cover
Contact Name
Yudhi Nugroho Adi
Contact Email
library@tekomuniversity.ac.id
Phone
+628128000110
Journal Mail Official
library@telkomuniversity.ac.id
Editorial Address
Jl. Telekomunikasi - Ters. Buah Batu Bandung 40257 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
eProceedings of Engineering
Published by Universitas Telkom
ISSN : 23559365     EISSN : -     DOI : https://doi.org/10.34818/eoe.v9i5.18452
Merupakan media publikasi karya ilmiah lulusan Universitas Telkom yang berisi tentang kajian teknik. Karya Tulis ilmiah yang diunggah akan melalui prosedur pemeriksaan (reviewer) dan approval pembimbing terkait.
Articles 8,304 Documents
Secret Handshake Pada Tuas Pintu Dengan Limit Switch Menggunakan Metode Klasifikasi Naïve Bayes Yahya Ermaya; Aji Gautama Putrada; Siti Amatullah Karimah
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, sudah banyak cara untuk membobol kunci pintu rumah tradisional. Dengan ini, dibutuhkan kunci pintu baru untuk mengamankan rumah. Dalam penelitian ini dirancang kunci pintu baru berupa smart lock yang bernama secret handshake dengan menggunakan pergerakan tuas pintu sebagai password untuk membuka kunci pintu. Secret handshake menggunakan sensor limit switch dan metode klasifikasi naïve bayes untuk mengklasifikasi data yang dihasilkan oleh limit switch. Metode Naïve Bayes dipilih karena hanya membutuhkan data training dengan jumlah yang kecil. Sistem bekerja dengan membaca sensor limit switch lalu dikirimkan ke matlab melalui thingspeak untuk diproses menggunakan metode klasifikasi naïve bayes untuk menghasilkan nilai prediksi kebenaran password yang dimasukkan. Hasil penelitian yang dilakukan diketahui metode klasifikasi naïve bayes dapat membedakan password yang benar dan password yang salah dengan tingkat akurasi sebesar 93.33%. Kata Kunci: smart lock, limit switch, secret handshake. Abstract Along with the development of knowledge, there are a lot of ways to break traditional house-key. Therefore, new house-key is needed to protect the house. In this research, new house-key with smart lock system named secret handshake is designed, using door handle movements as a password to open the house-key. Limit switch and naive bayes classification method are used by secret handshake system to classify the data from limit switch movements. Naive bayes method is choosen because it is only use small amounts of training data. Secret handshake system works when the limit switch read the movements and then the data sent to matlab through thingspeak to be processed using naive bayes classifier method and get the true password prediction values that has been input. The result showed that naive bayes cassifier method can differentiate between the true and wrong password with 93.33% accuracy. Keywords: smart lock, limit switch, secret handshake.
Klasifikasi Jenis Mineral Berdasarkan Warna Dan Bentuk Melalui Pengolahan Citra Petrography Dengan Metode Gray Level Co-occurrence Matrix Dan Learning Vector Quantization Alvin Matthew Valentino; Bambang Hidayat; Andri Slamet Subandrio
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Petrografi adalah cabang dari geologi yang menjelaskan deskripsi rinci dari pasir mineral berdasarkan kandungan mineralnya. Keberadaan pasir mineral dapat memprediksi keberadaan mineral dengan jumlah yang lebih besar dengan jenis yang sama. Pada satu buah sampel pasir mineral, terdapat berbagai macam jenis mineral yang dapat dibedakan melalui warna dan bentuknya. Dengan bantuan mikroskop, para ahli geologi dapat melihat dan mengelompokan mineral pada satu sampel secara manual. Namun, hal tersebut dinilai tidak efektif karena membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui dan mengelompokkan mineral. Teknologi telekomunikasi dapat diaplikasikan dengan menggunakan pengolahan citra digital. Pengolahan citra dilakukan dengan input berupa citra digital dari pasir mineral secara mikroskopis yang diambil dari mikroskop. Setelah itu, dilakukan proses preprocessing, ekstraksi ciri Grey Level Co-occurrence Matrix (GLCM) dan klasifikasi Learning Vector Quantization (LVQ). GLCM adalah suatu metode ekstraksi yang merubah warna asli dari citra suatu objek menjadi warna keabuan yang memiliki tingkat derajat keabuan. LVQ adalah sebuah metode klasifikasi dimana setiap unit output mempresentasikan sebuah kelas. Hasil dari penelitian ini untuk kelas kromit, kuarsa, kalsit, dan background pada daerah Sebuku didapatkan akurasi sebesar 69,3% dari total 110 citra uji dengan waktu komputasi 3,8271 detik. Sedangkan untuk kelas cassiterite, epodite, kuarsa, dan background pada daerah Bangka Belitung didapatkan akurasi sebesar 68,4% dari total 110 citra uji dengan waktu komputasi 3,435 detik. Kata kunci : Grey Level Co-Occurrence Matrix, Learning Vector Quantization, dan mineral Abstract Petrography is a branch of geology which describes detailed descriptions of mineral sands based on mineral content. The presence of mineral sands can predict the presence of larger quantities of the same type of minerals. In one mineral sand