cover
Contact Name
Agus Salim Salabi
Contact Email
salimsalabi@iainlhokseumawe.ac.id
Phone
+6285277295929
Journal Mail Official
lppm@iainlhokseumawe.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, IAIN Lhokseumawe Jl. Medan-B.Aceh, Km. 275, No.1 Alue Awe, Kota Lhokseumawe, Aceh. 24352
Location
Kota lhokseumawe,
Aceh
INDONESIA
Saree : Research in Gender Studies
ISSN : -     EISSN : 27464466     DOI : https://doi.org/10.47766/saree
Saree dalam bahasa Aceh artinya rata, sejajar, dan setingkat. Kata Sare secara filosofis menggambarkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Keseimbangan mengacu kepada kolaborasi peran antara laki-laki dan perempuan yang menekankan pada konsep keharmonisan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan, tanpa perbedaan kedudukan, kekayaan, keturunan, suku, ras dan golongan. Ruang lingkup kajian fokus kepada gender dan anak berbasis keIslaman. Jurnal Saree berada di bawah Lembaga Pengabdian dan Penelitian Masyarakat (LP2M) IAIN Lhokseumawe dan terbit dua kali dalam setahun di bulan Juni dan Desember
Articles 64 Documents
Deconstructing Gender-Based Hierarchical Structures: A Critical Discourse Analysis of Matshepo Msibi’s Monologue in TEDx Talks Zulia, Silvani; Rahman, Fadhlur
Saree: Research in Gender Studies Vol. 6 No. 2 (2024): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v6i2.5855

Abstract

Gender inequality is one of the recurring structural problems in various spheres of life- social, cultural, political, and economic-that not only appears in the form of violations in public spaces such as mass media, government institutions, or the workplace, but is also deeply rooted in the private sphere, especially in the family as the smallest social unit. This research aims to uncover the types of representations of gender inequality in Matshepo Msibi's TEDx Talks and analyse how Van Dijk's Critical Discourse Analysis model can be used to unpack the power structure in gender discourse shaped. In addition to deconstructing gender representations and patriarchal ideologies in monologue (in this context TEDx Talks), this paper also aims to increase understanding of how gender inequality stems from the family settings and emphasizes the importance of addressing gender bias in everyday life. The results reveal that a hierarchical representation of gender, where men are placed as dominant figures- protective, strong, and strategic-while women are reduced to domestic roles such as washing dishes and taking care of the house. The narrative of the (monologue) talk reflects the patriarchal ideology that is still strong in the culture of society. This ideology is manifested through social rules that restrict women from accessing education, physical freedom, and equal social opportunities. AbstrakKetidaksetaraan gender merupakan salah satu masalah struktural yang berulang di berbagai aspek kehidupan—sosial, budaya, politik, dan ekonomi—yang tidak hanya muncul dalam bentuk “kekerasan” di ruang publik seperti media massa, lembaga pemerintah, atau tempat kerja, tetapi juga mendalam di ruang yang lebih pribadi, terutama dalam keluarga sebagai unit sosial terkecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap jenis-jenis representasi ketidaksetaraan gender dalam TEDx Talks Matshepo Msibi dan menganalisis bagaimana model Analisis Wacana Kritis Van Dijk dapat digunakan untuk mengurai struktur kekuasaan dalam diskursus gender yang terbentuk. Selain mendekonstruksi representasi gender dan ideologi patriarki dalam monolog (dalam konteks ini di event TEDx Talks), penelitian ini juga bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang bagaimana ketidaksetaraan gender berasal dari lingkungan keluarga dan menekankan pentingnya mengatasi bias gender dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat representasi hierarkis gender, di mana pria ditempatkan sebagai figur dominan—pelindung, kuat, dan strategis—sedangkan wanita dengan “sengaja” dikurangi perannya menjadi tugas rumah tangga seperti mencuci piring dan merawat rumah. Narasi dalam pidato monolog tersebut mencerminkan ideologi patriarki yang masih kuat dalam budaya masyarakat. Ideologi ini tercermin melalui aturan sosial yang membatasi akses wanita terhadap pendidikan, kebebasan fisik, dan kesempatan sosial yang setara.
Mother's Struggle: Fighting Over Child Custody in a Foreign Country in the Film Mrs. Chatterjee vs Norway Fitria, Tira Nur
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i1.5894

