cover
Contact Name
Davit Nugraha
Contact Email
pharmacogenius@gmail.com
Phone
+6285314834050
Journal Mail Official
pharmacogenius@gmail.com
Editorial Address
Desa. Pamokolan, Kecamatan Cihaurbeuti, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.
Location
Kab. ciamis,
Jawa barat
INDONESIA
Pharmacy Genius
ISSN : -     EISSN : 29644771     DOI : https://doi.org/10.56359/pharmgen.v2i1
Core Subject : Health, Science,
A manuscripts submitted to Pharmacy Genius should be an original research article related to the field of the all scopes of Pharmaceutical Science such as: 1. Pharmaceutics, 2. Biopharmaceutics, 3. Drug Delivery System, 4. Physical Pharmacy, 5. Chemical Pharmacy, 6. Pharmaceutical Technology, 7. Pharmaceutical Microbiology and Biotechnology, 8. Pharmacology and Toxicology, 9. Pharmacokinetics, 10. Pharmaceutical Chemistry, 11. Pharmaceutical Biology, 12. Community and Clinical Pharmacy, 13. Regulatory Affairs and Management Pharmacy, 14. and Alternative Medicines.
Articles 83 Documents
Optimasi Fase Gerak pada Isolasi dan Identifikasi Antosianin Ubi Jalar Ungu (Ipomea batatas L) Siti Rahmah Kurnia Ramdan; Vivit Fitriah
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 2 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i2.280

Abstract

Pendahuluan: Ubi jalar ungu (Ipomea batatas L) merupakan salah satu jenis umbi-umbian yang memiliki kandungan gizi utama karbohidrat dan nutrisi lainnya diantaranya serat, dan pektin. Kandungan lain yaitu adanya pigmen antosianin yang memiliki manfaat sebagai antioksidan, antikarsinogenik, antmutagenik dan sebagai pewarna alami. Antosianin merupakan zat larut air dan merupakan turunan mono atau diasetil 3-(2-glukosil)glukosil-5-glukosil peonidi dan sianidin. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan optimasi fase gerak pada isolasi antosianin dari ubi jalar ungu dengan tiga variasi eluen yaitu eluen I: n-butanol:asam asetat:air (4:1:5 ), eluen II n-Butanol : Asam asetat : Air (1:5:4) dan n-Butanol : Asam asetat : Air (5:4:1). Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kromatografi kolom untuk proses pemisahan pigmen antosianin dan kromatografi lapis tipis untuk identifikasi senyawa. Selanjutnya dilakukan identifikasi menggunakan spektrofotometer uv-vis. Hasil: Hasil dari  isolasi antosianin pada ekstrak ubi jalar ungu dengan menggunakan kromatografi kolom diperoleh waktu pemisahan dan nilai Rf yang berbeda-beda dari setiap variasi eluen. Eluen paling baik adalah eluen II dengan waktu pemisahan 16 menit 15 detik dan nilai Rf sebesar 0,5 cm, kemudian eluen I dengan waktu pemisahan 18 menit 32 detik dan nilai Rf sebesar 0,7 cm dan eluen III dengan waktu pemisahan 12 menit 36 detik dengan nilai Rf 0,4. Kesimpulan: Dari data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa eleun paling optimal pada isolasi antosianin ubi jalar ungu adalah eluen II.
Pengaruh Pemberian Edukasi Terhadap Tingkat Pengetahuan, Self Management, Dan Kadar Glukosa Darah Pasien DMT2 Afresa Bias Putri Enarga; Peppy Octaviany Dian Megasari; Dwi Novitasari; Aditya Rendra Pranadipta
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.288

