Humaniora
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles
14 Documents
Search results for
, issue
"No 9 (1998)"
:
14 Documents
clear
Bangsawan Jawa dalam Struktur Birokrasi di Majapahit
Ahmad Adaby Darban
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (5078.309 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2033
Pandangan kosmogoni yang berasal dan doktrin Hinduisme dan doktrin Budhisme pada dasamya mempunyai kesamaan bahwa jagad raya ini berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh beberapa wilayah dan mempunyai titik pusat yang disebut Gunung Meru. Pandangan kesmogoni ini berkembang mempengaruhi pola berpikir manusia dan kemudian melahirkan konsep tentang hubungan manusia dengan jagad raya. Konsep hubungan manusia dengan jagad raya ini berpengaruh pula pada akhvitas kehidupan manusia khususnya pada bidang politik dan kebudayaan. Hal ini dapat dibuktikan bahwa hampir semua kerajaan dan pemerintahan Asia Kuno terpengaruhi oleh kosmogoni itu. Gambaran kosmogonis dapat dilihat secara nyata dan merupakan sebuah gambaran dan makro kosmos (jagad raya). Di samping itu raja dan kerajaan menjadi titik pusatnya. Konsep kepemimpinan suatu pemerintahan yang dikenal dengan sebutan "Dewa Raja- memandang raja selain sebagai kepala negara juga menganggapnya sebagai keturunan atau wakil dewa; hal ini telah telah membudaya di kalangan masyarakat Jawa sejak dahulu kala. Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa kekuasaan raja didukung oleh suatu predikat religious magis, yang kemudian rakyat mempunyai anggapan magis terhadap kekuasaan raja. Anggapan magis itu menyebabkan adanya suatu penghormatan yang sakral dan ketaatan tanpa reserve kepada raja. Di samping itu keturunan raja beserta lingkaran keluarga raja ikut mendapat penghormatan yang sakral danterjunjung martabatnya sehingga terciptalah sebuah lapisan masyarakat elite yang disebut dengan bangsawan.
Pembauran Identitas Etnik di Kalangan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada
Bambang Hudayana
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1775.358 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2034
Universitas Gadjah Mada (UGM) merupakan perguruan tinggi terbesar di Indonesia. UGM memiliki 18 fakultas untuk program sarjana, satu fakultas untuk program pascasarjana, dan 15 pusat penelitian. UGM juga memiliki beberapa program studi D3. Pada tahun 1997, jumlah mahasiswa UGM adalah sekitar 35.000 orang. Sebagai universitas nasional, jumlah mahasiswa ini tidak hanya berasal dan Jawa yang umumnya beridentitas etnik Jawa, tetapi berasal pula dari luar Jawa yang memiliki latar belakang etnik ber1ainan. Pembauran identitas etntk pada mahasiswa UGM merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Dalam studinya tentang stereotipe etnik dan jarak sosial di kalangan mahasiswa UGM, Scnawetzer (1979) tidak melihat adanya proses pembauran antaretnik ke dalam suatu identitas sosiat-budaya milik bersama. Hal ini karena ia melihat bahwa setiap etnik mempunyai suatu kepribadian kelompok yang tidak berubah. Akan tetapi, tulisan ini melihat bahwa identitas etnik itu akan mengalami perubahan ketika individu berinteraksi sosial dengan kelompok etnik lain (out-group). Hal ini karena untuk melakukan interaksi sosial antaretnik dipel1ukan suatu bentuk adaptasitertentu yang mendorong munculnya gejala perubahan identitas etnik. Tulisan ini mengungkapkan hasil penelitian pembauran identitas etnik antarmahasiswa dalam komunitas akademik. Secara rinci penelitian ino mempunyai tiga pertanyaan pokok. Pertama, mengetahui pendapat mahasiswa UGM tentang identitas etniknya (in group) dan identitas etnik bukan kelompoknya (out group). Kedua, mengetahui bentuk interaksi sosial antarmahasiswa dengan fokus perhatian pada usaha memahami jarak sosial antarmahasiswa yang berlainan etnik. Ketiga, memahami pembauran budaya di kalangan mahasiswa yang berlainan etnik di kampus dan di Yogyakarta pada umumnya.
