cover
Contact Name
Agus Salim Salabi
Contact Email
salimsalabi@iainlhokseumawe.ac.id
Phone
+6285277295929
Journal Mail Official
lppm@iainlhokseumawe.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, IAIN Lhokseumawe Jl. Medan-B.Aceh, Km. 275, No.1 Alue Awe, Kota Lhokseumawe, Aceh. 24352
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Saree : Research in Gender Studies
ISSN : -     EISSN : 27464466     DOI : https://doi.org/10.47766/saree
Saree dalam bahasa Aceh artinya rata, sejajar, dan setingkat. Kata Sare secara filosofis menggambarkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Keseimbangan mengacu kepada kolaborasi peran antara laki-laki dan perempuan yang menekankan pada konsep keharmonisan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, tanpa perbedaan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku, ras dan golongan. Ruang lingkup kajian fokus kepada gender dan anak berbasis keIslaman. Jurnal Saree berada di bawah Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat (LP2M) IAIN Lhokseumawe dan terbit dua kali dalam setahun di bulan Juni dan Desember
Articles 64 Documents
Preventing Violence Against Women and Children in Mandailing Natal Regency: A Criminological Perspective Fahmi, Zul
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6265

Abstract

ABSTRACT ENGLISHThis study analyzes the patterns and characteristics of violence against women and children in Mandailing Natal Regency during 2023–2024, focusing on sexual violence, domestic abuse, and homicide. The primary aggravating factors include poverty, gender inequality, early marriage, low educational attainment, and weak law enforcement. A criminological approach, drawing on Social Disorganization, Strain, Social Control, and Labeling theories, was employed to uncover root causes and propose prevention strategies based on economic empowerment, education, and legal reform. A qualitative methodology, utilizing literature review and content analysis, was applied to assess key themes in primary and secondary data sources, including books, scholarly articles, and local and national news reports. The findings reveal that sexual violence constitutes the most prevalent category, followed by domestic abuse often resulting in fatalities, and a rising incidence of child sexual exploitation, predominantly perpetrated by acquaintances of the victims. Factors such as gender disparity, poverty, limited educational opportunities, and inadequate law enforcement significantly exacerbate these conditions. Effective mitigation requires synergy among government agencies, community stakeholders, and related sectors, including strengthening legal frameworks, enhancing law enforcement capacities, and providing integrated support services. Community-based interventions and sustained educational programs, engaging religious and customary leaders—are expected to foster a safer, more inclusive environment. Cross-sector collaboration is identified as the key to reducing violence and bolstering public confidence in the justice system. ABSTRACT INDONESIANPenelitian ini menganalisis pola dan karakteristik kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Mandailing Natal pada periode 2023-2024, dengan fokus pada kekerasan seksual, penganiayaan domestik, dan pembunuhan. Faktor utama yang memperburuk situasi ini adalah kemiskinan, ketimpangan gender, pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan, dan lemahnya penegakan hukum. Pendekatan kriminologi, dengan menggunakan teori Disorganisasi Sosial, Strain, Social Control, dan Labeling, diterapkan untuk menggali akar permasalahan dan menawarkan solusi pencegahan berbasis pemberdayaan ekonomi, pendidikan, serta reformasi hukum. Metode kualitatif dengan pendekatan studi literatur dan analisis konten digunakan untuk menilai tema-tema utama dalam data primer dan sekunder, termasuk buku dan artikel jurnal, serta laporan berita local dan nasional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan seksual adalah kasus dominan, diikuti oleh penganiayaan domestik yang sering berujung pada kematian, serta meningkatnya eksploitasi seksual terhadap anak, terutama oleh pelaku yang dikenal korban. Faktor-faktor seperti ketimpangan gender, kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan lemahnya penegakan hukum berperan besar dalam memperburuk kondisi ini. Penanggulangan kekerasan memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor terkait, termasuk penguatan regulasi, peningkatan kapasitas aparat penegak hukum, serta penyediaan layanan terintegrasi. Pendekatan berbasis komunitas dan edukasi berkelanjutan diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan inklusif, dengan melibatkan tokoh agama dan adat. Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam mengurangi kekerasan dan meningkatkan kepercayaan terhadap sistem hukum.
Women’s Exploitation under Capitalism: A Marxist-Feminist Analysis of Rena Asyari’s Perempuan dan Mentalitas Br. Saragih, Revi; Zuhriah, Lailatul; Purwarno, Purwarno
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6599