sample, there are various types of minerals that can be distinguished by their color and shape. With the help of a microscope, geologists can see and group minerals in one sample manually. However, this is considered ineffective because it requires a long time to know and classify minerals. Telecommunication technology can be applied using digital image processing. Image processing is done by input in the form of a digital image from mineral sand microscopically taken from a microscope. After that, the preprocessing process, feature extraction of the Gray Level Co-occurrence Matrix (GLCM) and Learning Vector Quantization (LVQ) classification were carried out. GLCM is an extraction method that changes the original color of the image of an object to a gray color that has a degree of grayness. LVQ is a classification method where each output unit presents a class. The results of this study for chromite, quartz, calcite, and background in Sebuku region with 69.3% accuracy of a total 110 test images with computing time 3.8271 seconds. Whereas for the cassiterite, epodite, quartz, and background classes in the Bangka Belitung region with 68.4% accuracy of the total 110 test images with a computing time of 3.435 seconds. Keywords: Grey Level Co-Occurrence Matrix, Learning Vector Quantization, and minerals
Simulasi Gelombang Laut Pada Desain Tanggul Laut Menggunakan Model Numerik Swan Di Teluk Jakarta
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Informasi karateristik gelombang laut sangat diperlukan untuk transportasi laut dan perekonomian di sekitar perairan teluk Jakarta. Selain itu permasalahan banjir rob dan penurunan muka tanah akibat gelombang pasang yang melanda ibukota jakarta harus di waspadai karena bisa mengakibatkan kota jakarta tenggelam dalam beberapa tahun kedepan. Pemprov DKI bekerja sama dengan National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) membuat master plan tanggul lepas pantai. Adanya tanggul lepas pantai diharapkan mengatasi permasalahan yang ada di ibukota jakarta. Namun perlu dilakukan investigasi untuk mengetahui efektivitas dibangunnya tanggul laut tersebut terhadap karakteristik gelombang di perairan teluk jakarta. Pada penelitian ini digunakan model numerik Simulating Waves Nearshore (SWAN) untuk didapatkan simulasi gelombang laut yang dipengaruhi kondisi angin muson di wilayah perairan teluk Jakarta. Skenario yang dilakukan yaitu disimulasikan rata-rata fase-spektrum (Phase Average) gelombang dengan model numerik SWAN dibagi menjadi 3 domain yaitu domain 1 global, domain 2 laut indonesia dan domain 3 teluk Jakarta. Domain terbesar digunakan sebagai kondisi awal dan kondisi batas untuk persamaan pada domain selanjutnya. Hasil simulasi pada teluk jakarta di sekitar pelabuhan tanjung priok menunjukan signifikan tinggi gelombang (Hs) tanpa adanya desian tanggul laut sebesar 1,5 m sedangkan dengan adanya desain tanggul laut sebesar 0,5 m. Periode gelombang (Tp) tanpa adanya tanggul laut sebesar 6 s sedangkan dengan adanya tanggul laut sebesar 3 s. Data yang digunakan pada simulasi ini berasal dari General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO). Kata kunci : Karakteristik Gelombang, Simulasi Gelombang, Teluk Jakarta, Tanggul Laut, Phase Average, SWAN. Abstract Information on the characteristics of ocean waves is very necessary for sea transportation and the economy around the waters of the Jakarta bay. In addition, the problem of regular flooding and land subsidance that hit the capital city of Jakarta must be beware because it can cause the city of Jakarta to sink in the next few years. The DKI Provincial Government cooperates with the National Capital Integrated Coastal Development (NCICD) to create an offshore embankment master plan in the form of an eagle as an iconic country of Indonesia. The existence of offshore dikes is expected to overcome the problems that exist in the capital city of Jakarta. But it needs to be simulated to find out the impact of the sea dikes being built in the waters of the bay of Jakarta. In this study a numerical Simulating Waves Nearshore (SWAN) model was used to obtain ocean wave simulations that were influenced by monsoon conditions in the waters of the Jakarta bay. The scenario that is done is simulated the average wave phase with the numerical SWAN model divided into 3 domains namely first domain is global, second domain is Indonesian sea and third domain is Jakarta bay. The largest domain is used as the initial condition and boundary conditions for equations in the next domain. The simulation results at the Jakarta bay around Tanjung Priok harbor without the presence of giant sea wall showed a significant wave height (Hs) of 1.5 m while the design of giant sea wall was 0.5 m. Wave period (Tp) without the presence of giant sea wall of 6 s while with the presence of giant sea wall of 3 s. The data used in this simulation comes from General Bathymetric Chart of the Oceans (GEBCO). Keywords: Wave Characteristics, Wave Simulation, Jakarta Bay, Offshore Sea Wall, Phase Average, SWAN.
