cover
Contact Name
Elan Ardri Lazuardi,
Contact Email
humaniora@ugm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
humaniora@ugm.ac.id
Editorial Address
Humaniora Office d.a. Fakultas Ilmu Budaya UGM, Gedung G, Lt. 1 Jalan Sosiohumaniora, Bulaksumur, Yogyakarta 55281 Indonesia
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Humaniora
ISSN : 08520801     EISSN : 23029269     DOI : 10.22146/jh
Core Subject : Humanities,
Humaniora focuses on the publication of articles that transcend disciplines and appeal to a diverse readership, advancing the study of Indonesian humanities, and specifically Indonesian or Indonesia-related culture. These are articles that strengthen critical approaches, increase the quality of critique, or innovate methodologies in the investigation of Indonesian humanities. While submitted articles may originate from a diverse range of fields, such as history, anthropology, archaeology, tourism, or media studies, they must be presented within the context of the culture of Indonesia, and focus on the development of a critical understanding of Indonesia’s rich and diverse culture.
Articles 950 Documents
Proses Terbentuknya Heterogenitas Etnis di Pontianak pada Abad ke-19 . Hasanudin; Budi Kristanto
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.48 KB) | DOI: 10.22146/jh.712

Abstract

Dari segi geografis, Pontianak terletak di antara jalur perdagangan Selat Malaka dan merupakan daerah transito perdagangan, baik dari timur maupun barat Nusantara, terutama hubungannya dengan Singapura sebagai pusat perdagangan setelah jatuhnya Malaka dan merupakan jalur pelayaran antara Cina dan India. Jalur inilah yang merupakan jalan dan kemudahan terpenting untuk menyelenggarakan transportasi dan komunikasi yang menarik berbagai etnis untuk berdatangan ke Pontianak, dan merupakan hal yang bersifat taktis dan strategis bagi suatu kerajaan untuk kepentingan politik, sosial ekonomi, kebudayaan dan militernya. Bahkan, kebesaran, kemegahan, dan kemasyhuran kerajaan pada umumnya tergantung pada ramainya lalu lintas perhubungan dan jenis-jenis alat yang digunakan pada masa itu.
Pendekatan Hermeneutik dalam Penafsiran Teks Sastra Islam Melayu Bambang Hendarta Suta Purwana
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.73 KB) | DOI: 10.22146/jh.713

Abstract

Sastra Islam Melayu atau sastra tentang orang Islam yang ditulis dalam bahasa Melayu mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. (1) Sebagian besar dari sastra ini merupakan hasil terjemahan atau saduran yang berasal dari bahasa Arab atau Parsi. Terjemahan dan saduran itu dilakukan oleh dua kelompok orang, yaitu orang-orang Melayu Nusantara yang belajar di tanah Arab dan para pedagang dari India Selatan yang datang ke pelabuhan-pelabuhan Nusantara. Hasil karya kelompok pertama berupa kitab yang berunsur keagamaan, sedangkan hasil karya kelompok kedua berupa hikayat-hikayat yang bersifat hiburan. Ada yang berpendapat bahwa karya sastra dari kelompok penyadur kedua sastra Melayu ini disebut sastra dagang. (2) Hampir semua hasil karya Islam Melayu tidak diketahui nama pengarang atau tarikh penulisannya (Fang, 1991: 204). Naskah-naskah lama di Indonesia menyimpan sejumlah informasi masa lampau mengenai berbagai segi kehidupan. Di antara yang belum banyak mendapat sentuhan penelitian adalah naskah-naskah lama penyimpan ajaran agama, khususnya ajaran agama Islam.
Perdikan Cahyana Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.785 KB) | DOI: 10.22146/jh.714