Abstract

This research uses descriptive qualitative research to analyse a mother's struggle to maintain custody of her child in a foreign country as depicted in the film Mrs. Chatterjee vs Norway. This approach was chosen to explore and understand the narrative, themes, and values contained in the film in depth. In the film, the story revolves Debika Chatterjee’s unwavering love and determination as a mother fighting against an unjust system to regain custody of her children. The struggle begins when Norwegian Child Protection Services takes her children, claiming her parenting practices, rooted in Indian culture, violate their norms. Despite facing cultural misunderstandings and a legal system that fails to grasp her traditions, Debika perseveres. Her challenges are compounded by the lack of support from her husband, Anirudh, who sides with the authorities, leaving her isolated in her battle. Debika also endures psychological and social pressure, including criticism from her family in India. Yet, her resolve strengthens as she gains support from a lawyer and the Indian government, which brings international attention to her case. After a long legal fight, Debika triumphs and reunites with her children, symbolizing the power of a mother’s love and her fight against injustice. Debika Chatterjee’s struggle in the film is a real-life example of a mother's unwavering love and her courage to fight against injustice for her children. Despite facing a foreign, unjust, and challenging legal system, Debika continues to fight without giving up, showing that a mother is willing to do anything to protect and restore her children’s happiness. The film depicts that a mother’s fight is about facing physical challenges and upholding cultural values and deep love for her children. AbstrakPenelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif untuk menganalisis perjuangan seorang ibu mempertahankan hak asuh anaknya di negara asing, sebagaimana digambarkan dalam film Mrs. Chatterjee vs Norway. Pendekatan ini dipilih untuk mengeksplorasi dan memahami narasi, tema, dan nilai-nilai yang terkandung dalam film secara mendalam. Dalam film ini, cerita berpusat pada cinta dan tekad yang tak tergoyahkan Debika Chatterjee sebagai seorang ibu yang berjuang melawan sistem yang tidak adil untuk mendapatkan kembali hak asuh anak-anaknya. Perjuangan ini dimulai ketika Layanan Perlindungan Anak Norwegia mengambil anak-anaknya, dengan alasan bahwa praktik pengasuhan yang didasarkan pada budaya India melanggar norma-norma mereka. Meskipun menghadapi kesalahpahaman budaya dan sistem hukum yang gagal memahami tradisinya, Debika tetap bertahan. Tantangannya semakin berat karena kurangnya dukungan dari suaminya, Anirudh, yang berpihak pada pihak berwenang, meninggalkan Debika sendirian dalam perjuangannya. Debika juga menghadapi tekanan psikologis dan sosial, termasuk kritik dari keluarganya di India. Namun, tekadnya semakin kuat ketika ia mendapatkan dukungan dari seorang pengacara dan pemerintah India, yang membawa perhatian internasional pada kasusnya. Setelah perjuangan hukum yang panjang, Debika menang dan bersatu kembali dengan anak-anaknya, simbol kekuatan cinta seorang ibu dan perjuangannya melawan ketidakadilan. Perjuangan Debika Chatterjee dalam film ini adalah contoh nyata cinta seorang ibu yang tak tergoyahkan dan keberaniannya untuk melawan ketidakadilan demi anak-anaknya. Meskipun menghadapi sistem hukum asing, tidak adil, dan menantang, Debika terus berjuang tanpa menyerah, menunjukkan bahwa seorang ibu siap melakukan apa saja untuk melindungi dan memulihkan kebahagiaan anak-anaknya. Film ini menggambarkan bahwa perjuangan seorang ibu adalah tentang menghadapi tantangan fisik dan mempertahankan nilai-nilai budaya serta cinta yang mendalam untuk anak-anaknya.
Legal Review of Chemical Castration for Child Rape Offenders under Indonesia's ICCPR and CAT Ratification Mufty, Abdul Malik
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i1.6017