Perancangan Dan Analisis Jaringan Fiber To The Home Dengan Teknologi Gpon (gigabit Passive Optical Network) Di Area Kelurahan Sragen Tengah Haris Bacharudin Rahman; Sugito Sugito; Irvan Zulfi Akbar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Berkembangnya teknologi jaringan akses serat optik dari teknologi akses optik aktif hingga pasif semakin baik, salah satu diantaranya jaingan akses serat optik berbasis PON. GPON (Gigabit Passive Optical Network) merupakan suatu teknologi akses yang dikategorikan sebagai Broadband Access berbasis kabel serat optik. Perancangan FTTH memilih Kelurahan Sragen Tengah yang berada di wilayah PT. Telkom Witel Solo dengan menggunakan teknologi GPON Dalam tugas akhir ini, dilakukan survey penggumpulan data menggunakan GPS. Kemudian dilakukan perancangan jaringan FTTH (Fiber To The Home) menggunakan teknologi GPON (Gigabit Passive Optical Network) yang hasilnya nanti di uji kelayakan sistem dengan melihat parameter antara lain Link Power Budget dan Rise Time Budget. Nilai parameter tersebut dihitung secara manual dan akan dibandingkan dengan hasil simulasi menggunakan perangkat lunak OptiSystem. Lalu parameter lainnya adalah Bit Error Rate (BER) untuk performansi sistem, nilai ini dapat dilihat dengan simulasi perancangan pada Optisystem. Hasil perhitungan manual link power budget adalah total redaman yang dihasilkan untuk jarak terjauh sebesar 19,91096 dB untuk downstream dan 4,78096 dB untuk upstream. Hasil perhitungan tersebut memenuhi standar yang telah ditentukan oleh ITU-T dan PT. Telkom, yaitu sebesar 28 dBm. Berdasarkan nilai total redaman pada jarak terjauh didapatkan nilai daya terima sebesar - 22,91096 dBm untuk downstream dan -10,28096 dBm untuk upstream. Untuk nilai rise time budget didapatkan nilai waktu batasan sebesar 0,28135 ns dan hasil nilai tsystem sebesar 0,252662379 ns untuk downstream. Dan didapatkan nilai waktu batasan sebesar 0,5627 ns dan hasil nilai tsystem sebesar 0,250182259 ns untuk upstream. Hasil rise time budget yang didapatkan bernilai baik karena nilai tsystem lebih kecil dari nilai batasan waktu. Untuk parameter performansi sistem yaitu BER yang dihasilkan dari simulasi pada OptiSystem, didapatkan nilai BER downstream sebesar 3,50184 x 10-128 dan 1.58392 x 10-242 untuk upstream. Nilai tersebut memenuhi nilai minimum BER untuk optik sebesar 10-9 . Kata kunci: Bit Error Rate, FTTH, GPON, Kelurahan Sragen Tengah, Link Power Budget, Rise Time Budget, OptiSystem Abstract The development of fiber optic access network technology from active to passive optical access technology is getting better, one of which is competition for access to PON-based optical fiber. GPON (Gigabit Passive Optical Network) is an access technology that is categorized as Broadband Access based on fiber optic cable. The FTTH design chose Kelurahan Sragen Tengah in the area of PT. Telkom Witel Solo using GPON technology. In this final project, data collection surveys using GPS were conducted. Then the FTT (Fiber To The Home) network design using GPON technology (Gigabit Passive Optical Network), the results of which will be tested for the feasibility of the system by looking at parameters such as Link Power Budget and Rise Time Budget. The parameter values are calculated manually and will be compared with the simulation results using OptiSystem software. Then the other parameter is the Bit Error Rate (BER) for system performance, this value can be seen with a design simulation at Optisystem. The result of manual link power budget calculation is the total attenuation generated for the farthest distance of 19.91096 dB for downstream and 4.78096 dB for upstream. The calculation results meet the standards set by ITUT and PT. Telkom, which is equal to 28 dBm. Based on the total attenuation value at the farthest distance, the value of receiving power is - 22.91096 dBm for downstream and -10.28096 dBm for upstream. For the rise time budget