cover
Contact Name
Yosep Belen Keban
Contact Email
yosephbelen@gmail.com
Phone
+6285235312315
Journal Mail Official
lppmstpreinhalarantuka@gmail.com
Editorial Address
Jln. Ki Ageng Gribig, Gang Kaserin MU No. 36 Malang
Location
Kab. flores timur,
Nusa tenggara timur
INDONESIA
Jurnal Reinha
Published by STP Reinha Larantuka
ISSN : 20893159     EISSN : 28072669     DOI : https://doi.org/10.56358/ejr.v13i2.164
Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik, Budaya, Sosiologi, Antropologi, Pastoral, Katekese, Teologi Katolik, Kitab Suci Katolik, Liturgi Gereja Katolik, Ekopastoral, Teologi Kontekstual
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 16 No 1 (2025)" : 6 Documents clear
PERAN KELUARGA KATOLIK DALAM MENUMBUHKAN IMAN ANAK DI ERA DIGITAL Stefanus Dama Muda; Florianus Pruda Muda
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.353

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang pesat di Indonesia telah membawa dampak signifikan terhadap kehidupan keluarga, termasuk dalam hal pendidikan iman anak. Media sosial, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian anak-anak, memberikan pengaruh yang bersifat ganda: di satu sisi membuka peluang untuk pertumbuhan spiritual, namun di sisi lain dapat menjadi hambatan bagi perkembangan iman. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji secara sistematis peran keluarga Katolik, terutama orang tua, dalam menumbuhkan iman anak di era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka dengan merujuk pada literatur akademik, dokumen Gereja Katolik, serta hasil penelitian yang relevan. Temuan kajian ini menunjukkan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab utama sebagai pendidik iman pertama dalam keluarga dan perlu hadir secara aktif dalam kehidupan digital anak, baik sebagai teladan maupun sebagai pendamping rohani. Beberapa pendekatan yang dianjurkan mencakup literasi digital berlandaskan nilai-nilai iman, pembiasaan doa, pemanfaatan media sosial secara positif, serta keterlibatan dalam aktivitas rohani baik secara daring maupun luring. Kajian ini menekankan pentingnya pembaruan pendekatan pastoral dalam keluarga Katolik agar tetap relevan dan kontekstual dalam menjawab tantangan zaman. Diharapkan, hasil kajian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan strategi pendidikan iman dalam keluarga Katolik di Indonesia serta menjadi rujukan untuk penelitian lanjutan.
MENJADI PRIBADI OTENTIK UNTUK MERAIH KEBAHAGIAAN BERDASARKAN PERSPEKTIF ARMADA RIYANTO Stefanus Afryaldi Saputra Resi; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto; Mathias Jebaru Adon
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.374

Abstract

Penulisan karya ilmiah ini berfokus pada keotentikan pribadi manusia. Sejak lahir, setiap individu memiliki keotentikannya sendiri, namun sering kali keotentikan ini sulit untuk diterima atau diakui oleh lingkungan sekitar. Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi konsep menjadi pribadi yang otentik, dengan mengacu pada perspektif Armada Riyanto. Penulis menggunakan metode kepustakaan, memanfaatkan dua jenis sumber, yaitu sumber primer dan sekunder. Sumber primer berasal dari buku Armada Riyanto berjudul Menjadi Mencintai Berfilsafat Teologi Sehari-hari, khususnya subtema kebijaksanaan mengenal diri. Sumber sekunder berupa artikel, jurnal, dan buku-buku lain yang relevan dengan topik ini. Melalui kajian kepustakaan tersebut, penulis menemukan beberapa hal penting, seperti pemahaman tentang keaslian diri, cara mengatasi tantangan untuk menjadi otentik, peran pengembangan diri, serta pentingnya membangun koneksi dengan orang lain. Selain itu, keotentikan diri juga terbukti menjadi faktor yang membantu seseorang mencapai tujuan hidup. Kebijaksanaan mengenal diri membawa manusia pada kesadaran akan kebahagiaan, yang tercapai ketika seseorang menerima dan bangga dengan keotentikan dirinya. Dengan demikian, kesadaran ini dapat menciptakan relevansi baru, yakni kepercayaan diri untuk hidup otentik, yang pada akhirnya membawa pada kebahagiaan sejati.
BUDAYA POO TULUNGI: GOTONG ROYONG YANG MENYATUKAN MASYARAKAT SUKU BALANTAK DI SULAWESI TENGAH Marianus Muharli Mua
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.382