Abstract

Sexual violence against children represents one of the most severe forms of crime, which not only causes physical harm to the victims but also profoundly affects their psychological, social, and future well-being. In an effort to deter perpetrators of sexual violence against children, the Indonesian government has introduced chemical castration as an additional criminal sanction through Law Number 17 of 2016. However, the implementation of chemical castration as part of Indonesia's criminal justice system raises various legal implications that require further in-depth examination. This research employs a normative approach using library research methods. The application of chemical castration should be regarded as a last resort, implemented only when all other alternatives have been exhausted. The legal implications of imposing chemical castration on child rape offenders within Indonesia’s criminal justice system present numerous challenges when analysed through the lens of justice theories. Chemical castration has the potential to conflict with principles of justice if it is not carried out carefully and proportionally. AbstrakPenelitian Tindakan kekerasan seksual terhadap anak merupakan salah satu bentuk kejahatan serius yang tidak hanya merugikan korban secara fisik, tetapi juga berdampak mendalam pada aspek psikologis, sosial, dan masa depan korban. Dalam rangka memberikan efek jera kepada pelaku kejahatan kekerasan seksual terhadap anak, pemerintah Indonesia telah mengatur sanksi pidana tambahan berupa kebiri kimia melalui UU Nomor 17 Tahun 2016. Namun, penerapan sanksi kebiri kimia sebagai bagian dari sistem hukum pidana Indonesia menimbulkan berbagai implikasi hukum yang perlu dikaji lebih mendalam. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kepustakaan (dengan pendekatan normatif. Penerapan kebiri kimia harus dipandang sebagai langkah terakhir yang hanya dilakukan jika semua alternatif lain telah gagal. Implikasi yuridis dari penerapan sanksi kebiri kimia terhadap pelaku pemerkosaan anak dalam sistem hukum pidana Indonesia menunjukkan banyak tantangan ketika dianalisis melalui perspektif teori keadilan. Kebiri kimia memiliki potensi untuk bertentangan dengan prinsip-prinsip keadilan jika tidak dilaksanakan dengan hati-hati dan proporsional.
Exploring Gender Oppression in Sweat by Zora Neale Hurston: Feminist Literary Criticism Agung, I Gusti Ayu Mahatma
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i1.6018

Abstract

The research aims to analyse gender oppression in the short story Sweat written by Zora Neale Hurston. This study seeks to understand how gender oppression is represented through literary work. Using a qualitative method, the study relied on textual analysis by identifying and closely examining selected narrative data that highlight the main character’s experiences of oppression. The analysis was conducted using the theory of oppression proposed by Iris Marion Young, which offers a framework for understanding how various forms of oppression affect marginalised individuals. The findings reveal that four forms of oppression are reflected in the story, namely exploitation, marginalisation, powerlessness, and violence. The main character was exploited through her unrecognised and undervalued labor, which sustained her household while benefiting her abusive husband. She was marginalised through her social isolation and lack of emotional support from those around her. Her powerlessness was portrayed through her inability to make decisions or assert control over her own life, largely due to emotional and psychological manipulation. Finally, she was subjected to physical and emotional violence that further stripped away her sense of safety and autonomy. These findings highlight how Sweat critiques gender-based oppression in both domestic and societal contexts.   Abstrak Tujuan penelitian ini adalah menganalisis penindasan gender dalam cerita pendek berjudul Sweat karya Zora Neale Hurston. Studi ini berupaya memahami bagaimana penindasan gender direpresentasikan melalui karya sastra. Dengan menggunakan metode kualitatif, penelitian ini menganalisis teks dengan cara mengidentifikasi dan mengkaji secara mendalam data naratif yang menyoroti penindasan yang dialami oleh tokoh utama dalam cerita pendek tersebut. Analisis dilakukan dengan menggunakan teori penindasan yang dikemukakan oleh Iris Marion Young. Teori ini memberikan kerangka untuk memahami bagaimana berbagai bentuk penindasan memengaruhi individu yang terpinggirkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat bentuk penindasan yang tercermin dalam cerita, yaitu eksploitasi, marginalisasi, ketidakberdayaan, dan kekerasan. Tokoh utama dieksploitasi melalui kerja kerasnya yang tidak diakui dan tidak dihargai, meskipun menopang kehidupan rumah tangganya dan justru menguntungkan suaminya yang kasar. Marginalisasi tercermin melalui isolasi sosial dan kurangnya dukungan emosional dari lingkungan sekitarnya. Ketidakberdayaan tokoh utama terlihat dari ketidakmampuannya dalam mengambil keputusan atau mengendalikan hidupnya sendiri, yang sebagian besar disebabkan oleh manipulasi emosional dan psikologis. Tokoh utama juga mengalami kekerasan fisik dan emosional yang mengikis rasa aman dan otonominya sebagai individu. Temuan ini menunjukkan bahwa Sweat merupakan karya sastra yang secara kritis menggambarkan penindasan berbasis gender dalam konteks domestik maupun sosial.
Women’s Right to Education: How the Islamic View Breaks Down the Domestic Stigma that “A Woman’s Place is in the Kitchen” Yasin, Nur Ali
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i1.6019