value, the time limit value is 0.28135 ns and the tsystem value is 0.252662379 ns for downstream. And the time limit value obtained is 0.5627 ns and the result of tsystem value is 0.250182259 ns for upstream. The obtained rise time budget results are good because the tsystem value is smaller than the time limit value. For system performance parameters, namely BER, which is generated from a simulation at OptiSystem, the BER downstream value is 3.50184 x 10-128 and 1.58392 x 10-242 for upstream. This value satisfies the minimum value for optical BER of 10-9. Keyword : Bit Error Rate, FTTH, GPON, Kelurahan Sragen Tengah, Link Power Budget, Rise Time Budget, OptiSystem
Analisis Dan Optimasi Overshoot Pada Jaringan 4g Lte 1800 Mhz Di Daerah Situ Pondok Benda Tangerang Selatan Muhammad Hanif; Uke Kurniawan Usman; Hurianti Vidyaningtyas
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada penelitian ini melakukan analisa dan optimasi pada jaringan 4G (LTE) di daerah Situ Podok Benda Tangerang selatan. Penelitian dilakukan Karena pada daerah tersebut didapet level kualitas sinyal yang diterima user buruk dan tidak sesuai dengan standar yang dikarenakan Overshoot, penelitian dilakukan untuk meningkatkan performasi dan level kualitas signal yang diterima oleh user agar sesuai dengan standar. Karena kebutuhan sinyal yang baik, pada penelitian ini dianalisis penyebab terjadinya kualitas sinyal yang didapat user buruk bisa dikarenakan pengarahan antenna yang kurang tepat dan lainlain. Penelitian dilakukan dengan pengumpulan data kualitas jaringan 4G dengan menggunakan metode drive test. Drive test dilakukan dengan menggunakan software GENEX PROBE. Dari hasil drive test dianalisis menggunakan software GENEX ASSISTANT, lalu dilakukan simulasi dengan menggunakan software ATOLL. Performansi jaringan eksisting mengalami peningkatan setelah dilakukan proses optimasi. Nilai RSRQ meningkat dari 64.1533 % menjadi 85.092 %, dengan target KPI minimal 85 %. Parameter persebaran nilai SINR jika ditinjau dari persentase nilai yang berada di atas dilakukan optimasi mengalami peningkatan dari kondisi eksiting 87.6289 % meningkat menjadi 94.375 %. Target KPI yang ditentukan adalah minimal 90 % parameter SINR berada diatas 0 dB, Parameter yang ditinjau dalam penelitian ini dapat memenuhi target KPI, menunjukkan bahwa optimasi yang dilakukan berhasil mengatasi permasalahan low RSRP, low SINR, dan low RSRQ. Kata kunci : 4G-LTE, KPI, Drive Test,, Overshoot, RSRP, SINR, RSRQ Abstract In this research analyzes and optimizes 4G (LTE) networks in the area of Situ Podok in South Tangerang. The research was carried out because in that area the level of signal quality received by the user was poor and not in accordance with the standards due to Overshoot, the research was conducted to improve performance and the quality level of the signal received by the user to conform to the standard. Because of the good signal requirements, this study analyzed the causes of signal quality obtained by poor users due to inappropriate antenna direction and others. The research was conducted by collecting 4G quality network data using the drive test method. The drive test is done using GENEX PROBE software. The results of the drive test were analyzed using GENEX ASSISTANT software, then simulations were performed using ATOLL software. Existing network performance has increased after the optimization process. The RSRQ value increased from 64.1533 % to 85,092 %, with a minimum KPI target of 85%. The parameter of the spread of the SINR value when viewed from the percentage value above is optimized for an increase from the exiting condition of 87.6289 %, increasing to 94.375 %. The specified KPI target is a minimum of 90 % SINR parameters above 0 dB, Parameters reviewed in this study can meet KPI targets, indicating that the optimization performed successfully overcomes the problem of low RSRP, low SINR, and low RSRQ. Keywords : LTE, Bad Coverage, Drive Test, RSRP, SINR, RSRQ
