstrak Kulit Buah Naga (Hylocereus undatus) dengan Variasi Konsentrasi Carnauba Wax Aziz, Lizwaril
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.677

Abstract

Pendahuluan : Kulit buah naga merah (Hylocereus undatus) mengandung flavonoid (polifenol), vitamin C dan E sebagai antioksidan yang bermanfaat untuk menjaga kelembaban dan nutrisi kulit. Lip balm adalah sediaan kosmetik dengan komponen utama lilin, lemak, dan minyak, berfungsi mencegah kekeringan bibir dengan meningkatkan kelembaban. Tujuan: untuk mengetahui sediaan lip balm dari ekstrak kulit buah naga (Hylocereus undatus) dengan variasi konsentrasi carnauba wax. Metode: Pengujian tersebut dibuat dalam 3 formulasi, formulasi I dengan konsentrasi carnauba wax 10%, formulasi II dengan konsentrasi carnauba wax 20%, formulasi I dengan konsentrasi carnauba wax 30%. Keseluruhan formulasi diuji mutu fisik sediaan lip balm yang meliputi organoleptis, homogenitas, pH, daya sebar dan hedonik. Hasil uji dilakukan analisis signifikansi menggunakan metode one way ANOVA.. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sediaan lip blam ekstrak kulit buah naga dengan perbedaan konsentrasi carnauba wax pada evaluasi organoleptik, pH, Homogenitas memenuhi persyaratan uji mutu, tetapi pada evaluasi daya sebar formulasi III tidak memenuhi persyaratan uji mutu. Evaluasi Hedonik pada formulasi I dengan persentase suka 62,5% dan kurang suka 37,5%, formulasi II dengan persentase sangat suka 25% dan suka 75%, formulasi III dengan persentase suka 5% kurang suka 87,5% dan tidak suka 7,5%. Kesimpulan: lip balm dengan 20% carnauba wax memiliki karakteristik fisik terbaik, sedangkan 30% terlalu keras sehingga daya sebar rendah.
Evaluasi Pengelolaan Obat Kadaluarsa Dan Obat Rusak Pada Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Ciamis Putri, Devya
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.678

Abstract

Pendahuluan : Pengelolaan obat kadaluarsa dan rusak di rumah sakit sangat krusial untuk menjamin keamanan pasien dan mencegah pencemaran lingkungan. RSUD Kabupaten Ciamis hingga saat ini belum memiliki laporan komprehensif mengenai efektivitas prosedur pengelolaan tersebut. Tujuan : Menilai kepatuhan Instalasi Farmasi RSUD Ciamis terhadap Pedoman Pengelolaan Obat Kadaluarsa dan Obat Rusak Kemenkes RI Tahun 2021 dan menghitung persentase obat kadaluarsa serta rusak. Metode : Penelitian deskriptif kuantitatif dilaksanakan dengan audit checklist aktivitas pengelolaan (identifikasi, pemisahan, pencatatan, penyimpanan, pemusnahan, pelaporan) serta pengumpulan data jenis dan jumlah obat kadaluarsa/rusak periode Januari–Desember 2024. Hasil dianalisis dalam bentuk persentase kepatuhan dan proporsi obat bermasalah. Hasil : Keseluruhan 100% langkah-langkah sesuai pedoman telah diterapkan. Dari 4.200 jenis sediaan, ditemukan 35 item (0,83%) obat kadaluarsa dan 12 item (0,29%) obat rusak, keduanya masih di bawah ambang batas <1%. Kesimpulan :Pengelolaan obat kadaluarsa dan rusak di RSUD Ciamis sudah sesuai pedoman dan berada pada kategori baik. Namun, perlu peningkatan monitoring penyimpanan suhu dan pencatatan batch untuk menurunkan angka obat rusak.
Formulasi Dan Uji Evaluasi Sediaan Face Mist Ekstrak Daun Sukun (Artocarpus altilis) Pamungkas, Adam Latif
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.680

Abstract

Pendahuluan : Face mist merupakan salah satu produk kosmetik cair yang berfungsi menyegarkan dan melembabkan kulit wajah. Daun sukun (Artocarpus altilis) mengandung senyawa aktif seperti flavonoid dan fenol yang berfungsi sebagai antioksidan alami. Tujuan : Mengetahui formulasi dan hasil evaluasi fisik sediaan face mist dari ekstrak daun sukun dengan variasi konsentrasi PVP. Metode : Penelitian eksperimental laboratorium dengan tiga formula face mist yang mengandung ekstrak daun sukun 6% dan variasi konsentrasi PVP 5% (F1), 7% (F2), dan 10% (F3). Evaluasi fisik meliputi uji organoleptik, homogenitas, pH, dan bobot jenis. Hasil : Semua formula face mist menunjukkan hasil organoleptik berwarna oranye, bentuk cair, dan bau khas, serta homogen. Nilai pH berada dalam rentang aman (F1: 5,04; F2: 5,07; F3: 5,28). Bobot jenis berada pada kisaran 1,013 – 1,016 g/mL. Kesimpulan : Face mist ekstrak daun sukun dapat diformulasikan dan memenuhi parameter uji fisik. Seluruh formula menunjukkan kestabilan fisik dan berada dalam rentang standar.
Evaluasi Pengelolaan Obat di UPTD Puskesmas Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya Nurpitriani, Kania
Pharmacogenius Journal Vol 4 No 1 (2025): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v4i1.681

Abstract

Pendahuluan : Pengelolaan obat di Puskesmas merupakan indikator mutu pelayanan kefarmasian yang menentukan keberhasilan manajemen Puskesmas. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengelolaan obat di UPTD Puskesmas Pancatengah Kabupaten Tasikmalaya dengan parameter: ketepatan perencanaan obat, kesesuaian obat tersedia dengan Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), persentase obat tidak diresepkan selama 6 bulan, obat kadaluarsa/rusak, dan penggunaan obat generik. Metode : penelitian bersifat deskriptif retrospektif dengan analisis kuantitatif pada data RKO (Rencana Kebutuhan Obat) dan LPLPO periode Januari–Desember 2023. Hasil : menunjukkan ketepatan perencanaan obat 79,7% (belum mencapai standar ideal 100%), kesesuaian obat dengan DOEN 87,2%, obat tidak diresepkan 22%, obat kadaluarsa 16,3%, dan penggunaan obat generik 100%. Kebanyakan indikator tersebut belum memenuhi standar yang ditetapkan (idealnya 0–100% sesuai konteks), kecuali pemakaian obat generik sudah optimal. Temuan ini mengindikasikan perlunya peningkatan dalam perencanaan, pengadaan, dan pendistribusian obat di Puskesmas. Kesimpulan : Persentase obat yang kadaluarsa atau rusak yaitu sebesar 16,3% dan Persentase obat yang tidak kadaluarsa atau rusak yaitu 83,7%. Belum memenuhi Standar. Persentase Obat Generik yaitu 100% dan Persentase Obat yang tidak termasuk Obat Generik yaitu 0%. Memenuhi Standar.