Abstract

Budaya Poo Tulungi merupakan nilai gotong royong yang mendalam dalam kehidupan masyarakat Suku Balantak di Sulawesi Tengah. Poo Tulungi, yang berarti saling membantu, tidak hanya berfungsi sebagai tindakan fisik, tetapi juga memperkuat hubungan sosial dan solidaritas antar individu dalam komunitas. Dalam penelitian ini, penulis menggali peran budaya ini dalam menjaga keharmonisan sosial meskipun terpengaruh oleh perubahan zaman dan modernitas. Masyarakat Balantak tetap mempertahankan semangat gotong royong dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kerja bakti hingga perayaan adat. Penelitian ini juga mengeksplorasi bagaimana budaya Poo Tulungi dapat bertahan dan relevan, serta beradaptasi dengan tantangan zaman, terutama melalui peran generasi muda yang mengintegrasikan nilai-nilai tradisional dalam kehidupan mereka. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis tematik, di mana data yang diperoleh dari wawancara dan observasi dikelompokkan menjadi tema-tema yang relevan dengan nilai gotong royong, solidaritas, dan keberlanjutan budaya Poo Tulungi. Selain itu, peneliti juga menggunakan teknik triangulasi untuk memastikan validitas data dengan memadukan berbagai sumber informasi yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Poo Tulungi tetap menjadi kekuatan pengikat yang menguatkan solidaritas sosial di masyarakat Balantak, serta berperan penting dalam menjaga keharmonisan sosial di tengah perkembangan modern.
HUKUM ADAT DAYAK BANUA SIMPAKNG MENURUT TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL TALCOTT PARSONS Fransesco Agnes Ranubaya; Sirilus Anantha Deva Hexanno; Yohanes Endi
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.388

Abstract

Hukum Adat merupakan aturan hidup yang dimiliki oleh masyarakat Dayak, khususnya Banua Simpakng, dalam mengatur kehidupan warga masyarakat. Dengan kata lain, siapapun yang menjadi warga masyarakat Dayak Banua Simpakng harus menaati aturan hidup tersebut demi kebaikan bersama. Hukum Adat tersebut bertujuan untuk mengatur harmonisasi kehidupan di antara warga masyarakat Suku Dayak Banua Simpakng sehingga tercipta keselarasan dan keadilan terhadap hak dan kewajiban setiap anggota masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif melalui pendekatan fungsionalisme struktural Talcott Parsons yang terdapat pada Hukum Adat Dayak Banua Simpakng dalam mengatur aspek-aspek perilaku sosial. Teknik pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan dengan sumber data primer buku Hukum Adat Banua Simpakng dan diperkuat dengan data sekunder dari artikel-artikel yang terkait. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah peran Hukum Adat dalam kehidupan sosial bagi suku Dayak Banua Simpakng serta relevansi dan tantangan Hukum Adat Dayak Banua Simpakng di masa kini. Pelaksanaan Hukum Adat tentunya memberikan dampak positif sehingga tetap dijalankan oleh masyarakat Dayak Banua Simpakng hingga saat ini. Masyarakat Dayak Banua Simpakng tidak hanya menjadikan Hukum Adat sebagai aturan belaka, tetapi juga falsafah hidup yang mengatur harmonisasi kehidupan antara manusia dengan alam.
ETIKA KOMUNIKASI NEW MEDIA SEBAGAI UPAYA TANGGUNG JAWAB TERHADAP LIYAN DALAM PERSPEKTIF EMMANUEL LEVINAS Damianus Suryo Pranoto; Fransiskus Xaverius Eko Armada Riyanto
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.391