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolisme yang menyumbang 90% - 95%. Keberhasilan terapi DMT2 adalah pengobatan dan self management yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Edukasi adalah aspek penting dalam proses penatalaksanaan DM karena kurangnya edukasi dapat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Pengetahuan yang cukup membuat pasien memahami kondisi sakitnya sehingga akan mendorong melakukan self management dan kadar glukosa darah akan terkontrol. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik responden DMT2; pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah; jenis obat yang digunakan. Metode: Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden DMT2 dengan kriteria inklusi pasien rawat jalan usia 20-65 tahun, data diambil dengan wawancara, pemberian kuesioner dan rekam medik. Intrumen penelitian berupa kuesioner DKQ24 dan DMSQ. Analisis data univariat dengan uji distribusi frekuensi dan uji paired t-test. Analisis bivariat dengan uji wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pasien yang banyak terdiagnosa DM adalah usia >45 tahun, jenis kelamin perempuan, lama DM 1-5 tahun, dan tingkat pendidikan SD. Hasil uji bivariat menunjukan ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah (0,000<0,05). Obat yang paling banyak digunakan adalah metformin (20%). Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah. Obat yang paling banyak dikonsumsi adalah metformin (20%). Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolisme yang menyumbang 90% - 95%. Keberhasilan terapi DMT2 adalah pengobatan dan self management yang dipengaruhi oleh pengetahuan. Edukasi adalah aspek penting dalam proses penatalaksanaan DM karena kurangnya edukasi dapat berpengaruh terhadap tingkat pengetahuan seseorang. Pengetahuan yang cukup membuat pasien memahami kondisi sakitnya sehingga akan mendorong melakukan self management dan kadar glukosa darah akan terkontrol. Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik responden DMT2; pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah; jenis obat yang digunakan. Metode: Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 30 responden DMT2 dengan kriteria inklusi pasien rawat jalan usia 20-65 tahun, data diambil dengan wawancara, pemberian kuesioner dan rekam medik. Intrumen penelitian berupa kuesioner DKQ24 dan DMSQ. Analisis data univariat dengan uji distribusi frekuensi dan uji paired t-test. Analisis bivariat dengan uji wilcoxon. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pasien yang banyak terdiagnosa DM adalah usia >45 tahun, jenis kelamin perempuan, lama DM 1-5 tahun, dan tingkat pendidikan SD. Hasil uji bivariat menunjukan ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah (0,000<0,05). Obat yang paling banyak digunakan adalah metformin (20%). Kesimpulan: Ada pengaruh pemberian edukasi terhadap tingkat pengetahuan, self management, dan kadar glukosa darah. Obat yang paling banyak dikonsumsi adalah metformin (20%).
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Persepsi Masyarakat Tentang TB Paru di Barlingmascakeb Jawa Tengah Cecep Darwis Muttaqin; Galih Samodra; Khamdiah Kusuma
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.289

Abstract

Pendahuluan: Tuberkulosis (TB Paru) adalah penyakit yang dapat menular melalui udara dan memiliki potensi untuk memengaruhi berbagai jaringan tubuh, dengan notifikasi sekitar 42.000 kasus dan jumlah kasus ini terdistribusi di seluruh kabupaten di Jawa Tengah. Tujuan: Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan persepsi masyarakat tentang TBC di Barlingmascakeb Metode: penelitian kuantitatif, desain penelitian deskriptif corelation study dengan pendekatan cross sectional. Menggunakan questioner berbasis online dengan platform google form, Populasi diambil berdasarkan masyarakat yang di Barlingmascakeb Jawa Tengah. Ukuran sampel ditentukan berdasarkan Confidence Level 95% dan Margin of Error 5%, sehingga diperoleh jumlah minimum dari sampel adalah 385 jiwa. Analisis univariat digunakan untuk menginterpretasikan karakteristik dan gambaran masyarakat Barlingmascakeb terkait penyakit TB Paru, yang diungkapkan dalam bentuk peresntasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang TB Paru cenderung baik dengan nilai persentase rata-rata yang didapat lebih > 70%, namun tingkat persepsi menunjukkan bahwa persepsi mereka cenderung rendah nilai persentase < 50%. Kesimpulan: Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang TB Paru cenderung baik, tingkat persepsi menunjukkan bahwa persepsi mereka cenderung rendah. Temuan ini dapat sebagai acuan Farmasi dengan meninjau gambaran masyarakat tentang TB untuk peningkatan edukasi dan pengembangan kepatuhan pengobatan di masyarakat.
Pengaruh Riwayat Pengobatan Pasien TB Terhadap Kejadian TB MDR di RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo Vidia Putri Kusumandari; Sunarti Sunarti; Desy Nawangsari
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.294