Abstract

Bekas daerah Perdikan Cahyana berada di Kecamatan Karangmoncol dan Rembang, Purbalingga, Karesidenan Banyumas. Status perdikan itu dihapus oleh Pemerintah Republik Indonesia pada zaman Orde Lama. Berakhirnya kekuasaan 21 orang demang diyakini oleh masyarakat bahwa para demang telah melanggar piagam dan wewaler perdikan, tidak adil, serta memperkaya diri sehingga mereka harus diturunkan. Tanah-tanah perdikan dikuasai oleh para demang untuk kepentingannya sendiri sehingga rakyat hidup terbengkalai, padahal, rakyat yang mencetak sawah-sawah dan kebun-kebun, sedangkan demang hanya mengaku sebagai hak miliknya. Kejatuhan para demang itu sesuai dengan beberapa ramalan, seperti besuk selehe demang disondol bangkong, besuk ana bangke mili ngalor, dan besuk ana beslit padha dicanthelake gethek (Darmoredjo, 1986: 7 Terlepas dari masalah di atas, desa perdikan menyimpan potensi masalah pertanahan. Penghapusan desa-desa perdikan telah mengubah status tanah dari keputihan menjadi tanah pamajegan. Dengan kata lain, tanah-tanah tersebut menjadi tanah-tanah negara. Sebaliknya, para demang kehilangan hak atas tanah adat yang telah dimilikinya sejak lama. Tanah-tanah keputihan di daerah Perdikan Cahyana adalah tanah-tanah bebas pajak yang diluluskan oleh Sultan Demak dan dilestarikan oleh para raja Jawa sesudahnya dan pemerintah kolonial Belanda untuk pemeliharaan makam-makam orang-orang suci atau para wali lokal yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.
Legenda dan Religi sebagai Media Integrasi Bangsa . Sudiro
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.879 KB) | DOI: 10.22146/jh.715

Abstract

Tengger adalah suatu daerah pegunungan dengan puncak-puncak Gunung Bromo, Gunung Widodaren, Gunung Batok, dan Gunung Ider-Ider, yang terletak pada empat daerah kabupaten: Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Malang. Gunung Bromo adalah gunung yang dianggap suci bagi masyarakat Tengger karena merupakan lambang tempat Dewa Brahma, tempat wisata terkenal di Jawa Timur yang dapat ditempuh lewat empat kabupaten tersebut. Kawasan Tengger, dengan masyarakat adat yang kuat dan kuatnya pula kepercayaan kepada Dewa tertinggi (Hyang Widiwasa), dapat menggambarkan masih berlakunya alam kosmogoni. Setiap desa mempunyai seorang dukun dan semua dukun di kawasan Tengger dipimpin oleh koordinator dukun (Sudjai) dari Desa Ngadisari. Para dukun itulah yang berperan sebagai pelestari adat di Tengger, memimpin segala upacara adat (kecuali upacara Sayud atau tujuh bulan kandungan oleh petugas tersendiri), dan penghubung antara masyarakat Tengger dengan Hyang Widi.Masyarakat Tengger yang lingkungannya berupa gunung-gunung, gua, laut-pasir, dan desa yang sebagian terpencil masih sangat akrab dengan alam, dewa, kepercayaan mitos dan simbol-simbol.Adapun simbol selain sebagai penggambaran spiritual masyarakatnya, juga menunjukkan kontinuitas antara struktur keberadaan manusia dengan struktur kosmis.
Implikatur Dalam Wacana Pokok I Dewa Putu Wijana
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1145.876 KB) | DOI: 10.22146/jh.727

Abstract

Pragmatik sebagai kajian struktur eksternal bahasa mengamati berbagai aspek pemakaian bahasa dalam situasi yang kongkret. Situasi yang kongkret dalam hal ini mengandaikan sebuah tuturan benar-benar dipandang sebagai produk sebuah tindak tutur yang jelas konteks lingual (kooteks) dan konteks ekstralingual (konteks)nya. Konteks ekstralingual digunakan untuk mengungkapkan maksud (makna penutur) yang tersembunyi di balik sebuah ujaran. Walaupun sering disinggung pentingnya peranan konteks esktralingual di dalam kajian cabang ilmu bahasa yang lain, pemanfaatannya agaknya memiliki perbedaan yang cukup mendasar. Sesuai dengan judulnya, tulisan ini membahas implikatur wacana pojok yang terdapat pada harian Kedaulatan Rakyat (khususnya yang terbit pada Januari s.d. Oktober 2001) dan aneka tindak tutur yang dipergunakan untuk menyampaikannya
Systemic Functional Linguistics: Meaning Carriers In Functional Grammar Ferry Adenan
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2124.51 KB) | DOI: 10.22146/jh.728

