Humaniora
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles
13 Documents
Search results for
, issue
"No 2 (1995)"
:
13 Documents
clear
Teks-teks Sumber Wayang Madya (Relasi, Konstruksi, dan Persamaan Beberapa Tokohnya dengan Raja-Raja Jawa)
Anung Tedjowirawan
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1657.909 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1951
Wayang Madya adalah salah satu jenis seni pertunjukkan wayang yang telah lama tenggelam. Sekalipun tidak pernah populer di Surakarta, seperti dikemukakan Pigeaud (Pigeaud, 1967), tetapi pernah dipentaskan di Istana Mangkunegaran di abad 19 dengan mengambil lakon Jayabaya (Claire Holt, 1967). Bentuk Wayang Madya adalah paduan Wayang kulit (Purwa) dengan Wayang Gedhog. Bagian atas sampai tengah mengambil bentuk wayang Purwa, sedangkan bagian tengah ke bawah mengambil bentuk Wayang Gedhog (Sayid, 1981). Sumber bahan Wayang Madya pun menjadi jembatan yang menghubungkan bahan kedua tradisi wayang tersebut. Jika Wayang Purwa mengambil cerita dewa-dewa sampai keluarga Pandawa dan Wayang Gedhog mengambil cerita Panji dari Jenggala dengan putri Kediri (Uhlenbeck, 1964), maka Wayang Madya mengambil cerita para cucu Pandawa sampai menjelangPanJI (Brandon , 1970). Dapat pula cerita sejak peristiwa wafatnya Prabu Yudayana sampai masa Prabu Jayalengkara naik tahta tahun 765 C -1052 C (863 M 1130 M) (Kats, 1924).
Keterkaitan Kala Passe Compose dan Imparfait dalam Bahasa Prancis
B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (834.391 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1969
Sebagai salah satu bahasa fleksi, bahasa Prancis (bP) mempraktekkan perubahan internal dalam konstituen verbanya (V). Perubahan tersebut dilakukan berdasarkan penyesuaiannya dengan persona, jumlah, jenis, kala, dan modusnya. Kelima unsur tersebut cenderung berlangsung bersama-sama. Kala adalah kategori gramatikal yang bernubunqan dengan perubahan-perubahan bentuk pada V untuk menunjukkan saat terjadinya tindakan atau peristiwa (lih. Dubois et al,. 1973:483 & Grevisse, 1980:711). Tulisan akan membicarakan dua jenis kala lampau, yakni yang disebut passe compose (PC) dan imparfait( IMP). Kedua jenis kala lampau ini perlu diperhatikan secara khusus, mengingat sifat keterkaitannya jika dipergunakan dalam wacana, baik yang naratif maupun bukan. Yang dimaksudkan ialah bahwa, dalam sebagian besar wacana, keduanya menggambarkan tindakan yang berbeda namun yang satu cenderung ditentukan oIeh yang lain.
Manggarai Daerah Sengketa antara Bima dan Goa
Hans Daeng
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1202.328 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1970
Manggarai adalah salah satu dari lima kabupaten di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Dalam konsep tentang dinamika masyarakat dan kebudayaan ada pandapat yang mengatakan bahwa proses persebaran kebudayaan-kebudayaan secara geografis terjadi oleh perpindahan bangsa-bangsa (migrasi) di muka bumi. Jadi persebaran unsur-unsur kebudayaan (difusi) berjalan berbarengan dengan migrasi. Bila judul di atas dikaitkan dengan konsep dinamika masyarakat dan kebudayaan, maka dapat diajukan beberapa pertanyaan seperti: mengapa terjadi pertentangan antara Bima dan Goa, bagaimanakah cara-cara yang digunakan untuk merealisasi hasrat dan cita-cita masing-masing, apa akibatnya untuk Manggarai sendiri.
Empirisme dalam Penokohan
Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1168.984 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1971
Manurut teori empirisme, pengetahuan diperoleh dangan perantaraan pancaindera. Pancaindera memperoleh kesan-kesan dari segala sesuatu yang ada di alam nyata dan kesan-kesan itu terkumpul dalam diri manusia. Pengetahuan itu sendiri terdiri dari susunan dari kesan-kesan yang berbagai rupa ini (Harun Nasution, 1975: 11-12). Salah satu hakikat sastra adalah menggambarkan manusia sebagaimana adanya. Karya sastra yang baik akan mengajak pembaca melihat karya-karya tersebut seperti cermin diri nya sendiri. Dengan jalan menimbulkan pathos, yaitu simpati terhadap dan merasa terlibat dalam penstiwa mental yang terjadi dalam karya tersebut, dapat terjadi secara intens apabila pembaca dapat mengadakan hubungan langsung dengan karya itu. Sastra mempunyai fasilitas yang lebih luas untuk menggerakkan pathos pembaca, antara lain berupa karakter-karakter atau tokoh-tokoh yang berbeda pandangan (Budi Darma, 1984: 87).
Pemanfaatan Teks Humor dalam Pengajaran Aspek-Aspek Kebahasaan
I Dewa Putu Wijana
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1391.385 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1973
Keberhasilan sebuah proses belajar mengajar tidaklah semata-mata ditentukan oleh pengajar yang handal, input yang baik, fasilitas pengajaran (gedung sekolah, alat-alat pengajaran, perpustakaan, dsb.) yang memadai, tetapi pemilihan bahan pengajaran yang tepat juga memegang peranan yang cukup dominan. Makalah ini akan membahas pemanfaatan teks humor untuk mengajarkan aspek-aspek kebahasaan dalam berbagai cabang ilmu bahasa, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik.