Abstract

This article discusses women's rights to access education and how Islam theologically and historically breaks down the domestic stigma that places women only in the realm of the kitchen and household. Through a qualitative approach with a literature study method, this article analyzes the texts of the Qur'an, hadith, and other relevant texts to answer accusations of discrimination against women and explain the priority of knowledge for every Muslim, both men and women. Islam views education as a basic human right and places women as the main pillar in the process of family and community education. The phrase that "mother is the first madrasah" reflects how crucial the role of women is in giving birth to a knowledgeable and moral generation. Therefore, limiting access to education for women is a form of inequality that is contrary to Islamic principles. Domestic stigma is more born from patriarchal cultural construction, not from religious teachings. This article emphasizes the need to build collective awareness to eliminate gender discrimination in the world of education.   Abstrak Artikel ini membahas hak perempuan dalam mengakses pendidikan serta bagaimana Islam secara teologis dan historis meruntuhkan stigma domestik yang menempatkan perempuan hanya dalam ranah dapur dan rumah tangga. Melalui pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, artikel ini menganalisis teks-teks Al-Qur’an, hadis, dan teks relevan lainnya untuk menjawab tuduhan diskriminasi terhadap perempuan dan menjelaskan keutamaan ilmu bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Islam memandang pendidikan sebagai hak dasar manusia dan menempatkan perempuan sebagai pilar utama dalam proses pendidikan keluarga dan masyarakat. Ungkapan bahwa “ibu adalah madrasah pertama” mencerminkan betapa krusialnya peran perempuan dalam melahirkan generasi berpengetahuan dan berakhlak. Oleh karena itu, pembatasan akses pendidikan bagi perempuan merupakan bentuk ketimpangan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Stigma domestik lebih banyak lahir dari konstruksi budaya patriarki, bukan dari ajaran agama. Artikel ini menegaskan perlunya membangun kesadaran bersama untuk menghapus diskriminasi gender dalam dunia pendidikan.
The Role of Women in the Preservation of the Acehnese Language: Ecolinguistics and Gender Perspectives Ristawati, Ristawati; Rahayu, Ririn; Iqbal, Muhammad; Muntazar, Muntazar
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i1.6036