Abstract

Emeritus Professor M.A.K Halliday, founding Professor of Linguistics at the University of Sydney, Australia, is often regarded as the linguist responsible for the development of systemic functional linguistics. Systemic functional linguistics is a comprehensive descriptive model of language and language use which has been evolving for many years. It is still evolving as applied linguists continue to research and reflect on the way human beings use language to make meaning in social contexts. Educators and linguists are both concerned with SFL. Educators would like to know how people learning the language can follow native speakers of the language to use the language. Therefore, SFL is to build a discipline of educational linguistics. In practice educational linguistics may mean, “learning language, learning through language, learning about language”, (Cope, B. et. Al. 1993). Educational linguistics brings linguists and educators together to deepen their insight about language and language use and to easen their professional duties. SFL is ‘systemic’ because whenever a feature of language is described it is described as one choice from a set of possible choices within a particular language system which itself is part of a network of systems that make up the language. The systems are related in a kind of hierarchy making it possible to describe an aspect of language at whatever level of detail is the most useful. Language users are constantly making choices from the set of systems which make up the complete resource of language and then putting these choices into effect through the structure of the language they use. Understanding this process can provide very useful insight for language teachers and users.
Metafor Ricoeurian: Penerobosan Dunia Simbolik Cerpen "Rumah Yang Terbakar" Karya Kuntowijoyo Rudi Ekasiswanto
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1457.614 KB) | DOI: 10.22146/jh.729

Abstract

Cerpen Kuntowijoyo selama tiga tahun berturut-turut memperoleh predikat “Cerpen Terbaik Kompas”, tahun 1995 dengan cerpen “Laki-Laki yang Kawin dengan Peri”, tahun 1996 dengan cerpen “Pistol Perdamaian”, dan tahun 1997 dengan cerpen “Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan”. Ketiga cerpen itu kemudian dihimpun dalam kumpulan cerpen yang diberi judul Hampir Sebuah Subversi (Kuntowijoyo, 1999). Kriteria pemilihan terbaik itu bukan tanpa alasan. Ketiganya memakai gaya bahasa yang bersahaja. Unsur permainan dan bermain-mainnya dengan kata tidak terlalu kentara. Hal ini sangat membantu kemungkinan terbangunnya seni wantah oleh Kuntowijoyo. Dalam “Pengantar Penulis”, Kuntowijoyo menulis, “Secara jujur harus dikatakan bahwa saya menulis begitu saja, yang saya rasa baik, tanpa resep-resep” (1999: xii). Kuntowijoyo hampir selalu menggunakan ciri simbolis dalam karya-karyanya, dan berusaha mengangkat realitas kehidupan ke dalam cerita yang tampaknya biasa. Judul-judul cerpennya telah menyiratkan tema yang diangkat ke dalam karya-karyanya. Namun, judul-judul itu pun simbolis sehingga mengandung pemaknaan yang sangat dalam, begitu juga cerpen “Rumah Yang Terbakar” yang terdapat dalam kumpulan cerpen Hampir Sebuah Subversi. Cerpen “Rumah Yang terbakar” sebagai salah satu cerpen pilihan Kompas yang dibukukan bersama 24 cerpen lainnya selama 1994 - 1998 sangat sarat dengan unsur simbolisasi. Namun, semuanya itu merupakan representasi dari potret masyarakat Indonesia masa Orde Baru yang berhasil digambarkan oleh Kuntowijoyo. Secara simbolis pula makna yang dikandungnya dikemas dalam gaya bahasa yang sederhana, menarik, pas, dan enak dibaca.
Sastra Dan Perkembangan Politik Di Jawa Abad XVIII Alex Sudewa
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2500.104 KB) | DOI: 10.22146/jh.730