Abstract

ABSTRACT ENGLISHThis research analyzes the exploitation of women in the short story Perempuan dan Mentalitas by Rena Asyari using a Marxist-Feminist approach. The background of this research departs from the phenomenon of exploitation of women in rural Indonesia who are trapped in the structure of capitalism and patriarchal culture, where women are used as cheap labour without equal access to education and self-development. This short story displays the reality of how young women are conditioned from the start to accept factory work as their only way of life, which reflects a form of systemic exploitation that is ideological and material in nature. This research uses a descriptive qualitative method with a close reading technique of literary texts. Marxist-Feminist theory is used to reveal the relationship between economic power, patriarchal culture, and false consciousness formed through consumption and normalization of domestic roles. The analysis shows four main forms of exploitation: the commodification of women's labour, patriarchal ideology and structural submission, consumerism as a distraction of consciousness, and women and the double burden. The short story illustrates how the capitalist system not only drains women physically, but also limits their consciousness and freedom through the internalization of social norms. The conclusion of this study confirms that literature can be an effective medium of social criticism to expose the structured exploitation of women. This study also emphasizes the importance of critical consciousness, access to education, and systemic change as absolute conditions towards women's liberation in a capitalist-patriarchal society. ABSTRACT INDONESIANPenelitian ini menganalisis eksploitasi perempuan dalam cerpen Perempuan dan Mentalitas karya Rena Asyari menggunakan pendekatan Marxis-Feminis. Latar belakang penelitian ini berangkat dari fenomena eksploitasi perempuan di pedesaan Indonesia yang terjebak dalam struktur kapitalisme dan budaya patriarki, di mana perempuan digunakan sebagai tenaga kerja murah tanpa akses yang setara terhadap pendidikan dan pengembangan diri. Cerpen ini menggambarkan realitas bagaimana perempuan muda sejak awal dikondisikan untuk menerima pekerjaan pabrik sebagai satu-satunya cara hidup mereka, yang mencerminkan bentuk eksploitasi sistemik yang bersifat ideologis dan material. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pembacaan mendalam teks sastra. Teori Marxist-Feminist digunakan untuk mengungkap hubungan antara kekuasaan ekonomi, budaya patriarki, dan kesadaran palsu yang terbentuk melalui konsumsi dan normalisasi peran domestik. Analisis menunjukkan empat bentuk eksploitasi utama: komodifikasi tenaga kerja perempuan, ideologi patriarki dan penyerahan struktural, konsumerisme sebagai pengalihan kesadaran, dan beban ganda perempuan. Cerpen ini menggambarkan bagaimana sistem kapitalis tidak hanya menguras tenaga perempuan secara fisik, tetapi juga membatasi kesadaran dan kebebasan mereka melalui internalisasi norma-norma sosial. Penelitian ini menegaskan bahwa sastra dapat menjadi medium kritik sosial yang efektif untuk mengungkap eksploitasi terstruktur terhadap perempuan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya kesadaran kritis, akses terhadap pendidikan, dan perubahan sistemik sebagai syarat mutlak menuju pembebasan perempuan dalam masyarakat kapitalis-patriarkal.
Representation of Women's Struggle against Violence and Gender Discrimination in the Film “Women from Rote Island” Wulandari, Wulandari; Christine, Anastasya; Reftantia, Ghina; Sartika, Diana Dewi; Saraswati, Erlisa
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6136

Abstract

ABSTRACT ENGLISH: Film is a mass communication media that combines audio and visual elements to convey messages to a wide audience. As a cultural product, film uniquely represents social realities, shapes public opinion, and serves as a platform for reflecting on various human issues. In the modern era, film has evolved into an effective tool for voicing social criticism and highlighting marginalized issues in public discourse, including violence and gender discrimination. One such film is Women from Rote Island, which focuses on the experiences of women in Eastern Indonesia who face domestic violence and structural discrimination. The film portrays how women fight to uphold their rights and dignity amid strong patriarchal cultural pressures. Through emotional storytelling and symbolic visuals, the film delivers messages of resistance against the injustices experienced by women. This article aims to analyse the representation of women's struggles in Women from Rote Island using Roland Barthes' semiotic theory. This theory is applied to explore the denotative (literal) and connotative (symbolic or cultural) meanings of the signs presented in the film—ranging from imagery, character expressions, and dialogue to setting. The research employs a qualitative method with a descriptive approach, allowing the researcher to interpret the hidden messages and meaning structures constructed by the film. The analysis reveals that this film not only represents the social realities faced by women but also serves as a symbolic resistance to an unjust social system. It succeeds in building audience empathy and encouraging critical awareness of issues related to gender-based violence and discrimination. Thus, film can be seen as an effective alternative medium in voicing women's struggles and advocating for gender equality. ABSTRACT INDONESIAN: Film merupakan salah satu bentuk media komunikasi massa yang menggabungkan elemen audio dan visual untuk menyampaikan pesan. Sebagai produk budaya, film memiliki kemampuan unik dalam merepresentasikan realitas sosial, membentuk opini publik, serta menjadi wadah refleksi terhadap berbagai isu kemanusiaan. Di era modern, film berkembang menjadi alat yang efektif dalam menyuarakan kritik sosial dan mengangkat persoalan-persoalan yang sering kali terpinggirkan dalam wacana publik, termasuk isu kekerasan dan diskriminasi gender. Salah satu film yang mengangkat isu tersebut adalah Women from Rote Island, sebuah film yang berfokus pada pengalaman perempuan di wilayah Timur Indonesia yang menghadapi kekerasan dalam rumah tangga dan diskriminasi struktural. Film ini menggambarkan bagaimana perempuan berjuang mempertahankan hak dan martabatnya di tengah tekanan budaya patriarkis yang kuat. Melalui narasi yang emosional dan visual yang simbolis, film ini menyampaikan pesan-pesan perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami perempuan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis representasi perjuangan perempuan dalam film Women from Rote Island dengan menggunakan teori semiotik Barthes. Teori ini digunakan untuk menggali makna denotatif (makna literal) dan konotatif (makna simbolik atau kultural) dari tanda-tanda yang muncul dalam film, baik berupa gambar, ekspresi tokoh, dialog, maupun latar tempat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang memungkinkan peneliti untuk menginterpretasikan pesan-pesan tersembunyi dan struktur makna yang dibangun oleh film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa film ini tidak hanya merepresentasikan kenyataan sosial yang dihadapi perempuan, tetapi juga menjadi sarana perlawanan simbolik terhadap sistem sosial yang tidak adil. Film ini berhasil membangun empati penonton dan mendorong kesadaran kritis terhadap isu kekerasan dan diskriminasi gender. Dengan demikian, film dapat dilihat sebagai media alternatif yang efektif dalam menyuarakan perjuangan perempuan serta memperjuangkan kesetaraan gender.
The False Promise of "Neoliberal Cinderella": Deconstructing Gender and Social Class Discourse in Anora (2024) Rahman, Fadhlur
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6700

