cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 11 Documents
Search results for , issue "No 1 (1994)" : 11 Documents clear
DIRECTIVES IN ENGLISH F.X. Nadar
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.924 KB) | DOI: 10.22146/jh.2022

Abstract

English has many ways of expressing directives. This paper attempts to classify the examples of directives based on their linguistic forms, which then will be given some comments. These comments, despite being subjective, are based on observation and inquiries to native speakers of English. Finally, this paper discusses other possible ways which can be used to classify the directives and the implications for learners and teachers of English to speakers of other languages. Austin (quoted by Coulthard, 1985) makes the distinction between locutionary and illocutionary acts, and he says further that "the interpretation of the locutionary act concerns with meaning, the interpretation of the illocutionary act with force." Searle (cited by Coulthard, 1985 ) proposes five microclasses of illocutionary act: representatives, directives, commissives, expressives and declarations. Directives (Coulthard, 1985:24) may be defined as all attempts by the speaker to get the hearer to do something- in this class the speaker is wanting to achieve a future situation in which the world will match his words and thus this class includes no (simply 'order' and 'request' but, more subtly, "invite", 'dare' and 'challenge'.
SEKTOR INFORMAL SEBAGAI ALTERNATIF PELUANG KERJA BAGI WANITA DI PEDESAAN Gandarsih Mulyowati Retno Santoso
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (582.484 KB) | DOI: 10.22146/jh.2023

Abstract

Salah satu tujuaan khusus Peningkatan Peranan Wanita Dalam Pembangunan Bangsa (P2W) yaitu wanita sebagai ibu rumah tangga atau kepala rumah tangga bersama-sama dengan suaminya sebagai kepala keluarga bertanggung jawab atas terpenuhinya segala keperluan rumah tangga dan keluarga, baik berupa jasa maupun barang, serta kebutuhan mental spiritual. Keterlibatan wanita dan pria dalam pekerjaan mempunyai motif dan tujuan yang berbeda. Bagi pria  bekerja merupakan kewajiban yang harus dijalani karena tanggungjawabnya sebagai pencari nafkah. Bagi wanita tidak mampu (miskin), bekerja berartimencari nafkah atau memberi sumbangan kepada rumah tangga yang belum mencapai tingkat hidup yang layak, sedangkan bagi wanita yang mampu (kaya) bekerja berarti memberikan tambahan modal bagi rumah tangganya (BPS, 1989:29-30). Menurut Stoler (1982:114) dalam keadaan di mana warga-warga masyarakat desa yang miskin banyak memiliki kemungkinan yang terbatas untuk memperoleh sumber-sumber strategis utama berupa tanah dan modal, maka kesempaten-kesempatan kerja bagi wanita merupakan sumber yang penting bagi rumah tangga-rumah tangga yang tidak memiliki tanah. Kegiatan itu menyebabkan wanita memperoleh kebebasan ekonomi tetapi tidak memberi kekuasaan sosial.
UPACARA PERALIHAN PADA MASYARAKAT NAGE KEO Hans J. Daeng
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1355.246 KB) | DOI: 10.22146/jh.2024

Abstract

Keberadaan dan masa depan suaru masyarakat biasanya dipersiapkan dengan teliti dan saksama oleh suatu masyarakat melalui pranata-pranata sosial yang ada. Hal itu dilaksanakan dengan menggembleng individu-individu untuk menjadi anggota yang baik dan bertanggungjawab dalam masyarakat. Pandangan dan pendirian tidak saja dipertahankan pada masyarakat suku bangsa yang diidentikkan dengen tradisional melainkan juga pada masyarakat modern. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat yang berdiam di mantan zellbesturende landschap atau radjaschap yang berada di bawah kekuasaan seorang radja yang diangkat berdasarkan Korte Verklanng semasa penjajahan dahulu. Kini mantan ullbesturende landschap atau radjaschap Nagekeo itu bersama radjaschap-radjaschap Ngada dan Riung membentuk Daerah Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Nagekeo terdiri atas beberapa daerah Kecamatan ialah Boawae, Mauponggo dan Aesesa. Masyarakat Nagekeo adalah masyarakat agraris. Masyarakat Nagekeo mengenal pembagian masyarakatnya ke dalam golongan bangsawan, golongan menengah dan golongan hamba. Golongan bangsawan disebutmosa tana laki watu atau tuan tanah, ialah ket urunan cikal bakal yang sekaligus menguasai suatu daerah yang luas: golongan menengah adalah keturunan orang bebas, mereka yang bukan kerurunan dan menjadi milik golongan bangsawan; golongan hamba adalah mereka yang merupakan keturunan dari orang-orang menjadi budak/hamba golongan mosa tana laki watu. Pada masyarakat Nagekeo berlaku garis kerurunan yang patrilineal dan patrilokal.
PEMANFAATAN HOMONIMI DI DALAM HUMOR I Dewa Putu Wijana
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1170.893 KB) | DOI: 10.22146/jh.2025