Abstract

Zoetmulder (1983 : 182 ) di dalam bukunya Kalangwan, yang membuai karena datanya yang lengkap dan bahasanya yang indah dan menarik, mengajak pembacanya bertamasya menelusuri taman keindahan sastra Jawa Kuna. Secara tidak terasa, pembaca diajak menelusuri dunia sastra budaya Jawa Kuna secara menyeluruh. Di sela-sela panduan wisata sastranya itu, sang mahaguru kerapkali menyisipkan tantangan yang halus menggelitik agar pembacanya tertarik kepada masalah sejarah sastra yang belum terpecahkan. Salah satu masalah yang dirumuskannya ialah di antara syair-syair Jawa Kuna yang diselamatkan bagi kita tak ada satu pun yang dapat membanggakan seorang raja atau pangeran sebagai penciptanya, berlainan dengan sastra Jawa di kemudian hari, yaitu dari periode Surakarta (akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19) yang dapat menunjukkan raja-raja di antara para penyairnya seperti Pakubuwana III dan IV serta Mangkunegara IV. Tampilnya tokoh raja atau kerabat kraton sebagai penulis karya sastra berarti bahwa kewibawaan para pujangga yang di zaman Jawa Kuna bertindak sebagai pendeta magi bahasa, yang dibutuhkan untuk mendukung kewibawaan raja, telah didesak bahkan direbut oleh kekuasaan militer politik kraton. Dengan demikian, kraton telah merupakan pemusatan kekuasaan militer politik dan kekuasaan intelektual religius. Sudah barang tentu perkembangan semacam itu, selain timbulnya didorong oleh suatu sebab yang signifikan di dalam sejarah budaya Jawa, akan juga besar pengaruhnya di dalam perkembangan kehidupan sosial budaya di masa yang akan datang, Jawa khususnya, dan Indonesia pada umumnya. Pemusatan dua macam kekuasaan itu dalam diri raja – kraton – perlu dilacak; faktor-faktor yang menjadi pendorongnya serta bagaimana proses terjadinya.
Karya Sastra Perancis Abad ke-18 Madame Bovary dan Resepsinya di Indonesia Siti Hariti Sastriyani
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1556.875 KB) | DOI: 10.22146/jh.731

Abstract

Masuknya karya-karya sastra Perancis pada abad ke-19 mendapatkan sambutan dan tanggapan di Indonesia masa kini. Sambutan dan tanggapan tersebut berupa adanya pembaca Indonesia yang merespons karya-karya sastra Perancis melalui hasil karya terjemahan, kritik-kritik, ataupun pengaruh terhadap lahirnya karya-karya sastra Indonesia. Karya sastra Perancis pada abad ke-19 yang berjudul Madame Bovary mendapat sambutan dan tanggapan-tanggapan di Indonesia. Sambutan dan tanggapan-tanggapan terhadap karya sastra tersebut merupakan hal yang perlu dibahas. Tujuannya ialah untuk mengungkapkan bagaimana resepsi masyarakat Indonesia terhadap karya sastra Madame Bovary dan peran teks karya sastra Perancis tersebut dalam sejarah perkembangannya.
Tradisi Mantra Kelompok Etnik Using Di Banyuwangi Heru SP Saputra
Humaniora Vol 13, No 3 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1654.377 KB) | DOI: 10.22146/jh.732