Sistem Kedefinitan Bahasa Indonesia
B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1228.024 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2043
Secara semantis, nomina atau NP didefinisikan sebagai kata yang mengacupada manusia. binatang, dan konsep atau pengertian (Moeliono, 1988: 152).Definisi flu sebenarnya baru mengacu pada isinya. Adapun secara semantis-pragmatis, yakni mengenai bagaimana isi itu disampaikan, NP dapat memiliki kandungan (packaging) bermacam-macam yang menentukan status NP itu. Status-status referen itu adalah (status) lama/baru, sebagai fokus kontras, status definit/takdefinit, sebagai subjek kalimat, topik kalimat, dan status sebagai sudut pandang (Chafe, 1976: 28). Status definit/takdefinit NP yang dibahas dalam tulisan ini memilikl hubungan yang erat dengan status lama/baru: NP (yang mengandung informasi) lama senantiasa definit, meskipun yang (mengandung lnformasi) baru tidak selamanya tak definit. Bahasa Indonesia (bI) mengenal pula kata sandang (si. sang. hang. dang), namun perilakunya tidak sama dengan artikel dalam bahasa Inggris dan Perancis, di samping pemakaiannya yang semakin tidak efektif atau demi tujuan penggayaan bahasa. Masalah yang kemudlan muncul ialah bahwa kedua jenis pemarkah itu tidak selamanya hadir/tersurat. Dengan perkataan lain, NP definit maupun takdefinit dalam bl acapkali dipergunakan tanpa pemarkah, atau berpemarkah nol.
Indonesian Learners' Requests in English: A Speech-Act Based Study
F.X. Nadar
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1374.36 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2045
This paper investigates requests by Indonesian learners based on speech act theories. It attempts to find the charaderistics of the requests, and discuss the findings from the view points of forms and politeness strategy. This essay consists of five main parts. They are the introduction, brief theoretical aspects of making requests, methodology, result and discussion and conclusion. Language is a means of communication, and people use language for various reasons, Finegan, et al.(1992:3) state that language has been viewed as a vehicle of thought, a system of expression that mediates the transfer of thought from one person to another. They also claim (p.305) that "language is principally a tool for doing things" and describe that through language people do things such as: propose marriage, impose a life sentence, swear to tell the truth, fire an employee and so on. Learning how language is used is commonly associated with the study of speech acts. Speech acts are "actions that are carried out through language- (Finegan, et 81.,1992:307). Various tasks are accomplished by means of language, and linguists have different ways of explaining about speech acts.
Suku Bangsa dan Ekspres Kesukubangsaan
Hari Poerwanto
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1864.278 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2046
Jauh sebelum masa kolonial, tidak ada satu istilah kata pun yang mencakup wilayah kepulauan negara Republik Indonesia. Pada awal kedatangan Belanda untuk berdagang, kawasan ini disebut Indie atau India, yang diterjemahkan dan bahasa Inggns Indies. Serupa dengan kata tersebut, muncul pula istilah lain ialah Achter-India (Hindia-Belakang) yang berbeda dengan Voor-Indie, (Hindia Muka) atau India sekarang. Akan tetapi, sampai dengan abad XVII, sebutan Achter-Indie mencakup wilayah lebih luas dibandingkan dengan kawasan Asia Tenggara dewasa ini, yaitu ditambah Tibet di barat laut dan wilayah Cina Selatan di bagian timur-laut; termasuk seruruh wilayah di Laut Cina dan Teluk Bengali. Sampai dengan akhir abad XIX, istilah yang lazim dipakat adalah Indische Archipel atau Kepulauan Indie. Secara resmi, baru pada 1910 seluruh wilayah daerah jajahan Belanda di Indonesia disebut dengan Nederlandsch-lndie. Penduduk pribumi yang berada di sana disebut dengan Inlanders atau bumiputera.Bagi kaum nasionalis, istilah Inlanders dinilai mengandung konotasi menghina karena seolah-olah orang Jawa atau Sunda merupakan natives atau aborigines dan Negeri Belanda. Sebelum muncul kata Indonesia yang disetujui oleh kaum nasionalis, Eduard Douwes Dekker pernah mengusulkan 'Insulinde', yaitu sebagai alternatif pengganti kata Inlanders, dan sebulan tersebut juga kurang dapat diterima. Akhirnya, pada 1920-an ditemukan istilah yang dapat diterima, ialah 'Indonesia'. Seiring dengan itu, muncul juga istilah 'Nusantara".