Kontrol Dan Monitoring Dispenser Air Minum Dengan Modul Sel Surya Sebagai Catu Daya Muhammad Defryan Tridya Isfandy; Ekki Kurniawan; Agung Surya Wibowo
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia salah satu negara yang dilewati oleh garis khatulistiwa. Dimana secara letak geografis tersebut, Indonesia mendapatkan panas matahari sepanjang tahun. Sehingga potensi energi sinar matahari di Indonesia sangatlah besar. Potensi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan sebagai catu daya untuk perangkat elektronik dengan memanfaatkan modul sel surya sebagai pengkonversi energi surya menjadi energi listrik. Dispenser merupakan salah satu perangkat elektronik yang sering digunakan dalam kehidupan seharihari. Karena memiliki peran yang penting, membuat dispenser sering digunakan terus-menerus membuat konsumsi daya listrik sangatlah besar. Dengan menggunakan sensor arus dan tegangan, maka dapat diketahui besar konsumsi daya listrik pada sebuah dispenser. Selain itu terdapat sensor suhu yang berfungsi untuk mengontrol suhu air sesuai yang kita inginkan. Ditambahkan pula mikrokontroler dan modul wifi agar pengguna dapat memonitor penggunaan daya dispenser maupun mengatur suhu melalui smartphone masing-masing sehingga dispenser air minum tersebut dapat dikendalikan dari jarak jauh. Hasil analisis menunjukan, jika suhu maksimal pada dispenser air minum yang terbaca oleh sensor DS18B20 yaitu 72°C. Pada awal pengoperasiannya, dispenser dengan menggunakan energi listrik yang bersumber dari catu daya PLN membutuhkan waktu 9 menit untuk memanaskan air hingga mencapai suhu maksimal. Sedangkan saat menggunakan energi listrik yang dihasilkan oleh modul sel surya membutuhkan waktu 19 menit untuk memanaskan air hingga mencapai suhu maksimal. Daya yang dibutuhkan untuk menyalakan dispenser air minum selama satu jam beserta waktu delay bila menggunakan energi listrik yang bersumber dari catu daya PLN yaitu 0.067 kWh. Sedangkan daya yang dibutuhkan untuk menyalakan dispenser air minum selama satu jam beserta waktu delay bila menggunakan energi listrik yang dihasilkan oleh modul sel surya yaitu 0.076 kWh. Kata Kunci : Dispenser, Sel Surya, Sensor Arus, Sensor Tegangan, Sensor Suhu.
Studi Pengaruh Pemasangan Ventilasi Mekanik Terhadap Kadar Co2 Dalam Ruangan Yang Menggunakan Ac Split Jovika Alitsha Hasibuan; Tri Ayodha Ajiwiguna; Saladin Prawirasasra
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Sistem ventilasi merupakan salah satu faktor penting dalam sebuah bangunan atau ruangan demi menciptakan kenyaman ruang dari segi fisika (temperatur, kelembapan, dan sirkulasi udara) bagi penggunanya. Ruang kelas atau ruang rapat merupakan contoh ruangan yang digunakan oleh banyak orang dalam waktu yang sama. Banyaknya pengguna di dalam ruangan tersebut dapat meningkatkan kadar karbondioksida (CO2) di dalam ruangan tersebut. Ruang kelas atau ruang rapat yang menggunakan air conditioner (AC) memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk terjadinya penularan penyakit karena pintu dan jendela yang ditutup untuk menjaga kestabilan temperatur di dalam ruangan. Pada penelitian ini dirancang sebuah konfigurasi sistem untuk mengukur kadar gas karbondioksida (CO2) di dalam ruangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemasangan ventilating fan dan exhaust fan di dalam sebuah ruangan terhadap penurunan kadar gas karbondioksida (CO2) di dalam ruangan. Pada penelitian ini menggunakan sensor gas karbondioksida (CO2) MQ-135 dan tabung gas karbondioksida (CO2) sebagai pengganti gas karbondioksida (CO2) yang diemisikan oleh pengguna ruangan. Pengambilan data dilakukan dengan membuat empat kondisi antara ventilating fan dan exhaust fan dan selanjutnya akan dibandingkan penurunan kadar gas karbondioksida (CO2) yang efektif di antara empat kondisi fan tersebut. Kata kunci : kenyamanan ruang, ventilating fan, exhaust fan, sensor MQ-135, gas