Abstract

This study aims to analyse the role of women in the preservation of the Acehnese language with an ecolinguistics and gender approach. The background of this research is the threat to the continuity of the Acehnese language which is marginalized by the dominance of the Indonesian language, both in the education and media sectors. Acehnese women, as the main agents in the transmission of language to the younger generation, play an important role in maintaining the sustainability of the Acehnese language in the domestic and community spheres. This research uses a qualitative approach with a case study method, which involves in-depth interviews with Acehnese women in various community groups, as well as observations on the use of the Acehnese language in daily life. The data analysis technique was carried out with a thematic analysis approach to identify the role of women, the challenges faced, and the conservation strategies applied. The results show that although Acehnese women play a central role in the preservation of the Acehnese language, their role is often not institutionally recognized. Also, social and economic pressures that encourage the switch to Indonesian are obstacles in the preservation of the language. This research suggests the need for more inclusive policies that actively involve women in the revitalization of the Acehnese language, as well as structural support that can strengthen their role in the preservation of the language.   Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran perempuan dalam pelestarian bahasa Aceh dengan pendekatan ekolinguistik dan gender. Latar belakang penelitian ini adalah adanya ancaman terhadap kelangsungan bahasa Aceh yang terpinggirkan oleh dominasi bahasa Indonesia, baik dalam sektor pendidikan maupun media. Perempuan Aceh, sebagai agen utama dalam transmisi bahasa kepada generasi muda, memainkan peran penting dalam menjaga keberlanjutan bahasa Aceh di ranah domestik dan komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus, yang melibatkan wawancara mendalam dengan perempuan Aceh di berbagai kelompok masyarakat, serta observasi terhadap penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari. Teknik analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis tematik untuk mengidentifikasi peran perempuan, tantangan yang dihadapi, serta strategi pelestarian yang diterapkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun perempuan Aceh memainkan peran sentral dalam pelestarian bahasa Aceh, peran mereka sering kali tidak diakui secara institusional. Selain itu, tekanan sosial dan ekonomi yang mendorong peralihan ke bahasa Indonesia menjadi kendala dalam pelestarian bahasa Aceh. Penelitian ini menyarankan perlunya kebijakan yang lebih inklusif yang melibatkan perempuan secara aktif dalam revitalisasi bahasa Aceh, serta dukungan struktural yang dapat memperkuat peran mereka dalam pelestarian bahasa tersebut.
Male Voice in Women’s Discourse: The Political Impact of Source Selection in Digital Gender Advocacy Fadilah, Misnatul Nur; Fitri, Ainal
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 1 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i1.6038

Abstract

This qualitative study explores the formation of gender issues in the Narasi talk show, specifically in the episode “Susahnya Jadi Perempuan” featured on Najwa Shihab’s YouTube account. Several factors, including the choice of male guest speakers with diverse identity backgrounds, influence the formation of these issues. The media discourse established within this context can significantly shape the online audience’s interpretations, or netizens, who engage with the content. This study aims to compare media discourse with audience interpretations and connect these insights to the role of the sources in the discussion. Data for this research were derived from interview transcripts of the guest speakers and netizen comments. The researcher employed Stuart Hall’s reception analysis, alongside Ferdinand de Saussure’s semiotic analysis. To enhance understanding, the researcher examined the findings through the lens of reception theory—a concept developed by Hall—and categorized them into three interpretive stances: the dominant-hegemonic position, the negotiated code, and the oppositional code. The study reveals that the involvement of the guest speakers in this episode reflects their advocacy efforts for gender issues. All participants exhibited a pro-gender equality perspective, which significantly influenced the interpretations of netizens, with most aligning their views with those of the sources. This finding highlights the notion that credible public figures in digital media discourse not only advocate for gender equality but also play a crucial role in shaping public opinion positively. Eventually, this study contributes to a deeper understanding of the relationship between media representation, source credibility, and constructing audience meaning in contemporary social issues. Abstrak Penelitian kualitatif ini menganalisis bagaimana isu gender dibentuk dalam konten talkshow Narasi di akun Youtube Najwa Shihab episode “Susahnya Jadi Perempuan”. Pembentukan isu tersebut dipengaruhi oleh banyak faktor, termasuk pemilihan narasumber laki-laki dengan latar belakang identitas yang berbeda. Wacana yang dibentuk oleh media dapat memengaruhi pemaknaan khalayak (netizen) yang menonton konten tersebut. Tujuan penelitian ini adalah melakukan komparasi antara wacana media dan pemaknaan khalayak, serta mengaitkannya dengan peran narasumber dalam isu tersebut. Data penelitian ini diperoleh dari transkrip wawancara narasumber dan komentar netizen melalui fitur komentar langsung. Peneliti menganalisis data-data tersebut menggunakan analisis resepsi oleh Stuart Hall dan analisis semiotika Ferdinand de Saussure. Untuk memperluas pemahaman, peneliti membahas temuan dengan menggunakan teori resepsi yang juga dirumuskan oleh Stuart Hall dan mengelompokkannya ke tiga kategori pemaknaan, yakni the dominant-hegemonic position, the negotiated-code or position, dan the oppositional code. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan narasumber dalam episode ini merupakan cerminan upaya advokasi isu gender. Semua narasumber yang terlibat memiliki perspektif pro kesetaraan gender dan berdampak pada pemaknaan netizen, yang sebagian besar menunjukkan keselarasan dengan pandangan narasumber. Temuan ini menegaskan bahwa kehadiran figur publik yang kredibel dalam diskursus media digital tidak hanya merepresentasikan advokasi gender, tetapi juga dapat membentuk opini publik secara positif. Studi ini berkontribusi pada pemahaman tentang relasi antara representasi media, kredibilitas narasumber, dan konstruksi makna audiens dalam konteks isu sosial kontemporer.
A Critical Study on Work Attire for Female Medical Personnel in Regards to MUI Decree Number 4 of 2009 Daud, Zakiul Fuady Muhammad; Rusuli, Izzatur; Fata, Ahmad Khoirul
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6011