Dari Hikayat Sahi Mardan ke Syeh Bagenda Mardan, Sebuah Transformasi: Penyimpangan atau Kewajaran?
Kun Zachrun Istanti
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (829.389 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2047
Hasil kesusastraan lama Indonesia, sebelum agama Islam masuk ke kawasan Nesantara. sebagian besar bertemakan cerita Hindu. Setelah agama Islam masuk ke kawasan Nusantara, masuk pula perbendaharaan kata-kata Arab sertabertambahlah perbendaharaan nama-nama makhluk halus, seperti: malaikat, setan, dan jin. Motif cerita Hindu masih dipakai untuk menyelamatkan cerita-cerita Hindu, tetapi unsur-unsur Islam memberikan corak baru pada kesusastraan Indonesia lama itu. Cerita yang semula banyak pengaruh Hindu lalu disisipi unsur-unsur Islam. 'Hero'nya diberi nama Islam dan Hindu. Hikayat-hikayat yang mempunyai ciri-ciri seperti itu digolongkan ke dalam sastra zaman peralihan dan Hindu ke Islam (Yock Fang, 1982:22-23). Contoh hikayat zaman peralihan itu adalah Hikayat Syahi Mardan (selanjutnya disingkat HSM), Hikayat Indraputra, dan Hikayat Si Miskin. Di antara kesusastraan yang telah dihasilkan dalam berbagai bahasa di Nusantara, khazanah sastra Melayu dan Jawa adalah terbesar. Keduanya telah saling mengambil manfaat, masing-masing mengintegrasikan dan mantransformasikanunsur-unsur asing menjadi miliknya. Adaptasi dan Jawa ke Melayu dan sebaliknya dengan transformasi berdasarkan budaya yang berbeda, telah terjadi dalam berbagai cerita, di antaranya cerita Rama, cerita Amir Hamzah. Arus yang diikuti oleh sastra Hindu sebagian besar dari bahasa Jawa ke bahasa Melayu, sedangkan arus sastra Islam adalah sebaliknya atau merupakan perkembangan tersendiri.
Agama dan Kohesi Sosial
Kuntowijoyo Kuntowijoyo
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (945.083 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2048
Dalam "Penjelasan tentang Undang-Undang Dasar Negara Indonesia" dikatakan bahwa "... negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab". Apa sebabnya kata-kata "kemanusiaanyang adil beradab" petlu ditambabkan pada Ketuhanan Yang Maha Esa? Mengapa Tuhan yang abadi harus dibatasi oleh manusia yang sementara? Pertanyaan yang selalu menggoda setiap peserta penataran P-4 ini mempunyai jawaban yang mungkin menyakitkan hati peserta yang saleh. Tanpa ilustrasi empiris sakit hati "orang beriman" itu memang beralasan. Karenanya, kita perlu menengok kenyataan-kenyataan sejarah. Pada masa lalu ketidakadilan pada kawula alit dikerjakan para raja Jawa atas nama Tuhan (khalifatullah). Juga Istilah gung binathara (pengejawantahan dewa), ambaudhendha (berkuasa mutlak), dan panatagama (penata agama) sering disalahgunakan untuk kepentingan kekuasaan. Di masa kini pun "dakwah yang sejuk" sering dipakai alasan untuk mengerem protes sosial (pemogokan, demonstrasimenuntut HAM, demonstrasi menuntut keadilan, tuntutan demokratisasi, kritik di media massa, kbotbah -kbotbah "keras'). Atas nama Tuhan orang bisa bertindak tidak adil terhadap sesamanya
Ajaran Moral dalam Fabel Prancis
R.A. Siti Hariti Sastriyani
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (762.973 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2049
Semua bangsa di dunia ini mengenal cerita atau dongeng sejak orang mengadakan hubungan antara satu dengan lainnya. Cerita-cerita tersebut disebarkan dari mulut ke mulut. Hal ini dilakukan karena manusia sebagai mahkluk sosial ingin berkomunikasi dengan lainnya sehingga menimbulkan cerita yang beraneka ragam. Di antara cerita-centa atau dongeng, fabellah yang dikenal, baik di kalangan anak-anak maupun orang tua. Cerita binatang adalah cerita yang pelaku-pelakunya diberi jiwa seperti manusia. Kalau orang membaca fabel, seolah-olah dibawa ke satu masyarakat yang tak ada bedanyadengan masyarakat manusia, hanya pelaku-pelakunya binatang (Dipodjojo, 1966:14). Fabel adalah jenis karya sastra. Cara memahaminya, teks fabel ditempatkan dalam orientasi yang saling berkaitan dan mempunyai hubungan dengan konteks, yaitu pengarang, pembaca, dan dunia nyata. Dalam fabel, salah satu hUbungan itu dominan, yaitu hUbungan pengarang dengan pembaca, tempat pengarang ingin menyampaikan pesannya. Teks fabel merupakan teks persuasif. Melalui tokoh binatang, pengarang ingin mempengaruhi pembaca agar mencontoh yang baik dan tidak mencontoh yang tidak baik (Sugihastuti, 1996:21).