karbondioksida (CO2) Abstract The ventilation system is one of the important factors in a building or room to create a comfortable space in terms of physics (temperature, humidity, and air circulation) for its users. Classrooms or meeting rooms are examples of rooms used by many people at the same time. The number of users in the room can increase the levels of carbon dioxide (CO2) in the room. Classrooms or meeting rooms that use air conditioner (AC) have a higher possibility for disease transmission because doors and windows are closed to maintain temperature stability in the room. In this study a system configuration was designed to measure the levels of carbon dioxide (CO2) gas in the room. This study aims to determine the effect of installation of ventilating fans and exhaust fans in a room on decreasing levels of carbon dioxide (CO2) in the room. In this study using a carbon dioxide sensor (CO2) MQ-135 and a tube of carbon dioxide gas (CO2) as a substitute for carbon dioxide gas (CO2) emitted by users of the room. Data retrieval was performed by making four conditions between the ventilating fan and exhaust fan and then will be compared to decreased levels of carbon dioxide (CO2) which is effective between the four conditions of the fan. Keywords : comfortable space, ventilating fan, exhaust fan, MQ-135 sensor, carbon dioxide gas (CO2)
Analisis Performansi Format Modulasi Mach-zehnder Pada Next Generation Passive Optical Network 2 (ng-pon2) Kurnia Cahya Ade Putra; Arfianto Fahmi; Akhmad Hambali
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan sistem komunikasi optik telah mencapai kemampuan untuk mengirimkan data dengan bitrate 40 Gbps. Teknologi ini disebut sebagai teknologi NG-PON2, teknologi ini juga mendukung penggunaan panjang kabel mencapai 40 km dan rasio splitter hingga 1:256. Pada teknologi NG-PON2 menggunakan 4 OLT dengan masing-masing memiliki spesifikasi 10 Gbit/s downstream dan 2,5 Gbit/s upstream serta menggunakan teknik multiplexing TWDM. Line coding yang digunakan diantarnya NRZ, RZ, RZ-DPSK dan RZDQPSK dengan rentang daya kirim 7-11 dBm. Panjang link yang digunakan adalah 10, 20, 30 dan 40 km dengan total rasio splitter 1:16. Berdasarkan hasil uji analisa yang dilakukan berdasarkan acuan ITU-T, didapatkan hasil line coding RZ-DQPSK merupakan line coding yang terbaik untuk teknologi ini. Dengan jarak 10, 20, 30, dan 40 km berturut-turut menghasilkan LPB yaitu -16,353 dBm, -19,854 dBm, -23,354 dBm dan -26,853 dBm. Nilai SNR yaitu 40,251093 dB, 36,099789 dB, 31,616630 dB dan 26,448934 dB. Nilai Q-Factor yaitu 51,4665, 31,9124, 19,0459 dan 10,5055. Serta nilai BER yaitu 0, 8,363× 𝟏𝟎−𝟐𝟐𝟒, 3,39693× 𝟏𝟎−𝟖𝟏 dan 4,05714× 𝟏𝟎−𝟐𝟔 . Kata kunci : line coding, NG-PON2, TWDM, komunikasi serat optik. Abstract The development of optical communication systems has achieved the ability to transmit data with abitrate 40 Gbps. This technology is referred to as NG-PON2 technology, this technology also supports the use of cable lengths of up to 40 km andratios splitter up to 1: 256. The NG-PON2 technology uses 4 OLTs with each having a 10 Gbit / s downstream specification and 2.5 Gbit / s upstream and usingtechniques multiplexing TWDM. The line coding used is delivered by NRZ, RZ, RZ-DPSK and RZ-DQPSK with a power range of 7-11 dBm. Thelengths link used are 10, 20, 30 and 40 km with a totalratio of splitter 1:16. Based on the test results of analysis carried out by reference to ITU-T, the result coding line RZ-DQPSKis line coding the bestfor this technology. With a distance of 10, 20, 30, and 40 km respectively producing LPB which is -16,353 dBm, -19,854 dBm, -23,354 dBm and -26,853 dBm. SNR values are 40.251093 dB, 36,099789 dB, 31,616630 dB and 26,448934 dB. Q-Factor values are 51.4665, 31.9124, 19.0459 and 10.5055. As well as the BER value is 0, 8,363× 𝟏𝟎−𝟐𝟐𝟒, 3,39693× 𝟏𝟎−𝟖𝟏 dan 4,05714× 𝟏𝟎−𝟐𝟔 . Kata kunci : line coding, NG-PON2, TWDM, optical fiber communicatios.
