cover
Contact Name
Johny S. Tasirin
Contact Email
jtasirin@unsrat.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
silvarum@unsrat.ac.id
Editorial Address
Jalan Kampus UNSRAT, Manado 95115
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
Silvarum
ISSN : -     EISSN : 29626390     DOI : -
Core Subject : Agriculture, Social,
Silvarum adalah jurnal yang memuat artikel-artikel ilmiah tentang hasil penelitian dan tinjauan tentang ilmu kehutanan, pelestarian sumber daya hutan dan rehabilitasi hutan termasuk topik-topik lain yang terkait hutan dan kehutanan. Jurnal ini diterbitkan secara online dengan bentuk cetakan setahun sekali. Sirvarum terbit pertama kali pada tahun 2022 bulan April. Silvarum diturunkan dari istilah latin untuk hutan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 82 Documents
Partisipasi Masyarakat Kelurahan Peleloan Kecamatan Tondano Selatan Kabupaten Minahasa Dalam Kegiatan Konservasi Danau Tondano Runtuwene, Stive E.Y.; Ratag, Semuel P.; Lasut, Marthen T.
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.606 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43538

Abstract

Tujuan Penelitian ini untuk mendeskripsikan partisipasi masyarakat yang ada di Kelurahan Peleloan, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa dalam kegiatan konservasi Danau Tondano. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari tahun 2022 dengan metode penelitian Wawancara dan Observasi. Wawancara dilakukan dengan pertanyaan tertutup dan wawancara mendalam secara terbuka “indepth interview” ditunjukkan kepada masyarakat Kelurahan Peleloan yang sudah memiliki KTP (kartu tanda penduduk) dengan total sampel berjumlah 30 orang. Tingkat partisipasi masyarakat dalam kegiatan konservasi Danau Tondano di Kelurahan Peleloan, Kecamatan Tondano Selatan, Kabupaten Minahasa sudah baik. Hal ini terlihat dari presentase responden yang termasuk dalam berkategori berpartisipasi baik 30% dan sangat baik 30%. Lebih dari setengah responden berpartisipasi dalam kegiatan konservasi yang diadakan oleh pemerintah maupun LSM. Ini terjadi karena kebijakan pemerintah dalam memberikan upah pada masyarakat yang terlibat sehingga menunjang perekonomian mereka. Masyarakat yang berada di Kelurahan Peleloan, sudah memahami bahwa kegiatan konservasi adalah kegiatan untuk menjaga kelestarian Danau Tondano sebagai penunjang kehidupan mereka.
Kajian Penggunaan Kayu Untuk Pembuatan Mebel di UD. Alisti Kecamatan Kalawat Kabupaten Minahasa Utara Puasa, Orlando Z.; Kainde, Reynold P.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.346 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43539

Abstract

Kayu merupakan salah satu sumber daya alam, yang memilki sifat yang sangat kompleks yang tidak dimiliki oleh bahan bangunan lainnya dan banyak digunakan oleh industri furniture. Industri mebel/furniture adalah salah satu industri yang memanfaatkan kayu dan mengelolah kayu menjadi kayu olahan dalam bentuk barang-barang furniture. UD. Alisti merupakan salah satu industri furniture yang mengelolah kayu hingga menjadi bahan mebel dengan produk-produk seperti kursi, lemari, kusen pintu dan jendela dan berbagai macam produk yang dapat dihasilkan dari kayu, untuk mengolah kayu tersebut membutuhkan komponen kayu dengan ukuran dan bentuk tertentu sesuai yang diinginkan. Oleh karena itu perlu adanya penelitian untuk mengetahui volume kayu terpakai untuk menghasilkan produk kayu siap pakai seperti meja, kursi, kusen, pintu dan lain-lain. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan volume kayu yang dipakai untuk bahan baku pintu sebesar 57.024cm3 dengan rendemen produksi 70,52% dan untuk volume bahan baku produk kusen 123.552cm3 dengan persentase rendemen 62,74%  dan volume kayu untuk jendela dengan bahan baku sebesar 57.290cm3 dengan persentase rendemen 25,02%.
Penilaian Sumberdaya Alam di Sekitar Danau Pulisan, Linow dan Tampusu, Kota Tomohon, Sulawesi Utara: Capung (Odonata) sebagai Biondikator. Kaligis, Kevin H.; Pollo, Hard N.; Tulung, Max
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.328 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43540