Abstract

Covering the entire body except for the face and palms is the rule of aurat for Muslim women according to Islam, that aimed at preserving their dignity and honour. However, certain professions require Muslim women to expose some of their forearms, leading to the issuance of a decree by the Indonesian Ulema Council (MUI) regarding its permissibility. This paper aims to critically analyse the MUI decree on the attire of female medical personnel and provide alternative solutions to ensure that they do not expose any part of their aurat. This paper is a literature review utilizing content analysis. The findings of this paper indicate that the MUI decree number 4 concerning the attire of female medical personnel in 2009 contains two decisions: one regarding the ideal coverage of aurat for women and another regarding the permissibility of exposing some parts of the aurat during duty. The Sharia objectives contained in the first decision are aimed at preserving religion and life, while those in the second decision are aimed at safeguarding life and property. A solution to prevent female medical personnel from exposing their forearms is by using long sleeves or gloves. The implication of this paper is that MUI is expected to provide alternative options to maintain aurat in any circumstance. AbstrakMenutup seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan adalah aturan aurat bagi perempuan Muslimah menurut Islam dalam rangka menjaga kemuliaan dan kehormatannya. Namun demikian, dalam pekerjaan tertentu menuntut perempuan muslim untuk membuka sebagian lengannya sehingga MUI mengeluarkan fatwa tentang kebolehannya. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis secara kritis fatwa MUI tentang pakaian tenaga medis perempuan dan memberikan alternatif solusi agar tenaga medis tersebut tidak membuka sebagian auratnya. Tulisan ini merupakan kajian pustaka yang menggunakan analisis isi dalam analisanya. Hasil tulisan ini menunjukkan bahwa fatwa MUI nomor 4 tentang pakaian tenaga medis perempuan tahun 2009 mengandung dua putusan, yaitu tentang aurat perempuan yang seharusnya dan tentang kebolehan membuka Sebagian aurat ketika menjalankan tugas. Maqasid syariah yang terkandung pada putusan pertama adalah dalam rangka menjaga agama dan jiwa, sedangkan maqasid pada putusan kedua dalam rangka menjaga jiwa dan harta. Solusi yang bisa dilakukan agar tenaga medis perempuan tidak membuka sebagian lengannya adalah dengan menggunakan manset atau sarung tangan panjang. Implikasi dari tulisan ini adalah diharapkan MUI memberikan alternatif pilihan untuk tetap menjaga aurat dalam kondisi apa pun.
An Analysis of Push and Pull Motivation Factors Among Women Entrepreneurs Tapsi, Syhabuddin Al; Rahman, Athaur
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6044