Abstract

ABSTRACT ENGLISHFilm is a discursive sphere where cultural meanings are constructed and debated through visual storytelling. Therefore, it is significant to expose binary contradictions in neoliberal gender ideology and reveal structural violence against women hidden behind narratives of social mobility in film. This study, thus, aims to unravel the complexity of gender and class representations in Anora (2024) through a critical analysis of “Neoliberal Cinderella” discourse, which frames labour relations as romance and shifts the costs of social reproduction onto women's bodies. This research employs interpretive qualitative study with two mutually reinforcing analytical frameworks. First, Derrida's Deconstruction to identify and dismantle dominant binary oppositions (love versus money, spontaneity versus strategy, reality versus fantasy) through an in-depth reading of mise-en-scène, dialogue and material markers. Second, Marxist-feminist perspective is utilised to map the political economy of affective labor, the mechanisms of commodification through gifts and access, and the unequal distribution of risks and costs affecting the main character, Ani. The results show that Anora both produces and disrupts the neoliberal Cinderella myth by revealing the hidden costs behind the promise of social mobility (social climbing): fragmented time, exploited emotions, and commodified security. The movie reveals that social mobility is a lease, not a right, and that love is used to glorify labour contracts. This paper proposes a methodological bridge of Marxist-feminist and deconstruction for cultural criticism that demands structural redistribution and recognition of affective labour as real work that is entitled to protection, compensation, and dignity. ABSTRACT INDONESIANFilm merupakan ruang diskursif di mana makna-makna budaya dibangun dan diperdebatkan melalui bahasa sinematik, sehingga mampu mengungkap kontradiksi dalam ideologi gender neoliberal dan mengungkap kekerasan struktural terhadap perempuan yang tersembunyi di balik narasi mobilitas sosial. Studi ini bertujuan untuk mengurai kompleksitas wacana gender dan kelas dalam film Anora (2024) melalui analisis narasi “Neoliberal Cinderella” yang menggambarkan hubungan kerja sebagai romansa dan mengalihkan beban reproduksi sosial dalam tubuh perempuan. Metode penelitian menggunakan studi kualitatif interpretatif dengan dua alat analitis yang saling memperkuat. Dekonstruksi Derrida digunakan untuk mengidentifikasi dan membongkar oposisi biner yang dominan seperti cinta versus uang, spontanitas versus strategi, realita versus fantasi, melalui analisis mendalam mise-en-scène, dialog, dan tanda-tanda material di dalam film. Kemudian teori feminis-Marxis digunakan untuk memetakan ekonomi politik kerja afektif, mekanisme komodifikasi melalui hadiah dan akses kekuasaan, serta distribusi risiko dan “harga” yang harus ditanggung dan “dibayar” oleh karakter perempuan dalam fiim ini. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa Anora membongkar fantasi Cinderella modern dimana mobilitas social yang dijanjikan hanya akan selalu mengorbankan stabilitas hidup, mengeksploitasi emosi dan menjadikan rasa aman sebagai komodifikasi. Film ini mengungkapkan bahwa mobilitas sosial adalah bersifat sementara, bukan hak yang berkelanjutan, dan cinta hanya digunakan untuk menghormati kontrak kerja. Penelitian ini menawarkan kerangka-metodologi teori baru (dekonstruksi-feminis-Marxis) untuk kritik budaya yang menuntut redistribusi struktural dan pengakuan terhadap pekerja emosional sebagai pekerjaan nyata yang berhak atas perlindungan, kompensasi, dan martabat.