Abstract

Capung (Ordo Odonata) merupakan salah satu kelompok serangga yang memiliki keanekragaman yang sangat tinggi. Capung mudah dikenali dari tubuhnya yang khas, memiliki sayap dua pasang, licin tanpa bulu maupun sisik umumnya berwarna terang dengan corak beragam. Faktor-faktor tersebut akan menjadi pembatas penyebaran beberapa spesies capung, terutama spesies capung endemik yang memiliki faktor fisik yang spesifik. Kondisi fisik habitat yang optimal akan mempengaruhi keberadaan spesies capung. Tujuan penelitian ini menghitung jumlah species capung, jumlah tumbuhan, mengukur temperatur air, temperatur udara, kekeruhan air, pH air, total partikel terlarut TDS, menganlisis jenis-jenis capung (Odonata) yang bertindak sebagai bioindikator dan menentukan status kualitas air berdasarkan Family Biotic Index FBI. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa species capung yang diperoleh berjumlah 13 species, diantaranya di Danau Linow 8 species dan di Danau Pulisan 5 species. Tumbuhan penyusun ditemukan di Danau Pulisan, Linow dan tampusu yaitu 21 jenis. Hasil perhitungan jumlah total famili dari FBI yaitu 7,94 buruk sekali terpolusi berat bahan organik. Danau Linow bedasarkan FBI terdapat 2 famili Ceonagrionidae dan Libellulidae. Hasil perhitungan jumlah total family dari FBI yaitu 7,84 tingkat   pencemaran buruk sekali terpolusi berat bahan organik.
Inventarisasi Jenis Dan Sebaran Pohon Pakan Julang Sulawesi (Aceros cassidix) di Taman Hutan Raya Gunung Tumpa H.V. Worang, Sulawesi Utara Runtu, Jonathan; Pollo, Hard N.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.763 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43541

Abstract

Pada awalnya Gunung Tumpa merupakan kawasan hutan lindung yang kemudian melalui SK.434/Menhut-II/2013 tanggal 17 Juni 2013 berubah fungsi menjadi Taman Hutan Raya. Selanjutnya berdasarkan pada Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republic Indonesia Nomor SK.2364/Menhut-VII/KUH/2015 tanggal 28 mei 2015 Hutan Lindung Gunung Tumpa ditetapkan menjadi Taman Hutan Raya Gunung Tumpa (TAHURA) dengan luas 208, 81 Ha. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jenis tumbuhan pakan julang sulawesi di kawasan Taman Hutan Raya Gunung Tumpa. Metode pengumpulan data yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diambil di lapangan dengan cara observasi, pengamatan, dan pengukuran. Untuk jalur observasi dengan menggunakan cara eksplorasi dan perjumpaan dengan julang sulawesi didasarkan pada suara dan penglihatan langsung saat burung hinggap dan makan Sedangkan data sekunder diperoleh secara tidak langsung yakni dari studi pustaka sebagai acuan untuk mengetahui jenis pohon pakan. Data yang diperoleh pada hasil pengamatan akan dikelompokkan dan dibuat dalam bentuk tabel kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 15 individu pohon dari 5 famili tumbuhan yang digunakan julang sulawesi sebagai pohon singgah, pohon tidur, dan pohon pakan. Berdasarkan sebaran pohon Terdapat 6 jenis  pohon pakan, yang ditemukan berbuah ada 4 yaitu Ficus fistulosa, Ficus altissima, Cananga odorata dan Ficus tinctoria. sisanya yang tidak berbuah Ficus benjamina, Dracontomelon dao.
Keanekaragaman Jenis Tumbuhan Obat Di Desa Elusan Kabupaten Minahasa Selatan Lanes, Aldo; Nurmawan, Wawan; Pollo, Hard N.
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.08 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43542

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi jenis-jenis tumbuhan obat yang ada di Desa Elusan Kecamatan Minahasa Selatan beserta pemanfaatannya. Metode yang digunakan yaitu wawancara dan observasi lapangan. Pemilihan informan yang digunakan dalam observasi yaitu menggunakan teknik Snowball sampling. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa terdapat 24 jenis tumbuhan dari 16 famili yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Anggota famili yang paling banyak dijumpai adalah Euphorbiaceae dan Zingiberaceae masing-masing 4 jenis. Herba merupakan habitus terbanyak yang dimanfaatkan sebanyak 11 jenis, dan bagian daun paling banyak digunakan untuk diolah menjadi obat. Sumber perolehan tumbuhan umumnya ditemukan di pekarangan (16 jenis), cara pengolahan dengan cara direbus paling banyak dilakukan (16 jenis) dan manfaat dari tumbuhan obat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti, sakit perut, sakit gigi, kolesterol, lambung, diare dan sakit belakang.
Karakteristik Daluga (Cyrtosperma merkusii (Hassk.) Schott) Di Tepi Rawa Danau Kapeta, Pulau Siau Hatibae, Shinta Yati; Pangemanan, Euis F.S.; Ratag, Semuel P.
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.098 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.43543

Abstract

Daluga adalah tumbuhan yang tumbuh liar di rawa-rawa dan mampu beradaptasi serta tumbuh baik pada kondisi ternaung maupun pada areal terbuka. Daluga di tepi rawa Danau Kapeta tumbuh dengan kisaran suhu udara 25,9 – 28,1oC, pH tanah 4 – 5 dan intensitas cahaya 2428 – 4603 cdl. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan karakteristik daluga di tepi rawa Danau Kapeta, Pulau Siau dengan melakukan perbandingan dengan karakteristik daluga yang ada di tempat lain. Metode penelitian dilakukan dengan cara metode eksplorasi, pada 5 titik untuk melakukan pengamatan morfologi. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik morfologi daluga di tepi rawa Danau Kapeta yaitu daun berbentuk perisai dengan ujung tumpul, tepi bergelombang dan pangkal berlekuk, warna permukaan atas hijau tua dan warna permukaan bawah hijau muda dengan permukaan mengkilat. Bentuk tangkai daun seperti leher angsa dan daun tumbuh searah jarum jam. Umbi daluga bewarna coklat dengan warna daging kuning. Bunga daluga memiliki tangkai lurus bewarna hijau, majemuk, spadix bewarna putih dengan spatha permukaan luar berwarna ungu dan permukaan dalam kuning keputihan, berbentuk seperti lunas perahu dengan ujung runcing.
Avifauna Species Diversity for the Development of Birdwatching Ecotourism in the Mangrove Forest of Bango Village, Mantehage Island, Bunaken National Park: Keanekaragaman Jenis Avifauna untuk Pengembangan Ekowisata Birdwatching di Hutan Mangrove Desa Bango, Pulau Mantehage, Taman Nasional Bunaken Saleh, Putra Sanjaya; N. Pollo, Hard; S. Tasirin, Johny
Silvarum Vol. 2 No. 1 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.458 KB) | DOI: 10.35791/sil.v2i1.46417

Abstract

AbstrakEkowisata merupakan salah satu cara untuk mengembangkan suatu area konservasi. Taman Nasional Bunaken mempunyai lokasi wisata Mangrove Trail yang terletak di Desa Bango, Pulau Mantehage, dengan panjang mangrove trail sepanjang 800 m. Sampai saat ini, pemanfaatan trail untuk tujuan wisata burung belum optimal dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai keanekaragaman jenis burung dan mendesain trail ekowisata birdwatching di Mangrove Trail Desa Bango dan area sekitarnya berdasarkan temuan jenis burung. Penelitian dilakukan pada bulan November 2022 dengan Metode Point Count pada 6 tipe tutupan lahan (perkebunan campuran, hutan primer, hutan mangrove, hutan sekunder, lahan terbuka, dan perkebunan campuran). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat sebanyak 49 jenis dari 18 famili. Berdasarkan hasil pengamatan, tutupan lahan hutan mangrove memiliki nilai keanekaragaman dengan nilai H’ = 2.74, lahan terbuka H’ = 2.52, hutan sekunder H’ = 2.51, perkebunan campuran sebelah kiri trail H’ = 2.46, hutan primer H’ = 2.45 dan perkebunan campuran sebelah kanan trail H’ = 2.40. Rata-rata nilai setiap tutupan lahan H’ = 2.51 dengan keanekaragaman jenis total H’ = 2.80. Terdapat sebanyak 8 jenis merupakan burung endemik kawasan Wallacea, dan 11 jenis burung dilindungi. Berdasarkan IUCN Redlist Version 2022-2 diperoleh jenis-jenis burung yang masuk ke dalam 3 kategori yaitu LC (Least Concern) = 46 jenis, NT (Near Threatened) yaitu Cekakak Hutan Dada Sisik (Actenoides princeps) dan Itik Benjut (Anas gibberifrons), dan VU (Vulnerable) yaitu Kuntul Cina (Egretta eulophotes). Pola sebaran burung dibagi menjadi 3 kategori yakni burung migran sebanyak 19 jenis, penetap 8 jenis dan kosmopolitan sebanyak 22 jenis. Hasil temuan tersebut mengindikasikan bahwa perlu adanya pengembangan ekowisata birdwatching dengan cara penambahan trail di sebelah kanan Mangrove Trail berbentuk oval untuk pengamatan jenis-jenis yang dilindungi, migran, endemik, Least Concern, Near Threatened, dan Vulnerable.
Struktur dan Komposisi Jenis Mangrove Desa Kulu, Kecamatan Wori, Sulawesi Utara Subiyanto, Subiyanto; Tasirin, Johny S.; Langi, Martina A.
Silvarum Vol. 2 No. 2 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i2.43549

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis mangrove di Desa Kulu, Sulawesi Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret 2022 di Desa Kulu, Kecamatan Wori, Sulawesi Utara. Penelitian menggunakan 12 plot pengamatan yang ditentukan secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa di hutan mangrove Desa Kulu terdapat 9 jenis (6 suku) mangrove, yaitu Acrostichum aureum, Aegiceras corniculatum, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops sp., Lumnitzera littorea, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Scyphiphora hydrophylacea, dan Sonneratia alba. Rhizophora mucronata memiliki INP tertinggi di fase semai (87,6%), sapihan (77,9%) dan pohon (150,8%) sedangkan fase tiang didominasi Rhizophora apiculata dengan INP 129,5%.
Perbandingan Beberapa Sifat Fisik Tanah di Hutan Lindung Gunung Mahawu dan Hutan Lindung Gunung Masarang Makarawung, Jerry; Rombang, Johan A.; Tasirin, Johny S.
Silvarum Vol. 2 No. 2 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i2.43550

Abstract

Sebagai bagian dari ekosistem, tanah merupakan kumpulan dari benda alam di permukaan bumi yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan beberapa sifat fisik tanah; bulk density, tekstur, infiltrasi, permeabilitas, dan porositas di hutan lindung Gunung Mahawu dan Gunung Masarang. Penentuan titik sampel dilakukan secara random melalui cluster sampling. Ada 3 titik sampel di masing-masing lereng bawah, tengah dan atas, di setiap titik diambil 3 sampel. Total ada 18 sampel di 2 lokasi penelitian. Pengukuran infiltrasi dan permeabilitas tanah dilakukan di lapangan, pengukuran porositas, bulk density dan tekstur tanah di laboratorium. Analisis data menggunakan paired sample t-test dengan aplikasi SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tekstur tanah lereng bawah dan tengah Gunung Mahawu dan Gunung Masarang memiliki tekstur tanah lempung. Lereng atas Gunung Mahawu memiliki tekstur lempung berliat sedangkan Gunung Masarang bertekstur lempung. Laju infiltrasi berbeda nyata (α=5%) dimana Gunung Mahawu tergolong agak cepat di lereng bawah, sangat cepat di lereng tengah dan atas. Infiltrasi di semua lereng Gunung Masarang tergolong agak cepat. Permeabilitas lereng bawah Gunung Mahawu dan Gunung Masarang sangat lambat, lereng tengah dan atas tergolong lambat. Bulk density di semua lereng di kedua lokasi <1,0 g/cm3. Tanah sangat porous di dua lokasi penelitian.
Karakteristik Habitat Kuskus Beruang (Ailurops ursinus) di Taman Wisata Alam Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara Jacobus, Mauritz Krisma Deo; Tasirin, Johny S.; Nurmawan, Wawan
Silvarum Vol. 2 No. 2 (2023): Silvarum
Publisher : Fakultas Pertanian, Universits Sam Ratulangi, Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35791/sil.v2i2.48500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat kuskus beruang (Ailurops ursinus) berdasarkan pohon tidur di taman wisata alam batuputih. Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2022. Pengamatan terdiri dari penetapan pohon tidur dan komposisi vegetasi dilingkungan pohon tidur. Untuk penetapan pohon tidur dilakukan dengan mengikuti A.ursinus secara terus-menerus pada pukul 08:30-18:30. Ditemukan sebanyak 4 pohon tidur A.ursinus di Taman wisata alam batuputih. Jenis tumbuhan yang dijadikan pohon tidur adalah Dracontomelon dao, Spathodea campanulata, Dracontomelon mangiverum dan Garuga floribunda. Ditemukan 1-4 individu disetiap pohon tidur. Pohon tidur berada pada elevasi 32-75 M dengan kemiringan lahan 19%-34%; intensitas cahaya 438.75±70.26 lx; persentase cahaya 26.01%±3.64%; suhu pagi, siang dan sore berturut-turut 24.24±1.55°C, 25.16±1.00°C dan 23.75±1.35°C; serta kelembaban udara pagi, siang dan sore 93.63%±1.85%, 88.33%±1.42% dan 89.58%±2.19%. Vegetasi di sekitar pohon tidur didominasi oleh Alstonia scholaris (INP 42.98%) untuk pohon, Vitex quinata (INP 35.18%) untuk tiang dan Barringtonia acutangula (INP 25.40%) untuk pancang.