Abstract

Entrepreneurship has been recognized as a driving activity for innovation and economic growth. There is great potential to improve global economic conditions through a better understanding of the increased empowerment of women in entrepreneurial activity. In order to increase women's entrepreneurial activity, it is important to increase knowledge about what motivates women to start a business, which will raise awareness and provide information on how best to support women entrepreneurs. We identified women's motivations for entrepreneurship using push-pull theory. The analytical approach used in this study through a systematic literature review. Based on previous studies, we listed the push-pull factors that motivate women entrepreneurs to pursue entrepreneurial activities. Furthermore, we found that pull factors such as family, business, and independence play a more important role in motivating women while running their businesses than push factors (e.g., job, family, and dissatisfaction). AbstrakKewirausahaan telah diakui sebagai aktivitas pendorong bagi inovasi dan pertumbuhan ekonomi suatu negara. Terdapat potensi besar untuk memperbaiki kondisi ekonomi global melalui pemahaman yang lebih baik tentang peningkatan pemberdayaan perempuan dalam aktivitas kewirausahaan. Untuk dapat meningkatkan aktivitas perempuan dalam berwirausaha, penting untuk meningkatkan pengetahuan tentang motivasi apa saja yang memicu perempuan untuk membangun usaha, sehingga akan meningkatkan kesadaran dan memberikan informasi mengenai cara terbaik untuk mendukung wirausaha perempuan. Kami mengidentifikasi motivasi perempuan dalam berwirausaha dengan menggunakan teori dorongan-tarikan motivasi. Pendekatan analisis yang digunakan pada penelitian ini melalui systematic literature review. Berdasarkan pada penelitian-penelitian terdahulu, kami membuat daftar faktor dorongan-tarikan yang memotivasi perempuan wirausaha dalam menjalankan aktivitas kewirausahaan. Selanjutnya kami menemukan bahwa, faktor tarikan seperti keluarga, bisnis, dan kemandirian memainkan peranan lebih penting dalam memotivasi perempuan pada saat menjalankan usahanya daripada faktor dorongan (pekerjaan, keluarga, dan ketidakpuasan).
Nurturing Resilient Women: Single Parents from the Perspective of Islamic Education Buto, Zulfikar Ali; Muhibuddin, Muhibuddin; Taufiq, Taufiq
Saree: Research in Gender Studies Vol. 7 No. 2 (2025): Saree: Research in Gender Studies
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak - PSGA (Center for Gender and Child Studies) Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe, Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/saree.v7i2.6326

Abstract

The phenomenon of single mothers is on the rise in modern society, bringing complex challenges in economic, psychological, social, and spiritual aspects. This article aims to examine the role and strength of women who live as single parents in educating their children based on Islamic educational principles. This research uses qualitative methods with Critical literature review to highlight the importance of spiritual education, moral strengthening, social skills development, life skills, and support from institutions and communities based on Islamic values. Based on a review of classical and contemporary Islamic educational literature, it was found that Islamic teachings give women a very noble position, especially as the main educators in the family environment, even without the presence of a spouse. Islam not only glorifies the role of mothers, but also emphasizes their pivotal role in shaping the character and personality of their children. The mental toughness, emotional independence, and spiritual intelligence of a single mother are formed through a comprehensive Islamic tarbiyah process, covering the spiritual, intellectual, and physical aspects. Through comprehensive education, women are able to raise a quality generation and build a just and civilized society. AbstrakFenomena ibu tunggal (single mother/parent) semakin meningkat di masyarakat modern, membawa tantangan kompleks dalam aspek ekonomi, psikologis, sosial, dan spiritual. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji peran dan kekuatan perempuan yang hidup sebagai orang tua tunggal dalam mendidik anak-anak mereka berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tinjauan literatur kritis untuk menyoroti pentingnya pendidikan spiritual, penguatan moral, pengembangan keterampilan sosial, keterampilan hidup, dan dukungan dari lembaga dan komunitas berdasarkan nilai-nilai Islam. Berdasarkan tinjauan kritis terhadap sumber tulisan ilmiah dibidang pendidikan Islam klasik maupun kontemporer, ditemukan bahwa ajaran Islam memberikan posisi yang sangat mulia bagi perempuan, terutama sebagai pendidik utama dalam lingkungan keluarga, bahkan tanpa kehadiran suami. Islam tidak hanya mengagungkan peran ibu, tetapi juga menekankan peran sentral mereka dalam membentuk karakter dan kepribadian anak-anak mereka. Ketahanan mental, kemandirian emosional, dan kecerdasan spiritual seorang ibu tunggal terbentuk melalui proses tarbiyah Islam yang komprehensif, mencakup aspek spiritual, intelektual, dan fisik. Melalui pendidikan yang komprehensif, perempuan mampu mendidik generasi berkualitas dan membangun masyarakat yang adil dan beradab.