Abstract

Media digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, tetapi juga menciptakan ruang yang rentan terhadap disinformasi. Transformasi ini menciptakan ruang interaksi yang cepat dan terbuka, tetapi juga melahirkan tantangan etis berupa ujaran kebencian, disinformasi, dan dehumanisasi. Tulisan ini membahas etika komunikasi new media sebagai bentuk tanggung jawab terhadap liyan dalam perspektif Emmanuel Levinas. Tujuannya ialah menganalisis bagaimana prinsip etika Levinas dapat diterapkan dalam komunikasi digital untuk merespons kehadiran liyan sebagai subjek yang menuntut tanggung jawab etis. Tulisan ini memakai metode kualitatif berbasis studi pustaka dengan pendekatan hermeneutika. Penulis menafsirkan pemikiran Levinas tentang fenomenologi wajah sebagai dasar komunikasi yang bermoral. Maka, langkah pembahasannya akan dimulai dengan menguraikan konsep liyan dan tanggung jawab etis dalam pemikiran Levinas, kemudian menghubungkannya dengan praktik komunikasi di media sosial. Levinas menekankan bahwa kehadiran liyan, baik secara fisik maupun virtual, menuntut respons moral yang menghargai martabat manusia. Karena itu, tulisan ini mau menegaskan etika Levinasian dalam konteks media digital, menawarkan perspektif alternatif untuk mengatasi degradasi nilai etika di ruang virtual bahwa kesadaran dari individu akan bertanggung jawab terhadap liyan yang menjadikan dasar untuk membangun interaksi digital lebih manusiawi dan bermartabat. Jadi, etika komunikasi dalam new media bukan hanya teknik, melainkan sikap eksistensial mengutamakan hormat dan kepedulian terhadap sesama.
PASTORAL DIGITAL DALAM ERA DISRUPSI TEKNOLOGI: TRANSFORMASI PELAYANAN GEREJA KATOLIK MENGHADAPI TANTANGAN DAN PELUANG EVANGELISASI VIRTUAL Andreas Jimmy
Jurnal Reinha Vol 16 No 1 (2025)
Publisher : STP Reinha Larantuka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56358/ejr.v16i1.430

Abstract

Artikel ini mengkaji transformasi pastoral Gereja Katolik dalam merespons disrupsi teknologi digital melalui pendekatan kualitatif dengan metode analisis konten dan tinjauan literatur sistematis terhadap sumber-sumber teologis, sosiologis, dan komunikasi religius terkini. Penelitian berfokus pada tiga dimensi utama: rekonfigurasi model pastoral, strategi inkulturasi, dan pengembangan kompetensi digital. Hasil analisis menunjukkan bahwa internet telah berevolusi dari sekadar alat menjadi lingkungan yang membentuk pola pikir, mendorong pergeseran dari model ekklesiologi hierarkis menuju ekklesiologi jaringan yang partisipatif. Inkulturasi digital menjadi imperatif pastoral yang menuntut dialog kreatif antara iman Katolik dan budaya digital, dengan mengintegrasikan adaptasi linguistik, metodologis, dan estetik. Evangelisasi virtual membuka peluang ekspansi jangkauan, namun menghadirkan risiko reduksi iman menjadi konten superfisial. Kesenjangan digital merupakan tantangan etis yang memerlukan pendekatan hibrida untuk memastikan inklusivitas. Digital teologi menjadi fondasi epistemologis untuk pengembangan pastoral autentik, sementara kompetensi digital bagi pelayan pastoral menjadi prioritas strategis. Studi menyimpulkan bahwa pastoral digital harus dipahami sebagai perluasan misi tradisional dalam ekosistem terintegrasi yang memaksimalkan potensi masing-masing modalitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 6