Abstract

Pendahuluan: TB MDR merupakan kondisi dimana Mycobacterium tuberculosis telah resisten terhadap rifampisin (RIF) dan Isoniazid (INH) yang merupakan obat anti TB lini pertama yang paling efektif untuk melawan dan mengeliminasi Mycobacterium tuberculosis. Hubungan antara status riwayat pengobatan dengan kejadian TB MDR dan pasien yang tidak tuntas dalam pengobatan berpeluang 16 belas kali lebih besar mengalami TB MDR TB MDR saat ini menjadi salah satu ancaman dalam pengendalian TB. Penderita TB dengan pengobatan sebelumnya tidak adekuat beresiko mengalami resistensi OAT sebesar 40 kali dibandingkan penderita TB yang sembuh atau TB dengan pengobatan yang adekuat. Riwayat pengobatan pasien yang paling banyak menyebabkan kejadian TB MDR adalah kasus kambuh, kasus lost to follow up, kasus gagal terapi, kasus baru. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh riwayat pengobatan sebelumnya terhadap kejadian TB MDR di Poli Paru RSUD Margono Soekarjo Purwokerto. Metode: Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain studi crossectional. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling dengan seluruh populasi diambil menjadi sampel, Sampel dalam penelitian ini adalah pasien TB yang positif resistan obat dan didapatkan sampel sebanyak 62 pasien. Data diambil dengan melihat rekam medis pasien. Hasil: Hasil penelitian menunjukan pada riwayat pengobatan TB sebelumnya yang berpengaruh terhadap kejadian TB MDR adalah pasien baru dengan nilai p value 0,037 dan pasien kambuh dengan nilai p value 0,022, sehingga diharapkan pemantauan lebih kepada pasien dengan riwayat tersebuat untuk menurunkan prevalensi kejadian TB MDR di Indonesia.  Kesimpulan: Pasien baru dan pasien kambuhan menjadi riwayat pengobatan yang berpengaruh terhadap kejadian TB MDR, dengan nilai p value 0,022 dan 0,037 menandakan hubungan yang signifikan terhadap kejadian TB MDR, sedangkan pasien gagal terapi dan pasien Lost To Follow up tidak menunjukan hubungan yang signifikan.
Identifikasi Senyawa Metabolit Sekunder Pada Hasil Ekstraksi Bertingkat Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Siti Muawanah; Dina Febrina; Sunarti Sunarti
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.296

Abstract

Pendahuluan: Salah satu tumbuhan yang diyakini memiliki manfaat untuk pengobatan adalah bunga telang (clitoria ternatea L). Kandungan senyawa dalam bunga telang (Clitoria ternatea L) memiliki berbagai macam khasiat bagi kesehatan, namun pemanfaatan bahan alam tetap harus mempertimbangkan kandungan senyawa didalamnya sehingga penting dilakukan skrining fitokimia sehingga dapat diketahui ketepatan informasi tentang senyawa yang terkandung dalam bahan alam tersebut. Skrining fitokimia merupakan langkah awal untuk mengetahui kandungan bahan aktif yang merupakan metabolit sekunder pada tumbuhan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan senyawa dalam bunga telang (clitoria ternatea L) melalui uji skrining fitokimia. Metode: Pada penelitian ini digunakan mentode eksperimental dengan melakukan pembuatan simplisia dari bunga telang (clitoria ternatea L), lalu di maserasi bertingkat dengan tiga variasi pelarut (n-heksana, etil asetat, dan metanol), dan ekstrak cair dikentalkan. Hasil  ekstrak kental bunga telang  dilakukan uji skrining fitokimia (alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, terpenoid/steroid dan tanin). Hasil: Hasil skrining fitokimia untuk ekstrak n-heksan didapatkan bahwa semua uji menunjukkan hasil positif kecuali pada uji saponin, sedangkan pada ekstrak etil asetat didapatkan hasil bahwa semua uji skrining fitokimia positif semua dan pada uji dengan ekstrak metanol didapatkan hasil bahwa semua uji skrining fitokimia positif kecuali pada uji terpenoid. Kesimpulan: Berdasarkan hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat kandungan metabolit sekunder seperti alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, terpenoid/steroid dan tanin pada ekstrak bunga telang.
Pengaruh Suhu dan Lama Waktu Fermentasi Terhadap Sifat Organoleptik dan Aktivitas Antioksidan Teh Kombucha Bunga Telang (Clitoria ternatea L.) Dwi Syaji Wahyuningtias; Aditya Silvia Fitriana; Desy Nawangsari
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.297