Cerpen Saran "Groot Majoor" Prakoso Karya Y.B. Mangunwijaya: antara Hegemoni dan Resistensi
Sudibyo Sudibyo
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1630.488 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2051
Kegelisahan Y.B. Mangunwijaya mempertanyakan hal-hal yang dianggap mapan atau kanonik merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pilihan sikapnya sebagai seorang sastrawan. Hal ini terlihat dalam sejumlah novel yang ditulisnya, seperti Burung-Burung Manyar (BBM), Rara Mendut (RM), Genduk Duku (GD), Lusi L.indri (LL), dan Durpa Umayi (DU). Melalui BBM, Mangunwijaya menggugat stigmatisasi hitam-putih dan kuasanya terhadap nasib manusia. Di samping itu, ia juga mencoba menilai kembali cara-cara para penguasa Orde Baru yang membengkokkan penuturan sejarah revolusi Indonesia ke arah suatu tafsir bercorak fasistis dan berjiwa Machiavellian. BBM mempertanyakan apakah Indonesia masih menapak di jalan yang benar serta setia kepada arah haluan revolusi yang diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan keabsahan yang lazim ditarik antara kelompok Pandawa dengan Kurawa dengan perlambangan Bharatayuddha sehingga seolah-olah semua pelaku Indonesia adalah Pandawa dan semua Belanda beserta seluruh kaki tangan mereka adalah Kurawa (Mangunwijaya, 1997:57).
Antropomorfi k dan Zoomorfik dalam Seni Rupa Suku Bangsa Sumba Timur
Sumijati Sumijati
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1785.219 KB)
|
DOI: 10.22146/jh.2054
Adanya simbol dalam masyarakat dapat digunakan sebagai sarana melakukan interaksi (Polama, 1984). lnteraksi itu dapat terjadi antara manusia dengan manusia atau antara manusia dengan mahluk halus atau roh nenek moyang. lnteraksi antara manusia dengan roh nenek moyang terus dibina karena roh nenek moyang diyakini dapat mendatanqkan kesuburan dan berkah bagi keturunan-keturunannya. Keyakinan itu sesuai dengan pendapat Peursen (1976) yang menyatakan bahwa simbol dapal membuka pandangan yang transeden karena simbol dapat menunjukkan kekuatan yang berada di luar diri manusia. Simbol berwujud antropomorfik dan zoomortik dalam 111 kehidupan Suku Bangsa Sumba Timur divisualisasikan dalam seninya, seni lukis, seni pahat, maupun dalam seni patung secara naturalistis dan didistilisasi. Uraian di atas menimbulkan beberapa permasalahan, di antaranya adalah: faktor-faktor yang menyebabkan figur antropomorfik dan zoomorfik banyak divisualisasikan dalam seni rupa Sumba Timur dan kuat bertahan terhadap arus modemlsasisehingga lestari sampai kini.Sesuai dengan masalah yang diajukan maka kajian in; bertujuan untuk mengungkapkan faktor-faktor yang menyebabkan antropomorfik dan zoomorfik banyak dipilih sebagai objek dalam seni rupa, terutama seni kriya, seni lukis, seni pahat, dan seni patung, serta kuat bertahan hingga lestari sampai kini.