Abstract

Secara empiris, pemetaan kebudayaan dan tradisi di wilayah Jawa Timur dapat dipilah menjadi enam variasi regional kebudayaan, yaitu: (1) kebudayaan Arek, (2) kebudayaan Tengger, (3) kebudayaan Madura, (4) kebudayaan Mataraman, (5) kebudayaan Pendalungan, dan (6) kebudayaan Using.1 Tiap-tiap variasi regional kebudayaan tersebut memiliki ciri khas sesuai dengan dinamika dan dialektika historis dan geografis wilayah budayanya. Namun, peta budaya seringkali melampaui batas wilayah peta geografis sehingga batas geografis peta budaya cenderung tidak dapat ditetapkan secara tegas. Salah satu variasi regional kebudayaan Jawa Timur yang kini menarik perhatian adalah kebudayaan Using. Daya tarik itu setidak-tidaknya dipicu oleh rasa keingintahuan tentang eksistensi budaya Using, terutama setelah terjadinya heboh kasus pembantaian orang-orang yang diduga sebagai dukun santet di Banyuwangi, Oktober 1998. Kasus tersebut seakan-akan melegitimasi bahwa wilayah yang terletak di daerah “tapal kuda” itu menjadi salah satu basis utama perdukunan di Jawa Timur. Tulisan berikut mengkaji tradisi mantra Using. Dalam kajian ini juga dideskripsikan karakteristik budaya Using, keunikan jenis magi, kekuatan mistik, unsur religiositas, moralitas, dan pranata sosial tradisional.

Page 9 of 95 | Total Record : 950


Filter by Year

1989 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 37, No 1 (2025) Vol 36, No 2 (2024) Vol 36, No 1 (2024) Vol 35, No 2 (2023) Vol 35, No 1 (2023) Vol 34, No 2 (2022) Vol 34, No 1 (2022) Vol 33, No 3 (2021) Vol 33, No 2 (2021) Vol 33, No 1 (2021) Vol 32, No 3 (2020) Vol 32, No 2 (2020) Vol 32, No 1 (2020) Vol 31, No 3 (2019) Vol 31, No 2 (2019) Vol 31, No 1 (2019) Vol 30, No 3 (2018) Vol 30, No 2 (2018) Vol 30, No 1 (2018) Vol 29, No 3 (2017) Vol 29, No 2 (2017) Vol 29, No 1 (2017) Vol 28, No 3 (2016) Vol 28, No 2 (2016) Vol 28, No 1 (2016) Vol 27, No 3 (2015) Vol 27, No 2 (2015) Vol 27, No 1 (2015) Vol 26, No 3 (2014) Vol 26, No 2 (2014) Vol 26, No 1 (2014) Vol 25, No 3 (2013) Vol 25, No 2 (2013) Vol 25, No 1 (2013) Vol 24, No 3 (2012) Vol 24, No 2 (2012) Vol 24, No 1 (2012) Vol 23, No 3 (2011) Vol 23, No 2 (2011) Vol 23, No 1 (2011) Vol 22, No 3 (2010) Vol 22, No 2 (2010) Vol 22, No 1 (2010) Vol 21, No 3 (2009) Vol 21, No 2 (2009) Vol 21, No 1 (2009) Vol 20, No 3 (2008) Vol 20, No 2 (2008) Vol 20, No 1 (2008) Vol 19, No 3 (2007) Vol 19, No 2 (2007) Vol 19, No 1 (2007) Vol 18, No 3 (2006) Vol 18, No 2 (2006) Vol 18, No 1 (2006) Vol 17, No 3 (2005) Vol 17, No 2 (2005) Vol 17, No 1 (2005) Vol 16, No 3 (2004) Vol 16, No 2 (2004) Vol 16, No 1 (2004) Vol 15, No 3 (2003) Vol 15, No 2 (2003) Vol 15, No 1 (2003) Vol 14, No 3 (2002) Vol 14, No 2 (2002) Vol 14, No 1 (2002) Vol 13, No 3 (2001) Vol 13, No 1 (2001) Vol 12, No 3 (2000) Vol 12, No 2 (2000) Vol 12, No 1 (2000) Vol 11, No 3 (1999) Vol 11, No 2 (1999) Vol 11, No 1 (1999) Vol 10, No 1 (1998) No 9 (1998) No 8 (1998) No 6 (1997) No 5 (1997) No 4 (1997) No 3 (1996) No 2 (1995) No 1 (1995) No 1 (1994) No 3 (1991) No 2 (1991) No 1 (1989) More Issue