Pendekatan Kualitatif: Kebiasaan dan Kepercayaan Pemberian Makanan Padat Dini Pendamping Asi Kepada Bayi pada Orang Sasak di Daerah Nusa Tenggara Barat
Naniek Kasniyah
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1192.863 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1974
Tujuan dan studi etnografi dan Focus Group Discusion yang telah dilaksanakan pada tahun 1990 untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang diduga ada kaitannya dengan kemauan bayi dengan gajala penyumbatan saluran pencernaan. Faktor penyebabnya diduga kebiasaan dan kepercayaan orang Sasak di Nusa Tenggara Barat terhadap pemberian makanan padat dini pendamping ASI kepada bayi. Sebagian dari hasil penelitian kerjasama antara ahli Antropologi Kesehatan dengan Kedokteran yang dilaksanakan oleh CE & BU Fakuttas Kedokteran Universitas Gadjah Mada/RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan Dr. Hananto Wiryo dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia di Nusa Tenggara Barat dipetik dan disajikan di sini agar dapat digunakan oleh para ahli yang tertarik mengembangkan masalah serupa dan sudut pandang atau studi lintas budaya.
Patung Tau-Tau: Bentuk Manifestasi Kebudayaan Megalitik di Tana Toraja
Niken Wirasanti
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (564.548 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1975
Berbicara mengenai peninggalan tradisi kebudayaan megalitik, pikiran kita akan tertuju pada suatu monumen batu hasil kebudayaan megalitik yang menggambarkan konsepsi religius masyarakat pendUkungnya, misalnya peninggalan menhir, dolmen, sarkofegus. Berdasarkan data yang ada tampak bahwa tradiasi megalitik yang muncul setelah tradisi bercocok tanam ini menunJukkan daerah persebaran yang meluas dan pada beberapa tempat tradisi megalitik ini masih berlangsung sampai sekarang, misalnya di Sulawesi Selatan (Tana Toraja). Obyek pengamatan ini terpusat pada Tana Toraja (Sulawesi Selatan) yang pada beberapa tahun terakhir ini masih menunjukkan adat-istiadat serta kepercayaan yang mengandungaspek-aspek megalitik. Dalam tulisan ini diambil contoh bentuk patung Tau-Tau yang dapat mewakili tokoh leluhurnya.
Ekonomi Perkebunan dan Keresahan di Pedesaan: Sebuah Survai Awal
Soegijanto Padmo
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1529.315 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1976
Gambaran klasik tentang pengaruh ekonomi perkebunan terhadap ekonomi dan masyarakat petani di sekitarnya di negara berkembang yang eksploitatif dan opressif sejak lama telah mewarnai pemikiran para peneliti yang tertarik dalam bidang tersebut Andre Gunder Frank (1967) adalah penganjur dan tokoh dari pemikiran itu, kemudian muncul pemikir-pemikir lain, meskipun dengan berbagai variasi dalam memberikan penekanan, misalnya Laclau (1971) yang menekankan hubungan perburuhan di perusahaan perkebunan sebagai issu sentral dalam perekonomian kapitalis. Karya tentang ekonomi perkebunan yang menggunakan pendekatan serupa di Indonesia antara lain dilakukan olen Ann Stoler (1985) yang melakukan penelitian di Sumatra Timur.
Tata Bahasa Teks Lisan Bahasa Ngadha
Stephanus Djawanai
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1517.545 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1977
Di dalam tulisan ini akan dibahas secara ringkas tata bahasa teks lisan bahasa Ngadha (Flores, Nusa Tenggara Tlmur). Teks lisan direkam pada tanggal 6 Januari 1994 di kampung Watujaji atau Ngadha-Mana yang saat itu merayakan pesta adat Reba, yakni "pemujaan" kepada UBI (Uvi, sejerus ubi besar, dikenal dengan nama asing Dioscorea atau yam root) untuk memperingati "Tahun Baru" adat. Pusat perhatian adalah pada tata bahasa teks yang merupakan abstraksi dari sistem aturan kebahasaan dalam penggunaan --dalam studi ini penggunaan secara terbatas. Sebagai hasil proses abstraksi diharapkan bahwa suatu sistem tata bahasa itu abstrak dan tidak terikat pada konteks situasi. Berturut-turut akan dipaparkan: tata bunyi, tata satuan kata, frasa, klausa dan strategi pembentukan teks dan maknanya.
Rumah Besar Karya Lilimunir C: Bedah Karya
Sugihastuti Sugihastuti
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (2155.861 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.1978
Karya Lilimunir C yang kedua, Rumah Besar, disambut oleh pembaca dengan antara lain munculnya analisis H.B. Jassin (1994). Daya tarik Rumah Besar sehingga perlu ditulis analisis ini antara lain adalah sebagai berikut. Pertama, Rumah Besar merupakan trilogi karya pengarang wanita Indonesia yang langka didapatkan. Kedua, Rumah Besar belum banyak dibicarakan oleh para pengamat sastra. Pembicaraan, seperti dilakukan oleh H.B. Jassin, masih terbatas berupa esai pendek di harian. Makalah ini berusaha menganalisisnya lebih merenik lagi. Ketiga, struktur karya, antara lain masalah dan tema. Rumah Besar perlu diketahui dalam kaitannya dengan protagonisnya, Noni. Dengan demikian, daya tarik ketiga ini melahirkan daya tarik keempat sebagai berikut. Keempat, protagonis Noni dalam Rumah Besar tidak dapat semata-mata disamakan dengan Lilimunir, pengarangnya.