Abstract

Pendahuluan: Bunga telang (Clitoria ternatea L.) memiliki potensi farmakologi sebagai agen antioksidan. Bunga telang dapat dijadikan bahan untuk pembuatan minuman kombucha, yang merupakan produk hasil fermentasi teh dan gula menggunakan simbion bakteri dan ragi yang dikenal sebagai SCOBY. Secara umum, proses fermentasi kombucha dilakukan pada suhu ruang selama sekitar 7 hari. Suhu dan durasi fermentasi memiliki peran krusial dalam setiap tahap proses fermentasi ini Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perngaruh suhu fermentasi 18, 25 dan 30oC dan lama waktu (hari ke-0, 3, 6, 9, 12 dan 15) terhadap sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan yang dihasilkan Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen yang melibatkan analisis pengujian aktivitas antioksidan dengan metode spektrofotometer UV-Vis Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu fermentasi tidak memiliki dampak signifikan pada karakteristik organoleptik, nilai aktivitas antioksidan tidak menunjukkan perbedaan signifikan dengan nilai signifikansi ANOVA sebesar 0,678 (p > 0,05). Sebaliknya, lama waktu fermentasi secara nyata mempengaruhi perubahan sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan pada teh kombucha bunga telang. Hal ini terlihat dari nilai signifikansi ANOVA IC50 adalah 0,000 (p < 0,05) untuk sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan. Kesimpulan: Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa suhu tidak memiliki dampak pada perubahan sifat organoleptik, kadar flavonoid, dan aktivitas antioksidan pada kombucha bunga telang. Sebaliknya, durasi fermentasi memiliki pengaruh yang signifikan pada perubahan sifat organoleptik dan aktivitas antioksidan pada teh kombucha bunga telang.
Gambaran Hubungan Tingkat Pengetahuan Dismenorea Terhadap Perilaku Swamedikasi Primer Siswi Kelas Viii Smpn 1 Padaherang T.A 2022/2023 Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran Widhy Rahmadilla Garnadi; Davit Nugraha; Nurhidayati Harun; Rian Ismail
Pharmacogenius Journal Vol 2 No 3 (2023): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v2i3.298

Abstract

Pendahuluan: Di Indonesia tidak ada angka pasti mengenai jumlah penderita dismenorea, dikarenakan lebih banyak perempuan yang mengalami dismenorea tidak melaporkan atau berkunjung kedokter dan lebih memilih melakukan tindakan swamedikasi. Rasa malu ke dokter dan kecendrungan untuk meremehkan penyakit tertentu di Indonesia tidak dapat dipastikan secara mutlak. Boleh dikatakan 90% perempuan Indonesia pernah mengalami dismenorea. Tujuan: Mengetahui gambaran swamedikasi dismenorea pada remaja SMPN 1. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Pre Experimental dengan desain one grup pretest-posttest. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah diberikan edukasi berupa wawancara pada suatu kelompok. pengukuran dilakukan dengan kuesioner yang sudah tervalidasi. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan sebelum penelitian kepada 238 responden yang dilakukan peneliti kepada 48 responden. Hasil: Uji validitas ini dilakukan oleh 48 responden kepada santri Pondok Pesantren Asy-Syifa Padaherang, karena responden memiliki kriteria yang hampir sama dengan siswi SMPN1 Padakherang. Syarat untuk dinyatakan valid apabila nilai r hitung hasilnya lebih besar dari r tabel. Jika nilai validitas setiap jawaban yang didapatkan ketika memberikan daftar pertanyaan nilainya lebih besar dari 0,3 maka item pertanyaan tersebut dikatakan valid. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian tingkat pengetahuan dan swamedikasi pada siswi SMPN 1 Padaherang, dengan mengambil 48 responden maka peniliti dapat menarik kesimpulan sebagai Tingkat pengetahuan swamedikasi pada siswi SMPN 1 Padaherang adalah cukup baik dengan persentase 64%. Tingkat pengetahuan dismenorea pada siswi SMPN 1 Padaherang adalah baik dengan persentase 70%. Adanya hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan terhadap perilaku swamedikasi dismenorea (p=0,06) pada siswi SMPN 1 Padaherang Swamedikasi dismenorea pada siswi SMPN 1 Padaherang masing-masing mayoritas memilih Feminax sebagai pilihan obat, apotek sebagai sumber medapatkan obat, informasi teman /keluarga sebagai pertimbangan memilih obat, anggapan penyakit ringan sebagai alasan melakukan swamedikasi, memiliki sekala nyeri katagori ringan dan memperoleh hasil dari swamedikasi yaitu rasa sakit berkurang.
Penetapan Kadar Antosianin Ekstrak Etanol Bunga Telang (Clitoria ternatea) dengan Metode Differensial pH Ramdan, Siti Rahmah Kurnia; Alviansyah, Aldi
Pharmacogenius Journal Vol 3 No 1 (2024): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v3i01.306

Abstract

Pendahuluan: Antosianin merupakan keluarga besar polifenol yang menunjukkan pigmen  pada berbagai jenis  buah-buahan dan tanaman di alam. Pigmen yang ditunjukkan yaitu merah, merah jambu, biru dan ungu. Antosianin bertanggung jawab terhadap adanya warna biru dari bunga telang. Berbagai manfaat yang dimiliki antosianin bagi kesehatan diantaranya sebagai proteksi DNA, antiinflamasi, anti kanker, antioksidan, antidiabetes, mencegah penyakit kardiovaskular dan penyakit neurodegeneratif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar antosianin pada ekstrak etanol bunga telang. Metode: Penentuan kadar antosianin pada ekstrak etanol  bunga telang dilakukan dengan metode differensial pH dengan menggunakan spektrofotometri uv-vis pada panjang gelombang 510 nm dan 700 nm. Hasil: Kadar antosianin pada ekstrak etanol bunga telang yang dilakukan pada penelitian ini dengan metode differensial pH diperoleh sebesar 0,853%. Kesimpulan: Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kadar antosianin bunga telang dari hasil ekstraksi maserasi dengan  pelarut etanol 70% cukup tinggi dan berpotensi sebagai salah satu sumber obat bahan alam dan sebagai pewarna alami.
Studi Literatur: Penetapan Kadar BKO Parasetamol Pada Jamu Menggunakan Metode KLT Dan Spektrofotometri UV-Vis Cintya Jaya, Lulu; Rusmalina, Siska
Pharmacogenius Journal Vol 3 No 1 (2024): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v3i01.317