Abstract

Humor adalah gejala yang universal, hanya saja setiap atau masing-masing bangsa, suku, atau kelompok memiliki persepsi yang berbeda terhadap apa yang dianggap lucu itu (Allan, 1989, 1). Di samping fungsi untuk mengubah situasi emosional seseorang, humor juga memiliki fungsi penting yang lainnya yakni sebagai sarana pendidikan dan kritik sosial. Dalam kaitannya dengan penelitian humor secara linguistik, pembicaraan baru berkisar pada pembahasan humor sebagai permainan bahasa, seperti yang nampak pada penelitian Wijana (1983, 1985) dan Pradopo et als (1985). Pada penelitian-penelitian ini secara garis besar dikemukakan bahwa humor secara verbal penuh dengan penyimpangan aspek-aspek kebahasaan baik secara fonologis, semantis, maupun pragmatik. Khusus berbicara tentang penyimpangan aspek semantis bahasa, ada satu aspek semantis yang menarik untuk dibahas secaralebih mendalam yang belum dilakukan di dalam penelitian Wijana dan Pradopo et als di atas. Aspek semantik itu adalah homonimi, yakni satuan-satuan lingual yang secara aksidental memikliki ujud fonis yang sama.
BEBERAPA CATATAN TENTANG BAHASA MELAYU DILI: STUDI AWAL MENGENAI BAHASA MELAYU DI TIMOR TIMUR Inyo Yos Fernandez
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (969.967 KB) | DOI: 10.22146/jh.2026

Abstract

Menurul Suparlan (1978:44), ada beragam ras di antara berbagai kelompok etnik yang mendiami Propinsi Timor Timur. Dapat disebutkan antara lain Papua Melenesoid, Veda Austrotoid, Kaukasoid, Mongoloid, dan Melayu. Keberadaan ras Melayu di antara berbagai ras tersebut adalah wajar mengingat penyebaran suku Melayu hampir meliputi seluruh pelosok tanah air, dan telah menjadi kenyataan sejarah. Di berbagai daerah puak Melayu dan kebudayaannya berbaur dengan kehidupan budaya setempat, salah satu perwujudan lahir dari pembauran itu tampak anlara lain dalam eksistensi bahasa Melayu dialek daerah setempat, seperti halnya bahasa Melayu Dili (MD) yang digunakan di Dili, Timor Timur. Bahasa MD digunakn oleh sekitar 1000 penutur, yang berdiam di beberapa tempat di kota Dili, terutama di kampung Alor. Penghuni kampung Alor pada umumnya adalah kaum pedagang pendatang keturunan Arab dan yang sering identik dengan puak Melayu. Dewasa ini bahasa MD sebagai bahasa ibu merupakan alat komunikasi utama di kalangan penuturnya, di samping bahasa Tetum Dili dan bahasa Indonesia (BI). Seperti bahasa Melayu dialek daerah lainnya di Indonesia, bahasa MD berkembang dari bahasa pidgin.
EKSPRESIONISME DALAM KARYA FRANS KAFKA "A HUNGER ARTIST" Juliasih Juliasih
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.482 KB) | DOI: 10.22146/jh.2027

Abstract

Ekspresionisme ialah suatu airan dalam dunia seni khususnya seni lukis dan sastra yang menekankan pada kebebasan seorang seniman untuk melawan gejolak hati sepenuhnya. Emosi dimuntahkan secara irasional dan visioner (Hartoko, 1985,64)Aliran ini pertama kali muncul di Jerman pada tahun 1916-1925 yaitu periode sebelum dan sesudah Perang Dunia I. Van Gogh dan Paul Gauguin adalah pelopor aliran ini, sedangk n dalam bidang sastra pelopornya adalah penyair Baudelaire dan Rimbaud, novelis Dostoevsky, filusuf Niet zsche, dan dramawan August Strindberg. Dari karya Frans Kafka ini pertama kali yang menarik untuk dibicarakan adalah judul cerita itu sendiri yang mengundang beberapa pertanyaan. Siapakah sebenarnya si seniman terebut? Apakah seniman tersebut benar-benar kelaparan atau lapar akan sesuatu? Dan mengapa dia sampai kelaparan? Setelah ditelesuri dari awal sampai akhir cerita ternyata Frans Kafka sama sekali tidak memberi nama khusus pada si seniman. Hal ini dapat diinterpretasikan bahwa apa yang dialami oleh si seniman mungkin saja dapat terjadi pada setiap manusia, khususnya seniman. Sampai disini interpretasi itu dapat diterima, tetapi sampai pada kata "hunger" yang berarti lapar atau kelaparan maka interpretasi "A HungerArtis" yang dipakai sebagai judul menjadi tidak masuk akal, apalagi kalau dihubungkan dengan cerita secara keseluruhan.
PREVALENSI, SIKAP, IJIN PENGETAHUAN TENTANG RISIKO MEROKOK PADA KARYAWAN DI LINGKUNGAN FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA Naniek Kasniyah
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.891 KB) | DOI: 10.22146/jh.2028