Deteksi Usia Pasien Di Rumah Sakit Gigi Dan Mulut Universitas Padjajaran Berdasarkan Citra Radiograf Panoramik Dengan Metode Image Registration Dan Adaptive Region Growing Dengan Teknik Klasifikasi Decision Tree Bagas Yufa Ardana; Bambang Hidayat; Fahmi Oscandar
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam beberapa dekade akhir, banyak terjadi fenomena bencana alam dan kecelakaan dalam transportasi, baik transportasi udara, darat, maupun laut. Hal ini disebabkan karena cuaca yang berubah-ubah dan human error. Intensitas fenomena tersebut seringkali menyebabkan banyak korban jiwa. Pada umumnya, korban yang ditemukan sudah rusak jasadnya, sehingga menyebabkan kesulitan dalam identifikasi identitas korban.Proses identifikasi merupakan hal yang penting untuk mengetahui identitas korban tersebut. Dengan kemajuan ilmu dalam bidang Odontologi Forensik, korban yang jasad fisiknya sudah rusak menjadi lebih mudah untuk diidentifikasi. Gigi dapat menjadi sarana dalam identifikasi karena gigi selalu terlindungi, fisiknya keras, tahan terhadap perubahan suhu maupun reaksi kimia.Selain itu gigi pada manusia pada umumnya memiliki ciri-ciri yang berbeda. Dalam Tugas Akhir ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang menggunakan Adaptive Region Growing, serta teknik klasifikasi Decision Treedengan bermodal foto ronsen panoramik. Dengan menambahkan metode Image Registration pada tahap pre-processingdapat meningkatkan akurasi. Image Registrationyang digunakan adalah resize, rotate, dan cropping. Dari hasil pengujian yang dilakukan, dengan image registrationmendapatkan akurasi 48.94% dan untuk non image registration42.56%. Untuk penggunaan rentang usia 2 tahun setiap kelas menghasilkan akurasi 6.38%. Parameter yang mempengaruhi sistem adalah ukuran resize, ciri statistik, pembagian kelas, threshold, dan K-Split.Kata kunci : Odontologi Forensik, Gigi, Panoramik, Pengolahan Citra, Image Registration, Adaptive Region Growing, Decision Tree.Abstract In the last few decades,there have been many phenomena of natural disasters and accidents in transportation, whether air, land, or sea transportation. This is due to the fickle weather and human error. The intensity of the phenomenon often cause many victims. In general, the victims are found to have damaged bodies, thus causing difficulties in identifying the victim's identity. Identification process is important to know the identity of the victim. With the advancement of science in the field of Forensic Odontology,victims whose physical bodies have been damaged become easier to identify. Teeth can be a means of identification because teeth are always protected, physically hard, resistant to temperature changes or chemical reactions. In addition, human teeth in general have different characteristics. In this Final Project referring to previous research using Adaptive Region Growing, as well as the classification technique of Decision Tree with capital of panoramic X-ray. By adding the Image Registration method in the pre-processing stage it can improve accuracy. Image Registration used are resize, rotate, and cropping.From the results of the tests carried out, it obtained accuracy of 48.94% with image registration and 42.56% for non image registration. For using2 years each class produces an accuracy 6.38%.Parameters that affect the system are resize size, statistical characteristics, class division, threshold, and K-Split.Keywords: Forensic Odontology, Dental, PanoramicRongent, Image Processing, Image Registration, Adaptive RegionGrowing, Decision Tree.
Pengembangan Motif Gurita Jenis Amphioctopus Marginatus Pada Aplikasi Batik Berbasis Web Rizki Akbari Tamin; Purba Daru Kusuma; Anggunmeka Luhur Prasasti
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Batik merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang telah diakui sebagai warisan budaya dunia. Batik saat ini memiliki bentuk motif dan karakteristik yang berbeda berdasarkan daerah dan pola ukirannya. Salah satu cara untuk melestarikan batik ialah dengan mengembangkan berbagai macam motif batik yang variatif dan tidak monoton. Tujuan dari penelitian yang dilakukan penulis adalah merancang dan mengimplementasikan aplikasi pengembangan motif gurita jenis amphioctopus marginatus sebagai motif baru dengan metode random walk. berbasis web. Hasil dari pembuatan tugas akhir ini adalah terciptanya sebuah desain batik baru dengan gurita amphioctopus marginatus sebagai motif utama. Beberapa pengujian telah dilakukan sehingga dapat disimpulkan bahwa tugas akhir ini telah selesai seperti yang penulis harapkan. Dengan selesainya desain ini, maka telah tercipta sebuah desain batik yang memiliki bentuk gurita sebagai motifnya. Kata Kunci: Batik, random walk, web, amphioctopus marginatus Abstract Batik is cultural heritage Indonesia that has been recognized as the world cultural heritage. Batik now has the form of motives and different characteristics based on the regions and patterns at the carvings. One way to preserve batik is to develop various batik that varied and not monotonous. The Amphioctopus Marginatus as a new motive with the random walk, Web-based. The result of making the late establishment of a new batik octopus design is Amphioctopus Marginatus as the main motivation. Some testing has been done so that it can be concluded that their final task is a writer expect. With the completion of this design, batik designs have had the form of octopus as a motive Keywords: Batik, random walk, web, amphioctopus marginatus.

Filter by Year

2014 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 12 No. 6 (2025): Desember 2025 Vol. 12 No. 5 (2025): Oktober 2025 Vol. 12 No. 4 (2025): Agustus 2025 Vol. 12 No. 3 (2025): Juni 2025 Vol. 12 No. 2 (2025): April 2025 Vol. 12 No. 1 (2025): Februari 2025 Vol. 11 No. 6 (2024): Desember 2024 Vol. 11 No. 5 (2024): Oktober 2024 Vol. 11 No. 4 (2024): Agustus 2024 Vol. 11 No. 3 (2024): Juni 2024 Vol. 11 No. 2 (2024): April 2024 Vol. 11 No. 1 (2024): Februari 2024 Vol. 10 No. 6 (2023): Desember 2023 Vol. 10 No. 5 (2023): Oktober 2023 Vol 10, No 5 (2023): Oktober 2023 Vol. 10 No. 4 (2023): Agustus 2023 Vol 10, No 3 (2023): Juni 2023 Vol. 10 No. 3 (2023): Juni 2023 Vol 10, No 2 (2023): April 2023 Vol. 10 No. 2 (2023): April 2023 Vol. 10 No. 1 (2023): Februari 2023 Vol 9, No 6 (2022): Desember 2022 Vol. 9 No. 5 (2022): Oktober 2022 Vol 9, No 5 (2022): Oktober 2022 Vol 9, No 4 (2022): Agustus 2022 Vol. 9 No. 4 (2022): Agustus 2022 Vol 9, No 3 (2022): Juni 2022 Vol 9, No 2 (2022): April 2022 Vol 9, No 1 (2022): Februari 2022 Vol 8, No 6 (2021): Desember 2021 Vol. 8 No. 5 (2021): Oktober 2021 Vol 8, No 5 (2021): Oktober 2021 Vol 8, No 4 (2021): Agustus 2021 Vol 8, No 3 (2021): Juni 2021 Vol. 8 No. 2 (2021): April 2021 Vol 8, No 2 (2021): April 2021 Vol 8, No 1 (2021): Februari 2021 Vol 7, No 3 (2020): Desember 2020 Vol 7, No 2 (2020): Agustus 2020 Vol 7, No 1 (2020): April 2020 Vol 6, No 3 (2019): Desember 2019 Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019 Vol 6, No 1 (2019): April 2019 Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018 Vol 5, No 2 (2018): Agustus 2018 Vol 5, No 1 (2018): April 2018 Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017 Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017 Vol 4, No 1 (2017): April, 2017 Vol 3, No 3 (2016): Desember, 2016 Vol 3, No 2 (2016): Agustus, 2016 Vol 3, No 1 (2016): April, 2016 Vol 2, No 3 (2015): Desember, 2015 Vol 2, No 2 (2015): Agustus, 2015 Vol 2, No 1 (2015): April, 2015 Vol 1, No 1 (2014): Desember, 2014 More Issue