Abstract

Pendahuluan: Jamu merupakan obat tradisional yang banyak diminati oleh masyarakat karena tidak menimbulkan efek samping sehingga aman dikonsumsi. Namun banyak produsen tidak bertanggung jawab yang menambahkan BKO untuk meningkatkan penjualan. Salah satu BKO yang seringkali ditemukan pada jamu yaitu parasetamol. Berdasarkan hasil penelusuran peneliti selama 10 tahun terakhir, banyak dilakukan penelitian tentang BKO pada jamu namun belum ada penelitian yang melakukan review terkait hal tersebut. Tujuan: Mereview jurnal tentang analisis bahan kimia obat parasetamol pada jamu untuk mengetahui efektifitas metode KLT dan Spektrofotometri UV-Vis terhadap hasil penetapan kadar. Metode: Penelitian dilakukan menggunakan metode studi literatur dengan melakukan review pada jurnal yang didapatkan selama 10 tahun terakhir pada database google scholar menggunakan kata kunci seperti BKO, parasetamol, spektrofotometri UV-Vis, dan KLT. Hasil: Penelusuran dilakukan menggunakan kata kunci pada database google scholar berdasarkan kriteria inklusi dan sesuai PICO sehingga didapatkan 4 jurnal yang relevan. Berdasarkan hasil review, sebanyak 75% jurnal pada metode KLT menggunakan pelarut etanol dan sebanyak 25% menggunakan pelarut air dengan fase diam silika gel GF254. Untuk fase geraknya 75% menggunakan etil asetat : etanol : amonia (85:10:5) dan 25% menggunakan kloroform : etanol (90:10). Pada uji spektrofotometri UV-Vis 100% menggunakan pelarut etanol. Hasil dari metode preparasi sampel yang digunakan pada uji KLT 75% menggunakan metode filtrasi dan 25% menggunakan metode ekstraksi cair-cair, sedangkan pada uji spetrofotometri UV-Vis preparasi sampel 100% menggunakan metode filtrasi. Jenis detektor yang digunakan yaitu 100% menggunakan detektor UV-Vis. Kesimpulan: Berdasarkan hasil review jurnal, pelarut yang dapat digunakan untuk analisis  BKO parasetamol pada jamu dengan metode KLT maupun spektrofotometri UV-Vis yaitu pelarut air dan etanol menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak etil asetat, etanol, amonia (85:10:5) serta kloroform, etanol (90:10). Preparasi sampel dapat menggunakan metode filtrasi atau ekstraksi cair-cair dikarenakan prosesnya yang dilakukan tanpa pemanasan sehingga tidak mengurangi kadar parasetamol pada sampel.
Kadar Ureum Dan Kreatinin Tikus Pada Studi Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Bunga Telang (Clitoria Ternatea L.) Amelia, Siti; Sunarti, Sunarti; Febrina, Dina
Pharmacogenius Journal Vol 3 No 1 (2024): Pharmacy Genius
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/pharmgen.v3i01.318

Abstract

Pendahuluan: Uji toksisitas akut adalah suatu metode untuk mengenali efek berbahaya yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian zat uji melalui mulut, baik dalam dosis tunggal maupun dosis ganda dalam jangka waktu 24 jam. Tanaman bunga telang (Clitoria ternatea L.) telah lama dimanfaatkan dalam pengobatan tradisional dan menunjukkan potensi sebagai agen antioksidan, antikanker, antidiabetes, antimikroba, analgetik, antiinflamasi, serta memiliki peran dalam mengatur fungsi sistem saraf pusat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk memahami manifestasi gejala toksisitas, menetapkan nilai LD50, dan mengenali efek pemberian ekstrak etanol bunga telang terhadap tingkat ureum dan kreatinin pada tikus putih galur Wistar. Metode: Dalam tahap uji pendahuluan, penelitian ini memanfaatkan pendekatan dosis tetap dengan variasi dosis 5, 50, 300, dan 2000 mg/kgBB. Selanjutnya, uji utama dilakukan dengan dosis 2000 mg/kgBB pada kelompok mencit uji, yang terdiri dari 5 ekor jantan dan 5 ekor betina. Mereka menjalani terapi selama 14 hari, dengan pengukuran kadar ureum dan kreatinin pada hari uji ke-0 dan ke-14. Data yang terkumpul dievaluasi secara statistik menggunakan uji varian t menggunakan perangkat lunak SPSS. Hasil: Hasil penelitian tidak menemukan indikator toksisitas atau kematian, sehingga nilai LD50 ekstrak bunga telang adalah 2000 mg/kgBB. Analisis statistik menunjukkan tidak ada perubahan signifikan (p-value > 0,05). Kesimpulan: Pada uji toksisitas akut ekstrak etanol bunga telang ini tidak terdapat gejala toksik pada hewan uji. Tidak terdapat kematian sampai dosis 2000 mg/kgBB, hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak bunga telang termasuk kedalam kategori toksik ringan karena mempunyai nilai LD50 sebesar 2000 mg/kgBB.