Abstract

Dewasa ini merokok telah diketahui kaitannnya dengan penyakit paru-paru, jantung, darah tinggi dan berbagai infeksi saluran pernafasan (Maseroni, 1987:8; Kompes, 1990: I+XI). Penyakit kronis dan kematian akibat tembakau biasanya baru terbukti dua atau tiga dasawarsa sejak kebiasaan itu dilakukan, dan merokok merupakan kebiasaan individual (Kompas, 1990: I + XI; Suwaadi, 1988 : IV). Oleh karena itu, sadar atau tidak sadar seseorang tetap me1akukan hal itu meskipun di antaramereka ada yang telah paham akibat dan tindakannya itu. Studi ini mengungkap beberapa perumusan masalah, meliputi prevalensi merokok, latar belakang kebiasaan merokok, pengetahuan mereka tentang bahayanya orang merokok dan sikap mereka terhadap kampanye "No Smoking". Penelitian ini dilaksanakan dengan harapan hasil temuan ini untuk bahan pertimbangan dalam rangka kampanye "No smoking" yang dilancarkan oleh pemerintah, terutama Deprtemen Kesehatan Republik Indonesia untuk menurunkan atau menghilangkan kebiasaan merokok di kalangan masyrakat.
BEBERAPA RUMUSAN MASALAH SOSIOLOGI SASTRA Sangidu Sangidu
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1152.878 KB) | DOI: 10.22146/jh.2029

Abstract

Pendekatan terhadap sastra yang mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan oleh beberapa penulis disebut "sosiologi sastra". Istilah itu pada dasarnya tidak berbeda pengertiannya dengan sosiosastra, pendekatan sosiologis, atau pendekatan sosiokultural terhadap sastra. Pendekatan terhadap sastra secara sosiologis dicurigai sebagai pendekatan pseudoilmiah", karena tidak memiliki pijakan yang rigid (kokoh) dalam hal datanya. Secara metodologia pun terkadang juga lemah, karena wilayah penelitiannya tidak pasti dan objek analisisnya gamang (tidak mantap). Untuk menghilangkan (setidak-tidaknya mengurangi) anggapan bahwa pendekatan sastra sosiologis dieungaise baga i pendekatan pseudo-ilmiah dan untuk menjelaskan bahwa pendekatan sastra sosiologis merupakan pendekatan "ilmiah", maka perlu dirumuskan beberapa permasalahan yang akan dibahas pada tulisan ini.
SOCIO-ECONOMIC HISTORY: THE TREND IN THE STUDY ON INDONESIAN HISTORY 1950-1980S Soegijanto Padmo
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2164.608 KB) | DOI: 10.22146/jh.2030

Abstract

In the early years of Indonesian independence, the study of Indonesia's recent history tended to be dominated by scholars who emphasized political and cultural themes in their studies. There was a need to explain those developments of the colonial period which underlay some of the most important features of newly independent Indonesia. About two decades ago a new dimension began be opened up in the Indonesia social sciences when a group of historians and social scientists carried out studies of socioeconomic history of certain localities on Indonesia. The development of the social sciences in Indonesia was also leading to a better understanding of rural society. This new focus on Indonesian historical and socio-economic studies, directed especially at agricultural and socialaspects, was very appropriate.
MITOS HIROGAMI LANGIT DAN BUMI DI DALAM CERITA PELIPUR LARA Sudibyo Sudibyo
Humaniora No 1 (1994)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (508.288 KB) | DOI: 10.22146/jh.2031

Abstract

Cerita pelipur lara memiliki tempat tersendiri di dalam kehidupan masyarakat Melayu. Di kalangan kelompok masyarakat yang masih sederhana cerita pelipur lara merupakan sarana hiburan yang dapat dinikmati sehabis menunaikan pekerjaan sehari harI. Oleh sebeb itu, materi cerita pelipur lara, sebagaimana lazimnye cerita rakyat, berisi cerita -cerita ringan yang kaya fantasi dan hal-hal yang mempesonakan, misalnya kehidupan istana, putri- putri yang tampan dan cantik rupawan, para wirawan yang gagah berani, perkawinan tokoh utama cerita dengan putri kayangan, lukisan alam adikodrati yang fantastis, dan sebagainya. Di dalam tulisan ini akan dicoba ditelusuri secara singkat kaitan cerita pelipur lara terutama episode perkawinan manusia bumi dngan putri kayangan dengan mitos kosmogoni mengenai perkawinan suci (hirogami) langit dan bumi. Pertanyaan yang akan dicoba dijawab adalah mengapa kenyataan di dalam cerita pelipur lara bertolak belakang dengan kenyataan di dalam mitos kosmogoni atau mengapa cerita pelipur lara mendemitefikasikan mitos kosmogoni tersebut. Untuk keperluan ini, dipergunakan tiga buah cerita pelipur lara, Hikayar Malim Deman, Hikayat Raja Muda, dan Hikayat Malim Dewa yang ketiganya mengandung episode perkawinan manusia bumi dengan putri kayangan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

1994 1994


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue